CERPEN: Meratapi Sumpah yang Jadi Debu
Tiap kali mentari terbenam dan kegelapan mulai menyelimuti kamar, bayang-bayang Tona datang tanpa diundang, membawa luka enggan mengering. Di keheningan malam, namanya bergema seperti bisikan menyayat hati, mengingatkanku bahwa kini ia bukan lagi pelabuhanku pulang. Tidur jadi hal yang mustahil ketika kenyataan bahwa ia telah jadi milik orang lain, meninggalkan lubang hampa menyesakkan di tengah kesunyian. Aku masih ingat betul, getaran suaranya saat kami mengucap janji suci untuk saling menjaga hingga raga tak lagi bernyawa. Namun, semua kata manis itu kini hanya jadi puing-puing pengkhianatan yang berserakan di dasar jiwaku. Ia melangkah pergi, merobek lembaran setia yang kami bangun dengan tetesan air mata dan harapan. Lalu memilih untuk memberikan hatinya kepada orang lain seolah semua sumpah yang pernah terucap hanyalah angin lalu. Kini, rasa kecewa menyeruak hebat di dada. Setiap kali aku membayangkan ia sedang tersenyum dalam pelukan yang berbeda. Melihatnya ba...