Aku
menghormatinya lantaran usia dia lebih tua. Meski secara keilmuan, etika, cara
bicara jauh dari anakku. Menjaga jarak bagiku solusi terbaik agar jalinan
persahabatan tetap harmonis. Apalagi kami masih saling membutuhkan satu sama
lain. Mungkin juga… Tidak! Jauh dari jangkauan kalau kami nanti menjadi besan.
Sejarah
kelam bersamanya cukup menyakitkan. Bagaimana dia meninggalkan aku pada
kehampaan. Janji-janji manisnya behamburan. Menentramkan jiwa penuh harapan.
Kala itu kami masih belum lulus SMA. Tapi aku tak dendam padanya. Justru aku
bersyukur mendapat suami lebih baik darinya.
Diusiaku
menginjak 54 tahun, suami tercinta menghembuskan nafas terakhir. Belum satu
tahun kepergian suamiku, dia datang berbelasungkawa. Secara kebetulan anak kami
kerja satu perusahaan. Duka mendalam belum pupus, dia hadir. Senyum pun
terhampar diantara perih menyayat.[]
K Sunni (kiri) dan Agus Sugianto. (Foto: Yant Kaiy)
Sumenep - Ketua Ranting NU Pasongsongan II, K Sunni
mengatakan, ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan MWCNU Pasongsongan saat ini. Salah satu garapan
terbesar ialah penguatan ranting sebagai amanah konferensi.
“Karena itulah,
membiarkan pengurus harian dan lembaga bahkan banom berjalan tanpa satu visi-misi sama, tentu hal itu idem dengan membiarkan NU di Pasongsongan hancur secara
perlahan-lahan. Karena itu, saya sangat mendukung penonaktifan salah satu
pengurus; baik yang di harian, lembaga atau bahkan
banom yang bergerak ke arah berlainan,” ungkapnya kepada apoymadura.com saat ditemui dikediamannya, Dusun Morasen. Senin
(30/08/2021).
Penegasan K Suni
tersebut merupakan respon atas pernyataan viral Ketua MWCNU Pasongsongan, K Ahmad Riyadi, saat menyambut
Konferensi Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Pasongsongan yang digelar Ahad
(29/08/21).
Sebagaimana dikutip dari bintangsembilannew.com,
pria yang akrab disapa Kiai Riyadi dalam salah satu pernyataannya dijelaskan, bahwa NU akan “mengistirahatkan” salah satu
pengurus, baik itu dari harian, lembaga, atau bahkan banom yang tidak satu visi
dengan NU.
Pernyataan mantan
aktivis PMII itu juga mendapat respon positif dari Sekretaris Lembaga Takmir
Masjid (LTM NU)Pasongsongan, Ahmad
Kusyairi. Alumni Pondok Pesantren Lirboyo itu menekankan agar semua pengurus NU
dan Banomnya harus berkonsentrasi pada penguatan
ranting.
“Penguatan ranting
bukanlah garapan sepele. Butuh kerja keras dan keseriusan dengan melibatkan
semua unsur kekuatan NU yang ada di Pasongsongan, baik itu kekuatan struktural
ataupun kultural. Di kultral ada kiai langgar dan pesantren. Di struktural ada
banom. Misalnya GP Ansor, Fatayat, dan lain-Lain. Karena penguatan ranting ini
merupakan amanah konferensi, maka semuanya harus bergerak dalam satu gerakan
yang sama, yakni gerakan yang berorientasi pada penguatan ranting,” paparnya.
Hal senada juga
diungkapkan Ketua Lakpesdam MWCNU Pasongsongan, Agus Sugianto. Bahkan dengan
tegas dirinya berkata, bahwa duri dalam
kepengurusan NU saat ini yaitu pengurus yang
mengambil arah berlawanan dari visi NU.
“Untuk itu,
menon-aktifkan pengurus NU yang berseberangan dengan visi-misi NU adalah
langkah yang sangat tepat,” tegasnya.(Yant Kaiy/RF)
Dulu
aku tergila-gila padanya. Kerinduan tiap malam menikam jantung. Aku tak bisa
berontak. Tersungkur pada siksa batin saban malam. Nuansa animo belajarku terus
memburuk. Terkurung diantara norma agama dan sosial budaya.
