Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

Ketulusan Anak-Anak Pasongsongan di Tengah Riuhnya Negeri

Gambar
Suasana di MI Annajah, Desa Pasongsongan, pada Jumat (7/8/2026) terasa agak berbeda dari tahun sebelumnya.  Deretan bangku dan lantai yang biasanya dipenuhi riuh tawa dan sesak peserta lomba HUT Kemerdekaan RI, hari itu tampak lebih renggang.  Tahun ini, dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-81 se-Kecamatan Pasongsongan, jangkauan perlombaan digelar cukup beragam: lomba kolase dan mewarnai untuk tingkat TK/RA, serta lomba melukis untuk siswa SD/MI hingga SMP/MTs.  Namun secara kasat mata, jumlah pendaftar mengalami penurunan yang cukup terasa jika dibandingkan dengan tahun lalu. Saya sebagai salah satu bagian dari dewan juri yang mengamati langsung dari dekat, ada rasa getir sekaligus haru yang membuncah.  Di satu sisi, penurunan partisipasi ini tentu menjadi catatan dan bahan evaluasi bersama bagi para penyelenggara maupun penggiat pendidikan di wilayah Pasongsongan.  Salah satu faktor yang membuat antusiasme sekolah berkurang mengirimkan utusannya karena terlalu ...

Ruang Warna dan Bait yang Hilang: Refleksi Panitia HUT RI ke-81 di Pasongsongan

Gambar
Kembali dipercaya oleh Panitia Induk Perayaan HUT Kemerdekaan RI Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, tentu hal ini jadi sebuah kehormatan tersendiri bagi saya.  Pada peringatan HUT RI ke-81 tahun ini, saya mengemban amanat untuk mengawal jalannya lomba mewarnai dan kolase untuk tingkat TK/RA, serta lomba melukis bagi siswa SD/MI dan SMP/MTs se-Kecamatan Pasongsongan.  Dijadwalkan lomba tersebut akan diselenggarakan pada Jumat (7/8/2026) yang akan ditempatkan di MI Annajah, Desa/Kecamatan Pasongsongan.  Menerima tugas ini menghadirkan antusiasme yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya: melihat anak-anak mengekspresikan imajinasi dan jiwa patriotisme mereka di atas kertas dan kanvas. Tapi, di balik semangat menyambut barisan garis dan warna tersebut, ada ganjalan tersirat di dalam dada.  Ingatan saya melayang pada perayaan tahun lalu, saat saya berkesempatan jadi juri Lomba Baca Puisi antar-pelajar dari tingkat TK/RA hingga SMA/MA, yang di tempatkan di Kantor K...

Banyak Siswa Bukan Jaminan: Meninjau Ulang Makna "Sekolah Favorit" di Era Zonasi

Gambar
Setiap memasuki musim penerimaan peserta didik baru, pemandangan yang sama selalu berulang: para orang tua berbondong-bondong, bahkan rela berebut, demi mengamankan satu kursi di sekolah yang berlabel "favorit".  Jarak rumah yang jauh seringkali diabaikan, padahal ada sekolah sederajat yang lokasinya hanya beberapa ratus meter dari tempat tinggal mereka. Fenomena ini memicu pertanyaan mendasar: apa sebenarnya yang membuat sebuah sekolah disebut favorit?  Apakah indikator utamanya adalah jumlah siswa yang melimpah dan gedung yang selalu penuh sesak? Mitos Kuantitas dan Narasi "Kepercayaan Masyarakat" Sebagian sekolah beranggapan bahwa kian banyak siswa yang mendaftar dan diterima, makin tinggi pula legitimasi kualitas mereka.  Buka pintu seluas-luasnya, tambah kuota rombongan belajar, lalu berlindung di balik frasa: "Ini adalah wujud kepercayaan wali siswa." Tapi, mengukur kualitas pendidikan semata-mata dari kuantitas peserta didik adalah pandangan yang ke...

