Postingan

Menampilkan postingan dengan label Utama

Indonesia Milik Siapa? Anekdot Klaim Aulia Tarim dan Nasab yang Merasa Paling Berhak

Gambar
Beredar selentingan yang bikin dahi berkerut. Katanya Indonesia milik aulia Tarim.  Klaim besar, bukti tipis. Seolah negeri ini sertifikatnya turun dari langit. Rakyat cuma numpang lahir dan bayar pajak. Dengan percaya diri tingkat dewa, para pembegal nasab Nabi tampil ke depan. Modal silsilah dijadikan kartu akses. Apalagi katanya ada “saudara” di kursi strategis negara. Maka urusan iman berubah jadi urusan jabatan. Doa dibacakan, lobi dijalankan. Tak heran tatanan persatuan Islam jadi berantakan. Aliran diadu, jamaah dipisah. Semua demi siapa paling dekat ke langit. Indonesia pun ditarik ke garis nasab. Padahal konstitusi tak kenal marga, apalagi klaim warisan surgawi. [kay]

Ijazah Jokowi Tak Kunjung Ditunjukkan, Cinta Rakyat Berubah Jadi Kekecewaan

Gambar
Berita itu beredar seperti kabar lama yang diputar ulang. Soal ijazah asli yang tak kunjung hadir. Seorang negarawan diminta menunjukkan kertas, bukan kebesaran. Rakyat menunggu dengan sabar, lalu lelah. Ironis, di negeri administrasi, justru administrasi jadi misteri. Kekecewaan pun tumbuh rapi. Bukan karena benci, tapi karena cinta yang kebablasan.  Rakyat hanya ingin teladan. Bukan drama.  Ketika pertanyaan dijawab dengan diam, spekulasi jadi hiburan murah. Artinya, keheningan disebut kebijaksanaan. Yang lebih getir, sebagian rakyat malah tersandung hukum. Hanya karena bertanya. Hanya karena berharap.  Negeri ini memang ramah slogan, tapi alergi klarifikasi.  Di sini, cinta pada pemimpin bisa berujung sidang. Dan ijazah tetap jadi legenda. [kay]

MBG dan Sekolah: Program Makan Gratis atau Cara Halus Membuat Pelajar Bergantung?

Gambar
Pemerintah datang ke sekolah dengan senyum paling tulus.  Membawa kotak makan. Diberi nama program mulia. MBG.  Katanya demi gizi. Katanya demi masa depan. Tapi di balik nasi hangat, logika ikut didinginkan. Anak-anak pun belajar hal baru. Datang ke sekolah bukan untuk berpikir. Tapi menunggu makan siang.  Buku bisa lupa. Lapar jangan. Pelan-pelan, ketergantungan tumbuh. Gratis terasa wajib.  Negara hadir, tapi otak disuruh libur. Ironisnya, ini disebut investasi pendidikan. Padahal yang ditanam bukan nalar, tapi kebiasaan menengadah.  Sekolah jadi kantin. Guru kalah pamor dengan lauk pauk.  Dan kita tepuk tangan. Karena pembodohan kini dibungkus gizi. [kay]

Suku Madura di Mana-Mana: Kerja Keras, Iman Kuat, dan Elegi Kehidupan Rantau

Gambar
Berbicara soal Suku Madura memang susah luput dari sorotan.  Mereka ada di mana-mana. Dari pasar sampai proyek. Dari kota besar sampai pelosok.  Bukan karena ingin terkenal. Tapi karena kerja keras memang jarang bisa disembunyikan. Di tanah rantau, etos kerja jadi identitas. Bangun pagi. Pulang sore. Kadang malam. Capek itu biasa. Mengeluh itu bonus.  Maknanya, yang malas sering heran. Kok bisa kuat? Kok bisa tahan?  Padahal jawabannya sederhana. Karena hidup tidak menunggu niat. Rasa percaya diri mereka juga sering disalahpahami. Dibilang nekat. Dibilang terlalu yakin.  Padahal mereka hanya bersandar pada iman. Mayoritas Muslim. Percaya rezeki sudah diatur. Tinggal ikhtiar yang jangan dihemat.  Kalau gagal, coba lagi. Kalau jatuh, berdiri.  Karena bagi mereka, Allah SWT tidak pernah salah kirim rezeki. [kay]

