Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2021

Takut Vaksin Covid-19

Catatan: Yant Kaiy Gerakan takut vaksin Covid-19 semakin kuat dan santer di tingkat grassroot. Benih ketakutan itu memang ada pada sebagian rakyat di bumi nusantara karena jarum suntik.   Selanjutnya benih ketakutan itu membengkak setelah mendengar pernyataan-pernyataan publik figur, bahwa vaksin Covid-19 itu begini-begitu. Maka ketakutan itu ibarat api kecil disiram bensin, langsung membesar dan menjalar begitu cepat. Anehnya yang membuat opini itu tidak tersentuh hukum. Ia bebas melenggang, meniti catwalk tanpa takut terpeleset. Semakin kuatlah kepercayaan mereka. Lalu mindset masyarakat kian merajalela, bahwa yang is the best adalah argumen tokoh publik. Kendati ada corong dari pemerintah terus menerus, bahwa vaksin Covid-19 aman dan halal. Rakyat tidak langsung percaya. Entah sampai kapan proses kepercayaan masyarakat tumbuh sebagai cerminan penduduk yang baik.[] Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Potret Pernik Khawatir

Catatan: Yant Kaiy Ketika sebuah pemerintah tidak menjamin penduduknya dari rasa aman hakiki dan pemenuhan hak asasi terabaikan begitu saja, otomatis perasaan khawatir menyelimuti kalbunya setiap detak jantung. Menjalar ke seujur raga tanpa ampun. Apalagi sebagai orang tua yang memiliki keturunan, mereka tentu tidak ikhlas mati begitu saja sebelum bisa memastikan kalau kelak anaknya terjamin tenteram, bahagia selamanya. Mereka mendambakan anak-cucunya bisa dititipkan kepada negara seutuhnya tanpa perlu khawatir lagi. Dikala suasana peta politik tidak menentu, permasalahan hukum amburadul, korupsi dan kolusi serta nepotisme merajalela, maka mafhum kalau nuansa khawatir membombardir nuansa hidup mereka. Maka sebagai dampaknya, ternatallah riak-riak dari kaum jelata sebagai ungkapan kecewa. Ibarat ada asap, so pasti ada api. Kecewa pun bertambah kuat tatkala gerakan kecil itu disebut sebagai makar. Sungguh mengerikan. Memperjuangkan nasib tervonis sebagai penjahat. Yant Kaiy, pe

Therapy Banyu Urip Pusat Madura: Hadir Mewarnai Kesehatan Masyarakat

Para pasien di Therapy Banyu Urip Pusat Madura. (Foto: Yant Kaiy) Catatan: Yant Kaiy Kehadiran Therapy Banyu Urip Pusat Madura mulai mendapat atensi dari segenap lapisan masyarakat di Kabupaten Sumenep dan Pamekasan. Karena lokasinya terletak di Jalan Kiai Abubakar Sidik Kecamatan Pasongsongan-Sumenep, berbatasan langsung dengan Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan. Para pasien yang penulis wawancarai menyatakan, kalau Ramuan Banyu Urip memang pantas untuk masyarakat kecil (wong cilik). Harganya murah meriah. Tidak sebanding dengan khasiatnya yang luar biasa mantap. Kesaksian positif para pasien Therapy Banyu Urip setelah melakukan pengobatan dan datang kembali untuk sesi testimoni, ternyata mereka membawa pasien baru. Ini menunjukkan bahwa kehadiran Therapy Ramuan Banyu Urip mulai bisa memasyarakat. Pasien sebelumnya acapkali merekomendasikan pada rekan atau tetangganya yang sakit untuk berobat di Therapy Banyu Urip Pusat Madura.[]

