Jumat, 10 Juli 2020

Goa Soekarno Pasongsongan (Bagian VI dari 7 Tulisan)

         
Goa Soekarno Pasongsongan-Sumenep
     
Catatan: Yant Kaiy
Sebenarnya kenapa banyak orang jaman dahulu yang  menjalankan tirakat. Menurut K.H. Ismail Tembang Pamungkas, tentu hal itu disebabkan agar  tidak terganggu konsentrasi mereka dalam menyatukan alam pikirannya  dengan Sang Pencipta. Kita tentu memahami, banyak orang-orang sakti jaman dahulu yang memanfaatkan gua sebagai tempat olah batin (riyadah). Sebab gua  lebih bisa menjamin seseorang terlindung dari berbagai gangguan dalam hal mencapai sebuah bentuk niat dan kesuksesan. Alam pikiran menjadi fokus, tidak terpecah dengan pikiran lain.

Menurut Ceng Rasidi, Goa Soekarno sebenarnya sering menjadi tempat menjalankan riyadah. Ada diantara leluhurnya menjalankan laku batin di Goa Soekarno. Pernyataan ini dia dapatkan dari kakeknya dulu ketika dirinya masih kecil. Dan pernyataan tersebut diperkuat lagi dengan Sukardi yang menjalankan tirakat di gua itu, ia meyatakan kalau ada seseorang datang secara gaib pada Sukardi.  Ia sempat berdialog dengan leluhur dari Ceng Rasidi. Jadi Ceng Rasidi sekarang tambah yakin, kalau Goa Soekarno adalah tempat orang-orang yang menjalankan olah batin/riyadah. Dan kebanyakan dari mereka menjadi orang hebat yang diperhitungkan sepak-terjangnya setelah menjalankan laku batin di Goa Soekarno.

Memang tidak ada bukti yang memperkuat pendapat tentang ini. Tapi sebelum Goa Soekarno dibangun menjadi wahana destinasi wisata, penulis pernah berkunjung ke lokasi gua ini. Penulis melihat sebuah plang dari seng yang ada tulisan Ratu Pantai Selatan. Ketika penulis menanyakan kepada Ceng Rasidi perihal tulisan di plang itu, Ceng Rasidi menegaskan kalau itu ditulis oleh Sukardi. 

Menurutnya, Sukardi memiliki ilmu yang bisa menerawang hal-hal gaib dan bisa berbicara dengan orang yang sudah meninggal dunia. Itulah kelebihan Sukardi. Maka tidak mengherankan kalau selama berada di Goa Soekarno, ia setiap hari kedatangan banyak tamu yang meminta petunjuk apa saja menyangkut persoalan hidup. Ada pula tamu yang minta didoakan agar cita-citanya terkabul.

Ada juga komentar yang menyatakan kalau Goa Soekarno jaman dahulu merupakan tempat tinggal nenek-moyang Ceng Rasidi. Ia tidak menampik anggapan tersebut. Karena kebiasaan hidup orang jaman dahulu lebih mementingkan rasa ‘aman’ ketimbang ‘nyaman’. Bukankah nyaman itu relatif, tetapi aman adalah dambaan setiap individu.

Kita maklum bersama, menurut para tokoh masyarakat  yang tinggal di sekitar Goa Soekarno, sebenarnya orang-orang yang tinggal di gua pada jaman dahulu, baginya sebagai tempat berlindung dari gangguan binatang buas. Karena mereka  belum bisa membuat rumah sebagai tempat tinggal. Juga gua berfungsi sebagai tempat berlindung dari hujan dan panas matahari.

Setelah manusia bisa membangun rumah, barulah gua bergeser fungsinya dari tempat tirakat beralih fungsi menjadi  tempat wisata yang dikelola sedemikian rupa untuk memperoleh  keuntungan dari sisi ekonomi.

Macam-macam Gua
Menurut IUS (International Union of Speleology), cave atau gua yaitu setiap ruang bawah tanah yang berbentuk lorong-lorong  yang dapat ditelusuri atau dimasuki manusia. Ada pula pengertian gua yang lain, bahwa gua  adalah suatu lorong bentukan alamiah di bawah tanah yang dapat dilalui oleh manusia, sementara yang hanya bisa dilalui hewan saja disebut gua mini. Dalam hal ini  yang dimaksud  gua alam, namun ada juga gua buatan manusia seperti tempat  perlindungan perang dan lain-lain. Gua alam terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan letak dan jenis batuan pembentuknya, antara lain :

a. Gua litoral
Gua ini terletak di daerah pantai, palung laut ataupun di tebing muara sungai. Terbentuknya gua litoral  karena diakibatkan oleh terjangan air laut (abrasi).

b. Gua lava
Terbentuknya gua lava diakibat kan oleh adanya pergeseran permukaan tanah dikarenakan gejala keaktifan vulkanologi, biasanya sangat rapuh karena terbentuk dari batuan muda (endapan lahar) dan tidak memiliki ornamen batuan yang khas.

c. Gua batu gamping (karst)
Terbentuknya gua ini diakibatkan terjadinya peristiwa karst (pelarutan batuan kapur akibat aktifitas air) sehingga tercipta lorong-lorong dan bentukan batuan yang sangat menarik akibat proses kristalisasi dan pelarutan gamping. Diperkirakan oleh para pakar arkeologi wilayah sebaran karst yang paling besar di seluruh dunia adalah Inodnesia. Jadi Goa Soekarno tergolong dalam kelompok gua karst.

d. Gua pasir, gua batu halit, gua es dan sebagainya, adalah proses pembentukan gua yang sangat jarang dijumpai di seluruh dunia, hanya meliputi 5% dari keseluruhan jumlah gua yang ada di dunia.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, kata karst masih terdengar asing di telinga. Karst sendiri memiliki pengertian yaitu suatu bentang alam yang terbentuk pada batuan mudah larut seperti formasi batuan karbonat yang mengalami pelarutan. Di kawasan karst itulah fenomena pembentukan gua  seringkali terjadi.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Goa Soekarno Pasongsongan (Bagian V dari 7 Tulisan)

Goa Soekarno Pasongsongan-Sumenep

Catatan: Yant Kaiy
Sukardi berasal dari Jember dan menempati Goa Sukarno pada tahun 2001. Ia menikahi perempuan bernama Puhana yang tak lain adalah anak tercinta dari Ceng Rasidi. Selanjutnya pasangan ini menjadikan Goa Soekarno sebagai tempat tinggalnya sampai akhirnya mempunyai satu anak laki-laki tampan bernama Joko Satrio Nurcahyo.

