Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

CERPEN: Rumah Tangga Terpuruk Akibat Hutang Bank

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Hidup rumah tangga Debur berubah sejak ia salah mengambil satu keputusan besar dalam bisnis kecilnya.  Awalnya ia percaya, kerja sama dengan seorang rekan akan membawa keuntungan besar.  Tapi harapan itu runtuh ketika usaha yang mereka bangun justru merugi. Tagihan dari bank terus berdatangan, menumpuk bagaikan beban tak terlihat yang menekan setiap langkahnya.  Debur hanya bisa terdiam, menahan rasa getir setiap kali istrinya bertanya bagaimana mereka bisa melunasi hutang. Yang lebih menyakitkan, rekan kerjanya tak mau ikut bertanggung jawab.  Padahal saat ada untung, hasilnya mereka bagi berdua dengan senyum lebar.  Kini, ketika kerugian datang, Debur dibiarkan menanggung semuanya sendiri. Malam-malamnya penuh gelisah, memikirkan masa depan anak dan istri.  Hidupnya terasa kian sempit, terjerat kemelaratan akibat keputusan yang pernah ia kira bijak.  Tapi dalam hati kecilnya, Debur masih menyimpan harapan, bahwa badai ini suatu s...

CERPEN: Kisah Debur dan Tona: Cinta yang Tinggal Kenangan

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur berdiri di tepi pantai, menatap ombak yang bergulung tanpa henti.  Di sanalah dulu ia dan Tona sering berbagi cerita, menertawakan hal-hal kecil, dan menata mimpi bersama.  Tapi kini semua itu hanya tinggal kenangan. Ia baru saja mengetahui, Tona memilih untuk tidak mengenalnya lagi. Sikap dingin Tona bagai tembok yang sulit ditembus, seolah semua perjalanan cinta yang pernah mereka jalani tak pernah ada. Debur tidak bermaksud mengulang kisah lama, tidak pula ingin meraih kembali hati yang sudah pergi.  Ia hanya berharap Tona masih mengingat, bahwa ada jejak langkah mereka yang pernah terukir di pasir waktu.  Tapi, kenyataan berkata lain. Senyum pahit tersungging di bibirnya.  "Kalau memang begitu, biarlah aku yang menyimpan semua kenangan itu," bisiknya. Debur pun melangkah pergi, membiarkan debur ombak menjadi saksi bisu kecewa yang ia simpan sendiri.[]

CERPEN: Kisah Cinta Debur dan Tona: Rumah Tangga 17 Tahun yang Diuji Godaan Nafsu

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur selalu percaya bahwa cinta adalah fondasi paling kokoh dalam rumah tangganya.  Tujuh belas tahun sudah ia bersama Tona, melewati suka dan duka, membangun keluarga dengan penuh kesetiaan.  Malam-malam mereka sering diisi dengan kebersamaan, tawa kecil, dan mesra yang tak pernah pudar meski usia kian bertambah. Tapi, belakangan Debur merasakan keganjilan.  Tona berubah. Tatapannya sering kosong, senyumnya tidak lagi utuh.  Hingga akhirnya, kenyataan pahit itu terkuak—Tona jatuh hati pada seorang pemuda jauh lebih muda darinya.  Bukan karena harta, melainkan karena keinginan liar yang tak mampu ia kendalikan. Debur terpukul.  Baginya, Tona bukan sekadar istri, tapi separuh jiwa.  Ia sulit memahami, bagaimana mungkin wanita yang tiap malam masih ia dekap dengan penuh cinta, bisa tergoda oleh nafsu sesaat. Di ruang sunyi hatinya, Debur hanya mampu berbisik,  “Apakah cinta yang kuberi selama ini belum cukup? Ataukah cinta mema...

