Jumat, 30 Juli 2021

Tenggelam



Pentigraf: Yant Kaiy

Aku telah melewati batasan-batasan harga diri sebagai seorang perempuan. Walau dunia pendidikanku lebih tinggi dari orang-orang baru disekitar. Empat belas tahun aku ikut suami bekerja sebagai karyawan di pabrik makanan ringan. Dia orang terpelajar juga. Tapi nasib berbicara lain. Impian tak sesuai kenyataan.

 

Menikmati hidup bersama tiga orang putra banyak tantangan. Butuh kesabaran dalam suasana serba kekurangan uang belanja. Namun kami tak mau menyerah, pasrah pada himpitan cobaan. Kami terus bergerak menggapai apa yang kami bisa. Tak kenal lelah, tak mudah menyerah.

 

Kami terus tenggelam dalam baris-baris doa sepanjang malam sunyi. Sebab syukur tidak hanya lewat ucapan.[]

 

Pasongsongan, 30/7/2021



Rabu, 28 Juli 2021

Mencekam



Pentigraf: Yant Kaiy

Tonah segera menyulut sebatang rokok. Hatinya tiba-tiba ciut ketika mendengar kabar suaminya ditangkap pihak kepolisian. Kasus korupsi anggaran di kantor suaminya bekerja terbongkar. Banyak pegawai lainnya terlibat. Kejahatan berjamaah.

 

Pikirannya menerawang jauh. Tonah mencari celah. Bagaimanapun caranya, ia harus menyelamatkan suaminya. Bukankah selama ini ia menikmati hasil tindak kejahatannya. Hati nurani tidak mungkin bisa dibohongi.

 

Lalu Tonah menghubungi para istri yang suaminya ditangkap lewat handphone. Ada kesepakatan kalau mereka akan membayar pengacara mahal.[]

 

Pasongsongan, 29/7/2021



Vaksin Covid-19 dan Kepercayaan Masyarakat



Catatan: Yant Kaiy

Membangun kepercayaan penduduk di tanah air terhadap vaksin Covid-19 sungguh sulit. Tidak sedikit warga masyarakat saat ini yang menolak injeksi vaksin. Sedangkan kampanye gencar pemerintah terus digalakkan, bahwa vaksin itu aman. Vaksin membangun imun tubuh agar terhindar dari serangan virus corona.

 

Tapi ada pula beberapa pakar vaksin dan dokter yang menentang propaganda pemerintah. Mereka mengetengahkan argumen ilmiah tentang vaksin dan tetek bengeknya. Pro-kontra pun meluncur mulus diberbagai mass media, baik cetak dan elektronik. Apalagi di genggaman tangan publik ada handphone android, mereka leluasa tanpa batas bisa menyerap informasi.

 

Masyarakat luas saat sekarang bisa menilai mana yang benar dan salah, mana hoax dan fitnah. Bukankah hati nurani takkan bisa dibohongi. Tak mungkin rasa manis dibilang pahit, kecuali orang itu sedang sakit.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Selasa, 27 Juli 2021

Petani Tembakau di Ujung Harapan



Catatan: Yant Kaiy

Sebagian kecil petani tembakau di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep mulai panen. Mau tidak mau daun tembakau itu harus dipetik karena sudah menguning. Lagi pula daun bagian bawah tanaman tembakau telah mengering.

 

Hingga saat ini (Rabu, 28/7/2021) masih belum ada tanda-tanda gudang pabrikan rokok di Madura akan membuka pembelian. Kendati begitu, petani tembakau tetap optimis kalau hasil panennya akan ada yang membeli. Pijakan simple pemikiran mereka karena masih banyak orang merokok. Walau nanti mungkin harga tembakau rajang tidak seindah impian para petani.

