SUMENEP— Diantara lebih dari lima ribu tenaga honorer yang memadati Stadion A Yani Sumenep pada momen pelantikan PPPK Paruh Waktu, terdapat satu nama yang datang dengan haru mendalam: Sundari, S.Pd, guru honorer dari SDN Padangdangan 2 Kecamatan Pasongsongan. Senin (1/12/2025).
Setelah 20 tahun lebih mengabdi, perjuangannya akhirnya berbuah manis dengan diterimanya SK PPPK Paruh Waktu, sebuah keputusan yang ia sebut sebagai anugerah terbesar dalam hidupnya.
Sundari tak kuasa menahan haru ketika namanya terpanggil.
Ia mengenang perjalanan panjang sebagai guru honorer yang penuh pengabdian, tantangan, dan ketulusan.
“Saya merasa sangat bersyukur. Ini karunia luar biasa dari Yang Maha Kuasa, terlebih di usia yang sudah mencapai kepala lima,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Dalam SK yang diterimanya, Sundari ditetapkan bertugas di SDN Padangdangan 1, sekolah yang tidak jauh dari tempat tugas sebelumnya.
Sementara itu, suaminya, yang berstatus tenaga kependidikan, juga turut diangkat sebagai PPPK Paruh Waktu dan tetap melanjutkan tugasnya di SDN Padangdangan 2.
Kebahagiaan ganda ini membuat Sundari kian yakin bahwa pengabdian tak pernah sia-sia.
"Bagi kami, momen di Stadion A Yani bukan hanya tentang menerima SK, tapi sebuah pengakuan atas dedikasi panjang kami dalam dunia pendidikan," ungkapnya.
Dirinya berharap, status baru ini memberi energi positif untuk terus berkarya bagi anak-anak di desa. “Semoga ini jadi awal perubahan yang lebih baik bagi kami dan seluruh honorer yang telah lama berjuang,” tuturnya penuh syukur.
Pelantikan ribuan honorer di Stadion A Yani jadi peristiwa bersejarah bagi Kabupaten Sumenep, menandai babak baru bagi para pendidik dan tenaga kependidikan yang selama ini jadi tiang utama pendidikan di pelosok daerah. [sh]
SUMENEP — Suasana haru mewarnai acara penyerahan SK PPPK Paruh Waktu yang digelar di GOR A Yani Sumenep. Senin (1/12/2025).
Dalam momen bersejarah tersebut, Ana Candra Agustina, S.Pd, Koordinator Kecamatan (Korcam) Pasongsongan untuk guru dan tenaga kependidikan (tendik) honorer, secara simbolis menerima SK PPPK Paruh Waktu dari Bupati Sumenep.
Penerimaan SK ini jadi puncak dari perjuangan panjangnya mendampingi serta memperjuangkan aspirasi ratusan honorer di Kecamatan Pasongsongan.
Ana Candra tidak mampu menahan rasa haru ketika menandatangani SK tersebut.
Air matanya menetes tanpa terasa, sebagai ungkapan kelegaan setelah bertahun-tahun bersama para honorer memperjuangkan pengakuan dari pemerintah.
“Ini bukan hanya untuk saya, tapi untuk semua rekan guru dan tendik yang telah berjuang bersama,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Sebelumnya, Ana Candra dikenal sebagai guru honorer di SDN Pasongsongan 5.
Dengan diterbitkannya SK PPPK Paruh Waktu, dirinya kini mendapat penugasan baru di SDN Pasongsongan 4.
Perpindahan tugas tersebut ia sambut dengan penuh keikhlasan dan semangat baru, seraya berharap bisa terus mengabdi dan memberikan kontribusi terbaik bagi dunia pendidikan di Pasongsongan.
Acara di GOR A. Yani Sumenep ini tidak hanya menjadi momentum pribadi bagi Ana Candra, tapi juga jadi babak baru bagi banyak honorer di Kabupaten Sumenep yang akhirnya memperoleh pengakuan formal melalui SK PPPK Paruh Waktu.
"Kami berharap perubahan ini jadi awal peningkatan kualitas dan kesejahteraan tenaga pendidik di daerah," pungkas Ana Candra. [sh]
Ana Candra Agustina bersama peserta didik SDN Pasongsongan 5. [sh]
SUMENEP — Momentum bersejarah akan tercipta bagi ribuan tenaga honorer di Kabupaten Sumenep.
Besok, Senin (1/12/2025), sebanyak 5.226 honorer dijadwalkan akan menerima SK PPPK Paruh Waktu pada acara pelantikan yang akan dipusatkan di GOR A Yani.
Bagi banyak honorer, hari ini jadi penantian panjang yang akhirnya tiba, dan bagi Ana Candra Agustina, S.Pd, momen ini jadi salah satu capaian paling berkesan sepanjang masa pengabdiannya.
Sebagai Koordinator Kecamatan (Korcam) Pasongsongan yang membawahi guru dan tenaga kependidikan honorer, Ana Candra Agustina selama ini dikenal aktif membangun jejaring dan kolaborasi dengan berbagai pihak.
Menurut guru SDN Pasongsongan 5 ini, upaya tersebut ia lakukan demi memperjuangkan nasib guru serta tendik honorer yang selama ini jadi tulang punggung pendidikan di Pasongsongan.
“Kami terus berkolaborasi dengan pihak terkait agar harapan masa depan para honorer bisa terwujud. Ini bukan hanya tentang SK, tapi tentang pengakuan terhadap dedikasi mereka,” ujarnya.
