Selasa, 30 September 2025

Suhartono, Maestro Perahu Nelayan dari Pasongsongan

Apoy madura dalam bingkai opini

Di tengah arus modernisasi alat tangkap laut yang kian pesat, masih ada sosok yang menjaga marwah tradisi bahari Madura. 

Suhartono, seorang pembuat perahu nelayan khas Desa Pasongsongan, adalah salah satunya. 

Kediamannya berada di Dusun Benteng Utara, Desa Panaongan, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, ia mengabdikan hidupnya untuk melestarikan seni sekaligus keterampilan yang diwariskan para leluhur: Membangun perahu tradisional.

Ketika saya berbincang dengannya, Suhartono mengisahkan bahwa keterampilan itu bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. 

Ia memulainya dari nol, bekerja sebagai buruh pembuat perahu bersama para senior. 

Dari situlah ia belajar mengukur, memahat, merakit, hingga memahami detail estetika dan fungsi sebuah perahu. 

Proses panjang itu kemudian membentuknya menjadi seorang perancang bangun perahu yang kini diakui kemahirannya.

Pelestari budaya

Tak berlebihan jika hasil karya Suhartono kini dianggap sebagai kiblat oleh para juragan perahu nelayan. 

Perahu buatannya bukan hanya berfungsi sebagai alat mencari nafkah di laut, tapi juga simbol prestise bagi pemiliknya. 

Pemesanan perahu darinya datang tidak hanya dari nelayan Pasongsongan, melainkan juga dari Ambunten, Slopeng, Legung, Dungkek, Gapura, bahkan hingga ke luar Kabupaten Sumenep—Pamekasan dan Sampang. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa sentuhan tangan Suhartono telah melampaui sekat geografis.

Tapi, di balik keindahan karya dan keterampilannya, ada fakta menarik sekaligus menantang: Harga pembuatan sebuah perahu tradisional Pasongsongan mencapai lebih dari satu miliar rupiah. 

Angka ini tentu tidak kecil. Akan tetapi, jika dipahami secara mendalam, biaya tersebut sepadan dengan nilai seni, kualitas material, keahlian, serta keawetan perahu yang mampu diandalkan para nelayan bertahun-tahun lamanya.

Penjaga peradaban

Dalam pandangan saya, Suhartono bukan sekadar pengrajin. Ia adalah penjaga peradaban maritim Madura. 

Di tengah keterdesakan perahu fiberglass atau kapal pabrikan modern, kehadirannya jadi penegas bahwa perahu tradisional Pasongsongan bukan hanya soal fungsi, tapi juga soal identitas. 

Ia menjaga warisan budaya sekaligus menghidupkan roda ekonomi lokal melalui pesanan yang terus berdatangan.

Melihat kiprahnya, kita perlu memberi perhatian lebih kepada sosok seperti Suhartono. 

Pemerintah daerah maupun lembaga kebudayaan seyogianya tidak hanya memandang hasil kerjanya sebagai aktivitas ekonomi, tapi juga sebagai warisan budaya takbenda yang harus dilestarikan. 

Pasalnya, jika generasi seperti Suhartono tidak ada lagi penerusnya, bisa jadi keterampilan membangun perahu khas Pasongsongan perlahan hilang ditelan zaman.

Penutup

Sosok Suhartono adalah bukti nyata bahwa warisan budaya sanggup bertahan bukan semata karena romantisme sejarah, melainkan karena ada tangan-tangan terampil yang terus menjaganya. 

Dalam setiap papan kayu yang ia pasang, terkandung semangat leluhur Madura yang selalu berpaut dengan laut. []

Ainur Ridwan, Pensiunan Guru yang Setia Mengabdi pada Kerawitan

Apoy Madura opini

Dalam setiap perjalanan budaya, selalu ada sosok yang memilih jalan sunyi: Menjaga, merawat, sekaligus menyalakan api tradisi di tengah derasnya arus modernitas. 

Salah satunya adalah Ainur Ridwan, M.Pd, pensiunan kepala sekolah negeri yang kini lebih dikenal sebagai pimpinan seni kerawitan Sumenep, melalui group Sopo Nyono dan Putri Nurindah. 

Bertempat tinggal di Dusun Benteng Utara, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Ainur Ridwan bukan sekadar pelaku budaya. 

Ia adalah pengemban tanggung jawab moral untuk memastikan kerawitan—yang bagi sebagian orang mulai dianggap "kesenian usang"—tetap hidup dan berdentang di telinga generasi muda.

Perekat sosial

Dalam percakapan santai dengan saya, Ainur Ridwan banyak bercerita tentang perjalanan panjangnya berkesenian. 

Baginya, kerawitan bukan hanya hiburan, melainkan jalan hidup, ruang pembelajaran, sekaligus sarana perekat sosial. 

Dari denting gamelan, ia melihat kehidupan: Ada harmoni, ada kesabaran, ada keindahan yang menuntut ketekunan.

Nama Ainur Ridwan cukup dikenal di blantika seni gamelan Madura. 

Kelompok kerawitan yang dipimpinnya kerap mendapat undangan tampil dalam berbagai acara, terutama pernikahan. 

Ia percaya bahwa kesenian tradisional bukan sekadar pelengkap pesta, tapi juga sarana mempertebal identitas budaya masyarakat.

Yang menarik, perjalanan ini ditempuhnya setelah menuntaskan karier panjang sebagai pendidik. 

Langka

Tidak banyak pensiunan guru yang memilih jalur kebudayaan sebagai medan pengabdian berikutnya. 

Tapi, Ainur Ridwan justru melihat ada kesinambungan: Jika dulu ia mendidik murid di ruang kelas, kini ia mendidik masyarakat lewat kesenian.

Pendapat saya, sosok seperti Ainur Ridwan adalah teladan yang patut diapresiasi. 

Di saat banyak orang berlomba pada budaya populer instan, ia teguh menghidupi kerawitan dengan kesadaran penuh bahwa setiap tabuhan gamelan adalah bagian dari sejarah, identitas, dan kebanggaan masyarakat Madura.

Kita membutuhkan lebih banyak tokoh yang berjiwa seperti Ainur Ridwan. 

Sebab tanpa mereka, tradisi mudah sekali dilupakan, tergilas arus globalisasi. 

Penutup

Kerawitan, dengan segala keluhuran nilai yang terkandung di dalamnya, tidak akan bertahan hanya dengan nostalgia. 

Ia butuh pelaku yang sabar, tekun, dan bersetia. Dan Ainur Ridwan telah membuktikan dirinya sebagai salah satu penjaga itu.[]

Gending Madura Iringi Pernikahan Anak Imam Munandar di Pasongsongan

Sopo Nyono pasongsogan
Ainur Ridwan,M.Pd, pimpinan seni kerawitan Sopo Nyono dan Putri Nurindah. [Foto: sh]

SUMENEP – Suasana hangat dan penuh kearifan lokal terasa kental di kediaman Imam Munandar, Dusun Morasen, Desa/Kecamatan Pasongsongan, saat keluarga besar ini menggelar hajatan pernikahan anaknya. Sabtu (27/9/2025). 

Tidak hanya jadi peristiwa sakral keluarga, acara tersebut juga jadi ruang bagi masyarakat untuk menikmati pagelaran seni tradisi Madura.

Alunan gending-gending Madura mengiringi jalannya acara, menghadirkan nuansa khas yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat pesisir utara Sumenep. 

Seni kerawitan Sopo Nyono dan Putri Nurindah, di bawah pimpinan Ainur Ridwan, M.Pd, tampil dengan penuh penghayatan. 

Tabuhan gamelan berpadu harmonis dengan lantunan tembang, mengajak hadirin larut dalam suasana syahdu.

Penembang masyhur, Rustini  menambah sentuhan yang begitu mendalam. 

Suara merdunya yang melantunkan tembang-tembang Madura sarat makna, seakan membawa para tamu undangan menyusuri kembali akar tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi keluarga besar Imam Munandar, pagelaran ini bukan sekadar hiburan dalam pesta pernikahan, tapi juga bentuk penghormatan terhadap seni dan budaya lokal. 

Sementara itu, Ainur Ridwan saat diwawancarai memberikan ulasan logis. 

“Kami ingin momen berbahagia ini menghadirkan kesempatan untuk kembali mendekatkan diri pada tradisi kita sendiri,” ungkap Ainur Ridwan.

