Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

Mengenal Program Unggulan SDN Panaongan 3 dalam Membentuk Karakter Siswa

Gambar
Sekolah yang hebat bukanlah sekolah yang hanya melahirkan siswa berprestasi, tetapi sekolah yang mampu membentuk manusia yang berkarakter, beriman, berbudaya, dan peduli terhadap sesama. Di tengah hamparan pesisir utara Kabupaten Sumenep, di sebuah lingkungan yang tumbuh dalam nilai religiusitas, gotong royong, dan kearifan lokal Madura, berdirilah seorang pendidik yang menjadikan pendidikan bukan sekadar profesi, melainkan jalan pengabdian.  Sosok itu adalah Agus Sugianto, S.Pd, Kepala SDN Panaongan 3 Kecamatan Pasongsongan, seorang pemimpin pendidikan yang meyakini bahwa perubahan besar dapat dimulai dari sekolah kecil, selama dikelola dengan hati, keteladanan, dan semangat melayani. Bagi Agus Sugianto, sekolah bukan hanya tempat berlangsungnya proses pembelajaran.  Sekolah adalah rumah kedua bagi peserta didik; ruang tumbuh yang memungkinkan anak-anak belajar mengenal diri, menghargai sesama, mencintai budaya, memperkuat iman, dan membangun mimpi-mimpi besar untuk masa depa...

Pengurus Baru MWC NU Pasongsongan 2026–2031: Harapan Besar untuk Kesejahteraan Nahdliyin

Gambar
  Pelantikan Pengurus MWC NU Kecamatan Pasongsongan masa khidmat 2026–2031 yang berlangsung lancar di Gedung KH Abdul Wahab Hasbullah pada Senin (8/6/2026) bukan sekadar agenda seremonial organisasi.  Di balik prosesi pelantikan tersebut, tersimpan harapan besar dari warga Nahdlatul Ulama (nahdliyin) yang menginginkan hadirnya perubahan nyata dalam kehidupan sosial, keagamaan, dan kesejahteraan masyarakat. Ucapan selamat tentu layak disampaikan kepada mereka yang telah menerima amanah untuk mengemban roda organisasi selama lima tahun ke depan.  Tapi, ucapan selamat itu juga harus dipahami sebagai pengingat bahwa jabatan bukanlah sebuah kehormatan semata, melainkan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan kepada organisasi, masyarakat, dan Allah SWT. Harapan masyarakat terhadap pengurus baru tidaklah kecil.  Di tengah berbagai tantangan ekonomi, pendidikan, dan sosial yang dihadapi warga, NU sebagai organisasi keagamaan terbesar memiliki peran strategis untuk h...
Gambar
Pelantikan Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Pasongsongan masa khidmat 2026–2031 di Gedung KH. Abdul Wahab Hasbullah, Senin (8/6/2026) lalu, bukan sekadar prosesi seremonial belaka.  Bagi masyarakat Pasongsongan, momen ini adalah babak baru yang membawa estafet kepemimpinan sekaligus tumpukan harapan yang mendesak. Selamat atas dilantiknya para pengurus baru.  Jabatan ini adalah kehormatan, tapi di balik itu, ada tanggung jawab moral dan sosial yang sangat besar di tengah situasi yang sedang tidak mudah. Menjawab Jeritan Akar Rumput: Waktu Kita Tidak Banyak Setiap kali ada pelantikan, doa agar pengurus bersikap "amanah" selalu menggema.  Tapi, apa arti amanah yang paling dinanti oleh warga Nahdliyin Pasongsongan hari ini?  Jawabannya adalah gerak cepat dalam membantu mengatasi kesulitan ekonomi. Fakta di lapangan tidak bisa dimungkiri: saat ini banyak warga Nahdliyin yang terseok-seok dan kesulitan mencari penghasilan di tanah kelahiran...