Membongkar Mitos Sekolah Favorit: Ketika Persepsi Mengalahkan Realita Pendidikan

Gambar
Setiap memasuki tahun ajaran baru, sebuah pola berulang senantiasa terjadi di tengah masyarakat kita.  Ada sekolah tertentu yang kebanjiran pendaftar hingga harus menolak puluhan calon siswa, sementara di sudut lain, ada sekolah yang harus bersusah payah sekadar untuk memenuhi kuota satu ruang kelas.  Sekolah yang sepi peminat ini perlahan-lahan mati suri, terancam digabung, atau bahkan ditutup. Kondisi ini memicu satu pertanyaan krusial: Apakah sekolah yang sepi peminat tersebut memang tidak berkualitas? Jika fenomena ini dicermati di Kabupaten Sumenep, jawaban atas pertanyaan tersebut jelas: tidak sejajar. Kualifikasi Guru yang Tak Lagi Menjadi Pembeda Secara umum, mayoritas tenaga pendidik di Kabupaten Sumenep—maupun daerah lainnya—saat ini telah mengantongi Sertifikat Pendidik.  Artinya, secara kualifikasi, kompetensi, dan standar profesionalisme, para guru di sekolah yang dianggap "kurang favorit" memiliki kapasitas yang relatif sama dengan mereka yang mengajar di se...

Menjaga Bahasa Ibu Lewat Dongeng Perang Udara Joko Tole

Gambar
Di tengah derasnya arus informasi digital, tradisi berdiskusi jadi ruang yang kian berharga.  Ketika masyarakat lebih akrab dengan tayangan singkat di media sosial.  Ada suasana tersendiri saat menghadiri diskusi rutin mingguan di Gedung MWC NU Pasongsongan, Sumenep.  Selasa malam, 21 Juli 2026, jadi momen yang amat berkesan bagi saya.  Bukan sekadar jadi bagian dari lingkaran diskusi yang selalu hangat, malam itu saya mendapat kehormatan untuk berdiri di depan kawan-kawan sebagai narasumber. Membawa sebuah karya sastra fabel dan tutur berbahasa Madura: dongeng Joko Tole Aperrang Kalaban Dempo Abang. Diskusi pekanan di MWC NU Pasongsongan, selama ini selalu jadi ruang yang hidup untuk menukar gagasan, merawat ingatan kolektif, dan membumikan isu-isu keumatan serta kebudayaan.  Tapi, mengangkat sastra tutur Madura dalam majelis tersebut memberikan nuansa unik—sebuah perjumpaan antara tradisi lokal, nilai spiritual, dan imajinasi kolektif kita sebagai warga Madura...

Kisah Ta'olle Nelayan Pasongsongan dan Gelombang Perantauan

Gambar
Pasongsongan bukan sekadar titik di peta timur Madura. Bagi saya, tanah ini adalah tempat kelahiran sekaligus rumah dimana suara ombak dan bau asin air laut selalu jadi latar belakang tumbuh kembang kami.  Tapi, dalam tiga tahun terakhir, ada yang berbeda saat melangkah ke pelabuhan atau pesisir Pasongsongan.  Dulu, riak laut senantiasa membawa harapan dan kepulangan perahu yang sarat dengan hasil tangkapan.  Sekarang berbeda, suasana itu berubah jadi sunyi menyayat hati. Kidung pilu mengalun sedih ke ruang-ruang kehidupan mereka.  Melihat kenyataan tersebut, para nelayan lokal hari ini, ada rasa sedih yang sulit disembunyikan.  Istilah ta’olle—kosakata bahasa Madura untuk menggambarkan kondisi tidak mendapatkan apa-apa—kini kian sering terdengar di bibir para nelayan.  Paceklik ikan berkepanjangan selama beberapa tahun terakhir membuat melaut bukan lagi jaminan untuk menyambung hidup keluarga, melainkan perjudian yang acapkali berakhir rugi di solar dan te...

Ironi Pasongsongan Sumenep: Lumbung Ikan yang Kini Sepi Juragan Perahu

Gambar
Bagi masyarakat Madura, bahkan sebagian besar orang di Jawa Timur, nama Pasongsongan bukan sekadar titik koordinat di pesisir utara Kabupaten Sumenep.  Sejak generasi kakek-nenek kita terdahulu, Pasongsongan adalah legenda hidup—sebuah episentrum bahari yang diakui sebagai salah satu daerah penghasil ikan terbesar di Pulau Garam.  Deru mesin perahu, aroma asin laut yang khas, dan riuhnya tawar-menawar di pelabuhan pesisir Pasongsongan  adalah urat nadi kehidupan masyarakatnya.  Menjadi "Juragan Perahu" di sini bukan cuma soal status sosial, melainkan simbol kejayaan dan kebanggaan harga diri laki-laki pesisir. Tapi, hari ini, narasi kejayaan itu sedang mengalami ujian terbesarnya.  Angin perubahan meniupkan cerita yang berbeda dari pesisir Pasongsongan.  Banyak perahu bersandar di dermaga, dan satu demi satu juragan perahu yang dulunya menguasai lautan memilih untuk menepi.  Kenapa begitu? Karena seringkali perahu mereka pulang tanpa hasil.  Merek...

