Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Membaca "Lampu Merah" Islah Bahrawi: Sebuah Peringatan untuk Rezim Prabowo

Gambar
​Sungguh menggemparkan jagat maya. Pernyataan keras Islah Bahrawi di kanal YouTube Terus Terang Media menarik untuk disimak.  Dengan nada berapi-api—khas gaya bicaranya yang lugas—Islah melemparkan kritik tajam, menghujam langsung ke jantung pemerintahan Prabowo Subianto.  Pesannya jelas: Indonesia sedang tidak baik-baik saja, dan jika pemerintah terus menutup mata terhadap penderitaan rakyat, harga politiknya akan sangat mahal. ​ Retorika vs. Realita Perut Rakyat ​Inti dari kegelisahan Islah berakar pada kontradiksi antara janji kesejahteraan dan kenyataan di lapangan.  Sejak bergantinya tampuk kepemimpinan, banyak kalangan menilai program-program yang digulirkan pemerintah cenderung bersifat elitis dan hanya menguntungkan segelintir pihak di lingkaran kekuasaan. - ​Ekonomi Menghimpit: Islah menyoroti betapa sulitnya rakyat kecil mencari sesuap nasi di tengah kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada kaum marginal. - ​Program Tanpa Dampak: Alih-alih mengangkat kemelara...

Menagih Janji Kesejahteraan di Tengah Narasi "RI Tidak Baik-Baik Saja"

Gambar
Dunia digital baru-baru ini dihentakkan oleh orasi penuh semangat dari Islah Bahrawi. Orasi kegetiran tak berujung. Lewat kanal YouTube Terus Terang Media. Dengan nada tajam dan tidak basa-basi, Islah menyampaikan alarm keras bagi pemerintahan di bawah rezim Prabowo Subianto. Bahwa Indonesia saat ini sedang "tidak baik-baik saja". Pesan ini bukan sekadar kritik musiman.Bukan pula kritik abal-abal.  Melainkan seabrek refleksi atas realitas ekonomi rakyat yang kian terhimpit. Rakyat terkapar pada kebijakan tidak manusiawi. Program Pemerintah: Retorika vs Realitas Poin utama yang disoroti adalah ketimpangan antara program pemerintah dengan kondisi riil di lapangan.  Islah mengkritik keras kebijakan yang dianggap hanya menguntungkan lingkaran kekuasaan atau segelintir elite, sementara rakyat kecil masih berkutat dengan kemelaratan yang tak kunjung terangkat.  Program-program megah di atas kertas seringkali gagal jadi bantalan ekonomi bagi mereka yang berada di garis kemiskina...

Ulama Kita "Kelas Dua"? Berhenti Mendewa-dewakan Gelar Luar Negeri!

Gambar
Salah satu hambatan terbesar bagi kemajuan intelektual Indonesia adalah penyakit psikologis kolektif. Yaitu sebuah perasaan bahwa segala sesuatu yang datang dari luar, terutama dari Timur Tengah, secara otomatis lebih suci dan lebih berilmu. Masyarakat kita seringkali terjebak pada fetisisme gelar. Seorang lulusan luar negeri dengan kemampuan rata-rata seringkali lebih dihormati dan diberi panggung luas, ketimbang kiai kampung yang telah puluhan tahun mengabdi dan menguasai puluhan kitab turats secara mendalam.  Fenomena ini menciptakan standar ganda, yakni Standar Impor: Dianggap pasti otoritatif karena "dekat dengan pusat bahasa asli". Sedangkan Standar Lokal : Sering dipandang skeptis atau dianggap sebagai "Islam pinggiran". Mengakhiri Romantisme Buta terhadap Geografis Kita harus mulai membedakan antara Geografis dan Substansi.  Tanah Arab memang tempat lahirnya wahyu, tapi pemahaman dan pengembangan ilmu pengetahuan adalah milik siapa saja yang menekuninya.  M...