Terobosan Baru: Pusat Therapy Buta Warna Indonesia Beri Harapan Nyata Bagi Penderita Buta Warna

Gambar
​ YOGYAKARTA – Harapan baru bagi penderita buta warna kini hadir di Indonesia. Jumat (13/2/2026).  Metode terapi yang telah dikenal luas dan diakui di luar negeri, kini sukses diadaptasi oleh Pusat Therapy Buta Warna Indonesia.  Dengan rekam jejak yang meyakinkan, banyak pasien dilaporkan sukses pulih setelah menjalani rangkaian perawatan di institusi ini. ​CEO PT Bintang Banyu Urip Internasional, Sersan MS Arifin, mengungkapkan bahwa layanan ini hadir sebagai solusi bagi mereka yang selama ini merasa terhambat oleh keterbatasan penglihatan warna, baik dalam karier maupun kehidupan sehari-hari. ​"Kami membawa teknologi dan metode yang sudah teruji di mancanegara ke Indonesia. Fokus kami adalah pemulihan dan penyembuhan, dan kami bersyukur banyak pasien yang telah merasakan perubahan nyata setelah menjalani terapi di sini," ujar Sersan MS Arifin saat ditemui di kantor pusatnya di Yogyakarta. ​ Pusat Layanan Terpadu ​Untuk menjangkau lebih banyak masyarakat, Pusat Therapy Buta...

Ironi Absen Wajah PPPK Paruh Waktu Sumenep: Disiplin Tinggi, Nasib Gimana?

Gambar
Para guru dan tenaga kependidikan (tendik) PPPK Paruh Waktu di Sumenep mulai resmi jadi model dadakan tiap pagi. Kamis (12/2/2026).  Mesin absen wajah itu memindai senyum-senyum penuh syukur dari para pendidik yang baru aktif sejak 1 Januari 2026.  Sangat mengharukan melihat wajah-wajah ceria itu berebut menyetor biometrik demi membuktikan bahwa mereka benar-benar ada dan nyata. ​Antusiasme mereka sungguh di luar nalar manusia biasa.  Bayangkan, para pejuang pendidikan ini hadir tepat waktu dengan semangat yang meluap-luap, seolah-olah mesin itu adalah pintu menuju gerbang kesejahteraan yang megah.  Mungkin bagi mereka, dipindai oleh mesin jauh lebih terasa "dihargai" daripada sekadar mengajar di dalam kelas yang bangunannya mulai menua. ​Sungguh sebuah simfoni kedisiplinan yang sangat efisien bagi anggaran daerah.  Kita punya sistem absensi sekelas bandara internasional untuk mengawasi mereka yang statusnya bahkan masih "paruh waktu".  Memang benar, wajah ...

MBG Makan Gratis, Perut Kenyang tapi Warung Sekolah Sekarat?

Gambar
Program MBG terdengar mulia. Makan bergizi gratis. Judulnya saja sudah kenyang.  Tapi di balik nasi dan lauk itu, aroma bisnis tercium lebih dulu. Tender berputar. Vendor berdatangan.  Perut siapa yang sebenarnya diutamakan, masih jadi teka-teki. Sebagian orang mulai curiga. MBG bukan sekadar soal gizi. Tapi juga soal peluang.  Anggaran besar. Porsi tetap. Untung terjamin.  Warung kecil di depan sekolah hanya bisa menatap dari kejauhan, sambil menghitung sisa sendok dan harapan. [kay]

Gaji Rp300 Ribu di 2026: Potret Nasib Guru Honorer dan Nakes yang Terlupakan Negara