Nafsu
makan tak ada. Tidur pun tak nyenyak. Berat badanku berkurang. Aura wajahku
pucat. Ini cintaku yang bertepuk sebelah tangan atau sihirnya? Bagiku dia
lelaki seperti kebanyakan. Tak ada nilai lebih setelah ditelisik. Heran. Aku
pun tak terlalu dekat padanya. Sekadar kenal. Maklum satu desa.
Via
sosial media aku chatting. Dia lama tak membalasnya. Menggunung penasaranku.
Sepekan berlalu, kudengar dia masuk rumah sakit akibat kecelakaan. Ketika
mengendarai sepeda motor, dia ditabrak dari belakang. Dia menghembuskan nafas
terakhirnya kala rinduku tak terbalas.[]
Kami pernah ke
"sarang" Badui tahun 2014.
Tujuan kami mencari ramuan tradisional yang (konon) sangat manjur untuk
kanker payudara. Ya, istri saya (waktu itu) mengidap penyakit mematikan dan
amat ditakuti kaum hawa itu. Atas informasi seorang keponakan yang kerja PT
Krakatau Stell Cilegon, akhirnya dengan segala cara kami meluncur ke Desa
Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, 12 Februari 2014.
Senja belum
begitu menua ketika kami sampai di Kota Rangkasbitung (ibu kota Kabupaten
Lebak, Provinsi Banten). Kota mungil yang cantik. Di bawah siraman hujan
Februari, taman bunga di depan 'Rahaya Hotel' itu tampak kuyup. Sungguhpun cuma
level 'bintang 3' hotel itu cukup repersentatif. Kamar eksekutif nomor 214 di
lantai dua yang kami tempati menginap cukup mewakili manajemen hotel yang
sehat.
Suhu udara 28
derajad celsius di luar sana cukup hangat dan ramah seramah layanan di hotel
itu. Aku segera rebah. Siraman air hangat di kamar mandi pelan namun pasti
mengenyahkan rasa penat sekaluligus menghadirkankantuk setelah perjalanan nyaris sehari
semalam dari kota Blitar dengan bus. Belum terpikirkan, apa yang akan terjadi
esok saat mencari lokasi Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak,
Banten tempat Suku 'Badui Dalam' bermukim.
Kultur Badui Diakui
Unesco
BUS 'Geulis Trans'
keluar terminal Rangkas sekitar pukul 9 pagi. Menembus kesibukan yang mulai
menggeliat. Jalan mulus beraspal hotmix mengarah luruske selatan. Di sepanjang
perjalanan tampak hamparan sawah yang mulai menguning diselingi perkampungan penduduk yang tampak
tenang dan damai. Bus medium bermesin Hino itu berhenti di beberapa kota kecil,
dan sesampainya di Kecamatan Bedengpasirkopo penumpang sudah penuh, bahkan di
antaranya berdiri. Kini jalanan mulai menanjak dan berkelok-kelok. Suasana
Badui mulai terasa. Di sepanjang jalan yang kami lalui, banyak orang berjalan
kaki dengan tertib laiknya orang berbaris di sisi kanan kiri jalan.
"Kita
memasuki kawasan Badui Luar, Boss !" ujar kondektur bus di sela-sela
menarik ongkos ke penumpang. Jauh di selatan sana tampak deretan Gunung
Belebeg, Gunung Mangurang, dan Gunung Bongkok. Barangkali di balik gemunung
itulah perkampungan Badui berada.
Jalanan
berkelok-kelok dan naik turun dan melalui banyak jembatan. Tampak di bawah
jembatan itu mengalir air sungai yang jernih. Suasana alam begitu sejuk di
bawah suhu 21 derajad celsius. Bus merangkak di sela-sela lembah meninggalkan
raungan. Di sebelah saya ada sepasang bule yang tengah berbicang dengan bahasa
Inggris logat Amerika. Ia menyebut kata Badui, dan Kanekes berkali-kali.
Setelah sekitar dua jam perjalanan kami sampai di Terminal Sareweh.
" Ini
terminal terakhir, Bapak-Ibu, " kata sang kondektur memberi tahu.