Ana menegaskan bahwa proses panjang yang dilalui hingga terbitnya SK PPPK Paruh Waktu ini merupakan hasil kerja bersama yang dilakukan secara konsisten.
Ia berharap pelantikan di GOR A Yani nanti jadi langkah awal bagi para tenaga honorer untuk mendapatkan ruang kerja yang lebih pasti dan bermartabat.
“Besok adalah hari yang amat ditunggu. Semoga jadi awal dari perubahan besar bagi pendidikan di Pasongsongan. Ini adalah kemenangan kita bersama,” tambahnya dengan penuh haru.
Pelantikan besok diprediksi akan berlangsung khidmat dan penuh antusias, mengingat ribuan honorer dari berbagai jenjang pendidikan akan hadir bersama keluarga mereka.
Harapannya, status baru sebagai PPPK Paruh Waktu bisa meningkatkan motivasi, profesionalitas, serta kualitas layanan pendidikan di Kecamatan Pasongsongan. [sh]
SUMENEP — SDN Pasongsongan 5, Kecamatan Pasongsongan, terus menghadirkan suasana religius melalui program rutin bertajuk "Jumat Berkah”. Jumat (28/11/2025).
Kegiatan ini jadi salah satu agenda pembiasaan keagamaan yang dilaksanakan tiap hari dengan melibatkan seluruh siswa, guru, serta staf sekolah.
Tujuannya adalah menanamkan nilai-nilai spiritual dan memperkuat karakter peserta didik melalui kegiatan ibadah bersama.
Dalam pelaksanaannya, “Jumat Berkah” diisi dengan rangkaian aktivitas seperti membaca surah Yasin, doa bersama, serta kajian keagamaan singkat yang dipandu oleh guru pendidikan agama Islam.
Kegiatan ini juga jadi momentum untuk mempererat kebersamaan antarwarga sekolah sekaligus menumbuhkan rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama.
Suasana khidmat dan penuh kekeluargaan selalu mewarnai setiap pelaksanaannya.
Kepala SDN Pasongsongan 5, Mufida, menyampaikan bahwa program ini membawa dampak positif terhadap perkembangan karakter siswa.
“Jumat Berkah jadi ajang spiritual siswa, guru, serta staf sekolah dalam menggapai berkah dalam kehidupan fana ini,” ujarnya.
Mufida berharap kegiatan ini terus mampu menuntun peserta didik jadi pribadi yang berakhlak mulia serta memiliki kesadaran beragama yang kuat sejak dini. [sh]
SUMENEP — Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang berfokus pada imunisasi difteri digelar di SDN Panaongan 3 Kecamatan Pasongsongan. Kamis (27/11/2025).
Kegiatan ini terlaksana melalui kerja sama antara pihak sekolah dan Puskesmas Pasongsongan yang mengirimkan dua tenaga medis, yakni Bidan Dian Murti Ningrum dan Siti Zakiyah.
Mereka disambut hangat Kepala SDN Panaongan 3, Agus Sugianto.
"Imunisasi ini diperuntukkan bagi siswa kelas 1, 2, dan 5 yang sejak pagi telah diarahkan guru untuk antre dengan tertib," terang Agus Sugianto.
Beragam ekspresi siswa terlihat, mulai dari yang percaya diri hingga yang tegang dan mencoba bersembunyi.
Meski tangis beberapa anak sempat mewarnai suasana, proses imunisasi tetap berlangsung aman, tertib, dan penuh pendampingan profesional dari tenaga medis serta dukungan guru dan orang tua.
Di sela kegiatan, Agus Sugianto menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin dengan puskesmas.
Sementara Bidan Dian menegaskan pentingnya imunisasi sekolah sebagai upaya memperluas cakupan kesehatan anak.
"Program BIAS ini tidak hanya jadi kegiatan medis, tapi juga momentum edukasi kesehatan dan penguatan kerja sama lintas lembaga demi mewujudkan generasi yang lebih sehat dan kuat," tutup Bidan Dian. [sh]
SUMENEP — Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) kembali dilaksanakan di SDN Soddara 1 Kecamatan Pasongsongan pada Jumat, (28/11/2025), dengan fokus pemberian vaksin Difteri kepada siswa kelas 1 dan 2.
Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB ini dipimpin Bidan Desa, Ibu Dian dari Puskesmas Pasongsongan.
Para siswa tampak antusias dan saling menyemangati saat mengikuti proses vaksinasi yang berlangsung di ruang kelas.
Guru-guru, staf sekolah, serta para orang tua turut berperan aktif mendampingi jalannya kegiatan.
Mereka membantu menenangkan siswa, mengatur administrasi, dan memastikan alur vaksinasi berjalan tertib.
Sarkawi, S.Pd, Kepala SDN Soddara 1, menyampaikan apresiasi kepada Puskesmas Pasongsongan dan Bidan Desa atas kerja sama yang telah terjalin, serta berharap kolaborasi tersebut makin kuat dalam berbagai program kesehatan.
“Kami sangat berterima kasih atas kolaborasi yang selama ini terjalin, khususnya kepada Bidan Desa yang selalu hadir membantu tanpa pamrih. Semoga ke depan kerja sama ini makin kuat, tidak hanya dalam program imunisasi, tapi juga dalam berbagai kegiatan kesehatan lainnya. Kesehatan siswa adalah prioritas utama kami,” ujar Kepala SDN Soddara 1.
Bidan Desa, Ibu Dian juga mengapresiasi kesiapan pihak sekolah sehingga proses vaksinasi berjalan lancar.