CERPEN: Badai Fitnah yang Menghantam Tona

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Tona dikenal sebagai guru teladan di salah satu SMA. Sikapnya ramah, tutur katanya halus, dan ia selalu jadi panutan murid-muridnya.  Tapi di balik semua itu, ada kelemahan kecil yang justru menjadi awal badai besar dalam hidupnya: Tona tidak bisa mengendarai sepeda motor. Setiap kali pulang mengajar, ia kerap dibonceng oleh Debur, salah seorang siswanya yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Bagi Tona, itu hanyalah bentuk bantuan seorang murid kepada gurunya. Bagi Debur, itu adalah tanda hormat sekaligus kesempatan untuk berbakti. Namun, mata masyarakat tak pernah berhenti menafsirkan.  Bisikan-bisikan mulai terdengar: “Guru Tona kok sering pulang bareng sama murid laki-laki?”, “Apa mereka ada hubungan khusus?”, begitu kata orang-orang. Fitnah itu menyebar lebih cepat dari angin. Lama-kelamaan, kabar miring sampai juga ke telinga suaminya.  Rumah tangga yang tadinya tenang mendadak porak-poranda. Suaminya, yang sejak awal percaya penuh, kini mulai diru...

CERPEN: Ingin Pulang dan Penyesalan Debur yang Terlambat

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur, seorang anggota parlemen yang dulu dihormati, tak pernah terbayangkan satu ucapan kasarnya akan mengubah segalanya.  Dalam sebuah sidang terbuka, emosinya meledak.  Kata-kata yang keluar dari mulutnya dianggap menghina rakyat.  Berita pun menyebar cepat media sosial, memicu gelombang amarah rakyat.  Episode selanjutnya, demonstrasi pecah di mana-mana, menuntutnya mundur dari jabatan. Tak sanggup menghadapi tekanan, Debur bersama istrinya dan anaknya memutuskan pergi ke luar negeri.  Dari kejauhan, ia hanya bisa menyaksikan layar berita yang menayangkan wajah rakyatnya bersatu melawan kesombongan seorang wakil mereka. Di ruang pengasingan itu, Debur duduk termenung. Ia mengingat bagaimana dulu rakyat mempercayainya, bagaimana mereka menitipkan harapan kepadanya.  Tapi, kepercayaan itu hancur oleh lidahnya sendiri. “Seandainya aku bisa menarik kembali kata-kata itu…” gumamnya lirih.  Tapi ia tahu, penyesalan tak pernah mampu m...

CERPEN: Cinta Gelap di Balik Kekuasaan

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Tona, Direktur Utama sebuah BUMN ternama, tampak berwibawa di hadapan publik.  Tapi di balik pintu rapat dan sorot kamera, ia menyimpan rahasia kelam yang hanya diketahui oleh satu orang: Debur, sopir pribadi suaminya. Hubungan terlarang itu sudah berjalan cukup lama.  Debur, meski sering terbawa arus godaan, tak pernah berhenti menasihati Tona.  Suatu sore, setelah mengantarnya pulang dari kantor, Debur memberanikan diri menegur. "Bu, hentikanlah hubungan ini. Saya tidak enak... Bapak sudah mempercayakan saya untuk menjaga Ibu, bukan malah seperti ini," ucap Debur dengan suara bergetar. Tona menatapnya tajam, lalu tersenyum getir. "Debur, suamiku itu impoten. Dia sendiri yang menyuruhku bersuami lagi kalau memang tidak puas. Tapi harus cerai dulu." Debur terdiam sejenak, lalu menatap balik. "Kalau begitu, kenapa Ibu tidak mau bercerai saja?" tanyanya lirih. Tona menunduk, suaranya terdengar getir namun penuh perhitungan. "Itu soa...

