Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

Sekolah Mati Suri dan Jeritan Guru PPPK Paruh Waktu

Gambar
Tahun ajaran baru tidak selalu membawa keceriaan. Bagi sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang sama sekali tidak mendapatkan murid baru, momentum ini adalah lonceng kematian.  Sekolah yang kosong bukan sekadar statistik, melainkan tragedi "mati suri" yang berujung pada ancaman penutupan. Di balik bangku-bangku kosong itu, ada kecemasan mendalam dari para gurunya.  Bayangkan jika mereka adalah saudara, famili, atau sahabat kita sendiri.  Di era sekarang, tidak sedikit dari mereka yang berstatus sebagai guru PPPK Paruh Waktu dengan gaji pokok hanya Rp 400.000 per bulan.  Satu-satunya harapan agar dapur tetap mengepul adalah Tunjangan Profesi Pendidik (TPP) atau sertifikasi. Lalu, apa yang terjadi jika sekolah mereka terpaksa ditutup? Regulasi akan memindahkan mereka ke SDN lain.  Tapi realitasnya, sekolah yang dituju biasanya sudah padat.  Akibatnya, guru pindahan ini tidak mendapatkan jam mengajar yang cukup.  Padahal, pemenuhan jam mengajar adalah sya...

Duh, "Niserra" Guru PPPK PW: Sekolah Sepi Murid, Tunjangan Terancam Hangus?

Gambar
Ruang-ruang kelas di sekolah dasar kita setiap hari berdengung oleh kata-kata mulia: empati, gotong royong, dan berbagi.  Kita, sebagai pendidik, dengan penuh khidmat menanamkan nilai-nilai itu ke dalam sanubari para murid.  Kita ingin mereka tumbuh jadi manusia yang peka terhadap penderitaan sesama.  Tapi, sebuah renungan mendalam dari Agus Sugianto, S.Pd., Kepala SDN Panaongan 3, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, baru-baru ini seperti menampar wajah kita semua.  Menurut 'Bapak Pendidikan Pasongsongan' tersebut, saat sistem pendidikan dihadapkan pada ancaman penutupan sekolah yang kekurangan murid, dimanakah letak empati yang selalu kita dengungkan itu? Tahun ajaran baru sejatinya jadi momentum harapan.  Tapi bagi sebagian sekolah negeri yang "mati suri" karena tidak mendapatkan satu pun murid baru, ini adalah lonceng kematian.  Di balik angka nol pada data pendaftaran itu, ada nasib manusia-manusia konkret yang sedang dipertaruhkan. Bayangkan jik...

Menjemput Kemandirian Umat: Catatan Pemikiran dari Sudut Meja Hairul Anwar

Gambar
Siang itu, suasana kantor Madura Energi di Jalan Basuki Rahmad, Sumenep, terasa hangat.  Kunjungan kekeluargaan saya kepada Hairul Anwar—seorang pengusaha sukses asal Desa Panaongan, Kecamatan Pasongsongan yang kini mengabdi sebagai anggota DPRD Kabupaten Sumenep—berubah menjadi sebuah diskusi yang menyenangkan sekaligus mendalam.  Di balik meja kerjanya, perbincangan kami mengerucut pada satu tema krusial yang jadi pekerjaan rumah kita bersama: kesejahteraan masyarakat Sumenep. Sebagai sosok yang tumbuh dari dunia usaha sekaligus memahami denyut kebijakan di kursi parlemen, Hairul Anwar melemparkan sebuah gagasan yang menantang tapi sangat relevan bagi realitas hari ini.  Ia menekankan betapa pentingnya bagi organisasi kemasyarakatan (ormas) maupun organisasi keagamaan di Kabupaten Sumenep untuk mulai mengubah paradigma: tidak boleh lagi selalu bergantung pada bantuan pihak lain dalam mengupayakan kesejahteraan umat. "Sudah saatnya organisasi-organisasi kita berdikari se...
Gambar
Sebuah diskusi hangat terjadi di kantor Madura Energi di Jalan Basuki Rahmad, Sumenep. Selasa (7/7/2026).  Dalam sebuah kunjungan kekeluargaan, saya berkesempatan bertukar pikiran dengan Hairul Anwar—seorang pengusaha sukses asal Desa Panaongan, Kecamatan Pasongsongan, yang saat ini mendedikasikan dirinya sebagai anggota DPRD Kabupaten Sumenep.  Pembicaraan kami tidak jauh dari kegelisahan mendasar tentang masa depan daerah: bagaimana cara nyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumenep. Sebagai figur yang berangkat dari dunia usaha sekaligus memahami regulasi, Hairul Anwar menitipkan sebuah harapan besar kepada organisasi kemasyarakatan dan organisasi keagamaan di Sumenep.  Ia menekankan bahwa sudah saatnya organisasi-organisasi ini tidak hanya fokus pada kegiatan seremonial atau spiritual, tapi juga senantiasa membangun pemikiran taktis mengenai pemberdayaan ekonomi wong cilik. Pertanyaannya kemudian, bagaimana format pemberdayaan yang ideal agar masyarakat bawah be...