Sebelum menempati gua tersebut, menurut pengakuan Sukardi kepada Ceng Rasidi, ia mendapatkan wangsit  (petunjuk) ketika dirinya berada di Jember. Wangsit itu datang ketika dirinya sedang menjalani riyadah di sebuah tempat keramat di Kabupaten Jember. Sukardi sebelumnya tidak pernah ke Desa Panaongan. Ia berangkat  dari Jember menuju gua tersebut seorang diri.  Ia mengikuti petunjuk yang ada dalam wangsit tersebut.

Sebelum Sukardi menempati Goa Soekarno, Ceng Rasidi menyarankan agar di sekitar gua dibersihkan dulu dari semak belukar. Sebab banyak ular yang bersembunyi di balik batu cadas. Kalau tidak dibabat maka bahaya ular akan senantiasa mengancam keselamatan jiwanya sewaktu-waktu. Ceng Rasidi dengan beberapa orang tetangganya turut serta bahu-membahu membersihkan tumbuhan liar di sekitar gua. Ternyata memang benar, banyak ular yang mematikan ditemukan di situ. Lantas ular-ular itu dimusnahkan oleh Ceng Rasidi.

Selama berada dalam gua yang Sukardi kejakan adalah tirakat/laku batin. Keluar gua hanya sewaktu-waktu. Itu pun sangat jarang. Tidak beberapa lama kemudian Sukardi mulai dikenal masyarakat luas. Banyak orang yang bertamu dengan maksud dan tujuan meminta petunjuk kepadanya dari sekian banyak masalah atau himpitan hidup.

Sukardi adalah seorang pengembara dan suka bertapa di tempat-tempat angker. Dia juga punya ilmu tembus pandang, bisa berdialog dengan makhluk gaib. Itulah beberapa kelebihan yang dimiliki Sukardi, demikian cerita Ceng Rasidi.

Dulu sebelum masuk lampu PLN, Sukardi menggunakan talpek (sebangsa pelita) sebagai alat penerangan di gua. Sedangkan jarak rumah Ceng Rasidi  dengan Goa Soekarno sekitar  700 meter dan Sukardi jarang ke rumah mertuanya.  Walaupun serba terbatas dengan fasilitas layaknya orang yang tinggal di sebuah rumah, Puhana tidak pernah mengeluh atau menuntut kepada suaminya untuk sekadar mendapatkan perabot rumah tangga lebih baik dan lebih layak. Mereka hidup sederhana namun tetap bahagia, membesarkan anaknya penuh kasih-sayang.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com


Goa Soekarno Pasongsongan (Bagian IV dari 7 Tulisan)

Goa Soekarno Pasongsongan-Sumenep

Catatan: Yant Kaiy
Menurut Kiai Syamsuri, Goa Soekarno dulu tidak mempunyai nama. Belakangan hari orang-orang menyebut Gua Jahir karena ada salah seorang warga yang cukup terpandang dan ia mewakili masyarakat di situ. Kemudian beberapa tahun kemudian orang-orang memberikan nama Gua Sukardi, hal itu karena Sukardi yang menempati gua tersebut. Dan dirinya baru tahu belakangan ini namanya berganti menjadi Goa Soekarno.

Kiai Syamsuri juga bercerita tentang pengalamannya dulu ketika dirinya masih berusia 19 tahun (bertepatan dengan tahun 1966) masuk ke dalam Gua Sukarno. Usia Kiai Syamsuri sekarang 72 tahun. Ia menyabit rumput di sekitar gua. Ia menggambarkan Gua Sukarno yang pada saat itu masih ditumbuhi semak belukar dan ada stalaktit-stalagmit di dalamnya. Ketika Kiai Syamsuri ditanya tentang kemungkinan Syekh Ali Akbar bertapa di Goa Soekarno, dengan sejujurnya Ia belum meyakini kalau Goa Soekarno adalah tempat Syekh Ali Akbar menjalani riyadah.

Goa Soekarno sebenarnya memiliki arti penting yang tidak bisa lepas dari sejarah Panaongan itu sendiri. Eksistensi gua ini oleh beberapa kalangan dinilai mempunyai keterkaitan dengan para tokoh muslim penyebar agama Islam yang pernah menjalani laku batin di Goa Soekarno. Memang tidak ada catatan yang sahih kalau toko-tokoh sentral ulama yang sangat berpengaruh dan kharismatik di Pasongsongan banyak yang menyatukan alam pikirannya di Goa Soekarno.seiring kepemimpinan Raja Bindara Saod memerintah Kerajaan Sumenep. Menurut beberapa kalangan, Syekh Ali Akbar ternyata pernah melakukan riyadah di tempat ini. Pendapat ini pertama kali digulirkan Sukardi kepada para pengikutnya. Ia selalu bercerita kepada beberapa orang, termasuk kepada beberapa tamunya (karena Sukardi sebagai orang pintar yang memiliki ilmu tembus pandang),  tentang para tokoh peletak dasar-dasar Islam yang pernah berdialog dengannya secara gaib. Bahwa mereka pernah menjalani laku batin di Goa Soekarno. Sebagian orang memang ada yang menilai Sukardi berbohong dan dianggapnya mengada-ada (takhayul).

Tetapi pendapat Sukardi ini bagi Ceng Rasidi (pemilik lahan Goa Soekarno) ditanggapinya dengan serius kala itu. Sebab kakek Ceng Rasidi dulu pernah juga bercerita kalau gua tersebut adalah tempat  di mana ulama-ulama besar menjalani semedi/laku batin. Cerita kakeknya tersebut Ceng Rasidi dengar ketika dirinya masih belum menikah, yakni sekitar tahun1965. Usia Ceng Rasidi sekarang 69 tahun per tahun 2019.

Sementara Sukardi yang menempati Gua Sukarno pada tahun 2001. Ini berarti ada rentang waktu 36 tahun dari pertama kali Ceng Rasidi mendengar dari kakeknya. Ceng Rasidi tak menggubris cerita kakeknya itu, karena baginya cerita kakeknya hanya fiksi semata. Dan ketika Sukardi yang mendeklarasikan kalau Goa Sukarno adalah salah satu tempat bagi mereka menjalani tirakat, barulah ia teringat kembali akan cerita kakeknya tersebut.

