Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

Soal dan Kunci Jawaban Asesmen Sumatif Akhir Semester Genap Kelas 6 SD Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Gambar
Berikut ini Redaksi apoymadura.com menyajikan Soal dan Kunci Jawaban Asesmen Sumatif Akhir Semester Genap Kelas 6 SD Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti:

Lengkap! Soal & Jawaban Bahasa Madura Asesmen Akhir Semester Genap Kelas 3 SD

Gambar
Berikut Redaksi apoymadura.com akan menyajikan soal-soal dan kunci jawaban Bahasa Madura Asesmen Sumatif Akhir Semester Genap untuk tingkat SD kelas 3. Selamat belajar! 

Soal dan Kunci Jawaban Bahasa Madura ASAS Genap SD Kelas 2

Gambar
Berikut Redaksi apoymadura.com akan menyajikan soal-soal dan kunci jawaban Bahasa Madura Asesmen Sumatif Akhir Semester Genap untuk tingkat SD kelas 2.

Dilema Guru PPPK Paruh Waktu: Semangat Mengabdi, Kantong Teruji

Gambar
Januari 2026 jadi babak baru. Ribuan guru PPPK Paruh Waktu resmi bertugas. Ada rona bahagia di wajah mereka. Tapi, di balik itu tersimpan kecemasan nyata. Jadi guru baru bukan perkara mudah. Bulan-bulan pertama adalah masa paling berat. Dompet mereka diuji habis-habisan. Gaji belum cair. Beban utama adalah biaya operasional. Banyak guru ditempatkan jauh dari rumah. Jarak tempuh puluhan kilometer. Biaya bensin melonjak drastis. Belum lagi jika harus beli makanan, pengganjal perut. Padahal, status "baru bekerja" berarti belum ada pemasukan stabil. Mereka wajib memutar otak untuk bertahan hidup. Sebagian terpaksa berhutang demi bisa berangkat ke sekolah. Dedikasi memang tidak bisa diukur dengan uang. Tapi, guru juga manusia biasa. Mereka butuh makan dan biaya transportasi. Semangat mengajar jangan sampai padam karena beban finansial. Pemerintah perlu menaruh atensi khusus persoalan ini. Kebijakan yang meringankan beban mereka sangat dinanti. Jangan biarkan pahlawan...

Warisan Turun-Temurun: Inilah Beragam Cara Nelayan Pasongsongan Menangkap Ikan

Gambar
Perahu nelayan Pasongsongan. [k4y] Eksistensi Desa/Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep sebagai pusat perikanan terbesar di Madura adalah sebuah prestasi budaya sekaligus ekonomi. Metode-metode berikut bukan sekadar cara mencari makan, melainkan identitas yang menghubungkan manusia dengan lautnya. Sebagai masyarakat, kita patut bangga bahwa di tengah gempuran modernitas, nelayan Pasongsongan tetap memegang teguh pakem-pakem leluhur sambil tetap produktif menyuplai kebutuhan protein bagi masyarakat luas. Menjaga kelestarian laut Pasongsongan berarti menjaga piring-piring kita tetap terisi dengan ikan-ikan segar berkualitas terbaik. Kekuatan utama nelayan Pasongsongan dalam mendapatkan ikan terletak pada ragam metode tangkapnya. Mereka tidak hanya bergantung pada satu cara, melainkan memiliki klasifikasi teknik yang disesuaikan dengan jenis ikan dan kondisi alam. Berikut adalah warisan teknik yang masih lestari hingga kini: Majeng & Ngoncor: Majeng menjadi potret...

