Dikasih Hati Minta Jantung: Noktah Sejarah Imigran Yaman dan Ulama Nusantara

Orang Yaman di Indonesia telah diberi hati, eh malah menikam dari belakang

Sejarah memang cerewet. Sejarah tidak akan berubah selama ada kehidupan di alam fana ini. 

Ia mencatat dengan rapi bahwa imigran Yaman didatangkan Belanda untuk ikut menopang roda penjajahan. 

Catatan hitam itu dibiarkan menguning. Menguap seiring waktu. Masyarakat Nusantara memilih lupa. Demi persaudaraan. Demi ukhuwah yang katanya suci.

Umat Islam di negeri ini membuka pintu lebar-lebar. Menyambut sebagai saudara. Menghormati sebagai tamu. 

Tidak bertanya asal-usul. Tidak mengungkit peran lama. Karena iman, bukan silsilah, yang mestinya jadi ukuran.

Kini, masalah muncul ketika keramahan disalahartikan. Dikasih hati, minta jantung. Tak sadar dirinya siapa.

Ulama Nusantara dianggap figuran. Darah dianggap lebih mulia dari karya. Seolah nasab bisa menggantikan akhlak. 

Endingnya, yang diagungkan justru bayangan, sementara yang bekerja nyata malah diremehkan. Pribumi dianggap sampah. [kay]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaji Rp300 Ribu di 2026: Potret Nasib Guru Honorer dan Nakes yang Terlupakan Negara

Terobosan Baru: Pusat Therapy Buta Warna Indonesia Beri Harapan Nyata Bagi Penderita Buta Warna

Ijazah Jokowi Tak Kunjung Ditunjukkan, Cinta Rakyat Berubah Jadi Kekecewaan