Kini Ceng Rasidi semakin yakin kalau pendapat Sukardi yang ahli menjalani tirakat di tempat-tempat sunyi tersebut benar adanya. Kendati demikian, Ceng Rasidi sampai sekarang pun tidak gembar-gembor kepada banyak orang tentang Goa Soekarno yang pernah dijadikan tempat tirakat para tokoh ulama besar, karena ia tak mau pendapatnya itu bisa melahirkan cibiran miring dari beberapa kalangan. Ia tak mau nantinya hal tersebut bisa melahirkan pemicu kontroversi diantara beberapa orang di Desa Panaongan dan Pasongsongan yang meruncing pada cemooh.

Kalaupun ada sebagian orang yang menganggap semua itu adalah cerita bombastis, bagi Ceng Rasidi hal itu tidak akan mengurangi daya tarik bagi banyak orang untuk tetap mengunjungi dan mengagumi Goa Soekarno.

Memang pada jaman sekarang bertapa di gua sudah tidak lazim. Bahkan ada pandangan yang cukup ekstrem dari sebagian orang, kalau orang yang bersemedi itu adalah pekerjaan orang tidak waras. Karena bagi beberapa gelintir orang bersemedi atau tirakat adalah pekerjaan para dukun semata. Pekerjaan orang-orang yang menganut ajaran hitam dan sesat adanya. Jadi seolah ada nilai ketidakpatutan, atau bahkan seolah syirik, bagi seorang tokoh alim ulama besar mencari ilham di gua.

Tetapi perlu diingat, Baginda Nabi Muhammad SAW juga pernah berada di Gua Hira. Semua kaum muslim tahu, kalau Gua Hira merupakan salah satu situs yang sangat penting bagi sejarah Islam. Pasalnya di gua ini Nabi Muhammad SAW menerima wahyu  pertama yaitu  Surat Al-Alaq dari ayat 1 sampai 5. Tepatnya, pada Senin 17 Ramadhan, ketika Nabi Muhammad tengah khusyuk bertafakur. Wahyu itu disampaikan oleh Malaikat Jibril. Saat itu juga Nabi Muhammad resmi dilantik sebagai  nabi dan rasul dalam usia 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut kalender Qamariah.

Nabi Muhammad berdiam diri di Gua Hira sepanjang Ramadhan. Beliau menghabiskan waktu untuk berkontemplasi dan memikirkan fenomena alam yang terjadi di sekelilingnya.

Demikian pula dengan Raden Said atau banyak orang mengenalnya dengan nama Sunan Kalijaga, ia juga pernah bertapa di Gua Langsih di Bukit Surowiti, Desa Surowiti, Kecamatan Panceng, Gresik. Kini tempat pertapaan Sunan Kalijaga tersebut masih tetap terjaga dan menjadi tempat destinasi wisata religi yang sangat banyak dikunjungi wisatawan.

Di Kabupaten Sumenep ada deretan gua yang pernah dijadikan sebagai tempat untuk menjalani riyadah (laku batin) tokoh penting dan berpengaruh di jamannya.

1. Di Kecamatan Guluk-guluk ada Gua Payudan yang dijadikan tempat bertapa Raden Ayu Potre Koneng. Kita tahu Potre Koneng adalah ibunda dari Pangeran Jokotole (Raja Sumenep yang ke-13). Pangeran Jokotole adalah seorang raja yang sakti ketika mendirikan pintu gerbang raksasa Kerajaan Majapahit atas kehendak Raja Brawijaya VII.

2. Gua Kahuripan yang terletak di Pulau Giligenting Kabupaten Sumenep merupakan tempat bertapa bagi Ario Danurwendo (Raja Sumenep ketiga). Sampai sekarang Gua Kahuripan ini dipercaya masih dijaga oleh kedua piaraan/pengawal Raja Ario Danurwendo, yakni macan putih dan ular putih.

3. Gua Jeruk yang terletak di dataran tinggi di luar Asta Tinggi di Desa Kebun Agung Kabupaten Sumenep merupakan tempat Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I (Raja Sumenep ke-32) menjalani riyadah. Sultan Abdurrahman bernama asli Notonegoro, Putra Raja Sumenep yaitu Panembahan Notokusumo I. Beliau mendapat gelar Doktor Kesusasteraan dari pemerintah Inggris karena ia pernah membantu Letnan Gubernur Jenderal Rafles untuk menerjemahkan tulisan-tulisan kuno di batu kedalam bahasa Melayu.

Barangkali dengan melakukan tirakat atau riyadah di mana saja boleh dikerjakan. Asal tidak menyimpang dari syariat Islam itu sendiri. Akan tetapi kalau sekiranya bisa membahayakan bagi keselamatan jiwanya, lebih baik mengerjakan riyadah di mesjid saja. Jadi tidak salah mengerjakan ritual (bertafakkur) di sebuah gua untuk mencapai bentuk ketenangan jiwa menyatu dengan Sang Khalik.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Goa Soekarno Pasongsongan (Bagian III dari 7 Tulisan)

Goa Soekarno Pasongsongan-Sumenep

Catatan: Yant Kaiy
Goa Soekarno terletak di Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Madura. Lokasi Goa Soekarno berada di bawah bebatuan gersang dan tandus serta berbatu cadas. Hanya semak berduri yang tumbuh liar di atas gua. Gua eksotis yang ramai diperbincangkan, terutama di sosial media, mulai dilirik keberadaannya oleh banyak orang dan menjadi perhatian banyak orang. Saat ini lahan parkir dengan pengelola sudah selesai digarap seluas kurang lebih 2000 meter persegi. Akses masuk jalan beraspal sudah bagus. Rencananya di pinggir lahan parkir ini akan dibangun beberapa kios tempat berjualan bagi masyarakat sekitarnya.