 

Kita tahu bersama, bahwa gudang kecil perusahaan rokok lokal di Madura mulai banyak bermunculan. Serapan tembakau rajang otomatis lumayan besar. Hasil produksi dari home industri ini menyasar kebutuhan konsumen kelas menengah.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Syekh Ali Akbar: Penyebar Islam Pertama di Pantura Madura

Makam Syekh Ali Akbar (kiri) dan istri. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Syekh Ali Akbar Syamsul Arifn erat kaitannya dengan Desa Pasongsongan. Nama Pasongsongan berasal dari kata “songsong” yang berarti “sambut”. Penyambutan setiap Raja Sumenep yang datang ke daerah Syekh Ali Akbar inilah nama Pasongsongan mengemuka. Beliau dikenal sebagai sosok penyebar agama Islam di wilayah pantai utara (pantura) Pulau Garam Madura. Islam berkembang pesat berkat dakwahnya.

 

Syekh Ali Akbar wafat 14 Jumadil Akhir 1000 dan dikebumikan di Dusun Pakotan Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Setiap hari banyak peziarah datang dari berbagai daerah di luar kota.

 

Syekh Ali Akbar mendapat hadiah dari Bindara Saod (Raja Sumenep) berupa tanah luas di Pasongsongan. Beliau banyak membantu Kerajaan Sumenep dalam banyak hal. Salah satunya ketika putri beliau bersama pasukan Kerajaan Sumenep menang perang melawan penjajah Belanda di Aceh.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Minggu, 25 Juli 2021

Tak Sanggup



Pentigraf: Yant Kaiy

Aku tak bisa lagi berpikir normal ketika tumpukan persoalan hidup meledak di otakku. Tak bisa lagi mengimla apalagi menemukan solusi. Jalan pikiran menjadi buntu. Segala keinginan sederhana hancur berkeping-keping.

 

Kalau sudah begitu, aku tidur untuk menemukan angin segar ketenangan. Beruntung aku dikarunia bisa nyenyak tidur meski himpitan hidup menyesakkan rongga dada.

 

Istri dan uang tak ubahnya musuh dalam selimut. Tak jarang merongrong keimananku. Menerjang harga diri. Haruskah kutinggalkan mereka diantara pengertian saling memberi dan menerima tak menemukan noktah bahagia. Seperti banyak impian insan di alam fana ini.[]

 

Pasongsongan, 26/7/2021



Virus Corona



Pentigraf: Yant Kaiy

Kepergiannya telah memasung sisa hidupku. Ia terpapar virus corona kata tim dokter dari pihak rumah sakit suamiku dirawat. Kami ikhlas diantara beban berat karena ada tiga anak yang harus kubesarkan. Bertambah besar tanggung jawabku karena harus melunasi cicilan di bank.

 

Tidak ada kerja. Kami tenggelam dalam telaga derita tak berpantai. Makan seadanya. Tak menerima bantuan, terlepas dari bidikan kebijakan pemerintah. Maka kujual apa saja yang bisa dijual selain keimanan di dada.

 

Bertahan pada titian kemiskinan. Kucurahkan segala kata di kalbu kepada-Nya. Karena sebagian besar manusia sulit dipercaya.[]

 

Pasongsongan, 26/7/2021



Tak Lagi di Menara Sukses



Pentigraf: Yant Kaiy

Kekhawatiran yang dulu pernah terlintas kini menjadi kenyataan. Karier sukses sekian lama terengkuh sirna ditelan persaingan. Satu demi satu kekayaanku terjual hingga tak tersisa. Bersama istri aku terus mencoba bangkit dari lembah kebangkrutan.

 

Proses panjang itu membuahkan hasil. Tapi bukan dari tanganku, melainkan dari karya istriku. Hidupku pun terdikte. Pijakan haluanku terombang-ambing. Hilang hormat istriku. Aku kalah dalam banyak hal. Keputusan rumah tangga kami ada di tangannya.

 

Puncaknya dia meninggalkan aku karena pertengkaran. Aku mempertahankan wibawa sebagai seorang suami.[]

 Pasongsongan, 26/7/2021



BPNT Desa Pasongsongan Hampir Tuntas

Hanira, pemilik Agen Salera Desa/Kecamatan Pasongsongan-Sumenep. (Foto: Yant Kaiy)


Sumenep – Salera merupakan salah satu agen BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) dari dua agen yang ada di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Hanira pemilik Agen Salera mengakui kalau pencairan kali ini agak tersendat. Hal itu dikarenakan kurang lancarnya pengiriman dari supplier.

