Kecamatan
Pasongsongan berada di ujung barat-utara Kabupaten Sumenep. Sisi barat
berbatasan dengan Pasean-Pamekasan. Pasongsongan terkenal sebagai penghasil
ikan terbesar di Madura. Dari pertanian, daerah ini juga menghasilkan tembakau
berkualitas terbaik.
Dua
potensi Pasongsongan ini tidak menjadikan surga berbelanja bagi sebagian besar
warganya. Seperti tidak adanya apotek. Warga Pasongsongan berbelanja obat di
kecamatan lain. Semestinya kebutuhan dasar kesehatan masyarakat ini ada.
Orang
kaya di Pasongsongan bukannya tidak ada. Tapi mereka saat sekarang sedang “tidur”
pulas. Tak punya inspirasi bagaimana bisa mengembangkan daerahnya.[]
Kematiannya
meninggalkan luka mendalam di hatiku. Tercecer berjuta kenangan manis diantara
perjalanan usia. Begitu dahsat merubah peta hasratku, hingga lama kiblat tujuan
hilang tanpa bekas.
Sekian
lama terkurung sunyi. Terus saja aku menyibukkan diri pada kegiatan
kemanusiaan. Namun tetap saja bayangan indah bersamanya mengapuri ruang gerak
mataku. Aku berontak sekuat tenaga, melepaskan diri dari ikatan kenangan.
Baru
berhenti siksa setelah kudapatkan penggantinya. Dari suatu seminar budaya
kutemukan paras ayu menggoda. Awal berkenalan kami saling jatuh hati.[]
Sumenep –Pusat Therapy Ramuan Banyu Urip International
Yogyakarta, besok (Ahad, 28/11/2021) akan menggelar Bakti Sosial (Baksos) di
Saronggi-Sumenep.
Baksos
Therapy Banyu Urip kali ini bekerjasama dengan Pimpinan Anak Cabang Ikatan
Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep. Acara
beramal ini akan dilaksanakan di aula Kantor MWC NU Saronggi.
“Kami
bersama tim terapis dari Yogyakarta dan Pusat Therapy Banyu Urip Madura yang
berjumlah 17 orang sudah ada di Pasongsongan-Sumenep. Baksos kali ini akan
menjadi yang terbesar di Madura, seiiring banyaknya pasien dengan berbagai
keluhan penyakit yang sudah mendaftarkan diri,” terang CEO Therapy Banyu Urip
International, MS Arifin.
Lebih
jauh MS Arifin menerangkan, bahwa Baksos terbuka untuk umum. Bahkan ada
beberapa pasien dari Pamekasan dan Sampang jauh hari sudah mendaftarkan diri.
“Tim
terapis kami semuanya profesional, dipercaya oleh masyarakat international, dan
semuanya sudah bersertifikat. Tim terapis Banyu Urip kami sebagian besar dari
eks TNI,” tandas pensiunan Polisi Militer ini begitu meniscaya. (Yant Kaiy)
Dia
tidak tampan. Anak buruh pabrik. Sikapnya pendiam. Penampilannya biasa-biasa
saja. Tidak pernah muluk-muluk mengimpikan sesuatu. Jalan hidupnya mengalir.
Dia telah mengajarkan banyak tentang hakikat cinta terhadapku. Ketika di kampus
kami sering bersama. Dia tidak sekalipun melontarkan kata cinta. Meski dari
sinar matanya menguraikan ketertarikannya.
Kemudian
kami berpisah; aku melanjutkan pendidikan keluar negeri dan mendapatkan jodoh
bule hingga punya anak. Pulang ke tanah air menjadi desainer para artis. Aku
menakhodai sebuah acara di stasiun televisi swasta, penggemarku banyak.
Kesuksesanku
kandas. Suamiku selingkuh. Kami bercerai. Disaat kesepian, entah kenapa
pikiranku teringat dia. Aku pergi ke rumahnya. Kata istrinya, dia sudah
meninggal dunia.[]
Isu
yang beredar dari pemungutan suara langsung Pilkades (Pemilihan Kepala Desa) di
Kabupaten Sumenep, 25 Nopember 2021 kemarin, ternyata faktor penentu kuat kemenangan
diperoleh dari money politic. Semakin besar angpao yang diberikan calon Kades
terhadap pemilih, kans jadi kampiun terbuka lebar.
Transaksi
tersembunyi lewat mediator bukan hal tabu. Biasanya kandidat menakar kemampuan rupiah
pihak lawan. Tim sukses calon kemudian menentukan harga per satu suara.
Yang
membuat pusing tim sukses calon Kades, umumnya pemilih “berselingkuh”. Pemilih
mau menerima uang suap dari semua calon Kades.
Ada
pula tim sukses yang bertaruh meninggikan suara kandidatnya sendiri. Apabila menang,
sebagian hasil judinya untuk menyokong anggaran belanja sang calon.