Membalik Kiblat Keilmuan: Menakar Opini Buya Arrazy tentang Superioritas Ulama Nusantara

Gambar
Pernyataan Buya Arrazy Hasyim yang menyebutkan bahwa seharusnya orang Arab dan Yaman-lah yang datang mengaji ke Indonesia—bukan sebaliknya—telah memicu diskursus baru di ruang publik.  Selama berabad-abad, ada semacam "doktrin tak tertulis" bahwa legitimasi keilmuan Islam hanya sah jika bersumber dari Timur Tengah.  Tapi, benarkah narasi "Ulama Kelas 2" bagi bangsa Indonesia itu masih relevan, atau justru sudah kadaluwarsa? 1. Indonesia: Raksasa Pendidikan Islam yang Terlupakan Fakta yang disampaikan Buya Arrazy mengenai kuantitas lembaga pendidikan Islam di Indonesia bukanlah isapan jempol.  Dengan ratusan ribu pesantren dan ribuan perguruan tinggi Islam, Indonesia memiliki ekosistem pendidikan Islam paling masif di dunia. Secara metodologi, pesantren di Indonesia telah berhasil menggabungkan tradisi turats (kitab kuning) dengan nilai-nilai kebangsaan yang moderat (wasathiyah).  Keberhasilan ini seharusnya menjadikan Indonesia sebagai laboratorium peradaban Islam d...

Pengalaman Menulis Buku Sejarah

Gambar
Opini: Yant Kaiy Banyak sekali tantangan dan rintangan yang dihadapi saya ketika menulis beberapa buku sejarah. Baik itu sejarah tokoh agama dan tempat-tempat bersejarah. Banyak waktu tersita karena tak jarang  tidak berjumpa dengan nara sumber dan pulang dengan tangan hampa.  Dalam menyelesaikan buku sejarah, saya berkomitmen untuk sebisa mungkin bertatap muka dengan mereka. Demikian pula kehati-hatian saya dalam mendapatkan gambaran yang jelas lantaran nara sumber umumnya menggunakan Bahasa Madura sebagai penyampainya. Ini tentunya menjadi tantangan tersendiri karena bahasa daerah kalau diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia akan menjadi agak sedikit “kacau” ditambah lagi dengan intonasi dan aksentuasi pelafalan yang kadang berbeda makna dari kata yang diucapkan nara sumber.                 Kehati-hatian saya dalam menyajikan buku sejarah dimaksudkan untuk menghindari nuansa labil pada s...

Ibu Sembuh dari Darah Tinggi Berkat Daun Sirsak, Begini Caranya!

Gambar
​Melihat orang tua terus-menerus mengeluh sakit adalah beban batin tersendiri bagi seorang anak. Itulah yang saya rasakan ketika Ibu berulang kali harus bolak-balik ke Puskesmas karena tekanan darah tingginya yang membandel.  Meski obat-obatan medis sudah dikonsumsi, angka di tensimeter seringkali enggan bersahabat. ​Rasa khawatir akhirnya menuntun saya pada sebuah percakapan di teras rumah dengan seorang tetangga.  Ia menyarankan sebuah solusi sederhana yang barangkali terlupakan di tengah modernitas: Daun Sirsak Belanda (Annona muricata). ​ Keajaiban di Balik Daun Hijau ​Awalnya, saya skeptis. Namun, setelah melakukan sedikit riset, ternyata "resep" turun-temurun ini memiliki landasan ilmiah yang cukup menarik.  Daun sirsak kaya akan senyawa asetogenin, sebuah antioksidan kuat yang tidak hanya dikenal dalam pengobatan alternatif kanker, tapi juga efektif untuk: ​- Melancarkan peredaran darah: Membantu dinding pembuluh darah lebih rileks. ​- Mengontrol kadar gula dan kol...

Miris! Menu MBG di Bawah 10 Ribu, Gizi Anak atau Sekadar Formalitas?

Gambar
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) seharusnya jadi angin segar bagi peningkatan gizi generasi masa depan.  Tapi, belakangan ini media sosial justru diramaikan oleh keluhan para orang tua murid.  Berbagai unggahan menunjukkan potret menu makanan yang jauh dari kata ideal—bahkan secara kasat mata ditaksir memiliki nilai di bawah Rp10.000. Antara Data dan Realita Lapangan Memang benar, tidak semua laporan di media sosial bisa ditelan mentah-mentah tanpa verifikasi.  Tapi, ketika gelombang keluhan muncul secara masif dari berbagai daerah dengan pola yang sama, kita tidak bisa lagi menutup mata. Realita bahwa menu yang disediakan Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) terkesan "minimalis" sangatlah memprihatinkan.  Angka di bawah Rp10.000 untuk satu porsi makan lengkap (karbohidrat, protein, sayur, dan buah) tentu menimbulkan tanda tanya besar:  Gizi apa yang sebenarnya ingin dikejar dengan anggaran seadanya tersebut? Mempertaruhkan Masa Depan Program ini buk...

