Aku
telah melewati batasan-batasan harga diri sebagai seorang perempuan. Walau
dunia pendidikanku lebih tinggi dari orang-orang baru disekitar. Empat belas
tahun aku ikut suami bekerja sebagai karyawan di pabrik makanan ringan. Dia orang
terpelajar juga. Tapi nasib berbicara lain. Impian tak sesuai kenyataan.
Menikmati
hidup bersama tiga orang putra banyak tantangan. Butuh kesabaran dalam suasana
serba kekurangan uang belanja. Namun kami tak mau menyerah, pasrah pada
himpitan cobaan. Kami terus bergerak menggapai apa yang kami bisa. Tak kenal
lelah, tak mudah menyerah.
Kami
terus tenggelam dalam baris-baris doa sepanjang malam sunyi. Sebab syukur tidak
hanya lewat ucapan.[]
Tonah
segera menyulut sebatang rokok. Hatinya tiba-tiba ciut ketika mendengar kabar
suaminya ditangkap pihak kepolisian. Kasus korupsi anggaran di kantor suaminya
bekerja terbongkar. Banyak pegawai lainnya terlibat. Kejahatan berjamaah.
Pikirannya
menerawang jauh. Tonah mencari celah. Bagaimanapun caranya, ia harus
menyelamatkan suaminya. Bukankah selama ini ia menikmati hasil tindak
kejahatannya. Hati nurani tidak mungkin bisa dibohongi.
Lalu
Tonah menghubungi para istri yang suaminya ditangkap lewat handphone. Ada
kesepakatan kalau mereka akan membayar pengacara mahal.[]
Membangun
kepercayaan penduduk di tanah air terhadap vaksin Covid-19 sungguh sulit. Tidak
sedikit warga masyarakat saat ini yang menolak injeksi vaksin. Sedangkan kampanye
gencar pemerintah terus digalakkan, bahwa vaksin itu aman. Vaksin membangun
imun tubuh agar terhindar dari serangan virus corona.
Tapi
ada pula beberapa pakar vaksin dan dokter yang menentang propaganda pemerintah.
Mereka mengetengahkan argumen ilmiah tentang vaksin dan tetek bengeknya.
Pro-kontra pun meluncur mulus diberbagai mass media, baik cetak dan elektronik.
Apalagi di genggaman tangan publik ada handphone android, mereka leluasa tanpa
batas bisa menyerap informasi.
Masyarakat
luas saat sekarang bisa menilai mana yang benar dan salah, mana hoax dan
fitnah. Bukankah hati nurani takkan bisa dibohongi. Tak mungkin rasa manis
dibilang pahit, kecuali orang itu sedang sakit.[]
Sebagian
kecil petani tembakau di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep mulai
panen. Mau tidak mau daun tembakau itu harus dipetik karena sudah menguning.
Lagi pula daun bagian bawah tanaman tembakau telah mengering.
Hingga
saat ini (Rabu, 28/7/2021) masih belum ada tanda-tanda gudang pabrikan rokok di
Madura akan membuka pembelian. Kendati begitu, petani tembakau tetap optimis
kalau hasil panennya akan ada yang membeli. Pijakan simple pemikiran mereka
karena masih banyak orang merokok. Walau nanti mungkin harga tembakau rajang
tidak seindah impian para petani.
Kita
tahu bersama, bahwa gudang kecil perusahaan rokok lokal di Madura mulai banyak
bermunculan. Serapan tembakau rajang otomatis lumayan besar. Hasil produksi
dari home industri ini menyasar kebutuhan konsumen kelas menengah.[]
Makam Syekh Ali Akbar (kiri) dan istri. (Foto: Yant Kaiy)
Catatan: Yant Kaiy
Syekh
Ali Akbar Syamsul Arifn erat kaitannya dengan Desa Pasongsongan. Nama
Pasongsongan berasal dari kata “songsong” yang berarti “sambut”. Penyambutan
setiap Raja Sumenep yang datang ke daerah Syekh Ali Akbar inilah nama
Pasongsongan mengemuka. Beliau dikenal sebagai sosok penyebar agama Islam di
wilayah pantai utara (pantura) Pulau Garam Madura. Islam berkembang pesat
berkat dakwahnya.
Syekh
Ali Akbar wafat 14 Jumadil Akhir 1000 dan dikebumikan di Dusun Pakotan Desa/Kecamatan
Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Setiap hari banyak peziarah datang dari
berbagai daerah di luar kota.