Menakar Harapan Baru di Pucuk Pimpinan MWC NU Pasongsongan

Gambar
Selamat! Terhadap pelantikan Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Pasongsongan masa khidmat 2026–2031 di Gedung KH Abdul Wahab Hasbullah.  Hal ini bukan sekadar seremoni runtutan organisasi. Senin (8/6/2026).  Di balik prosesi yang berlangsung lancar dan khidmat tersebut, ada pundak-pundak baru yang kini memikul harapan besar ribuan warga nahdliyin di Pasongsongan. Selamat bekerja dan berkhidmat kita ucapkan kepada para pengurus yang telah resmi dilantik.  Tapi, setelah euforia ucapan selamat ini mereda, tantangan nyata justru baru saja dimulai. Bukan Sekadar Simbol, Tapi Agen Perubahan nyata Menjadi pengurus NU di tingkat kecamatan (MWC) adalah posisi strategis.  Mereka bersentuhan langsung dengan akar rumput.  Oleh sebab itu, harapan yang dititipkan masyarakat bukan lagi sekadar soal bagaimana NU menjaga amaliyah keagamaan—karena hal itu sudah mengakar kuat—melainkan bagaimana kehadiran NU mampu membawa perubahan berarti bagi keseja...

Mengenang Kiai Fajar Sidik: Keteladanan, Pengabdian, dan Warisan Abadi Sang Pejuang Pendidikan

Gambar
Duka mendalam kembali menyelimuti langit Pasongsongan. Kepergian sosok muda visioner, Kiai Fajar Sidik, S.Pd.I., untuk selamanya menyisakan ruang kosong yang teramat rapuh di hati kita semua.  Beliau berpulang pada Rabu pagi (3/6/2026), setelah mobil yang ia naiki mengalami kecelakaan lalu lintas di Kecamatan Batumarmar, Pamekasan. Sebuah akhir perjalanan di dunia yang mengejutkan, tapi sekaligus mengukuhkan bahwa hidupnya hingga detik terakhir dihabiskan dalam mobilitas perjuangan dan pengabdian. Bagi siapa pun yang mengenal atau sekadar menyaksikan kiprahnya, Kiai Fajar adalah representasi sejati dari generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) yang tidak pernah lelah berkhidmat.  Ingatan kolektif kita tentu belum lupa pada rabu malam, 29 Oktober 2025 yang lalu.  Di bawah sorot lampu Lapangan Sawunggaling, Desa Pasongsongan, Sumenep, ribuan jemaah memadati area demi menghadiri peringatan Hari Santri Nasional (HSN) sekaligus Maulid Nabi Muhammad SAW. Di atas panggung megah malam ...

Dari Pasongsongan Menuju Dunia: Jejak Inspiratif MS Arifin dan Gurita Bisnis Banyu Urip

Gambar
Ada sebuah kebanggaan tersendiri ketika melihat putra daerah melangkah jauh, menembus batas-batas lokal, lalu kembali dengan membawa perubahan nyata untuk tanah kelahirannya.  Cerita inilah yang melekat erat pada sosok MS Arifin, owner sekaligus nakhoda utama di balik layar PT Bintang Banyu Urip Yogyakarta. Lahir dan tumbuh besar di atmosfer pesisir Desa/Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, MS Arifin adalah bukti hidup bahwa impian besar bisa tumbuh dari mana saja—bahkan dari sudut utara Pulau Madura yang jauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Mengglobal Lewat Kearifan Ramuan Tradisional Keberhasilan MS Arifin membangun gurita bisnis tidak diraih dalam semalam.  Pondasi utamanya terletak pada keberanian mengangkat potensi pengobatan tradisional melalui brand Ramuan Banyu Urip.  Di tangan dinginnya, apa yang semula dipandang sebagai alternatif, bertransformasi jadi produk kesehatan berkualitas yang diakui dan mendunia. Tidak berhenti di situ, kerajaan bisnis PT Bintang Bany...

Dari Pasongsongan ke Jember: Refleksi 33 Tahun Perjalanan Hidup Syamsul Arifin

Gambar
Pertemuan selalu punya cara sendiri untuk mengaduk-aduk emosi.  Kemarin malam (Selasa, 26 Mei 2026) di sebuah rumah di Dusun Pakotan, Desa Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, saya duduk berhadapan dengan Syamsul Arifin.  Di rumah saudaranya itulah, ingatan kami mendadak terlempar jauh ke belakang, tepatnya 33 tahun yang lalu. Tiga puluh tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar.  Pikiran saya langsung memutar kembali memori saat Syamsul masih lajang, belum memiliki istri, dan menjalani kerasnya hidup bersama orang tuanya.  Kala itu, kata "miskin" dan "menderita" bukan sekadar bumbu cerita, melainkan makanan sehari-hari yang harus mereka telan. Orang tua Syamsul adalah warga asli Pasongsongan yang memutuskan merantau ke Jember demi mengadu nasib.  Di tanah rantau itulah Syamsul lahir dan dibesarkan.  Tanpa modal apa pun kecuali tenaga dan harapan, mereka bertahan hidup di garis kemiskinan yang amat ketat.  Menatap Syamsul yang sekarang, sulit rasanya melupak...