Antara Nyawa dan Jaring: Potret Ketangguhan dan Transformasi Nelayan Pasongsongan

Gambar
Perahu tradisional Pasongsongan. [k4y] Keberanian di Atas Gelombang Kecamatan Pasongsongan, Sumenep, telah lama dikenal sebagai rumah bagi para petarung samudera. Nelayan di wilayah ini memiliki reputasi sebagai sosok yang tangguh dan pemberani. Bagi mereka, laut bukan sekadar bentang air, melainkan ladang pengabdian untuk menghidupi keluarga. Dengan nyali yang melampaui batas normal, mereka rela bertaruh nyawa, hidup berbumbungkan langit dan berbumikan air laut, jauh dari dekapan anak dan istri. Sebuah adagium ironis sering terdengar: "Nelayan Pasongsongan lebih takut lapar daripada mati." Ungkapan ini menggambarkan betapa kerasnya desakan ekonomi sehingga maut seolah menjadi urutan kedua. Namun, di balik keberanian yang terkesan "konyol" bagi sebagian orang, tersimpan filosofi keyakinan yang mendalam saat mereka membelah badai demi sesuap nasi. Tragedi dalam Ingatan: Catatan Kelam Masa Lalu Sejarah perjalanan nelayan Pasongsongan tidak lepas dari kisah-...

Menara Ekonomi Pasongsongan: Saat Sinergi Melampaui Kompetisi Etnis

Gambar
Dalam teori ekonomi klasik, persaingan seringkali dianggap sebagai satu-satunya jalan menuju kemajuan. Tapi, Desa Pasongsongan di ujung barat utara Kabupaten Sumenep punya narasi berbeda. Disini, sejarah mencatat bahwa kemakmuran tidak dibangun di atas reruntuhan pihak lain, melainkan melalui sebuah "Menara Ekonomi" yang dipahat bersama oleh etnis peranakan Tionghoa dan warga pribumi Madura. Pasongsongan telah lama jadi titik temu strategis. Kepiawaian dagang etnis Tionghoa yang mengakar kuat di wilayah pesisir bertemu dengan kearifan lokal dan daya tahan warga pribumi. Kolaborasi ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan kebutuhan. Etnis Tionghoa membawa jaringan perniagaan yang luas, sementara warga pribumi menyediakan basis sosial dan sumber daya lokal yang tak ternilai. Filosofi Balancing System Titik balik paling menarik terjadi pada era 80-an. Secara perlahan tapi pasti, kendali ekonomi makro yang sebelumnya didominasi oleh etnis Tionghoa mulai bergeser....

Tjoa dan Jejak Sunan Ampel: Narasi Tionghoa Muslim di Tanah Pasongsongan

Gambar
Penulis (kiri) dan Ibnu Suaidi. Di balik pintu kayu jati berusia ratusan tahun di Desa Pasongsongan , tersimpan rahasia sejarah yang menepis segala sekat etnisitas. Salah satunya berada di kediaman Ibnu Suaidi, sosok lelaki yang membawa garis keturunan marga "Tjoa". Rumahnya yang dibangun abad ke-18 di Jalan Ki Abubakar Sidik bukan sekadar bangunan tua, melainkan monumen identitas yang unik: Tionghoa Muslim. Garis Keturunan yang Bertemu Dalam sebuah perbincangan dengan saya di kediamannya, Ibnu Suaidi mengungkap sebuah fakta mengejutkan, tapi bagi warga Pasongsongan adalah kewajaran. "Keluarga besar saya masih ada ikatan keturunan dengan Sunan Ampel," tuturnya pada 1 September 2010 silam. Pernyataan ini bukan sekadar klaim silsilah. Ini adalah bukti bahwa di Pasongsongan, darah Tionghoa dan tradisi keislaman Nusantara telah menyatu berabad-abad. Akulturasi yang Melampaui Ekonomi Peranakan Tionghoa di Pasongsongan memberikan dimensi baru dalam ke...