Menurut Ceng Rasidi, keberadaan Goa Sukarno sudah ada ratusan tahun yang lalu. Luas gua tersebut sekitar 3000 meter persegi. Lumayan luas untuk ukuran sebuah gua, bisa menampung ribuan orang di dalamnya. Destinasi wisata baru yang sangat direkomendasikan ini adalah gua alami. Memang ada bekas galian yang diambil batunya untuk dijual, begitu keterangan Ceng Rasidi ketika penulis menjumpainya. Batu-batu tersebut yang ada kadar posfatnya dijual ke perusahaan-perusahaan besar di Pulau Jawa. Namun tidak beberapa lama kemudian, gua tersebut tidak digali lagi karena kadar batu fosfat sudah tidak memenuhi standar seperti yang ditetapkan perusahaan. Akhirnya gua tersebut dibiarkan terbengkalai begitu saja.

Kedalaman Goa Soekarno bervariatif antara 12-17 meter. Ada dua akses jalan ke luar-masuk gua. Ceng Rasidi sebagai pemilik lahan Goa Soekarno, menjelaskan bahwa gua tersebut memang sudah ada sebelum kakeknya. Kakek Ceng Rasidi juga tidak tahu siapa yang dulu membuat/menggali gua cantik itu. Jadi sangatlah meyakinkan jikalau gua itu sudah ada ratusan tahun yang lalu. Hal ini memang terbukti adanya stalaktit dan stalagmit di dalam gua yang sangat mempesona. Stalaktit adalah jenis speleothem yang menggantung dari langit-langit gua kapur. Ia termasuk dalam jenis batu tetes. Stalaktit terbentuk  dari pengendapan  kalsium karbonat dan mineral lainnya, yang terendapkan pada larutan air bermineral. Sedangkan stalagmit adalah pembentukan gua secara vertikal. Stalagmit terbentuk dari kumpulan kalsit yang berasal dari air yang menetes. Stalagmit ditemukan di lantai gua, biasanya langsung ditemukan di bawah stalaktit. Mineral yang dominan dalam pembentukan stalagmit adalah kalsit.

Kenapa gua itu dinamakan Goa Soekarno? Dulu gua tersebut pernah menjadi rumah sepasang suami-istri, yaitu Sukardi dan Puhana. Sukardi beragama Islam kejawen dan ada beberapa orang sebagai pengikut ajarannya.  Bahkan keberadaan Sukardi pernah menjadi sorotan negatif oleh beberapa kalangan tokoh muslim di Kecamatan Pasongsongan karena agama yang dianutnya berbeda paham dengan Islam yang dianut masyarakat Pasongsongan umumnya. Perbedaan paham ini pula yang membuat Sukardi sering dipanggil oleh aparatur pemerintah Kecamatan Pasongsongan untuk tidak memperkeruh suasana masyarakat sekitarnya. Sukardi pun menyepakatinya demi sebuah kondisi masyarakat di Desa Panaongan dan sekitarnya.

Sosok Sukardi sangat mengidolakan presiden RI pertama Sukarno, Sang Proklamator. Sebagai bentuk kekagumannya, dia meletakkan beberapa lembar gambar Presiden Sukarno di dinding gua.  Sebagian besar orang yang pernah bertamu ke Sukardi lantas menamakan gua tempat tinggal Sukardi itu dengan nama Goa Soekarno, karena gua ini tidak mempunyai nama sebelumnya.

Sepasang suami-istri itu sekarang sudah meninggal dunia. Sedangkan gua yang didiaminya beberapa tahun itu dibiarkan terbengkalai  sekian lama, sampai pada akhirnya datang Hairul Anwar sebagai penggagas ide besar untuk gua ini. Goa Soekarno lewat idenya sekarang disulap menjadi lebih cantik dan unik dengan tidak meninggalkan kesan artistik dan natural. Kesan yang sungguh menakjubkan sebagai sebuah gua.

Jalan masuk ke Goa Soekarno tidak terlalu lebar. Setelah jalan agak turun beberapa langkah kemudian akan terlihat pemandangan dinding gua yang mempesona dengan stalaktit dan stalagmit. Hawa di dalam gua sangat sejuk dengan sirkulasi udara yang cukup dan tidak pengap. Karena di ruang pertama ini ada lubang di atasnya sehingga cahaya matahari menerangi ke sebagian ruang gua. Di sisi timur ada patung kelelawar besar pas di tengah aula ada onggokan batu dengan hiasan pagar terbuat dari batu. Konon patung kelelawar dan hiasan batu di tengah gua itu Sukardi yang membuatnya.

Berjalan ke samping kiri kita akan meniti jembatan yang di bawahnya ada penampungan air. Air tersebut berasal dari atas gua, menetes tanpa henti. Sampan kecil di bawah jembatan juga telah disiapkan untuk bisa dinaiki oleh pengunjung.

Di ruang kedua sudah ada kursi-kursi cantik berbahan kayu jati. Di situ juga ada cafeteria tempat memanjakan wisatawan dalam menikmati keelokan Goa Soekarno. Di ruangan ini juga ada lubang menganga di atasnya. Hanya di ruangan ini lubang di atas gua yang paling lebar. Sinar matahari menerobos bebas di ruangan ini. Luar biasa mempesona, sungguh menakjubkan bagi mata siapa saja yang melihatnya.

Di areal kedua ini ada sumur yang dalamnya sekitar 41 meter dari dasar gua yang sengaja ditutup untuk menanggulangi kotoran agar tidak masuk ke sumur. Sumur ini ditutup atasnya saja tetapi airnya yang alami tetap dimanfaatkan sebagai air minum.  Menurut keterangan Ceng Rasidi, sumur itu dibuat sendiri oleh Sukardi karena ia sangat membutuhkan air sebagai keperluan memasak dan mandi.  Belakangan ini ada seorang ahli geologi yang menyatakan  bahwa air di sumur itu kandungan mineralnya sangat tinggi, terang Ceng Rasidi bersemangat. Wajar saja karena sumur ini tidak tercemar. Dan sumur tersebut tidak pernah habis kendati musim kemarau panjang.

Di areal ini juga tersedia tempat untuk berselvi (swa foto), mengabadikan diri menggunakan kamera digital atau kamera telepon. Tempatnya sangat bagus dengan pintu kayu jati. Di situ juga ada ruangan dengan pernak-pernik yang terkesan glamour. Membebaskan pengunjung untuk mendapatkan memori (kenangan) kalau dirinya sudah ke Goa Soekarno.

