Membalik Kiblat Keilmuan: Menakar Opini Buya Arrazy tentang Superioritas Ulama Nusantara

Stop minder! Cek opini tajam Buya Arrazy soal alasan orang Arab harusnya ngaji ke Indonesia. Saatnya hargai ulama lokal & buang mental kelas dua! ๐Ÿš€
sebuahpernyataan jujur tentag kiai nusantara

Pernyataan Buya Arrazy Hasyim yang menyebutkan bahwa seharusnya orang Arab dan Yaman-lah yang datang mengaji ke Indonesia—bukan sebaliknya—telah memicu diskursus baru di ruang publik. 

Selama berabad-abad, ada semacam "doktrin tak tertulis" bahwa legitimasi keilmuan Islam hanya sah jika bersumber dari Timur Tengah. 

Tapi, benarkah narasi "Ulama Kelas 2" bagi bangsa Indonesia itu masih relevan, atau justru sudah kadaluwarsa?

1. Indonesia: Raksasa Pendidikan Islam yang Terlupakan

Fakta yang disampaikan Buya Arrazy mengenai kuantitas lembaga pendidikan Islam di Indonesia bukanlah isapan jempol. 

Dengan ratusan ribu pesantren dan ribuan perguruan tinggi Islam, Indonesia memiliki ekosistem pendidikan Islam paling masif di dunia.

Secara metodologi, pesantren di Indonesia telah berhasil menggabungkan tradisi turats (kitab kuning) dengan nilai-nilai kebangsaan yang moderat (wasathiyah). 

Keberhasilan ini seharusnya menjadikan Indonesia sebagai laboratorium peradaban Islam dunia, bukan sekadar "murid" yang terus-menerus mengekor pada tradisi luar.

2. Membedah Sentimen "Ulama Kelas 2"

Buya Arrazy menyoroti adanya bias sejarah di mana imigran Arab seringkali menempatkan ulama lokal sebagai kelas dua. 

Secara historis, ulama-ulama Nusantara seperti Syekh Nawawi al-Bantani atau Syekh Yasin al-Fadani justru jadi guru besar di Masjidil Haram. 

Ini membuktikan bahwa kapasitas intelektual ulama kita tidak pernah di bawah bangsa manapun.

Sentimen "kelas dua" ini lebih bersifat sosiopolitik daripada ilmiah. Menggugat cara pandang ini adalah langkah berani untuk mengembalikan kepercayaan diri bangsa dalam kancah pemikiran Islam global.

3. Ekspor Metodologi: Mengapa Mereka Harus ke Sini?

Dunia Islam saat ini sedang dilanda krisis konflik dan radikalisme. Di sinilah keunggulan Indonesia:

- Harmoni dalam Keberagaman: Kemampuan ulama Indonesia menjaga kedamaian di tengah ribuan suku bangsa adalah ilmu yang tidak dimiliki oleh bangsa Arab yang cenderung homogen.

- Adaptasi Budaya: Islam Nusantara membuktikan bahwa agama bisa selaras dengan budaya tanpa kehilangan esensinya.

Jika orang Yaman atau Arab datang belajar ke Indonesia, mereka tidak hanya belajar teks, tapi juga belajar bagaimana mengelola kemajemukan secara praktis.

Kesimpulan:

Pernyataan Buya Arrazy bukanlah bentuk kebencian terhadap etnis tertentu, melainkan sebuah "alarm" kesadaran bagi bangsa Indonesia. 

Kita memiliki modal intelektual dan infrastruktur pendidikan yang luar biasa. Sudah saatnya Indonesia berhenti jadi konsumen ilmu dan mulai jadi eksportir peradaban ke tanah Arab. [kay]

LihatTutupKomentar
ApoyMadura_20260225_085139617
ApoyMadura_20260225_085139617
ApoyMadura_20260225_085139617
ApoyMadura_20260225_085139617