Rabu, 31 Desember 2025

Meluruskan Citra: Madas dan Solidaritas Warga Madura di Perantauan

Kasus pengusiran seorang nenek di Surabaya yang belakangan ini viral telah menimbulkan gelombang spekulasi di tengah masyarakat, terutama mengenai keterlibatan organisasi kemasyarakatan Madas (Madura Asli).

Meskipun tudingan miring sempat berhembus kencang, pengurus pusat Madas dengan tegas membantah bahwa pelaku tindakan tersebut adalah bagian dari anggota mereka.

Penting bagi publik untuk tidak terjebak dalam penghakiman sepihak sebelum fakta hukum terungkap sepenuhnya, agar sebuah isu individual tidak berkembang menjadi sentimen negatif terhadap sebuah entitas organisasi yang sah.

Sejatinya, Madas hadir sebagai wadah strategis yang mengakomodir berbagai kepentingan positif serta menjalin silaturrahmi erat sesama warga Madura di perantauan.

Sebagai organisasi yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, Madas berfungsi sebagai jembatan sosial bagi warga Madura untuk saling membantu dalam beradaptasi dan berkontribusi di tanah rantau.

Keberadaan organisasi seperti ini sangat krusial untuk memastikan bahwa semangat gotong royong tetap terjaga, sekaligus jadi sarana pemberdayaan ekonomi dan sosial bagi para anggotanya.

Narasi yang mencoba menyudutkan Madas sebagai wadah premanisme merupakan bentuk stigmatisasi yang sangat disayangkan.

Upaya mengkotak-kotakkan warga Madura pada karakter primitif atau kekerasan seringkali datang dari pihak-pihak yang tidak memahami esensi budaya Madura yang religius dan santun.

Madas justru berdiri untuk mendobrak stigma tersebut dengan menunjukkan bahwa warga Madura adalah elemen masyarakat yang tertib hukum dan berkomitmen pada kemajuan nasional. 

Menilai Madas hanya dari satu peristiwa yang tidak terbukti keterlibatannya adalah sebuah kekeliruan dalam memandang dinamika organisasi kemasyarakatan di Indonesia.[sh]

Jurnal PPG 2025: Pembelajaran Mendalam dan Asesmen, Topik 2 "Pembelajaran Berdiferensiasi"

Jurnal PPG 2025: Pembelajaran Mendalam, Topik "Pembelajaran Mendalam"

 1. Latar Belakang

Belajar merupakan sebuah proses evolusi dinamis yang melibatkan berbagai pihak, sehingga menuntut guru profesional untuk menguasai pembelajaran berdiferensiasi. Pendekatan ini jadi sangat esensial karena mengakui keunikan setiap siswa, baik dari segi gaya belajar, minat, maupun kemampuan mereka. Dalam praktiknya, diferensiasi mengharuskan pendidik untuk meninggalkan metode pengajaran yang seragam dan beralih pada penyesuaian materi, aktivitas, serta penilaian yang spesifik. Dengan demikian, kebutuhan belajar individu bisa terpenuhi secara optimal melalui strategi yang selaras dengan karakteristik masing-masing siswa.

2. Pengertian Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan pedagogis yang secara sadar menyesuaikan konten, proses, dan produk belajar berdasarkan kebutuhan, minat, serta profil peserta didik. Sejalan dengan pandangan Carol Ann Tomlinson, pendekatan ini didefinisikan sebagai ikhtiar melahirkan kesesuaian antara kebutuhan belajar siswa dengan cara guru mengajar, dengan tujuan utama memastikan setiap individu bisa belajar optimal sesuai kemampuannya. Dalam pelaksanaannya, pembelajaran ini tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga menuntut guru untuk secara berkelanjutan meninjau efektivitas strategi yang diterapkan guna mengakomodasi keberagaman siswa di dalam kelas.

3. Komponen Pembelajaran Berdiferensiasi 

a. Diferensiasi Konten:

Strategi ini menyesuaikan materi, kegiatan, dan hasil belajar dengan kemampuan, minat dan kebutuhan siswa serta berfokus pada bagaimana materi pembelajaran disajikan kepada siswa. Dalam diferensiasi konten, guru mengubah materi pelajaran agar sesuai dengan tingkat pemahaman, minat, dan gaya belajar siswa. Ini dapat mencakup menyediakan materi tambahan, memodifikasi tingkat kesulitan, atau menggunakan sumber daya yang berbeda sesuai dengan kebutuhan siswa.

Cara penerapannya : Menyajikan materi dalam berbagai bentuk, seperti teks, gambar, video, atau simulasi, untuk memenuhi preferensi belajar siswa.

 Penerapan diferensiasi konten bertujuan untuk:

- Memastikan setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk sukses dalam pembelajaran.

- Membantu siswa berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki masing- masing siswa.

- Menciptakan materi, kegiatan dan hasil belajar yang lebih relavan bagi siswa.