Kemudian penulis melewati lorong yang di dindingnya ada lukisan presiden RI pertama dan kereta kuda. Naik ke atas undakan masih ada aula yang lebih luas lagi. Di areal ini juga ada lubang gua tidak terlalu lebar.  Dan hawa yang sejuk terasa di sekujur tubuh, sungguh menentramkan. Di ujung barat daya ternyata ada pintu keluar lebih lebar ketimbang pintu yang pertama ketika penulis masuk. Di ruang ini juga terdapat kamar tempat peristirahatan Sukardi beserta anak-istrinya. Kamar tidur tersebut naik ke atas melewati undakan batu. Luas kamar berukuran 3x4 meter. Barangkali memang sengaja Sukardi meninggikan kamarnya agar dia terbebas dari bahaya ular atau semacamnya.

Seperti dilansir dari beberpa berita online, Hairul Anwar  sebagai investor Goa Soekarno menyatakan, bahwa kedepannya di areal ini akan dibangun perpustakaan. Tujuannya adalah sebagai sarana/media edukasi (sarana pembelajaran) bagi pengunjung, baik dewasa maupun anak-anak.

Hairul Anwar  juga sangat care bagi kemajuan sumber daya manusia. Intinya selain berlibur kita bisa menyempatkan diri  untuk belajar banyak hal terutama tentang alam ini.Tuhan telah memberikan alam ini kepada kita, sepantasnya kalau kita merawat dan menjaganya, tandasnya setengah berfilsafat.

Hairul Anwar putra asli Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep juga mempunyai harapan besar kalau keberadaan Goa Soekarno akan menyajikan manfaat bagi segenap warga Pasongsongan dan sekitarnya. Bisa meningkatkan taraf perekonomian masyarakat lebih baik. Sebuah kesejahteraan hidup dalam meretas jurang pemisah yang kaya dan yang miskin, itulah impian Hairul Anwar ke depannya. Yaitu dengan membangun kios makanan dan cindera mata sehingga perekonomian mereka sedikit lebih baik dan lebih sejahtera lagi kedepannya.

Areal kios makanan, minuman, souvenir, toilet, musalla, parkir, dan lain-lain ada di luar gua. Sedangkan di dalam gua hanya menyediakan minuman spesial dengan harga terjangkau.

Memang tak berlebihan kiranya kalau semua pengunjung gua akan berdecak kagum melihat hasil kreatifitas seniman-seniman Madura yang dituangkan lewat karya artistik, totalitas maha karya yang sungguh menakjubkan. Kita akan terperangah dibuatnya. Lampu wana-warni semakin menambah daya magis namun tidak menyeramkan. Kebersihan di setiap ruang gua begitu terjaga karena pengunjung tidak diperkenankan untuk membuang sampah sembarangan.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com


Goa Soekarno Pasongsongan (Bagian II dari 7 Tulisan)

Goa Soekarno Pasongsongan-Sumenep

Catatan: Yant Kaiy
Panaongan berasal dari kata ‘naong’ yang artinya teduh. Kemudian diberi awalan ‘pa’ dan akhiran ‘an”. Jadi makna kata dari Panaongan adalah tempat orang berteduh dari panas menyengat dan beristirahat sejenak dari penat setelah melakukan perjalanan jauh. Dengan kata lain, Desa Panaongan merupakan sebuah lokasi yang bisa melindungi/membentengi seseorang dalam arti yang lebih luas. Bahwa daerah ini adalah suatu daerah yang sejuk, nyaman, dan menentramkan bagi siapa saja yang berada di dalamnya.

Menurut Sri Sundari, nama Panaongan tercetus ketika pada jaman dahulu ada banyak orang yang berteduh sebelum melanjutkan perjalanan jauh dari dan ke pelabuhan Pasongsongan. Panaongan merupakan sebuah lokasi/tempat bagi kebanyakan orang yang berteduh di sekitar Astah Buju’ Panaongan karena di sekitar itu sudah ada komunitas Arab yang telah mendirikan pondok pesantren dan berbaur dengan masyarakat setempat.

Di jaman dahulu rumah-rumah penduduk lebih banyak berada di sekitar Astah Buju’ Panaongan. Banyak pedagang dari daerah lain yang melakukan transaksi jual-beli di daerah itu. Termasuk pula para pedagang dari Negeri Tirai Bambu China dan Arab yang begitu kental mewarnai aroma perniagaan di Desa Panaongan.

Pendapat Sri Sundari ada korelasi dengan komentar Drs. K.H. Mas Ula Ahmad dan Ustadz Abdul Karim Mastura yang menyatakan, bahwa di lokasi Astah Buju’ Panaongan dulu diserang oleh wabah penyakit tha’un sehingga banyak masyarakat yang mengungsi demi menyelamatkan diri dari musibah penyakit itu. Menurut K.H. Mas’ula, wabah tha’un merupakan suatu penyakit kulit yang sangat mematikan dengan cepat. 

Penyakit instan ini semacam penyakit kusta atau lepra. Ia berasal dari virus yang awalnya menyerang hewan ternak. Orang yang terjangkit akan muncul borok pada kulitnya. Wabah sangat cepat ini menyebar liar tanpa ampun ke seluruh masyarakat Desa Panaongan dan sebagian Desa Pasongsongan. Banyak orang yang terjangkit sehingga dalam tempo singkat puluhan ribu jiwa meninggal dunia. Maka tidak heran kalau akhirnya daerah Astah Buju’ Panaongan sepi dari penduduk.

Sri Sundari lebih jauh memaparkan, kalau dulu sebenarnya ada beberapa raja Sumenep yang juga pernah berteduh di daerah tersebut karena ada pohon asam amat besar sebelum melanjutkan perjalanannya. Wajar kalau rombongan raja-raja dulu beristirahat di lokasi tersebut, karena mereka telah mengadakan perjalanan cukup panjang dengan menandu sang raja. Tentu para pengawal kelelahan. Seterusnya masyarakat luar menamakan daerah tempat pemberhentian untuk istirahat tersebut dengan nama Panaongan.

Sedangkan menurut Madun, S.Pd, dulu Desa Panaongan bernama Desa Padangdangan Barat, seperti yang ia pernah dengar cerita-cerita dari para orang tua dahulu. Tapi karena suatu proses eksistensi yang tidak relevan dengan nilai historis, maka pemangku kebijakan (para pini-sepuh) mendesain nama lokasi tersebut berdasar pada nilai-nilai historis yang melingkupinya. 