Sekolah Mati Suri dan Jeritan Guru PPPK Paruh Waktu

Gambar
Tahun ajaran baru tidak selalu membawa keceriaan. Bagi sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang sama sekali tidak mendapatkan murid baru, momentum ini adalah lonceng kematian.  Sekolah yang kosong bukan sekadar statistik, melainkan tragedi "mati suri" yang berujung pada ancaman penutupan. Di balik bangku-bangku kosong itu, ada kecemasan mendalam dari para gurunya.  Bayangkan jika mereka adalah saudara, famili, atau sahabat kita sendiri.  Di era sekarang, tidak sedikit dari mereka yang berstatus sebagai guru PPPK Paruh Waktu dengan gaji pokok hanya Rp 400.000 per bulan.  Satu-satunya harapan agar dapur tetap mengepul adalah Tunjangan Profesi Pendidik (TPP) atau sertifikasi. Lalu, apa yang terjadi jika sekolah mereka terpaksa ditutup? Regulasi akan memindahkan mereka ke SDN lain.  Tapi realitasnya, sekolah yang dituju biasanya sudah padat.  Akibatnya, guru pindahan ini tidak mendapatkan jam mengajar yang cukup.  Padahal, pemenuhan jam mengajar adalah sya...

Duh, "Niserra" Guru PPPK PW: Sekolah Sepi Murid, Tunjangan Terancam Hangus?

Gambar
Ruang-ruang kelas di sekolah dasar kita setiap hari berdengung oleh kata-kata mulia: empati, gotong royong, dan berbagi.  Kita, sebagai pendidik, dengan penuh khidmat menanamkan nilai-nilai itu ke dalam sanubari para murid.  Kita ingin mereka tumbuh jadi manusia yang peka terhadap penderitaan sesama.  Tapi, sebuah renungan mendalam dari Agus Sugianto, S.Pd., Kepala SDN Panaongan 3, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, baru-baru ini seperti menampar wajah kita semua.  Menurut 'Bapak Pendidikan Pasongsongan' tersebut, saat sistem pendidikan dihadapkan pada ancaman penutupan sekolah yang kekurangan murid, dimanakah letak empati yang selalu kita dengungkan itu? Tahun ajaran baru sejatinya jadi momentum harapan.  Tapi bagi sebagian sekolah negeri yang "mati suri" karena tidak mendapatkan satu pun murid baru, ini adalah lonceng kematian.  Di balik angka nol pada data pendaftaran itu, ada nasib manusia-manusia konkret yang sedang dipertaruhkan. Bayangkan jik...