Ya, Desa Kenekes di
pedalaman kawasan sekatan Rangkasbitung ini memang "go internasional"
lantaran tradisi, adat, dan budaya etnik Badui yang mengagungkan lingkungan
hidup dan sejak dahulu kala "back to natural". Bagi orang Badui,
habitat alam dan ekosistem adalahbernyawa. Ia sekaligus punya "ruh" seperti makhluk hidup
lainnya. Untuk itu kita harus bijak dalam menggunakan dan mengeksploitasi
lingkungan hidup untuk kehidupan sehari-hari. Betapa menakjubkan, jika
kedapatan seseorang menebang pohon tanpa izin tetua adat maka ia harus diberi
sanksi adat yang setimpal, misalnya ketahuan nenebang pohon besar harus
menggantinya 100 bibit tumbuhan baru yang sejenis dan ditanam. Semua itu demi
keseimbangan ekosistem daerah Badui.
Suku Badui adalah
sisa-sisa etnik 'Sunda Kawitan' yang terkenal itu. Menurut kepercayaan yang
mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari
tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula
dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan
mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes, mempunyai tugas bertapa
atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.
Wajar jika dalam
ilmu pengobatan tradisional Suku Badui sangat ampuh. Pendapat mengenai asal usul
orang Kanekes (Badui Dalam) sendiri cukup unik. Pendapat para ahli
sejarah,masyarakat Kanekes dikaitkan
dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di
Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan
Banten, wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari
Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai
Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk
pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa
wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umun menganggap bahwa
kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan
tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan
berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan
pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal
Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai
Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat
tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan
kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi
komunitas Kanekes sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.
Van Tricht,
seorang dokter yang pernah melakukan riset kesehatan pada tahun 1928,
menyangkal teori tersebut. Menurut dia, orang Kanekes adalah penduduk asli
daerah tersebut yang mempunyai daya tolak kuat terhadap pengaruh luar (Garna,
1993b: 146). Orang Kanekes sendiri pun menolak jika dikatakan bahwa mereka
berasal dari orang-orang pelarian dari Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda.
Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Badui merupakan penduduk
setempat yang dijadikan mandala' (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena
penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau
nenek moyang), bukan agama Hindu atau Budha. Kebuyutan di daerah ini dikenal
dengan kabuyutan Jati Sunda atau 'Sunda Asli' atau Sunda Wiwitan (wiwitan=asli,
asal, pokok, jati). Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama Sunda
Wiwitan.
Bukan cuma dalam
menjaga lkosistem sekaligus dalam laku hidup sehari-hari dikendalikan oleh
aturan adat dan keampuhan "japa nantra" warisan leluhurnya. Ia hidup
tak tersentuh teknologi kekinian sama sekali dari piranti elektronik maupun
perangkat lunak komputasi ataupun digital. Apabila seseorang asli Kanekes
kedapatan nembawa ponsel misalnya, maka ia dianggap melaknati adat dan
"haram" hukumnya.
Dari yang disebut
terakhir, Suku Badui bukan saja menjadi suku yang eksistensinya diakui Unesco
sebagai suku "penyelamat ekosistem" dunia, sekaligus sebagai
destinasi spesial kuktural kuno yang masih bertahan di zaman kekinian.
Nah, untuk ke
kampung Kanekes Dalam kita harus memenuhi persyaratan. Harus mendaftar ke pos
penerimaan dengan nenuliskan tujuan ke kampung adat dan meninggalkan KTP.
Syarat-syarat lain sebagai pantangan tidak boleh membawa barang-barang modern
semisal ponsel, atau bendaekektronik
lainnya.Satu di antara syarat itu yang
agak nenggelikan mengenakan tanda adat seperti tudung kepala (udheng) bagi
laki-laki dan selendang bagi tamu perempuan dan semua itu membeli di tempat.
Bukankah ini sebagai praktik eksploitasi adat terselubung ?Hehe...
Setelah mendapat
perlengkapan tadi kami diberi tanda pengenal sebagai "tamu" yang
dipasang di dada dan berangkat secara berkelompok. Bagi kami yang mengejutkan
harus berjalan kaki sejauh 5 km !
Karena (waktu itu)
tujuan kami berobat ke seorang tetua ( peramu jampi-jampi) maka sesusah payah
apa pun tetap kami lakoni. Ya, seperti sepasang bule dari Hoston, Amerika
Serikat yang satu bus tadi ternyata juga mencoba pengobatan tradisional ala
Badui. Entahlah penyakit apa yang diidapnya.