Memalsukan Sejarah: Bukan Sekadar Dongeng, Tapi Delik Pidana

Gambar
​Diskusi dalam kanal YouTube Gedang Mas baru-baru ini membuka mata publik mengenai sisi gelap narasi sejarah di Indonesia.  Dalam dialog tersebut, KH Syarif Rahmat melontarkan pertanyaan krusial: Adakah sanksi hukum bagi mereka yang sengaja memalsukan sejarah?  Jawaban Mahfud MD cukup lugas dan tegas—pemalsuan sejarah bukanlah sekadar perbedaan sudut pandang, melainkan memiliki landasan jerat hukum. ​Landasan Hukum: UU Nomor 1 Tahun 1946 ​Mahfud MD merujuk pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Secara spesifik, pasal-pasal dalam UU ini (seperti Pasal 14 dan 15) mengatur tentang penyebaran berita bohong atau kabar yang tidak pasti yang bisa menerbitkan keonaran di kalangan rakyat. ​Dalam konteks sejarah, memalsukan silsilah, peristiwa perjuangan, atau peran tokoh nasional dengan data fiktif bukan hanya merugikan secara akademis, tapi juga secara sosial. Mengapa?  Karena sejarah adalah fondasi identitas bangsa. Ketika fondasi itu sengaja dirac...

MBG: Proyek Rakyat atau Taktik Politik? Simak Kritik Pedas BEM UGM!

Gambar
​Belakangan ini, kritik tajam datang dari Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM, secara lantang menyuarakan kegelisahannya terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung pemerintah.  Menurutnya, program ini terkesan dipaksakan dan berpotensi menjadi ajang "hambur-hambur" uang rakyat. ​ Kritik Atas Prioritas dan Urgensi ​Ada beberapa poin krusial yang mendasari skeptisisme ini: ​Beban Fiskal yang Masif: Pengalokasian dana ratusan triliun rupiah di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil dianggap sebagai langkah yang berisiko.  Apakah APBN kita mampu menopangnya tanpa mengorbankan sektor vital lain seperti pendidikan dan kesehatan dasar? ​Indikasi Kepentingan Politis: Tiyo menyoroti adanya aroma politis di balik kebijakan ini. Kekhawatirannya adalah MBG digunakan sebagai instrumen untuk menjaga popularitas dan melanggengkan kekuasaan kelompok tertentu di "puncak singgasana," bukan murni berdasarkan studi kelayakan yang objektif. ​Masalah Logistik dan Distribusi: Di n...

Klaim Sejarah Kemerdekaan RI Palsu Bisa Dipenjara? Cek Faktanya!

Gambar
Diskusi antara Prof. Mahfud MD dan KH Syarif Rahmat tersebut memang sedang hangat karena menyentuh isu sensitif mengenai narasi sejarah nasional.  Inti dari argumen hukum yang disampaikan Mahfud MD berfokus pada kepastian sejarah dan potensi kegaduhan yang ditimbulkan oleh informasi palsu. ​Berikut adalah poin-poin penting mengenai landasan hukum yang dibahas: ​ Landasan Hukum: UU Nomor 1 Tahun 1946 ​Mahfud MD merujuk pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Secara spesifik, ada dua pasal yang sering dikaitkan dengan penyebaran berita bohong yang menimbulkan keonaran: ​Pasal 14: Menghukum barang siapa yang menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat. ​Pasal 15: Menghukum barang siapa yang menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berlebihan atau yang tidak lengkap, sedangkan ia mengerti setidak-tidaknya patut dapat menyangka, bahwa kabar demikian akan atau mudah dapat menerbitkan keonaran. ...

Hati-hati! Memalsukan Sejarah Bisa Masuk Penjara? Simak Penjelasan Mahfud MD!

