Tiap kali mentari terbenam dan kegelapan mulai menyelimuti kamar, bayang-bayang Tona datang tanpa diundang, membawa luka enggan mengering....
Bagiku tahun 80-an merupakan kenangan manis. Sulit terlupakan. Dimana rindu hanya bisa dititipkan pada angina. Bukan pada layar gawai. D...
Di ujung timur Pulau Madura, di wilayah yang kini dikenal sebagai Dusun Pakotan , hiduplah seorang putri penyebar agama Islam yang namany...
Pada masa jauh sebelum orang-orang menuliskannya dalam sejarah, Madura pernah berada di bawah bayang-bayang ancaman seorang pemuda sakti ber...
Oleh: Suriyanto Hasyim Di sebuah dusun kecil bernama Pakotan, di pesisir pantai utara Pulau Madura, hiduplah seorang kiai yang sangat bija...
By: Suriyanto Hasyim Debur selalu datang paling pagi ke warung kecil milik Tona. Setiap kali melihat perempuan itu tersenyum, dadanya se...
By: Suriyanto Hansyim Sosoknya selalu berkelebat di antara sepi yang menikam. Ada sesuatu dari dirinya—entah tatapan atau cara bicaranya—yan...
By: Suriyanto Hasyim Selalu saja dalam benakku ada benci yang menggunung terhadapnya. Benci yang tak pernah benar-benar padam meski waktu su...
Pengantar Penulis: Patmo, S.Pd, teman dekat saya, meminta untuk membuatkan naskah cerita rakyat Sumenep menggunakan Bahasa Madura. Saya pun ...
By: Suriyanto Hasyim Di sebuah dusun kecil yang masyarakatnya menjunjung nilai-nilai tradisional bernama Sempong Barat, yang masuk wilayah D...
By: Suriyanto Hasyim Debur menatap jauh ke cakrawala senja, hatinya remuk oleh kenyataan yang tak bisa ia ubah.  Cinta kepada Tona begitu da...
By: Suriyanto Hasyim Senantiasa Debur berusaha keras menata hidupnya agar jadi manusia seutuhnya; bertanggung jawab, bekerja jujur, dan memb...
By: Suriyanto Hasyim Debur berdiri di bawah langit berawan.  Hujan deras menyiram bumi kerontang.  Ia duduk terdiam, seolah ingin meredam se...
By: Suriyanto Hasyim Tona berdiri di ambang senja, menatap laut yang seakan menyimpan rahasia hatinya.  Ombak berdebur, seirama dengan kegel...