Sepeda Listrik Menjamur di Pasongsongan: Bisakah Cas Otomatis Lewat Putaran Roda?

Gambar
Pemandangan jalanan di Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, kini kian berwarna dengan hilir mudiknya sepeda listrik.  Kendaraan ramah lingkungan ini telah jadi primadona baru yang memikat berbagai kalangan, mulai dari pelajar tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, hingga kalangan ibu rumah tangga yang menggunakannya untuk berbelanja atau mengantar anak sekolah. Kepraktisan dan efisiensi jadi alasan utama mengapa sepeda listrik begitu cepat menjamur di wilayah ini.  Bagi para pelajar, kendaraan ini mempermudah akses menuju sekolah tanpa perlu menguras tenaga untuk mengayuh atau bergantung pada jemputan orang tua.  Sementara bagi ibu rumah tangga, sepeda listrik dianggap sebagai solusi transportasi jarak dekat yang hemat dan mudah dioperasikan. Tapi, di balik kepopulerannya, ketergantungan pada pengisian daya listrik baterai (charging) masih jadi tantangan tersendiri, terutama saat mobilitas sedang tinggi.  Keterbatasan jarak tempuh ini memicu sebuah gagasan inovatif: b...

Mengenal Program Unggulan SDN Panaongan 3 dalam Membentuk Karakter Siswa

Gambar
Sekolah yang hebat bukanlah sekolah yang hanya melahirkan siswa berprestasi, tetapi sekolah yang mampu membentuk manusia yang berkarakter, beriman, berbudaya, dan peduli terhadap sesama. Di tengah hamparan pesisir utara Kabupaten Sumenep, di sebuah lingkungan yang tumbuh dalam nilai religiusitas, gotong royong, dan kearifan lokal Madura, berdirilah seorang pendidik yang menjadikan pendidikan bukan sekadar profesi, melainkan jalan pengabdian.  Sosok itu adalah Agus Sugianto, S.Pd, Kepala SDN Panaongan 3 Kecamatan Pasongsongan, seorang pemimpin pendidikan yang meyakini bahwa perubahan besar dapat dimulai dari sekolah kecil, selama dikelola dengan hati, keteladanan, dan semangat melayani. Bagi Agus Sugianto, sekolah bukan hanya tempat berlangsungnya proses pembelajaran.  Sekolah adalah rumah kedua bagi peserta didik; ruang tumbuh yang memungkinkan anak-anak belajar mengenal diri, menghargai sesama, mencintai budaya, memperkuat iman, dan membangun mimpi-mimpi besar untuk masa depa...

Pengurus Baru MWC NU Pasongsongan 2026–2031: Harapan Besar untuk Kesejahteraan Nahdliyin