Membuang Waktu

Pentigraf: Yant Kaiy Bila dalam kalut menyelimuti alam pikiranku, acapkali kuhabiskan waktu dengan membuka sosial media di smartphone. Kenyamanan berselancar di dunia maya membantai habis persoalan hidup sementara waktu. Memaksakan diri untuk tetap berkarya tidak mudah, justru kian dalam atma terperangkap ke lembah-lembah gundah. Ya, semakin amburadul semuanya. Ketika mata mulai mengantuk, kubaringkan tubuh. Namun aku tidak bisa segera terlelap begitu saja. Sejenak ada penyesalan bergantungan. Tersadar karena waktu terbuang percuma. Tidak hanya sekali. Tatkala penyesalan ternatal, ada ikrar tidak mengulanginya kembali. Tapi tetap saja tanganku gatal bila kesendirian malam mulai merasuk jiwa.[] Pasongsongan, 27/2/2021

Harlah NU ke-98 dan Pelantikan Pengurus MWC NU Pasongsongan

Catatan: Yant Kaiy Besok, Ahad (28/2/2021), pengurus MWC NU Pasongsongan akan menggelar acara Harlah NU ke-98 sekaligus pelantikan Pengurus MWC NU Pasongsongan masa khidmat 2021-2026. Dijadwalkan acara akan dimulai pukul 08.00 WIB yang bertempat di masjid baru selesai dibangun (Masjid Al-Hidayah), sebelah utara Puskesmas lama Pasongsongan. Dalam pelantikan ini sudah barang tentu akan dihadiri pengurus PC NU Sumenep. Banyak pihak berharap dalam kepengurusan baru MWC NU Pasongsongan nantinya bisa berbaur dan bisa mewarnai segenap sendi-sendi kehidupan masyarakat. Menanggalkan perilaku eksklusif dan individualistis dari masing-asing personil pengurus NU supaya pencapaian menyebarkan Aswaja dan meneguhkan komitmen kebangsaan dapat terwujud.[] Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Berita Terkini Kunjungan Menteri Sosial ke Ponpes Annidhamiyah Pasean Pamekasan

Menteri Sosial Tri Rismaharini di Ponpes Annidhamiyah Pasean Pamekasan. (Foto: Yant Kaiy) Apoymadura, Pamekasan – Pasca bencana longsor di Pondok Pesantren (Ponpes) Annidhamiyah   Dusun Jeppon Desa Bindang Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan telah menyita keprihatinan banyak pihak. Setelah Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melakukan kunjungan ke lokasi bencana, kali ini giliran Menteri Sosial Tri Rismaharini datang langsung ke ponpes yang diasuh Kiai Haji Humaidi Zaini. Sabtu (27/2/2021). Kunjungan Tri Rismaharini kali ini hanya sebentar. Setelah meninjau lokasi longsor, kemudian Menteri Sosial berpamitan pulang. (Yant Kaiy)

Pesan Kades Pasongsongan Tentang Vaksin Covid-19 dan Jalan Dusun Sempong Barat

Kades Pasongsongan Ahmad Saleh Harianto (kanan) bersama penulis. (Foto: Yant Kaiy) Catatan: Yant Kaiy Ada tiga poin pesan Kepala Desa Pasongsongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep yang diutarakan kepada saya. Pertama tentang vaksin Covid-19. Bahwa vaksin tersebut aman dan halal serta bisa menambah daya imun tubuh lebih baik. “Jadi masyarakat tidak perlu khawatir. Jangan termakan isu tidak benar,” tegas Kades Pasongsongan, Ahmad Saleh Harianto, S.Pt. Sabtu (27/2/2021). Pesan kedua tentang jalan di Dusun Sempong Barat menuju Desa Bindang, sebentar lagi akan dilakukan pengaspalan. “Jalan ini menjadi prioritas kami untuk segera diaspal karena rusak parah. Kalau anggaran nanti turun, sudah barang tentu kami akan start,” tambahnya. Ketiga jalan di Dusun Sempong Barat menuju Desa Dempo Timur. Jalan turunan yang rawan kecelakaan ini akan dirabat beton, karena kalau dilakukan pengaspalan mudah mengelupas akibat terkikis air hujan.[]