Bukankah orang-orang jaman dahulu dalam memberikan nama apapun senantiasa disandarkan pada peristiwa yang melekat pada obyek tersebut. Seperti dalam memberikan nama pada anak bayi misalnya. Karena ketika melahirkan bayinya sedang terjadi huru-hara, maka segera menamakan anak bayinya dengan ‘Ribut’. Atau ketika seorang bayi lahir yang diiringi dengan meninggalnya kedua orang tuanya, lantas kerabatnya menamakan sang bayi ‘Yatim’ (Bhs. Madura: Jetem).

Berbeda dengan pendapat lainnya, Ustadz Komarudin Nasir memberikan komentarnya tentang nama Desa Panaongan. Nama Panaongan ternatal ketika Syekh Ali Akbar (paman dari Raja Sumenep, Raja Bindara Saod) sering berteduh di bawah pohon asam yang sangat besar di sebelah timur jembatan Panaongan. 

Di dekat pohon asam itu ada sumber mata air yang sangat jernih dan sampai sekarang masih ada. Mata air itu digunakan oleh banyak orang untuk minum dan berwudhu karena orang pada jaman dahulu jika bepergian dengan berjalan kaki. Untuk mengusir penat dan dahaga, mereka sambil berteduh dan minum air sepuasnya di lokasi tersebut. Jadi nama Panaongan yang asli ada di titik sumber mata air yang ada di sebelah timur jembatan.

Lebih jauh Ustadz Komarudin menjelaskan, dulu nama Desa Panaongan adalah Pade’engan. Yang menggulirkan nama Pade’engan adalah Syekh Ali Akbar. Arti nama Pade’engan adalah sebuah lokasi atau tempat terjadinya berbagai bentuk pembunuhan yang mayatnya di buang di sekitar sebelah barat Astah Buju’ Panaongan.

Sekitar tahun 1987, penulis sering bermain di sekitar sebelah barat Astah Buju’ Panaongan. Memang dengan mata kepala sendiri penulis menyaksikan banyaknya  tulang-belulang dan tengkorak manusia yang berserakan di bukit pasir tersebut.

Ada juga pendapat dari beberapa tokoh masyarakat dan tokoh adat setempat yang menyatakan, bahwa nama Panaongan tercetus spontanitas ketika ada salah seorang Raja Sumenep yang hendak menyeberang sungai Pasongsongan dengan menggunakan rakit. Sang Raja turun dari tandunya menuju rakit yang serta-merta pengawalnya memayungi raja tersebut. Sikap memayungi itulah oleh masyarakat setempat dikatakan Panaongan.

Demikian hasil wawancara penulis dengan beberapa orang asli kelahiran Desa Panaongan dan Pasongsongan. Apapun pernyataan dan narasi tentang Desa Panaongan, akan tetaplah eksistensi Panaongan merupakan sebuah desa yang memiliki alur cerita/sejarah masa lampau yang cukup eksotik.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Goa Soekarno Pasongsongan (Bagian I dari 7 Tulisan)

Goa Soekarno Pasongsongan-Sumenep

Catatan: Yant Kaiy
Objek wisata Goa Soekarno telah banyak menyedot perhatian masyarakat ramai dari segala penjuru negeri ini. Beragam tulisan pun menghiasi hingar-bingar kehadirannya dibanyak media massa, baik media cetak ataupun elektronik.  Beberapa pengamat wisata juga turut memaknainya dari perspektif yang beraneka-macam. 

Para tokoh sejarah dan tokoh masyarakat tidak terkecuali juga terlibat adu argumen dan opini untuk mendekat pada sisi historis yang melingkupi Goa Soekarno. Sesungguhnya hakikat itu semua semakin menambah khasanah pengetahuan pada manusia itu sendiri. Fase selanjutnya kita implementasikan analisis itu sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Pencipta. Sebab kita mengkaji tentang hasil ciptaan-Nya yang sangat eksotis dan tiada bandingnya.

Berbagai analisis yang dikemukan tentu memiliki pijakan yang berbasis dari beragam penemuan dan cerita/folklor para tokoh  adat sepuh setempat. Memang kadang ada tendensi ego demi mengembangkan folklor sebagai manifestasi kebanggaan  tak terukur yang tak jarang kebablasan dan bersifat bombastis. Nuansa bombastis inilah yang menyebabkan ketidaknyamanan dari beberapa kalangan. 

Dan hal ini justru akan mendiskreditkan keagungan Goa Soekarno di mata publik. Memang kita tidak hidup di jaman mereka. Kita sebagai manusia yang lemah; baik sebagai pengamat atau pemerhati tidak bisa menjustifikasi segala sesuatu berdasarkan power nalar semata. Sebab power nalar tidak berbanding lurus dengan power metafisika. Maka tugas pengamat atau pemerhati harus bisa memfilter sekian banyak unsur yang bisa melahirkan polemik tak berujung. 

Efeknya tercipta suasana kegaduhan dari beberapa kalangan. Apalagi sampai melahirkan konflik atau gesekan-gesekan antar individu. Kehati-hatian inilah yang harus dijaga agar kita tidak sembarangan menggelindingkan opini ke tengah-tengah masyarakat awam.

Kita tentu tidak ingin terjebak pada konfrontasi sejarah antar sesama yang berbeda sudut pandang. Sebab urgensi dari semua analisa tentu berbasis pada fakta di lapangan yang dikaitkan dengan beberapa cerita yang meliputinya. Lantaran kebenaran di atas muka bumi ini sangat relatif.  Bisa saja menurut kita benar saat ini, mungkin di suatu saat nanti akan menjadi salah dan terdengar lucu pada generasi yang akan datang. 

Oleh karena itu, seseorang tidak bisa memvonis segala sesuatunya, bahwa dirinyalah yang paling benar dan paling baik. Kecuali ketetapan dari Sang Pencipta yang tidak akan bergeser sampai hari kiamat datang. Sungguh ironis memang, tetapi begitulah manusia yang tidak bisa lepas dari khilaf, lemah, dan dosa.

