Skandal Oknum Habib Madura: Prof Menachem Ali Ajak Kiai Berani Bersuara
Sebuah pengakuan mengguncang nalar publik dalam podcast di kanal YouTube HERRI PRAS.
Prof. Menachem Ali mengungkap sebuah realita biadab di Madura: seorang suami tega menyerahkan istrinya kepada seorang oknum habib.
Alasannya sungguh menyesatkan—sang suami
diiming-imingi syafaat Nabi Muhammad SAW dan dijanjikan bahwa istrinya bakal melahirkan keturunan yang darahnya tersambung pada Rasulullah.
Ini bukan sekadar skandal
moral, melainkan bentuk penistaan agama dan kemanusiaan yang paling hina.
Menjual Nama Nabi untuk Syahwat
Syafaat Nabi Muhammad SAW adalah harapan setiap Muslim, tapi ia diraih melalui ketakwaan, bukan melalui transaksi perzinaan.
Menjanjikan "keturunan Rasul" melalui jalan
asusila adalah pelecehan terhadap kesucian nasab itu sendiri.
Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak dan memuliakan perempuan.
Maka, menggunakan nama
beliau untuk melegalkan perilaku predator adalah perbuatan yang bertentangan
180 derajat dengan ajaran Islam.
Seruan untuk Masyarakat dan Kiai Madura
Prof. Menachem Ali tidak sekadar bicara; beliau menyatakan siap bertanggung jawab dan menunjuk langsung oknum yang bersangkutan.
Beliau menitipkan pesan mendalam bagi masyarakat di Pulau
Garam:
1. Jangan Alergi pada
Kebenaran: Masyarakat Madura dikenal dengan ketaatannya pada ulama, tapi ketaatan tidak boleh jadi buta. Jangan takut untuk bersuara jika melihat
kebobrokan moral, meski pelakunya berlindung di balik jubah kesucian.
2. Pesan untuk Para Kiai: Para
kiai dan tokoh agama tidak boleh menutup mata. Diamnya otoritas agama terhadap
kasus hina ini hanya akan memberi ruang bagi predator lain untuk memangsa umat
yang kurang literasi.
Kesimpulan: Agama Bukan Alat Penindasan
Gelar nasab sepantasnya jadi beban moral untuk berakhlak mulia, bukan "kartu bebas dosa" guna berbuat biadab.
Saatnya masyarakat Madura bersuara lantang. Kesucian agama harus dijaga dari tangan-tangan oknum yang menjadikannya alat pemuas nafsu. [kay]

