Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

Cara Cepat Paham! Latihan Soal Bahasa Madura Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban

Gambar
Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, c, atau d sesuai jawaban yang paling tepat, dan jawablah dengan singkat Baca pajarna’ pas jawab soalla! Para rabu se padha molja. Parlo ekagali sareng panjennengan sadaja, papanggiyan e are ka’dhinto, badhi jak-ngajak dha’ sadaja barga se badha e RT 7, kaangguy areng-sareng agutong-rojung kadi ponapa kampong se badha e ka’ dhinto berse, nyoppre daddiya kennengngan se sehat. Kong-langkong e bulan dhateng ampon ngadhebbana bulan Agustus. 1. Essena pidato kasebbut iya areya nyaretaagi bab ..... A.  kaberseyan B.  kasehadan C.  ngajak agutong- rojung  D.  tareka bulan Agustus 2 . Papanggiyan se ebadhaagi e RT 7 kadaddiyanna e bulan …. A.  Juli B.  Agustus C.  September  D.  Oktober Baca teks pidhato ebaba reya, pas jawab soalla!  E are samangken badan kaula sadaja akompol kaagguy arayaagi bulan kababarana Rasulullah sabab panika bulan se nyonar lebbi samporna dha...

Eksodus Ekonomi: Ketika Jaring Nelayan Pasongsongan Berganti Etalase Warung Madura

Gambar
Pasongsongan selama ini dikenal sebagai salah satu denyut nadi perikanan di Kabupaten Sumenep, karena hasil tangkap ikan melimpah.  Tapi, jika Anda berkunjung kesana hari ini, ada sebuah pergeseran narasi yang tenang namun nyata.  Laut tak lagi jadi satu-satunya tumpuan harapan.  Kini, perhatian warga mulai beralih ke daratan, tepatnya pada deretan rak sembako dan bensin eceran yang kita kenal sebagai Warung Madura. Fenomena ini bukan sekadar tren musiman, melainkan sebuah strategi bertahan hidup yang lahir dari himpitan ekonomi. Pahitnya Gelombang, Manisnya Ritel Alasan di balik migrasi profesi ini sangat klasik: isi dapur.  Hasil tangkap ikan kian tidak menentu, ditambah biaya operasional melaut yang membengkak, membuat pendapatan nelayan seringkali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan belanja harian.  Melaut kini jadi perjudian nasib; terkadang membawa pulang ikan, lebih sering membawa pulang lelah dan hutang solar. Dalam kondisi ini, Warung Madura muncul seb...

KPK Periksa Haji Her: Kriminalisasi atau Persaingan Bisnis Tembakau?

Gambar
Pemanggilan pengusaha tembakau asal Madura, Khairul Umam alias Haji Her, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam pusaran kasus korupsi cukai rokok di Direktorat Bea Cukai mengundang tanda tanya besar.  Di balik penegakan hukum yang tampak normatif, publik menangkap aroma persaingan bisnis yang tidak sehat dan upaya sistematis untuk memberangus potensi pengusaha pribumi yang tengah naik daun. Melawan Hegemoni Harga Selama berpuluh-puluh tahun, industri tembakau di Madura didominasi oleh pabrikan rokok raksasa yang gudangnya berdiri di Madura.  Sudah bukan rahasia lagi jika raksasa-raksasa ini kerap dituding "memainkan" harga tembakau sesuka hati, membuat petani lokal berada dalam posisi tawar yang rendah. Tapi, peta kekuatan itu berubah. Haji Her muncul sebagai simbol perlawanan ekonomi.  Dengan keberanian membeli tembakau rajang petani dengan harga yang sangat kompetitif—bahkan jauh di atas harga pasar pabrikan besar—ia berhasil memutus rantai ketergantungan petani....

