Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

CERPEN: Meratapi Sumpah yang Jadi Debu

Gambar
Tiap kali mentari terbenam dan kegelapan mulai menyelimuti kamar, bayang-bayang Tona datang tanpa diundang, membawa luka enggan mengering. Di keheningan malam, namanya bergema seperti bisikan menyayat hati, mengingatkanku bahwa kini ia bukan lagi pelabuhanku pulang. Tidur jadi hal yang mustahil ketika kenyataan bahwa ia telah jadi milik orang lain, meninggalkan lubang hampa menyesakkan di tengah kesunyian. Aku masih ingat betul, getaran suaranya saat kami mengucap janji suci untuk saling menjaga hingga raga tak lagi bernyawa. Namun, semua kata manis itu kini hanya jadi puing-puing pengkhianatan yang berserakan di dasar jiwaku. Ia melangkah pergi, merobek lembaran setia yang kami bangun dengan tetesan air mata dan harapan. Lalu memilih untuk memberikan hatinya kepada orang lain seolah semua sumpah yang pernah terucap hanyalah angin lalu. Kini, rasa kecewa menyeruak hebat di dada. Setiap kali aku membayangkan ia sedang tersenyum dalam pelukan yang berbeda. Melihatnya ba...

CERPEN: Mangga Ranum dan Rahasia di Saku Usang

Gambar
Bagiku tahun 80-an merupakan kenangan manis. Sulit terlupakan. Dimana rindu hanya bisa dititipkan pada angina. Bukan pada layar gawai. Di bawah langit SMA nan jingga, namamu, Tina, adalah doa yang paling sering kupanjatkan. Tapi paling keras kupendam. Aku sadar siapa diriku. Aku adalah cowok dengan sepatu yang mulai menipis solnya. Masa depan yang masih jadi teka-teki. Bagiku, engkau adalah rembulan. Terlalu tinggi untuk kuraih dengan tangan yang kosong. Karena aku tak punya apa-apa, maka kupilih diam sebagai cara terbaik untuk mencintaimu. Namun, ingatan itu selalu pulang setiap kali musim mangga tiba. Aroma manis buah yang masak di pohon seolah membawa jiwaku kembali ke gerbang sekolah itu. Kala itu, kau mendekat, tersenyum lebih manis dari madu, dan menyodorkan sebutir mangga ke tanganku. "Ini untukmu!," ucapmu singkat. Engkau mungkin tak pernah tahu, mangga itu tidak langsung kumakan. Aku memandanginya berjam-jam, membayangkan keberanian yang tidak p...

DONGENG MADURA: Nyai Madiya, Panglima Perang dari Sumenep

Gambar
Di ujung timur Pulau Madura, di wilayah yang kini dikenal sebagai Dusun Pakotan , hiduplah seorang putri penyebar agama Islam yang namanya kelak harum sepanjang masa: Nyai Madiya , putri dari Kiai Ali Akbar Syamsul Arifin , seorang ulama kharismatik dari Pasongsongan. Sejak kecil, Nyai Madiya tumbuh bukan hanya dengan kecerdasan dan kelembutan seorang putri, tetapi juga keberanian laksana singa betina. Konon, ketika masih remaja, ia mampu menundukkan hewan buas hanya dengan sekali ayunan tangan dari jarak jauh , dan mampu menangkis senjata tajam tanpa pernah sekalipun terluka. Ya, Nyai Madiya kebal senjata tajam. Karena kesaktiannya, Raja Sumenep menobatkannya sebagai panglima perang wanita —gelar yang jarang diberikan pada siapa pun. Titah dari Raja Sumenep Pada suatu hari, datanglah kabar dari jauh, dari negeri sahabat seiman: Kerajaan Aceh . Raja Aceh meminta bantuan, sebab pasukan kolonial Belanda mulai menggempur pesisir dan memaksa rakyat tunduk pada kekuasaan asing...