Ketua Lesbumi: MWC NU Pasongsongan dan PC NU Sumenep

Dari kiri: Homaidi, A Jasimul Ahyak. (Foto: Yant Kaiy) Apoymadura, Sumenep – Ketua Lesbumi MWC NU Pasongsongan, Akhmad Jasimul Ahyak berkunjung ke Kebun Assalam Annuqayah yang terletak di Desa Prancak Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, bertemu langsung dengan Ketua Lesbumi PC NU Sumenep Homaidi. Jumat (26/2/2021). Maksud dan tujuan kehadiran Akhmad Jasimul Ahyak, membahas konsep kebudayaan yang ada di Kecamatan Pasongsongan serta pernak-pernik strategi melestarikan warisan seni tradisi yang ada supaya tidak raib ditelan pengaruh budaya luar. “Jalinan komunikasi ini penting kami lakukan lantaran Lesbumi MWC NU Pasongsongan tidak ingin stagnan. Kami serius dalam memberikan sentuhan-sentuhan pada seni tradisi lokal Pasongsongan,” ujar Akhmad Jasimul Ahyak. Sedangkan Homaidi menyambut baik kunjungan Ketua Lesbumi Pasongsongan. “Konsep kebudayaan yang kami anjurkan harus real, fleksibel, visioner, elegan dan berbaur dalam membangun seni tradisi lokal. Kehadiran Lesbumi tida

Keniscayaan Madura Jadi Provinsi

Catatan: Yant Kaiy Makin bertambah kuat keniscayaan para tokoh masyarakat dan ulama di Pulau Garam, tentang harga mati Madura menjadi provinsi. Karena niat mulia ini sudah lebih sepuluh tahun dicanangkan. Proses itu telah mengemuka akhir-akhir ini dengan digiringnya Pamekasan menjadi kota dan kabupaten oleh pemangku kebijakan setempat. Bahkan warga etnis Madura yang berada di luar banyak bersuara lantang kalau Pulau Garam pantas untuk “bercerai” dengan Jawa Timur. Mereka adalah tokoh penting yang memiliki kapabilitas mumpuni di bidangnya masing-masing. Keniscayaan Madura yang mayoritas penduduknya muslim menjadi provinsi bukanlah isapan jempol belaka. Potensi kesiapan itu sudah lama ada namun terkendala satu syarat, yakni kurang satu kabupaten. Kalau pemenuhan satu syarat sudah ada, maka tidak ada lagi kisi-kisi penghalang impian tersebut. Semoga.[] Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Menakar Madura Jadi Provinsi

Catatan: Yant Kaiy Di era 1950-an ketika M Noer menjadi Gubernur Jawa Timur, beliau punya konsep brilian untuk memiliki jembatan prestisius; menyambungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura. Di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono impian M Noer terwujud. Diresmikan pada 10 Juni 2009. Jembatan sepanjang 5.438 meter tersebut kini bernama Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura). Kini Pulau Garam (sebutan lain Pulau Madura) terus berbenah seiring keinginan banyak pihak untuk membentuk provinsi tersendiri. Impian inspiratif ini sudah sekian lama diwacanakan dan acapkali dipelopori tokoh penting dan berpengaruh Madura. Kesiapan Madura jadi provinsi dilatarbelakangi banyak faktor. Terutama kesiapan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang sudah tidak diragukan lagi. Hanya kendala teknis saja dan unsur egosentris pihak-pihak tertentu yang “mengharamkan” Madura berpisah dari Jawa Timur. Bahkan seringkali ada beberapa gelintir publik figur “menjegal” Pulau Garam me