Gambar
  Pelantikan Pengurus MWC NU Kecamatan Pasongsongan masa khidmat 2026–2031 yang berlangsung lancar di Gedung KH Abdul Wahab Hasbullah pada Senin (8/6/2026) bukan sekadar agenda seremonial organisasi.  Di balik prosesi pelantikan tersebut, tersimpan harapan besar dari warga Nahdlatul Ulama (nahdliyin) yang menginginkan hadirnya perubahan nyata dalam kehidupan sosial, keagamaan, dan kesejahteraan masyarakat. Ucapan selamat tentu layak disampaikan kepada mereka yang telah menerima amanah untuk mengemban roda organisasi selama lima tahun ke depan.  Tapi, ucapan selamat itu juga harus dipahami sebagai pengingat bahwa jabatan bukanlah sebuah kehormatan semata, melainkan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan kepada organisasi, masyarakat, dan Allah SWT. Harapan masyarakat terhadap pengurus baru tidaklah kecil.  Di tengah berbagai tantangan ekonomi, pendidikan, dan sosial yang dihadapi warga, NU sebagai organisasi keagamaan terbesar memiliki peran strategis untuk h...
Gambar
Pelantikan Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Pasongsongan masa khidmat 2026–2031 di Gedung KH. Abdul Wahab Hasbullah, Senin (8/6/2026) lalu, bukan sekadar prosesi seremonial belaka.  Bagi masyarakat Pasongsongan, momen ini adalah babak baru yang membawa estafet kepemimpinan sekaligus tumpukan harapan yang mendesak. Selamat atas dilantiknya para pengurus baru.  Jabatan ini adalah kehormatan, tapi di balik itu, ada tanggung jawab moral dan sosial yang sangat besar di tengah situasi yang sedang tidak mudah. Menjawab Jeritan Akar Rumput: Waktu Kita Tidak Banyak Setiap kali ada pelantikan, doa agar pengurus bersikap "amanah" selalu menggema.  Tapi, apa arti amanah yang paling dinanti oleh warga Nahdliyin Pasongsongan hari ini?  Jawabannya adalah gerak cepat dalam membantu mengatasi kesulitan ekonomi. Fakta di lapangan tidak bisa dimungkiri: saat ini banyak warga Nahdliyin yang terseok-seok dan kesulitan mencari penghasilan di tanah kelahiran...

Menakar Harapan Baru di Pucuk Pimpinan MWC NU Pasongsongan

Gambar
Selamat! Terhadap pelantikan Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Pasongsongan masa khidmat 2026–2031 di Gedung KH Abdul Wahab Hasbullah.  Hal ini bukan sekadar seremoni runtutan organisasi. Senin (8/6/2026).  Di balik prosesi yang berlangsung lancar dan khidmat tersebut, ada pundak-pundak baru yang kini memikul harapan besar ribuan warga nahdliyin di Pasongsongan. Selamat bekerja dan berkhidmat kita ucapkan kepada para pengurus yang telah resmi dilantik.  Tapi, setelah euforia ucapan selamat ini mereda, tantangan nyata justru baru saja dimulai. Bukan Sekadar Simbol, Tapi Agen Perubahan nyata Menjadi pengurus NU di tingkat kecamatan (MWC) adalah posisi strategis.  Mereka bersentuhan langsung dengan akar rumput.  Oleh sebab itu, harapan yang dititipkan masyarakat bukan lagi sekadar soal bagaimana NU menjaga amaliyah keagamaan—karena hal itu sudah mengakar kuat—melainkan bagaimana kehadiran NU mampu membawa perubahan berarti bagi keseja...

Mengenang Kiai Fajar Sidik: Keteladanan, Pengabdian, dan Warisan Abadi Sang Pejuang Pendidikan

Gambar
Duka mendalam kembali menyelimuti langit Pasongsongan. Kepergian sosok muda visioner, Kiai Fajar Sidik, S.Pd.I., untuk selamanya menyisakan ruang kosong yang teramat rapuh di hati kita semua.  Beliau berpulang pada Rabu pagi (3/6/2026), setelah mobil yang ia naiki mengalami kecelakaan lalu lintas di Kecamatan Batumarmar, Pamekasan. Sebuah akhir perjalanan di dunia yang mengejutkan, tapi sekaligus mengukuhkan bahwa hidupnya hingga detik terakhir dihabiskan dalam mobilitas perjuangan dan pengabdian. Bagi siapa pun yang mengenal atau sekadar menyaksikan kiprahnya, Kiai Fajar adalah representasi sejati dari generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) yang tidak pernah lelah berkhidmat.  Ingatan kolektif kita tentu belum lupa pada rabu malam, 29 Oktober 2025 yang lalu.  Di bawah sorot lampu Lapangan Sawunggaling, Desa Pasongsongan, Sumenep, ribuan jemaah memadati area demi menghadiri peringatan Hari Santri Nasional (HSN) sekaligus Maulid Nabi Muhammad SAW. Di atas panggung megah malam ...