Membaca Sejarah, Menanam Karakter: Catatan Reflektif Darmawisata Siswa Kelas VI SDN Padangdangan 2

Gambar
Tidak ada yang salah, darmawisata sekolah seringkali diidentikkan dengan sekadar rekreasi melepas penat setelah ujian.  Tapi, bagi kami di SDN Padangdangan 2, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, perjalanan bersama siswa-siswi kelas VI kali ini memuat esensi yang jauh lebih mendalam.  Di bawah bimbingan langsung Kepala Sekolah beserta jajaran dewan guru, kami membawa anak-anak melangkah keluar dari dinding kelas untuk membaca langsung buku peradaban yang terhampar di bumi Sumenep. Sebagai pendidik, kami menyadari bahwa tumpukan teori di dalam kelas kerapkali terasa abstrak bagi siswa.  Oleh karena itu, mendampingi mereka menjelajahi kekayaan daerah sendiri adalah cara terbaik untuk menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap tanah kelahiran. Dari sekian banyak destinasi yang dikunjungi, momen di Asta Tinggi—kompleks pemakaman Raja-raja Sumenep—menjadi puncak perjalanan yang paling menggetarkan hati. Sabtu (23/5/2025).  Tempat ini bukan sekadar situs purbakala atau tu...

Aoleng! Saat Badan Jalan Raya Pasongsongan Berganti Jadi Pasar Tumpah

Gambar
Setiap hari Sabtu dan Selasa pagi, sebuah potret menyedihkan sekaligus menguji nyali tersaji di sepanjang jalan raya Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep.  Aoleng (pikiran jadi pusing)! Alih-alih jadi jalur transportasi yang aman dan lancar, fasilitas publik ini berubah menjadi panggung semrawut akibat fenomena "pasar tumpah".  Keberadaannya kini bukan lagi sekadar pusat perputaran ekonomi, melainkan sumber frustrasi, pemicu tingginya tensi emosi pengendara, hingga ancaman nyata bagi keselamatan nyawa. Ada tiga titik utama yang jadi pusat kesemrawutan ini.  Di Desa Pasongsongan, kemacetan parah rutin terjadi di dua lokasi, yakni di depan BRI Pasongsongan dan kawasan simpang tiga Pasar Pao.  Sedangkan di Desa Panaongan, pemandangan serupa terlihat jelas persis di depan Kantor Kecamatan Pasongsongan.  Tiga titik ini mendadak lumpuh setiap kali hari pasaran tiba. Ironisnya, kekacauan ini terjadi bukan karena ketiadaan fasilitas.  Pemerintah sebenarnya tel...

Menakar Ego di Jalan Raya: Potret Menyedihkan Pasar Tumpah Pasongsongan

Gambar
Kecamatan Pasongsongan dikenal sebagai salah satu wilayah yang dinamis di Kabupaten Sumenep.  Tapi, setiap hari Sabtu dan Selasa, kedinamisan itu berubah menjadi momok yang menguji kesabaran.  Pasar tumpah yang digelar di Desa Panaongan dan Desa Pasongsongan kini kondisinya sungguh menyedihkan.  Alih-alih jadi pusat perputaran ekonomi yang tertib, keberadaan pasar ini justru menjelma menjadi titik rawan yang merenggut hak-hak para pengguna jalan. Skenarionya selalu sama setiap pekan: kemacetan mengular, klakson bersahutan, dan tensi emosi para pengendara meninggi.  Mengapa fasilitas publik yang krusial seperti jalan raya harus dikorbankan demi ego segelintir pihak? Ketika Badan Jalan Beralih Fungsi Akar masalah dari kacaunya kondisi ini adalah hilangnya fungsi utama jalan raya.  Seolah tanpa beban moral, sebagian pedagang berjualan "seenak dengkulnya" dengan menggelar lapak hingga memakan badan jalan.  Fenomena ini otomatis memicu efek domino. Ketika lapak ...