Banjir Kiriman: LPI Al-Furqon Panaongan Roboh

Kiai Djamaluddin (kanan) bersama personil dari Polsek Pasongsongan. (Foto: Yant Kaiy) Apoymadura, Sumenep – Bangunan Lembaga Pendidikan Islam Al-Furqon di Dusun Benteng Utara Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep roboh akibat   terjangan banjir kiriman dari arah selatan. Lokasi LPI ini memang berada di dataran terendah. Karena curah hujan tinggi sejak sore hingga dini hari mengakibatkan banjir kiriman mengalir deras dan bertemu dengan air laut. “Gedung LPI Al-Furqon ambruk karena pondasi tergerus banjir. Di posisi sebelah timur bangunan genangan air menjadi tinggi karena banjir dihadang tingginya gelombang air laut. Sehabis sholat subuh bangunan itu roboh,” terang Kiai Djamaluddin pengasuh LPI Al-Furqon yang dibawah naungan LP Ma'arif MWC NU Pasongsongan. Rabu (24/2/2021). Ketua MWC NU Pasongsongan Kiai Ahmad Riyadi (kanan) bersama aparatur Desa Panaongan. (Foto: Yant Kaiy) Dari kiri: Kapolsek Pasongsongan, TRC BPBD Sumenep, aparatur Desa Panaongan. (Foto: Ya

Nama-nama Korban Longsor Ponpes Annidhamiyah Pasean

Suasana musibah longsor Ponpes Annidhamiyah Pasean-Pamekasan. (Foto: Yant Kaiy) Apoymadura, Pamekasan – Musibah longsor bukit setinggi 70 meter yang mengakibatkan jatuh korban jiwa dan patah tulang di Pondok Pesantren (Ponpes) Annidhamiyah Dusun Jeppon Desa Bindang Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan mendatangkan duka begitu mendalam. Terutama dari pihak keluarga korban dan pondok pesantren. Rabu (24/2/2021). Dari Bidang Informasi Ponpes Annidhamiyah, Ustadz Muhammad Hanif diperoleh keterangan kalau kejadian longsor itu terjadi pada pukul 23.30 WIB, Selasa (23/2/2021). Berikut nama-nama korban longsor meninggal dunia terbaru Ponpes Annidhamiyah asuhan Kiai Haji Humaidi Zaini: 1. Rubiatul Adhawiya, umur 14 tahun, santriwati asal Desa Poreh Kecamatan Karang Pinang Sampang 2. Siti Komariyah, umur 16 tahun, santriwati asal Kecamatan Sumber Jambi Jember . 3. Santi, umur 14 tahun,   santriwati asal Desa Dukuh Mencek Kecamatan Suko Ramli Jember .. 4. Nur Azizah, umur 13 tahun, sa

Ponpes Annidhamiyah Bindang Pasean, Berkabung

Masyarakat melakukan pencarian korban longsor Ponpes Annidhamiyah Bindang Pasean. (Yant Kaiy) Apoymadura, Pamekasan – Pondok Pesantren (Ponpes) Annidhamiyah yang berada di Dusun Jeppon Desa Bindang Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan lagi berduka. Hujan deras disertai angin kencang dari sore hingga pagi hari mengakibatkan bukit sebelah barat longsor dan menimbun bangunan santri putri. Peristiwa nahas itu terjadi pukul 23.30 WIB. Selasa (23/2/2021). Musibah longsor itu menelan 5 korban jiwa meninggal dunia. Pihak Ponpes langsung menghubungi orang tua korban lewat jaringan seluler karena keluarganya ada yang berasal dari Jember dan Sampang. Ada catatan sedikit. Posisi Ponpes Annidhamiyah memang berada di bawah bukit setinggi 70 meter. Dan rawan longsor. (Yant Kaiy)