 

“Ini bukan faktor kelalaian dari kami sebagai pemilik Agen Salera. Kita maklum karena adanya penerapan PPKM (Pemberlakuan Pembatasab Kegiatan Masyarakat) disemua sektor sehingga pasokan kurang lancar,” terang Hanira seraya melayani penerima bantuan. Ahad (25/7/2021).

 

Wanita dua orang anak ini menambahkan, bahwa pencairan BPNT di Desa Pasongsongan secara keseluruhan sudah hampir tuntas. Jalinan komunikasi dengan penerima manfaat BPNT senantiasa ia lakukan, yakni dengan membuka layanan pengaduan dan informasi konsumen. (Yant Kaiy)



Tatapan Menghanyutkan



Pentigraf: Yant Kaiy

Beragam cerita kenakalannya telah menghias acara kumpul bersama disalah satu warung kopi di desaku. Rasa ingin tahu kebenaran itu menggelitik kalbu. Walau tak ada guna bagiku karena dia telah mempunyai dua anak dengan kehidupan lumayan mapan.

 

Pada suatu kesempatan kami dipertemukan pada sebuah kegiatan bakti sosial. Aku menghormati dia karena posisi distruktur organisasi lebih tinggi. Kewenangan ada padanya. Apa perintahnya harus kuselesaikan.

 

Benar saja, ketika kami berjabat tangan, jemari telunjuknya digerakkan ditelapak tanganku. Aku kaget. Tapi aku segera mengendalikan diri karena banyak orang. Ia menatapku dengan seutas senyum penuh makna.[]

 

Pasongsongan, 25/7/2021



Istriku di Pelukan Pria Lain



Pentigraf: Yant Kaiy

Aku tak sanggup membendung luapan lahar kecewa dari sekian lama derita merenggut bahagia. Barangkali air mata tidak bisa lagi mewakilkan segenap lara menghujam jiwa. Terpatri kuat. Lantaran mereka tak percaya kalau diriku baik-baik saja; tak pernah berubah sikapku menghadapi situasi pelik ini.

 

Harga diriku ternoda. Aib itu melumat habis menara rumah tangga kami. Bukan tak sanggup aku mengangkat senjata tajam untuk menghabisinya. Tapi istriku punya jalan lain menempuh bahagia. Kedua anakku ikut mereka. Meninggalkan rumah kecil hasil jerih-payahku sebagai kuli angkut di pasar.

 

Jujur, aku tak mau jadi pembunuh. Biarlah mereka bahagia. Tuhan Maha Tahu yang benar dan gelap. Semua perilaku hamba-Nya bakal mendapat ganjaran setimpal. Mau apa lagi…[]

 

Pasongsongan, 25/7/2021



Bedebah



Pentigraf: Yant Kaiy

Kutengadahkan wajah ini ketika ia berbicara penuh kebencian. Kuikuti saja gerak matanya. Tetap saja ia tak peduli akan perubahan sikapku. Seolah tidak ada apa-apa.

 

Sekian lama aku terus mencoba memahaminya. Sampai juga benak pada titik pengertian sangat mengecewakan. Pengorbanan ikhlasku seakan angin lalu. Ini jelas tidak adil. Kewajiban dan hak tidak seiring-sejalan. Bagai raja zalim yang menuntut rakyatnya untuk terus memahami nafsu keliru miliknya.

 

Aku tak mau berhubungan apa pun lagi dengannya sebagai bentuk protes. Terkuras sudah sungai cintaku. Walau raga tetap miliknya, tetapi hati tidak.[]

 

Pasongsongan, 25/7/2021



Jumat, 23 Juli 2021

Persiapan Penen Tembakau Madura



Catatan: Yant Kaiy

Dalam hitungan beberapa hari ke depan, sebagian petani tembakau di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Madura akan panen. Tanda tanaman tembakau siap panen, yakni bunga tembakau dipetik (toko’) dan daun kecil yang tersembul di atas gagang daun (solang) dibuang.