 

b. Diferensiasi Proses:

Salah satu bentuk pembelajaran berdiferensiasi yang diterapkan dengan cara membedakan cara guru menyampaikan materi atau intruksi kepada siswa. Dalam diferensiasi proses berkaitan dengan bagaimana cara guru membelajarkan dan membimbing siswa dan guru juga dapat menggunakan strategi pembelajaran yang beragam agar sesuai dengan gaya belajar dan kebutuhan belajar siswa. Tujuan utamanya adalah memfasilitasi setiap siswa untuk dapat melakukan aktivitas belajar yang sesuai dengan kebutuhan belajar, sehingga proses tersebut dapat membangun pemahaman yang mendalam terhadap materi yang diajarkan.

Cara penerapannya : Memberikan berbagai pilihan aktivitas pembelajaran, seperti proyek individu, kelompok, atau pembelajaran berbasis masalah.

C. Diferensiasi Produk:

Variasi hasil tugas pembelajaran dan penilaian produk atau hasil belajar siswa. Tugas dan penilaian untuk masing-masing siswa dibuat beragam namun masih tetap mengacu pada tujuan pembelajaran yang sama.

Diferensiasi produk mencakup bagaimana siswa menunjukkan pemahaman mereka terhadap materi yang telah diajarkan. Dalam diferensiasi produk, guru memberikan pilihan kepada siswa untuk mengekspresikan pemahaman mereka melalui berbagai produk atau karya. Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk menunjukkan pemahaman mereka dengan cara yang sesuai dengan kekuatan dan preferensi mereka.

Cara penerapannya: Memungkinkan siswa untuk menunjukkan pemahaman mereka melalui berbagai cara, seperti presentasi,laporan tertulis,atau karya seni.

Manfaat Pembelajaran Berdiferensiasi

1. Meningkatkan prestasi siswa:

Dengan pembelajaran yang lebih efektif, siswa dapat mencapai hasil belajar yang lebih maksimal.

2. Meningkatkan pemahaman konsep

Dengan menggunakan berbagai metode dan strategi pembelajaran, guru dapat memastikan pemahaman konsep yang lebih mendalam.

3. Keterlibatan siswa

Dengan mempertimbangkan gaya belajar dan minat siswa sehingga siswa dapat mengeksplorasi konsep-konsep dengan cara yang sesuai.

4. Mengembangkan keterampilan

Siswa akan mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikasi.

5. Menciptakan suasanabelajar yang positif

Pembelajaran  berdiferensiasi dapat  menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

4. PRINSIP PEMBELAJARAN BERDIFRENSIASI

1. Guru memahami kebutuhan belajar peserta didik

2. Guru merespon perbedaan peserta didik

3. Guru menggunakan berbagai metode pembelajaran

4. Guru menyesuaikan proses pembelajaran

5. Semua peserta didik berpartisipasi aktif

6. Guru dan peserta didik berkolaborasi dalam proses pembelajaran

7. Guru menerapkan diskusi kelompok

5. Aksi Nyata

MODUL 1 TOPIK 2

1.    Ide apa yang Bapak Ibu Guru dapatkan setelah belajar topik berdiferensiasi?

·         Merancang pembelajaran dan memahami terlebih dahulu keberagaman siswa, seperti gaya belajar, minat, dan kesiapan belajar.

·         Melakukan pemetaan awal untuk mengetahui potensi siswa.

·         Menyusun rencana pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa baik dari segi konten, proses, maupun produk yang dihasilkan

·         Melakukan refleksi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran

2.    Menurut Bapak/Ibu Guru pembelajaran berdifrensiasi seperti apa apa yang relevan untuk dikembangkan di sekolahBapak/Ibu Guru? Kembangkan rencana pembelajaran RPP atau Modul yang berorentasi pada pembelajaran berdifrensiasi .Pembelajaran berdifrensiasi merupakan pembelajaran yang memahami bahwa setiap siswa memiliki karekteristik dan kebutuhan yang berbeda. Pembelajaran yang mengedepankan pemenuhankebutuhan belajar siswa ini cocok dikembangkan disekolah saya. Dalam pembelajaran berdifrensiasi tahap awal yaitu dengan melakukan asesmen awal pembelajaran untuk mengetahui minat siswa. Dari hasil asesmen tersebut kita dapat melakukan perencanaan terkait dengan pembelajaran seperti apa yang bisa kita terapkan. Penggunaan media pembelajaran dengan menampilkan gambar dan video melalui proyektor dan kegiatan diskusi kelompok maka pembelajaran berdifrensiasi yang relevan untuk dikembangkan di sekolah saya yaitu difrensiasi konten, proses dan produk. 

6. Refleksi

       Melaksanakan tugas aksi nyata dalam program pendidikan ini ternyata memberikan dampak yang jauh lebih mendalam daripada sekadar penyelesaian kewajiban administratif. Bagi saya, ini adalah sebuah perjalanan evolusi diri. Pengalaman ini membuka mata saya bahwa pembelajaran yang efektif tidak semata-mata bergantung pada kecanggihan metode atau teknologi yang digunakan, melainkan berakar pada kemampuan fundamental guru dalam memahami kebutuhan, minat, dan kesiapan belajar (readiness) setiap peserta didik.