Publik sudah banyak tahu kalau kebenaran di alam fana ini nisbi adanya, begitu kalimat bijak yang sering mengalun dari kaum cendekiawan, akan tetapi mereka yang tergolong kolot akan menyimpulkan segala sesuatunya berdasarkan daya nalar yang kerdil. Padahal mereka juga sering mendengar slogan, kalau hakikat kebenaran yang sejati hanya terletak pada Allah SWT. Maka sepatutnya kita harus menetralisir semua itu demi terciptanya iklim kebersamaan sebagai anak bangsa.

Saling menyudutkan dalam melontarkan analisis dari berbagai kalangan adalah sebuah sikap yang kurang bijak rasanya. Karena kita mafhum, bahwa di atas langit masih ada langit. Sejatinya kita menghormati dari beragam argumen itu sebagai ilmu yang tak ternilai harganya. Karena bagaimanapun juga, eksistensi Goa Soekarno tetaplah gua yang penuh magnet bagi siapa saja yang ingin menikmati maha karya dari Sang Khalik.

Kendati demikian, opini dan argumen dari banyak pemerhati sejarah yang sudah menatalkan narasi ke ranah publik, semestinya bisa menggiring pada pendekatan histori. Endingnya, pemufakatan berjamaah pada background riset yang telah dilaksanakannya. Wujud dari semua itu bukanlah akhir dari episode penelitian yang selama ini telah banyak kalangan lakukan. Suatu saat nanti akan lahir juga neo-opini yang mungkin lebih bernas, lebih tajam, dan lebih berbobot. Semua tidak menutup kemungkinan.

Dari sekian banyak opini yang berkembang di tengah-tengah publik, kali ini kita akan meminimalisasi analisis dari dua sudut pandang saja. Kalau kita cermati, sesungguhnya Goa Soekarno mempunyai dua sisi interpretasi yang tidak terpisahkan antara mitos dan situs. Sebagai mitos, Goa Soekarno menyimpan banyak arti tentang kisah masa lampau perihal keberadaannya yang baru mengorbit belakangan ini. 

Kisah-kisah klasik pun tidak bisa dibendung lagi seiring sudah banyak orang mengunjunginya. Bagai bola batu yang menggelinding dari ketinggian puncak gunung. Kemudian publik pun mengemas cerita itu sedemikian rupa agar orang lain percaya terhadap folklor yang dihadirkannya. Selanjutnya folklor tersebut dicross-check dengan realitas di lapangan.

Sebagai situs, Goa Soekarno memiliki arti penting bagi masyarakat Desa Panaongan dan sekitarnya, karena gua ini ternyata mempunyai korelasi dengan seseorang bernama Sukardi, yakni seorang musyafir yang berdiam diri dalam Goa Soekarno hingga menjelang ajalnya bersama istri dan anaknya. Dia adalah sosok penting bagi lahirnya nama gua alami menjadi Goa Soekarno.

Menurut Agus Sugianto yang beberapakali ke Gua Sukarno ketika Sukardi masih hidup, dirinya sangat takjub menyaksikan keindahan Goa Soekarno. Pantaslah Sukardi menjalani riyadah atau banyak orang bilang bersemedi. Pernyataan itu dideskripsikan sendiri oleh Sukardi kepadanya tanpa tedeng aling-aling lagi di hadapan banyak orang. Bagi Sukardi tak ada urusan orang lain percaya atau tidak terhadap statemen dirinya. Juga baginya tidak ada keuntungan apapun dalam mengabarkan hal gaib pada orang lain. 

Sukardi menyampaikan pernyataan bahwa dirinya berjumpa di alam gaib dengan tokoh-tokoh Islam yang ada di sekitar gua dan sempat berdialog panjang lebar. Cerita iti disampaikan kepada Agus Sugianto ketika Sukardi sedang menerima rombongan tamu satu bus dari Jakarta. Sukardi sebagai sosok yang memiliki pandangan mata batin secara gamblang menyatakan jikalau Agus Sugianto sebagai orang yang tepat untuk mengetahui berita gaib yang didapatnya.

Pada mulanya Agus Sugianto tidak menyanggah pernyataan Sukardi  kala itu. Sukardi dengan tanpa beban mengillustrasikan pertemuannya dengan beberapa tokoh alim ulama di alam gaib; tentang perkenalannya, tentang dialognya, sampai beberapa potongan cerita masa lampau yang mengiringi perjalanan hidup mereka.

Beberapa item cerita gaib Sukardi yang tidak dipahaminya langsung ditanyakan waktu itu juga dengan Agus Sugianto. Setelah lewat perenungan yang mendalam dan banyak wawancara kepada para keturunan tokoh alim ulama, barulah Agus Sugianto mulai mempunyai kesimpulan, bahwa apa yang diriwayatkan Sukardi masuk akal dan sejalan dengan beberapa keterangan dari tokoh agama yang masih punya hubungan darah dengan tokoh sejarah yang membabat alam Desa Panaongan hingga masyarakatnya memeluk Islam..

Lebih jauh Agus Sugianto (saat itu dirinya sudah berstatus guru yang mengajar di salah sebuah SDN Pulau Masalembu) menggarisbawahi statemen Sukardi, bahwa akal tidak bisa disejajarkan dengan hal yang berbau metafisika. Bahwa seseorang yang berada di level syariat tentu tidak akan mampu menjangkau pada level makrifat. Anak SD tidak mungkin sanggup menyerap pelajaran siswa SMA. 

Sukardi seolah ingin menegaskan kembali, bahwa dialog antara dirinya dan para tokoh Islam di alam gaib bukanlah narasi bualan semata. Hal itu adalah realitas dari sebuah perjalanan riyadah (hidup prihatin) selama dirinya berada di Goa Soekarno.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Kamis, 09 Juli 2020

Therapy Banyu Urip Pasongsongan

MS. Arifin (kanan) bersama rekannya
Apoymadura, Sumenep – Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep akan menjadi pusat kedua Therapy Banyu Urip International di Madura setelah Yogyakarta. Rencana itu telah diprogram sekian lama oleh CEO Therapy Banyu Urip International, MS. Arifin. Tinggal menunggu selesainya renovasi gedung yang berada di Jalan Kiai Abubakar Sidik Pasongsongan-Sumenep, tepatnya di depan Bank Jatim.

Antusias masyarakat dalam menyambut akan dibukanya pengobatan alternatif sungguh luar biasa. Ini terbukti banyaknya pertanyaan yang masuk ke akun resmi sosial media Therapy Banyu Urip.