 

Tujuan tanaman tembakau bunganya dipetik agar cepat menua dan daun tembakau menguning. Sedangkan membuang daun kecil (solang) agar daun lebih tebal. Seiring itu pula, otomatis berat daun tembakau bertambah.

 

Proses persiapan panen tembakau ini penting dilakukan bagi para petani agar hasil panen berkualitas bagus. Karena disamping rupa tembakau rajang yang menjadi kriteria harga menjadi tinggi, tak kalah penting adalah persoalan taste atau cita rasa.

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com




Sehat Ala CEO Therapy Banyu Urip Yogyakarta



Yogyakarta – MS Arifin, CEO Therapy Banyu Urip International Yogyakarta tadi malam melakukan siaran pers secara virtual via sosial media. Jumat (23/7/2021). Lewat press release ia menegaskan, penting sekali bagi siapa saja untuk terus menjaga imun tubuh saban harinya.

 

“Pancaroba merupakan pergantian musim. Biasanya, pancaroba selalu mendatangnya wabah penyakit. Lumrah, orang yang daya tahan tubuhnya kurang fit akan mudah terserang penyakit,” tegas MS Arifin.

 

Cara instan paling efektif menurutnya, yaitu selalu menjaga pola makan dan minum seimbang serta tidur yang cukup. Disamping itu rajin berolah raga sampai mengeluarkan keringat.

 

“Minum air kelapa dicampur jeruk nipis dan madu adalah kebiasaan kami. Resep ini kiranya bisa dipraktekkan supaya kita tetap bugar, tidak keok oleh penyakit. Solusi inti dari semua itu, kita wajib hukumnya untuk giat beribadah. Membuang pemikiran negatif juga tidak kalah pentingnya,” pungkas MS Arifin. (Yant Kaiy)



Mendung dan Tembakau Madura



Catatan: Yant Kaiy

Sebagian besar tanaman tembakau di wilayah Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep sisi utara masih belum panen. Meskipun tanaman tembakau banyak yang sudah siap dirajang. Terlihat daun tanaman tembakau itu sudah mulai menguning.

 

Ada beberapa faktor kenapa tanaman bahan dasar kebutuhan rokok itu belum dipanen. Salah satunya soal cuaca seringkali mendung. Sesekali rinai turun. Kalaupun panas tidak begitu terik. Sehingga ada kekhawatiran dari para petani kalau tembakau yang sudah dirajang tidak kering dalam sehari. Kita tahu kalau kualitas tembakau rajang yang bagus harus kering dalam sekali jemur.

 

Persoalan kedua, hingga akhir Juli 2021, kali ini kepastian gudang pabrik rokok besar yang ada di Madura belum ada tanda-tanda akan membuka pembelian. Tentu semua ini karena pandemi Covid-19 yang belum kunjung berakhir.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Rabu, 21 Juli 2021

Ziarah Kubur



Pentigraf: Yant Kaiy

Walau sudah lebih sembilan tahun kepergian Ibu, tapi kenangan bersamanya seperti kemarin saja. Akibat sakit stroke dideritanya telah melumpuhkan segala gerak tubuh diusianya lebih 80 tahun. Makan, minum, bahkan membuang kotoran di tempat pembaringannya. Sedih rasanya jika mengenang saat-saat Ibu mau memiringkan raganya harus dibantu oleh kami sembari menahan sakit.

 

Setiap aku berada di pusara Ibu, senantiasa dari sudut mata ini mengalir air bening tanpa terkendali. Kulantunkan untaian doa agar arwah Ibu tetap mendapat ampunan dari Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Aku yakin Tuhan akan mengabulkan permohonan kami. Karena Ibu orang terbaik yang pernah kami miliki. Kasih sayang Ibu tak terbatas waktu dan tak berpantai.