       Pelajaran terbesar yang saya petik adalah tentang keberagaman. Saya menyaksikan sendiri bahwa setiap siswa adalah individu unik dengan karakteristik belajar yang berbeda. Ketika saya mulai berani meninggalkan pendekatan "satu ukuran untuk semua" dan beralih ke pembelajaran yang fleksibel serta responsif, dampaknya sangat luar biasa.

       Saya melihat perubahan nyata di ruang kelas: tingkat partisipasi meningkat drastis dan motivasi belajar siswa tumbuh subur. Siswa yang sebelumnya pasif menjadi lebih berani bertanya dan terlibat dalam diskusi. Ketika mereka diberi kebebasan memilih aktivitas sesuai preferensi mereka, pemahaman konsep yang mereka tunjukkan justru menjadi lebih tajam dan mendalam.

       Lebih jauh lagi, aksi nyata ini menguatkan pemahaman saya tentang prinsip pembelajaran mendalam yang mencakup tiga elemen: berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

       Tentu saja, perjalanan ini tidak sunyi dari hambatan. Merancang pembelajaran berdiferensiasi yang mengakomodasi beragam kebutuhan siswa menuntut investasi waktu dan energi ekstra. Tidak jarang rencana yang disusun matang harus diubah di tengah jalan karena situasi di lapangan berbeda. Namun, saya menyadari bahwa tantangan-tantangan inilah yang menempa saya menjadi pendidik yang lebih adaptif dan reflektif. Kegagalan kecil dalam rencana justru menjadi ruang belajar untuk perbaikan di hari esok.

       Pasca pelaksanaan aksi nyata ini, saya merasakan pergeseran paradigma yang signifikan. Saya kini memandang proses belajar-mengajar bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan upaya menciptakan ekosistem yang memungkinkan setiap benih potensi siswa berkembang. Saya menjadi lebih peka, lebih kreatif, dan yang terpenting, lebih percaya diri dalam menerapkan pendekatan student-centered.

       Pengalaman ini bukanlah garis finis, melainkan titik awal. Saya bertekad untuk terus mengevaluasi dan merefleksikan praktik pengajaran saya secara berkelanjutan. Aksi nyata ini adalah langkah pertama saya menuju cita-cita pendidikan yang lebih humanis, inklusif, dan bermakna bagi seluruh anak bangsa. [sh]

Senin, 29 Desember 2025

MAKALAH: Perkembangan Konsep Matematika Dasar dan Implementasinya dalam Pembelajaran SD

MAKALAH: Perkembangan Konsep Matematika Dasar dan Implementasinya

Gaji Guru PPPK Paruh Waktu dan Ironi Bantuan Sosial

bantuan PKH dan gaji guru pppk paruh waktu di Indonesia

Gaji guru PPPK Paruh Waktu sangat bergantung pada kemampuan Pemerintah Daerah. Akibatnya, banyak guru menerima penghasilan yang jauh dari kata layak, meskipun mereka memikul tanggung jawab besar.

Menjadi guru membutuhkan kesiapan mental menghadapi peserta didik, ditambah beban administrasi yang mengharuskan mereka berjam-jam di depan laptop mengunggah berbagai data dan berkas.

Di sisi lain, penerima Program Keluarga Harapan (PKH) rutin menerima bantuan pemerintah. PKH tentu sangat pantas diberikan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Tapi, yang jadi persoalan adalah masih ditemukannya sebagian penerima PKH yang secara ekonomi tergolong cukup sejahtera, sementara guru PPPK Paruh Waktu justru harus berjuang dengan gaji minim tanpa kepastian kesejahteraan.

Kondisi ini menimbulkan rasa ketidakadilan.

Guru yang berperan langsung mencerdaskan generasi bangsa seolah kurang memperoleh atensi pemangku kebijakan, sementara bantuan sosial belum sepenuhnya tepat sasaran.

Sudah saatnya pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh, baik terhadap sistem bantuan sosial maupun kesejahteraan guru, agar keadilan benar-benar dirasakan oleh mereka yang paling berjasa dan paling membutuhkan.[sh]

Gaji Guru PPPK Paruh Waktu yang Belum Berkeadilan

guru pppk paruh waktu yang tidak memenuhi standarpenghasilan masarakat di indonesia

Gaji guru PPPK Paruh Waktu saat ini masih sangat beragam di setiap daerah karena bergantung pada kemampuan keuangan Pemerintah Daerah.

Kondisi ini membuat banyak guru menerima gaji yang jauh dari kata layak, walau beban kerja dan tanggung jawab mereka sama.

Padahal, jadi guru bukanlah pekerjaan ringan. Guru dituntut memiliki kesiapan mental dalam menghadapi berbagai karakter peserta didik.