Kehadiran gending Madura di tengah hajatan ini menunjukkan betapa seni tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. 

Lebih dari sekadar suguhan budaya, pagelaran ini jadi pengingat pentingnya menjaga dan merawat warisan leluhur agar tetap hidup di tengah arus modernisasi. [sh]

Dari Laut ke Darat: Juragan Perahu Pasongsongan Beralih ke Bisnis Toko Kelontong

Suriyanto Hasyim

Pasongsogan termasuk wilayah Kabupaten Sumenep yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pamekasan. 

Pasongsongan sejak lama dikenal sebagai kampung nelayan dengan perahu-perahu tradisional yang berjajar di pesisir. 

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, saya mengamati pemandangan sosial-ekonomi masyarakat di desa sekaligus kecamatan ini mulai berubah. 

Terdengar kalimat di telinga saya: "Tak mungkin kami bertahan. Tuntutan hidup memaksa kami untuk berontak."

Juragan perahu yang dahulu jadi poros utama kehidupan laut, kini banyak yang mengalihkan usahanya ke darat, yakni membuka toko kelontong atau toko sembako.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Musim angin barat selalu jadi masa suram bagi para nelayan Pasongsongan. 

Banyak perahu tidak melaut, para nelayan pun terpaksa beristirahat panjang. 

Sementara kebutuhan hidup sehari-hari terus berjalan. 

Mereka yang memiliki simpanan bisa bertahan, tapi bagi yang tidak, jalan pintas harus diambil. Biasanya berutang. 

Celakanya, utang itu kerap jatuh ke tangan rentenir dengan bunga mencekik.

Cakrawala Baru

Pengalaman pahit inilah yang membuka kesadaran baru, baik bagi nelayan maupun juragan perahu. 

Bahwa kehidupan yang hanya bergantung pada hasil laut tidak selamanya menjanjikan. 

Ada risiko besar yang tidak bisa mereka kendalikan, yakni cuaca dan musim. 

Dari situlah muncul keberanian untuk beralih profesi: meninggalkan laut, mengadu nasib dengan berdagang kelontong.

Perspektif

Pandangan mereka sederhana tapi logis: Berbisnis toko kelontong berarti bisa memegang uang setiap hari. 

Berbeda dengan melaut yang hasilnya tidak menentu, kadang melimpah, namun acapkali nihil. 

Sementara kalau berdagang sembako, aliran uang lebih pasti, kendati mungkin tidak sebesar hasil tangkapan ikan di musim baik.

Perubahan ini sejatinya adalah cermin ketahanan masyarakat Pasongsongan. 

Mereka berani mengambil keputusan berat: Merantau, meninggalkan kampung halaman, dan mencari kehidupan yang lebih stabil. 

Bukan sekadar tentang meninggalkan laut, melainkan tentang merumuskan kembali makna kesejahteraan bagi keluarga.

Kini, toko kelontong jadi simbol perlawanan terhadap ketidakpastian. 

Hal itu adalah bentuk kemandirian baru yang tumbuh dari pengalaman pahit. 

Juragan perahu dan nelayan Pasongsongan seakan memberi pesan: Kadang, meninggalkan tradisi bukan berarti melupakan identitas, melainkan cara bertahan agar hidup lebih baik.[]

Senin, 29 September 2025

SDN Padangdangan 2 Gelar Upacara Bendera Rutin, Tekankan Pentingnya Disiplin

Sdn Padangdangan 2 kecamatan Pasongsongan
Upacara bendera SDN Padangdangan 2. [Foto: sh]

SUMENEP – SDN Padangdangan 2 Kecamatan Pasongsongan menggelar upacara bendera rutin sebagai bagian dari kegiatan pembiasaan positif bagi para siswa. Senin (29/9/2025). 

Pada kesempatan tersebut, Imanis Zulfa, salah seorang guru kelas yang bertindak sebagai pembina upacara, menyampaikan pentingnya upacara bendera sebagai sarana menanamkan kedisiplinan.

Sdn Padangdangan 2

“Upacara bendera bukan hanya sekadar kegiatan seremonial, melainkan juga pembiasaan diri untuk disiplin dalam banyak hal. Salah satu manfaat disiplin diri bagi pelajar meliputi pembentukan karakter positif seperti pengendalian diri, kemandirian, dan tanggung jawab, yang semuanya penting untuk kesuksesan kita di masa depan,” ujar Imanis Zulfa dalam amanatnya.

Kegiatan ini diikuti seluruh guru dan siswa dengan penuh khidmat. 

Pihak sekolah berharap, melalui upacara bendera, nilai-nilai nasionalisme dan karakter positif terus tumbuh di kalangan pelajar sejak dini. [sh]

Festival Sapparan Budaya ke-4 Lesbumi PCNU Sumenep Meriah di Tastaman

Lesbumi mwc nu kecamatan Gapura
Akhmad Jasimul Ahyak (kanan).[Foto: sh]

SUMENEP – Acara puncak Festival Sapparan Budaya ke-4 berlangsung meriah di Tastaman, Kecamatan Gapura. Sabtu (27/9/2025). 

Kegiatan tahunan yang digelar Lesbumi PCNU Sumenep ini dihadiri oleh seluruh ketua Lesbumi MWC NU se-Kabupaten Sumenep, termasuk Akhmad Jasimul Ahyak, Ketua Lesbumi MWC NU Pasongsongan, beserta sekretarisnya. 

"Beragam pertunjukan seni ditampilkan dalam festival tersebut," jelas Jasimul ketika dihubungi via sambungan telepon. 

Jasimul mengungkapkan, bahwa dirinya sangat tertarik dengan pementasan teater berjudul "Makan Makam" .

"Pertunjukan teater tersebut berhasil memikat perhatian penonton dengan alur cerita yang kuat dan simbolis," tambahnya. 

Selain itu, ada pula musikalisasi puisi “Jan Anjin” yang diiringi dengan alat musik tradisional lesung, menghadirkan suasana khas budaya lokal Madura.

Tak kalah menarik, penayangan film pendek karya Sanggar Tastaman berjudul "Elegi Tanpa Batin" turut memperkaya ragam pertunjukan dalam acara ini.

Jasimul menambahkan bahwa Festival Sapparan Budaya sendiri menjadi wadah bagi seniman, budayawan, dan masyarakat untuk merawat serta mengembangkan nilai-nilai tradisi sekaligus memperkuat identitas kebudayaan lokal. [sh]

Minggu, 28 September 2025

Festival Sapparan Budaya ke-4 Lesbumi PCNU Sumenep Berlangsung Meriah

Lesbumi pcnu Sumenep
Pentas teater Makan Malam. [Fot: sh]

SUMENEP – Acara puncak Festival Sapparan Budaya ke-4 digelar di Tastaman, Kecamatan Gapura, Sabtu malam (27/9/2025). 

Festival tahunan yang diinisiasi Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Sumenep ini dihadiri oleh seluruh ketua Lesbumi MWC NU se-Kabupaten Sumenep.

Mwc nu gapura

Beragam pertunjukan seni ditampilkan, mulai dari pementasan teater hingga musikalisasi puisi berjudul Jan Anjin yang dibawakan dengan alat musik tradisional berupa lesung. 

Suasana kian semarak dengan penayangan film pendek karya Sanggar Tastaman berjudul Elegi tanpa Batin, yang mendapat apresiasi hangat dari para penonton.

Lesbumi mwc nu

Festival Sapparan Budaya ini jadi ruang ekspresi sekaligus ajang pelestarian seni tradisi lokal. 

Lesbumi PCNU Sumenep menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan wadah yang memperkuat identitas kebudayaan Madura melalui kegiatan tahunan tersebut. [sh]

K Dardiri Zubairi Sampaikan Orasi Kebudayaan di Festival Sapparan Budaya

Lesbumi pcnu Sumenep
K Dardiri Zubairi. [Foto: sh]

SUMENEP  -  K Dardiri Zubairi, Wakil Ketua PCNU Sumenep dan pengasuh Pondok Pesantren Nasy'atul Muta'allimin, Gapura Timur, Kecamatan Gapura. Sabtu malam (27/9/2025). 

Beliau menyampaikan orasi kebudayaan pada acara puncak Festival Sapparan Budaya ke-4 di Tastaman, Gapura. 

Dalam orasinya, ia membahas tentang "Nyi' konyi' gunung", sebuah spirit moralitas manusia Madura yang berarti apa adanya.