Jejak Arsitektur Tionghoa dan Sejarah Ekonomi Desa Pasongsongan

Gambar
Rumah peranakan Tionghoa di Pasongsongan. Jika Anda menyusuri Jalan Abubakar Sidik di Desa Pasongsongan, Sumenep, langkah Anda akan disambut oleh deretan bangunan tua yang seolah menghentikan waktu. Arsitektur rumah-rumah tempo dulu milik warga peranakan Tionghoa ini bukan sekadar pemandangan estetik; mereka adalah saksi bisu dari sebuah "Imperial Niaga" yang pernah bertahta di ujung barat utaraMadura. Dulu, pelabuhan Pasongsongan adalah urat nadi perdagangan yang sibuk. Di sinilah etnis Tionghoa membangun supremasi ekonomi mereka. Selama beberapa dekade, mereka merajai roda perniagaan tanpa sekat, mengendalikan arus keluar-masuk barang, dan menciptakan era kemakmuran yang sulit terbendung. Bangunan-bangunan kokoh yang kita lihat hari ini adalah sisa-sisa kejayaan yang pernah mereka capai melalui ketekunan di dunia perdagangan. Angin Perubahan Era 80-an Tapi, sejarah memiliki cara sendiri untuk berputar. Memasuki era 80-an, dominasi absolut tersebut mulai mered...

Pasongsongan: Simfoni Tiga Etnis di Pesisir Madura

Gambar
Bentuk rumah peranakan Tionghoa di Pasongsongan. Di ujung barat utara Sumenep, Desa Pasongsongan berdiri sebagai bukti nyata bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan beban. Desa ini bukan sekadar titik geografis, melainkan laboratorium sosial tempat etnis Arab, Tionghoa, dan Pribumi (Madura) merajut harmoni tanpa gesekan selama berabad-abad. Kunci kedamaian Pasongsongan terletak pada akar budayanya yang terbuka. Sebelum pengaruh besar Islam dan perdagangan masuk, masyarakatnya telah lebih dulu dipengaruhi nilai-nilai Hindu dan Buddha. Karakter "terbuka" inilah yang jadi modal utama warga lokal dalam menyambut pendatang tanpa rasa curiga. Religi dan Perniagaan Kedua bangsa pendatang memainkan peran strategis yang saling mengisi: Etnis Arab: Hadir dengan pendekatan santun dalam menyebarkan ajaran Islam hingga menyatu dalam spiritualitas warga. Peranakan Tionghoa: Jadi penggerak utama nadi perekonomian melalui jaringan niaga dan pelabuhan. Kedua etnis ini tidak m...

Petis Pancetan: Mahakarya Kuning dari Ujung Barat Utara Sumenep

Gambar
Perahu tradisional Desa Pasongsongan. Di ujung barat utara Kabupaten Sumenep, tepat di perbatasan Pamekasan, berdiri Desa Pasongsongan yang masyhur dengan julukan Desa Petis Pancetan. Lebih dari sekadar bumbu dapur, petis bagi warga Pasongsongan adalah identitas, sejarah, dan nafas kehidupan yang terangkum dalam satu rasa. Petis Pancetan lahir dari kesabaran. Ia bukan produk instan, melainkan hasil olahan air rebusan ikan segar yang dimasak di atas perapian hingga mengental dan pekat. Proses penguapan yang lama ini menciptakan tekstur kuning berkilau dengan cita rasa gurih yang mendalam—sebuah ekstraksi kejujuran masyarakat pesisir dalam mengolah rezeki laut. Bagi penduduk setempat, penganan ini adalah penyelamat meja makan. Di saat sulit, ia hadir sebagai pengganti lauk utama. Tapi di saat senggang, ia menjadi kunci kelezatan rujak pedas yang dinikmati bersama. Di sinilah letak magisnya: Petis Pancetan jadi ruang temu bagi masyarakat Pasongsongan yang majemuk—baik pribumi...