CERPEN: Bagai Pembantu di Rumah Sendiri

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur, seorang suami yang penuh tanggung jawab.  Setiap bulan, gajinya sebagai ASN ia serahkan semua kepada istrinya, Tona.  Hanya beberapa lembar uang buat transportasi ke tempat kerja.  Baginya, kebahagiaan keluarga adalah harga mati, dan Tona adalah pusat dari semua itu. Tapi, belakangan ini Tona kerap murung.  Rutinitas sehari-hari membuatnya merasa terjebak.  Pagi-pagi ia harus menyiapkan sarapan, lalu mencuci dan membersihkan rumah.  Siang menjemur pakaian, sore kembali ke dapur menyiapkan makan malam.  Malamnya, ia harus kembali memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. "Mas, aku merasa hidupku hanya di dapur, sumur, dan kasur. Aku tak ubahnya pembantu di rumah sendiri," keluh Tona.  Debur terdiam, hatinya tercekat.  Ia tak pernah membayangkan, pengorbanan dan rasa tanggung jawab yang ia jaga ternyata membuat istrinya merasa terikat.  Dengan suara pelan ia berkata, "Tona, aku tak pernah menganggapmu seperti...

CERPEN: Berkubang di Lumpur Kemarau

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur adalah seorang suami yang penuh tanggung jawab.  Sejak awal menikah, ia berjanji pada dirinya, bahwa nafkah keluarganya harus terpenuhi dari hasil keringatnya.  Setiap bulan, begitu gaji ASN-nya cair, Debur menyerahkan semuanya kepada istrinya, Tona.  Hanya selembar uang bensin yang ia sisakan di dompet, sekadar untuk ongkosnya berangkat dan pulang kerja. Tona sering terharu melihat kesungguhan suaminya.  Tapi belakangan ini, kegelisahan tak bisa ia sembunyikan.  Penyebabnya; anak sulung mereka diterima di perguruan tinggi, anak kedua bersiap masuk SMA, dan anak ketiga sudah waktunya masuk SMP.  Biaya yang menunggu terasa bagai gunung yang menjulang. Malam itu, di ruang tamu sederhana, Tona menunduk sambil menahan air mata.  Debur duduk di sampingnya, menggenggam tangan istrinya dengan hangat. “Jangan khawatir, Ton,” ucap Debur pelan. “Selama aku masih bisa bekerja, Insya Allah anak-anak akan sekolah. Kita jalani pelan-pelan,...

CERPEN: Hubungan Terlarang

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur berdiri terpaku di depan cermin kamar mandi, wajahnya pucat diterpa cahaya lampu yang redup.  Air masih menetes dari rambutnya, membasahi lantai.  Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka. Tona—mertuanya—masuk dengan langkah tergesa, wajahnya tampak kalut. “Debur…” suara Tona bergetar, entah karena sedih, entah karena dorongan emosi yang tak mampu ia bendung. Sebelum sempat berkata-kata, Tona memeluknya erat.  Pelukan itu bukan sekadar pelukan ibu mertua pada menantunya; ada rasa sepi, ada luka lama yang meledak.  Debur kaget, tubuhnya kaku. “Ibu… jangan begini,” bisik Debur, tapi suaranya terdengar lemah.  Ia tahu ini salah, tapi ada kerinduan manusiawi yang tiba-tiba membelenggunya. Malam itu, batasan hancur. Mereka larut dalam bisu dan dosa. Tapi, setelah semuanya terjadi, sunyi lebih mencekam daripada apa pun.  Tona terduduk di lantai, menutup wajah dengan kedua tangannya.  “Astaghfirullah… apa yang kita lakukan, Bur?” suaran...

CERPEN: Sungai Air Mata Sepasang Kekasih

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Di masa kuliah, Tona dan Debur tak terpisahkan.  Mereka sering jadi tim dalam berbagai kegiatan kampus, dari lomba debat, organisasi kemahasiswaan, hingga proyek sosial.  Kebersamaan itu membuat Debur yakin, suatu hari ia akan melamar Tona. Akan tetapi, semua berubah tatkala Debur tanpa sengaja mengetahui siapa sebenarnya Tona.  Di balik sikapnya yang sederhana, Tona adalah anak dari keluarga berpengaruh dan berharta, pemilik perusahaan besar. Berhari-hari Debur memikirkan itu.  Ia merasa kecil, minder, dan tak pantas.  Rencana lamaran yang sudah ia susun rapi perlahan ia lipat dan simpan di laci pikirannya.  Sedangkan Tona menunggu kabar yang tak kunjung datang. Debur memilih diam, takut melangkah ke dunia yang terasa terlalu tinggi baginya. Dulu dua sahabat berdiri sejajar, kini jarak tak terlihat mulai membentang, bukan karena Tona berubah, tapi karena Debur mundur. [sh]