Syekh
Ali Akbar mendapat hadiah dari Bindara Saod (Raja Sumenep) berupa tanah luas di
Pasongsongan. Beliau banyak membantu Kerajaan Sumenep dalam banyak hal. Salah
satunya ketika putri beliau bersama pasukan Kerajaan Sumenep menang perang
melawan penjajah Belanda di Aceh.[]
Aku
tak bisa lagi berpikir normal ketika tumpukan persoalan hidup meledak di
otakku. Tak bisa lagi mengimla apalagi menemukan solusi. Jalan pikiran menjadi
buntu. Segala keinginan sederhana hancur berkeping-keping.
Kalau
sudah begitu, aku tidur untuk menemukan angin segar ketenangan. Beruntung aku
dikarunia bisa nyenyak tidur meski himpitan hidup menyesakkan rongga dada.
Istri
dan uang tak ubahnya musuh dalam selimut. Tak jarang merongrong keimananku.
Menerjang harga diri. Haruskah kutinggalkan mereka diantara pengertian saling
memberi dan menerima tak menemukan noktah bahagia. Seperti banyak impian insan
di alam fana ini.[]
Kepergiannya
telah memasung sisa hidupku. Ia terpapar virus corona kata tim dokter dari
pihak rumah sakit suamiku dirawat. Kami ikhlas diantara beban berat karena ada
tiga anak yang harus kubesarkan. Bertambah besar tanggung jawabku karena harus
melunasi cicilan di bank.
Tidak
ada kerja. Kami tenggelam dalam telaga derita tak berpantai. Makan seadanya. Tak
menerima bantuan, terlepas dari bidikan kebijakan pemerintah. Maka kujual apa
saja yang bisa dijual selain keimanan di dada.
Bertahan
pada titian kemiskinan. Kucurahkan segala kata di kalbu kepada-Nya. Karena sebagian
besar manusia sulit dipercaya.[]
Kekhawatiran
yang dulu pernah terlintas kini menjadi kenyataan. Karier sukses sekian lama
terengkuh sirna ditelan persaingan. Satu demi satu kekayaanku terjual hingga
tak tersisa. Bersama istri aku terus mencoba bangkit dari lembah kebangkrutan.
Proses
panjang itu membuahkan hasil. Tapi bukan dari tanganku, melainkan dari karya
istriku. Hidupku pun terdikte. Pijakan haluanku terombang-ambing. Hilang hormat
istriku. Aku kalah dalam banyak hal. Keputusan rumah tangga kami ada di
tangannya.
Puncaknya
dia meninggalkan aku karena pertengkaran. Aku mempertahankan wibawa sebagai
seorang suami.[]
Sumenep – Salera merupakan salah satu agen BPNT (Bantuan
Pangan Non Tunai) dari dua agen yang ada di Desa/Kecamatan Pasongsongan
Kabupaten Sumenep. Hanira pemilik Agen Salera mengakui kalau pencairan kali ini
agak tersendat. Hal itu dikarenakan kurang lancarnya pengiriman dari supplier.
“Ini
bukan faktor kelalaian dari kami sebagai pemilik Agen Salera. Kita maklum
karena adanya penerapan PPKM (Pemberlakuan Pembatasab Kegiatan Masyarakat) disemua
sektor sehingga pasokan kurang lancar,” terang Hanira seraya melayani penerima
bantuan. Ahad (25/7/2021).
Wanita
dua orang anak ini menambahkan, bahwa pencairan BPNT di Desa Pasongsongan
secara keseluruhan sudah hampir tuntas. Jalinan komunikasi dengan penerima
manfaat BPNT senantiasa ia lakukan, yakni dengan membuka layanan pengaduan dan
informasi konsumen. (Yant Kaiy)
Beragam
cerita kenakalannya telah menghias acara kumpul bersama disalah satu warung
kopi di desaku. Rasa ingin tahu kebenaran itu menggelitik kalbu. Walau tak ada
guna bagiku karena dia telah mempunyai dua anak dengan kehidupan lumayan mapan.
Pada
suatu kesempatan kami dipertemukan pada sebuah kegiatan bakti sosial. Aku
menghormati dia karena posisi distruktur organisasi lebih tinggi. Kewenangan
ada padanya. Apa perintahnya harus kuselesaikan.
Benar
saja, ketika kami berjabat tangan, jemari telunjuknya digerakkan ditelapak
tanganku. Aku kaget. Tapi aku segera mengendalikan diri karena banyak orang. Ia
menatapku dengan seutas senyum penuh makna.[]
Aku
tak sanggup membendung luapan lahar kecewa dari sekian lama derita merenggut
bahagia. Barangkali air mata tidak bisa lagi mewakilkan segenap lara menghujam
jiwa. Terpatri kuat. Lantaran mereka tak percaya kalau diriku baik-baik saja;
tak pernah berubah sikapku menghadapi situasi pelik ini.
