SDN di Sumenep: Inovasi "Sekolah Mandiri" atau Kursus Singkat Menjadi Ninja?

Sekolah tanpa penjaga? Wah, Sumenep lagi uji nyali nih? Cek sindiran pedas nan kocak soal nasib SDN yang makin "mandiri" (baca: terbengkalai).
penjaga sekolah di sebagian besar SDN di kabupaten Sumenep tidak ada

Selamat kepada Kabupaten Sumenep! Di tengah hiruk-pikuk digitalisasi dan wacana pendidikan 4.0, sekolah-sekolah dasar negeri kita tampaknya sedang melakukan eksperimen sosial yang sangat progresif: 

Sekolah tanpa penjaga. Siapa butuh tenaga kependidikan (tendik) atau penjaga sekolah jika kita bisa melatih murid dan guru menjadi manusia super yang serba bisa?

Kebersihan adalah Sebagian dari... Beban Kerja Guru

​Mengapa kita harus menggaji penjaga sekolah untuk menyapu halaman jika kita punya guru kelas yang tangannya sudah gatal ingin memegang sapu lidi setelah lelah mengajar matematika? 

Ini adalah efisiensi tingkat dewa. Guru-guru di Sumenep kini memiliki portofolio baru: Pendidik di jam 7 pagi, dan Cleaning Service Specialist di jam 2 siang. 

Bukankah ini yang dinamakan "Merdeka Belajar"? Merdeka dari kebersihan yang terjamin, maksudnya.

​Keamanan: Menguji Kejujuran Hantu dan Maling

​Tidak adanya penjaga sekolah di malam hari sebenarnya adalah strategi keamanan tingkat tinggi yang menggunakan jurus sakti. 

Dengan membiarkan sekolah kosong melompong tanpa penjaga, kita sedang menantang nyali para pencuri.

​"Ah, tidak mungkin tidak ada penjaga," pikir si maling. 

Mereka akan curiga ini adalah jebakan Batman, padahal ya memang karena tidak ada anggarannya saja. 

Lagi pula, kalau komputer sekolah hilang, itu bukan musibah, melainkan kesempatan bagi siswa untuk belajar berimajinasi tentang teknologi tanpa perlu melihat fisiknya. Sangat visioner!

​Kurikulum "Survive atau Tersapu"

​Kita harus melihat sisi positifnya bagi para siswa. Tanpa penjaga sekolah, siswa diajak untuk mempraktikkan teori evolusi Darwin secara langsung. 

Siapa yang paling tahan menghirup debu di pojok kelas, dialah yang terkuat. Siapa yang paling lihai melompati pagar sekolah yang tak terkunci tanpa ketahuan, dialah yang paling berbakat jadi atlet lompat jauh masa depan.

​Sebuah Solusi yang (Terlalu) Jenius

​Mungkin pemerintah daerah sedang menyiapkan kejutan besar. Mungkin mereka ingin mengubah SDN jadi sekolah militer. 

Datang sendiri, nyalakan lampu sendiri, sapu sendiri, dan kalau ada berkas administrasi yang berantakan karena tidak ada tenaga kependidikan, anggap saja itu sebagai dekorasi.

​Kita tidak perlu prihatin. Prihatin itu melelahkan. Lebih baik kita apresiasi ketangguhan para kepala sekolah yang merangkap jadi satpam, tukang kebun, sekaligus bagian administrasi. 

Bukankah jadi pesulap adalah cita-cita semua orang di era efisiensi ini?

​Mari kita tunggu sampai rumput di halaman sekolah setinggi harapan orang tua murid. 

Mungkin saat itulah kita baru tersadar bahwa sekolah butuh manusia untuk menjaganya, bukan sekadar doa dan keberuntungan. [kay]

LihatTutupKomentar
ApoyMadura_20260225_085139617
ApoyMadura_20260225_085139617
ApoyMadura_20260225_085139617
ApoyMadura_20260225_085139617