Longsor: Ponpes Annidhamiyah Bindang Pasean

Masyarakat dan pihak Ponpes Annidhamiyah terus melakukan pencarian korban longsor. (Foto: Yant Kaiy) Apoymadura, Pamekasan – Hujan deras yang mengguyur Dusun Jeppon Desa Bindang Kecamatan Pasen Kabupaten Pamekasan mulai pukul 18.00 hingga 04.00 WIB menyebabkan bukit setinggi 70 meter longsor. Dan longsorannya menimbun Pondok Pesantren (Ponpes) Annidhamiyah sisi sebelah barat. Selasa (23/2/2021) Peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 23.30 WIB yang mengakibatkan 5 santriwati menjadi korban meninggal dunia. Tiga mayatnya sudah ditemukan.   Sedangkan 2 korban masih belum ditemukan. Hingga berita ini diturunkan, masyarakat dan pihak Ponpes Annidhamiyah masih terus melakukan penggalian manual . (Yant Kaiy)

Pro dan Kontra Madura Provinsi

Catatan: Yant Kaiy Cita-cita mulia dari para tokoh penting di Madura yang terus berjuang supaya Pulau Garam menjadi provinsi, sejatinya mendapat apresiasi positif dari berbagai pihak.   Menjadi aneh ketika ada orang berdarah Madura yang nota bene lahir, besar, makan, minum, dan buang air besar di bumi Madura skeptis jika “cerai” dengan Pulau Jawa. Mereka bilang kalau SDM-nya masih belum siap, SDA tidak memenuhi kuota, dan seabrek counter opini lainnya. Kalau ada publik figur beretnis Madura lantang menentang perjuangan para tokoh umat   agar Pulau Garam jadi provinsi, tentu sikapnya patut dipertanyakan. Jangan-jangan ia telah terkontaminasi kepentingan-kepentingan lain selain unsur hajat terhormat banyak warga setempat. Stop argumen pesimistis; jika Madura menjadi provinsi maka penduduknya berada di level terbelakang, akan ternatal pelangi kesengsaraan di segala aspek kehidupan para penghuninya, dan lain sebagainya. Kalimat gombal itu tidak lagi menjadi pesona bagi seseorang ya

Berbagi di Tengah Pandemi Covid-19

Bakti sosial Therapy Banyu Urip di Bangkalan. (Foto: Yant Kaiy) Catatan: Yant Kaiy Di saat keadaan ekonomi masyarakat sulit akibat pandemi Covid-19, Therapy Banyu Urip International hadir kembali di Bangkalan untuk yang kesekian kalinya. Bakti sosial kali ini dipimpin langsung MS Arifin. Juga ada beberapa asisten terapis membantunya. Ahad (21/2/2021). Selain melakukan terapi di salah satu perumahan di Bangkalan, MS Arifin juga membagi-bagikan Ramuan Banyu Urip kepada semua pasien tanpa terkecuali. “Ini sebagai bentuk konkret kami terhadap masyarakat karena selama ini banyak terdesak kebutuhan hidup sehari-hari. Therapy Banyu Urip hadir meringankan saudara-saudara kita yang lagi menderita suatu penyakit. Kami juga mempersilakan mereka untuk berjaga-jaga dan merawat diri agar terhindar dari gangguan kesehatan,” terang MS Arifin.[]

Therapy Banyu Urip untuk Dunia

Therapy Banyu Urip untuk Dunia Puisi: Yant Kaiy   Ramuan Banyu Urip nusantara bukan sekadar mengobati belaka menyembuhkan penyakit ke akarnya solusi orang takut operasi   dari bahan alam Indonesia bagi semua umat seluruh dunia terbukti ampuh berkhasiat sehat jasmani-rohani sejahtera   Therapy Banyu Urip cabangnya dimana-mana Malaysia, Hongkong, Jedah, Benua Amerika tua-muda merasakan cocok padanya membantu kaum jelata sepenuh jiwa-raga   go international Therapy Banyu Urip tanpa efek samping go international Therapy Banyu Urip berbagi sehat pada sesama.   Pasongsongan, 20/2/2021