Dari Pasongsongan Menuju Dunia: Jejak Inspiratif MS Arifin dan Gurita Bisnis Banyu Urip

Gambar
Ada sebuah kebanggaan tersendiri ketika melihat putra daerah melangkah jauh, menembus batas-batas lokal, lalu kembali dengan membawa perubahan nyata untuk tanah kelahirannya.  Cerita inilah yang melekat erat pada sosok MS Arifin, owner sekaligus nakhoda utama di balik layar PT Bintang Banyu Urip Yogyakarta. Lahir dan tumbuh besar di atmosfer pesisir Desa/Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, MS Arifin adalah bukti hidup bahwa impian besar bisa tumbuh dari mana saja—bahkan dari sudut utara Pulau Madura yang jauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Mengglobal Lewat Kearifan Ramuan Tradisional Keberhasilan MS Arifin membangun gurita bisnis tidak diraih dalam semalam.  Pondasi utamanya terletak pada keberanian mengangkat potensi pengobatan tradisional melalui brand Ramuan Banyu Urip.  Di tangan dinginnya, apa yang semula dipandang sebagai alternatif, bertransformasi jadi produk kesehatan berkualitas yang diakui dan mendunia. Tidak berhenti di situ, kerajaan bisnis PT Bintang Bany...

Dari Pasongsongan ke Jember: Refleksi 33 Tahun Perjalanan Hidup Syamsul Arifin

Gambar
Pertemuan selalu punya cara sendiri untuk mengaduk-aduk emosi.  Kemarin malam (Selasa, 26 Mei 2026) di sebuah rumah di Dusun Pakotan, Desa Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, saya duduk berhadapan dengan Syamsul Arifin.  Di rumah saudaranya itulah, ingatan kami mendadak terlempar jauh ke belakang, tepatnya 33 tahun yang lalu. Tiga puluh tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar.  Pikiran saya langsung memutar kembali memori saat Syamsul masih lajang, belum memiliki istri, dan menjalani kerasnya hidup bersama orang tuanya.  Kala itu, kata "miskin" dan "menderita" bukan sekadar bumbu cerita, melainkan makanan sehari-hari yang harus mereka telan. Orang tua Syamsul adalah warga asli Pasongsongan yang memutuskan merantau ke Jember demi mengadu nasib.  Di tanah rantau itulah Syamsul lahir dan dibesarkan.  Tanpa modal apa pun kecuali tenaga dan harapan, mereka bertahan hidup di garis kemiskinan yang amat ketat.  Menatap Syamsul yang sekarang, sulit rasanya melupak...

Membaca Sejarah, Menanam Karakter: Catatan Reflektif Darmawisata Siswa Kelas VI SDN Padangdangan 2

Gambar
Tidak ada yang salah, darmawisata sekolah seringkali diidentikkan dengan sekadar rekreasi melepas penat setelah ujian.  Tapi, bagi kami di SDN Padangdangan 2, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, perjalanan bersama siswa-siswi kelas VI kali ini memuat esensi yang jauh lebih mendalam.  Di bawah bimbingan langsung Kepala Sekolah beserta jajaran dewan guru, kami membawa anak-anak melangkah keluar dari dinding kelas untuk membaca langsung buku peradaban yang terhampar di bumi Sumenep. Sebagai pendidik, kami menyadari bahwa tumpukan teori di dalam kelas kerapkali terasa abstrak bagi siswa.  Oleh karena itu, mendampingi mereka menjelajahi kekayaan daerah sendiri adalah cara terbaik untuk menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap tanah kelahiran. Dari sekian banyak destinasi yang dikunjungi, momen di Asta Tinggi—kompleks pemakaman Raja-raja Sumenep—menjadi puncak perjalanan yang paling menggetarkan hati. Sabtu (23/5/2025).  Tempat ini bukan sekadar situs purbakala atau tu...

