Membaca "Lampu Merah" Islah Bahrawi: Sebuah Peringatan untuk Rezim Prabowo
Sungguh menggemparkan jagat maya. Pernyataan keras Islah Bahrawi di kanal YouTube Terus Terang Media menarik untuk disimak.
Dengan nada berapi-api—khas gaya bicaranya yang lugas—Islah melemparkan kritik tajam, menghujam langsung ke jantung pemerintahan Prabowo Subianto.
Pesannya jelas: Indonesia sedang tidak baik-baik saja, dan jika pemerintah terus menutup mata terhadap penderitaan rakyat, harga politiknya akan sangat mahal.
Retorika vs. Realita Perut Rakyat
Inti dari kegelisahan Islah berakar pada kontradiksi antara janji kesejahteraan dan kenyataan di lapangan.
Sejak bergantinya tampuk kepemimpinan, banyak kalangan menilai program-program yang digulirkan pemerintah cenderung bersifat elitis dan hanya menguntungkan segelintir pihak di lingkaran kekuasaan.
- Ekonomi Menghimpit: Islah menyoroti betapa sulitnya rakyat kecil mencari sesuap nasi di tengah kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada kaum marginal.
- Program Tanpa Dampak: Alih-alih mengangkat kemelaratan, program pemerintah dinilai hanya jadi pajangan statistik yang tidak menyentuh akar persoalan ekonomi rakyat jelata.
Jangan Bermimpi Dua Periode
Bagian paling pedas dari pernyataan Islah Bahrawi adalah peringatan langsung kepada Prabowo Subianto.
Kalimatnya menyebut agar Prabowo "jangan pernah bermimpi untuk terpilih lagi" bukan sekadar gertakan sambal, melainkan sebuah analisis berbasis kemarahan publik.
Dalam sejarah politik kita, legitimasi seorang pemimpin tidak hanya dibangun di atas baliho atau pidato retoris, melainkan di atas piring makan rakyat.
Ketika pemerintah dianggap lebih sibuk mengamankan posisi dan keuntungan internal ketimbang mengurus kemiskinan, maka kepercayaan publik (public trust) akan merosot ke titik nadir.
Saatnya Pemerintah "Terus Terang"
Kritik Islah Bahrawi seharusnya jadi cermin bagi kabinet saat ini.
Jika rezim ini terus berjalan dengan kacamata kuda, mengabaikan jeritan ekonomi di tingkat akar rumput, maka sentimen negatif ini akan membesar jadi bola salju yang tak terbendung.
Negara tidak boleh dikelola seperti perusahaan yang hanya mengejar profit bagi para pemegang saham (pejabat).
Negara harus kembali ke khitahnya: menjadi pelindung bagi mereka yang paling lemah. Memberi solusi tanpa pandang bulu.
Catatan Penutup
Peringatan Islah Bahrawi adalah pengingat bahwa kekuasaan itu fana, dan rakyat memiliki ingatan yang panjang soal perut mereka yang lapar.
Jika Prabowo ingin mencatatkan sejarah yang baik, langkah pertama adalah membuktikan bahwa pemerintah ada untuk rakyat, bukan sebaliknya. [kay]