DONGENG MADURA: Pertempuran Jokotole dan Dempo Abang di Atas Langit

Gambar
Pada masa jauh sebelum orang-orang menuliskannya dalam sejarah, Madura pernah berada di bawah bayang-bayang ancaman seorang pemuda sakti bernama Dempo Abang. Ia bukan hanya kuat dan berilmu tinggi, tapi juga haus kekuasaan dan perempuan . Di setiap kerajaan yang ia taklukkan, Dempo Abang merampas kehormatan para putri dan gadis, menyimpan selendang-selendang mereka sebagai tanda kesombongannya. Dengan kekuatan gaibnya, ia bermaksud menaklukkan seluruh Madura , tak menyisakan satu pun tempat yang aman bagi para perempuan muda. Kabar itu akhirnya sampai kepada pendekar muda perkasa dari Madura: Jokotole , sang penunggang kuda terbang Megaremeng . Megaremeng bukanlah kuda biasa. Sayapnya lebar bagai awan sore, dan langkahnya memekikkan kilat ketika memukul angin. Jokotole, yang terkenal teguh membela kaum lemah, segera berangkat menuju langit utara Madura, tempat Dempo Abang dan pasukannya melayang-layang di atas perahu terbang raksasa. Pertemuan di Langit Ketika Megareme...

DONGENG MADURA: Kiai Ali Akbar, Sang Pembawa Cahaya dari Pakotan

Gambar
Oleh: Suriyanto Hasyim Di sebuah dusun kecil bernama Pakotan, di pesisir pantai utara Pulau Madura, hiduplah seorang kiai yang sangat bijaksana. Namanya Kiai Ali Akbar Syamsul Arifin. Dusun Pakotan sendiri masuk wilayah Desa/Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep. Beliau tinggal di tempat yang sejuk dan damai, dikelilingi pohon kelapa dan suara burung yang merdu. Saban hari, Kiai Ali Akbar tersenyum kepada siapa pun yang ditemuinya. Ia mengajarkan kepada anak-anak dan orang-orang yang di sekitarnya untuk senantiasa berbuat baik, saling mendoakan, dan saling menolong. “Anak-anak,” kata beliau lembut, “Kalau kita menolong teman, Allah akan senang. Kalau kita rajin belajar dan berdoa, hati kita jadi terang.” Anak-anak pun suka mendengarkan cerita beliau. Kadang, di bawah pohon rindang, Kiai Ali Akbar bercerita tentang Nabi Muhammad SAW dan tentang indahnya hidup saling menyayangi. Suatu hari, angin laut bertiup sangat kencang. Ombak besar datang menerjang perahu nela...

CERPEN: Cinta Tulus Debur untuk Tona, Janda Beranak Dua yang Tegar

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur selalu datang paling pagi ke warung kecil milik Tona. Setiap kali melihat perempuan itu tersenyum, dadanya serasa penuh. “Pagi, Bu Tona. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Debur hampir setiap hari. Tona hanya tertawa kecil sambil menata gelas-gelas. “Kau ini, Bur, masih muda. Pergilah main dengan temanmu, tak usah repot bantu aku terus.” Namun Debur tak pernah beranjak; baginya, berada di dekat Tona sudah cukup untuk membuat pagi terasa lengkap. Di mata Tona, perhatian Debur hanyalah keramahan seorang anak muda yang baik hati. Ia sering menegurnya dengan lembut, “Kau terlalu banyak menghabiskan waktu di sini, nanti ibumu mencarimu.” Debur hanya mengangguk sambil tersenyum, “Tidak apa-apa, Bu. Saya memang nyaman di sini.” Tona menghela napas, separuh bingung, separuh tersentuh, tetapi tetap menjaga jarak karena hidupnya sudah penuh dengan tanggung jawab dan kenangan yang belum sepenuhnya hilang. Suatu sore ketika warung hampir tutup, Debur member...

CERPEN: Sungai Sepi Mengalir Tanpa Arah

Gambar
By: Suriyanto Hansyim Sosoknya selalu berkelebat di antara sepi yang menikam. Ada sesuatu dari dirinya—entah tatapan atau cara bicaranya—yang membuat langkah pikiranku tertahan. Aku merasa seperti terkurung dalam ruang yang tak terlihat, seakan rinduku tumbuh di atas tanah gersang, di antara ranting-ranting kering yang tak mungkin bersemi. Padahal aku tahu, lelaki itu bukan kekasihku. Ia bukan seseorang yang pernah mengikrarkan cinta atau janji apa pun. Ia hanyalah teman baru di kampus. Tidak lebih… setidaknya itu yang terus-menerus kuucapkan pada diriku sendiri. Suatu siang di kantin, ia muncul sambil membawa aroma keriuhan mahasiswa yang lalu-lalang. “Malam Minggu kau ada acara?” tanyanya tiba-tiba, seperti mencoba membuka pintu yang sudah kututup rapat. “Ada,” jawabku singkat. Suaraku terdengar datar bahkan untuk telingaku sendiri. “Kirain sendiri…” gumamnya pelan. Suaranya hampir tenggelam oleh riuh percakapan di sekeliling kami. Aku buru-buru mengalihkan pembicaraan. “Ka...