Membaca "Keganjilan" di Balik Pemeriksaan KPK: Antara Penegakan Hukum dan Ancaman Ekonomi Rakyat Madura

Gambar
Penegakan hukum sejatinya adalah instrumen untuk menciptakan keadilan.  Tapi, ketika langkah hukum mulai menyentuh simpul-simpul ekonomi kerakyatan yang sedang bertumbuh, wajar jika muncul riak kecurigaan di tengah masyarakat.  Pemanggilan sejumlah pengusaha tembakau asal Madura, termasuk Khairul Umam alias Haji Her, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam penyidikan dugaan korupsi di lingkungan Ditjen Bea Cukai, kini jadi sorotan tajam. Pembelaan Moral untuk Sang Penopang Petani Bagi masyarakat luar, Haji Her mungkin hanyalah satu dari sekian saksi dalam sebuah kasus hukum.  Tapi bagi masyarakat Madura, sosok seperti dia dan pengusaha tembakau lokal lainnya adalah "katup penyelamat" ekonomi.  Keberanian mereka membeli hasil panen tembakau dengan harga tinggi telah secara nyata mengangkat derajat hidup para petani yang selama ini kerap terhimpit permainan harga pasar. Kesejahteraan yang dirasakan petani tembakau saat ini bukanlah hadiah dari kebijakan pemerinta...

Sentimen "Teror" Regulasi: Dari Warung hingga Tembakau

Gambar
Di balik proses hukum yang sedang berjalan, muncul narasi kegelisahan yang kuat di tengah masyarakat Madura.  Ada persepsi kolektif bahwa pemanggilan para pengusaha tembakau oleh KPK bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari rentetan "teror" regulasi yang menyudutkan etos ekonomi warga Madura. Kecurigaan ini bukan tanpa alasan. Sebelum kasus cukai ini mencuat, publik lebih dulu dihebohkan dengan wacana pembatasan jam operasional Warung Madura.  Usaha mikro yang jadi penyelamat ekonomi perantau dan tersebar di seluruh penjuru negeri itu sempat akan "dijinakkan" lewat aturan jam buka.  Bagi masyarakat, ini adalah pola yang terbaca: ketika ekonomi rakyat bawah mulai mandiri dan kuat, regulasi hadir bukan untuk memfasilitasi, melainkan membatasi. Pola Penyerangan Ekonomi Rakyat? Sentimen yang berkembang di akar rumput melihat adanya ketimpangan perlakuan. Masyarakat bertanya-tanya: Mengapa sektor yang mandiri justru ditekan? Warung Madura dan indust...

Dilema Cukai dan "Pahlawan" Ekonomi: Menakar Kasus Pengusaha Rokok Madura di KPK

Gambar
Dunia industri tembakau di Madura baru-baru ini dikejutkan adanya pemanggilan sejumlah pengusaha lokal oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).  Salah satu nama yang mencuat adalah Khairul Umam, atau yang akrab disapa Haji Her, yang diperiksa pada 9 April 2026 terkait dugaan korupsi pengurusan cukai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Kasus ini memicu perdebatan hangat, terutama setelah advokat terkemuka Jawa Timur Sulaisi Abdurrazaq menyuarakan pembelaan melalui media sosial, menyoroti peran vital para pengusaha ini bagi kesejahteraan petani tembakau di Pulau Garam, Madura.  Antara Penegakan Hukum dan Realitas Lapangan Bagi KPK, pemeriksaan ini adalah bagian dari upaya "bersih-bersih" di sektor penerimaan negara.  Cukai rokok merupakan salah satu sumber pendapatan negara terbesar, dan segala bentuk manipulasi atau gratifikasi dalam pengurusannya tentu merugikan keuangan publik.  Secara normatif, tidak ada subjek hukum yang kebal terhadap pemeriksaan jik...

Menjaga Generasi di Dua Dunia: Catatan dari KKG Gugus 2 Pasongsongan

Gambar
Pertemuan rutin Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 2 Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten yang digelar di SDN Panaongan 4 terasa berbeda dari biasanya. Kamis (9/4/2026).  Jika biasanya ruang kelas dipenuhi diskusi tentang administrasi kurikulum, kali ini atmosfernya lebih progresif.  Fokusnya tajam, memperkuat pertahanan guru dan siswa di tengah gempuran teknologi modern. Tema yang diangkat pun sangat relevan dengan realitas hari ini, yakni "Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) dan Digital Parenting." Transformasi Ancaman di Era Digital Workshop yang dipandu Agus Sugianto, Kepala SDN Panaongan 3, membuka mata banyak pihak.  Dalam pemaparannya yang lugas, ia mengingatkan bahwa dinding sekolah kini tidak lagi cukup untuk melindungi siswa.  Ancaman nyata kini merambah ke ruang-ruang digital lewat cyberbullying hingga penyebaran konten pribadi tanpa izin. "Anak-anak hidup di dua dunia: nyata dan digital. Guru wajib memahami keduanya agar bisa memberikan perlindungan dan bim...