Menurut K Dardiri, budaya "Nyi' konyi' gunung" merupakan identitas orang Madura yang memiliki sifat apa adanya dan tidak suka berpura-pura. 

Orasi kebudayaan ini jadi salah satu highlight acara yang dihadiri oleh semua ketua Lesbumi MWC NU kecamatan. 

Festival Sapparan Budaya ke-4 yang diselenggarakan Lesbumi PCNU Sumenep ini merupakan acara tahunan yang bertujuan untuk melestarikan budaya Madura dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya budaya lokal. 

Acara ini diharapkan bisa menjadi wadah bagi masyarakat untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang budaya Madura. [sh]

PB Elang Waru Jalin Persahabatan dengan PB Indoras Sumenep

Pb elang waru pamekasan
Club PB Elang (kiri) dan Club PB Indoras. [Foto: sh]

PAMEKASAN – Persahabatan bulutangkis antara Club PB Elang Waru, Kabupaten Pamekasan dengan Club PB Indoras, Kota Sumenep berlangsung penuh keakraban dan suasana kekeluargaan. Ahad (28/9/2025). 

Pertemuan dua klub ini jadi ajang silaturahmi sekaligus latihan bersama bagi para atlet muda yang rata-rata berusia Sekolah Dasar. 

Pelatih PB Elang Waru, Agus Setiawan, menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membangun mental anak didiknya melalui olahraga. 

“Persahabatan bulutangkis bertujuan untuk mempererat kebersamaan, meningkatkan kesehatan fisik dan mental, serta mengembangkan keterampilan dan pengalaman dalam olahraga melalui interaksi sosial yang menyenangkan,” ungkap Agus Setiawan yang pernah jadi pelatih bulutangkis profesional di Jakarta.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memperkuat hubungan antar-klub, tapi juga jadi wadah positif bagi generasi muda untuk berkembang dalam dunia bulutangkis. 

Ada tambahan sedikit, persahbatan kedua klub itu berlangsung di PB Elang Waru. [sh]

Parkir di Eks-Kewedanan Waru Dikelola Takmir Masjid Jami’ Nurul Huda

Eks-kewedanan waru pamekasan
Petugas parkir sedang merapikan kendaraan. [Foto: sh]

PAMEKASAN — Lahan parkir di lokasi eks-Kewedanan Waru, Kabupaten Pamekasan, kini dikelola oleh takmir Masjid Jami’ Nurul Huda. Ahad (28/9/2025) 

Hasil dari retribusi parkir tersebut sepenuhnya dimanfaatkan untuk perawatan sarana dan prasarana masjid.

“Dari sejak awal pemanfaatan, uang parkir ini untuk perawatan bangunan masjid,” ujar Etto, salah seorang penjaga parkir yang dipercaya oleh pengurus takmir. 

Pengelolaan parkir tersebut telah mendapatkan rekomendasi resmi dari Camat Waru. 

Para pengguna kendaraan yang memarkir di lokasi ini dikenakan tarif sebesar Rp 3.000. 

Selain membantu keberlangsungan perawatan masjid, pengelola juga menjamin keamanan kendaraan yang diparkir. [sh]

Jumat, 26 September 2025

Hari Tani Nasional: Saatnya Pemerintah Serius Sejahterakan Petani

Hari Tani Nasional 2025

Hari Tani Nasional jatuh pada Rabu, 24 September 2025, menandai peringatan ke-62 sejak ditetapkannya hari tersebut. 

Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk merenungkan kembali nasib petani yang jadi tulang punggung ketahanan pangan negeri.

Tapi faktanya di lapangan justru menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. 

Bagaimana mungkin pemuda desa saat ini bisa tertarik menggeluti dunia pertanian, sementara banyak pekerjaan lain yang dianggap lebih cepat mendatangkan keuntungan? 

Jadi petani seringkali berarti harus siap menanggung kerugian. 

Biaya produksi terus meningkat, sementara hasil panen kerap tak sebanding.

Contoh paling nyata adalah persoalan pupuk. Pupuk bersubsidi yang seharusnya meringankan beban petani justru langka di pasaran. 

Alhasil, harga melambung tinggi dan menambah beban ongkos produksi. 

Situasi ini membuat bercocok tanam terasa seperti berjudi dengan nasib—antara rugi dan rugi lebih besar.

Pada Hari Tani Nasional ke-62 ini, sudah seharusnya pemerintah menaruh perhatian serius pada kesejahteraan petani. 

Tidak cukup hanya dengan program bantuan sesaat, tapi dengan kebijakan jangka panjang yang berpihak pada mereka. 

Lantaran tanpa petani yang sejahtera, sulit membayangkan masa depan pangan Indonesia tetap terjaga. [sh]

Hari Tani Nasional: Kesejahteraan Petani yang Masih Terabaikan

Hari Tani Nasional 2025

Hari Tani Nasional pada Rabu, 24 September 2025, menandai peringatan ke-62 sejak ditetapkannya hari bersejarah tersebut. 

Momentum ini tidak hanya mengenang lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) pada 24 September 1960, tapi juga seharusnya jadi refleksi nyata atas kondisi petani Indonesia. 

Pada peringatan kali ini, sejatinya pemerintah dituntut memberi perhatian khusus terhadap kesejahteraan petani. 

Bagaimana mungkin pemuda desa mau menekuni dunia pertanian, jika fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat tani justru merugi? 

Biaya produksi yang terus meningkat, harga pupuk dan sarana produksi yang tak terkendali, serta harga panen yang murah membuat hasil kerja keras petani tidak sebanding dengan pengorbanan mereka.

Kondisi ini membuat pertanian tidak lagi dipandang sebagai jalan hidup yang menjanjikan. 

Orientasi pemuda desa pun beralih, meninggalkan sawah dan ladang demi pekerjaan lain yang dianggap lebih menguntungkan. 

Jika dibiarkan, bukan hanya regenerasi petani yang terancam, tapi juga kedaulatan pangan bangsa.

Oleh karena itu, Hari Tani Nasional tidak boleh berhenti sebatas seremoni. 

Ia harus jadi titik balik bagi pemerintah untuk menata ulang kebijakan, menekan biaya produksi, menjamin harga yang layak, dan mengembalikan kebanggaan jadi petani. 

Tanpa itu semua, cita-cita swasembada dan ketahanan pangan hanyalah ilusi. [sh]

Hari Tani Nasional: Antara Sejarah dan Tantangan Regenerasi Petani

Hari tani Nasional

Hari Tani Nasional yang jatuh pada Rabu, 24 September 2025, menandai peringatan ke-62 sejak ditetapkannya hari tersebut. Peringatan ini lahir dari momentum historis Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) pada 24 September 1960 yang menjadi tonggak penting reformasi agraria di Indonesia.

Tapi, enam dekade lebih telah berlalu, persoalan yang dihadapi petani Indonesia masih belum jauh berbeda: Soal kesejahteraan yang belum terpenuhi, harga pupuk dan obat-obatan pertanian yang mahal, hingga harga hasil pertanian yang murah membuat para petani merugi. 

Pada momen Hari Tani Nasional kali ini, sudah sejatinya pemerintah memberi perhatian khusus dalam meningkatkan taraf hidup petani, sebab mereka adalah tulang punggung ketahanan pangan bangsa.

Tantangan lain yang tak kalah serius adalah orientasi generasi muda desa yang kian enggan menekuni dunia pertanian. 

Banyak pemuda lebih memilih bekerja di sektor lain yang dianggap lebih menjanjikan, sehingga regenerasi petani terancam. 

Jika kondisi dibiarkan, bukan tidak mungkin Indonesia akan menghadapi krisis pangan di masa depan.

Oleh karena itu, Hari Tani Nasional tidak boleh hanya sebatas seremoni. 

Ia harus jadi momentum nyata untuk memperkuat kebijakan pro-petani dan menciptakan insentif agar pemuda desa kembali melihat pertanian sebagai masa depan menjanjikan. [sh]

Hari Tani Nasional: Mengingat Akar, Menatap Tantangan

Hari Tani Nasional 2025

Hari Tani Nasional yang diperingati pada Rabu, 24 September 2025, menandai 62 tahun lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) 1960. 

Momen ini sejatinya bukan sekadar seremonial, melainkan refleksi akan cita-cita reformasi agraria yang jadi tonggak penting perjalanan bangsa. 