Gambar
Pemangku kebijakan publik Indonesia pada 2026 katanya sedang sibuk bekerja. Tapi bukan bekerja menaikkan kesejahteraan.  Lebih sibuk merapikan kata-kata di depan kamera televisi.  Sambil lupa melihat angka di slip gaji. Rp 300 ribu. Untuk tenaga kesehatan dan guru honorer.  Negara tersenyum. Dompet mereka menangis. Para pengabdi ini sudah lama jadi tulang punggung. Bukan lima tahun. Ada yang dua puluh tahun lebih.  Mengajar anak bangsa. Merawat orang sakit.  Tapi tetap diperlakukan seperti relawan acara tujuhbelasan. Peroleh ucapan terima kasih.  Bonusnya foto bersama. Soal hidup? Urusan nanti. Urusan Tuhan.  Ironisnya, negara pandai bicara soal masa depan. Soal kemakmuran. Soal SDM unggul. Tapi lupa mengisi perut para penjaganya.  Gaji Rp 300 ribu dianggap wajar. Mungkin karena pengabdian dinilai pakai doa. Bukan rupiah.  Di negeri ini, pengorbanan memang mahal. Yang murah justru penghargaannya. [kay]

Podcast Rhoma–Islah Bongkar Strategi Belanda: Patron Yaman, Kiai Pribumi, dan Haji yang Dibatasi

Gambar
Podcast Rhoma Irama dan Islah Bahrawi terdengar seperti membuka arsip berdebu. Isinya bukan lagu dangdut, tapi politik kolonial.  Belanda ternyata kreatif. Bukan cuma senjata, tapi juga patron. Didatangkanlah orang-orang Yaman. Dipoles jadi kelas utama. Kiai pribumi cukup jadi figuran. Logikanya sederhana. Kalau perlawanan menyala, siram pakai otoritas baru. Maka lahirlah patron “resmi”.  Salah satunya Habib Utsman bin Yahya. Diangkat jadi Mufti Batavia. Orang awam menyebutnya sebagai antek Londo. Jabatan sakral, stempel kolonial. Agama pun diberi seragam dinas. Agar perlawanan lebih mudah diatur. Kolonial licik. Parahnya lagi, urusan haji ikut diatur. Rekomendasi Habib Utsman bin Yahya jelas: batasi jemaah dari Indonesia. Bukan soal kesehatan. Bukan soal kapal. Tapi soal ide. Takut pulang membawa api. Kolonialisme memang licin. Bisa pakai meriam. Bisa juga pakai sorban. [kay]

Podcast Rhoma Irama–Islah Bahrawi Bongkar Peran Orang Yaman di Balik Strategi Belanda

Gambar
Podcast Bisikan Rhoma. Dari sebuah podcast. Rhoma Irama duduk berdiskusi dengan Islah Bahrawi. Topiknya serius, tapi rasanya seperti membuka lemari tua sejarah.  Orang-orang Yaman, kata mereka, bukan sekadar datang. Mereka didatangkan. Ada tujuan. Ada misi. Bukan wisata religi. Belanda rupanya cerdik. Perlawanan pribumi dianggap terlalu berisik. Maka dicarilah peredam. Datanglah figur-figur agama dari Yaman. Diberi panggung. Diberi sorban.  Salah satunya Habib Utsman bin Yahya. Diangkat jadi Mufti Batavia. Jabatan suci, tapi stempelnya kolonial. Ilustrasinya, penjajahan tak selalu pakai senapan. Kadang cukup fatwa. Tak perlu meriam, asal umat tenang. Perlawanan jadi makruh. Tunduk dianggap berkah.  Podcast ini seperti alarm. Bahwa sejarah bisa dibungkus agama. Dan kita, seringkali, tepuk tangan tanpa baca catatan kaki. [kay]