Menghidupkan Mesin Organisasi: Catatan dari Lokakarya MWC NU Pasongsongan

Gambar
Penulis (kiri) bersama pengurus MWC NU Pasongsongan.  Menghadiri Lokakarya Perencanaan Program MWC NU Pasongsongan untuk masa khidmat 2026-2031 memberikan perspektif baru bagi saya. Rabu (8/4) 2026). Bertempat di Gedung KH Wahab Hasbullah, Jalan Ki Abubakar Sidik, Desa Panaongan, suasana diskusi terasa begitu hidup.  Seluruh pengurus berkumpul, membawa semangat dan ide-ide segar demi kemajuan organisasi selama lima tahun ke depan. Tapi, ada satu realita menarik yang muncul ke permukaan saat kami mulai menyerap berbagai aspirasi program.  Sebagus apa pun ide yang dilempar ke meja diskusi, semuanya bermuara pada satu titik krusial: kemandirian finansial. Filosofi Sopir, Kendaraan, dan Bensin Dalam diskusi tersebut, muncul sebuah perumpamaan sederhana namun sangat menohok.  Mari kita ibaratkan organisasi ini seperti sebuah perjalanan: • Sopir adalah kita semua, para pengurus NU . • Kendaraan adalah wadah organisasi MWC NU itu sendiri. • Bensin adalah dana atau anggaran....

Menjaga Nadi Leluhur: Teladan Nyata Kepala SDN Panaongan 3 dalam Melestarikan Macopat Madura

Gambar
Agus Sugianto, Kepala SDN Panaongan 3. [Foto: Kay] Malam Minggu di kediaman Bapak Marsuhan, di Desa Panaongan-Pasongsongan, mendadak terasa sakral.  Alunan tembang Macopat yang sarat akan nilai filosofis menggema, menembus kesunyian malam di tengah gelaran yang diinisiasi Lesbumi MWC NU Pasongsongan.  Di antara deretan tokoh yang hadir pada Sabtu malam, 4 April 2026 tersebut, sosok Agus Sugianto, S.Pd., Kepala SDN Panaongan 3, mencuri perhatian.  Kehadirannya bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah pernyataan sikap atas keberpihakan pada jati diri budaya Madura. Ada pesan tersirat amat kuat dari kehadiran seorang pendidik di acara kebudayaan seperti ini.  Setidaknya, ada tiga alasan fundamental mengapa kehadiran sosok Agus Sugianto jadi sangat krusial dan patut diapresiasi. 1. Kedekatan Geografis, Membangun Sinergi Secara praktis, lokasi pagelaran kali ini memang berada di sekitar lingkungan SDN Panaongan 3.  Tapi, lebih dari sekadar jarak tempuh, kehadiran A...

Ironi di Balik Pagar Sekolah: Ketika SD Negeri "Kalah Pamor" di Kandang Sendiri

Gambar
Pemandangan ruang kelas yang lengang bukan lagi sekadar cerita fiksi di Kabupaten Sumenep.  Di beberapa titik, kita bisa menemukan Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang jumlah siswanya sangat memprihatinkan—bahkan bisa dihitung dengan jari.  Fenomena ini memicu pertanyaan besar: Mengapa sekolah milik negara justru sepi peminat di tengah padatnya penduduk desa? Magnet Kuat "Satu Atap" Lembaga Swasta Jika kita menilik lebih dalam, penyebabnya bukan karena kurangnya anak usia sekolah, melainkan karena hadirnya kompetitor sangat dominan: Lembaga Pendidikan Swasta (Madrasah) di bawah naungan Kemenag. Sekolah swasta ini biasanya dikelola oleh masyarakat lokal atau yayasan keluarga yang memiliki akar kuat di desa tersebut.  Keunggulan mereka terletak pada sistem "paket lengkap" atau one-stop education.  Sebuah yayasan biasanya mengelola jenjang pendidikan dari hulu ke hilir: mulai dari RA/TK (Raudhatul Athfal), MI (Madrasah Ibtidaiyah), MTs (Madrasah Tsanawiyah), hingga MA (Madr...