Menjemput Kemandirian Umat: Catatan Pemikiran dari Sudut Meja Hairul Anwar

Gambar
Siang itu, suasana kantor Madura Energi di Jalan Basuki Rahmad, Sumenep, terasa hangat.  Kunjungan kekeluargaan saya kepada Hairul Anwar—seorang pengusaha sukses asal Desa Panaongan, Kecamatan Pasongsongan yang kini mengabdi sebagai anggota DPRD Kabupaten Sumenep—berubah menjadi sebuah diskusi yang menyenangkan sekaligus mendalam.  Di balik meja kerjanya, perbincangan kami mengerucut pada satu tema krusial yang jadi pekerjaan rumah kita bersama: kesejahteraan masyarakat Sumenep. Sebagai sosok yang tumbuh dari dunia usaha sekaligus memahami denyut kebijakan di kursi parlemen, Hairul Anwar melemparkan sebuah gagasan yang menantang tapi sangat relevan bagi realitas hari ini.  Ia menekankan betapa pentingnya bagi organisasi kemasyarakatan (ormas) maupun organisasi keagamaan di Kabupaten Sumenep untuk mulai mengubah paradigma: tidak boleh lagi selalu bergantung pada bantuan pihak lain dalam mengupayakan kesejahteraan umat. "Sudah saatnya organisasi-organisasi kita berdikari se...
Gambar
Sebuah diskusi hangat terjadi di kantor Madura Energi di Jalan Basuki Rahmad, Sumenep. Selasa (7/7/2026).  Dalam sebuah kunjungan kekeluargaan, saya berkesempatan bertukar pikiran dengan Hairul Anwar—seorang pengusaha sukses asal Desa Panaongan, Kecamatan Pasongsongan, yang saat ini mendedikasikan dirinya sebagai anggota DPRD Kabupaten Sumenep.  Pembicaraan kami tidak jauh dari kegelisahan mendasar tentang masa depan daerah: bagaimana cara nyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumenep. Sebagai figur yang berangkat dari dunia usaha sekaligus memahami regulasi, Hairul Anwar menitipkan sebuah harapan besar kepada organisasi kemasyarakatan dan organisasi keagamaan di Sumenep.  Ia menekankan bahwa sudah saatnya organisasi-organisasi ini tidak hanya fokus pada kegiatan seremonial atau spiritual, tapi juga senantiasa membangun pemikiran taktis mengenai pemberdayaan ekonomi wong cilik. Pertanyaannya kemudian, bagaimana format pemberdayaan yang ideal agar masyarakat bawah be...

Sepeda Listrik Menjamur di Pasongsongan: Bisakah Cas Otomatis Lewat Putaran Roda?

Gambar
Pemandangan jalanan di Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, kini kian berwarna dengan hilir mudiknya sepeda listrik.  Kendaraan ramah lingkungan ini telah jadi primadona baru yang memikat berbagai kalangan, mulai dari pelajar tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, hingga kalangan ibu rumah tangga yang menggunakannya untuk berbelanja atau mengantar anak sekolah. Kepraktisan dan efisiensi jadi alasan utama mengapa sepeda listrik begitu cepat menjamur di wilayah ini.  Bagi para pelajar, kendaraan ini mempermudah akses menuju sekolah tanpa perlu menguras tenaga untuk mengayuh atau bergantung pada jemputan orang tua.  Sementara bagi ibu rumah tangga, sepeda listrik dianggap sebagai solusi transportasi jarak dekat yang hemat dan mudah dioperasikan. Tapi, di balik kepopulerannya, ketergantungan pada pengisian daya listrik baterai (charging) masih jadi tantangan tersendiri, terutama saat mobilitas sedang tinggi.  Keterbatasan jarak tempuh ini memicu sebuah gagasan inovatif: b...

Mengenal Program Unggulan SDN Panaongan 3 dalam Membentuk Karakter Siswa

Gambar
Sekolah yang hebat bukanlah sekolah yang hanya melahirkan siswa berprestasi, tetapi sekolah yang mampu membentuk manusia yang berkarakter, beriman, berbudaya, dan peduli terhadap sesama. Di tengah hamparan pesisir utara Kabupaten Sumenep, di sebuah lingkungan yang tumbuh dalam nilai religiusitas, gotong royong, dan kearifan lokal Madura, berdirilah seorang pendidik yang menjadikan pendidikan bukan sekadar profesi, melainkan jalan pengabdian.  Sosok itu adalah Agus Sugianto, S.Pd, Kepala SDN Panaongan 3 Kecamatan Pasongsongan, seorang pemimpin pendidikan yang meyakini bahwa perubahan besar dapat dimulai dari sekolah kecil, selama dikelola dengan hati, keteladanan, dan semangat melayani. Bagi Agus Sugianto, sekolah bukan hanya tempat berlangsungnya proses pembelajaran.  Sekolah adalah rumah kedua bagi peserta didik; ruang tumbuh yang memungkinkan anak-anak belajar mengenal diri, menghargai sesama, mencintai budaya, memperkuat iman, dan membangun mimpi-mimpi besar untuk masa depa...

