Ulama Kita "Kelas Dua"? Berhenti Mendewa-dewakan Gelar Luar Negeri!

Bongkar opini Buya Arrazy: Kenapa orang Arab harusnya ngaji ke RI? Buang mental babu intelektual! Masih zaman minder sama gelar impor? Klik & simak!

Salah satu hambatan terbesar bagi kemajuan intelektual Indonesia adalah penyakit psikologis kolektif. Yaitu sebuah perasaan bahwa segala sesuatu yang datang dari luar, terutama dari Timur Tengah, secara otomatis lebih suci dan lebih berilmu.

Masyarakat kita seringkali terjebak pada fetisisme gelar. Seorang lulusan luar negeri dengan kemampuan rata-rata seringkali lebih dihormati dan diberi panggung luas, ketimbang kiai kampung yang telah puluhan tahun mengabdi dan menguasai puluhan kitab turats secara mendalam. 

Fenomena ini menciptakan standar ganda, yakni Standar Impor: Dianggap pasti otoritatif karena "dekat dengan pusat bahasa asli". Sedangkan Standar Lokal: Sering dipandang skeptis atau dianggap sebagai "Islam pinggiran".

Mengakhiri Romantisme Buta terhadap Geografis

Kita harus mulai membedakan antara Geografis dan Substansi. 

Tanah Arab memang tempat lahirnya wahyu, tapi pemahaman dan pengembangan ilmu pengetahuan adalah milik siapa saja yang menekuninya. 

Menghormati keturunan Nabi atau menghargai tempat suci adalah kewajiban moral, tapi dalam urusan metodologi keilmuan, intelektualitas tidak mengenal paspor.

Mendewakan gelar luar negeri tanpa menyaring kualitasnya hanya akan menjadikan Indonesia sebagai pasar empuk bagi ideologi-ideologi yang sebenarnya tidak cocok dengan konteks sosiokultural kita. 

Jika kita terus-menerus merasa sebagai "kelas dua", maka selamanya kita akan menjadi objek dakwah, bukan subjek pembawa peradaban.

Menuju Kedaulatan Intelektual

Apa yang disuarakan oleh Buya Arrazy adalah sebuah ajakan untuk daulat ilmiah. Kita perlu melakukan dekolonisasi mental. 

Mengaji ke Yaman atau Mesir tentu tetap baik sebagai bentuk pertukaran budaya dan ilmu, namun tujuannya haruslah kolaborasi, bukan sekadar mencari legitimasi status sosial di tanah air.

Indonesia memiliki modal sosial dan keagamaan yang jauh lebih stabil dibandingkan banyak negara di Timur Tengah saat ini. 

Sudah saatnya kita berhenti merasa kecil di hadapan jubah dan aksen, dan mulai percaya bahwa dari rahim pesantren dan universitas kita, bisa lahir pemikiran yang mencerahkan dunia.

Poin Penutup

Kebesaran sebuah bangsa ditentukan oleh cara bangsa tersebut menghargai ulamanya sendiri. 

Jika kita masih menganggap "ulama lokal" sebagai pilihan kedua, jangan salahkan bangsa lain jika mereka memandang kita dengan cara yang sama. 

Saatnya membalik arus: biarkan dunia datang dan belajar bagaimana Islam dan kemanusiaan bisa hidup berdampingan dengan begitu mesra di Nusantara. [kay]

LihatTutupKomentar
ApoyMadura_20260225_085139617
ApoyMadura_20260225_085139617
ApoyMadura_20260225_085139617
ApoyMadura_20260225_085139617