UUPA lahir dengan memberikan ruang yang adil bagi petani sebagai penopang utama pangan negeri.

Tapi, enam dekade lebih berlalu, nasib petani masih dipenuhi paradoks. 

Mereka yang bekerja keras menanam padi, jagung, tembakau, hingga sayur mayur, justru sering kali hidup dalam penderitaan. 

Harga pupuk terus melambung, bahkan kerap langka di pasaran. 

Sementara itu, harga hasil panen justru jatuh, seakan petani tidak memiliki kuasa atas hasil keringatnya sendiri.

Hari Tani Nasional seharusnya jadi pengingat keras bagi para pemangku kebijakan. 

Kedaulatan pangan tidak akan pernah tercapai tanpa keberpihakan nyata kepada petani. 

Pemerintah harus hadir dengan kebijakan yang berpihak, bukan sekadar slogan. 

Petani membutuhkan kepastian—akses pupuk yang terjangkau, jaminan harga yang adil, dan perlindungan permainan pasar.

Bahwa petani bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek utama yang menentukan masa depan bangsa. 

Menyejahterakan petani berarti menjaga keberlangsungan pangan Indonesia. [sh]

Rabu, 24 September 2025

Hari Tani Nasional: Refleksi 62 Tahun Reformasi Agraria

Hari Tani nasional

Rabu, 24 September 2025, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Tani Nasional yang kini memasuki tahun ke-62 sejak ditetapkan pada 1960. 

Tanggal ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat historis atas lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) 1960, yang jadi tonggak penting dalam perjalanan panjang reformasi agraria di negeri ini.

Hari Tani Nasional sejatinya membawa pesan kuat tentang keadilan dalam pengelolaan tanah, serta perlindungan terhadap para petani sebagai tulang punggung bangsa. 

Namun, setelah lebih dari enam dekade, cita-cita besar UUPA masih menyisakan pekerjaan rumah yang belum tuntas: Harga hasil tani rendah karena tidak ada proteksi harga dari pemerintah, harga pupuk mahal dan langka, hingga banyak petani menderita karena pendapatan lebih kecil ketimbang hasil jual. 

Momentum Hari Tani Nasional seharusnya tidak hanya jadi perayaan simbolik, melainkan juga sinyal perubahan. 

Pemerintah, pemangku kebijakan, dan masyarakat perlu kembali meneguhkan komitmen agar petani tidak sekadar dijadikan slogan politik, melainkan benar-benar mendapat perlindungan, akses, dan kesempatan untuk sejahtera.

Petani adalah penopang pangan bangsa.

Tanpa mereka, ketahanan pangan hanyalah jargon kosong. 

Maka, memperingati Hari Tani Nasional ke-62 mestinya jadi ajakan kolektif untuk menegakkan keadilan agraria dan memastikan masa depan petani tidak lagi dipandang sebelah mata. [sh]

Program Makan Bergizi Gratis: Memberi Umpan atau Kail?

Mbg

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memang lahir dari niat baik pemerintah.

Memastikan anak-anak sekolah mendapatkan asupan gizi yang cukup. 

Tapi di balik niat itu muncul pertanyaan mendasar: Apakah program ini solusi jangka panjang atau sekadar jalan pintas yang berisiko?

Kasus keracunan di Mamuju, Sulawesi Barat, yang menimpa setidaknya 20 siswa, serta kejadian serupa di Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG tidak semudah membagi makanan siap saji. 

Ada standar keamanan pangan yang seringkali luput, sehingga yang terjadi bukanlah kesehatan, melainkan ancaman penyakit.

Di sinilah kritik tajam muncul: pemerintah seolah hanya memberi “umpan”, bukan “kail”. 

Anak-anak memang kenyang sesaat, tetapi ketergantungan pada program semacam ini tidak membangun kemandirian. 

Pemberian makan gratis bisa menjadi solusi darurat. 

Tapi, untuk jangka panjang, pemerintah harus berani mengubah pola pikir: bukan hanya memberi makan, tapi mengajarkan dan memfasilitasi agar keluarga, sekolah, serta komunitas mampu menyediakan makanan sehat secara mandiri. 

Dengan begitu, yang diberikan bukan lagi sekadar “umpan”, melainkan “kail” yang bisa dipakai sepanjang hayat. [sh]

Program Makan Bergizi Gratis: Antara Niat Mulia dan Ancaman Kekhawatiran

Mbg

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya lahir dari niat baik: Memastikan anak-anak sekolah mendapat asupan gizi yang cukup guna mendukung tumbuh kembang mereka. 

Tapi, niat mulia itu kini tercoreng oleh berbagai persoalan yang muncul di lapangan.

Beberapa media online melaporkan kasus keracunan massal yang menimpa para siswa. 

Di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, setidaknya 20 siswa diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG. 

Sementara di Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, sejumlah siswa juga mengalami hal serupa akibat kesalahan teknis dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Semua kejadian ini tentu menimbulkan tanda tanya besar. 

Apakah sistem pengawasan dalam distribusi dan pengolahan makanan sudah berjalan dengan baik? 

Apakah para petugas penyedia makanan mendapat pelatihan yang memadai tentang standar kebersihan dan keamanan pangan?

Orang tua siswa kini mulai khawatir. Program yang seharusnya membawa kebaikan justru jadi sumber ketakutan. 

Program MBG memang perlu dilanjutkan, tapi dengan evaluasi yang ketat. 

Pemerintah wajib hukumnya memastikan kualitas makanan, standar higienitas, hingga mekanisme pengawasan serius

Jangan sampai niat menyehatkan anak bangsa justru jadi ancaman kesehatan. [sh]

Selasa, 23 September 2025

Kepala SDN Padangdangan 2 Biasakan Siswa Bersalaman dengan Guru Sebelum Masuk Kelas

Sdn padangdangan 2 kecamatan Pasongsongan

SUMENEP – Kepala SDN Padangdangan 2 Kecamatan Pasongsongan, Madun, S.Pd.SD, secara rutin menanamkan pembiasaan baik kepada seluruh peserta didiknya. Rabu (24/9/2025). 

Setiap pagi sebelum masuk kelas, para siswa dibiasakan mencium tangan para guru mereka.

Menurut Madun, pembiasaan ini tidak hanya sebatas formalitas, melainkan memiliki tujuan mendalam. 

“Tujuan syariatnya supaya anak terbiasa menghormati orang yang lebih dewasa. Sementara hakikatnya membangun keberkahan dari ilmu yang telah ditanamkan oleh para guru di sekolah,” tegasnya.

Sedangkan Sundari, S.Pd, guru kelas II SDN Padangdangan 2, turut menyambut baik langkah tersebut. 

“Anak-anak terlihat lebih disiplin dan sopan. Mereka masuk kelas dengan hati yang tenang setelah bersalaman, seakan siap menerima pelajaran dengan penuh hormat,” ujarnya.

Pembiasaan sederhana namun bermakna ini diharapkan mampu membentuk karakter siswa yang berakhlak mulia, santun, serta penuh rasa hormat kepada guru. [sh]

Nasib Guru Honorer Sumenep yang Tersisih dari PPPK Paruh Waktu

Guru honorer kabupaten Sumenep

Nasib tenaga guru honorer di Kabupaten Sumenep masih menyisakan cerita pilu. 

Sebanyak 498 orang guru honorer tidak terjaring dalam rekrutmen PPPK Paruh Waktu. 

Hingga kini, belum ada regulasi yang bisa membuat hati mereka tenang dan yakin akan masa depan pengabdiannya.

Pemberlakuan bezetting pada masing-masing satuan pendidikan justru menambah panjang derita mereka. 

Kuota guru akan disesuaikan dengan kebutuhan sekolah, sehingga sebagian besar honorer terancam tersisih tanpa kepastian. 

Tangis mereka pun kian dalam, karena mengabdi bertahun-tahun ternyata belum cukup menjamin posisi yang lebih baik.

Kendati begitu, masih ada secercah harapan. Pada tahun 2026 diperkirakan banyak Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang purna tugas. Kondisi ini membuka peluang besar bagi para guru honorer untuk kembali mendapat kesempatan. 

Apalagi, data pokok pendidikan (Dapodik) kini sudah dikunci, sehingga potensi munculnya "data siluman" bisa diminimalisir.

Namun, peluang itu tetap bergantung pada kebijakan pemerintah. 

