Postingan

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

Gambar
​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak tersentuh kebijakan pemerintah.  Kita patut bersyukur atas janji kesejahteraan kendati selalu "jauh panggang dari api". Ketidakpedulian penguasa justru jadi bumbu penyedap paling otentik di meja makan rakyat jelata. ​Dan kekecewaan menggunung mendadak luruh bersama segelas es teh manis.  Siapa butuh anggaran pendidikan dan kesehatan yang mumpuni jika kita sudah punya label "sejahtera" di atas kertas?  Kita diajak merayakan pemangkasan hak-hak dasar demi satu piring harapan.  Bukankah sangat puitis melihat masa depan anak bangsa dikorbankan demi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang penuh kemegahan? ​Mari kita kunyah makanan ini dengan khidmat tanpa perlu banyak tanya.  Nikmatilah kemewahan sesaat ini selagi angka kemiskinan hanya jadi hiasan infografis di kantor kementerian.  Pemerintah sedang bekerja keras mencerdaskan b...

Membongkar Mitos Sekolah Favorit: Ketika Persepsi Mengalahkan Realita Pendidikan

Gambar
Setiap memasuki tahun ajaran baru, sebuah pola berulang senantiasa terjadi di tengah masyarakat kita.  Ada sekolah tertentu yang kebanjiran pendaftar hingga harus menolak puluhan calon siswa, sementara di sudut lain, ada sekolah yang harus bersusah payah sekadar untuk memenuhi kuota satu ruang kelas.  Sekolah yang sepi peminat ini perlahan-lahan mati suri, terancam digabung, atau bahkan ditutup. Kondisi ini memicu satu pertanyaan krusial: Apakah sekolah yang sepi peminat tersebut memang tidak berkualitas? Jika fenomena ini dicermati di Kabupaten Sumenep, jawaban atas pertanyaan tersebut jelas: tidak sejajar. Kualifikasi Guru yang Tak Lagi Menjadi Pembeda Secara umum, mayoritas tenaga pendidik di Kabupaten Sumenep—maupun daerah lainnya—saat ini telah mengantongi Sertifikat Pendidik.  Artinya, secara kualifikasi, kompetensi, dan standar profesionalisme, para guru di sekolah yang dianggap "kurang favorit" memiliki kapasitas yang relatif sama dengan mereka yang mengajar di se...

Pemkab dan BPN Sumenep Lakukan Pengukuran Tanah di SDN Padangdangan 2 untuk Inventarisasi Aset

Gambar
PASONGSONGAN — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumenep menerjunkan tim untuk melakukan pengukuran tanah di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Padangdangan 2, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep. Jumat (24/7/2026).  Kegiatan ini difokuskan untuk memastikan batas-batas wilayah sekolah serta legalitas kepemilikan lahan secara resmi. Kepala SDN Padangdangan 2, Madun, S.Pd.SD, mengonfirmasi bahwa pengukuran lahan tersebut merupakan langkah nyata dalam menata administrasi daerah.  Menurutnya, proses ini merupakan bagian integral dari program pengamanan dan inventarisasi aset milik Pemkab Sumenep. "Pengukuran tanah di lingkungan sekolah kami ini bertujuan untuk pengamanan serta inventarisasi aset Pemkab Sumenep, agar ke depannya memiliki kejelasan status hukum dan pendataan yang teratur," ujar Madun. Langkah pendataan dan sertifikasi aset fasilitas pendidikan ini diharapkan dapat mencegah potensi sengketa lahan di masa mendatang, sekaligus...

Tumbuhkan Karakter Religius, Guru PAI SDN Padangdangan 1 Biasakan Siswa Baca Surah Yasin Setiap Pagi

Gambar
PASONGSONGAN — Ada pemandangan berbeda setiap pagi di SDN Padangdangan 1, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep. Jumat (24/7/2026).  Sebelum bel masuk berbunyi dan kegiatan belajar mengajar dimulai, para siswa tampak khusyuk berkumpul untuk membaca Surah Yasin bersama. Kegiatan rutin ini dipimpin Sundari, S.Pd., selaku guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah tersebut.  Pembiasaan positif ini digelar di awal hari agar menjadi fondasi spiritual bagi para murid sebelum menerima materi pelajaran di kelas. Sundari mengungkapkan bahwa rutinitas pagi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan langkah nyata dalam membentuk karakter peserta didik.  Menurutnya, penanaman nilai-nilai religius sejak dini sangat krusial di tengah perkembangan zaman saat ini. "Rutinitas pagi ini sangat penting agar para peserta didik bisa memiliki dan melekatkan nilai-nilai religius dalam diri mereka. Kita ingin anak-anak tidak hanya cerdas secara akademis, tapi juga memiliki akhlak yang...

