Jurnal PPG 2025: Pembelajaran Mendalam dan Asesmen, Topik 2 "Pembelajaran Berdiferensiasi"

Jurnal PPG 2025: Pembelajaran Mendalam, Topik "Pembelajaran Mendalam"

 1. Latar Belakang

Belajar merupakan sebuah proses evolusi dinamis yang melibatkan berbagai pihak, sehingga menuntut guru profesional untuk menguasai pembelajaran berdiferensiasi. Pendekatan ini jadi sangat esensial karena mengakui keunikan setiap siswa, baik dari segi gaya belajar, minat, maupun kemampuan mereka. Dalam praktiknya, diferensiasi mengharuskan pendidik untuk meninggalkan metode pengajaran yang seragam dan beralih pada penyesuaian materi, aktivitas, serta penilaian yang spesifik. Dengan demikian, kebutuhan belajar individu bisa terpenuhi secara optimal melalui strategi yang selaras dengan karakteristik masing-masing siswa.

2. Pengertian Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan pedagogis yang secara sadar menyesuaikan konten, proses, dan produk belajar berdasarkan kebutuhan, minat, serta profil peserta didik. Sejalan dengan pandangan Carol Ann Tomlinson, pendekatan ini didefinisikan sebagai ikhtiar melahirkan kesesuaian antara kebutuhan belajar siswa dengan cara guru mengajar, dengan tujuan utama memastikan setiap individu bisa belajar optimal sesuai kemampuannya. Dalam pelaksanaannya, pembelajaran ini tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga menuntut guru untuk secara berkelanjutan meninjau efektivitas strategi yang diterapkan guna mengakomodasi keberagaman siswa di dalam kelas.

3. Komponen Pembelajaran Berdiferensiasi 

a. Diferensiasi Konten:

Strategi ini menyesuaikan materi, kegiatan, dan hasil belajar dengan kemampuan, minat dan kebutuhan siswa serta berfokus pada bagaimana materi pembelajaran disajikan kepada siswa. Dalam diferensiasi konten, guru mengubah materi pelajaran agar sesuai dengan tingkat pemahaman, minat, dan gaya belajar siswa. Ini dapat mencakup menyediakan materi tambahan, memodifikasi tingkat kesulitan, atau menggunakan sumber daya yang berbeda sesuai dengan kebutuhan siswa.

Cara penerapannya : Menyajikan materi dalam berbagai bentuk, seperti teks, gambar, video, atau simulasi, untuk memenuhi preferensi belajar siswa.

 Penerapan diferensiasi konten bertujuan untuk:

- Memastikan setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk sukses dalam pembelajaran.

- Membantu siswa berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki masing- masing siswa.

- Menciptakan materi, kegiatan dan hasil belajar yang lebih relavan bagi siswa.

 

b. Diferensiasi Proses:

Salah satu bentuk pembelajaran berdiferensiasi yang diterapkan dengan cara membedakan cara guru menyampaikan materi atau intruksi kepada siswa. Dalam diferensiasi proses berkaitan dengan bagaimana cara guru membelajarkan dan membimbing siswa dan guru juga dapat menggunakan strategi pembelajaran yang beragam agar sesuai dengan gaya belajar dan kebutuhan belajar siswa. Tujuan utamanya adalah memfasilitasi setiap siswa untuk dapat melakukan aktivitas belajar yang sesuai dengan kebutuhan belajar, sehingga proses tersebut dapat membangun pemahaman yang mendalam terhadap materi yang diajarkan.

Cara penerapannya : Memberikan berbagai pilihan aktivitas pembelajaran, seperti proyek individu, kelompok, atau pembelajaran berbasis masalah.

C. Diferensiasi Produk:

Variasi hasil tugas pembelajaran dan penilaian produk atau hasil belajar siswa. Tugas dan penilaian untuk masing-masing siswa dibuat beragam namun masih tetap mengacu pada tujuan pembelajaran yang sama.

Diferensiasi produk mencakup bagaimana siswa menunjukkan pemahaman mereka terhadap materi yang telah diajarkan. Dalam diferensiasi produk, guru memberikan pilihan kepada siswa untuk mengekspresikan pemahaman mereka melalui berbagai produk atau karya. Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk menunjukkan pemahaman mereka dengan cara yang sesuai dengan kekuatan dan preferensi mereka.

Cara penerapannya: Memungkinkan siswa untuk menunjukkan pemahaman mereka melalui berbagai cara, seperti presentasi,laporan tertulis,atau karya seni.

Manfaat Pembelajaran Berdiferensiasi

1. Meningkatkan prestasi siswa:

Dengan pembelajaran yang lebih efektif, siswa dapat mencapai hasil belajar yang lebih maksimal.

2. Meningkatkan pemahaman konsep

Dengan menggunakan berbagai metode dan strategi pembelajaran, guru dapat memastikan pemahaman konsep yang lebih mendalam.

3. Keterlibatan siswa

Dengan mempertimbangkan gaya belajar dan minat siswa sehingga siswa dapat mengeksplorasi konsep-konsep dengan cara yang sesuai.

4. Mengembangkan keterampilan

Siswa akan mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikasi.

5. Menciptakan suasanabelajar yang positif

Pembelajaran  berdiferensiasi dapat  menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

4. PRINSIP PEMBELAJARAN BERDIFRENSIASI

1. Guru memahami kebutuhan belajar peserta didik

2. Guru merespon perbedaan peserta didik

3. Guru menggunakan berbagai metode pembelajaran

4. Guru menyesuaikan proses pembelajaran

5. Semua peserta didik berpartisipasi aktif

6. Guru dan peserta didik berkolaborasi dalam proses pembelajaran

7. Guru menerapkan diskusi kelompok

5. Aksi Nyata

MODUL 1 TOPIK 2

1.    Ide apa yang Bapak Ibu Guru dapatkan setelah belajar topik berdiferensiasi?

·         Merancang pembelajaran dan memahami terlebih dahulu keberagaman siswa, seperti gaya belajar, minat, dan kesiapan belajar.