Gambar
​Sebuah diskusi hangat di kanal YouTube Gedang Mas antara KH Syarif Rahmat dan Prof. Mahfud MD mencuri perhatian publik.  Isu yang diangkat sangat sensitif namun krusial: bagaimana hukum memandang upaya pemalsuan sejarah kemerdekaan RI, terutama yang diduga dilakukan oleh kelompok tertentu untuk mengklaim peran yang tidak sesuai fakta. ​ Sejarah Bukan "Barang Dagangan" ​Kiai Syarif menanyakan apakah ada konsekuensi hukum bagi mereka yang mencoba membelokkan narasi sejarah demi kepentingan eksistensi kelompok.  Hal ini jadi penting karena sejarah adalah aset nasional. Ia membentuk jati diri bangsa Indonesia. Jika sejarah dimanipulasi—termasuk klaim-klaim dari kelompok imigran yang tidak memiliki basis data valid—maka struktur sosial kita bisa goyah. ​Jerat Hukum UU Nomor 1 Tahun 1946 ​Menanggapi hal tersebut, Mahfud MD memberikan pencerahan hukum yang sangat berharga.  Ia menegaskan bahwa pemalsuan sejarah tidak bisa dibiarkan begitu saja. Landasannya adalah Undang-Undang ...

Mahfud MD & Sejarah Habib: Fakta atau Lupa Ingatan?

Gambar
​Ah, dunia digital memang ajaib. Baru-baru ini, jagat maya sedikit berguncang ketika Prof. Mahfud MD duduk santai di kanal YouTube Gedang Mas bersama KH R Syarif Rahmat SQ.  Dalam sebuah sesi tanya jawab yang lebih dingin dari es campur, muncul sebuah kesimpulan menarik: dalam catatan sejarah formal, peran aktif habib dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia kabarnya... nihil? ​Mari kita tarik napas dalam-dalam. Mungkin selama ini buku sejarah kita sedang mengalami "gangguan sinyal" atau mungkin para pejuang dari kalangan habib dulu terlalu rendah hati sampai lupa mendaftarkan diri ke bagian administrasi sejarah nasional. ​ Logika "Absen" yang Menggemaskan ​Sangat menghibur membayangkan bahwa di tengah desingan peluru melawan penjajah, para habib mungkin sedang sibuk melakukan hal lain—mungkin sekadar menyeduh kopi di pojok ruangan sementara Bung Karno dan Bung Hatta sibuk berteriak "Merdeka!". Mengikuti alur logika ini, kita diajak percaya bahwa nama-nama s...

DPR Gak Digaji? Intip Kehidupan "Aneh" di Cuba ala Dubes Nana Yuliana

Gambar
Sungguh sebuah ide yang sangat berbahaya jika Indonesia mencoba meniru gaya hidup ala Cuba seperti yang dibocorkan Ibu Dubes Nana Yuliana di kanal YouTube Helmy Yahya.  Bayangkan betapa membosankannya hidup di negara yang tidak memiliki drama "rebutan kursi" yang berbiaya miliaran rupiah. 1. Anggota DPR Tidak Digaji? Benar-benar Tidak Kreatif! Di Cuba jadi anggota parlemen adalah bentuk pengabdian tanpa gaji.  Duh , apa serunya jadi wakil rakyat kalau tidak bisa pamer tunjangan, mobil dinas baru, atau sekadar studi banding ke luar negeri yang sangat "penting" itu?  Jika aturan ini diterapkan di Indonesia, gedung-gedung mewah di Senayan mungkin akan sepi peminat karena mendadak semua orang kehilangan motivasi untuk "mengabdi" tanpa imbalan saldo yang meledak. 2. Sekolah S-1 hingga S-3 Gratis: Menghambat Industri Pinjol! Lalu ada ide gila tentang pendidikan gratis hingga tingkat doktoral.  Jika ini terjadi di Indonesia, bayangkan betapa kasihan nasib penyedi...