Rahasia Sekolah Swasta di Sumenep "Gusur" Dominasi Sekolah Negeri

Gambar
Sebenarnya, pemerintah daerah tidak tinggal diam menyikapi beberapa sekolah yang peserta didiknya hanya bisa dihitung jari.  Sudah tiga tahun belakangan, program pembelajaran Diniyah disuntikkan ke dalam kurikulum SDN di Sumenep.  Harapannya jelas: agar orang tua tidak lagi ragu menyekolahkan anaknya di sekolah negeri karena porsi pendidikan agamanya sudah ditambah, persis seperti "menu" di sekolah swasta atau madrasah. Tapi, kenyataan di lapangan berkata lain. Meski program Diniyah sudah berjalan tiga tahun, bangku-bangku di beberapa SDN tetap saja banyak yang tak bertuan.  Seolah-olah, tambahan jam pelajaran agama ini belum cukup sakti untuk meruntuhkan dominasi sekolah swasta di sekitarnya. Mengapa demikian? Lebih dari Sekadar Kurikulum Fenomena ini menunjukkan bahwa pilihan orang tua di Sumenep bukan sekadar hitung-hitungan jam pelajaran di atas kertas.  Ada beberapa hal yang nampaknya gagal dibaca oleh pembuat kebijakan: • Figur dan Kepercayaan: Di madrasah atau...

Ironi SDN di Sumenep: Mengapa Sekolah Negeri Kini Sepi Peminat?

Gambar
Pernahkah Anda membayangkan sebuah sekolah dasar yang saat upacara bendera, barisannya tidak lebih panjang dari antrean di gerai bakso?  Fenomena ini bukan isapan jempol belaka. Ini nyata dan sedang terjadi.  Di Sumenep, ada sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) kini berada dalam kondisi kritis; jumlah muridnya bisa dihitung dengan jari tangan. Melihat ruang kelas yang lebih banyak berisi bangku kosong daripada canda tawa siswa tentu memicu sebuah pertanyaan besar: Kemana perginya anak-anak kita? Magnet Sekolah "Tetangga" Jika kita telusuri, faktor utamanya bukan karena angka kelahiran di Sumenep menurun drastis.  Masalahnya justru ada pada kompetisi di "halaman rumah" sendiri.  Di banyak desa, SDN berdiri berdampingan dengan lembaga pendidikan swasta di bawah naungan Kemenag—seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI). Menariknya, sekolah swasta ini dikelola langsung oleh masyarakat sekitar.  Disinilah letak titik baliknya. Ada ikatan emosional dan kultural yang kuat antara...

Hilangnya Rumah Dinas Guru: Catatan Efisiensi yang Terlupakan

Gambar
Dahulu, di era kepemimpinan Presiden Soeharto, pemandangan komplek perumahan guru di lingkungan Sekolah Dasar (SD) Negeri adalah hal yang lumrah, tak terkecuali di Sumenep.  Kebijakan ini bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan pilar utama dalam mendukung pemerataan kualitas pendidikan hingga ke pelosok daerah. Strategi Efisiensi Masa Lalu Pada masa itu, banyak tenaga pendidik di Sumenep yang didatangkan dari luar daerah, terutama dari Pulau Jawa.  Keberadaan rumah dinas di area sekolah merupakan langkah efisiensi yang cerdas.  Ada beberapa alasan mengapa pola ini dianggap lebih baik: • Kedekatan Jarak: Guru tidak perlu menghabiskan waktu dan biaya transportasi untuk menuju sekolah. Hal ini menjamin ketepatan waktu dan kesiapan mental guru dalam mengajar. • Integrasi Sosial: Guru yang berasal dari luar daerah bisa lebih cepat membaur dengan masyarakat sekitar karena mereka menetap di lingkungan sekolah, bukan sekadar "tamu" yang datang dan pergi. • Fokus Kerja: Dengan...