Memutar Ulang Waktu di Pasongsongan: Secangkir Kopi Nostalgia Bersama Aji Lahaji

Gambar
Pada medio Maret 2026 yang lalu membawa angin yang berbeda di kediaman saya di Pasongsongan, Sumenep.  Di pertengahan bulan itu, sebuah ketukan di pintu menjelma jadi mesin waktu yang melemparkan ingatan saya jauh ke belakang, tepatnya 28 tahun yang lalu.  Tamu yang datang bukanlah orang asing, melainkan Aji Lahaji—seorang kawan lama, musisi, dan kini seorang pendakwah—yang datang beranjangsana bersama seorang rekannya. Melihat sosoknya yang kini lebih sering menghabiskan waktu di Jakarta, ingatan saya langsung melayang ke tahun 1998.  Sebuah tahun yang riuh, penuh gejolak, dan menjadi saksi awal mula persahabatan kami di sebuah sudut ibu kota: Gang Siaga, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Gang Siaga 1998: Ruang Mimpi Anak Muda Pada tahun 1998, Gang Siaga adalah saksi bisu dari pergulatan hidup kami sebagai anak muda yang sedang menjemput takdir.  Saat itu, Aji adalah seorang pemuda kelahiran Sumenep yang sedang berjuang meniti karier sebagai biduan spesialis dangdut....

Meneladani Agus Sugianto: Totalitas Pengabdian dan Jangkar Kolaborasi Pendidikan di Pasongsongan

Gambar
Dunia pendidikan di Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, adalah sebuah ekosistem yang dinamis.  Di dalamnya, ratusan guru dari jenjang TK/RA hingga SMA/MA—baik di sekolah negeri maupun swasta—berjuang setiap hari demi masa depan generasi penerus.  Di tengah tantangan administrasi dan kurikulum yang terus berubah, kehadiran sosok pemimpin yang mampu mengayomi dan merekatkan komunikasi antarlini menjadi sangat krusial.  Sosok itu, bagi banyak pendidik di Pasongsongan, melekat erat pada diri Agus Sugianto. Nama Agus Sugianto bukanlah nama yang asing.  Sebagai Kepala SDN Panaongan 3, dedikasinya tidak lagi terbatas pada pagar sekolah yang dipimpinnya.  Ia telah melangkah lebih jauh, menjadikan dirinya sebagai bagian dari denyut nadi pendidikan di seluruh pelosok kecamatan. Totalitas Tanpa Batas Waktu untuk Kemajuan Pendidikan Salah satu alasan utama mengapa nama Agus Sugianto selalu muncul di setiap lini adalah totalitasnya yang tanpa batas.  Pria dengan ...

Belajar Filosofi 'Lilin Kecil' dari Blangkon Agus Sugianto: Mengapa Kolaborasi Harus Menumbangkan Kompetisi Egois di Sekolah Kita

Gambar
Di era modern ini, dunia pendidikan seringkali terjebak dalam arus kompetisi yang melelahkan.  Sekolah-sekolah berlomba-lomba memoles citra, memperebutkan calon peserta didik baru, dan saling sikut demi status "sekolah favorit".  Keberhasilan pendidikan telanjur diukur secara egois: seberapa megah infrastruktur lembaga sendiri dan seberapa mentereng prestasi internalnya.  Tapi, di tengah riuh-rendah kompetisi yang sarat ego sektoral itu, sosok Agus Sugianto hadir membawa perspektif yang sepenuhnya berbeda. Kepala SDN Panaongan 3, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep ini belakangan mencuri perhatian publik.  Bukan sekadar karena blangkon khas yang selalu melekat di kepalanya—yang kerap dianggap sebagai sekadar gaya nyentrik—melainkan karena isi kepala dan pola pikirnya yang mendobrak pakem arus utama. Dalam sebuah diskusi pemikiran yang tajam bersama redaksi apoymadura.com, sebuah gugatan yang sangat realistis dilayangkan kepada Agus.  Mengapa ia, sebagai ke...