Akhirnya hari itu
juga kami berjalan menyusuri lembah dan bantaran sungai. Dalam keadaan penat
ingin rasanya kami mencebur je sungai berair jernih berkilauan itu. Saking
jernulihnya, sampai ikan-ikan dan bebatuan tampak jelas di dasarnya. Bahkan
beberapa orang sengaja nengambilair itu
dan langsung neminumnya tanpa ragu-ragu termasuk pasangan bule tadi. Mentari
sudah tergelincir di kaki langit ketija sampai di gerbang Kampung Kenekes
Dalam. Udara mulai atis dan berkabut tipis. Kami berhenti di gerbang desa dan
ada persyaratan lagi : tidak boleh beralas kaki. Tas dan bawaan lainnya
termasuk perhiasan yang nencolok dab dompet (baca : uang) harus dilepas dan
dititipkan ke petugas adat.
"Jangan
khawatir semua barang berharga Anda tidak akan hilang! " kata petugas yang
sekaligus sebagai penerjemah bahasa Inggris. Kami pun masuk ke perkampungan
tradisional yang menakjubkan. Rumah-rumah sederhana berdinding gedheg (anyaman
bambu) dan beratap rumbia (ilalang) berderet rapi dengan lingkungan yang bersih.
Kedamaian benar-benar menyembul dari penghuninya yang ramah dan berpakaian adat
Sunda Kawitan semua : serba hitam.
Luar biasa. Kami
(khusus yang punya tujuan berobat) diantar masuk ke sebuah rumah besar (semacam
pendapa). Mengisi formulir yang disodorkan petugas untuk menuliskan jenis
penyakit yang diidapnya. Sembari nenunggu racikan obat kami dibawa ke ruang
makan. Kesekian kalinya kami terkesima. Betapa tidak, aroma nasi hangat yang
harum dan punel tersedia di bakul bambu sekaligus sayur urap, sambal, dan ikan
wader goreng (ikan kecil-kecil mungkin hasil tangkapan dari sungai). Luar biasa
kenikmatan yang kami rasakan di saat makan bersama dengan menu serba murni dari
alam itu.
Hari mulai petang.
Senja jatuh di Kanekes Dalam. Musik alam (nyanyian margasatwa) mulai
bersenandung. Rembulan bundar menyembul dari celah bukit. Lebih-lebih ketika
melongok keluar, di semua rumah adat itu tampak cahaya lampu pijar (dian)
berpendaran. Sungguh paduan pesona alam dan tradisi yang aduhai. Sulit dibayangkan.
Kami menginap semalam di Kanekes Dalam dengan seribu mutiara adat yang masih
mengikat. Paginya kami meninggalkan "kampung khayangan" setelah
menerima sebungkus besar ramuan jampi-jampi untuk 3 bulan buat istri saya. Kami
tercengang lagi ternyata semua akomudasi tersebut hanya nembayar seiklasnya,
kecuali ramuan jampi dan sebotol madu asli...[]
Rokat Tase' di Pelabuhan Pasongsongan-Sumenep. (Foto: Yant Kaiy)
Catatan: Yant Kaiy
Era
1970, ketika saya masih belum duduk di bangku SD, di pelabuhan pesisir pantai
Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, kesenian Sandurselalu dipentaskan diacara Petik Laut.
Sandur
ibarat garam, tidak sedap rasanya kalau makanan tanpa garam. Sandur seolah tak
terpisahkan dengan acara sakral seperti selamatan. Hingga kini setiap pagelaran
Petik Laut atau Rokat Tase’ di Pelabuhan Pasongsongan senantiasa menyertakan kesenian
Sandur.
Sandur
merupakan sebuah seni tradisi mengutamakan kidung berbahasa Madura yang
didalamnya ada unsur religi. Kidung Sandur cukup khas terdengar, ada nuansa
puji-pujian terhadap Tuhan Yang Maha Pengasih. Lantunan kidung Sandur pada
umumnya bernada permohonan dan harapan hidup sejahtera dunia-akhirat.
Selain
Sandur ditampilkan dalam acara selamatan atau syukuran; seperti acara Rokat
Tase’, Rokat Bumi, Rokat Pekarangan, dan lain sebagainya. Kesenian ini juga seringkali
dihelat pada acara-acara penting di perkantoran.[]
Perahu tradisional nelayan Pasongsongan-Sumenep. (Foto: Yant Kaiy)
Catatan: Yant Kaiy
Setelah
perahu bersandar di dermaga dan menurunkan hasil tangkap ikannya, para nelayan
tersebut tidak langsung pulang. Mereka biasanya membersihkan purse seine (alat
tangkap ikan) dulu. Ini penting dilakukan agar purse seine terbebas dari
sisa-sisa ikan.
