Cermin Chomsky di Tanah Papua: Ketika Militerisme Menjadi Bahan Bakar Perlawanan
Noam Chomsky, sang linguis sekaligus kritikus sosial paling tajam abad ini, pernah melontarkan tesis yang menampar wajah kekuatan global: "Jika kita ingin berhenti menjadi sasaran terorisme, kita harus berhenti menjadi pelakunya." Bagi Chomsky, terorisme bukan sekadar aksi kekerasan tanpa sebab (random acts of violence), melainkan sebuah reaksi atas intervensi militer, eksploitasi ekonomi, dan ketidakadilan sistemik yang dipaksakan oleh kekuatan besar terhadap entitas yang lebih lemah. Jika kita menarik garis merah pemikiran Chomsky ke dalam konteks domestik Indonesia, maka cermin itu akan mengarah tepat ke satu titik panas yang tak kunjung mendingin: Papua. Kekerasan yang Melahirkan Kekerasan Chomsky berargumen bahwa kebijakan luar negeri yang intervensionis sering kali menjadi akar masalah. Di Papua, kita melihat pola serupa namun dalam skala internal. Selama berpuluh-puluh tahun, pendekatan keamanan (security approach) yang kaku telah menjadi "menu ut...