SD Negeri Kesepian: Ketika "Kalah Saing" dengan Sekolah Tetangga

Gambar
Belakangan ini, kabar tentang Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kabupaten Sumenep yang kekurangan murid kembali mencuat.  Bayangkan, ada sekolah yang jumlah total siswanya dari kelas satu sampai enam bisa dihitung jari.  Sebuah gedung sekolah yang seharusnya riuh dengan teriakan anak-anak saat istirahat, kini justru lebih sunyi dari perpustakaan daerah. Fenomena ini bukan barang baru, tapi tetap saja menyesakkan dada.  Lantas, apa yang salah? Mengapa sekolah milik pemerintah ini seolah kehilangan "daya pikat" di tanah sendiri? Magnet Sekolah Swasta Berbasis Agama Jika kita telusuri ke desa-desa di Sumenep, jawabannya karena di sekitar tidak jauh dari lokasi SDN tersebut ada lembaga pendidikan swasta di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag), seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI). Hal ini jadi magnet kuat bagi orang tua untuk menyekolahkan anaknya di lembaga swasta.  Ada beberapa alasan mengapa sekolah swasta ini lebih "laku": • Sentuhan Keagamaan Lebih Kental: Di masyarak...

Gaji Guru Tetap Rendah: Pahlawan Bangsa atau Sekadar Kendaraan Politik?

Gambar
Pepatah lama mengatakan bahwa guru adalah "jembatan" bagi murid-muridnya untuk menyeberang menuju kesuksesan.  Tapi, melihat realitas yang ada hingga era kepemimpinan Prabowo Subianto saat ini, pepatah itu tampaknya bergeser secara ironis: guru bukan lagi jembatan bagi ilmu, melainkan jembatan bagi para politikus untuk menyeberang menuju kursi kekuasaan. Guru diminta bersabar, guru patuh.  Lalu kesabaran guru dimanfaatkan untuk berbuat semena-mena.  Persoalan rendahnya gaji guru di Indonesia bukan sekadar masalah keterbatasan APBN. Ini adalah masalah "political will" yang kronis dan penyakit sistemik. Memandang profesi pendidik sebagai objek, bukan subjek pembangunan. Retorika Manis di Atas Panggung Kampanye Setiap kali musim pemilu tiba—termasuk pada masa transisi kekuasaan ke rezim saat ini—isu kesejahteraan guru selalu jadi jualan laris manis.  Janji-janji kenaikan gaji, tunjangan fantastis, hingga pengangkatan status kepegawaian diumbar seolah-olah kesejahteraan...

Dorong Mutu Pendidikan: Aksi Pengawas Bina di SDN Padangdangan 2 Sumenep

Gambar
Semua orang pasti setuju, bahwa pendidikan dasar merupakan fondasi utama pembangunan karakter bangsa.  Tidak ada kata kunci lain selain pendidikan dalam membentuk mental positif anak-anak generasi penerus. Di balik ruang kelas yang tertib dan administrasi yang rapi, ada peran krusial dari seorang Pengawas Bina yang bertugas memastikan seluruh roda organisasi sekolah berjalan sesuai relnya.  Baru-baru ini, Abu Supyan, M.Pd., selaku Pengawas Bina, melakukan kunjungan monitoring kelengkapan personil di sejumlah sekolah dasar di wilayah Kecamatan Pasongsongan. Ia ingin memastikan semua personil sekolah hadir bertugas setelah masa libur Hari Raya Idul Fitri. Senin (30/3/2026).  Kunjungan ini bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan sebuah upaya penguatan integritas tenaga pendidik dan kependidikan di lapangan. Sinergi di SDN Padangdangan 2 Salah satu titik krusial dalam rangkaian monitoring tersebut adalah SDN Padangdangan 2.  Di sekolah ini, Abu Supyan tidak hanya me...

Transformasi Disiplin: Catatan dari Monitoring Pengawas Bina di Pasongsongan Sumenep

Gambar
Pendidikan dasar adalah fondasi utama pembangunan karakter bangsa.  Di balik ruang kelas yang tertib dan administrasi yang rapi, ada peran krusial dari seorang Pengawas Bina yang bertugas memastikan seluruh roda organisasi sekolah berjalan sesuai relnya.  Baru-baru ini, Abu Supyan, M.Pd., selaku Pengawas Bina, melakukan kunjungan monitoring kelengkapan personil di sejumlah sekolah dasar di wilayah Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep. Senin (30/3/2026).  Kunjungan ini bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan sebuah upaya penguatan integritas tenaga pendidik dan kependidikan di lapangan. Sinergi di SDN Padangdangan 2 Salah satu titik krusial dalam rangkaian monitoring tersebut adalah SDN Padangdangan 2.  Di sekolah ini, Abu Supyan tidak hanya memeriksa kehadiran secara fisik, tapi juga meninjau bagaimana setiap personil menjalankan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi). Dalam arahannya, ia menekankan bahwa keberhasilan sebuah sekolah tidak hanya bertumpu pada p...