 

Maka sangat merugi manusia telah menyia-nyiakan bentuk kasih sayangnya. Berperilaku dosa, berbuat jahat terhadap sesama demi nafsu dunia. Padahal Ibu menghendaki kita sebagai anak-anaknya untuk berbuat amal kebajikan sepanjang hayat di kandung badan.[]

 

Pasongsongan, 21/7/2021



Selasa, 20 Juli 2021

Nuansa Idul Adha 2021 di Desa Pasongsongan

Khutbah Idul Adha 2021 di Masjid Al-Istikmal (kiri) dan suasana pelaksanaan shalat Idul Adha di Masjid At-Taqwa Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Suasana Lebaran Idul Adha (Selasa, 20/7/2021) di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep tahun ini memang kurang begitu semarak. Tidak ada bunyi petasan. Tidak ada takbir keliling. Namun gema takbir tetap berkumandang dari loudspeaker tiap masjid dan musholla.

 

Pada pagi hari sebelum melaksanakan shalat Idul Adha, masyarakat berziarah kubur. Sehabis shalat mereka bersilaturahmi pada para tetangga terdekat. Begitulah tradisi Islami tiap tahun yang berlaku di wilayah bumi Pulau Garam Madura.

 

Masyarakat tingkat akar rumput menyadari betul, bangsa Indonesia saat sekarang dalam masa pandemi Covid-19. Menurut laporan dan data pihak medis, banyak korban berjatuhan karena virus corona. Inilah salah satu faktor dominan kenapa warga Pasongsongan begitu sederhana dalam berlebaran.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Senin, 19 Juli 2021

Penjual Daging Sapi Dadakan di Pasar Pao Pasongsongan

Penjual daging sapi musiman di Pasar Pao Desa/Kecamatan Pasongsongan Sumenep. (Foto: Yant Kaiy)


Sumenep – Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap H-1 Lebaran Idul Adha di Pasar Pao Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep selalu ada penjual daging sapi dadakan. Seperti tadi pagi (Senin, 19/7/2021) semua dagangan mereka terjual habis. Padahal tidak hanya dua orang yang berjualan daging sapi.

 

Pedagang musiman ini tentu mendapatkan keuntungan lumayan besar. Sebab harga sapi dibanyak pasar hewan di Pulau Garam Madura lagi memburuk.

 

Ditinjau dari daya beli masyarakat, boleh dikata masih terbilang rendah. Mereka rata-rata membeli daging sapi tidak lebih dari satu kilogram. Hal ini disebabkan oleh pandemi Covid-19 yang belum kunjung usai. (Yant Kaiy)



Rabu, 14 Juli 2021

Antologi Puisi Fragmen Nasib (41)



Karya: Yant Kaiy


Jalan Pagi

embun membasahi kelopak sang gembala pada bajunya

saat kuberangkat sekolah menempuh angan semu di mayapada

tergeletak, kubentangkan hasrat membuncah tak karuan

berdiri menatap panorama indah seiring kemesraan jiwa

lukisan jati diri membuai bola mata serentang usia begitu pahit

selalu kubawa bekal hidup penyambung nyawa

menenteng keletihan menampar harapan mengharu biru

melapuk mimpi pembawa malapetaka, kehidupan pun tak karuan

bersandar lenyapkan lara diantara detak jantung

bukankah pagi masih terlalu hijau dipenantian

menggali tunpahan animo di petak-petak sawahku

 

menyusuri lamunan tanpa makna berarti

mengapuri kehangatan kasih ketika saling berdekatan

darimu, seorang dara berparas ayu pembawa malam rindu

memacu langkah diri diayun hari-hari melelahkan

lumpuhkan selera beraneka gerak tak bergairah

kubacok rembulan dalam keterasingan menentang maut

tak ayal raga bermandi darah berkolam-kolam

melanda jiwa, merekayasa keokkan diri terjungkal dari arena

 

cukup bagiku meneguk air tanpa halusinasi berkepanjangan

yang ada hanyalah kenyataan hilangkan gambaran

selebihnya resah menelanjangi gulita berkaribkan ilusi

tumbuh dan berkembang bunga-bunga di hati

mengaromakan ketulusan serentang hayat

entah sampai kapan aku terkurung syair kerinduan

berlabuh kesombongan mengembalakan kambing-kambingku

tertelan mengutuki kehampaan mengelabui gundah menumpuk

 

Kugarangkan dendam hampir menguning

membeslah segala segala terlihat mata

meletup benci, mencair terterpa bías mentari

meniscaya kian langkahku, berpacu seiring waktu

amblas kemalas-malasan tanpa kidung kecewa.