Selain mengajar, mereka juga harus mengerjakan banyak tugas administrasi, seperti mengunggah data dan berkas pembelajaran melalui berbagai aplikasi, yang sering kali memakan waktu dan tenaga.

Gaji yang rendah tentu berdampak pada kesejahteraan dan motivasi guru. Sangat tidak adil jika tuntutan profesionalisme tinggi tidak diimbangi dengan penghasilan yang memadai.

Pendidikan yang berkualitas tidak akan terwujud jika para pendidiknya terus bekerja dalam keterbatasan.

Sudah seharusnya ada perhatian lebih serius dari pemerintah agar gaji guru PPPK Paruh Waktu lebih layak dan berkeadilan.

Guru adalah ujung tombak pendidikan, sehingga kesejahteraan mereka sejatinya jadi prioritas bersama. [sh]

Pesta MBG dan Keselamatan Sekolah: Jangan Abaikan yang Lebih Mendesak

makanan bergizi gratis program presiden prabowo subianto

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah-sekolah merupakan langkah positif pemerintah dalam membantu pemenuhan gizi seimbang bagi peserta didik.

Program ini sangat bermanfaat, terutama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, karena gizi yang baik berperan penting dalam tumbuh kembang dan konsentrasi belajar mereka.

Tapi di balik manfaat tersebut, ada persoalan mendesak yang tidak boleh diabaikan, khususnya di Pulau Garam Madura.

Hingga saat ini, masih banyak gedung sekolah yang kondisinya memprihatinkan. Bangunan yang sudah tua, rapuh, bahkan sebagian roboh jadi ancaman nyata bagi keselamatan peserta didik dan guru.

 Ironis rasanya ketika anak-anak mendapatkan makanan bergizi, tapi harus belajar di ruang kelas yang tidak aman.

Keselamatan sejatinya jadi prioritas utama dalam dunia pendidikan. Gedung sekolah yang layak bukan sekadar fasilitas, melainkan kebutuhan dasar.

Tanpa ruang belajar yang aman, proses pendidikan justru berubah jadi aktivitas yang penuh risiko. Kondisi ini semestinya mendapat atensi serius dari para pemangku kebijakan sebelum terjadi korban jiwa.

Program MBG memang penting, tapi akan jauh lebih bermakna jika diiringi dengan perbaikan infrastruktur sekolah.

Pemerintah perlu menata ulang skala prioritas agar pemenuhan gizi berjalan seiring dengan jaminan keselamatan.

Pendidikan yang berkualitas tidak hanya tentang apa yang dikonsumsi siswa, tapi juga tentang tempat yang aman dan layak untuk mereka belajar dan bermimpi.[sh]

Ironi Guru PPPK Paruh Waktu: Beban Mental "Full Time", Gaji "Seikhlasnya"

guru pppk paruh waktu indonesia

Transformasi status tenaga honorer jadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu digadang-gadang sebagai "sekoci penyelamat" untuk menghindari pemutusan hubungan kerja massal.

Tapi, di balik narasi penyelamatan tersebut, tersimpan realitas pahit yang mesti ditelan oleh ribuan guru di berbagai pelosok negeri.

Kebijakan yang menyerahkan besaran gaji PPPK Paruh Waktu kepada kemampuan keuangan masing-masing Pemerintah Daerah (Pemda) adalah pedang bermata dua.

Bagi daerah dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tinggi, mungkin ini bukan masalah. Tapi, bagi daerah dengan fiskal "cekak", kebijakan ini jadi legitimasi untuk menggaji guru dengan nominal yang jauh dari kata layak—bahkan sering kali lebih rendah dari Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK).

Ketimpangan yang Dinormalisasi

Sangat tidak adil ketika standar kesejahteraan seorang pendidik ditentukan semata-mata oleh lokasi geografis tempat mereka mengabdi.

Guru di daerah A bisa mendapatkan gaji yang cukup untuk hidup, sementara guru di daerah B—dengan beban kerja yang relatif sama—harus memutar otak mencari pekerjaan sampingan demi kebutuhan isi perut.

Ketika gaji disesuaikan dengan "kemampuan daerah", kita seolah menormalisasi kemiskinan struktural bagi para pendidik.

Padahal, standar pendidikan nasional yang dituntut pemerintah pusat berlaku sama rata, baik di kota metropolitan maupun di daerah tertinggal.

Mengapa kesejahteraannya dibedakan begitu tajam?

"Paruh Waktu" di Kertas, "Purna Waktu" di Beban Mental

Istilah "Paruh Waktu" mungkin terdengar logis secara administratif untuk menyesuaikan dengan anggaran. Tapi, mari kita bicara jujur tentang profesi guru. Apakah mendidik anak bangsa bisa benar-benar dilakukan secara "paruh waktu"?

Jadi guru bukanlah pekerjaan klerikal yang selesai begitu jam kantor berakhir. Profesi ini menuntut kesiapan mental yang luar biasa.