Sejarah Dicaplok Imigran Yaman? Kritik Pedas Klaim Nasab dan Diamnya Pemerintah

Gambar
​Sungguh sebuah keajaiban silsilah. Patut dirayakan ketika tokoh-tokoh besar seperti Pangeran Diponegoro dan Tuanku Imam Bonjol tiba-tiba mendapatkan "update" keluarga secara sepihak.  Berkat klaim nasab Ba 'Alawi yang belakangan riuh, kita seolah diajak percaya bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia adalah proyek keluarga besar dari luar sana. Bukan hasil keringat dan darah pribumi.  Hebatnya lagi, bukti-bukti tertulis dan riset mendalam para sejarawan—termasuk suara lantang Prof. Anhar Gonggong yang dengan "tidak sopannya" membawa fakta di podcast Rhoma Irama—dianggap hanyalah angin lalu dibandingkan dengan validasi berbasis klaim sepihak.  Rupanya, di negeri ini, sejarah bisa ditekuk-tekuk semudah melipat sorban, asalkan narasi yang dibawa cukup "suci" untuk tidak boleh dipertanyakan. ​Sementara itu, sikap Pemerintah Indonesia dalam menanggapi kegaduhan ini benar-benar patut diacungi jempol, atas kemampuannya untuk tetap diam seribu bahasa.  Mungkin pe...

Arda Güler: Simbol Iman dan Talenta di Bernabéu

Gambar
​Di tengah kemegahan skuad Real Madrid musim 2025/2026, sosok Arda Güler kini jadi pusat perhatian.  Pemuda yang dijuluki "Permata Turki" ini bukan sekadar talenta muda biasa; ia adalah representasi nyata bagaimana identitas religius dan prestasi bisa melebur jadi kekuatan di level tertinggi Eropa. ​ Mengapa Fokus pada Güler? ​Kreativitas Tanpa Batas: Menjelang laga melawan Benfica, visi bermain Güler menjadi kunci untuk membongkar pertahanan lawan yang agresif. ​Mentalitas Baja: Di tengah jadwal padat, kedisiplinan spiritualnya diyakini menjadi akar dari ketenangan dan energi luar biasa yang ia tunjukkan di lapangan. ​Inspirasi Muda: Ia membuktikan bahwa pemain Muslim bisa bersinar di panggung dunia tanpa kehilangan jati diri. ​Bagi Madrid, Güler bukan hanya soal teknik, melainkan simbol keberagaman yang membawa harmoni ke dalam tim.  Laga pekan ini akan menjadi panggung pembuktian bagi sang bintang muda untuk terus menginspirasi dunia lewat setiap sentuhan bolanya. [kay]

Skandal Oknum Habib Madura: Prof Menachem Ali Ajak Kiai Berani Bersuara

Gambar
Sebuah pengakuan mengguncang nalar publik dalam podcast di kanal YouTube HERRI PRAS.  Prof. Menachem Ali mengungkap sebuah realita biadab di Madura: seorang suami tega menyerahkan istrinya kepada seorang oknum habib.  Alasannya sungguh menyesatkan—sang suami diiming-imingi syafaat Nabi Muhammad SAW dan dijanjikan bahwa istrinya bakal melahirkan keturunan yang darahnya tersambung pada Rasulullah. Ini bukan sekadar skandal moral, melainkan bentuk penistaan agama dan kemanusiaan yang paling hina. Menjual Nama Nabi untuk Syahwat Syafaat Nabi Muhammad SAW adalah harapan setiap Muslim, tapi ia diraih melalui ketakwaan, bukan melalui transaksi perzinaan.  Menjanjikan "keturunan Rasul" melalui jalan asusila adalah pelecehan terhadap kesucian nasab itu sendiri. Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak dan memuliakan perempuan.  Maka, menggunakan nama beliau untuk melegalkan perilaku predator adalah perbuatan yang bertentangan 180 derajat dengan ajaran Is...