Proses
membersihkan sisa ikan itu oleh masyarakat Desa Pasongsongan Kecamatan Pasongsongan
Kabupaten Sumenep dinamakan ngandang.
Ini wajib hukumnya bagi perahu agar tidak terganggu bau busuk.
Sedangkan
ikan yang sudah rusak bentuknya itudinamakan
macok. Para nelayan memanfaatkan macok untuk menghasilkan uang. Caranya, macok ini direbus hingga matang.
Sebagian
masyarakat memanfaatkan hasil air rebusan macok untuk dibikin petis. Dengan syarat sebelum direbus macok dibersihkan dari kotoran. Petis merupakan kudapan khas Desa
Pasongsongan. Petis kadang dijadikan sebagai lauk-pauk. Tak jarang pula petis
oleh masyarakat luas dijadikan kuah rujak.
Seterusnya
macok dijemur sampai benar-benar
kering. Kegiatan ini oleh warga Desa Pasongsongan dinamakan bonsai. Banyak pedagang setempat yang
membeli bonsai dan menjualnya kembali
pada perusahaan. Tentu saja bonsai
terlebih dulu digiling menjadi tepung ikan.[]
Watik dan jalan-jalan yang ada di Pulau Masalembu. (Foto: Yant Kaiy)
Sumenep – Sebagian besar akses jalan utama di Pulau Masalembu
rusak parah. Berlubang. Pengendara kendaraan bermotor wajib ekstra hat-hati
jika melintas. Terutama kalau musim penghujan.
Jika
musim kemarau seperti saat ini, apabila ada kendaraan melewati jalan rusak
tersebut, maka debu berterbangan karena dihembus angin.
Derita
masyarakat Pulau Tampomas II ini tidak hanya dari sarana jalan saja, tapi juga
listrik. Seperti penuturan Watik via sosial media kepada apoymadura.com. (Selasa, 24/8/2021).
“Bukannya
lebay atau butuh perhatian lebih. Kami sangat menderita berada di Masalembu.
Jalan rusak. Sarana pembangunan kantor pemerintah tidak digubris. Listrik
berasal dari diesel pribadi, menyala hingga pukul 23.30 WIB. Di rumah saya
hanya ada satu lampu, numpang sama tetangga karena tidak punya genset. Anda
bisa bayangkan itu semua. Ini riil. Bukan omong kosong,” cetus wanita dari Desa
Masalima penuh semangat.
Malah
Watik berharap penuh bagi pemangku kebijakan supaya datang ke Masalembu untuk
melihat keadaan sesungguhnya. (Yant Kaiy)
Pagelaran kesenian Macapat Madura secara virtual di Kantor MWC NU Pasongsongan. (Foto: Yant Kaiy)
Catatan: Yant Kaiy
Bertempat
di Kantor MWC NU Pasongsongan Kabupaten Sumenep (Sabtu, 21/8/2021), pukul 20.00
WIB digelar kesenian tembang Macapat Madura secara virtual. Kegiatan ini dalam
rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-76.
Jajaran
pengurus NU Pasongsongan rupanya tidak main-main dalam upaya melestarikan
budaya warisan nenek moyang yang satu ini. Karena masyarakat luas tahu, kalau
kesenian Macapat Madura saat sekarang peminatnya sedikit. Padahal di seni
budaya bertutur tersebut didalamnya terkandung petuah luhur sesuai falsafah
Islam.
Perlu
digarisbawahi pula, semua tembang di Macapat Madura adalah hasil karya Wali
Songo. Dimana tembang-tembang tersebut pada jaman dulu dijadikan sebagai sarana
dakwah (syiar) Islam. Ternyata outputnya luar biasa.[]
Beberapa ruas jalan yang rusak di Pulau Masalembu. (Foto: Yant Kaiy)
Sumenep – Watik, seorang ibu rumah tangga berasal dari Desa
Masalima Kecamatan Masalembu Kabupaten Sumenep melayangkan rekaman suara (voice
note) via sosial media kepada apoymadura.com.
(Rabu, 17/8/2021).