Menghadapi ratusan peserta didik dengan beragam karakter, latar belakang, dan masalah emosional membutuhkan energi psikis yang besar.

Guru harus menjadi pengajar, orang tua kedua, sekaligus konselor. Beban mental ini tidak mengenal istilah "jam kerja paruh waktu"; ia terbawa hingga ke rumah, dalam bentuk kelelahan emosional dan pikiran yang terus berputar memikirkan nasib murid-muridnya.

Jeratan Administrasi dan Layar Laptop

Ironi semakin menebal ketika kita melihat tuntutan administratif. Meskipun statusnya paruh waktu dengan gaji minim, guru-guru ini tetap dituntut melek teknologi dan menyelesaikan segudang kewajiban data.

Mereka harus berlama-lama di depan laptop, mengunggah berbagai berkas, mengisi E-Kinerja, jurnal harian, hingga menyelesaikan modul di Platform Merdeka Mengajar (PMM).

Koneksi internet yang acap kali harus dibayar dari kantong pribadi, mata yang lelah menatap layar, dan waktu yang tersita untuk administrasi adalah "kerja tak terlihat" (invisible labor) yang sering kali tidak dihargai dalam komponen gaji mereka.

Pemerintah Daerah seringkali menutup mata bahwa beban administrasi tidak berkurang hanya karena status mereka paruh waktu.

Data siswa tetap harus diinput, laporan tetap harus dibuat, dan kurikulum tetap harus dijalankan.

Menuntut Keadilan Standar

Sudah saatnya pemerintah pusat tidak lepas tangan dengan sekadar menyerahkan nasib guru PPPK Paruh Waktu pada kemampuan daerah.

Harus ada standar upah minimum nasional khusus guru yang disubsidi melalui Dana Alokasi Umum (DAU) yang bersifat earmarked (ditentukan penggunaannya) khusus untuk gaji, sehingga tidak bisa diutak-atik oleh Pemda untuk kebutuhan lain.

Menggaji guru dengan angka yang "jauh dari kata layak" bukan hanya penghinaan terhadap profesi, tapi juga pengkhianatan terhadap amanat mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bagaimana kita bisa menuntut kualitas pendidikan kelas dunia, jika pendidiknya masih bergulat dengan masalah perut dan kesejahteraan? [sh]

Guru boleh saja berstatus paruh waktu di atas kertas SK, namun pengabdian, beban mental, dan tanggung jawab administrasi mereka adalah paripurna. Sudah sepantasnya penghargaan yang mereka terima juga memanusiakan manusia. [sh]

Kisruh Ormas Madas dan Cermin Penegakan Hukum Kita

Kisruh Ormas Madas dan Cermin Penegakan Hukum Kita

Kisruh yang melibatkan organisasi masyarakat (ormas) Madas (Madura Asli) di Surabaya belakangan ini menyita perhatian publik nasional. Media sosial dipenuhi kecaman, ancaman, caci maki, dan lain sebagainya.

Pemicu kejadian adalah pengusiran seorang nenek dari rumah yang telah lama ia tempati, yang disinyalir dilakukan oknum yang dikaitkan dengan ormas tersebut.

Kasus ini dengan cepat menyebar luas di media sosial dan memunculkan gelombang empati sekaligus kemarahan dari masyarakat.

Di tengah derasnya opini publik, Ketua Ormas Madas membantah keras bahwa organisasinya terlibat dalam tindakan pengusiran paksa tersebut.

Menurutnya, Madas tidak memiliki anggota yang melakukan perbuatan seperti yang dituduhkan. Ia juga menegaskan bahwa persoalan tersebut murni konflik kepemilikan rumah, dimana sang nenek menempati rumah yang disebut-sebut telah dijual kepada pihak lain.

Dari sudut pandang ini, pengusiran tidak berdiri sebagai tindakan sewenang-wenang, melainkan konsekuensi dari sengketa kepemilikan.

Tapi, persoalan ini tidak sesederhana benar atau salah di atas kertas hukum. Fakta bahwa pihak pembeli memilih meminta bantuan pihak lain.

Menurut sang pembeli, menempuh jalur alternative itu karena proses hukum yang panjang, berbelit, dan membutuhkan biaya besar sering kali membuat masyarakat enggan menempuh jalur resmi.

Akibatnya, jalan pintas pun dipilih, meski berisiko menimbulkan konflik sosial dan pelanggaran rasa keadilan.

Di sinilah letak persoalan utamanya. Ketika hukum dianggap lamban dan mahal, ruang abu-abu terbuka lebar bagi praktik-praktik informal yang rawan disalahgunakan.

Kisruh ini sejatinya jadi bahan refleksi bersama: bagi aparat penegak hukum untuk memperbaiki kinerja dan akses keadilan, bagi ormas untuk menjaga marwah dan batas perannya di masyarakat, serta bagi warga untuk tidak mudah menghakimi sebelum fakta terungkap.

