Sejarah Dicaplok Imigran Yaman? Kritik Pedas Klaim Nasab dan Diamnya Pemerintah

Pahlawan kita diklaim sepihak? Cek satir greget soal kisruh nasab pahlawan & kenapa pemerintah hobi bungkam. Yuk, jangan mau jadi tamu di rumah sendir

​Sungguh sebuah keajaiban silsilah. Patut dirayakan ketika tokoh-tokoh besar seperti Pangeran Diponegoro dan Tuanku Imam Bonjol tiba-tiba mendapatkan "update" keluarga secara sepihak. 

Berkat klaim nasab Ba 'Alawi yang belakangan riuh, kita seolah diajak percaya bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia adalah proyek keluarga besar dari luar sana. Bukan hasil keringat dan darah pribumi. 

Hebatnya lagi, bukti-bukti tertulis dan riset mendalam para sejarawan—termasuk suara lantang Prof. Anhar Gonggong yang dengan "tidak sopannya" membawa fakta di podcast Rhoma Irama—dianggap hanyalah angin lalu dibandingkan dengan validasi berbasis klaim sepihak. 

Rupanya, di negeri ini, sejarah bisa ditekuk-tekuk semudah melipat sorban, asalkan narasi yang dibawa cukup "suci" untuk tidak boleh dipertanyakan.

​Sementara itu, sikap Pemerintah Indonesia dalam menanggapi kegaduhan ini benar-benar patut diacungi jempol, atas kemampuannya untuk tetap diam seribu bahasa. 

Mungkin pemerintah sedang menerapkan filosofi "diam itu emas".  Hehe... Padahal sejarah pahlawan telah dikotori para imigran Yaman.

Atau barangkali mereka sedang terlalu sibuk mengurus hal-hal duniawi sehingga urusan nasab pahlawan dan klaim kuburan keramat dibiarkan menjadi komoditas pasar bebas. Duh!

Sangat menarik melihat bagaimana otoritas resmi membiarkan distorsi sejarah tumbuh subur. Seolah-olah menjaga keaslian identitas bangsa kalah penting dibanding menjaga perasaan para pengklaim. 

Jika dibiarkan terus, jangan kaget jika suatu saat nanti daftar pahlawan nasional kita akan berubah jadi daftar pohon silsilah yang akarnya entah berpijak di bumi mana.

​Fenomena ini pada akhirnya menciptakan ketidaknyamanan yang puitis: sebuah bangsa yang pahlawannya "diadopsi" secara paksa.

Sementara pemilik aslinya hanya bisa menonton. Kita dipaksa menyaksikan bagaimana makam-makam tua tiba-tiba berubah status kepemilikan sejarahnya lewat narasi yang sulit dinalar secara ilmiah. 

Lucunya, di tengah keriuhan klaim yang kian liar ini, kita justru diajarkan untuk jadi tamu di rumah sejarah kita sendiri. Mungkin memang lebih baik kita semua ikut diam saja, mengikuti teladan pemerintah, sambil menunggu klaim berikutnya.

Siapa tahu Gajah Mada dan Majapahit juga akan ditemukan memiliki hubungan kerabat dengan penguasa gurun pasir dari abad silam. [kay]

LihatTutupKomentar
ApoyMadura_20260225_085139617
ApoyMadura_20260225_085139617
ApoyMadura_20260225_085139617
ApoyMadura_20260225_085139617