Wanita
kelahiran 1981 ini begitu prihatin dengan keberadaan Pulau Masalembu sejak era
kepemimpinan Achmad Fauzi (Bupati Sumenep saat ini). Pulau KMP Tampomas II ini
berada dalam jurang menyedihkan.
Berikut
ini luapan aspirasi Watik:
Assalamu’alaikum
warahmatullahhi wabarkatuh.
Ibu Khofifah Indar Parawansa
yang saya hormati. Perkenalkan saya Watik dari Pulau Masalembu. Niat hati
paling dalam akan menyampaikan penderitaan kami yang tak mendapatkan aliran
lampu dan jalan rusak parah dikeseluruhan Pulau Masalembu.
Pada mulanya saya tidak tahu
harus menyampaikan permasalahan ini kepada siapa. Jiwa terguncang. Batin
menjerit sejadi-jadinya demi melihat realita getir di pulau kecil kami. Berbulan-bulan
kami tidak menikmati mimpi yang pernah dihembuskan pemerintah dikala
berkampanye.
Nurani berbicara di depan
cermin; apakah ini takdir sebagai masyarakat kecil? Saya pikir tidak. Penderitaan
kami semata-mata disebabkan kebijakan dan perhatian pemerintah yang mengering
seperti embun pagi.
Saya yakin Ibu Khofifah
Indarparawansa akan memberikan atensi kepada kami. Pemimpin berjiwa besar
adalah pemimpin yang mau mendengar dan merasakan penderitaan rakyatnya.
Dari hati paling kudus, saya
mohon maaf kalau ada kata-kata kurang berkenan.-
Wassalamu’alaikum
warahmatullahi wabarkatuh.
Demikian
surat terbuka dari Watik Masalembu yang ditujukan pada Gubernur Jawa Timur. (Yant Kaiy)
Kegiatan aronjai tembakau Sumenep Madura. (Foto: Yant Kaiy)
Catatan: Yant Kaiy
Panen
tembakau Madura 2021 disebagian besar wilayah Kecamatan Pasongsongan Kabupaten
Sumenep telah dimulai. Kendati harga tembakau tidak sesuai harapan dan impian
mereka, namun petani tetap memetik tanamannya hingga bisa terjual.
Ada
salah satu tahapan dari panen tembakau setelah daun dirajang, bernama aronjai. Kegiatan ini sangat berarti
bagi kualitas dan kuantitas dari bahan pokok rokok itu sendiri. Aronjai adalahpenyusunan tembakau rajang pada sebuah bilik bambu. Kemudian
barulah tembakau rajang dijemur.
Dalam
aronjai sebenarnya terkandung nilai
kebersamaan penuh kekeluargaan. Meski seringkali petani merugi dalam penjualan
tembakau karena biaya yang dikeluarkan lebih besar dari pada pendapatan.
Kalau
kita telisik lebih dalam, pada aronjai terkandung
wahana komunikatif lewat canda-tawa yang menatalkan nilai sosial cukup luas di
tengah masyarakat setempat. Didalamnya juga terdapat nilai-nilai tradisi luhur
mengagumkan. Menjunjung adat-istiadat. Sejatinya budaya ini patut terus dijaga
kelestariannya sampai kapanpun. Semoga!...[]
Teknik memetik daun tembakau cepat. (Foto: Yant Kaiy)
Catatan: Yant Kaiy
Bulan
Agustus 2021 kali ini adalah masa panen tembakau besar-besaran di sebagian
wilayah Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Walau tanaman bahan pokok
untuk rokok saat ini seharga Rp 20.000,- sampai Rp 30.000,- per kilogram. Petani
tetap semangat. Mau bagaimana lagi, daun tembakau sudah menua.
Ada
dua teknik memetik daun tembakau. Pertama dipetik satu demi satu. Cara seperti
ini biasanya diterapkan kalau daun tembakau dipanen bagian bawahnya saja.
Sedangkan
cara kedua yaitu tidak dengan dipetik. Melainkan kedua tangan diletakkan di
puncak daun tembakau dan didorongnya kebawah. Otomatis lebih cepat selesai.
Teknik seperti ini diterapkan kalau tanaman tembakau mau dipanen keseluruhan.