Tanpa pembenahan menyeluruh, konflik serupa hanya akan terus berulang, dengan korban yang hampir selalu adalah mereka yang paling lemah posisinya.

Pada akhirnya, keadilan sejati bukan hanya soal kepemilikan yang sah secara hukum, tetapi juga tentang bagaimana hukum ditegakkan dengan nurani dan rasa kemanusiaan. [sh]

Kisruh Ormas Madas Surabaya, Nenek Terusir dan Pertanyaan soal Posisi Komunitas Madura di Perantauan

Kisruh Ormas Madas Surabaya, Nenek Terusir dan Pertanyaan soal Posisi Komunitas Madura di Perantauan

Kerap terdengar di ruang-ruang diskusi publik: “Kenapa komunitas Madura yang ada di perantauan selalu mendapatkan serangan teror dari warga setempat?” 

Pertanyaan ini tentu tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari pengalaman sosial yang dirasakan oleh sebagian masyarakat Madura di berbagai daerah.

Faktanya, banyak orang Madura di perantauan hidup berdampingan secara baik dengan warga sekitar.

Mereka bekerja keras, membuka usaha, taat beribadah, dan ikut berkontribusi dalam kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggalnya.

Tapi ironisnya, keberhasilan ekonomi yang diraih lewat kerja keras itu justru kerap memantik kecemburuan sosial.

Tidak jarang muncul perilaku usil, intimidasi, hingga stigma negatif yang diarahkan kepada komunitas Madura.

Dalam konteks seperti ini, pembentukan ormas oleh komunitas Madura di perantauan seharusnya dipahami secara lebih jernih.

Bagi sebagian orang, ormas bukanlah alat untuk menebar ketakutan, melainkan ikhtiar kolektif untuk saling menjaga, memperkuat solidaritas, dan melindungi diri dari perlakuan tidak adil.

Ormas jadi ruang komunikasi, advokasi, dan penguatan identitas agar tidak mudah ditekan atau diperlakukan sewenang-wenang.

Jika ada oknum menyimpang, maka yang harus ditindak adalah oknumnya, bukan menggeneralisasi seluruh komunitas atau etnis tertentu.

Generalisasi semacam itulah yang justru memperlebar jurang prasangka dan konflik horizontal.

Karena itu, melihat keberadaan ormas Madura di perantauan semestinya tidak melulu dengan kacamata curiga.

Selama tujuannya adalah kebaikan, menjaga martabat, dan membangun harmoni sosial, keberadaan mereka justru bisa jadi bagian dari solusi, bukan sumber masalah.

Yang dibutuhkan bangsa ini bukan saling mencurigai, melainkan saling memahami dan menegakkan keadilan tanpa pandang asal-usul. [sh]

Minggu, 28 Desember 2025

Dua Darah Madura di Panggung Tiga Besar DA7 Indosiar: Hiburan, Prestasi, dan Oase di Tengah Hiruk-Pikuk Politik

Dua Darah Madura di Panggung Tiga Besar DA7 Indosiar Jakarta

Panggung Dangdut Akademi 7 (DA7) Indosiar bukan sekadar ajang adu vokal. Ia menjelma jadi ruang harapan, tempat mimpi-mimpi tumbuh dan kerja keras menemukan panggungnya.

Tahun ini, sorotan publik menguat ketika dua sosok berdarah Madura berhasil menembus babak tiga besar: April, duta Cirebon dengan garis ibu dari Sampang yang dinobatkan sebagai juara ketiga, serta Valen asal Pamekasan yang sukses menduduki peringkat kedua.

Capaian ini bukan hanya prestasi personal, melainkan kebanggaan kultural yang menegaskan daya saing talenta daerah di level nasional.

April dan Valen hadir dengan karakter vokal dan penampilan yang kuat. Mereka membawa identitas, ketekunan, dan konsistensi—tiga hal yang sering jadi penentu di panggung kompetisi.

April, dengan latar Cirebon dan akar Sampang, menunjukkan bagaimana keberagaman identitas justru memperkaya ekspresi seni.

Sementara Valen dari Pamekasan tampil solid, matang, dan berani, mengokohkan posisinya sebagai salah satu biduan terbaik musim ini.

Keduanya membuktikan bahwa bakat tidak mengenal batas geografis; yang dibutuhkan adalah kesempatan dan keberanian untuk melangkah.

Lebih dari itu, keberhasilan dua darah Madura ini memiliki makna sosial yang luas. Dangdut—musik rakyat—jadi medium yang mempersatukan. Di tengah perbedaan latar belakang penonton, DA7 menyatukan emosi: dukungan, kritik, dan apresiasi.

Persoalan Bangsa

Perhatian masyarakat Indonesia sejenak tercurah pada kontes vokal ini, memberi jeda dari kepenatan wacana publik yang kerap dipenuhi hiruk-pikuk panggung politik.