Ketika 'Pintu Rezeki' Tertutup Demi Kebanggaan: Fenomena Warung Madura dan Final DA7

Gambar
Pagelaran Dangdut Academy 7 (DA7) Indosiar di penghujung 2025 bukan sekadar kompetisi menyanyi biasa. Bagi warga Madura   yang ada di Jabodetabek, malam final tersebut menyisakan pemandangan ganjil, sebuah anomali sosial yang jarang terjadi: banyak Warung Madura memilih tutup. Kita semua tahu reputasi legendaris Warung Madura. Ada guyonan populer yang mengatakan, "Warung Madura hanya akan tutup jika hari kiamat sudah berlangsung setengah hari." Etos kerja 24 jam tanpa henti adalah identitas mereka. Tapi, pada malam final Valen (Pamekasan) menuju juara   DA7, etos ekonomi itu sejenak tunduk pada etos solidaritas. Fenomena ini mencatat beberapa hal menarik: Patahnya Mitos 24 Jam: Tutupnya warung-warung ini membuktikan bahwa ada hal yang lebih mahal daripada omzet semalam, yaitu kebanggaan kedaerahan.   Valen bukan sekadar biduan bagi mereka; dia adalah representasi dari perantau yang sukses menaklukkan panggung nasional. Solidaritas Ekonomi: Tidak berhenti pa...

Download Soal PAI SD Kelas 1 Sampai 6 Beserta Kunci Jawaban Terlengkap

Gambar
Redaksi apoymadura.com akan menyajikan soal-soal dan kunci jawaban mata pelajaran Pendidikan Agama Islam untuk peserta didik yang duduk di bangku Sekolah Dasar. Selamat belajar!

Jejak Ju’ Keng: Saudagar Tibet di Pesisir Pasongsongan dan Pusaranya di Komplek Sunan Ampel

Gambar
Kiai Muhammad Ersyad (kiri) bersama penulis.  [sh] Desa Pasongsongan di Kabupaten Sumenep tidak hanya dikenal dengan pesona lautnya, tapi juga menyimpan narasi sejarah yang kuat tentang asimilasi budaya dan kejayaan ekonomi. Salah satu tokoh kunci yang jadi akar silsilah masyarakat setempat adalah Ju’ Keng, seorang leluhur berasal dari Tionghoa yang membawa pengaruh besar sejak abad ke-17. Kedatangan Sang Saudagar dari Tibet Menurut penuturan Kiai Ersyad, salah seorang keturunan Ju’ Keng yang kini usianya telah sepuh di Pasongsongan, Ju’ Keng bukanlah pendatang biasa. Ia diyakini berasal dari wilayah Tiongkok Tibet. Ju’ Keng diperkirakan menginjakkan kaki di bumi Sumenep melalui pelabuhan pesisir Pasongsongan pada sekitar abad ke-17 Masehi. Pada masa itu, Pasongsongan merupakan titik strategis bagi perdagangan maritim, lantaran para Raja Sumenep jika hendak melakukan perjalanan laut melalui pelabuhan ini. Kedatangan Ju’ Keng menandai awal mula geliat ekonomi yang sign...

Jejak Ju’ Keng: Saudagar Tibet di Pesisir Pasongsongan dan Pusaranya di Kompleks Sunan Ampel

Gambar
Kiai Muhammad Ersyad (kiri) bersama penulis. [sh] Desa Pasongsongan di Kabupaten Sumenep tidak hanya dikenal dengan hasil lautnya yang melimpah, tapi juga menyimpan narasi sejarah tentang asimilasi budaya dan kejayaan ekonomi. Salah satu tokoh kunci yang jadi akar silsilah masyarakat setempat adalah Ju’ Keng, seorang leluhur peranakan Tionghoa yang membawa pengaruh besar sejak abad ke-17. Kedatangan Sang Saudagar dari Tibet Menurut penuturan Kiai Ersyad, salah seorang keturunan Ju’ Keng yang kini telah sepuh di Pasongsongan, Ju’ Keng bukanlah pendatang biasa. Ia diyakini berasal dari wilayah Tiongkok Tibet. Ju’ Keng diperkirakan menginjakkan kaki di bumi Sumenep melalui pelabuhan pesisir Pasongsongan pada sekitar abad ke-17 Masehi. Pada masa itu, Pasongsongan merupakan titik strategis bagi perdagangan maritim. Kedatangan Ju’ Keng menandai awal mula geliat ekonomi yang signifikan di wilayah tersebut. Ia tidak hanya membawa komoditas dagangan, tapi juga visi bisnis yang mel...