Mengenal Yamaro Sitompul: Maestro di Balik Lagu Pelabuhan Pasongsongan

Gambar
Yamaro Sitompul, sosok seniman yang membuktikan bahwa dedikasi tanpa batas akan membuahkan karya abadi.  Sebagai musisi berdarah Batak yang kini menetap di Bekasi, ia tidak hanya dikenal karena karakter vokalnya, tapi juga karena produktivitasnya yang luar biasa sebagai pencipta lagu.  Ribuan komposisi lahir dari tangannya dan telah memperkaya belantika musik tanah air, menjadikannya salah satu pilar kreatif yang memberikan warna tersendiri dalam industri hiburan di Indonesia. Kehebatan Yamaro tidak hanya terletak pada kemampuannya merangkai nada secara mandiri, tapi juga pada keterbukaannya dalam berkolaborasi untuk melahirkan visi artistik yang baru.  Sinergi kreatif ini menemukan bentuk nyatanya melalui kolaborasi dalam pembuatan karya-karya musik yang menyentuh hati.  Lewat proses kreatif yang mendalam, ia mampu menerjemahkan ide dan rasa jadi sebuah harmoni yang bisa dinikmati oleh khalayak luas, membuktikan bahwa musik adalah bahasa universal yang mampu menghub...

Sapi Sonok Pasongsongan 2026: Keanggunan Budaya Madura di Tengah Terik.

Gambar
Sabtu (9/5/2026), berlokasi di Lapangan Sawungggaling, Desa/Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, bukan sekadar lapangan berdebu.  Di bawah sengatan matahari musim kemarau yang cukup menyengat, ribuan pasang mata jadi saksi betapa tingginya martabat kebudayaan Madura lewat helatan Kontes Sapi Sonok 2026. Walau cuaca panas membungkus arena, semangat ribuan penonton yang datang dari berbagai penjuru Madura tidak surut.  Hal ini membuktikan satu hal: Sapi Sonok bukan sekadar tontonan, melainkan kebanggaan kolektif yang menyatukan masyarakat. Lebih dari Sekadar Kontes Kecantikan Berbeda dengan Karapan Sapi yang mengadu kecepatan, Sapi Sonok adalah perayaan estetika dan etika.  Diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Pasongsongan, kontes ini menampilkan sepasang sapi betina yang diapit oleh Pangonong —ukiran kayu atau bambu yang menyatukan keduanya dalam satu harmoni. Ada filosofi mendalam di balik Pangonong tersebut. Ia bukan sekadar beban, melainkan simbol keselarasan....
Gambar
Musik seringkali jadi mesin waktu yang paling jujur di antara beragam kesenian.  Lewat kolaborasi saya bersama musisi berdarah Batak, Yamaro Sitompul, lahir sebuah karya berjudul "Pelabuhan Pasongsongan".  Lagu ini bukan sekadar deretan nada, melainkan sebuah upaya untuk memotret kembali kejayaan sebuah bandar tua di pesisir utara Madura yang telah jadi saksi bisu pertukaran peradaban sejak berabad-abad silam. Pasongsongan dalam Lintasan Sejarah Jauh sebelum kita mengenal batas-batas modern, Pasongsongan sudah jadi magnet bagi dunia internasional.  Catatan sejarah menunjukkan bahwa sejak awal abad ke-14 Masehi, pelabuhan ini telah menjelma jadi titik temu yang sangat sibuk bagi para saudagar dari Arab dan Cina.  Di sinilah transaksi perdagangan global terjadi, berdampingan dengan misi mulia penyebaran agama Islam di nusantara. Pada masa itu, Pasongsongan bukanlah wilayah tak bertuan. Sistem pemerintahan yang tertata sudah berdiri kokoh di bawah kekuasaan seorang Adip...

Harmoni dalam Perbedaan: Persahabatan Saya dengan Yamaro Sitompul

Gambar
Persahabatan sejati seringkali tidak mengenal batas suku, agama, maupun latar belakang budaya.  Hal inilah yang saya rasakan dalam hubungan persahabatan erat saya dengan Yamaro Sitompul, seorang penyanyi gereja dan musisi berbakat berdarah Batak.  Hubungan kami adalah bukti nyata bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang mampu melahirkan karya-karya indah. Kenangan yang paling berkesan terjadi pada 1999. Selama tiga bulan, saya sempat tinggal dan menumpang di kediaman Yamaro di Perumahan Taman Wisma Asri, Bekasi.  Di sana, saya menyaksikan langsung bagaimana sosok Yamaro bukan hanya seorang seniman yang hebat, tetapi juga pribadi yang luar biasa hangat. Meskipun saya beragama Islam dan memiliki darah Madura yang kental, Yamaro dan keluarganya menerima kehadiran saya dengan tangan terbuka tanpa sedikit pun rasa canggung. Kebaikan hati Yamaro melintasi sekat-sekat identitas. Ia memperlakukan siapa saja dengan rasa hormat dan kasih yang tulus.  Sifat ...