CERPEN: Hujan Penyesalan

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Selalu saja dalam benakku ada benci yang menggunung terhadapnya. Benci yang tak pernah benar-benar padam meski waktu sudah lama berlalu. Semua bermula dari satu kesalahan yang hingga kini tak bisa kupandang remeh, tak bisa pula aku maafkan. Hari itu, di salah satu toilet kampus, dia mencoba menciumku. Ciumannya memang belum mendarat karena aku menepisnya cepat-cepat, tetapi rasa jijik, terkejut, dan ketakutan yang ditinggalkannya tak pernah hilang. Seperti noda yang membeku di dada, tak peduli berapa kali aku mencoba melupakannya. Sejak hari itu, kusumpahi dia sebagai manusia sampah. Manusia bejat. Tidak bermoral. Aku melaporkannya pada salah satu dosen, dan laporan itu mengakhiri hidup perkuliahannya. Dia benar-benar dikeluarkan dari kampus tempat kami menimba ilmu. Banyak yang bilang aku kejam. Banyak pula yang membelanya. Tapi tak ada seorang pun yang benar-benar mengerti apa yang kurasakan saat itu. Sebelum keluar dari kampus, dia sempat mengirim permintaan...

CERPEN MADURA: Joko Tole Aperrang Kalaban Dempo Abang

Gambar
Pengantar Penulis: Patmo, S.Pd, teman dekat saya, meminta untuk membuatkan naskah cerita rakyat Sumenep menggunakan Bahasa Madura. Saya pun membuatkannya karena akan mengikuti Lomba Mendongeng yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep. Lomba Mendongeng ini digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Sumenep dan Hari Guru Nasional (HGN) 2025. [sh] Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Semba songkem abdhidhalem. Abdina Patmo dari Pasongsongan, badhi ngatorraghi dungngeng kalaban bul-ombul Joko Tole Aperrang Kalaban Dempo Abang.  Ngireng peyarsaaghi!  Ampon kalonta, bada settong rato sakte tor tadek se bisa nandinge. Rato Bermana asma epon. Rato Bermana ngagungi settong potra se asma epon Dempo Abang.  Saampona potrana dhibasa, Dempo Abang epakon dhuli akabin sareng rama epon. “Kacong, satiya be’na la dhibasa. Sapantessa bekna dhuli akabin, nyare ban pele potre seekasennenge, deggi’ pas elamara kalaban sengko’ “ “Bunten Rama, abdhina tak akabina...

CERPEN: Debur dan Tajin Sappar

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Di sebuah dusun kecil yang masyarakatnya menjunjung nilai-nilai tradisional bernama Sempong Barat, yang masuk wilayah Desa Pasongsongan, Kecamatan Pasongsongan, tinggal seorang anak laki-laki bernama Debur.  Ia tergolong anak yang ceria. Rambutnya ikal dan matanya lebar. Kulitnya sawo matang. Debur sangat suka membantu ibunya di dapur. Setiap datang bulan Safar, Debur selalu bersemangat. Bukan karena libur sekolah, tapi karena ada makanan kesukaannya: tajin sappar! Pagi itu, dapur rumah Debur penuh dengan aroma harum santan dan beras yang dimasak.  Ibu sedang sibuk mengaduk panci besar di atas tungku. “Bu, bikin tajin sappar, ya?” tanya Debur sambil mengintip. “Iya, Nak,” jawab ibu sambil tersenyum.  "Asyik," “Sudah jadi tradisi di bulan Safar, semua orang di sini membuat tajin sappar. Nanti kita antar juga ke tetangga dan famili.” "Siap, Bu," sahut Debur riang.  Debur membantu menyiapkan daun pisang untuk alas mangkuk. Ia senang bisa ikut serta...