Umumnya
panen tembakau dilakukan pada pagi hari setelah embun mengering. Kalau ada
embun yang menempel di daun tembakau, maka daun itu akan membusuk. Sebab daun
berharga ini harus didiamkan satu malam atau lebih sebelum dirajang.[]
Proses penjemuran tembakau Sumenep-Madura. (Foto: Yant Kaiy)
Catatan: Yant Kaiy
Ditahap
penjemuran tembakau yang habis dirajang bergantung panas matahari. Pada tahapan
ini tergolong krusial. Biarpun sebelum dipetik daun tembakau terlihat super
berkualitas, tapi kalau tembakau rajang tidak kering sehari, otomatis harganya
akan anjlok. Aroma tembakau tidak standar dan warnanya jadi coklat
kehitam-hitaman.
Tidak
berhenti di situ penanganannya, tembakau rajang yang telah kering sebelum
dibungkus tikar daun lontar harus dilemaskan. Proses pelemasan tembakau menanti
embun. Ditahapan ini juga butuh penanganan ekstra hati-hati. Maka tak ayal
kadang pembungkusan tembakau rajang sampai pukul 21.00 WIB.
Begitulah
dua rangkaian terakhir dari tembakau rajang. Semuanya membutuhkan keahlian dari
seorang petani tembakau. Kejelian itu tentu berdasar pada pengalaman
sebelumnya.
Lahan rumput pakan ternak masyarakat yang dilalap si jago merah. (Foto: Yant Kaiy)
Catatan: Yant Kaiy
Sudah
menjadi langganan tiap tahun, di Dusun Sempong Barat dan Timur selalu ada
pembakaran rumput. Tangan-tangan jahil itu menyebabkan kian gundul tanah kering
yang rata-rata berbatu disitu. Bahkan pepohonan banyak mati dilalap si jago
merah.
Ulah
tak terpuji dari oknum tak bertanggung jawab menyebabkan keprihatinan banyak
pihak. Terspecial bagi pemilik lahan. Sejatinya lahan tandus itu ditanami pohon
supaya tanah tidak gersang kala kemarau
menerjang.
Masyarakat
pemilik ternak sapi dan kambing tentu kesulitan mencari pakan saat ini. Mereka
pasrah dan penuh harap. Semoga tahun depan tidak terulang lagi.
Tadi
pagi, Kamis (5/8/2021), saya menyempatkan diri mengambil gambar dilokasi. Bekas
rumput dan pohon kecil terbakar masih terlihat jelas.[]
Lokasi bekas penambangan batu bata putih di Pasongsongan-Sumenep. (Foto: Yant Kaiy)
Catatan: Yant Kaiy
Di
Dusun Sempong Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep ada bekas
penambangan batu bata putih. Penambangan bawah tanah ini membentuk jurang
sangat dalam, kurang lebih 50 meter. Di sisi barat berjarak7 meter dari jurang ada jalan beraspal. Ada
beberapa pohon tumbuh sebagai pengaman bagi kendaraan melintas.
Dihentikannya
penambangan batu bata putih itu karena sang pemilik lahan menjual kepada salah
seorang pengusaha. Kabarnya akan dijadikan tempat wisata.
Sedangkan
penambangan batu bata putih lainnya yang masih produktif ada di sebelah
timurnya. Biasanya pada malam hari mereka bekerja. Menggunakan mesin diesel
untuk menjalankan alat-alat kerjanya.
Menurut
seorang pekerja yang saya temui, permintaan batu bata putih mulai 2020 terus
menurun. Batu bata ringan yang beredar di toko-toko bahan bangunan sebagai
penyebabnya. Lantaran bata ringan hanya membutuhkan lem sebagai perekat. Tentu
dalam pengerjaan bangunan lebih praktis.[]
Dari
sekian banyak tembang Macapat, ada satu tembang yang sering dikidungkan pada
pagelaran Macapat di Sumenep, yakni Artate (Dandanggula). Menurut Kiai Haji
Ismail Tembang Pamungkas, bahwa tembang Artate bermakna: Arte’e sampe’ ngarte
(artikan sampai paham betul).
Kiai
Haji Ismail merupakan seorang pakar Macapat Madura sekaligus da’i kondang
berasal dari Kota Keris Sumenep. Ia menambahkan kalau yang menciptakan tembang
Artate adalah Sunan Kalijaga.
Kita
tahu kalau syair-syair yang terdapat dalam Macapat banyak mengajarkan kebajikan
dalam hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam sekitar,
dan bakti manusia kepada Sang Khalik.[]
Tidak
ada pemangku kebijakan ambil peduli terhadap nasib hidup petani tembakau di
Sumenep. Petani tetap merugi karena harga tembakau tahun ini tetap sama seperti
tahun kemarin.