Pemetaan Karakteristik Wilayah Desa Pasongsongan

Catatan: Yant Kaiy Dari analisis di lapangan, ada tiga pemetaan masing-masing memiliki kadar aktivitas berbeda. Di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep ada enam dusun. Sisi utara Dusun Lebak. Sisi tengah Dusun Morasen dan Dusun Pakotan. Sisi selatan Dusun Tolabang, Dusun Sempong Barat dan Dusun Sempong Timur. Di Dusun Lebak mayoritas aktivitas warga lebih fokus pada bidang profesi yang ditekuninya. Tidak bercabang. Mereka punya banyak waktu. Misalnya sebagai nelayan. Di Dusun Morasen dan Dusun Pakotan masyarakatnya cenderung sedikit lebih sibuk. Pada umumnya mereka ada yang merangkap dua bidang pekerjaan. Ada yang menjadi pedagang plus kerja sampingan lainnya. Berbeda dengan Dusun Sempong Barat, Dusun Sempong Timur dan Dusun Tolabang. Disamping sebagai petani, mereka juga berternak, menjadi padagang. Bahkan ada sebagian dari mereka jadi nelayan dan pedagang. Bahkan banyak diantara mereka kalau malam hari juga beraktivitas sosial. Saran saya, bagi pemuda penganggura

Pagelaran Macapat Lesbumi NU Pasongsongan

Pagelaran Macapat Lesbumi Pasongsongan. (Foto: Yant Kaiy) Catatan: Yant Kaiy Tadi malam merupakan awal digelarnya Perkumpulan Macapat Lesbumi NU Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Sabtu (20/2/2021). Bertempat di kediaman Ketua Lesbumi Pasongsongan Akhmad Jasimul Ahyak, Dusun Lebak Desa/Kecamatan Pasongsongan. Lebih dari 20 orang anggota berasal dari beberapa desa yang ada di Pasongsongan. Saya sebagai sekretaris Lesbumi Pasongsongan juga ikut serta sebagai anggota perkumpulan macapat. Kendati saya tidak bisa menembangkan Macapat, paling tidak ikut bangga menjadi bagian perkumpulan seni budaya yang hampir punah ini. “Saya sebenarnya sudah mau istirahat dari kegiatan seni budaya peninggalan nenek moyang ini. Tapi karena ada keseriusan dari Lesbumi NU Pasongsongan untuk menggairahkan, jiwa saya pun terpanggil,” terang Mohammad Tohari yang didaulat sebagai Ketua Perkumpulan Macapat Lesbumi NU Pasongsongan.[]

Pelangi Pasongsongan

Pelangi Pasongsongan Puisi: Yant Kaiy   terbesar di Madura pada jaman raja-raja pelabuhan Pasongsongan hasil ikannya melimpah anugerah Tuhan terbaik   Syekh Ali Akbar penyebar Islam pertama King dari Tiongkok Buju’ Panaongan asal Jazirah Arab   Nyai Agung Madiya panglima perang wanita gagah berani menumpas Belanda abad tujuh belas   Goa Soekarno kini bersolek menyambutmu Puncak Lanjari wisata paralayang   tembang Macapat Zikir Samman warisan budaya leluhur.   Pasongsongan, 20/2/2021

Wanita Perkasa

Pentigraf: Yant Kaiy Fisiknya dilahirkan dalam keadaan cacat. Bila berjalan kakinya pincang. Tapi ia tergolong wanita tegar dan senantiasa percaya diri jika berbicara di depan orang banyak. Orang-orang mengenalnya sebagai pakar lingkungan hidup. Tulisannya dalam bentuk buku laris terjual. Selalu best seller. Ia menikah dengan lelaki berdarah biru pilihan hatinya. Teman semasa kuliah. Selesai bersalin lewat operasi, ia pinjam duit pada temannya. Ia harus bayar biaya rumah sakit.   Karena suaminya tidak bekerja. Tatkala ia ditagih hutang, ia tak berdaya. Ia tidak perkasa lagi.[] Pasongsongan, 19/2/2021