Pengurus Baru MWC NU Pasongsongan 2026–2031: Harapan Besar untuk Kesejahteraan Nahdliyin

Gambar
  Pelantikan Pengurus MWC NU Kecamatan Pasongsongan masa khidmat 2026–2031 yang berlangsung lancar di Gedung KH Abdul Wahab Hasbullah pada Senin (8/6/2026) bukan sekadar agenda seremonial organisasi.  Di balik prosesi pelantikan tersebut, tersimpan harapan besar dari warga Nahdlatul Ulama (nahdliyin) yang menginginkan hadirnya perubahan nyata dalam kehidupan sosial, keagamaan, dan kesejahteraan masyarakat. Ucapan selamat tentu layak disampaikan kepada mereka yang telah menerima amanah untuk mengemban roda organisasi selama lima tahun ke depan.  Tapi, ucapan selamat itu juga harus dipahami sebagai pengingat bahwa jabatan bukanlah sebuah kehormatan semata, melainkan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan kepada organisasi, masyarakat, dan Allah SWT. Harapan masyarakat terhadap pengurus baru tidaklah kecil.  Di tengah berbagai tantangan ekonomi, pendidikan, dan sosial yang dihadapi warga, NU sebagai organisasi keagamaan terbesar memiliki peran strategis untuk h...
Gambar
Pelantikan Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Pasongsongan masa khidmat 2026–2031 di Gedung KH. Abdul Wahab Hasbullah, Senin (8/6/2026) lalu, bukan sekadar prosesi seremonial belaka.  Bagi masyarakat Pasongsongan, momen ini adalah babak baru yang membawa estafet kepemimpinan sekaligus tumpukan harapan yang mendesak. Selamat atas dilantiknya para pengurus baru.  Jabatan ini adalah kehormatan, tapi di balik itu, ada tanggung jawab moral dan sosial yang sangat besar di tengah situasi yang sedang tidak mudah. Menjawab Jeritan Akar Rumput: Waktu Kita Tidak Banyak Setiap kali ada pelantikan, doa agar pengurus bersikap "amanah" selalu menggema.  Tapi, apa arti amanah yang paling dinanti oleh warga Nahdliyin Pasongsongan hari ini?  Jawabannya adalah gerak cepat dalam membantu mengatasi kesulitan ekonomi. Fakta di lapangan tidak bisa dimungkiri: saat ini banyak warga Nahdliyin yang terseok-seok dan kesulitan mencari penghasilan di tanah kelahiran...

Menakar Harapan Baru di Pucuk Pimpinan MWC NU Pasongsongan

Gambar
Selamat! Terhadap pelantikan Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Pasongsongan masa khidmat 2026–2031 di Gedung KH Abdul Wahab Hasbullah.  Hal ini bukan sekadar seremoni runtutan organisasi. Senin (8/6/2026).  Di balik prosesi yang berlangsung lancar dan khidmat tersebut, ada pundak-pundak baru yang kini memikul harapan besar ribuan warga nahdliyin di Pasongsongan. Selamat bekerja dan berkhidmat kita ucapkan kepada para pengurus yang telah resmi dilantik.  Tapi, setelah euforia ucapan selamat ini mereda, tantangan nyata justru baru saja dimulai. Bukan Sekadar Simbol, Tapi Agen Perubahan nyata Menjadi pengurus NU di tingkat kecamatan (MWC) adalah posisi strategis.  Mereka bersentuhan langsung dengan akar rumput.  Oleh sebab itu, harapan yang dititipkan masyarakat bukan lagi sekadar soal bagaimana NU menjaga amaliyah keagamaan—karena hal itu sudah mengakar kuat—melainkan bagaimana kehadiran NU mampu membawa perubahan berarti bagi keseja...

Mengenang Kiai Fajar Sidik: Keteladanan, Pengabdian, dan Warisan Abadi Sang Pejuang Pendidikan

Gambar
Duka mendalam kembali menyelimuti langit Pasongsongan. Kepergian sosok muda visioner, Kiai Fajar Sidik, S.Pd.I., untuk selamanya menyisakan ruang kosong yang teramat rapuh di hati kita semua.  Beliau berpulang pada Rabu pagi (3/6/2026), setelah mobil yang ia naiki mengalami kecelakaan lalu lintas di Kecamatan Batumarmar, Pamekasan. Sebuah akhir perjalanan di dunia yang mengejutkan, tapi sekaligus mengukuhkan bahwa hidupnya hingga detik terakhir dihabiskan dalam mobilitas perjuangan dan pengabdian. Bagi siapa pun yang mengenal atau sekadar menyaksikan kiprahnya, Kiai Fajar adalah representasi sejati dari generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) yang tidak pernah lelah berkhidmat.  Ingatan kolektif kita tentu belum lupa pada rabu malam, 29 Oktober 2025 yang lalu.  Di bawah sorot lampu Lapangan Sawunggaling, Desa Pasongsongan, Sumenep, ribuan jemaah memadati area demi menghadiri peringatan Hari Santri Nasional (HSN) sekaligus Maulid Nabi Muhammad SAW. Di atas panggung megah malam ...