Viral! Suami Madura Serahkan Istri ke Oknum Habib Demi Syafaat

Gambar
Sebuah pengakuan mengejutkan meluncur dari bibir Prof. Menachem Ali dalam kanal YouTube HERRI PRAS .  Ia mengungkap sebuah tragedi kemanusiaan di Madura: seorang suami tega menyerahkan istrinya kepada seorang oknum habib. Alasannya klise tapi mematikan—iming-iming syafaat Nabi Muhammad SAW dan janji lahirnya keturunan berdarah rasul. Ini bukan sekadar kekhilafan, ini adalah penistaan terhadap akal dan iman. Manipulasi Dogma yang Biadab Sangat tidak masuk akal jika syafaat—yang merupakan hak prerogatif Allah melalui kasih sayang Nabi-Nya—dijadikan komoditas transaksi seksual.  Janji "keturunan yang tersambung ke Rasulullah" lewat jalan asusila adalah pembodohan publik yang luar biasa. Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak ( li-utammima makarimal akhlaq ).  Beliau adalah sosok yang paling memuliakan perempuan.  Maka, mencatut nama beliau untuk melegalkan tindakan biadab adalah bentuk penghinaan tertinggi kepada sosok Rasulullah itu sendiri. M...

Istri Ditukar Syafaat? Bongkar Skandal Oknum Habib di Madura!

Gambar
Publik dikejutkan oleh pernyataan Prof. Menachem Ali dalam podcast di kanal YouTube HERRI PRAS .  Beliau mengungkap sebuah realita kelam di Madura: seorang suami tega menyerahkan istrinya kepada oknum habib.  Motifnya? Iming-iming syafaat Nabi Muhammad SAW dan janji bahwa sang istri bakal melahirkan keturunan yang darahnya tersambung langsung kepada Rasulullah. Kasus ini bukan sekadar skandal moral, melainkan alarm keras mengenai bagaimana manipulasi agama bisa melumpuhkan logika dan martabat manusia. Penyesatan Makna Syafaat Syafaat dalam Islam adalah syafaat yang didapat lewat ketakwaan dan kasih sayang Allah, bukan melalui "transaksi" biologis atau penyerahan kehormatan keluarga. Menggunakan nama Rasulullah untuk melegalkan tindakan asusila adalah bentuk penistaan agama paling nyata.  Seorang suami seharusnya jadi pelindung ( qawwam ), justru jadi pelaku penyerahan martabat istrinya demi janji surgawi palsu. Kultus Individu Kebablasan Fenomena ini berakar p...

Menilik Narasi Nasab Habib dalam Dakwah KH Kholil Yasin Bangkalan

Gambar
Pernyataan KH Kholil Yasin di kanal YouTube MADURA TV NET mengenai kemuliaan imigran Yaman bergelar 'Habib' memicu diskursus menarik mengenai hubungan antara nasab (garis keturunan) dan derajat kemanusiaan dalam Islam. Pandangannya yang menyatakan bahwa keturunan Rasulullah SAW tetap memiliki kemuliaan mutlak, bahkan terlepas dari kondisi keilmuan atau kondisi mental mereka. Ini mencerminkan penghormatan tradisional yang sangat dalam (takzim) terhadap keluarga Nabi. Narasi ini berakar pada keyakinan, bahwa mencintai keturunan Nabi adalah bagian dari mencintai Nabi itu sendiri. Ini sebuah sentimen yang sangat kuat di kalangan masyarakat santri dan pengikut paham tradisional. Tapi, pernyataan tersebut juga mengundang tantangan kritis di tengah dinamika sosial yang mengedepankan nilai-nilai keadilan universal. Banyak pihak berpendapat bahwa kemuliaan dalam Islam tidak bersifat deterministik berdasarkan darah semata, melainkan melalui ketakwaan sebagaimana ditegaskan ...

Antara Karisma dan Kritis: Menelaah Dakwah KH Kholil Yasin Soal Nasab

Gambar
KH Kholil Yasin, penceramah kondang asal Bangkalan, Madura, telah jadi fenomena tersendiri di jagat media sosial.  Kemampuannya meramu materi agama dengan cerita viral dan isu kekinian membuatnya memiliki basis pengikut ( followers ) yang sangat besar di berbagai platform.  Di atas panggung, gaya ceramahnya yang lugas dan membumi seringkali berhasil meruntuhkan sekat antara ulama dan jamaah, menjadikan pesan-pesan agama terasa lebih ringan dan relevan bagi masyarakat awam. Tapi, popularitas ini juga membawa tanggung jawab narasi yang besar, terutama terkait ceramahnya di kanal YouTube MADURA TV NET.  Dalam salah satu kontennya, ia melontarkan pandangan yang cukup kontroversial mengenai kemuliaan imigran Yaman bergelar 'Habib'.  Ia menyatakan bahwa keturunan Rasulullah SAW tetap memiliki kemuliaan mutlak, bahkan jika individu tersebut tidak berilmu atau dalam kondisi mental yang tidak sehat sekalipun.  Narasi ini mencerminkan bentuk takzim (penghormatan) trad...