Tak bisa dimungkiri, publik kita belakangan sering dihadapkan pada isu-isu berat: persoalan korupsi yang tak kunjung berakhir, kegelisahan terhadap penegakan hukum yang belum memberi efek jera, serta rasa lelah kolektif menyaksikan drama politik yang berulang.

Dalam konteks ini, DA7 jadi semacam oase—hiburan yang mencairkan ketegangan, tanpa menutup mata dari realitas. Hiburan bukan pelarian kosong; ia adalah ruang bernapas agar masyarakat tetap waras dan optimistis.

Akhirnya, keberhasilan dua sosok berdarah Madura di DA7 Indosiar patut dirayakan. Ia adalah kabar baik dari panggung rakyat, bukti bahwa talenta daerah mampu bersinar dan menginspirasi.

Semoga euforia ini tidak hanya berhenti pada tepuk tangan, tetapi juga menyalakan harapan: bahwa kejujuran, kerja keras, dan ketegasan—baik di seni maupun hukum—bisa jadi arus utama.

Jika itu terwujud, maka hiburan dan keadilan tak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan demi Indonesia yang lebih baik. []

Kepala SDN Soddara 2 Manfaatkan Libur Panjang untuk Benahi Halaman Sekolah

sdn soddara 2 pasongsongan sumenep lakukan pelesterisasi
Bambang Sutrisno (tengah) turut serta bekerja. [sh]

SUMENEP — Kepala SDN Soddara 2 Kecamatan Pasongsongan, Bambang Sutrisno, S.Pd, memanfaatkan masa libur panjang sekolah tahun ini dengan melakukan pembenahan lingkungan sekolah.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah pelesterisasi halaman sekolah yang selama ini kerap becek saat musim hujan. Ahad (28/12/2025).

Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kenyamanan dan semangat belajar peserta didik.

Bambang Sutrisno menilai kondisi halaman sekolah yang berlumpur dan licin seringkali jadi kendala bagi siswa saat menuju ruang kelas, bahkan berpotensi membahayakan keselamatan mereka.

Dengan pelesterisasi halaman sekolah, ia berharap tercipta lingkungan belajar yang lebih bersih, aman, dan ramah bagi seluruh warga sekolah.

Menurutnya, sekolah yang nyaman tidak hanya ditentukan oleh ruang kelas, tetapi juga oleh lingkungan sekitar yang mendukung aktivitas belajar mengajar.

“Kenyamanan siswa adalah prioritas. Jika halaman sekolah becek, anak-anak jadi kurang bersemangat dan aktivitas belajar pun bisa terganggu,” ungkapnya.

Upaya pembenahan ini juga mencerminkan komitmen Kepala SDN Soddara 2 dalam menciptakan sekolah ramah anak.

Ia ingin memastikan bahwa peserta didik merasa senang dan aman berada di lingkungan sekolah, sehingga proses belajar dapat berjalan dengan optimal.[sh]

Sabtu, 27 Desember 2025

Sayyidi, S.Pd: Program Tahlil Bergilir Jadi Perekat Silaturahmi Pesantren dan Warga

Tahlil Bergilir Jadi Perekat Silaturahmi Pesantren dan Warga
Sayyidi, S.Pd [sh]

PAMEKASAN – Pondok Pesantren (Ponpes) Annidhamiyah yang berlokasi di Dusun Jeppon, Desa Bindang, Kecamatan Pasean, terus berinovasi dalam program keumatan. Pesantren ini resmi menjalankan program pembacaan Surah Yasin dan Tahlil yang dilaksanakan secara bergilir (safari) ke rumah-rumah santri.

Program ini dirancang sebagai bentuk pengabdian masyarakat sekaligus sarana pendidikan karakter bagi para santri agar terbiasa terjun langsung di tengah lingkungan sosial.

Kepala SMA Annidhamiyah, Sayyidi, S.Pd., menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif ini. Ia menilai program tersebut memiliki urgensi yang kuat dalam membangun jembatan komunikasi antara lembaga pendidikan dan orang tua siswa atau wali santri.

"Program ini sangat positif dan kami dukung penuh. Nilai utamanya adalah silaturahmi, di mana pihak pesantren bisa bertatap muka langsung dengan keluarga santri di kediaman mereka, sehingga hubungan emosional semakin erat," ungkap Sayyidi.

Lebih jauh, Sayyidi menjelaskan bahwa kegiatan ini juga membawa misi spiritual yang mulia. Kehadiran para santri bukan hanya sekadar berkunjung, melainkan membawa doa bagi keluarga tuan rumah.

"Di samping aspek silaturahmi, ada nilai ibadah yang kental. Keluarga tuan rumah, khususnya para leluhur yang telah meninggal dunia, didoakan secara khusus oleh para santri dan asatidz melalui pembacaan Yasin dan tahlil ini," jelasnya.

