Menilik Narasi Nasab Habib dalam Dakwah KH Kholil Yasin Bangkalan
Pernyataan
KH Kholil Yasin di kanal YouTube MADURA TV NET mengenai kemuliaan imigran Yaman
bergelar 'Habib' memicu diskursus menarik mengenai hubungan antara nasab (garis
keturunan) dan derajat kemanusiaan dalam Islam.
Pandangannya
yang menyatakan bahwa keturunan Rasulullah SAW tetap memiliki kemuliaan mutlak,
bahkan terlepas dari kondisi keilmuan atau kondisi mental mereka.
Ini mencerminkan
penghormatan tradisional yang sangat dalam (takzim) terhadap keluarga Nabi.
Narasi
ini berakar pada keyakinan, bahwa mencintai keturunan Nabi adalah bagian dari
mencintai Nabi itu sendiri.
Ini
sebuah sentimen yang sangat kuat di kalangan masyarakat santri dan pengikut
paham tradisional.
Tapi,
pernyataan tersebut juga mengundang tantangan kritis di tengah dinamika sosial
yang mengedepankan nilai-nilai keadilan universal.
Banyak
pihak berpendapat bahwa kemuliaan dalam Islam tidak bersifat deterministik
berdasarkan darah semata, melainkan melalui ketakwaan sebagaimana ditegaskan
dalam Al-Qur'an.
Memberikan
hak istimewa atau pemakluman berlebih terhadap perilaku individu hanya
berdasarkan silsilah keluarga, tanpa mempertimbangkan aspek akhlak dan tanggung
jawab sosial, dikhawatirkan bisa menciptakan stratifikasi sosial yang kaku dan
berpotensi disalahgunakan untuk kepentingan tertentu.
Secara
keseluruhan, ceramah KH Kholil Yasin ini mempertegas adanya tarikan antara
pemuliaan terhadap simbol-simbol sejarah Islam dan tuntutan akan integritas
pribadi di masa modern.
Meskipun
penghormatan terhadap keturunan Rasulullah adalah bagian dari tradisi yang
luhur, diskursus ini jadi pengingat penting bagi umat untuk tetap
menyeimbangkan antara penghormatan nasab dengan prinsip bahwa setiap
individu—siapa pun latar belakangnya—bertanggung jawab atas perbuatannya
sendiri.
Ruang
dakwah KH Kholil Yasin seharusnya jadi tempat untuk mendalami perspektif ini
secara lebih inklusif agar tidak jadi pembodohan terhadap nalar agama.
Salam settong dhara. [kay]