Tak Semua Pahlawan Memakai Seragam, Ada yang Berblangkon dan Mengantar Seorang Bocah Menjemput Langkah Pertamanya

Gambar
PASONGSONGAN – Di sebuah sekolah dasar yang berdiri di tengah hamparan sawah Desa Panaongan, Kecamatan Pasongsongan, lahir sebuah kisah yang mengajarkan bahwa kemanusiaan tidak mengenal jabatan, profesi, ataupun batas wilayah. Kisah itu bermula dari kepedulian seorang kepala sekolah. Namanya Agus Sugianto, S.Pd, Kepala SDN Panaongan III. Masyarakat mengenalnya sebagai sosok yang selalu tampil sederhana dengan blangkon Madura di kepalanya. Namun, di balik penampilan khas itu, tersimpan hati yang meyakini bahwa tugas seorang pendidik bukan hanya mengajar di ruang kelas, melainkan juga menghadirkan harapan bagi sesama. Harapan itu kemudian menemukan wajahnya pada seorang bocah bernama Irsya. Sejak dilahirkan, kedua kaki Irsya mengalami kelainan. Ia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya berlari mengejar teman-temannya, apalagi bermain tanpa batas. Setiap kali ingin berpindah tempat, bocah itu hanya mampu mengesot menggunakan kedua tangannya. Pemandangan itu berkali-kali mengetuk hati Ag...

Membangun Komunitas Digital Lewat Konten Menghibur dan Soft Selling

Gambar
SUMENEP -- Di tengah ketatnya persaingan kreator konten, Arrijal Faiz dan Moh. Heriawan memilih pendekatan berbeda melalui akun TikTok @papibubub.daily.  Awalnya dibuat untuk memperkenalkan bisnis mereka, AF Store Sumenep, akun ini kini berkembang pesat dengan mengedepankan hiburan, interaksi, dan kedekatan dengan audiens dibanding sekadar berjualan secara agresif. Lewat strategi soft selling—seperti video komedi, vlog, tantangan, hingga sesi live streaming yang interaktif—akun mereka berhasil berkembang secara organik hingga meraih puluhan ribu pengikut dan jutaan tayangan tanpa promosi berbayar.  Kepercayaan dan loyalitas komunitas yang terbentuk juga membuka peluang kerja sama endorsement serta promosi UMKM lokal secara alami. Ariz (Arrijal Faiz) menegaskan bahwa kepercayaan audiens adalah aset utama.  "Kami ingin orang terhibur dan merasa nyaman dulu. Jika sudah percaya, promosi produk akan terasa lebih natural," ujar Ariz di tempat kerjanya. Kamis (23/7/2026).  ...

Menjaga Bahasa Ibu Lewat Dongeng Perang Udara Joko Tole

Gambar
Di tengah derasnya arus informasi digital, tradisi berdiskusi jadi ruang yang kian berharga.  Ketika masyarakat lebih akrab dengan tayangan singkat di media sosial.  Ada suasana tersendiri saat menghadiri diskusi rutin mingguan di Gedung MWC NU Pasongsongan, Sumenep.  Selasa malam, 21 Juli 2026, jadi momen yang amat berkesan bagi saya.  Bukan sekadar jadi bagian dari lingkaran diskusi yang selalu hangat, malam itu saya mendapat kehormatan untuk berdiri di depan kawan-kawan sebagai narasumber. Membawa sebuah karya sastra fabel dan tutur berbahasa Madura: dongeng Joko Tole Aperrang Kalaban Dempo Abang. Diskusi pekanan di MWC NU Pasongsongan, selama ini selalu jadi ruang yang hidup untuk menukar gagasan, merawat ingatan kolektif, dan membumikan isu-isu keumatan serta kebudayaan.  Tapi, mengangkat sastra tutur Madura dalam majelis tersebut memberikan nuansa unik—sebuah perjumpaan antara tradisi lokal, nilai spiritual, dan imajinasi kolektif kita sebagai warga Madura...

Kisah Ta'olle Nelayan Pasongsongan dan Gelombang Perantauan

Gambar
Pasongsongan bukan sekadar titik di peta timur Madura. Bagi saya, tanah ini adalah tempat kelahiran sekaligus rumah dimana suara ombak dan bau asin air laut selalu jadi latar belakang tumbuh kembang kami.  Tapi, dalam tiga tahun terakhir, ada yang berbeda saat melangkah ke pelabuhan atau pesisir Pasongsongan.  Dulu, riak laut senantiasa membawa harapan dan kepulangan perahu yang sarat dengan hasil tangkapan.  Sekarang berbeda, suasana itu berubah jadi sunyi menyayat hati. Kidung pilu mengalun sedih ke ruang-ruang kehidupan mereka.  Melihat kenyataan tersebut, para nelayan lokal hari ini, ada rasa sedih yang sulit disembunyikan.  Istilah ta’olle—kosakata bahasa Madura untuk menggambarkan kondisi tidak mendapatkan apa-apa—kini kian sering terdengar di bibir para nelayan.  Paceklik ikan berkepanjangan selama beberapa tahun terakhir membuat melaut bukan lagi jaminan untuk menyambung hidup keluarga, melainkan perjudian yang acapkali berakhir rugi di solar dan te...