CERPEN: Meratapi Sumpah yang Jadi Debu

CERPEN terbaik: Meratapi Sumpah yang Jadi Debu

Tiap kali mentari terbenam dan kegelapan mulai menyelimuti kamar, bayang-bayang Tona datang tanpa diundang, membawa luka enggan mengering.

Di keheningan malam, namanya bergema seperti bisikan menyayat hati, mengingatkanku bahwa kini ia bukan lagi pelabuhanku pulang.

Tidur jadi hal yang mustahil ketika kenyataan bahwa ia telah jadi milik orang lain, meninggalkan lubang hampa menyesakkan di tengah kesunyian.

Aku masih ingat betul, getaran suaranya saat kami mengucap janji suci untuk saling menjaga hingga raga tak lagi bernyawa.

Namun, semua kata manis itu kini hanya jadi puing-puing pengkhianatan yang berserakan di dasar jiwaku.

Ia melangkah pergi, merobek lembaran setia yang kami bangun dengan tetesan air mata dan harapan.

Lalu memilih untuk memberikan hatinya kepada orang lain seolah semua sumpah yang pernah terucap hanyalah angin lalu.

Kini, rasa kecewa menyeruak hebat di dada. Setiap kali aku membayangkan ia sedang tersenyum dalam pelukan yang berbeda.

Melihatnya bahagia di atas kehancuran janji kami adalah siksaan batin tak berujung.

Membuktikan bahwa kesetiaan yang kujaga telah terbalas dengan belati luka. Aku terperangkap dalam jeruji kenangan.

Meratapi cinta yang dikhianati. Sementara ia dengan tenang melanjutkan hidup di sisi pria yang kini berhak memanggilnya "milikku". [k4y]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaji Rp300 Ribu di 2026: Potret Nasib Guru Honorer dan Nakes yang Terlupakan Negara

Terobosan Baru: Pusat Therapy Buta Warna Indonesia Beri Harapan Nyata Bagi Penderita Buta Warna

Ijazah Jokowi Tak Kunjung Ditunjukkan, Cinta Rakyat Berubah Jadi Kekecewaan