Keberhasilan pelaksanaan BIAS ini jadi bukti bahwa sinergi antara sekolah, tenaga kesehatan, dan orang tua amat penting dalam menjaga kesehatan siswa.
"Dengan program imunisasi yang berkelanjutan, diharapkan anak-anak bisa tumbuh sehat, kuat, dan siap menghadapi masa depan," tutup Ibu Dian. [sh]
Bambang Sutrisno (3 dari kiri) bersama murid dan guru. [sh]
SUMENEP — Kegiatan keagamaan yang rutin dilaksanakan setiap Jumat di SDN Soddara 2, Kecamatan Pasongsongan, kembali berlangsung penuh khidmat. Jumat (28/11/2025).
Seluruh peserta didik mengikuti rangkaian pembiasaan ibadah yang sudah jadi budaya sekolah, yaitu membaca Surah Yasin dan melaksanakan shalat dhuha berjamaah.
Kepala SDN Soddara 2, Bambang Sutrisno, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan upaya sekolah dalam menanamkan nilai religius sekaligus membiasakan siswa untuk dekat dengan praktik ibadah sehari-hari.
“Setiap hari Jumat, kegiatan siswa adalah membaca Yasin dan shalat dhuha bersama. Kami berharap melalui kegiatan ini, anak-anak terbiasa menjalankan amalan ibadah sejak dini,” ujarnya.
Kegiatan keagamaan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan spiritualitas siswa, tapi juga mendorong terbentuknya karakter disiplin, kebersamaan, dan suasana sekolah yang lebih religius.
"Para guru turut mendampingi secara langsung sehingga kegiatan berjalan tertib dan penuh makna," tambah Bambang Sutrisno.
Dengan adanya pembiasaan rutin ini, SDN Soddara 2 berharap bisa mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga berakhlak mulia dan memiliki kecintaan terhadap nilai-nilai keagamaan. [sh]
Di ujung timur
Pulau Madura, di wilayah yang kini dikenal sebagai Dusun Pakotan, hiduplah seorang putri penyebar agama Islam yang namanya
kelak harum sepanjang masa: Nyai Madiya,
putri dari Kiai Ali Akbar Syamsul Arifin,
seorang ulama kharismatik dari Pasongsongan.
Sejak kecil, Nyai
Madiya tumbuh bukan hanya dengan kecerdasan dan kelembutan seorang putri,
tetapi juga keberanian laksana singa betina.
Konon, ketika
masih remaja, ia mampu menundukkan hewan buas hanya dengan sekali ayunan tangan dari jarak jauh, dan mampu menangkis
senjata tajam tanpa pernah sekalipun terluka. Ya, Nyai Madiya kebal senjata
tajam.
Karena
kesaktiannya, Raja Sumenep menobatkannya sebagai panglima perang wanita—gelar yang jarang diberikan pada siapa pun.
Titah dari Raja Sumenep
Pada suatu hari, datanglah
kabar dari jauh, dari negeri sahabat seiman: Kerajaan Aceh. Raja Aceh meminta bantuan, sebab pasukan kolonial
Belanda mulai menggempur pesisir dan memaksa rakyat tunduk pada kekuasaan
asing.
Hubungan
persaudaraan antara Raja Sumenep dan Raja Aceh membuat permintaan itu tak
mungkin diabaikan.
Maka Raja Sumenep
pun memanggil Nyai Madiya.
“Wahai panglima agung, Aceh memanggil kita. Berangkatlah, bawa pasukan
kecilmu, dan jadilah benteng bagi saudara-saudara kita di seberang lautan.”
Nyai Madiya
membungkuk hormat.
“Daulat, Tuan Raja. Hamba siap mengemban amanat.”
Menghadapi Samudra dengan Tengkong
Dengan pasukan
kecil pilihan, Nyai Madiya berlayar menuju Aceh menggunakan tengkong, perahu kecil sederhana yang
diberi pengaman bambu pada kanan-kirinya agar tidak mudah dihantam ombak besar.
Malam itu angin
berembus kencang, dan gelombang laut seakan ingin menelan mereka.
Namun Nyai Madiya
berdiri tegak di haluan, rambutnya berkibar, keris kecilnya terikat di
pinggang.
“Tenanglah, wahai anak ombak,” katanya sambil merapal doa.
Lalu tangannya dicelupkan ke air laut. “Kami datang membawa amanat
kebenaran.”
Anehnya, setelah
kata-kata itu, ombak berubah jinak, seolah tunduk pada tekad sang panglima.
Pertempuran di Aceh
Sesampainya di
pesisir Aceh, perang meletus hebat. Asap mesiu menutupi langit, dentuman
senapan kolonial beradu dengan teriakan takbir laskar Aceh.
Di tengah
kekacauan itulah, Nyai Madiya maju ke garis depan.
Begitu ia
mengangkat keris kecilnya, tubuhnya terangkat ke udara—terbang laksana burung elang. Dari atas, ia melesat cepat, menebas
barisan musuh dengan gerakan yang tak terlihat mata.
Para serdadu
Belanda panik luar biasa.
“Hantu! Perempuan terbang!” teriak mereka sambil
tercerai-berai seperti kawanan lebah yang sarangnya terusik.
Pasukan Aceh yang
menyaksikan pun terheran-heran, seakan melihat legenda hidup. Pertempuran itu
berakhir dengan kemenangan gemilang berkat keberanian Nyai Madiya dan
pasukannya.