Gelar Habib Tapi Minim Adab? Fenomena Klaim Nasab vs Ulama Lokal

Gambar
Konon, di urat nadi habib mengalir darah suci. Langsung nyambung ke langit.  Tiket surgawi yang membuat mereka merasa tak butuh lagi paspor kesopanan di bumi nusantara.  Menjual nasab demi posisi, tapi lupa bahwa kehormatan itu dijemput dengan adab, bukan sekadar sertifikat silsilah.  Ulama pribumi yang sudah ratusan tahun menjaga kedamaian negeri ini, tiba-tiba dianggap butiran debu.  Di mata mereka, kiai-kiai lokal hanyalah kasta kelas dua yang tidak punya jalur "orang dalam" menuju surga.  Mengerdilkan ilmu orang lain sambil meninggikan ego sendiri tampaknya sudah jadi hobi.  Kini, kegelisahan imigran Yaman mulai menghantui, saat cermin realitas mulai retak.  Masyarakat sudah mulai cerdas. Bisa bedakan mana emas murni dan mana loyang yang cuma disepuh gelar.  Ternyata, tiket VIP ke surga tidak otomatis didapat hanya karena nama belakang yang kearab-araban jika kelakuan masih jauh dari teladan.  Kalau terus begini, jangan salahkan publik ji...

Negeri Kaya, Rakyat Merantau: Hidup Pahit Tentang Indonesia yang Katanya Makmur

Gambar
Indonesia dikenal sebagai negeri yang katanya makmur. Tanahnya subur. Lautnya luas. Gunungnya kaya.  Tapi rakyatnya akrab dengan kata “pas-pasan”.  Kekayaan alam seperti etalase toko. Bisa dilihat. Sulit dibeli. Lapangan kerja katanya ada. Tapi sering hanya di spanduk. Di pidato. Di baliho besar.  Di dunia nyata, lowongannya sempit. Antrenya panjang. Upahnya pendek.  Maka banyak rakyat memilih jalan jauh. Ke negeri orang. Mengirim rindu bersama devisa. Ironisnya, mereka masih diminta cinta tanah air. Diminta setia. Diminta bangga.  Padahal perut tidak bisa hidup dari slogan. Cinta tanah air itu soal rasa aman dan sejahtera. Bukan hafalan.  Jadi jangan heran, jika yang paling patriotik justru yang terpaksa pergi. [kay]

Lapangan Kerja Lebih Dibutuhkan Rakyat daripada MBG Makan Gratis

Gambar
Masyarakat Indonesia sebenarnya lebih menyukai program lapangan kerja ketimbang MBG.  Bukan karena menolak makan gratis. Tapi karena mereka lebih suka bekerja daripada disuapi.  Lapangan kerja memberi penghasilan. MBG hanya memberi piring. Yang satu berkelanjutan. Yang lain cepat habis. Masyarakat sebenarnya tidak minta disuapi. Mereka hanya ingin diberi kesempatan.  Dengan bekerja, ada penghasilan. Dengan penghasilan, ada pilihan.  Dan dengan pilihan, keluarga bisa makan bergizi tanpa harus antre program.  Lucunya lagi, rakyat dianggap tak paham gizi. Seolah tanpa program, mereka lupa cara memasak sayur.  Padahal sejak dulu, mereka tahu apa yang sehat untuk keluarganya.  Yang kurang bukan pengetahuan. Tapi akses kerja.  Karena gizi terbaik tetap lahir dari keringat sendiri. [kay]

MBG Pasongsongan: Antara Makan Gratis, Cemas Orang Tua, dan Usulan UMB

Gambar
MBG akhirnya datang juga. Pekan ini. Hampir merata. Masuk ke sekolah-sekolah di Kecamatan Pasongsongan-Sumenep. Anak-anak menyambutnya dengan sorak kecil dan perut kosong.  Bagi mereka, gratis itu selalu terdengar lezat. Soal gizi, nanti belakangan. Yang penting bisa makan bareng teman. Di luar pagar sekolah, cerita jadi lain. Sebagian orang tua gelisah. Ada kabar keracunan di daerah lain.  Pesan berantai lebih cepat dari sendok makan. MBG pun berubah wujud.  Dari Makan Bergizi Gratis jadi Makan Bikin Galau. Anak disuruh hati-hati, tapi tetap lapar. Lalu muncul ide brilian. Mengapa tidak uang saja? Lebih fleksibel, katanya.  Anak bisa beli sesuai selera. Usulan ini jujur dan kreatif.  Tapi kalau begitu, namanya jangan MBG. Ganti saja UMB (Uang Makan Bergizi).  Soal bergizinya? Itu urusan nanti. Hehehe. [kay]