Menelusuri Jejak Ju’ Keng: Leluhur Peranakan Tionghoa di Pesisir Pasongsongan

Gambar
Kiai Muhammad Ersyad (kiri) bersama penulis. [sh] Desa/Kecamatan Pasongsongan di Kabupaten Sumenep dikenal sebagai salah satu wilayah pesisir dengan sejarah maritim yang kuat. Tempo dulu, pelabuhan pesisir Pasongsongan merupakan tempat para Raja Sumenep ketika hendak bepergian ke pulau lain. Tapi, di balik deburan ombaknya, tersimpan sebuah kisah silsilah yang unik mengenai sosok Ju’ Keng, sosok leluhur peranakan Tionghoa yang jadi bagian penting dari sejarah komunitas lokal di sana. Kedatangan dari Tibet di Abad ke-17 Berdasarkan penuturan Kiai Ersyad, salah satu keturunan Ju’ Keng yang kini telah sepuh di Pasongsongan, Ju’ Keng diperkirakan tiba di Sumenep pada abad ke-17 Masehi. Beliau disebut berasal dari wilayah Tiongkok bagian Tibet. Kedatangan Ju’ Keng ke Madura tidak melalui jalur darat, melainkan masuk melalui gerbang maritim utama di masa itu, yakni pelabuhan pesisir Pasongsongan. Kehadirannya di abad ke-17 ini bertepatan dengan masa dimana perdagangan Nusantara...

Meluruskan Citra: Madas dan Solidaritas Warga Madura di Perantauan

Gambar
Kasus pengusiran seorang nenek di Surabaya yang belakangan ini viral telah menimbulkan gelombang spekulasi di tengah masyarakat, terutama mengenai keterlibatan organisasi kemasyarakatan Madas (Madura Asli). Meskipun tudingan miring sempat berhembus kencang, pengurus pusat Madas dengan tegas membantah bahwa pelaku tindakan tersebut adalah bagian dari anggota mereka. Penting bagi publik untuk tidak terjebak dalam penghakiman sepihak sebelum fakta hukum terungkap sepenuhnya, agar sebuah isu individual tidak berkembang menjadi sentimen negatif terhadap sebuah entitas organisasi yang sah. Sejatinya, Madas hadir sebagai wadah strategis yang mengakomodir berbagai kepentingan positif serta menjalin silaturrahmi erat sesama warga Madura di perantauan. Sebagai organisasi yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, Madas berfungsi sebagai jembatan sosial bagi warga Madura untuk saling membantu dalam beradaptasi dan berkontribusi di tanah rantau. Keberadaan organisasi seperti ini sangat k...

Jurnal PPG 2025: Pembelajaran Mendalam dan Asesmen, Topik 2 "Pembelajaran Berdiferensiasi"

Gambar
  1. Latar Belakang Belajar merupakan sebuah proses evolusi dinamis yang melibatkan berbagai pihak, sehingga menuntut guru profesional untuk menguasai pembelajaran berdiferensiasi. Pendekatan ini jadi sangat esensial karena mengakui keunikan setiap siswa, baik dari segi gaya belajar, minat, maupun kemampuan mereka. Dalam praktiknya, diferensiasi mengharuskan pendidik untuk meninggalkan metode pengajaran yang seragam dan beralih pada penyesuaian materi, aktivitas, serta penilaian yang spesifik. Dengan demikian, kebutuhan belajar individu bisa terpenuhi secara optimal melalui strategi yang selaras dengan karakteristik masing-masing siswa. 2. Pengertian Pembelajaran Berdiferensiasi Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan pedagogis yang secara sadar menyesuaikan konten, proses, dan produk belajar berdasarkan kebutuhan, minat, serta profil peserta didik. Sejalan dengan pandangan Carol Ann Tomlinson, pendekatan ini didefinisikan sebagai ikhtiar melahirkan kesesuaian a...