Hadiah dari Raja Aceh
Raja Aceh sangat
terkesan. Ia memanggil Nyai Madiya ke istananya yang megah dan berkata:
“Wahai panglima dari Sumenep, engkau bukan hanya pendekar, tetapi
anugerah Tuhan bagi negeri kami. Terimalah amalan mulia ini: Zikir Samman. Peliharalah dan
wariskanlah kepada generasimu.”
Nyai Madiya
menerima bingkisan itu dengan penuh hormat, menyimpannya di dada sebagai pusaka
spiritual.
Kepulangan Sang Panglima
Sekembalinya ke
Sumenep, Raja menyambutnya dengan kebanggaan. Atas jasanya yang tiada banding,
ia menghadiahkan sebidang tanah yang sangat luas kepada Nyai Madiya dan
ayahandanya.
Tanah itu kelak menjadi
dusun yang diberi nama Dusun Pakotan,
yang hingga kini masih berdiri sebagai saksi kejayaan sang panglima wanita.
Sementara amalan Zikir Samman yang dibawa Nyai
Madiya tetap diwariskan dan dilestarikan—menjadi penuntun jiwa, cahaya
spiritual yang tak pernah padam.
Demikianlah
dongeng tentang Nyai Madiya,
panglima perang tangguh dan sakti dari Sumenep. Kisahnya adalah warisan
keberanian, kehormatan, dan keimanan—yang terus hidup dalam ingatan masyarakat
hingga kini.[sh]
Pada masa jauh
sebelum orang-orang menuliskannya dalam sejarah, Madura pernah berada di bawah
bayang-bayang ancaman seorang pemuda sakti bernama Dempo Abang. Ia bukan hanya kuat dan berilmu tinggi, tapi juga
haus kekuasaan dan perempuan.
Di setiap
kerajaan yang ia taklukkan, Dempo Abang merampas kehormatan para putri dan
gadis, menyimpan selendang-selendang mereka sebagai tanda kesombongannya.
Dengan kekuatan gaibnya,
ia bermaksud menaklukkan seluruh Madura,
tak menyisakan satu pun tempat yang aman bagi para perempuan muda.
Kabar itu
akhirnya sampai kepada pendekar muda perkasa dari Madura: Jokotole, sang penunggang kuda
terbang Megaremeng.
Megaremeng
bukanlah kuda biasa. Sayapnya lebar bagai awan sore, dan langkahnya memekikkan
kilat ketika memukul angin.
Jokotole, yang
terkenal teguh membela kaum lemah, segera berangkat menuju langit utara Madura,
tempat Dempo Abang dan pasukannya melayang-layang di atas perahu terbang raksasa.
Pertemuan di Langit
Ketika Megaremeng
menembus kabut, Jokotole melihat perahu Dempo Abang tergantung di antara mega.
Perahu itu gelap, seolah dibuat dari bayangan malam. Dari geladaknya, Dempo
Abang berdiri dengan mata merah menyala.
“Hai Jokotole!”
teriaknya menggema. “Tak ada yang bisa menghalangi aku menguasai Madura!”
Jokotole
mengangkat cemeti pusakanya, Cemeti Kelap, yang konon sekali diayunkan mampu membelah badai.
“Selama aku
berdiri di tanah Madura, kau tak akan menyentuh satu pun putri disini!” balas
Jokotole.
Langit pun
bergetar. Burung-burung beterbangan, dan awan terbelah bagai pintu yang dibuka.
Pertempuran Dahsyat
Pertempuran
keduanya berlangsung di udara, jauh di atas puncak gunung dan permukaan laut.
Megaremeng meliuk cepat, menghindari serangan petir merah yang ditembakkan
Dempo Abang. Sementara itu, perahu terbang sang raksasa berputar, mencoba
menabrakkan haluannya ke Jokotole.
Dengan satu
kibasan, Jokotole melecutkan cemeti pusaka saktinyanya. Suaranya keras seperti petir. Traaak...
Cemeti itu
menghantam perahu terbang Dempo Abang. Sihir yang menjaga perahu itu runtuh
seketika. Perahu raksasa itu terbelah jadi
dua — retakannya memanjang dari haluan hingga buritan.
Dempo Abang dan pasukannya hancur
berkeping, jatuh berterbangan.
Jatuhnya Perahu dan Selendang
Bagian perahu
yang mengarah ke laut meluncur turun, jatuh dengan gemuruh hebat lalu tenggelam
ke dasar samudra.
Sementara separuh lainnya terhempas ke daratan, membentuk bukit besar yang kini
dikenal sebagai Bukit Perahu di
Desa Dempo Timur.
Dari tubuh Dempo
Abang terlepas selendang-selendang milik para putri yang dahulu dirampasnya.
Selendang-selendang itu terbawa angin dan jatuh bertumpuk di sebuah kampung
yang kemudian dinamakan Kampung Potre
— “kampung para putri” — di Desa Dempo
Barat, Kecamatan Pasean, Pamekasan.
Setelah Pertempuran
Dempo Abang
akhirnya takluk dan menghilang dari muka bumi. Musnah tanpa bekas
Penduduk Madura bersyukur, sebab sejak saat itu tidak ada lagi ancaman yang
berani mengusik ketenangan mereka.
Sementara itu,
Jokotole kembali ke keratonnya di Sumenep bersama Megaremeng. Dalam setiap langkahnya, ia
membawa kabar bahwa keadilan tetap hidup di bumi Madura.
Dan hingga kini,
masyarakat percaya: Bukit Perahu dan Kampung Potre adalah jejak nyata dari
pertempuran dahsyat yang pernah menggetarkan langit Madura. [sh]
Komunitas Api Kata Bukit Menoreh foto bersama dengan Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum dan Rain Rosidi, kurator dan pengajar di ISI Yogyakarta. [sh]
Jangan pernah berkelakar dengan Seniman. Sebab mereka punya
ribuan cara untuk mengubah kata-kata jadi spirit, jadi ide, dan yang tak mungkin
bisa tampak nyata.