Mencermati
realita ini, ajang Pilkades boleh dibilang penuh intrik dan siasat licik. Tidak
affair. Endingnya, Kades terpilih berpikir ulang supaya balik modal. Tidak
sepenuhnya memikirkan kepentingan warganya.[]
Pemilihan
Kepala Desa (Pilkades) di Kota Keris Sumenep, kemarin telah selesai dihelat.
Kamis (25/11/2021). Suka-duka pun menghiasi proses pemungutan suara secara
langsung tersebut. Bahkan perang mental jauh hari sebelumnya sudah dimulai.
Tahapan demi tahapan yang melibatkan warga masyarakat desa menguras energi,
waktu dan biaya tidak sedikit.
Nuansa
pemilihan apa pun dibeberapa pelosok negeri ini mulai meninggalkan hakikat
mendapatkan pemimpin berkualitas. Bukan rahasia umum, bahwa money politic menjadi
urgen bagi seorang kandidat supaya bisa melenggang ke singgasana kekuasaan. Kalau
tidak mempersembahkan angpao bisa dipastikan sang kompetitor akan terjungkal.
Entah
kenapa hal ini menjadi tabu dibicarakan oleh pemangku kebijakan. Padahal
mafsadat dari Pilkades lebih besar ketimbang maslahatnya.[]
Dua
agenda penting bersamaan terjadi di Kota Keris Sumenep, yakni Hari Guru
Nasional (HGN) dan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak. Kamis
(25/11/2021).
Yang
pasti, HGN diperingati oleh seluruh lapisan masyarakat di pelosok nusantara
setiap tahun. Salah satu tujuan dari peringatan ini, menghargai pengorbanan dan
jasa para guru yang memiliki andil besar dalam mencerdaskan kehidupan anak
bangsa.
Sedangkan
Pilkades mencari pemimpin baru bagi desa. Skalanya sebatas di Sumenep, bukan
nasional. Kita tahu, namanya kompetisi apa pun, pasti ada kalah-menang.
Kelompok kalah jelas berduka. Sedang bagi tim juara akan bergembira-ria. So
pasti masyarakat larut pada pesta demokrasi tersebut.
Kalau
kita takar, peringatan HGN tahun ini tersaput perhelatan Pilkades. Apalagi
Pilkades Sumenep sebelumnya pernah mengalami penundaan.
Suka
tidak suka, jika ditelisik lebih dalam, Pilkades Sumenep sesungguhnya telah
mengurangi esensi peringatan HGB. Entah, ini disengaja atau tidak. Wallahu
a’lam bishawab.[]
Sontak
dendamku mencair demi melihatnya tak bisa berbuat apa-apa lagi. Pilu berbaur
iba menyapu bersih butir-butir congkak. Inilah hakikat hidup. Kemenangan hanya
sesaat menghinggapi langkah diri. Aku tak bisa melontarkan kata-kata di
hadapannya.
Diatas
kursi roda ia didorong oleh anak perempuannya menuju acara bakti sosial:
Pengobatan tradisional gratis. Ia menyapaku begitu lirih. Hampir tak terdengar.
Tangannya tak bisa digerakkan. Dulu ia sering menggendongku.
Setelah
basa-basi sebentar, aku segera meninggalkan mereka. Dari ujung mata dapat
kutangkap, bahwa ia ingin berbicara banyak.[]
Jodoh,
Tuhan yang menentukan. Aku dan dia gagal menikah karena persoalan Pilkades
(Pemilihan Kepala Desa). Ayah menang atas bapaknya. Periode selanjutnya, Ayah
dikalahkan oleh dia. Sekarang aku yang bertarung dan dia yang terjungkal.
Kuberjanji
dalam hati, pada Pilkades yang akan datang, kuingin menghentikan permusuhan ini.
Kami menggiring massa, mengompori mereka sedemikian rupa untuk membenci kubu
dia. Segala cara kami tempuh demi satu tujuan: Kemenangan.
Politik
uang terbungkus bantuan sudah menjadi tradisi dalam pemilihan apa pun. Demi sepotong
gengsi, apa pun dilakukan.[]
Hampir
satu bulan terombang-ambing di tengah lautan lepas. Aku bersama lima orang
perempuan dan tiga laki-laki dewasa dalam satu perahu. Terpaksa kami melarikan
diri dari kampung halaman karena ada konflik berdarah. Suami dan kedua anakku
tewas. Kedua orang tuaku dan semua orang di desaku dibantai habis. Sedangkan
satu anakku yang selamat masih berusia tujuh bulan
Beruntung
kami membawa bekal makanan ala kadarnya. Memancing ikan tiap hari supaya bekal
tidak cepat habis. Kami berlayar meninggalkan negeri tercinta sejauh mungkin.