Membongkar Mitos SDM Rendah: Kisah Inspiratif Cak Anas, Lulusan SD Madura yang Taklukkan Jepang

Gambar
Baru-baru ini, diskursus mengenai rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia kembali mencuat.  Berbagai lembaga riset internasional seringkali menempatkan Indonesia pada peringkat bawah dalam hal literasi, numerasi, maupun daya saing global.  Tapi, jika kita melihat ke jendela dunia yang lebih luas, ada sebuah paradoks yang nyata: mengapa begitu banyak pemuda kita justru menjadi rebutan di luar negeri karena inovasi mereka? Paradoks Prestasi di Tengah Stigma Kita sering mendengar berita tentang anak muda Indonesia yang direkrut oleh perusahaan teknologi raksasa, atau ilmuwan muda yang memenangkan penghargaan internasional karena penemuan-penemuan inovatifnya.  Fenomena ini seolah menampar hasil survei yang menyebut SDM kita rendah. Ada jurang yang lebar antara data statistik dengan fakta di lapangan. Pertanyaannya: apakah metodologi survei tersebut sudah menangkap potensi manusia Indonesia secara utuh?  Ada kemungkinan besar bahwa sampel yang diambil t...

Kesejahteraan Guru Bukan Hadiah, Tapi Fondasi Pendidikan Bangsa

Gambar
Baru-baru ini, jagat media sosial riuh oleh pernyataan seorang politisi yang meminta guru untuk fokus pada kualitas ketimbang terus-menerus menuntut kenaikan gaji. Narasi ini bukanlah lagu baru; ia adalah tembang lama yang diputar ulang setiapkali ada isu anggaran pendidikan mencuat ke permukaan. Tapi, di tengah tuntutan zaman yang kian kompleks, benarkah etis membenturkan profesionalisme dengan hak dasar hidup layak? Logika Terbalik: Kualitas Tanpa Fasilitas Mengatakan bahwa guru harus berkualitas terlebih dahulu sebelum bicara gaji adalah sebuah logika terbalik. Dalam industri mana pun, kualitas adalah output dari sistem yang sehat, dan sistem yang sehat membutuhkan investasi. Bagaimana kita bisa menuntut seorang guru untuk melakukan riset pedagogi, menyusun modul kreatif, atau mengikuti pelatihan bersertifikat jika sepulang sekolah mereka harus menyambi pekerjaan tambahan atau berjualan pulsa demi menutupi bayaran listrik? Kualitas membutuhkan fokus, dan fokus mustah...

10 Soal Cerita Matematika SD Kelas 2 dan Kunci Jawaban, Mudah & Menyenangkan

Gambar
MATEMATIKA KELAS 2 Berilah tanda silang (X) huruf a, b, atau c pada jawaban yang paling benar! 1. Ani memiliki 12 permen. Ia memberikan 5 permen kepada temannya. Berapa sisa permen Ani sekarang? a. 6 b. 7 c. 8 Kunci jawaban: b 2. Di sebuah kebun terdapat 9 pohon mangga dan 6 pohon jeruk. Berapa jumlah seluruh pohon di kebun tersebut? a. 14 b. 15 c. 16 Kunci jawaban: b. 15 3. Budi membeli 3 kantong kelereng. Setiap kantong berisi 4 kelereng. Berapa jumlah kelereng Budi semuanya? a. 10 b. 11 c. 12 Kunci jawaban: c. 12 4. Siti memiliki 20 buku. Ia meminjamkan 8 buku kepada temannya. Berapa buku yang masih dimiliki Siti? a. 12 b. 13 c. 14 Kunci jawaban: a. 12 5. Di dalam kelas terdapat 7 meja. Setiap meja digunakan oleh 2 siswa. Berapa jumlah siswa di kelas tersebut? a. 12 b. 13 c. 14 Kunci jawaban: c. 14 6. Ibu membeli 15 apel. Kemudian membeli lagi 7 apel. Apel tersebut dibagikan sama banyak kepada 2 anak. Berapa banyak apel yan...