Di mata seniman apa yang dia lihat, dengar, dan rasakan bisa jadi ide penciptaan karyanya.
Mari kita simak sebuah perhelatan pameran yang
di selenggarakan oleh UNY di Ruang Dalam Art House dengan Program Inovasi Seni
Nusantara (PISN) yang diketuai oleh Angga Sukma Permana, M.Sn dan beberapa nara
sumber yaitu Dr. Nova Suparmanto, M.Sc., Dr. ir. Heri Nurdiyanto, S.Kom.,
M.T.L., M.M.T., Dr. ir. Bambang Sulistyo, M.Eng., dan Mahasiswa.
Dalam
pelaksanaan pelatihan mereka menekankan pentingnya tranformasi digital dalam
dunia seni. Bagaimana pameran virtual jadi peluang baru bagi seniman untuk
memperkenalkan karya seninya secara global.
Hasil dari workshop bisa dilihat di www.nusanart.com.
Kali ini diberi
kesempatan untuk tampil offline di Ruang Dalam Art House.Pameran yang bertajuk Mooi(e)Noreh ini
dikuratori oleh Dr. I Gede Arya Sucitra, MA, pelaku seni dan Dosen FSRD ISI
Yogyakarta dan dibuka secara resmi oleh Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum, kurator
dan pengajar ISI Yogyakarta.
Pameran Mooi(e)Noreh menghadirkan beberapa nama yang ikut
berpartisipasi seperti Agung Menoreh, Ariswan Adhitama, Bernat Sumarlin, Juan
Dali, L Surajiya, Nuriyah Widi Astuti, Wahid Rustoyo, Vendi Anton, Winarni, dan
lainnya.
Mereka adalah perupa yang tinggal di perbukitan Menoreh yang menempuh
pendidikan seni di SMSR, ISI Yogyakarta, UNY, AKSERi, hingga karyanyajadi unik dan beragam, menggabungkan isu
lokal, tradisi, hingga imajinasi.
Surajiya
Kita simak diantaranya, misal karya Surajiya yang berjudul
Enigma. Dalam narasinya mengatakan: "Enigma" adalah gambaran peristiwa kehidupan yang
sulit dimengerti, dipahami, dan masih jadi misteri.
Berbagai ekspresi
spontan yang seakan ingin menyampaikan pesan, dalam bentuk gambaran orang-orang
yang bergegas, makhluk-makhluk aneh muncul di sana-sini, dan berlatar
pemandangan alam, yang bisa dibaca dari suasana langit.
Penggalan-penggalan
peristiwa hidup yang absurd. Mereka muncul dari pikiran yang bersumber dari
proses perjalanan pemaknaan hidup yang panjang, yang tak mudah dimengerti
maksud yang dikandung dibalik peristiwa itu sendiri.
Ada kalanya mereka ingin
hadir mengalir serta ingin dianggap ada begitu saja.
Sebuah kehidupan yang aneh, tak mudah dijelaskan, tak
diduga-duga, sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, yang harus mau tidak
mau diakui sebagai enigma.
Juan Dali
Sementara Juan Dali berangkat dari pemandangan alam di
sekitarnya, tempat dimana dia tinggal.
Karyanya terinspirasi dari orang yang
berkelakar dengan menawarkan pekerjaan dengan gaji fantastis namun serasa
bahwa itu tidak mungkin dilakukan, yaitu: Mewarnai Langit.
Juan Dali
menggambarkan seorang anak kecil dipunggung ayahnya membawa cat warna pink
mewarnai langit yang sudah berwarna abu-abu.
Sebuah kiasan memang, tetapi
menarik untuk disimak. Kehadirannya berharap mampu memberi warna orang di
sekitarnya dan selalu diikuti dengan keindahan seperti 3 kupu-kupu yang
mengikutinya.
Pemandangan ini diambil di Puncak Moyeng, sebuah desa wisata yang
ada di Pendoworejo.
Pameran ini berlangsung hingga tanggal 30 November 2025.
Zainal Arifin bertindak sebagai pembina upacara. [sh]
SUMENEP — SDN Padangdangan 1, Kecamatan
Pasongsongan, sukses gelar upacara peringatan Hari Guru Nasional 2025. Kegiatan
berlangsung di halaman sekolah tersebut berjalan lancar, tertib, dan sesuai
harapan banyak pihak -- baik
guru, siswa, maupun masyarakat sekitar. Selasa (25/11/2025).
Bertindak sebagai pembina upacara adalah Zainal Arifin, salah satu
guru kelas di sekolah tersebut.
Dalam amanatnya, beliau menyampaikan pesan penting kepada seluruh peserta
didik untuk meningkatkan kesungguhan dalam belajar, terlebih karena siswa SDN
Padangdangan 1 dalam waktu dekat akan menghadapi Asesmen Sumatif Akhir
Semester (ASAS) 1.
“Anak-anak harus mulai menambah jam belajar di rumah. Jangan menunggu waktu
mepet menjelang ujian. Persiapkan diri mulai sekarang agar hasil belajarnya
maksimal,” ujar Zainal Arifin di hadapan seluruh peserta upacara.
Tak hanya menyoroti persiapan akademik, beliau juga menekankan pentingnya
membangun akhlak dan tata krama dalam keseharian.