Cara Cepat Paham! Latihan Soal Bahasa Madura Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban

Gambar
Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, c, atau d sesuai jawaban yang paling tepat, dan jawablah dengan singkat Baca pajarna’ pas jawab soalla! Para rabu se padha molja. Parlo ekagali sareng panjennengan sadaja, papanggiyan e are ka’dhinto, badhi jak-ngajak dha’ sadaja barga se badha e RT 7, kaangguy areng-sareng agutong-rojung kadi ponapa kampong se badha e ka’ dhinto berse, nyoppre daddiya kennengngan se sehat. Kong-langkong e bulan dhateng ampon ngadhebbana bulan Agustus. 1. Essena pidato kasebbut iya areya nyaretaagi bab ..... A.  kaberseyan B.  kasehadan C.  ngajak agutong- rojung  D.  tareka bulan Agustus 2 . Papanggiyan se ebadhaagi e RT 7 kadaddiyanna e bulan …. A.  Juli B.  Agustus C.  September  D.  Oktober Baca teks pidhato ebaba reya, pas jawab soalla!  E are samangken badan kaula sadaja akompol kaagguy arayaagi bulan kababarana Rasulullah sabab panika bulan se nyonar lebbi samporna dha...

Eksodus Ekonomi: Ketika Jaring Nelayan Pasongsongan Berganti Etalase Warung Madura

Gambar
Pasongsongan selama ini dikenal sebagai salah satu denyut nadi perikanan di Kabupaten Sumenep, karena hasil tangkap ikan melimpah.  Tapi, jika Anda berkunjung kesana hari ini, ada sebuah pergeseran narasi yang tenang namun nyata.  Laut tak lagi jadi satu-satunya tumpuan harapan.  Kini, perhatian warga mulai beralih ke daratan, tepatnya pada deretan rak sembako dan bensin eceran yang kita kenal sebagai Warung Madura. Fenomena ini bukan sekadar tren musiman, melainkan sebuah strategi bertahan hidup yang lahir dari himpitan ekonomi. Pahitnya Gelombang, Manisnya Ritel Alasan di balik migrasi profesi ini sangat klasik: isi dapur.  Hasil tangkap ikan kian tidak menentu, ditambah biaya operasional melaut yang membengkak, membuat pendapatan nelayan seringkali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan belanja harian.  Melaut kini jadi perjudian nasib; terkadang membawa pulang ikan, lebih sering membawa pulang lelah dan hutang solar. Dalam kondisi ini, Warung Madura muncul seb...

KPK Periksa Haji Her: Kriminalisasi atau Persaingan Bisnis Tembakau?

Gambar
Pemanggilan pengusaha tembakau asal Madura, Khairul Umam alias Haji Her, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam pusaran kasus korupsi cukai rokok di Direktorat Bea Cukai mengundang tanda tanya besar.  Di balik penegakan hukum yang tampak normatif, publik menangkap aroma persaingan bisnis yang tidak sehat dan upaya sistematis untuk memberangus potensi pengusaha pribumi yang tengah naik daun. Melawan Hegemoni Harga Selama berpuluh-puluh tahun, industri tembakau di Madura didominasi oleh pabrikan rokok raksasa yang gudangnya berdiri di Madura.  Sudah bukan rahasia lagi jika raksasa-raksasa ini kerap dituding "memainkan" harga tembakau sesuka hati, membuat petani lokal berada dalam posisi tawar yang rendah. Tapi, peta kekuatan itu berubah. Haji Her muncul sebagai simbol perlawanan ekonomi.  Dengan keberanian membeli tembakau rajang petani dengan harga yang sangat kompetitif—bahkan jauh di atas harga pasar pabrikan besar—ia berhasil memutus rantai ketergantungan petani....