·         Melakukan pemetaan awal untuk mengetahui potensi siswa.

·         Menyusun rencana pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa baik dari segi konten, proses, maupun produk yang dihasilkan

·         Melakukan refleksi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran

2.    Menurut Bapak/Ibu Guru pembelajaran berdifrensiasi seperti apa apa yang relevan untuk dikembangkan di sekolahBapak/Ibu Guru? Kembangkan rencana pembelajaran RPP atau Modul yang berorentasi pada pembelajaran berdifrensiasi .Pembelajaran berdifrensiasi merupakan pembelajaran yang memahami bahwa setiap siswa memiliki karekteristik dan kebutuhan yang berbeda. Pembelajaran yang mengedepankan pemenuhankebutuhan belajar siswa ini cocok dikembangkan disekolah saya. Dalam pembelajaran berdifrensiasi tahap awal yaitu dengan melakukan asesmen awal pembelajaran untuk mengetahui minat siswa. Dari hasil asesmen tersebut kita dapat melakukan perencanaan terkait dengan pembelajaran seperti apa yang bisa kita terapkan. Penggunaan media pembelajaran dengan menampilkan gambar dan video melalui proyektor dan kegiatan diskusi kelompok maka pembelajaran berdifrensiasi yang relevan untuk dikembangkan di sekolah saya yaitu difrensiasi konten, proses dan produk. 

6. Refleksi

       Melaksanakan tugas aksi nyata dalam program pendidikan ini ternyata memberikan dampak yang jauh lebih mendalam daripada sekadar penyelesaian kewajiban administratif. Bagi saya, ini adalah sebuah perjalanan evolusi diri. Pengalaman ini membuka mata saya bahwa pembelajaran yang efektif tidak semata-mata bergantung pada kecanggihan metode atau teknologi yang digunakan, melainkan berakar pada kemampuan fundamental guru dalam memahami kebutuhan, minat, dan kesiapan belajar (readiness) setiap peserta didik.

       Pelajaran terbesar yang saya petik adalah tentang keberagaman. Saya menyaksikan sendiri bahwa setiap siswa adalah individu unik dengan karakteristik belajar yang berbeda. Ketika saya mulai berani meninggalkan pendekatan "satu ukuran untuk semua" dan beralih ke pembelajaran yang fleksibel serta responsif, dampaknya sangat luar biasa.

       Saya melihat perubahan nyata di ruang kelas: tingkat partisipasi meningkat drastis dan motivasi belajar siswa tumbuh subur. Siswa yang sebelumnya pasif menjadi lebih berani bertanya dan terlibat dalam diskusi. Ketika mereka diberi kebebasan memilih aktivitas sesuai preferensi mereka, pemahaman konsep yang mereka tunjukkan justru menjadi lebih tajam dan mendalam.

       Lebih jauh lagi, aksi nyata ini menguatkan pemahaman saya tentang prinsip pembelajaran mendalam yang mencakup tiga elemen: berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

       Tentu saja, perjalanan ini tidak sunyi dari hambatan. Merancang pembelajaran berdiferensiasi yang mengakomodasi beragam kebutuhan siswa menuntut investasi waktu dan energi ekstra. Tidak jarang rencana yang disusun matang harus diubah di tengah jalan karena situasi di lapangan berbeda. Namun, saya menyadari bahwa tantangan-tantangan inilah yang menempa saya menjadi pendidik yang lebih adaptif dan reflektif. Kegagalan kecil dalam rencana justru menjadi ruang belajar untuk perbaikan di hari esok.

       Pasca pelaksanaan aksi nyata ini, saya merasakan pergeseran paradigma yang signifikan. Saya kini memandang proses belajar-mengajar bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan upaya menciptakan ekosistem yang memungkinkan setiap benih potensi siswa berkembang. Saya menjadi lebih peka, lebih kreatif, dan yang terpenting, lebih percaya diri dalam menerapkan pendekatan student-centered.

       Pengalaman ini bukanlah garis finis, melainkan titik awal. Saya bertekad untuk terus mengevaluasi dan merefleksikan praktik pengajaran saya secara berkelanjutan. Aksi nyata ini adalah langkah pertama saya menuju cita-cita pendidikan yang lebih humanis, inklusif, dan bermakna bagi seluruh anak bangsa. [sh]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Soa-soal Bahasa Madura Kelas III

Soal-soal Bahasa Madura Kelas IV SD

Hairus Samad Kenang Sosok Ustadz Patmo: Ulama Muda Berpandangan Jauh ke Depan

Soal dan Kunci Jawaban Bahasa Madura PAS Kelas IV SD

Cabang Therapy Banyu Urip Pasuruan Layani Pasien Setiap Hari, Sediakan Pengobatan Gratis di Hari Ahad

Perjalanan Cinta Akhmad Faruk Mirip Sinetron, Berujung di Pelaminan untuk Kedua Kalinya

Jurnal Pembelajaran Mendalam dan Asesmen 2.0 (Umum) dengan Topik Pendekatan Understanding by Design dalam Perencanaan Pembelajaran

Soal dan Kunci Jawaban Bahasa Madura Kelas 3 SD di Sumenep

Mitos Uang Bernomer 999

Sempat Direvitalisasi, Kondisi Sumber Agung Pasongsongan Kembali Memprihatinkan