Aoleng! Saat Badan Jalan Raya Pasongsongan Berganti Jadi Pasar Tumpah

Gambar
Setiap hari Sabtu dan Selasa pagi, sebuah potret menyedihkan sekaligus menguji nyali tersaji di sepanjang jalan raya Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep.  Aoleng (pikiran jadi pusing)! Alih-alih jadi jalur transportasi yang aman dan lancar, fasilitas publik ini berubah menjadi panggung semrawut akibat fenomena "pasar tumpah".  Keberadaannya kini bukan lagi sekadar pusat perputaran ekonomi, melainkan sumber frustrasi, pemicu tingginya tensi emosi pengendara, hingga ancaman nyata bagi keselamatan nyawa. Ada tiga titik utama yang jadi pusat kesemrawutan ini.  Di Desa Pasongsongan, kemacetan parah rutin terjadi di dua lokasi, yakni di depan BRI Pasongsongan dan kawasan simpang tiga Pasar Pao.  Sedangkan di Desa Panaongan, pemandangan serupa terlihat jelas persis di depan Kantor Kecamatan Pasongsongan.  Tiga titik ini mendadak lumpuh setiap kali hari pasaran tiba. Ironisnya, kekacauan ini terjadi bukan karena ketiadaan fasilitas.  Pemerintah sebenarnya tel...

Menakar Ego di Jalan Raya: Potret Menyedihkan Pasar Tumpah Pasongsongan

Gambar
Kecamatan Pasongsongan dikenal sebagai salah satu wilayah yang dinamis di Kabupaten Sumenep.  Tapi, setiap hari Sabtu dan Selasa, kedinamisan itu berubah menjadi momok yang menguji kesabaran.  Pasar tumpah yang digelar di Desa Panaongan dan Desa Pasongsongan kini kondisinya sungguh menyedihkan.  Alih-alih jadi pusat perputaran ekonomi yang tertib, keberadaan pasar ini justru menjelma menjadi titik rawan yang merenggut hak-hak para pengguna jalan. Skenarionya selalu sama setiap pekan: kemacetan mengular, klakson bersahutan, dan tensi emosi para pengendara meninggi.  Mengapa fasilitas publik yang krusial seperti jalan raya harus dikorbankan demi ego segelintir pihak? Ketika Badan Jalan Beralih Fungsi Akar masalah dari kacaunya kondisi ini adalah hilangnya fungsi utama jalan raya.  Seolah tanpa beban moral, sebagian pedagang berjualan "seenak dengkulnya" dengan menggelar lapak hingga memakan badan jalan.  Fenomena ini otomatis memicu efek domino. Ketika lapak ...

Memutar Ulang Waktu di Pasongsongan: Secangkir Kopi Nostalgia Bersama Aji Lahaji

Gambar
Pada medio Maret 2026 yang lalu membawa angin yang berbeda di kediaman saya di Pasongsongan, Sumenep.  Di pertengahan bulan itu, sebuah ketukan di pintu menjelma jadi mesin waktu yang melemparkan ingatan saya jauh ke belakang, tepatnya 28 tahun yang lalu.  Tamu yang datang bukanlah orang asing, melainkan Aji Lahaji—seorang kawan lama, musisi, dan kini seorang pendakwah—yang datang beranjangsana bersama seorang rekannya. Melihat sosoknya yang kini lebih sering menghabiskan waktu di Jakarta, ingatan saya langsung melayang ke tahun 1998.  Sebuah tahun yang riuh, penuh gejolak, dan menjadi saksi awal mula persahabatan kami di sebuah sudut ibu kota: Gang Siaga, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Gang Siaga 1998: Ruang Mimpi Anak Muda Pada tahun 1998, Gang Siaga adalah saksi bisu dari pergulatan hidup kami sebagai anak muda yang sedang menjemput takdir.  Saat itu, Aji adalah seorang pemuda kelahiran Sumenep yang sedang berjuang meniti karier sebagai biduan spesialis dangdut....

Meneladani Agus Sugianto: Totalitas Pengabdian dan Jangkar Kolaborasi Pendidikan di Pasongsongan

Gambar
Dunia pendidikan di Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, adalah sebuah ekosistem yang dinamis.  Di dalamnya, ratusan guru dari jenjang TK/RA hingga SMA/MA—baik di sekolah negeri maupun swasta—berjuang setiap hari demi masa depan generasi penerus.  Di tengah tantangan administrasi dan kurikulum yang terus berubah, kehadiran sosok pemimpin yang mampu mengayomi dan merekatkan komunikasi antarlini menjadi sangat krusial.  Sosok itu, bagi banyak pendidik di Pasongsongan, melekat erat pada diri Agus Sugianto. Nama Agus Sugianto bukanlah nama yang asing.  Sebagai Kepala SDN Panaongan 3, dedikasinya tidak lagi terbatas pada pagar sekolah yang dipimpinnya.  Ia telah melangkah lebih jauh, menjadikan dirinya sebagai bagian dari denyut nadi pendidikan di seluruh pelosok kecamatan. Totalitas Tanpa Batas Waktu untuk Kemajuan Pendidikan Salah satu alasan utama mengapa nama Agus Sugianto selalu muncul di setiap lini adalah totalitasnya yang tanpa batas.  Pria dengan ...