Para guru honorer berharap ada kejelasan arah dan regulasi yang berpihak kepada mereka. 

Karena tanpa kepastian, pengabdian panjang mereka seakan tak berarti di hadapan sistem yang kaku.[sh]

Senin, 22 September 2025

Pelaksanaan ANBK Hari Kedua di SDN Padangdangan 2 Berjalan Lancar

Sdn Padangdangan 2 kecamatan Pasongsongan
Dari kiri: Madun, Budi Setia Santoso, dan Abu Supyan. [Foto: sh]

SUMENEP – Pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) hari kedua di SDN Padangdangan 2, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, berjalan lancar. Selasa pagi (23/9/2025).

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Pengawas Bina SD Kecamatan Pasongsongan, Abu Supyan, M.Pd, bersama Budi Setia Santoso dari Dinas Pendidikan Sumenep yang memantau secara langsung jalannya asesmen.

Kepala SDN Padangdangan 2, Madun, S.Pd.SD, menyampaikan bahwa pelaksanaan ANBK kali ini bisa terlaksana dengan baik meskipun sempat terjadi kendala teknis.

“Memang kadang laptop mengalami error, tapi semua bisa diatasi,” ujar Madun.

Menurutnya, antusiasme peserta didik dalam mengikuti asesmen cukup tinggi. 

Hal ini menambah keyakinan pihak sekolah bahwa pelaksanaan ANBK mampu memberikan gambaran objektif terkait mutu pendidikan di sekolah tersebut.

Dengan terselenggaranya ANBK hari kedua secara lancar, pihak sekolah berharap hasil asesmen bisa jadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di SDN Padangdangan 2 kedepan. [sh]

Apa Itu SWDKLLJ? Kegunaan, Besaran Tarif, dan Hak Santunan Kecelakaan

Apoy Madura

Pernahkah kita benar-benar mencermati isi STNK kendaraan ketika membayar pajak tahunan? 

Di sana, ada satu komponen biaya yang kerap luput dari perhatian: SWDKLLJ, atau Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan.

Banyak orang mungkin hanya sekadar membayar tanpa tahu apa arti dan manfaat SWDKLLJ ini. 

Padahal, di balik kewajiban tersebut tersimpan bentuk perlindungan yang sangat penting bagi setiap pengguna jalan.

Apa Itu SWDKLLJ?

SWDKLLJ adalah semacam premi asuransi yang dikelola oleh perusahaan BUMN, yaitu Jasa Raharja. 

Ketika kita membayar pajak kendaraan, secara otomatis kita sudah tercatat sebagai peserta asuransi ini. 

Besaran biayanya berbeda-beda, tergantung jenis kendaraan. 

Misalnya, untuk sepeda motor 50 cc hingga 250 cc dikenakan Rp35.000, sedangkan mobil sedan, jip, atau minibus dikenakan Rp143.000.

Manfaat yang Jarang Diketahui

SWDKLLJ bukan sekadar pungutan. 

Dana ini memberikan perlindungan nyata bagi korban kecelakaan lalu lintas. 

Berdasarkan ketentuan Kementerian Keuangan, santunan yang diberikan Jasa Raharja kini nilainya cukup besar:

• Santunan meninggal dunia: Rp50.000.000

• Santunan cacat tetap: Rp50.000.000

• Biaya perawatan luka-luka: hingga Rp20.000.000

• Biaya P3K: Rp1.000.000

• Biaya ambulans: Rp500.000

• Biaya penguburan (jika tidak ada ahli waris): Rp4.000.000

Santunan ini tidak hanya berlaku bagi pengemudi, tetapi juga penumpang yang turut menjadi korban.

Bagaimana Cara Mengajukan?

Untuk mendapatkan santunan, korban atau ahli waris perlu mengajukan klaim ke Jasa Raharja dengan melampirkan:

1. Laporan kecelakaan dari kepolisian.

2. Identitas diri korban atau ahli waris.

3. Surat keterangan dokter dan kwitansi biaya perawatan (jika luka).

4. Kartu Keluarga atau Surat Nikah (jika korban meninggal dunia).

Namun, ada batas waktu: pengajuan santunan harus dilakukan maksimal 6 bulan setelah kecelakaan.

Mengapa Kita Harus Peduli?

Sayangnya, sosialisasi mengenai SWDKLLJ masih minim. 

Banyak masyarakat tidak tahu bahwa mereka sebenarnya memiliki hak perlindungan ini. 

Akibatnya, ada keluarga korban kecelakaan yang tidak sempat mengajukan klaim karena ketidaktahuan.

Di sinilah pentingnya kesadaran. 

SWDKLLJ bukanlah beban tambahan saat membayar pajak kendaraan, melainkan bentuk perlindungan sosial yang sangat berguna ketika musibah datang tanpa diduga.

Penutup

Sebagai pengguna jalan, kita wajib tahu hak-hak kita. 

Jangan sampai iuran yang sudah dibayarkan setiap tahun justru tidak dimanfaatkan karena kurang informasi. 

Maka, mari sebarkan pengetahuan ini kepada keluarga, kerabat, dan sesama pemilik kendaraan.

Kita tidak pernah berharap kecelakaan terjadi. 

Tapi setidaknya dengan SWDKLLJ, kita tahu ada jaring pengaman yang siap membantu. [sh]

Minggu, 21 September 2025

Pelaksanaan ANBK di SDN Padangdangan 2 Berjalan Lancar

Anbk sdn Padangdangan 2 kecamatan Pasongsongan
Siti Endang Junnur Aida, S.Pd.I (kiri). [Foto: sh]

SUMENEP – Pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) di SDN Padangdangan 2 Kecamatan Pasongsongan dilaporkan berjalan lancar. Senin pagi (22/9/2025). 

Proses ujian diikuti siswa kelas 5 dengan penuh semangat meski sempat terjadi kendala teknis.

Siti Endang Junnur Aida, S.Pd.I selaku proktor menyampaikan bahwa terdapat sedikit gangguan jaringan internet (Wi-Fi) saat pelaksanaan berlangsung. 

“Memang ada sedikit error karena faktor jaringan internet yang kurang stabil. Sebagai proktor, saya menyiasatinya dengan menggunakan jaringan internet dari HP,” ungkap Aida.

Dengan langkah antisipatif tersebut, pelaksanaan ANBK tetap berjalan tanpa hambatan berarti. 

Pihak sekolah berharap hasil asesmen tahun ini bisa menjadi tolok ukur dalam peningkatan mutu pendidikan di SDN Padangdangan 2. 

Sedikit ada tambahan, ketika berita ini release pelaksanaan ANBK masih berlangsung. [sh]

498 Guru Honorer Sumenep Gagal Terjaring PPPK, Bagaimana Nasib Mereka?

Pppk paruh waktu

Sebanyak 498 tenaga guru honorer di Kabupaten Sumenep harus menerima kenyataan pahit tidak terjaring dalam rekrutmen PPPK Paruh Waktu. 

Di balik angka itu, tersimpan kisah panjang pengabdian mereka yang telah mencurahkan tenaga dan waktu demi mencerdaskan generasi, meski dengan imbalan yang jauh dari kata layak.

Saat ini, memang belum ada regulasi yang benar-benar mampu menenangkan hati mereka. 

Bahkan, para pemangku kebijakan pun tidak bisa memberikan kepastian karena persoalan ini erat kaitannya dengan kemampuan anggaran pemerintah daerah. 

Situasi tersebut membuat guru honorer seolah berada dalam ruang tunggu panjang, penuh rasa was-was tanpa kepastian.

Tapi, harapan itu masih ada. Pada 2026 mendatang, banyak aparatur sipil negara yang akan memasuki masa purna tugas. 

Kondisi tersebut bisa membuka peluang bagi guru honorer untuk mendapat kesempatan lebih luas. 

Apalagi, Data Pokok Pendidikan (Dapodik) telah dikunci. 

Artinya, tidak akan ada lagi “data siluman” yang bisa menggeser posisi guru honorer yang sudah bertahun-tahun mengabdi.

Kini, tugas pemerintah adalah memberikan solusi bijak yang humanis. 

Bukan saling lempar tanggung jawab. 

Guru honorer bukan hanya sekadar angka dalam data, melainkan manusia yang telah menyalakan pelita ilmu di pelosok desa hingga kota. 