CERPEN: Malam Duka dan Tangan Kosong

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur duduk diam di kursi bus, menatap jendela yang dipenuhi bayangan lampu jalan.  Di sampingnya, ibunya menahan air mata.  Sejak kabar ayahnya dijebloskan ke penjara karena kasus korupsi,  hidup mereka kelam.  Rumah megah, mobil, tabungan di bank, bahkan uang dan perhiasan yang disembunyikan di ruang bawah tanah, semuanya disita negara. Bus malam yang mereka tumpangi memasuki jalan sempit menuju kampung halaman.  Tak ada koper besar, tak ada kotak kardus - hanya tas lusuh berisi pakaian seadanya.  Begitu turun di depan gang kecil, angin malam menyapa dengan dingin yang menusuk tulang. Lampu-lampu rumah tetangga sudah padam.  Suara jangkrik bersahutan di kegelapan.  Debur menggenggam tangan ibunya erat-erat, berjalan pelan di jalan tanah yang kering.  Mereka pulang, tapi bukan sebagai keluarga yang dulu dikenal kaya, melainkan sebagai orang asing yang kembali membawa cerita pahit. Di ujung gang, rumah kayu tua peninggala...

CERPEN: Kemelaratan yang Tak Pernah Lulus Seleksi

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur sudah lebih dari dua puluh tahun mengajar sebagai guru honorer.  Pagi, siang, bahkan malam ia habiskan untuk mempersiapkan materi, membimbing murid, dan menghadiri rapat sekolah.  Tidak ada gaji yang layak, hanya honor seadanya.  Tapi Debur tetap bertahan, percaya bahwa pengabdian akan dibalas oleh negara. Kenyataan berbicara lain.  Ketika seleksi PPPK datang, Debur kembali gagal.  Bukan sekali, tapi berkali-kali.  Pemerintah, seolah buta, tak melihat keriput di wajahnya yang lahir dari lelah mendidik anak bangsa. Ironisnya, Tona, guru honorer baru empat tahun, lulus seleksi PPPK.  Bagi Debur, itu seperti pil pahit yang harus ditelan sambil menahan air mata.  Bukan karena iri, tapi karena keadilan yang diimpikannya selama ini ternyata hanyalah cerita di atas kertas. Di meja belajarnya yang reyot, Debur menatap tumpukan buku dan catatan muridnya.  “Jika pengabdian tak dihargai, untuk apa kata ‘pahlawan tanpa tanda ja...

CERPEN: Cinta yang Tak Ternilai

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Tona dikenal cantik, cerdas, dan memesona.  Cinta yang Tak Ternilai Tapi, hati Tona seolah tak tersentuh oleh semua kemewahan itu. Di tengah persaingan sengit itu, hadir Debur; seorang pria sederhana yang hidup pas-pasan.  Ia tak punya harta, tak punya jabatan, hanya punya keberanian dan ketulusan.  Debur tak pernah membanjiri Tona dengan hadiah, tapi selalu hadir ketika Tona butuh sandaran.  Ia mendengar, memahami, dan menghargai Tona bukan sebagai “hadiah” yang harus dimenangkan, melainkan sebagai jiwa yang layak dicintai. Lama-lama, Tona merasakan sesuatu yang berbeda.  Keberadaan Debur membuatnya merasa aman, dicintai, dan dihargai apa adanya.  Pada akhirnya, di tengah hiruk pikuk pria-pria kaya yang berlomba memikatnya, Tona memilih Debur—pria sederhana yang berhasil menundukkan hatinya dengan ketulusan yang tak ternilai. []