Meluruskan Akidah: Belajar dari Keberanian Gus Aziz Jasuli

Gambar
Keberanian Gus Aziz Jasuli membongkar narasi khurafat di sebagian kalangan imigran Yaman merupakan langkah krusial dalam menjaga kemurnian tauhid.  Sebagai seorang santri yang pernah menimba ilmu langsung di Tarim, Yaman, kesaksiannya memiliki bobot intelektual dan moral yang kuat.  Tindakan ini menunjukkan bahwa integritas terhadap dalil agama harus berada di atas fanatisme golongan atau romantisasi silsilah, terutama ketika muncul klaim-klaim yang tidak berdasar pada Al-Qur'an dan Sunnah. Klaim-klaim berlebihan, seperti adanya nenek moyang yang mampu memadamkan api neraka, bukan sekadar cerita rakyat biasa, melainkan penyimpangan akidah yang serius.  Secara logika keimanan, narasi ini sangat kontradiktif dengan teladan Nabi Muhammad SAW.  Jika sosok semulia Rasulullah saja senantiasa memohon perlindungan Allah SWT dari siksa api neraka lewat doa-doanya, maka mengklaim ada manusia lain yang memiliki kontrol atas neraka. Ini adalah dongeng. Ini adalah bentuk pengkult...

Gus Aziz Jasuli Bongkar Khurafat Imigran Yaman, Santri Bicara dari Dalam

Gambar
Gus Aziz Jasuli Berangkat dari pengakuannya sendiri, Gus Aziz Jasuli menyusun narasi yang justru terasa berlawanan arah.  Ia menyebut pernah nyantri pada seorang habib di Pasuruan. Lalu menimba ilmu hingga ke Tarim, Yaman.  Sebuah jalur yang kerap dianggap “paket lengkap” legitimasi keilmuan. Tapi justru dari jalur itu, Gus Aziz memilih berhenti sejenak. Menengok ulang. Dan mulai bertanya: mana ajaran, mana kultus. Dalam ceramah yang dipublikasikan kanal YouTube Gedang Mas, Gus Aziz tidak sedang menyerang individu. Ia membongkar pola.  Tentang khurafat yang dibungkus silsilah. Tentang ajaran yang mengaku bersumber dari tanah suci, tapi menjauh dari aqidah Islam.  Ia bicara sebagai orang dalam. Sebagai santri. Sebagai alumni Tarim. Maka kritiknya terasa janggal bagi sebagian orang, tapi justru itulah yang membuatnya relevan. Opini ini penting karena datang dari ruang yang jarang berani bersuara. Gus Aziz menunjukkan bahwa kritik pada imigran Yaman yang menyimpang buka...

Negeri Aman Banget? Saat Polisi Sibuk Urus Catering dan Gizi Rakyat

Gambar
Ada sebuah pertanyaan dari masyarakat: Apakah tidak ada kejahatan di Indonesia sekarang, kok Polri ikut mengurus MBG?  Pertanyaan itu wajar, bahkan sangat masuk akal.  Di saat laporan kejahatan masih datang silih berganti—dari pencurian kecil sampai kasus besar—publik justru melihat Polri sibuk mengurus dapur dan catering.  Seolah-olah negeri ini sudah terlalu aman, sampai urusan perut warga harus ikut ditangani aparat penegak hukum.  Ironisnya, rasa aman di jalan belum tentu sebanding dengan kerapian sanitasi di dapur SPPG. Tentu niatnya bisa disebut mulia. Gizi penting, generasi emas perlu disiapkan.  Tapi ketika polisi lebih sering muncul sebagai pengelola makanan ketimbang penegak keadilan, wajar jika muncul tanda tanya.  Apakah ini bentuk sinergi luar biasa, atau justru sinyal bahwa fungsi-fungsi negara mulai tumpang tindih karena ada yang tak berjalan semestinya? Negara idealnya bekerja dengan pembagian peran yang jelas. Polisi fokus pada keamanan.L e...