MBG, Makan Berani Setelah Giliran Teman Duluan

Gambar
Berita baik pekan ini bersama kotak makan bernama MBG.  Ia tiba di sekolah-sekolah Kecamatan Pasongsongan Sumenep dengan wajah rapi dan janji gizi.  Tapi, tidak semua siswa menyambutnya dengan senyum.  Sebagian justru menatapnya curiga, teringat pesan orang tua di rumah: jangan dimakan dulu, takut keracunan.  MBG pun mendadak berubah dari menu makan siang jadi bahan uji nyali. Di kelas, drama kecil pun terjadi. Ada siswa yang memilih menunggu, menahan lapar sambil mengamati.  Temannya membuka kotak lebih dulu, lalu makan dengan tenang.  Lima menit berlalu. Sepuluh menit berlalu. Tak ada pingsan, tak ada teriakan, apalagi sirene. Hanya sendawa kecil dan wajah kenyang. Baru setelah itu, rasa takut berubah jadi rasa lapar. MBG akhirnya disantap, tanpa upacara.  Kisah ini sederhana. Di negeri ini, makanan sering harus lulus “uji teman sebangku”.  Kepercayaan publik, rupanya, masih perlu bumbu utama: contoh nyata, bukan sekadar sosialisasi . [kay]

NU Terlalu Sibuk ke Atas, Warga Ribut ke Bawah: Retaknya Harmoni Organisasi

Gambar
NU adalah organisasi besar. Begitu besar sampai pengurus di atas dan warga di bawah tampak hidup di dua alam berbeda. Yang satu di ruang rapat ber-AC, yang lain di lapangan penuh perdebatan. Keduanya sama-sama NU, tapi rasanya seperti sedang tidak satu grup WhatsApp. Para pengurus terlihat sibuk. Sibuk rapat, sibuk manuver, sibuk lobi. Saking sibuknya, suara warga kecil terdengar seperti notifikasi yang disenyapkan. Sementara itu, di bawah, warga NU ribut soal nasab. Debat panas. Persaudaraan memanas. Tapi tenang saja, di atas semuanya tetap adem. Saat warga saling bersitegang, para elit tampak khusyuk jaga kepentingan pribadi. Katanya demi organisasi. Meski anehnya, yang kenyang selalu itu-itu saja. Rakyat diminta sabar. Diminta dewasa. Diminta jangan ribut. Padahal yang paling jarang turun tangan justru para pemilik mikrofon. NU tidak akan runtuh. Terlalu besar untuk itu. Tapi kepercayaan bisa bocor pelan-pelan. Kalau pemimpin terus sibuk mengurus perut sendiri, sementa...

Kekompakan Luar Biasa: KKG Gugus 02 Pasongsongan Bahas Sekolah Ramah Anak di SDN Panaongan 3

Gambar
Sundari, S.Pd (kanan) SUMENEP – Pertemuan rutin Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 02 Kecamatan Pasongsongan kembali digelar dengan penuh antusias. Kamis (5/2/2026). Kali ini giliran SDN Panaongan 3 jadi tuan rumah bagi para pendidik yang ingin memperdalam strategi pendidikan lewat tema menarik: “Merajut Inklusivitas: Membangun Sekolah Ramah Anak.” Ada hal yang berbeda dan membanggakan dalam rapat kali ini. Tingkat kehadiran peserta menunjukkan tren yang sangat positif. Hal ini turut diamini Sundari, S.Pd., guru PAI (Pendidikan Agama Islam) dari SDN Padangdangan 1. "Rapat KKG 02 kali ini terbilang sangat sukses. Hampir seluruh guru, kepala sekolah, hingga tenaga kependidikan hadir dengan kompak dan tepat waktu. Semangat kebersamaan seperti ini yang kita butuhkan untuk maju bersama," ungkap Sundari ketika dimintai komentarnya oleh awak media. Menurut perempuan dari dua orang anak ini menjelaskan, bahwa rapat kali ini bukan sekadar rutinitas, melainkan momentum pentin...