Sumenep, 01/09/1988



Antologi Puisi Fragmen Nasib (40)



Karya: Yant Kaiy

Akhir Agustus

1

problema mengguncang gunung keyakinan

silih-berganti menyerang tanpa ampun

setelah di lapangan volly ball

tawa dan canda menghiasi liku hidup

 

2

teman sekolah mulai berdatangan

tanya sini tanya sana

akrablah suasana, bersahaja

kupolesi beragam cerita pembawa berita

berlomba menaklukkan puing kemelaratan

mengeram sulit terelakkan

 

3

asmara mencambuk keraguan-keraguanku merawat beraneka halusinasi terbawa halimun mengembara, menyusuri rimba kenistaan dengan bahtera diombang-ambingkan angin musin ke nadi-nadi kehidupanku. pagi sampai sore buah kenangan begitu mulus bergelinding kesebuah slogan asa merenda semangat tersisa. tanpa bisa dihindari tangis sesekali menetaskan lamunan diantara rimba mengubur kelaknatan memberondong raga terus menyobek tanpa ampun lagi. telah tertata kegamangan lenyapkan permusuhan dan berkobarlah rindu menyiksa tidur beralaskan kabut mimpi terteror putus tali kemesraan mengurung lamunan tiada bertepi.  aku tetap berupaya bangkit dari lemah pikiran mencoba menggali nostalgia bagi keberlangsungan keceriaan pagi berkabut.

 

4

kubangun dari tidur melelahkan segala persendian

semalaman kutakdapat pejamkan kenangan manis itu

khayalan melambung ke awang-awang tanpa nakhoda pembawa tujuan

akhirnya bintang menuntun kemana seharusnya kaki melangkah

kurahasiakan tentang perkelahian pada angin kemarau

agar kutak terdampar pada kegelapan liku hidup.

Sumenep, 28/08/1988



Antologi Puisi Fragmen Nasib (39)



Karya: Yant Kaiy

Masa Lalu

banyak yang ingin kulukiskan pada kertas

tentang kebodohanku ketika di sekolah dasar

ditipu, ditodong sampai lahirlah sesal

rasanya aku ingin membalas dendam

biar tahu rasa, biar aku bangga

menunjukkan kemanpuanku kini

 

berulangkali kutamatkan cerita masa lalu

namun tak bisa lantaran hati masih luka

sebenarnya aku tak mau

dendam menjadi penggerak

dalam kehidupanku berbalut derita

kumau  sewajarnya bersosial

karena penyakit itu sembuh oleh sabar

 

teman tetaplah sehat dipergaulan

tak ada untungnya melaknat

walau tetap ada segelintir kebencian

menghiasi kemana langkah kakí

aku tak peduli lagi.

Sumenep, 27/08/1989



Antologi Puisi Fragmen Nasib (38)



Karya: Yant Kaiy

Jalan Gelap

seringkali kakí terantuk batu di jalan kampung

tanah becek tetap kulalui begitu menyiksa tanpa selera

lepaskan gamang dari kulit kepastian

naluri merangkak bentuk mimpi melambung ke awang-awang

ternatal serpihan asa membanjiri halusinasi dikesepian jiwa

acapkali melebar kekecewaan ketika bersamanya

sebab tak selamanya khayal selaras kenyataan

ada beda diantara keinginan kami berdua

 

berderai dendam dalan selimut

tatkala kalbu tersakiti merebut kemenangan

tersusun kata sukar terurai kedalam sebiji protes

cukup lama kumenunggu berhenti darah muncrat

terkuliti daging benak melukiskan penyesalan

tertutup kata-kata maaf yang sering terdengar

berdosakah segala perilaku?