Harga
diriku ternoda. Aib itu melumat habis menara rumah tangga kami. Bukan tak
sanggup aku mengangkat senjata tajam untuk menghabisinya. Tapi istriku punya
jalan lain menempuh bahagia. Kedua anakku ikut mereka. Meninggalkan rumah kecil
hasil jerih-payahku sebagai kuli angkut di pasar.
Jujur,
aku tak mau jadi pembunuh. Biarlah mereka bahagia. Tuhan Maha Tahu yang benar
dan gelap. Semua perilaku hamba-Nya bakal mendapat ganjaran setimpal. Mau apa
lagi…[]
Kutengadahkan
wajah ini ketika ia berbicara penuh kebencian. Kuikuti saja gerak matanya.
Tetap saja ia tak peduli akan perubahan sikapku. Seolah tidak ada apa-apa.
Sekian
lama aku terus mencoba memahaminya. Sampai juga benak pada titik pengertian
sangat mengecewakan. Pengorbanan ikhlasku seakan angin lalu. Ini jelas tidak
adil. Kewajiban dan hak tidak seiring-sejalan. Bagai raja zalim yang menuntut
rakyatnya untuk terus memahami nafsu keliru miliknya.
Aku
tak mau berhubungan apa pun lagi dengannya sebagai bentuk protes. Terkuras
sudah sungai cintaku. Walau raga tetap miliknya, tetapi hati tidak.[]
Dalam
hitungan beberapa hari ke depan, sebagian petani tembakau di Desa/Kecamatan
Pasongsongan Kabupaten Sumenep Madura akan panen. Tanda tanaman tembakau siap
panen, yakni bunga tembakau dipetik (toko’)
dan daun kecil yang tersembul di atas gagang daun (solang) dibuang.
Tujuan
tanaman tembakau bunganya dipetik agar cepat menua dan daun tembakau menguning.
Sedangkan membuang daun kecil (solang)
agar daun lebih tebal. Seiring itu pula, otomatis berat daun tembakau
bertambah.
Proses
persiapan panen tembakau ini penting dilakukan bagi para petani agar hasil
panen berkualitas bagus. Karena disamping rupa tembakau rajang yang menjadi
kriteria harga menjadi tinggi, tak kalah penting adalah persoalan taste atau cita
rasa.
Yogyakarta – MS Arifin, CEO Therapy Banyu Urip International Yogyakarta
tadi malam melakukan siaran pers secara virtual via sosial media. Jumat
(23/7/2021). Lewat press release ia menegaskan, penting sekali bagi siapa saja
untuk terus menjaga imun tubuh saban harinya.
“Pancaroba
merupakan pergantian musim. Biasanya, pancaroba selalu mendatangnya wabah
penyakit. Lumrah, orang yang daya tahan tubuhnya kurang fit akan mudah
terserang penyakit,” tegas MS Arifin.
Cara
instan paling efektif menurutnya, yaitu selalu menjaga pola makan dan minum
seimbang serta tidur yang cukup. Disamping itu rajin berolah raga sampai
mengeluarkan keringat.
“Minum
air kelapa dicampur jeruk nipis dan madu adalah kebiasaan kami. Resep ini
kiranya bisa dipraktekkan supaya kita tetap bugar, tidak keok oleh penyakit.
Solusi inti dari semua itu, kita wajib hukumnya untuk giat beribadah. Membuang
pemikiran negatif juga tidak kalah pentingnya,” pungkas MS Arifin. (Yant Kaiy)
Sebagian
besar tanaman tembakau di wilayah Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep sisi
utara masih belum panen. Meskipun tanaman tembakau banyak yang sudah siap
dirajang. Terlihat daun tanaman tembakau itu sudah mulai menguning.
Ada
beberapa faktor kenapa tanaman bahan dasar kebutuhan rokok itu belum dipanen.
Salah satunya soal cuaca seringkali mendung. Sesekali rinai turun. Kalaupun
panas tidak begitu terik. Sehingga ada kekhawatiran dari para petani kalau
tembakau yang sudah dirajang tidak kering dalam sehari. Kita tahu kalau
kualitas tembakau rajang yang bagus harus kering dalam sekali jemur.