Menurutnya, guru bukan hanya pengajar ilmu, tapi juga
pembimbing karakter. Oleh sebab itu, siswa diimbau untuk selalu menghormati
guru agar ilmu yang dipelajari bias jadi ilmu yang barokah dan membawa manfaat.
“Sikap yang beradab dan menghormati guru adalah kunci keberkahan ilmu.
Anak-anak harus menjaga sopan santun, baik di sekolah maupun di luar sekolah,”
tambahnya.
Peringatan ini menjadi momentum penting bagi SDN Padangdangan 1 untuk
memperkuat komitmen dalam meningkatkan mutu pendidikan serta menanamkan
karakter baik kepada peserta didik. Semangat Hari Guru Nasional kembali
mengingatkan bahwa peran guru sangat besar dalam membentuk generasi masa depan
yang cerdas dan berakhlak mulia.
[sh]
LPI Nurul Ilmi, Dusun Jampareng Laok, Desa Campaka. [sh]
SUMENEP
— Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Nurul Ilmi yang berlokasi di Dusun Jampareng
Laok, Desa Campaka, Kecamatan Pasongsongan, turut memperingati Hari Guru
Nasional 2025 dengan kegiatan religius berupa pembacaan Yasin, tahlil, dan doa
bersama. Meski berada di pelosok desa, semangat guru dan santri dalam
memuliakan guru tampak begitu kuat dan penuh kekhidmatan. Selasa (25/11/2025).
Kegiatan dimulai sejak pagi hari, dipimpin oleh para pendidik LPI Nurul Ilmi
dan diikuti oleh seluruh peserta didik. Seluruh rangkaian peringatan
berlangsung sederhana namun sarat makna, menggambarkan kuatnya tradisi
keagamaan dan penghormatan yang mengakar di lingkungan pesantren dan lembaga
pendidikan Islam khususnya di wilayah Pasongsongan.
Menurut pengurus LPI Nurul Ilmi, peringatan Hari Guru Nasional bukan semata
acara seremonial, tapi sebuah momen penting untuk meneguhkan kembali
penghargaan kepada para guru sebagai pembimbing ilmu dan akhlak. Mereka menegaskan
bahwa guru memiliki peran besar dalam membentuk karakter peserta didik serta memberikan
fondasi ilmu yang jadi bekal hidup di masa depan.
“Guru bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tapi juga membimbing jiwa dan
adab. Dengan menghormati guru, insyaAllah
ilmu yang didapatkan akan jadi ilmu yang barokah, membawa keselamatan dunia dan
akhirat,” ujar salah satu ustazdah yang memimpin kegiatan tersebut.
Para peserta didik mengikuti rangkaian acara dengan penuh khidmat. Kegiatan
ditutup dengan doa bersama untuk para guru yang masih mengajar, para guru yang
telah wafat, serta permohonan agar ilmu yang dipelajari di LPI Nurul Ilmi
memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Peringatan Hari Guru Nasional di LPI Nurul Ilmi jadi bukti kuat bahwa penghargaan terhadap guru tidak
mengenal batas wilayah. Walau
berada di daerah pelosok, nilai-nilai luhur dalam memuliakan pendidik dan
menjaga keberkahan ilmu tetap dijunjung tinggi. [sh]
Upacara Hari Guru Nasional 2025 di SDN Soddara 1. [sh]
SUMENEP —
SDN Soddara 1 Kecamatan Pasongsongan
menggelar upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional
2025. Upacara berlangsung khidmat di halaman sekolah dengan
diikuti seluruh guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik dari kelas I
hingga VI. Selasa (25/11/2025).
Bertindak sebagai pembina upacara, Sarkawi, S.Pd, selaku Kepala
Sekolah, menyampaikan amanat yang menekankan pentingnya peran guru sebagai pilar
utama pendidikan. Ia
mengapresiasi dedikasi guru-guru SDN Soddara 1 yang telah menunjukkan komitmen
tinggi dalam menjalankan tugas mendidik, meskipun tantangan dunia pendidikan
semakin kompleks.
Tema Hari Guru Nasional tahun ini, “Guru Hebat, Indonesia Kuat,”
menurut beliau, menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa sangat bergantung pada
kualitas para pendidiknya. Para peserta didik juga diimbau untuk terus
menghormati guru, belajar dengan sungguh-sungguh, dan menunjukkan karakter yang
baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Upacara ditutup dengan pembacaan doa dan ucapan selamat Hari Guru Nasional
kepada seluruh guru. Suasana haru dan penuh penghargaan tampak menyelimuti
seluruh rangkaian kegiatan.
Berikut amanat
pembina upacara pada Hari Guru Nasional 2025:
”Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Jalan-jalan
ke kota Blitar, Mampir sebentar
membeli jamu. Mari kita
belajar dengan pintar, Karena guru
membimbing kita untuk maju.
Yang saya hormati,
Bapak/Ibu Guru dan Tenaga Kependidikan SDN Soddara 1.
Yang saya banggakan, seluruh anak-anakku peserta didik SDN Soddara 1.
Hari ini, Selasa 25 November 2025, kita melaksanakan upacara bendera dalam
rangka memperingati Hari Guru Nasional, sebuah momentum penting untuk
memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pahlawan tanpa tanda
jasa—para guru yang dengan tulus dan penuh dedikasi mencerdaskan kehidupan
bangsa.