Belajar Filosofi 'Lilin Kecil' dari Blangkon Agus Sugianto: Mengapa Kolaborasi Harus Menumbangkan Kompetisi Egois di Sekolah Kita

Gambar
Di era modern ini, dunia pendidikan seringkali terjebak dalam arus kompetisi yang melelahkan.  Sekolah-sekolah berlomba-lomba memoles citra, memperebutkan calon peserta didik baru, dan saling sikut demi status "sekolah favorit".  Keberhasilan pendidikan telanjur diukur secara egois: seberapa megah infrastruktur lembaga sendiri dan seberapa mentereng prestasi internalnya.  Tapi, di tengah riuh-rendah kompetisi yang sarat ego sektoral itu, sosok Agus Sugianto hadir membawa perspektif yang sepenuhnya berbeda. Kepala SDN Panaongan 3, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep ini belakangan mencuri perhatian publik.  Bukan sekadar karena blangkon khas yang selalu melekat di kepalanya—yang kerap dianggap sebagai sekadar gaya nyentrik—melainkan karena isi kepala dan pola pikirnya yang mendobrak pakem arus utama. Dalam sebuah diskusi pemikiran yang tajam bersama redaksi apoymadura.com, sebuah gugatan yang sangat realistis dilayangkan kepada Agus.  Mengapa ia, sebagai ke...

Mengenal Yamaro Sitompul: Maestro di Balik Lagu Pelabuhan Pasongsongan

Gambar
Yamaro Sitompul, sosok seniman yang membuktikan bahwa dedikasi tanpa batas akan membuahkan karya abadi.  Sebagai musisi berdarah Batak yang kini menetap di Bekasi, ia tidak hanya dikenal karena karakter vokalnya, tapi juga karena produktivitasnya yang luar biasa sebagai pencipta lagu.  Ribuan komposisi lahir dari tangannya dan telah memperkaya belantika musik tanah air, menjadikannya salah satu pilar kreatif yang memberikan warna tersendiri dalam industri hiburan di Indonesia. Kehebatan Yamaro tidak hanya terletak pada kemampuannya merangkai nada secara mandiri, tapi juga pada keterbukaannya dalam berkolaborasi untuk melahirkan visi artistik yang baru.  Sinergi kreatif ini menemukan bentuk nyatanya melalui kolaborasi dalam pembuatan karya-karya musik yang menyentuh hati.  Lewat proses kreatif yang mendalam, ia mampu menerjemahkan ide dan rasa jadi sebuah harmoni yang bisa dinikmati oleh khalayak luas, membuktikan bahwa musik adalah bahasa universal yang mampu menghub...

Sapi Sonok Pasongsongan 2026: Keanggunan Budaya Madura di Tengah Terik.

Gambar
Sabtu (9/5/2026), berlokasi di Lapangan Sawungggaling, Desa/Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, bukan sekadar lapangan berdebu.  Di bawah sengatan matahari musim kemarau yang cukup menyengat, ribuan pasang mata jadi saksi betapa tingginya martabat kebudayaan Madura lewat helatan Kontes Sapi Sonok 2026. Walau cuaca panas membungkus arena, semangat ribuan penonton yang datang dari berbagai penjuru Madura tidak surut.  Hal ini membuktikan satu hal: Sapi Sonok bukan sekadar tontonan, melainkan kebanggaan kolektif yang menyatukan masyarakat. Lebih dari Sekadar Kontes Kecantikan Berbeda dengan Karapan Sapi yang mengadu kecepatan, Sapi Sonok adalah perayaan estetika dan etika.  Diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Pasongsongan, kontes ini menampilkan sepasang sapi betina yang diapit oleh Pangonong —ukiran kayu atau bambu yang menyatukan keduanya dalam satu harmoni. Ada filosofi mendalam di balik Pangonong tersebut. Ia bukan sekadar beban, melainkan simbol keselarasan....