Jangan biarkan pengabdian mereka berakhir dengan kekecewaan, melainkan dengan penghargaan yang setimpal. [sh]

Tangis 498 Guru Honorer Sumenep: Mereka Tak Terjaring PPPK Paruh Waktu

Pppk paruh eaktu kabupaten Sumenep

Info terbaru! Di Kabupaten Sumenep, ada 498 tenaga guru honorer yang tidak terjaring dalam seleksi PPPK Paruh Waktu. 

Angka ini bukan sekadar statistik.

Di balik itu semua, ada wajah-wajah penuh pengabdian, peluh yang jatuh setiap hari, serta doa yang dipanjatkan untuk keberlangsungan pendidikan anak bangsa.

Tapi kenyataannya mereka justru tersisih. 

Tidak ada kejelasan nasib, tidak ada kepastian arah. 

Kekecewaan itu begitu dalam, meski tidak pernah mereka tunjukkan di hadapan para murid. 

Tangis mereka berderai dalam diam, jeritan mereka hanya terdengar di hati sendiri. 

Di kelas, mereka tetap tersenyum, tetap membimbing, seakan beban hidupnya lenyap di balik papan tulis.

Upah Rp 10 per hari

Ironisnya, banyak diantara mereka yang sudah puluhan tahun mengabdi dengan upah yang nyaris tak masuk akal—sekitar Rp 10 ribu per sekali masuk kelas. 

Bagaimana mungkin angka itu disejajarkan dengan perjuangan membentuk generasi muda bangsa? 

Apalagi di tengah kondisi hidup yang kian menghimpit, upah tersebut jelas bukan lagi penghargaan, melainkan nyaris sebuah wujud pengabaian.

Pemerintah memang memiliki regulasi, mekanisme seleksi, serta keterbatasan anggaran. 

Tapi, transparansi dan keadilan tetap harus dijunjung tinggi. 

Mereka yang sudah lama mengabdi, sejatinya memoeroleh tempat yang layak. 

Setidaknya, jika peluang tidak tersedia, harus ada penjelasan terbuka: Mengapa 498 tenaga honorer ini tersisih. 

Jangan biarkan mereka terus menggantung tanpa kepastian.

Potret Pendidikan Buram

Nasib para guru honorer ini adalah potret buram dunia pendidikan kita. 

Mereka bukan sekadar tenaga tambahan, melainkan garda terdepan yang mengisi kekosongan di sekolah-sekolah terpencil. 

Di pundak mereka, anak-anak Kota Keris Sumenep menaruh harapan.

Kini saatnya pemangku kebijakan membuka mata-hati. 

Guru honorer tidak meminta dimuliakan, mereka hanya ingin dihargai secara manusiawi. 

Pendidikan tak akan pernah maju jika mereka yang mendidik dibiarkan terus-menerus hidup dalam ketidakpastian. [sh]

Sabtu, 20 September 2025

Agus Setiawan, Pelatih Berbakat yang Cetak Juara Muda Bulutangkis di Waru Pamekasan

Atlet bulutangkis waru pamekasan
Agus Setiawan memberi sedang memberi arahan. [Foto: sh]

PAMEKASAN — Nama Agus Setiawan sudah tidak asing lagi di dunia bulutangkis, khususnya di Kecamatan Waru, Kabupaten Pamekasan. Ahad (21/9/2025). 

Sosoknya dikenal sebagai pelatih berbakat yang konsisten membina atlet-atlet muda sejak lama. 

Berkat ketelatenannya, banyak pemain junior yang pernah digembleng olehnya berhasil menorehkan prestasi di berbagai ajang turnamen.

Setiap hari, Agus Setiawan tampak sibuk membimbing anak-anak berlatih di eks gedung Kewedanan Waru. 

Pemain bulu tangkis junior waru pamekasan

Para murid yang dilatihnya bukan hanya berasal dari Kecamatan Waru, tapi juga dari kecamatan tetangga seperti Pasean. 

Kehadirannya jadi harapan baru bagi tumbuhnya bibit-bibit unggul bulutangkis di daerah ini.

“Ke depan kami punya mimpi ada lapangan bulutangkis representatif di Kecamatan Waru,” tutur Agus Setiawan usai melatih sekelompok murid sekolah dasar.

Ada salah satu murid, siswi SDN Waru Barat 1, mengaku senang bisa berlatih bersama Agus Setiawan. 

“Saya jadi lebih semangat main bulutangkis karena diajari cara memegang raket dan teknik pukulan yang benar. Saya ingin jadi juara seperti kakak-kakak yang pernah dilatih Pak Agus,” ujarnya polos.

Harapan itu disampaikannya karena fasilitas yang tersedia saat ini masih sangat terbatas. 

Meski demikian, semangat dan kecintaan Agus Setiawan terhadap dunia bulutangkis tidak pernah padam. 

Dedikasinya membina generasi muda di bidang olahraga jadi inspirasi tersendiri bagi masyarakat sekitar.

Dengan tekad kuat, ia yakin Waru bisa melahirkan atlet-atlet bulutangkis berprestasi yang nantinya mampu mengharumkan nama Pamekasan, bahkan Madura, di level yang lebih tinggi. [sh]

Kekecewaan Guru Honorer Pasongsongan: Lama Mengabdi tapi Tak Lolos PPPK

Pppk paruh waktu kabupaten Sumenep

Keresahan tengah menyelimuti sejumlah tenaga guru honorer di Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep. 

Mereka kecewa berat lantaran tidak terjaring dalam seleksi PPPK Paruh Waktu. 

Padahal, sebagian diantara mereka sudah lama mengabdi sebagai pendidik, bahkan ada yang lebih dari lima tahun jadi guru sukwan dengan dedikasi penuh.

Situasi ini menatalkan pertanyaan mendasar: Apa sebenarnya alasan mereka tidak lolos? 

Publik, khususnya para guru honorer, berhak mendapatkan penjelasan yang transparan dari pemangku kebijakan. 

Tanpa keterbukaan, akan muncul prasangka yang justru merusak kepercayaan masyarakat terhadap proses seleksi.

Guru honorer sejatinya adalah ujung tombak pendidikan di pelosok desa. 

Mereka tetap mengabdi meski dengan penghasilan yang jauh dari kata layak. 

Sebab ketika kesempatan pengangkatan PPPK Paruh Waktu hadir, harapan besar mereka pun menggantung di sana.

Transparansi seleksi bukan sekadar kebutuhan administratif, melainkan bentuk penghargaan terhadap jasa para guru honorer. 

Dengan penjelasan yang terang-benderang, mereka bisa memahami posisi masing-masing, apakah memang ada kekurangan persyaratan atau faktor lain yang menyebabkan tidak lolos.

Tanpa adanya keterbukaan, keresahan ini hanya akan menambah luka dan rasa ketidakadilan. 

Harapan para guru honorer sederhana: Kejelasan, penghargaan, dan kesempatan yang adil setelah bertahun-tahun mengabdi demi mencerdaskan anak bangsa. [sh]

Jumat, 19 September 2025

Bersase di SDN Padangdangan 2, Wujudkan Sekolah Bersih dan Ramah Lingkungan

Sdn padangdangan 2 kecamatan Pasongsongan
Para siswi SDN Padangdangan 2. [Foto: sh]

SUMENEP – SDN Padangdangan 2 Kecamatan Pasongsongan, melaksanakan program Bersih Sampah Sekolah (Bersase) secara rutin setiap hari Sabtu. 

Kegiatan ini melibatkan seluruh siswa dan guru dengan tujuan menanamkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sejak dini. Sabtu (20/9/2025). 

Sundari, guru kelas II SDN Padangdangan 2, mengatakan bahwa program ini merupakan bagian dari pembiasaan perilaku baik bagi peserta didik. 

“Melalui Bersase, anak-anak belajar untuk cinta lingkungan dan bertanggung jawab menjaga kebersihan sekitar,” tuturnya.

Ia menambahkan, sampah yang berhasil dikumpulkan siswa tidak dibiarkan menumpuk. 

“Setiap sampah yang terkumpul lantas dibakar di tempat khusus,” ungkap Sundari, wanita beranak dua tersebut.

Program Bersase ini mendapat dukungan dari Kepala SDN Padangdangan 2, para guru dan wali murid karena dinilai mampu menumbuhkan kesadaran kebersihan pada anak-anak.