Tahun ini, Hari Guru Nasional mengangkat tema “Guru Hebat, Indonesia
Kuat.” Tema ini mengingatkan kita bahwa kemajuan sebuah bangsa
sangat bergantung pada kualitas para pendidiknya. Guru yang hebat bukan hanya
yang menguasai ilmu pengetahuan, tetapi yang mampu menginspirasi, membimbing,
dan membuka jalan bagi lahirnya generasi masa depan yang berkarakter, kreatif,
dan berdaya saing.
Bapak/Ibu Guru yang saya hormati,
Pada kesempatan istimewa ini, izinkan saya menyampaikan rasa hormat dan
terima kasih yang sebesar-besarnya.
Setiap hari Bapak/Ibu hadir dengan semangat yang luar biasa—mengajar, mendidik
dengan hati, dan membimbing anak-anak dengan penuh kesabaran. Kita menyadari
bahwa tantangan pendidikan semakin kompleks, mulai dari perkembangan teknologi,
perubahan sosial, hingga dinamika karakter peserta didik.
Namun demikian, Bapak/Ibu guru di SDN Soddara 1 telah menunjukkan bahwa
cinta dan komitmen terhadap dunia pendidikan adalah kekuatan besar yang membuat
Bapak/Ibu terus bertahan dan berjuang. Atas dedikasi itu, saya—atas nama
seluruh warga sekolah—menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Anak-anakku hebat SDN Soddara 1,
Hari Guru Nasional juga menjadi kesempatan bagi kalian untuk menunjukkan
rasa hormat kepada guru-guru kalian. Tanpa mereka, kalian tidak akan dapat
membaca, menulis, berhitung, memahami dunia, atau berani bermimpi besar. Guru
adalah orang tua kedua yang selalu mendukung dan membimbing kalian.
Karena itu, saya berharap kalian selalu:
1.Menghormati
guru,
2.Mematuhi
nasihat yang baik,
3.Belajar
dengan sungguh-sungguh,
4.Menunjukkan
perilaku yang santun dan berkarakter.
Ingatlah, keberhasilan kalian di masa depan adalah kebanggaan bagi guru-guru
kalian.
Bapak/Ibu Guru dan seluruh warga sekolah yang saya
banggakan,
Dalam semangat Hari Guru Nasional ini, marilah kita memperkuat komitmen
untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan. Mari kita jadikan SDN Soddara 1
sebagai lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Kita percaya
bahwa ketika
guru hebat, Indonesia akan menjadi kuat.
Semoga Allah SWT meridai langkah kita dan memberikan kesehatan serta
kekuatan dalam mengabdi bagi dunia pendidikan.
Pohon jati
tumbuh berjajar, Menjulang tinggi
menyentuh awan. Guru mengajar
dengan sabar, Membangun bangsa
dengan ketulusan.
Demikian amanat yang dapat saya sampaikan. Selamat Hari
Guru Nasional 2025. Guru Hebat,
Indonesia Kuat!
Upacara bendera Hari Guru Nasional di SDN Padangdangan 2. [sh]
SUMENEP – SDN Padangdangan 2, Kecamatan Pasongsongan, menggelar
upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional 2025 pada Selasa
(25/11). Kegiatan berlangsung khidmat, diikuti seluruh siswa, guru, dan tenaga
kependidikan dengan penuh semangat dan antusiasme.
Dalam pesan penting yang disampaikan
dalam upacara, Kepala SDN Padangdangan 2, Madun, S.Pd,SD, memberikan motivasi kepada seluruh siswa untuk
terus menumbuhkan semangat belajar. Ia menegaskan bahwa belajar merupakan
kewajiban utama seorang pelajar.
“Jangan
pernah lelah belajar dan teruslah belajar, karena itu merupakan tugas kamu
sebagai seorang pelajar,” tegas Madun.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan
pentingnya menghormati guru sebagai sosok yang paling berjasa dalam perjalanan
pendidikan seorang murid. Menurutnya, melalui ilmu yang diberikan guru, seorang
pelajar bisa meraih kedudukan serta masa depan yang lebih baik.
“Guru
adalah orang yang paling berjasa sehingga seorang pelajar bisa mendapat
kedudukan dengan ilmunya. Maka rasa hormat seorang murid wajib hukumnya untuk jadi
orang yang bermartabat, baik dunia dan akhirat,”
tambahnya.
Upacara peringatan Hari Guru
Nasional di SDN Padangdangan 2 ini diharapkan kian mempererat hubungan antara
siswa dan guru serta menanamkan nilai-nilai penghormatan terhadap jasa para
pendidik.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama
untuk para guru agar senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan dalam mengabdikan
diri di dunia pendidikan. [sh]
Salehodin HR (kiri) mendapat kalungan bunga dari Kepala SDN Panaongan 3. [sh]
SUMENEP - Upacara peringatan Hari Guru Nasional di SDN Panaongan 3, Kecamatan Pasongsongan, pada Senin (25/11) berlangsung khidmat dan sarat pesan pendidikan. Sejak pagi,
para siswa bersama dewan guru mengikuti setiap rangkaian acara dengan tertib.
Kepala Sekolah, Agus Sugianto,
S.Pd, yang tampil mengenakan blangkon khas Madura, bertindak sebagai
pembina upacara. Dalam amanatnya, ia menekankan pentingnya menuntut ilmu dengan
merujuk pada pesan dari Surat Al-‘Alaq.
“Iqra berarti bacalah. Kita
diajarkan untuk terus belajar. Masa depan kalian sangat dipengaruhi oleh
kesungguhan dalam mencari ilmu,”
ujarnya di hadapan peserta upacara.