Hari demi hari mulai tumbuh harapan hidup di negeri orang.
Siang-malam
kami memanjatkan doa pada Tuhan agar jiwa kami diselamatkan dari maut. Dia Maha
Mendengar permohonan hamba-Nya. Perahu kami mendekat pada sebuah pulau.[]
Harus
hati-hati bagi pengemudi kendaraan bermotor ketika melintas di jalan Lapangan
Sawungggaling Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Persoalannya ada
kabel listrik PLN lepas dari tiangnya hampir menyentuh tanah. Selasa
(23/11/2021).
Pukul
06.00 WIB ketika saya berangkat kerja, melintas di jalan itu, kabel listrik
berisolasi untuk rumah tangga oleh masyarakat sekitar diberi rambu lalu lintas
berupa plastik bungkus pupuk dan tong plastik. Saat pulang kerja (pukul 11. 00
WIB), saya melintas di jalan itu lagi, ternyata kabel PLN masih belum
dinaikkan.
Banyak
pihak berharap kepada PLN supaya dimusim hujan ini lebih tanggap terhadap
laporan masyarakat. Sigap beraction demi keselamatan jiwa manusia.[]
Masyarakat
petani disebagian besar Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep sedang
menjerit kecewa kepada pemerintah. Disaat musim tanam 2021 kali ini mereka
kesulitan mendapatkan pupuk anorganik. Seperti pupuk jenis Urea dan ZA.
Para
petani berupaya keras mencari kebeberapa kios pupuk. Tapi stock tidak ada. Mereka
pun membeli ke daerah lain dengan harga meroket; diatas Harga Eceran Tertinggi
(HET). Sungguh sangat menyedihkan.
Kisah
pilu ini selalu terulang setiap tahun pada musim tanam. Solusi brilian dinas
pemangku kebijakan hanya di atas laporan tertulis. Tidak sesuai fakta di
lapangan.
Semua
orang tahu kalau petani merupakan garda terdepan dari ketahanan pangan suatu
bangsa. Tapi penguasa negeri ini seolah tidak punya atensi terhadap persoalan
pupuk. Atau mereka pura-pura lupa.
Masyarakat
dibanyak pelosok desa berharap pemerintah lebih fokus pada persoalan pupuk. Supaya
kisah sedih tidak terulang lagi di tahun depan. Barangkali jalan keluarnya
dengan membentuk Menteri Pupuk Indonesia.[]
Diatas
kertas dan siaran pers di berbagai media, kebijakan pemerintah selalu pro
rakyat. Pesan moral penguasa terdengar merdu menyejukkan kalbu. Namun
realitanya jauh panggang dari api. Impian tak seindah kenyataan. Ini fakta yang
membuat luka seluruh lapisan masyarakat.
Sikap
pembenaran diri penguasa dengan meng-caunter protes warga acapkali terjadi. Mereka
bermanis-manis muka dengan busana perlente di depan publik. Sikap tidak
bersalah, melindungi kelompoknya, berpihak pada yang berkantong tebal seringkali
mengiringi pengambilan keputusan krusial.
Setiap
pergantian pemimpin baru, penduduk negeri ini mengimpikan suatu perubahan lebih
baik. Mahfum, bumi nusantara yang kita diami kaya akan sumber daya alam. Tapi
masyarakatnya miskin alias tidak sejahtera. Ini jelas menjadi preseden buruk.
Mengikis kepercayaan rakyat terhadap penguasa.
Bukankah
di negeri gemah ripah loh jinawi ini
dihuni banyak negarawan kaliber international: Pakar Ilmu tata negara. Tidak
bisakah mereka membuat pernik-pernik perubahan demi bangsa dan negara yang
sedang “sakit” ini.[]
Selalu,
aku dilibatkan dalam urusan keluarganya. Dari persoalan paling terkecil hingga
permasalahan Istrinya. Aku acapkali tidak enak hati mendengarnya. Memang aku
menjadi pendengar yang baik tatkala dia bercerita. Aku tak pernah mengguruinya.
Bagiku curahan isi hatinya tidak penting karena dia sendiri plintat-plintut.
Disore
berawan dia pamit. Di sedannya penuh kardus, berisi barang-barang pribadinya.
Aku mencegah dia hengkang dari anak-istrinya. Kali ini dia serius, mau pisah.
Kalimatku tak digubrisnya.
Tiga
bulan lebih dia resmi bercerai. Segala kebutuhan anaknya tetap jadi
tanggungannya. Aku yang selalu mengantarkan pemberian dia. Entah kenapa
istrinya juga bercerita apa saja tentang dia. Lagi-lagi aku jadi pendengar setia.
Sampai suatu waktu aku tidur di rumahnya karena dia sakit. Janda muda itu
memintaku untuk merawatnya.[]