Hal ini juga bisa menciptakan suasana belajar yang lebih sehat dan nyaman di sekolah. [sh]

KH Kamilul Himam Tekankan Pentingnya Shalawat di Peringatan Maulid Nabi SDN Panaongan 3 Pasongsongan

Sdn panaongan 3 dan kh kamilul himam
KH Kamilul Himam (kanan). [Foto: sh]

SUMENEP – SDN Panaongan 3 Kecamatan Pasongsongan menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di salah satu ruang kelas sekolah. Kamis (18/9/2025). 

Acara tersebut berlangsung khidmat dengan diikuti guru, staf sekolah, siswa, serta sejumlah tokoh masyarakat sekitar.

Dalam kesempatan itu, KH Kamilul Himam, pengasuh Pondok Pesantren Al-Istikmal Desa Pasongsongan, yang menyampaikan tausiah penuh makna. 

Ia menekankan bahwa wujud nyata cinta kepada Rasulullah adalah dengan memperbanyak bacaan shalawat.

“Mencintai Rasulullah adalah dengan memperbanyak shalawat kepadanya. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 56, Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya,” ujar KH Kamilul Himam.

Ia juga mengajak seluruh siswa untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah sejak dini, baik dalam kehidupan sehari-hari di sekolah maupun di rumah.

Acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SDN Panaongan 3 ditutup dengan doa bersama yang membuat suasana makin khusyuk. [sh]

Kamis, 18 September 2025

KH Kamilul Himam Isi Tausiah Maulid Nabi Muhammad SAW di SDN Panaongan 3 Pasongsongan

Sdn panaongan 3 kecamatan pasongsongan
KH Kamilul Himam (paling kiri). [Foto: sh]

SUMENEP – SDN Panaongan 3 Kecamatan Pasongsongan menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan di salah satu ruang kelas sekolah, Kamis (18/9/2025). 

Acara ini diikuti semua guru, staf sekolah, seluruh siswa, serta tokoh masyarakat sekitar.

Hadir memberikan tausiah, KH Kamilul Himam, pengasuh Pondok Pesantren Al-Istikmal, Desa Pasongsongan. 

Dalam ceramahnya beliau menekankan pentingnya menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan utama dalam kehidupan sehari-hari.

“Dalam satu hadis yang masyhur disebutkan bahwa tanda kesempurnaan iman seseorang adalah ia menempatkan Rasulullah sebagai orang yang dicintainya melebihi seluruh manusia, termasuk dirinya sendiri,” ujar KH Kamilul Himam di hadapan peserta acara.

Peringatan Maulid ini diharapkan jadi momentum bagi para siswa untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus meneladani akhlak mulia beliau. [sh]

Peringatan Maulid Nabi di SDN Panaongan 3: Tekankan Teladan Akhlak Rasulullah

Sdn Panaongan 3 kecamatan Pasongsongan
Agus Sugianto (tengah). [Foto: sh]

SUMENEP – SDN Panaongan 3 Kecamatan Pasongsongan menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan nuansa Islami.

Acara yang diikuti oleh para guru, siswa, dan wali murid tersebut berlangsung di salah satu ruang kelas. Kamis (18/9/2025).

Dalam sambutannya, Kepala Sekolah SDN Panaongan 3, Agus Sugianto, menyampaikan dua harapan utama dari kegiatan tersebut. 

Sdn Panaongan 3 kabupaten Sumenep
Pembacaan shalawat nabi oleh siswa-siswi SDN Panaongan 3. [Foto: sh]

“Pertama, kita berharap kelak memperoleh syafaat Nabi Muhammad SAW di hari kiamat. Kedua, kita ingin seluruh siswa senantiasa berupaya belajar meneladani akhlak beliau, baik sebagai anak yang berbakti di rumah maupun sebagai murid yang santun di sekolah,” ujarnya.

Peringatan Maulid Nabi ini diisi dengan pembacaan shalawat, tausiah, serta doa bersama, yang diharapkan mampu menanamkan kecintaan dan teladan akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. [sh]

KH Kamilul Himam: Cinta Nabi Harus Dibuktikan dengan Meneladani Akhlaknya

Sdn Panaongan 3 kecamatan Pasongsongan
KH Kamilul Himam. [Foto: sh]

SUMENEP – SDN Panaongan 3 Kecamatan Pasongsongan, menggelar acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan penuh khidmat. 

Kegiatan ini dihadiri oleh para guru, siswa, dan staf sekolah. Kamis (18/9/2025). 

Sedangkan yang memberikan siraman rohani adalah KH Kamilul Himam, pengasuh Pondok Pesantren Al-Istikmal, Pasongsongan. 

Pondok Pesantren Al-Istikmal kecamatan Pasongsongan

Ia menekankan pentingnya umat Islam meneladani akhlak mulia Baginda Nabi. 

“Cinta kepada Nabi Muhammad SAW itu bukan sekadar ucapan di bibir. Tanda cinta yang nyata adalah meneladani akhlak beliau, memperbanyak shalawat, dan menyebarkan kasih sayang kepada siapa pun,” tegasnya.

Acara peringatan ini tidak hanya jadi momen mengenang kelahiran Rasulullah, tapi juga sarana memperkuat keimanan serta menanamkan nilai-nilai akhlak mulia kepada para siswa sejak dini. [sh]

Rabu, 17 September 2025

Penertiban Pedagang Pasar Waru Pamekasan oleh Satpol PP Tuai Kritik Soal Parkir Mobil

Pasar waru Pamekasan madura
Parkir mobil pinggir jalan raya Pasar Waru Pamekasan. [Foto: sh]

PAMEKASAN– Upaya Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pamekasan menertibkan pedagang kaki lima di sepanjang jalan raya Pasar Waru mendapat tanggapan beragam dari masyarakat. Kamis (18/9/2025). 

Penertiban dilakukan untuk memperlancar arus lalu lintas yang kerap tersendat akibat aktivitas jual beli di bahu jalan.

Tapi, langkah tersebut menuai kritik dari sebagian pedagang. 

Mohammad Ramli, salah seorang pedagang hati ayam, menilai penertiban belum sepenuhnya adil. 

Ia berpendapat bahwa Satpol PP seharusnya tidak hanya fokus pada pedagang, tapi juga pada kendaraan roda empat yang parkir sembarangan di sepanjang jalan raya Pasar Waru.

“Ini tidak adil. Justru kendaraan roda empat yang parkir di sepanjang jalan raya Pasar Waru yang jadi biang kemacetan arus lalu lintas,” ujar Ramli yang lapaknya juga di pinggir jalan raya. 

Kendati begitu, sebagian pedagang lain tetap memberikan apresiasi terhadap cara Satpol PP dalam melakukan penertiban yang dinilai cukup humanis. 

Mereka berharap ke depan ada penataan yang lebih menyeluruh, tidak hanya terhadap pedagang, melainkan juga pengaturan parkir kendaraan di kawasan pasar.

Dengan adanya penertiban ini, diharapkan kawasan Pasar Waru Pamekasan bisa lebih tertib, aman, dan lancar sehingga aktivitas perdagangan tetap berjalan tanpa mengganggu kelancaran arus lalu lintas masyarakat. [sh]

Satpol PP Pamekasan Tertibkan Pedagang Pasar Waru dengan Humanis

Pasar waru Pamekasan
Penertiban pedagang oleh Satpol PP Pamekasan. [Foto: sh]

PAMEKASAN – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Pamekasan menertibkan para pedagang yang berjualan di pinggir jalan raya Pasar Waru. Kamis (18/9/2025). 

Penertiban berlangsung tertib dan kondusif, para pedagang dengan sukarela memindahkan barang dagangannya lebih ke pinggir agar tidak mengganggu arus lalu lintas.

Satpol pp Pamekasan

Joko Sura, seorang pedagang jual beli emas dan tukar uang asing, mengapresiasi langkah humanis yang ditunjukkan petugas Satpol PP Pamekasan.

"Kami mengapresiasi kinerja Satpol PP Pamekasan yang humanis," ujarnya.

Menurut Joko, kehadiran Satpol PP sangat dibutuhkan, terutama pada hari pasaran yang biasanya berlangsung setiap Kamis dan Ahad. 

Dirinya berharap petugas bisa terus hadir secara rutin untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan bersama.