Bonsai Murah di Goa Soekarno Pasongsongan

Akhmad Jasimul Ahyak (kiri) bersama Ceng Ahmad Rasidi. (Foto: Yant Kaiy) Catatan: Yant Kaiy Jumat sore (19/2/2021), saya bersama Ketua Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia) Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, Akhmad Jasimul Ahyak berkunjung ke tempat wisata Goa Soekarno Pasongsongan. Gua alami nan eksotis tempat bertapa orang-orang jaman dahulu yang saban hari ramai dikunjungi para wisatawan, baik lokal atau mancanegara. Sebelum masuk Goa Soekarno ada tempat orang berjualan bonsai berharga murah. Kami tertarik melihatnya. Lalu bercengkerama sebentar. Pemilik pohon kerdil tersebut bernama Ceng Ahmad Rasidi. Usut punya usut, ternyata Ceng Ahmad Rasidi merupakan pemilik lahan Goa Soekarno. Saya perhatikan koleksi bonsai Ceng Ahmad Rasidi luar biasa bagus dan harganya cuma ratusan ribu. Ia sudah lama bergelut dengan dunia bonsai.[]

Lagu “Salam Therapy Banyu Urip”

Yamaro (Foto: Yant Kaiy) Catatan: Yant Kaiy Walau saling berjauhan antara saya dan Yamaro (ada di Bekasi), kami kembali membuat lagu Salam Therapy Banyu Urip. Lagu ini terinspirasi karena istri Yamaro sedang sakit syaraf kejepit dan melakukan pengobatan alternatif di Cabang Therapy Banyu Urip Bekasi. Hasilnya mendekati sembuh total. Istri musisi ini sudah melakukan pengobatan kemana-mana tapi hasilnya nihil. Tapi lewat Therapy Banyu Urip kakinya yang panjang sebelah mulai hampir rata dan jalan pun tidak sakit lagi. Karena cukup terkesan, Yamaro meminta pada saya untuk membuat syair lagu. Alhamdulillah sekarang lagunya sudah selesai.   Salam Therapy Banyu Urip Ciptaan: Yamaro/Yant Kaiy   Salam therapy Banyu Urip air hidup Ramuan alami nusantara Indonesia raya   Salam Therapy Banyu Urip air hidup Ramuan alami nusantara Indonesia raya   Reff:    Beramal dengan iman percaya            Penyembuh segala penyakit            Para umat Tuhan seluruh dunia   S

Ternyata, Hidup di Kampung Sibuk

Catatan: Yant Kaiy Saya menikah dengan seorang gadis di Dusun Sempong Barat Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Sebagai warga pendatang di daerah yang mayoritas penduduknya sebagai petani lahan kering, saya harus bisa beradaptasi dengan lingkungan. Mesti pintar-pintar mengatur waktu. Kesibukan saya saban hari kian bertambah saja di tengah-tengah mengelola website apoymadura.com. Dengan berat hati saya harus mengundurkan diri dari berbagai kegiatan sosial, seperti organisasi kemasyarakatan atau perkumpulan tiap minggunya. Karena istri dan anak saya butuh makan. Buat apa sibuk kalau tidak ada pendapatan. Berikut kegiatan saya setiap hari: 1. Habis shalat subuh, saya mencuci semua pakaian istri dan kedua anak yang masih kecil. Sedangkan istri memasak, menyapu dan mencuci perabot dapur. 2. Selanjutnya saya menyiapkan pakaian seragam sekolah anak sulung. Yang kecil saya mandikan. Istri menghidangkan sarapan. 3. Pukul 6.30 WIB kami berangkat mengajar (sebagai guru ho

