Meluruskan Akidah: Belajar dari Keberanian Gus Aziz Jasuli
Keberanian Gus Aziz Jasuli membongkar narasi khurafat di sebagian kalangan imigran Yaman merupakan langkah krusial dalam menjaga kemurnian tauhid.
Sebagai seorang santri yang pernah menimba ilmu langsung di Tarim, Yaman, kesaksiannya memiliki bobot intelektual dan moral yang kuat.
Tindakan ini menunjukkan bahwa integritas terhadap dalil agama harus berada di atas fanatisme golongan atau romantisasi silsilah, terutama ketika muncul klaim-klaim yang tidak berdasar pada Al-Qur'an dan Sunnah.
Klaim-klaim berlebihan, seperti adanya nenek moyang yang mampu memadamkan api neraka, bukan sekadar cerita rakyat biasa, melainkan penyimpangan akidah yang serius.
Secara logika keimanan, narasi ini sangat kontradiktif dengan teladan Nabi Muhammad SAW.
Jika sosok semulia Rasulullah saja senantiasa memohon perlindungan Allah SWT dari siksa api neraka lewat doa-doanya, maka mengklaim ada manusia lain yang memiliki kontrol atas neraka.
Ini adalah dongeng. Ini adalah bentuk pengkultusan yang melampaui batas dan mencederai konsep kemuliaan Allah itu sendiri.
Pada akhirnya, fenomena ini jadi pengingat bagi umat Islam agar lebih kritis dalam menyerap ceramah atau kisah-kisah mistis yang dibalut jubah agama.
Menghormati keturunan ulama atau habib adalah bagian dari adab, namun adab tidak boleh membutakan kita dari kebenaran syariat.
Apa yang dilakukan Gus Aziz Jasuli adalah bentuk edukasi bahwa kecintaan pada guru atau garis keturunan harus tetap tegak lurus pada fondasi akidah yang benar, agar kita tidak terperosok dalam kesesatan yang dibungkus narasi-narasi khurafat. [kay]