Sinergi Pendidik di Gugus 02 Pasongsongan: Wujudkan Sekolah Ramah Anak Melalui Inklusivitas

Gambar
Sariman, S.Pd (kiri). SUMENEP   – Semangat kolaborasi antar-pendidik kembali terlihat dalam pertemuan rutin Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 02 Kecamatan Pasongsongan. Kamis (5/2/2026). Pertemuan bulan ini diselenggarakan di SDN Panaongan 3, dengan mengusung tema yang sangat relevan dengan dinamika pendidikan modern: “Merajut Inklusivitas: Membangun Sekolah Ramah Anak.” Tema ini dipilih untuk memperkuat pemahaman guru mengenai pentingnya menciptakan suasana sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan setiap anak, terlepas dari latar belakang maupun kondisi fisiknya. Hadir sebagai pemateri utama adalah Sariman, S.Pd., yang merupakan tenaga pendidik dari SDN Soddara 1. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa inklusivitas bukan sekadar menerima siswa berkebutuhan khusus, melainkan tentang bagaimana kurikulum dan pola pengajaran bisa beradaptasi dengan kebutuhan unik setiap individu. "Sekolah ramah anak dimulai dari hati seorang guru yang mampu melihat potensi ...

Pertemuan Rutin KKG Gugus 02 Pasongsongan Digelar di SDN Panaongan 3

Gambar
SUMENEP - Pertemuan rutin bulanan Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 02 Kecamatan Pasongsongan berlangsung di SDN Panaongan 3. Kamis (5/2/2026).  Kegiatan ini dihadiri para guru dari sekolah-sekolah anggota gugus sebagai wadah koordinasi dan peningkatan profesionalisme pendidik. Agus Sugianto, S.Pd, selaku perwakilan tuan rumah, menyampaikan permohonan maaf atas molornya waktu pelaksanaan pertemuan.  Dalam undangan, kegiatan dijadwalkan mulai pukul 09.00 WIB, tapi pelaksanaannya sedikit tertunda. “Ini bukan unsur kesengajaan, tapi karena adanya pembagian MBG (Makanan Bergizi Gratis) kepada para siswa dan guru,” ungkap Agus Sugianto.  Ia menambahkan, pembagian MBG di SDN Panaongan 3 tersebut merupakan yang pertama kalinya dilaksanakan, sehingga membutuhkan penyesuaian dalam pelaksanaannya . [kay]

Pengawas Bina Tekankan Integritas Moral Guru pada Pertemuan KKG Gugus 02 Pasongsongan

Gambar
Abu Sufyan (berdiri). ​ SUMENEP – Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 02 Kecamatan Pasongsongan kembali menggelar pertemuan rutin bulanan yang bertempat di SDN Panaongan 3. Kamis (5/2/2026).  Kegiatan ini jadi wadah koordinasi sekaligus peningkatan kompetensi bagi para pendidik di lingkungan gugus tersebut. ​Acara ini dihadiri langsung Pengawas Bina SD Kecamatan Pasongsongan, Abu Supyan, M.Pd.  Dalam kesempatan tersebut, ia memberikan pengarahan terkait profesionalisme dan etika profesi guru sebagai teladan di masyarakat. ​Dalam amanat singkatnya, Abu Supyan memberikan peringatan keras bagi seluruh tenaga pendidik untuk senantiasa menjaga martabat diri dan institusi.  Ia menekankan agar para guru menjauhi segala bentuk tindakan yang melanggar norma, termasuk perselingkuhan. ​"Sebagai pendidik, kita adalah figur yang digugu dan ditiru. Menjaga integritas moral, termasuk menghindari perselingkuhan, adalah harga mati demi marwah pendidikan dan masa depan anak didik kita," tegas ...