 

menantang keping kepahitan terurai

melempar jangkar keinginan dihempas gelombang

meski aku sudah muak rayu manisnya

terlanjur mengutuki diri serba tak mengerti

apakah memang suatu kebajikan yang disuguhkan?

mustahil kebencianku terbalas oleh manis senyum dia

seiring waktu menggilas matahari

 

lalu kutak lagi memanah sengketa

terlalu buruk terdengar melontarkan sumpah

kalimat comber pembasmi persahabatan

tak bijak rasanya sesama teman sekolah

aku tak terbiasa menyimpan benci berlarut-larut

biarlah mereka tetap mengimla pancaroba

 

kubiarkan kejahatannya, kebusukannya tak hidup lagi

kuingin menyiraminya dengan bunga-bunga surga

sebagaimana para nabi mengedepankan sabar

takkan pernah ada lagi segala siksa mendera

diperjalanan panjang selaku anak sekolah

biar raga tetap terlelap menyusuri kehangatan

agar kobar api harapan tak pernah padam

membakar hutan kebimbangan hingga jadi abu

 

kisah sepotong lukamu tetap kubalut rapi

kukulkaskan jera mengitari tanpa hasrat dengki

hanya pernik-pernik penggoda tanpa suara

aku terus mengalah meski bukan berarti kalah

kubawa kembali mimpi-mimpi kita

tergantung rindu terjebak di lembah penantian.

Sumenep, 23/08/1988



Antologi Puisi Fragmen Nasib (37)



Karya: Yant Kaiy

Kutulis Apa Adanya

perjalanan melelahkan tanpa bekal

mengopeni, menyelami jurang derita

kupetik buah hikmah berserakan

merenda hakikat kekecewaan

menguak bulat tekad merah saga

tertancap halusinasi di pinggiran kali

kejernihan hasratku rasanya tak tertandingi

hanya kehidupan abadi dengan iba di hati

 

selalu bersabar atas beragam coba tak terelakkan

melebar luka terbacok kesombongan

kedengkian itu terus mengiris lembut jiwa

tergambar bentuk bayangan wajah dara tercinta

mengguncang hati layu diantara mimpi

kureguk asmara derita menganga

di bebatuan kutulis beraneka sengketa

bersuara tak bermakna, menjerit tiada arti

 

kututup misteri menggoyahkan bahtera

terlantun rindu tak terbalas atas kemunafikannya

lepas dari sarang kepastianku melangkah

membuncah kebencian tanpa arah

diketerasingan kuberteriak panggil insan

mereka tidak terketuk, bergeming dalam sunyi

kubasuh tangan dari kotoran menelanjangi malam

 

daki lengket di porí raga

menanti siraman embun dari lazuardi

tak sanggup menahan dahaga membadai.

Sumenep, 21/08/1988



Minggu, 11 Juli 2021

BPNT Desa Pasongsongan Cair Tiga Bulan

Hanira, pemilik Agen Salera di Dusun Morasen Desa/Kecamatan Pasongsongan-Sumenep. (Foto: Yant Kaiy)


Sumenep – Tidak hanya masyarakat penerima manfaat BPNT (Bantuan Pangan Non-Tunai), aparatur Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep juga sangat gembira demi mengetahui kalau BPNT kali ini cair tiga bulan.

 

“Sebagai pemilik Agen Salera,  saya juga merasa pantas bersyukur. Karena masyarakat Desa Pasongsongan yang mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan, saat ini masih belum musim ikan. Jadi mereka benar-benar dalam kondisi serba kekurangan. Ditambah lagi pekan depan warga masyarakat akan merayakan Lebaran Idul Adha,” ujar Hanira di tengah-tengah melayani warga masyarakat penerima manfaat BPNT. Ahad (11/7/2021).

 

Wanita berkacamata ini menambahkan, dimasa pandemi Covid-19 kali ini dirinya juga sangat bangga terhadap mereka yang taat Prokes (Protokol Kesehatan).

 

“Dalam mencegah kerumunan, kami tetap menjadwal waktu penerima manfaat sedemikian rupa. Mereka juga dianjurkan untuk mengenakan masker dan menjaga jarak,” terang Hanira mengakhiri perbincangan.

 

Ada tambahan sedikit. Jadwal pencairan BPNT yang kedua dan ketiga direncanakan minggu depan. (Yant Kaiy)



# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...