Pada peringatan tahun ini, seluruh
guru mengenakan pakaian adat Madura. Agus Sugianto menjelaskan bahwa pengenalan
budaya lokal juga merupakan bagian dari pendidikan karakter.
“Budaya Madura mengajarkan kita
untuk menghormati orang tua serta menjaga sopan santun. Nilai-nilai itu juga
penting untuk dipelajari,”
tambahnya.
Ia turut mengutip pesan Sayyidina
Ali tentang pentingnya menghargai siapa pun yang memberikan ilmu, termasuk
orang tua yang menjadi guru pertama bagi anak-anak.
Salah satu momen berkesan dalam
upacara tersebut adalah pemberian penghargaan kepada guru senior, Salehodin
HR, S.Pd, yang selama ini dikenal sebagai pembina siswa berprestasi diantaranya Sulaiman, peraih Juara III Lomba FTBI tingkat Provinsi Jawa Timur.
Dalam sambutannya, Salehodin
menyampaikan rasa terima kasih atas apresiasi yang diberikan sekolah.
“Selama siswa bisa berprestasi, itu
sudah menjadi kebanggaan bagi saya,”
tuturnya.
Upacara ditutup dengan doa bersama.
Seluruh rangkaian kegiatan diharapkan dapat menumbuhkan motivasi belajar para
siswa serta memperkuat penghargaan terhadap guru dan nilai-nilai budaya daerah. [sh]
Di sebuah dusun kecil bernama Pakotan, di pesisir pantai
utara Pulau Madura, hiduplah seorang kiai yang sangat bijaksana.Namanya Kiai Ali Akbar Syamsul Arifin. Dusun Pakotan sendiri masuk wilayah Desa/Kecamatan
Pasongsongan, Kabupaten Sumenep.
Beliau tinggal di tempat yang sejuk dan damai, dikelilingi
pohon kelapa dan suara burung yang merdu.Saban
hari, Kiai Ali Akbar tersenyum kepada siapa pun yang ditemuinya.
Ia mengajarkan kepada anak-anak dan orang-orang yang di sekitarnya untuk senantiasa berbuat
baik, saling mendoakan,dan saling menolong.
“Anak-anak,” kata beliau lembut,“Kalau kita menolong teman, Allah akan senang. Kalau kita rajin
belajar dan berdoa, hati kita jadi terang.”
Anak-anak pun suka mendengarkan cerita beliau.Kadang, di bawah pohon rindang, Kiai Ali
Akbar bercerita tentang Nabi Muhammad SAW dan tentang indahnya hidup saling
menyayangi.
Suatu hari, angin laut bertiup sangat kencang. Ombak besar
datang menerjang perahu nelayan. Semua orang khawatir.Kiai Ali Akbar lalu mengajak warga berdoa bersama.Ia mengangkat tangan dan berdoa dengan
penuh harap.
Tak lama kemudian, angin menjadi tenang dan laut kembali
damai.Semua orang bersyukur dan
berkata,“Alhamdulillah, doa Kiai Ali
Akbar dikabulkan Allah!”
Sejak itu, warga semakin sayang dan menghormati beliau.Mereka tahu, Kiai Ali Akbar adalah orang
yang sangat dekat dengan Allah dan membawa kedamaian bagi dusun mereka.
Waktu pun berjalan. Suatu hari, Kiai Ali Akbar berpulang ke
rahmatullah.Warga Pakotan sangat
sedih, tetapi mereka tetap menjaga pesan beliau:
“Sebarkan kebaikan dan cintailah sesama.”
Untuk mengenang beliau, warga merawat Asta Kiai Ali Akbar
dengan penuh cinta.Setiap orang yang
datang berziarah kesana akan berdoa dengan hati yang tenang.
Anak-anak pun sering mendengar cerita tentang beliau dari
orang tua mereka.Mereka belajar
bahwa dari dusun kecil Pakotan, pernah hidup seorang kiai besar yang membawa
cahaya Islam dan kebaikan bagi seluruh Madura.[sh]
“Ayah...” Suara teriakan dari kamarku,
walau tak terlalu keras pada malam kelima puluh tujuh kematian istriku.
Ah, aku cepat tersadar akan anak lelakiku yang
tidur seorang diri, tanpa teman. Buru-buru kutinggalkan meja mesin ketikku, terpaksa.
Padahal aku lagi asyik menulis karya fiksi masih belum selesai yang rencananya akan
kukirimkanke media massa cetak besok. Yah, aku hidup bersama istri dan anakku dari peluh dunia sastra. Dunia sarat derita, banjir sengsara…
Entah sampai kapan aku harus bertahan di
indahnya inspirasi
yang mengembara sepanjang waktu, bergulir l...
“Ayah...”Panggilan kedua kalinya dari anakku, iramanya kutangkap pilu, lantas aku
terbawa pada belai kasih sayang sangat dibutuhkannya seusia anakku. Ia seolah aku masa lampau dari dunia tanpa
perhatian dari seorang lelaki, penyebab aku lahir ke alam fana ini
" Sebentar sayang, ayah ada di sini,” sahutku menenangkan kekalutannya sebisa angin berhembus tenang.
Kemudian kuselimuti tubuh mungil itu, masih hijau di kelopak mataku. Andai
istrikumasih ada, tentu aku dapatmerdeka menuangkan gerak otakku, sekadar mencari
sesuap nasi.
0…Tidak!Aku tidak boleh
membangkitkan keinginan yangsudah terkubur
bersama waktu. Biarlah yang pergi takkan pernah kembali,
sebab hal tersebut kehendak-Nya.
Kami lalu terlelap di sebuah dunia yang
hilang.(Selesai)