CERPEN: Mengalah Demi Cinta Abadi

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur menatap jauh ke cakrawala senja, hatinya remuk oleh kenyataan yang tak bisa ia ubah.  Cinta kepada Tona begitu dalam, tapi di hadapannya terbentang dinding bernama keluarga.  Ia tahu, jika ia memaksakan kehendak, maka Tona akan terseret dalam pusaran perpecahan yang kelak menghancurkan kehangatan rumah keluarganya. Dengan harta dan kedudukan yang ia miliki, sesungguhnya mudah saja bagi Debur untuk merebut Tona dari genggaman siapa pun.  Tapi ia memilih jalan berbeda: Jalan mengalah.  Bukan karena ia lemah, melainkan karena ia tak ingin melihat Tona tersingkir dari lingkaran kasih sayang keluarganya sendiri. “Mungkin aku bisa memenangkan cinta ini,” bisik Debur dalam hati, “tapi aku tak akan pernah tega mengorbankan keluarganya.” Keputusan itu pahit, tapi baginya cinta sejati bukan soal memiliki, melainkan menjaga agar orang yang dicintai tetap bahagia, meski kebahagiaan itu tak bersanding dengan dirinya. []

CERPEN: Luka Menganga Debur

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Senantiasa Debur berusaha keras menata hidupnya agar jadi manusia seutuhnya; bertanggung jawab, bekerja jujur, dan membahagiakan keluarganya.  Dalam setiap tetes keringatnya, tersimpan doa agar rumah tangga yang ia bina bersama Tona tetap kokoh. Tapi lacur, harapan itu seketika hancur berkeping-keping.  Suatu sore, langkah Debur lebih cepat dari biasanya, ia pulang kerja tanpa memberi kabar.  Sesampainya di rumah, sunyi yang menyelimuti ruang tamu terasa ganjil.  Ia melangkah ke kamar, dan di sanalah kenyataan pahit menusuk hatinya. Tona, istrinya, tengah larut dalam pelukan adik kandungnya sendiri.  Mata Debur membelalak, jantungnya seakan berhenti berdetak.  Bau pengkhianatan tercium lebih menyengat daripada bau bangkai.  Dunia Debur runtuh dalam sekejap, menyisakan luka yang sulit diobati. Harapannya untuk hidup utuh bersama Tona kini retak.  Ia berdiri di antara cinta yang dikhianati. Debur berlalu, genggam bara api dalam ...

CERPEN: Hujan Cinta yang Tak Membasahi

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur berdiri di bawah langit berawan.  Hujan deras menyiram bumi kerontang.  Ia duduk terdiam, seolah ingin meredam segala resah yang bertumpuk di dadanya.  Tapi, hujan cinta yang ia tunggu tak pernah benar-benar mampu membasahi derita yang menyayat hati. Ia tersungkur dalam harapan tak bertepi.  Tiap langkahnya seakan terhenti oleh bayangan kegagalan dan penantian panjang yang tak kunjung temukan ujung.  Meski jiwanya penuh dengan harapan, ia terus berusaha merangkai kepingan mimpinya. Debur hanya ingin satu hal sederhana: Menuntun masa mudanya menuju jenjang perkawinan, agar cintanya tak lagi hanya bersemayam dalam doa.  Tapi cinta baginya adalah perjalanan panjang, penuh luka dan air mata, yang entah kapan akan terbalas dengan kebahagiaan.[]

CERPEN: Cinta di Tebing Penyesalan

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Tona berdiri di ambang senja, menatap laut yang seakan menyimpan rahasia hatinya.  Ombak berdebur, seirama dengan kegelisahan yang ia pendam.  Di sanubarinya, ada nama yang tak pernah bisa ia hapus 'Debur'.  Tapi luka janji yang pernah ia ingkari masih menghantui.  Tona merasa bersalah, karena dulu ia yang lebih dulu melepaskan genggaman tangan, padahal Debur pernah berjanji untuk selalu bertahan.  Kini, di tengah kehampaan hidupnya, bayangan Debur terus hadir, seperti cahaya samar di kegelapan. Hatinya bimbang. Apakah ia pantas kembali menyulam cinta yang pernah ia patahkan sendiri?  Apakah Debur masih menyisakan ruang untuk maaf?  Pertanyaan itu terus menghantui, membuat langkahnya ragu, meski cinta suci itu masih bersemayam di dalam dada. Tona hanya bisa memendam, menahan perih kerinduan yang tak tersampaikan.  Ia sadar, cinta sejati tak selalu berakhir dengan kebersamaan.  Kadang, cinta harus rela menjadi doa yang dip...