Telah Kulewati

Pentigraf: Yant Kaiy Berpuluh-puluh tahun sampai uban memenuhi kepala, telah kulewati: gunung ikhtiar, lembah kemelaratan, bukit kemiskinan, sungai penindasan, hutan politik kemunafikan dari seseorang yang mengatasnamakan abdi negara. Namun semuanya tinggal slogan gombal menguras danau emosiku tanpa bisa dicegah. Berpuluh-puluh tahun sampai cucuku melahirkan, telah kulewati: angin intimidasi dari negara merdeka, petir fitnah menyambar, mendung curiga berarak menyelimuti perjalanan kegagalanku menikmati kesejahteraan. Aku terus tersudut ketika orang-orang menganggapku debu. Berpuluh-puluh tahun sampai ajalku menjelang, buah hatiku masih belum kutitipkan pada burung pagi. Karena diantara mereka masih berselisih paham tentang negeri yang berdaulat. Aku meragukan keamanannya.[] Pasongsongan, 18/2/2021

Miris, Pagar SMPN 1 Pasongsongan

Catatan: Yant Kaiy Bangga jadi alumni 1988 SMPN 1 Pasongsongan Kabupaten Sumenep walau beberapa hari yang lalu saya dapat pertanyaan menyedihkan dari Riza Pahlevi, direktur PT Panin Infrastruktur Mediakom. “Awal berdiri SMPN 1 Pasongsongan sekitar 37 tahun yang lalu, lengkap dengan pagar besi. Tapi mulai beberapa tahun belakangan ini, pagar besi sisi barat sudah tidak ada, hanya tinggal sebelah timur. Ini menjadi keprihatinan kita semua. Seharusnya pihak terkait peduli, tidak sekadar prihatin. Mengupayakan semaksimal mungkin agar ada pagar,” terang Riza Pahlevi di kantornya, kawasan Jalan Basuki Rahmad Sumenep. Senin (15/2/2021). Ia menambahkan dengan raut wajah serius, bahwa pagar sekolah itu penting, mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Keprihatinan itu wajar lantaran dirinya juga alumni SMPN 1 Pasongsongan.[]

Kepercayaan

Pentigraf: Yant Kaiy Sukar sekali aku bisa menundukkan keputusannya untuk bisa bersanding dengan keinginanku. Tapi kebersamaan kami terus terjalin walau ada beda pandangan tentang arah politik dan arah hidup. Aku tak pernah sekalipun mempengaruhinya. Toh, tidak ada untungnya bagi karierku selama ini. Lantaran risiko dari pilihan hidup itu pasti ada. Semua berlaku hukum alam demikian. Yang makan dia, tentu bukan aku yang kenyang. Prinsip instan tersebut terus aku pegang supaya marwah diri tetap bersinar terang. Begitu pula membangun kepercayaan orang lain. Sudah banyak cermin yang bisa dipakai agar tidak tersesat jalan.[]

Kenapa Madura Sulit Jadi Provinsi

Catatan: Yant Kaiy Pulau Madura terkenal dengan sebutan Pulau Garam. Ada empat kabupaten di pulau ini: Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Sudah berpuluh-puluh tahun warga masyarakat di pulau yang mayoritas penduduknya muslim menghendaki menjadi provinsi tersendiri, “bercerai” dengan provinsi Jawa Timur. Tapi entah kenapa keinginan kuat tersebut senantiasa gagal. Beraneka opini pro-kontra mengemuka manakala seorang tokoh publik mengetengahkan wacana mau “talak” dari Pulau Jawa. Hingar-bingar tersebut bagai embun pagi. Timbul-tenggelam. Awalnya saja berapi-api, namun pada ujungnya terbentur pada aturan main; kalau syarat menjadi provinsi harus begini dan begitu. Masyarakat luas jadi bertanya-tanya, kenapa cita-cita mulia dari penghuni pulau tanpa gunung ini selalu kandas? Terlepas dari kepentingan politik dan kekuasaan, selama ini orang-orang di Pulau Madura merasa kalau pembangunan proyek fisik cukup lamban ketimbang di Pulau Jawa. Baik itu proyek fisik dari pembangunan