Pihak sekolah dan pesantren berharap, melalui kegiatan rutin ini, keberadaan Ponpes Annidhamiyah semakin memberikan kemanfaatan yang nyata, baik dari segi pendidikan maupun spiritualitas bagi masyarakat di sekitarnya. [sh]

Pererat Ukhuwah, Ponpes Annidhamiyah Luncurkan Program Yasin dan Tahlil Bergilir ke Rumah Santri

mengaji surah yasin dan tahlil di pondok pesantren annidhamiyah pamekasan
Fatillah Alfi Maghfirah (2 dari kiri) bersama keluarga. [sh]

PAMEKASAN – Pondok Pesantren (Ponpes) Annidhamiyah yang berlokasi di Dusun Jeppon, Desa Bindang, Kecamatan Pasean, membuat terobosan baru dalam kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.

Ponpes ini meluncurkan program pembacaan Surah Yasin dan Tahlil yang dilaksanakan secara bergilir ke rumah-rumah santri.

Program ini tidak hanya bertujuan untuk melatih kemampuan santri dalam memimpin doa di tengah masyarakat, tapi juga sebagai sarana strategis untuk mempererat hubungan antara pihak pesantren dengan keluarga besar santri.

Fatillah Alfi Maghfirah, salah satu santriwati Ponpes Annidhamiyah, menyambut positif kehadiran program baru ini.

Menurutnya, kegiatan ini memiliki nilai sosial dan spiritual yang sangat tinggi bagi para santri maupun keluarga yang dikunjungi.

"Tentu program ini sangat baik, karena utamanya bisa menjadi ajang bersilaturahmi secara langsung kepada keluarga santri di rumah mereka masing-masing," ujar Fatillah saat diwawancarai di Ponpes Annidhamiyah.

Lebih lanjut, Fatillah menjelaskan bahwa manfaat program ini juga dirasakan langsung oleh pihak tuan rumah. Kedatangan para santri untuk melantunkan ayat suci Al-Qur'an dan kalimat thayyibah jadi doa khusus bagi para leluhur keluarga tersebut.

"Di samping silaturahmi, keluarga tuan rumah yang telah meninggal dunia juga didoakan secara khusus melalui tahlil bersama ini. Jadi, manfaatnya dirasakan dunia dan akhirat," tambahnya.

Melalui kegiatan "jemput bola" semacam ini, Ponpes Annidhamiyah berharap keberadaan pesantren tidak hanya dirasakan sebagai lembaga pendidikan formal semata, melainkan juga sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat sekitar, khususnya di wilayah sekitar Ponpes Annidhamiyah. [sh]

Jurnal Pembelajaran PPG 2025: Pembelajaran Mendalam dan Asesmen, Topik 2 Pembelajaran Berdiferensiasi

pembelajaran ppg berdiferensiasi
Siswa-siswi SDN Padangdangan 2 Pasongsongan Sumenep.[sh]

Jurnal PPG 2025: Pembelajaran Emosional, Topik 2 Peran Guru Sebagai Teladan

Jurnal Pembelajaran Sosial Emosional
Siswa-siswi SDN Padangdangan 2 Kecamatan Pasongsongan Sumenep. [sh]

Yayasan Pondok Pesantren Annidhamiyah Gelar Penyerahan Rapor Semester Ganjil

Fatillah Alfi Maghfirah (kiri) menerima penghargaan sebagai siswa terbaik ketiga. [sh]

PAMEKASAN – Yayasan Pondok Pesantren Annidhamiyah yang berlokasi di Dusun Jeppon, Desa Bindang, Kecamatan Pasean, menggelar kegiatan penyerahan rapor semester ganjil pada pagi hari ini. Sabtu (27/12/2025). 

Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh santri dan siswa dari berbagai jenjang pendidikan yang berada di bawah naungan yayasan.

Yayasan Pondok Pesantren Annidhamiyah menaungi jenjang pendidikan formal mulai dari tingkat RA, MI, SMP hingga SMA, serta pendidikan diniyah yang dilaksanakan pada sore hari. 

Penyerahan rapor sekaligus pengumuman peringkat kelas pada masing-masing jenjang pendidikan ini dipusatkan di musholla setempat.

Kegiatan berlangsung dengan tertib dan khidmat, disaksikan oleh para dewan guru. 

Selain sebagai agenda rutin akademik, penyerahan rapor ini juga menjadi momentum evaluasi hasil belajar siswa selama satu semester serta motivasi untuk meningkatkan prestasi di semester berikutnya.

Salah satu siswa berprestasi, Fatillah Alfi Maghfirah, siswi kelas 1 SMA yang berhasil meraih peringkat ketiga, mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian tersebut.

“Saya sangat senang bisa bertahan dalam tiga besar siswa terbaik. Ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus belajar lebih giat ke depannya,” ujar Tila panggian akrabnya..

Pihak yayasan berharap melalui kegiatan ini, para siswa bisa terus meningkatkan semangat belajar, baik dalam pendidikan formal maupun pendidikan diniyah, sehingga mampu mencetak generasi yang berilmu dan berakhlak mulia. [sh]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...