Persoalan
kedua, hingga akhir Juli 2021, kali ini kepastian gudang pabrik rokok besar
yang ada di Madura belum ada tanda-tanda akan membuka pembelian. Tentu semua
ini karena pandemi Covid-19 yang belum kunjung berakhir.[]
Walau
sudah lebih sembilan tahun kepergian Ibu, tapi kenangan bersamanya seperti
kemarin saja. Akibat sakit stroke dideritanya telah melumpuhkan segala gerak
tubuh diusianya lebih 80 tahun. Makan, minum, bahkan membuang kotoran di tempat
pembaringannya. Sedih rasanya jika mengenang saat-saat Ibu mau memiringkan
raganya harus dibantu oleh kami sembari menahan sakit.
Setiap
aku berada di pusara Ibu, senantiasa dari sudut mata ini mengalir air bening
tanpa terkendali. Kulantunkan untaian doa agar arwah Ibu tetap mendapat ampunan
dari Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Aku yakin Tuhan akan mengabulkan
permohonan kami. Karena Ibu orang terbaik yang pernah kami miliki. Kasih sayang
Ibu tak terbatas waktu dan tak berpantai.
Maka
sangat merugi manusia telah menyia-nyiakan bentuk kasih sayangnya. Berperilaku
dosa, berbuat jahat terhadap sesama demi nafsu dunia. Padahal Ibu menghendaki
kita sebagai anak-anaknya untuk berbuat amal kebajikan sepanjang hayat di
kandung badan.[]
Khutbah Idul Adha 2021 di Masjid Al-Istikmal (kiri) dan suasana pelaksanaan shalat Idul Adha di Masjid At-Taqwa Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. (Foto: Yant Kaiy)
Catatan: Yant Kaiy
Suasana
Lebaran Idul Adha (Selasa, 20/7/2021) di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten
Sumenep tahun ini memang kurang begitu semarak. Tidak ada bunyi petasan. Tidak
ada takbir keliling. Namun gema takbir tetap berkumandang dari loudspeaker tiap
masjid dan musholla.
Pada
pagi hari sebelum melaksanakan shalat Idul Adha, masyarakat berziarah kubur. Sehabis
shalat mereka bersilaturahmi pada para tetangga terdekat. Begitulah tradisi
Islami tiap tahun yang berlaku di wilayah bumi Pulau Garam Madura.
Masyarakat
tingkat akar rumput menyadari betul, bangsa Indonesia saat sekarang dalam masa
pandemi Covid-19. Menurut laporan dan data pihak medis, banyak korban berjatuhan
karena virus corona. Inilah salah satu faktor dominan kenapa warga Pasongsongan
begitu sederhana dalam berlebaran.[]
Penjual daging sapi musiman di Pasar Pao Desa/Kecamatan Pasongsongan Sumenep. (Foto: Yant Kaiy)
Sumenep – Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap H-1 Lebaran
Idul Adha di Pasar Pao Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep selalu ada
penjual daging sapi dadakan. Seperti tadi pagi (Senin, 19/7/2021) semua
dagangan mereka terjual habis. Padahal tidak hanya dua orang yang berjualan
daging sapi.
Pedagang
musiman ini tentu mendapatkan keuntungan lumayan besar. Sebab harga sapi dibanyak
pasar hewan di Pulau Garam Madura lagi memburuk.
Ditinjau
dari daya beli masyarakat, boleh dikata masih terbilang rendah. Mereka
rata-rata membeli daging sapi tidak lebih dari satu kilogram. Hal ini
disebabkan oleh pandemi Covid-19 yang belum kunjung usai.(Yant Kaiy)
Sumenep – Tidak hanya masyarakat penerima manfaat BPNT
(Bantuan Pangan Non-Tunai), aparatur Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten
Sumenep juga sangat gembira demi mengetahui kalau BPNT kali ini cair tiga bulan.
“Sebagai
pemilik Agen Salera,saya juga merasa pantas
bersyukur. Karena masyarakat Desa Pasongsongan yang mayoritas bermata
pencaharian sebagai nelayan, saat ini masih belum musim ikan. Jadi mereka
benar-benar dalam kondisi serba kekurangan. Ditambah lagi pekan depan warga
masyarakat akan merayakan Lebaran Idul Adha,” ujar Hanira di tengah-tengah
melayani warga masyarakat penerima manfaat BPNT. Ahad (11/7/2021).
Wanita
berkacamata ini menambahkan, dimasa pandemi Covid-19 kali ini dirinya juga
sangat bangga terhadap mereka yang taat Prokes (Protokol Kesehatan).
“Dalam
mencegah kerumunan, kami tetap menjadwal waktu penerima manfaat sedemikian rupa.
Mereka juga dianjurkan untuk mengenakan masker dan menjaga jarak,” terang
Hanira mengakhiri perbincangan.
Ada
tambahan sedikit. Jadwal pencairan BPNT yang kedua dan ketiga direncanakan
minggu depan. (Yant Kaiy)