Dari Pasongsongan Menuju Dunia: Jejak Inspiratif MS Arifin dan Gurita Bisnis Banyu Urip

Gambar
Ada sebuah kebanggaan tersendiri ketika melihat putra daerah melangkah jauh, menembus batas-batas lokal, lalu kembali dengan membawa perubahan nyata untuk tanah kelahirannya.  Cerita inilah yang melekat erat pada sosok MS Arifin, owner sekaligus nakhoda utama di balik layar PT Bintang Banyu Urip Yogyakarta. Lahir dan tumbuh besar di atmosfer pesisir Desa/Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, MS Arifin adalah bukti hidup bahwa impian besar bisa tumbuh dari mana saja—bahkan dari sudut utara Pulau Madura yang jauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Mengglobal Lewat Kearifan Ramuan Tradisional Keberhasilan MS Arifin membangun gurita bisnis tidak diraih dalam semalam.  Pondasi utamanya terletak pada keberanian mengangkat potensi pengobatan tradisional melalui brand Ramuan Banyu Urip.  Di tangan dinginnya, apa yang semula dipandang sebagai alternatif, bertransformasi jadi produk kesehatan berkualitas yang diakui dan mendunia. Tidak berhenti di situ, kerajaan bisnis PT Bintang Bany...

Dari Pasongsongan ke Jember: Refleksi 33 Tahun Perjalanan Hidup Syamsul Arifin

Gambar
Pertemuan selalu punya cara sendiri untuk mengaduk-aduk emosi.  Kemarin malam (Selasa, 26 Mei 2026) di sebuah rumah di Dusun Pakotan, Desa Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, saya duduk berhadapan dengan Syamsul Arifin.  Di rumah saudaranya itulah, ingatan kami mendadak terlempar jauh ke belakang, tepatnya 33 tahun yang lalu. Tiga puluh tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar.  Pikiran saya langsung memutar kembali memori saat Syamsul masih lajang, belum memiliki istri, dan menjalani kerasnya hidup bersama orang tuanya.  Kala itu, kata "miskin" dan "menderita" bukan sekadar bumbu cerita, melainkan makanan sehari-hari yang harus mereka telan. Orang tua Syamsul adalah warga asli Pasongsongan yang memutuskan merantau ke Jember demi mengadu nasib.  Di tanah rantau itulah Syamsul lahir dan dibesarkan.  Tanpa modal apa pun kecuali tenaga dan harapan, mereka bertahan hidup di garis kemiskinan yang amat ketat.  Menatap Syamsul yang sekarang, sulit rasanya melupak...

Membaca Sejarah, Menanam Karakter: Catatan Reflektif Darmawisata Siswa Kelas VI SDN Padangdangan 2

Gambar
Tidak ada yang salah, darmawisata sekolah seringkali diidentikkan dengan sekadar rekreasi melepas penat setelah ujian.  Tapi, bagi kami di SDN Padangdangan 2, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, perjalanan bersama siswa-siswi kelas VI kali ini memuat esensi yang jauh lebih mendalam.  Di bawah bimbingan langsung Kepala Sekolah beserta jajaran dewan guru, kami membawa anak-anak melangkah keluar dari dinding kelas untuk membaca langsung buku peradaban yang terhampar di bumi Sumenep. Sebagai pendidik, kami menyadari bahwa tumpukan teori di dalam kelas kerapkali terasa abstrak bagi siswa.  Oleh karena itu, mendampingi mereka menjelajahi kekayaan daerah sendiri adalah cara terbaik untuk menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap tanah kelahiran. Dari sekian banyak destinasi yang dikunjungi, momen di Asta Tinggi—kompleks pemakaman Raja-raja Sumenep—menjadi puncak perjalanan yang paling menggetarkan hati. Sabtu (23/5/2025).  Tempat ini bukan sekadar situs purbakala atau tu...