"Harapan kami, tiap Kamis dan Ahad Satpol PP Pamekasan senantiasa hadir untuk menertibkan para pedagang, karena pada hari-hari itu kondisi pasar jauh lebih ramai," tambahnya.

Pasar Waru Pamekasan

Dengan adanya penertiban ini, arus lalu lintas di sekitar Pasar Waru terlihat lebih lancar. 

Sementara para pedagang tetap bisa berjualan dengan tertib di lokasi yang telah diarahkan. [sh]

Mengenal Pentingnya Imunisasi Campak, Sosialisasi Massal di MI Annajah Pasongsongan

Mi annajah Pasongsongan
Camat Pasongsongan (2 dari kanan). [Foto: sh]

SUMENEP – Aula MI Annajah menjadi tempat terselenggaranya sosialisasi imunisasi campak secara massal yang dihadiri oleh para wali murid RA Annajah dan MI Annajah, Selasa (16/9/2025). 

Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Ahmad Saleh, M.Pd (Pengawas MI), Fariz Aulia Utomo, S.STP., M.Si (Camat Pasongsongan), dr. Ariyanis Rasdyahati, M.Kes (Kepala Puskesmas Pasongsongan), Polsek Pasongsongan, Koramil Pasongsongan, serta perwakilan WHO Pusat, dr. Maftun.

Dalam sambutannya, Camat Pasongsongan Fariz Aulia Utomo menegaskan pentingnya imunisasi campak bagi anak-anak sebagai langkah pencegahan dini. 

“Vaksin campak berguna untuk memberikan perlindungan kepada tubuh agar tidak sakit jika terinfeksi virus campak,” ucapnya.

Fariz juga menyoroti kondisi darurat kesehatan di Kabupaten Sumenep yang kini ditetapkan sebagai daerah KLB (Kejadian Luar Biasa). 

Hingga Agustus lalu, tercatat 20 anak meninggal akibat campak. 

“Imunisasi campak jadi solusi mencegah penyebaran virus campak yang sangat menular dan berbahaya,” tambahnya.

Ia juga mengajak para wali murid untuk aktif mendukung keberhasilan program ini.

Kehadiran perwakilan WHO Pusat, dr. Maftun, semakin menguatkan komitmen global dalam menangani penyebaran penyakit campak yang masih menjadi ancaman kesehatan dunia.

Acara sosialisasi berlangsung lancar dengan antusiasme para wali murid yang hadir. 

Melalui kegiatan ini, diharapkan tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya imunisasi campak makin meningkat, sehingga angka penularan bisa ditekan dan kesehatan anak-anak lebih terjamin. [sh]

Sosialisasi Imunisasi Campak Massal di MI Annajah Pasongsongan, Dihadiri WHO Pusat

Mi Annajah Pasongsongan
dr. Maftun saat memberikan kata sambutan. [Foto: sh]

SUMENEP — Aula MI Annajah jadi tempat berlangsungnya sosialisasi pemberian imunisasi campak secara massal. Selasa (16/9/2025). 

Kegiatan ini dihadiri oleh wali murid RA Annajah dan MI Annajah, serta sejumlah tokoh penting dari berbagai instansi.

Hadir dalam acara tersebut, Ahmad Saleh, M.Pd selaku Pengawas MI, Fariz Aulia Utomo, S.STP., M.Si (Camat Pasongsongan), dr. Ariyanis Rasdyahati, M.Kes (Kepala Puskesmas Pasongsongan), Koramil Pasongsongan, Polsek Pasongsongan, serta perwakilan WHO Pusat, dr. Maftun.

Dalam kesempatan itu, dr. Maftun menegaskan bahwa vaksin campak yang digunakan dalam program ini adalah vaksin terbaik dan aman bagi anak-anak. 

“Vaksin campak ini tidak akan menimbulkan panas tubuh anak jadi meningkat. Karena vaksin campak ini adalah vaksin terbaik di dunia dan aman digunakan,” jelasnya.

Sosialisasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi campak untuk mencegah penyebaran penyakit di kalangan anak-anak. 

Dukungan penuh dari para wali murid, pihak sekolah, serta pemerintah kecamatan diharapkan mampu memperlancar pelaksanaan imunisasi massal yang akan segera digelar.

Acara berlangsung lancar dan penuh antusiasme, menegaskan komitmen bersama dalam menjaga kesehatan generasi muda di Kecamatan Pasongsongan. [sh]

Selasa, 16 September 2025

RPL dan PPPK Paruh Waktu: Antara Harapan Gelar S1 dan Batasan Administratif

Kementerian Dikdasmen

Saya adalah seorang guru di salah satu SD Negeri di Kecamatan Pasongsongan. 

Pada Juli 2025 lalu, saya mendapat kabar gembira: saya diterima sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Kabupaten Sumenep melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang digagas Kementerian Dikdasmen (Pendidikan Dasar dan Menengah). 

Dengan hanya bermodalkan ijazah SMA, peluang ini terasa bagai pintu besar yang terbuka untuk menggapai gelar S1. 

Saya membayangkan bahwa suatu hari nanti saya bisa berdiri lebih percaya diri di depan siswa, dengan bekal ilmu dan legalitas akademik yang lebih kuat. 

Hati saya benar-benar riang, karena program ini hadir seakan menjawab kerinduan banyak guru di daerah untuk meningkatkan kompetensi.

Akan tetapi, euforia itu tidak berlangsung lama. 

Harapan Melayang

Pada medio September 2025, muncul pemberitahuan dari salah seorang dosen pembimbing kami yang seakan meruntuhkan semangat saya dan rekan-rekan senasib. 

Dalam pemberitahuanya, disebutkan sejumlah aturan yang membuat langkah saya tertatih:

- Guru yang sudah diangkat sebagai PPPK tidak diperbolehkan mengikuti program ini.

- PPPK Paruh Waktu dengan status Tenaga Teknis di dapodik dan tidak memiliki SK Mengajar 2025, tidak diperbolehkan ikut program ini.

- PPPK Paruh Waktu dengan status Guru di Dapodik, diperbolehkan ikut program ini.

- PPPK Paruh Waktu dengan status Tenaga Teknis, tetapi memiliki SK Mengajar 2025, tetap bisa ikut program ini asalkan melengkapi dokumen tambahan: SK pertama sebagai guru, SK Mengajar 2025, dan surat dukungan dari kepala sekolah.

Keputusan ini membuat saya gamang. Pada seleksi PPPK 2024, saya memang memilih jalur Tenaga Teknis dan lolos sebagai PPPK Paruh Waktu. 

Tapi, realitas di lapangan, saya tetap mengajar di sekolah dan memikul tanggung jawab sebagai pendidik.

Di sinilah kontradiksi itu terasa: Negara mendorong guru untuk meningkatkan kualifikasi akademik, tapi di sisi lain aturan administratif mempersempit akses kami. 

Program RPL yang sejatinya jadi solusi, justru terkesan diskriminatif bagi mereka yang statusnya di Dapodik tidak seragam dengan kenyataan di lapangan.

Pertanyaan pun menyeruak: Apakah pantas seorang guru yang setiap hari mendidik anak bangsa, tapi kebetulan tercatat sebagai Tenaga Teknis, harus kehilangan kesempatan melanjutkan kuliah?

Bukankah tujuan RPL adalah memperkuat profesionalisme guru, tanpa membeda-bedakan status administratif?

Apakah adil bila kesempatan belajar ditentukan oleh barisan dokumen, bukan oleh fakta pengabdian?

Saya khawatir, jika aturan ini tidak ditinjau ulang, banyak guru akan kehilangan semangat untuk mengembangkan diri. 

Padahal, pendidikan yang bermutu lahir dari guru yang mau belajar dan terus memperbaiki diri.

Harapan saya sederhana: Semoga para pemangku kebijakan, baik di tingkat pusat maupun daerah, mau melihat persoalan ini dengan lebih bijak. 

Jangan sampai RPL yang digadang-gadang sebagai jalan keluar bagi guru untuk meraih gelar S1, justru menjadi jalan buntu karena sekat administratif.

Guru Tulus

Anak-anak di kelas tidak pernah peduli apakah saya tercatat sebagai "Guru" atau "Tenaga Teknis" di Dapodik. 

Yang mereka butuhkan hanyalah pengajar yang tulus, berkompeten, dan mau terus belajar. 

Maka, izinkanlah kami, para pendidik di pelosok, tetap mendapatkan ruang untuk berkembang. [sh]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...