Polri Urus Gizi, Negara Hadir atau Peran Bergeser? Catatan dari Peresmian SPPG Prabowo

Gambar
Hampir seluruh televisi menyiarkan peresmian 1.179 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan 18 Gudang Ketahanan Pangan Polri oleh Presiden Prabowo Subianto.  Acara ini diposisikan sebagai bukti nyata kehadiran negara dalam menjawab persoalan dasar masyarakat: gizi dan pangan.  Di layar kaca, negara tampak bekerja rapi, terkoordinasi, dan sigap.  Duh, Polri hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tapi juga sebagai penggerak pelayanan sosial. Dalam sambutannya, Presiden Prabowo mengapresiasi langkah Polri yang melampaui tugas pokoknya. Luar biasa.  SPPG dibangun dengan standar nasional, bahan baku terjaga, sanitasi diperhatikan.  Pesannya jelas: persoalan gizi adalah urusan bersama, bahkan jika harus melibatkan institusi yang selama ini identik dengan seragam dan kewenangan.  Tapi di titik ini, publik juga patut bertanya, apakah langkah lintas fungsi ini lahir dari kebutuhan darurat atau dari lemahnya lembaga yang berkompeten. Kapolri Jenderal Listyo Sigit...

SDN di Sumenep: Inovasi "Sekolah Mandiri" atau Kursus Singkat Menjadi Ninja?

Gambar
Selamat kepada Kabupaten Sumenep! Di tengah hiruk-pikuk digitalisasi dan wacana pendidikan 4.0, sekolah-sekolah dasar negeri kita tampaknya sedang melakukan eksperimen sosial yang sangat progresif:  Sekolah tanpa penjaga. Siapa butuh tenaga kependidikan (tendik) atau penjaga sekolah jika kita bisa melatih murid dan guru menjadi manusia super yang serba bisa? ​ Kebersihan adalah Sebagian dari... Beban Kerja Guru ​Mengapa kita harus menggaji penjaga sekolah untuk menyapu halaman jika kita punya guru kelas yang tangannya sudah gatal ingin memegang sapu lidi setelah lelah mengajar matematika?  Ini adalah efisiensi tingkat dewa. Guru-guru di Sumenep kini memiliki portofolio baru: Pendidik di jam 7 pagi, dan Cleaning Service Specialist di jam 2 siang.  Bukankah ini yang dinamakan "Merdeka Belajar"? Merdeka dari kebersihan yang terjamin, maksudnya. ​Keamanan: Menguji Kejujuran Hantu dan Maling ​Tidak adanya penjaga sekolah di malam hari sebenarnya adalah strategi keamanan tingka...

PINTAR BI: Solusi Cerdas Tukar Uang Baru Tanpa Antre Mengular

Gambar
Menjelang Ramadan dan Lebaran, pemandangan antrean panjang masyarakat yang ingin menukarkan uang baru sudah jadi tradisi tahunan.  Tapi, tahukah Anda bahwa Bank Indonesia (BI) telah menyediakan jalur "tol" digital agar proses ini jauh lebih tertib dan praktis? Namanya adalah PINTAR BI. ​ Apa Itu PINTAR BI? ​PINTAR merupakan singkatan dari Penukaran dan Tarik Uang Rupiah. Ini adalah portal daring resmi milik Bank Indonesia yang dirancang khusus untuk mendigitalisasi layanan kas.  Lewat portal ini, masyarakat bisa memesan paket penukaran uang secara mandiri sebelum datang ke lokasi. ​ Mengapa Ini Penting bagi Masyarakat? ​Tiap tahun, kita melihat masyarakat terjebak dalam kerumunan atau bahkan nekat menukarkan uang di pinggir jalan. Ini amat berisiko.  Demi mau mendapatkan uang baru, masyarakat rela dipotong dengan biaya tinggi.  Lalu PINTAR BI hadir untuk memitigasi risiko tersebut dengan beberapa keunggulan: ​1. Kepastian Kuota: Anda tidak perlu khawatir kehabisan st...