CERPEN: Bila Hujan tak Mau Turun

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur duduk di teras rumah Tona, menatap perempuan itu. Dalam.  Ada raut letih di wajahnya, tapi juga keteguhan yang sulit digoyahkan. Sejak perceraian itu, Tona memilih hidup sendiri.  Mantan suaminya telah meninggalkan luka di hatinya.  Pukulan demi pukulan, makian demi makian, telah memberangus kepercayaan Tona pada kata cinta. "Aku cuma nggak mau mengulang hidup di neraka yang sama," ujar Tona pelan ketika Debur mencoba membicarakan pernikahan. Debur mengangguk, walau hatinya sesak. Ia paham rasa takut itu, tapi juga prihatin melihat Tona menutup rapat pintu hatinya.  "Kalau aku carikan calon yang baik, yang bisa jaga kamu, mau?" tanyanya hati-hati. Tona menggeleng tanpa menoleh. Debur terdiam sejenak, lalu memberanikan diri. "Bagaimana kalau aku?" Perempuan itu tak menatapnya, tak juga menjawab. Hanya angin sore yang menyapu hening di antara mereka. Debur tersenyum pahit. Kadang, luka masa lalu terlalu dalam untuk dijangkau oleh t...

CERPEN: Aku Memilihmu jadi Imamku

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur awalnya hanya iseng membuka aplikasi media sosial di malam yang lengang.  Ia menemukan profil seorang wanita bernama Tona.  Foto profilnya menampilkan wajah yang tampak lebih tua dari usianya, dengan senyum seadanya.  Dalam percakapan, Tona mengaku berusia 36 tahun, janda dua anak.  Entah mengapa, meski fotonya biasa saja, Debur merasa nyaman ngobrol dengannya. Hari-hari berlalu, obrolan mereka makin intens.  Mereka saling curhat, bercanda, bahkan saling mengirim voice note.  Hingga suatu malam, Tona mengajak jumpa darat. Di kafe kecil pinggir kota, Debur menunggu dengan sedikit gugup. Lalu seorang wanita muda berkulit cerah, berambut panjang, dan bermata teduh melangkah masuk.  Debur tertegun—itu Tona. Cantik, segar, dan jelas jauh lebih muda dari pengakuannya. "Ini… kamu?" tanya Debur setengah tak percaya. Tona tersenyum, duduk di hadapannya.  "Foto dan usia di profil itu hanya untuk menguji. Aku ingin tahu siapa yang ...

CERPEN: Debur dan Bayang-Bayang Korupsi

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur cukup muak tiap kali menonton berita tentang para koruptor di Indonesia.  Hukuman mereka seringkali ringan, bahkan beberapa tetap bisa hidup mewah di balik jeruji.  Ironisnya, ayahnya sendiri adalah salah satu dari mereka, seorang koruptor yang kini mendekam di penjara karena kasus suap. Ayah Debur dulu menyuap pejabat negara agar dimudahkan mendapatkan proyek.  Katanya, kalau tidak menyuap, ia pasti kalah bersaing dengan pihak lain yang juga main uang.  Bagi ayahnya, suap hanyalah “biaya masuk” dunia bisnis. Debur tidak pernah membela perbuatan ayahnya, meski ia paham alasan di baliknya.  Ia justru melihat bahwa alasan semacam itu adalah akar busuk yang membuat negeri ini sulit berubah.  “Kalau semua orang berpikir begitu, kapan negara ini bisa bersih?” batin Debur. Kini, tiap mendengar janji pemerintah soal pemberantasan korupsi, Debur tersenyum miris.  Bagi dia, korupsi bukan sekadar kejahatan, tapi juga warisan mental yan...