Memang
gudang besar pabrikan rokok masih belum buka. Jadi yang membeli tembakau petani
adalah pedagang. Sedangkan pedagang tak ingin berspekulasi membeli tembakau
dengan harga tinggi. Tentu dirinya tak mau merugi.
Kita
tahu, proses mulaimenanam tembakau
hingga panen amatlah panjang. Tidak sedikit biaya yang mereka keluarkan. Kalau
dikalkulasi, biaya pengeluaran lebih besar ketimbang pendapatan. Plus tenaga
petani dan keluarganya yang tidak dihitung selama bekerja.[]
Faktor
ekonomi yang menyebabkan orang tua merantau.Mencari sesuap nasi. Di tanah kelahirannya tak menjanjikan hidup layak.
Walau bekerja membanting tulang, tetap saja miskin. Terpaksa tinggalkan anak-anak
mereka, cucurkan air mata. Kidung kerinduan pun tak terbendung. Sangat
menyedihkan terdengar.
Bertahan
mereka akan tergilas oleh kebutuhan: Sandang, pangan, melayat orang meninggal
dunia, menghadiri undangan pernikahan, membesuk orang sakit, datang kerumah
tetangga yang melahirkan. Semua itu memerlukan uang. Karena kita datang wajib
hukumnya membawa buah tangan.
Belum
lagi keperluan pulsa, token listrik, bahan bakar minyak sepeda motor, LPG untuk
dapur. Semua tak bisa dihindari. Plus rumah yang mungkin segera diperbaiki
karena usianya tua.
Itulah
kondisi riil masyarakat disebagian besar wilayah Kecamatan Pasongsongan
Kabupaten Sumenep. Diantara para orang tua itu ada yang jadi penjaga toko di
Jakarta, membuat batu bata di Kalimantan, tukang ojek di Bali, kuli bangunan di
Malaysia, pembantu rumah tangga dan sopir di Timur tengah.[]
Macapat
merupakan seni tradisi warisan nenek moyang orang Madura. Warisan budaya ini
kadang masih tetap terdengar mengalun lewat loudspeaker. Tapi tidak seperti
ketika saya masih kecil. Ya, tidak seperti diera 1980-an.
Kemarin
malam di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep (Senin, 2/8/2021), suara
tembang macapat terdengar hingga menjelang subuh. Masyarakat luas tahu kalau
hal itu acara “rokat pandhebeh”.
Pagelaran
“rokat pandhebeh” biasanya dilaksanakan setelah acara perkawinan. Kadang pula
terselenggara diacara penting lainnya. Misalnya seperti “petik laut”. Sebagian
diantara warga masyarakat masih ada yang percaya, bahwa “rokat pandhebeh”
sebagai media menatalkan barokah.
Wujud
cinta terhadap macapat Madura sebagai bagian sikap bijak, bahwa kita masih
menjunjung nilai-nilai budaya warisan para leluhur.[]
Kondisi pantai Pasongsongan-Sumenep. (Foto: Yant Kaiy)
Catatan: Yant Kaiy
Ketika
1990-an bukit pasir sepanjang pesisir pantai Kecamatan Pasongsongan Kabupaten
Sumenep masih terlihat menjulang. Seseorang yang berkendara mobil atau sepeda
motor yang melintas disepanjang pesisir Pasongsongan tidak akan melihat laut.
Pandangan mereka terhalang bukit pasir.
Tapi
kini bukit pasir itu telah habis. Abrasi pun tak bisa dihindari. Air laut tak
terbendung mengikis tanah di sepanjang pesisir pantai Pasongsongan. Maka tatkala
air laut lagi surut, batu karang tampak menghampar luas.
Bertahun-tahun
masyarakat pemilik lahan pesisir menjual pasir. Truk-truk pengangkut pasir
saban malam berseliweran di jalan raya Kecamatan Pasongsongan. Seolah tidak ada
yang ambil peduli. Padahal perbuatan tersebut melanggar hukum; baik hukum agama
maupun hukum negara.
Semoga
kedepan kita tidak tergolong sebagai orang-orang
perusak alam ciptaan Tuhan. Sebagai manusia beradab, kita tentu tidak ingin
mewariskan bencana kepada anak-cucu.[]