CERPEN: Sujud Debur tanpa Batas

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur tumbuh jadi lelaki perkasa, meski masa lalunya tak pernah luput dari bisik-bisik hinaan.  Ia adalah anak pelacur.  Tapi Debur tidak menundukkan kepala karena malu.  Ia justru menengadahkan hati kepada Tuhan. Ia yakin, Tuhan Maha Pengampun.  Tiap malam, Debur sujud lama di atas sajadah, merintih dalam doa.  Ia memohon ampun bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk ibunya.  Debur tidak pernah membenci ibunya.  Justru, ia menyimpan rasa sayang yang dalam, meski tak diungkapkan dengan kata-kata.  Dalam tiap tetes air matanya, terselip doa agar ibunya selamat di akhirat kelak. Baginya, masa lalu hanyalah ujian. Dan sujud yang panjang adalah jalan pulangnya. []

CERPEN: Cinta di Ujung Senja

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Bagi Debur, usia bukanlah penghalang untuk menemukan cinta.  Menjelang kepala lima, ia masih perjaka.  Hidupnya dihabiskan untuk bekerja keras, membangun usaha kecil di kota.  Ia tak pernah berpikir akan menikah, hingga Tona hadir. Tona, janda beranak dua, membawa warna baru dalam hidupnya. Senyumnya mencaikan kesepian yang telah lama membeku di hati Debur.  Banyak tetangga mencibir, menuduh Debur buta mata. Tapi Debur hanya tersenyum.  Baginya, kebahagiaan tak perlu persetujuan siapa pun. Selesai akad nikah, Debur merasa seperti lelaki paling beruntung di dunia.  Bukan karena Tona sempurna, tapi karena Tona menerima dirinya. Bagi Debur, cinta bukan soal usia atau masa lalu, melainkan keberanian untuk memilih satu hati dan menjaganya. []

Cerpen: Nasi Sudah Jadi Bubur

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur pulang dari Jakarta dengan hati penuh rindu.  Seminggu terakhir, ia bekerja keras menjaga toko kelontong yang sedang berkembang.  Wajah Tona dan tawa dua buah hati mereka selalu membayang di kepalanya.  Ia membayangkan pelukan hangat keluarga saat pintu rumah dibuka. Tapi, yang menyambutnya hanyalah sunyi.  Pintu terkunci, tirai rumah tergerai kusam.  Debur mengintip ke dalam, kosong. Tak ada suara, tak ada jejak. Dari bisik tetangga, ia mendengar kabar pahit: Tona telah pergi.  Ia tergoda oleh seorang lelaki berharta, yang bahkan sudah memiliki istri.  Lelaki itu membawanya pergi jauh, meninggalkan segala yang pernah mereka bangun bersama. Yang lebih menusuk hati, kedua anaknya ikut dibawa kabur Tona.  Amarah Debur sempat mendidih, mengguncang dadanya.  Tapi ia hanya bisa terdiam, menatap langit sore yang meredup.  Semua sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur. Bagi Debur, tak mungkin lagi merangkai cinta yang te...

Cerpen: Akhir Tragis Debur, dari Pejabat Kebal Hukum ke Narapidana

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Dulu, Debur adalah pejabat negara yang disegani—penampilannya rapi, tutur katanya meyakinkan, dan jaringannya luas.  Saat desas-desus penyalahgunaan wewenang mulai muncul, ia tak gentar.  Di sekelilingnya ada pengacara-pengacara kawakan dan pakar hukum yang lihai memainkan pasal, membelokkan fakta, dan merancang strategi pembelaan.  Dengan bantuan mereka, Debur lolos dari jerat hukum, seolah tak tersentuh.  Debur kembali melenggang di panggung kekuasaan. Nah, roda waktu terus berputar. Ketika rezim berganti dan wajah-wajah baru mulai mengurai benang kusut warisan masa lalu, nama Debur kembali mencuat.  Bukti-bukti yang dulu tersembunyi mulai terkuak, saksi-saksi yang dulu bungkam kini berani bersuara.  Tanpa tameng kekuasaan dan pengaruh, Debur tak lagi kebal.  Satu per satu, lembaran lama dibuka kembali, dan kali ini hukum menjemputnya dengan lebih tegas. Kini Debur mendekam di balik jeruji, bukan lagi sebagai pejabat terhormat, m...