“Pembukaan pengobatan itu tidak akan lama lagi, paling lambat akhir 2020. Khusus untuk wilayah Pasongsongan, kami akan menggratiskan pengobatan pada Jum’at, Sabtu dan Minggu,” terang MS. Arifin kepada apoymadura.com via sambungan telepon dari Yogyakarta. Kamis (9/7/2020).



Baginya, Desa Pasongsongan sebagai tempat berbagi kepada sesama yang kurang mampu, karena daerah ini tumpah darahnya.


“Kalau di Yogyakarta dan beberapa cabang Therapy Banyu Urip pasien tidak dipungut biaya khusus Sabtu dan Minggu, special di Pasongsongan ada penambahan pada Jum’at. Kita tahu, kalau Jum’at hari mulia bagi kaum muslim. Biasanya orang-orang di Pasongsongan pada Jum’at banyak yang bersedekah. Maka kami juga akan melakukan kegiatan sosial,” tandasnya meniscaya. (Yant Kaiy)


Rabu, 08 Juli 2020

Kreativitas Seniman Akhmad Jasimul Ahyak

Lukisan dinding SDN Pasongsongan IV karya Akhmad Jasimul Ahyak

Catatan: Yant Kaiy
Dimasa pandemi Covid-19 ternyata membawa berkah tersendiri bagi seniman yang berasal dari Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, Akhmad Jasimul Ahyak. Belakangan banyak job menghampirinya, seperti lukisan dinding pada Sekolah Dasar Negeri. Maksud dan tujuan sekolah melakukan itu semua yakni ingin para peserta didiknya bisa lebih betah (enjoy) menyerap ilmu dari gurunya.

Ditambah lagi anak-anak bisa menemukan suasana baru yang lebih menyenangkan. Sebab gambar-gambar tersebut bersifat edukatif, mengandung pembelajaran.

Tentang tarif dalam melukis dinding sekolah, Akhmad Jasimul Ahyak tidak menetapkan harga terlalu tinggi. Yang penting baginya hasil kreativitasnya bisa bermanfaat bagi banyak orang itu sudah cukup. Soal upah itu bisa dimusyawarahkan bersama.

Seniman yang multi talenta ini disamping sebagai pelukis, dia juga pembaca puisi yang baik. Dia juga sering menuangkan hasil inspirasinya lewat karya sastra. Banyak tulisan puisi, cerpen, novel, opini, dan berita yang dipublikasikan oleh media online www.apoymadura.com.

Lelaki yang sudah hampir mencapai usia kepala lima ini juga masih aktif sampai sekarang sebagai guru di Madrasah Aliyah Itmamunnajah Desa/Kecamatan Pasongsongan-Sumenep. Sebuah Lembaga Pendididkan Islam yang berada di bawah naungan LP Ma’arif terbaik di Kabupaten Sumenep.

Disamping itu, Akhmad Jasimul Ahyak sering diundang oleh beberapa komunitas seni yang ada di Madura sebagai salah satu dewan juri di berbagai lomba seni. Baik itu lomba baca puisi, melukis, lomba cipta puisi, dan lain sebagainya.

Nama Akhmad Jasimul Ahyak sudah begitu familiar di telinga masyarakat Pasongsongan. Pergaulannya amat luas, baik dari strata tingkat bawah bahkan terhadap orang-orang yang punya kedudukan atau jabatan penting. Ini patut kiranya ditiru oleh para seniman pendatang baru, tidak menonjolkan egosentrinya dengan mengebiri pesaingnya. Baginya, justru dengan adanya pesaing akan bisa memacu kreativitasnya lebih bersahaja, sehingga tak ada kesan bahwa seseorang itu seniman karbitan.

Mafhum kalau ia lebih muda diterima oleh berbagai kalangan. Sebab ia tak peduli dengan kata orang yang seringkali memandang sebelah mata terhadap dunia seni yang digelutinya.

Sukses selalu buat Akhmad Jasimul Ahyak. Saya pribadi angkat topi dengan hasil karya-karyanya sangat luar biasa.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com


Selasa, 07 Juli 2020

Sabun dari Hotel


Cerpen: L Surajiya
Istriku marah-marah dan cemburu. Persoalannya sederhana. Istriku hanya menemukan sabun di tas pakaianku, sehabis pulang dari mengisi workshop batik di luar kota. Seperti biasa, saat workshop, aku hanya menerangkan langkah-langkah proses membatik. Mulai dari persiapan bahan dan alat,  membuat desain, memindah pola ke bidang kain, mencanting, mewarnai tehnik celup, sampai nglorot, langkah terakhir. Tetapi jika waktunya pendek dan tidak cukup untuk proses di atas, kadang hanya praktek sederhana. Tidak perlu membuat desain dalam kertas, melainkan langsung di kain, dicanting, diwarnai -bisa celup atau pewarna remasol-, dilorot, dan kadang hanya dengan satu warna, yang terpenting adalah para peserta tahu dan memahami betul tentang bahan dan alat, cara menggunakannya dari awal sampai hasil akhir. Biasanya hanya membuat sapu tangan atau syal, jikalau memang ada keterbatasan waktu. Harapannya, sehabis pelatihan bisa dipraktekkan sendiri.
            
Aku mengisi acara workshop untuk ibu-ibu Dharma Wanita bersama temanku, perempuan. Dia lulusan kriya batik di sebuah perguruan tinggi seni. Track record-nya sudah tidak perlu dipertanyakan, bahkan dia juga membuat buku panduan “Membatik itu Mudah”, memiliki usaha butik, dan beberapa puluh karyawan hasil binaannya. Aku menyebutnya pengusaha muda. Sebab umurnya juga masih muda, sebaya denganku. Memang aku tidak bercerita pada istriku, kalau kepergianku ke luar kota ini bersama seorang perempuan yang menurutku cukup manis. Aku takut dengan istriku, sebab istriku adalah seorang pencemburu berat. Aku membayangkan kalau tiba-tiba dia tahu lalu melabrak ke rumahnya. Aku takut, takut menghancurkan hubungan kerja yang sudah terjalin lama dan sangat baik. Karena dalam setiap ada pelatihan batik yang mengundang, aku atau dia, kami selalu mengusulkan untuk dua orang pelatih, harapannya agar lebih mudah dalam pelaksanaan, apabila pesertanya banyak, bisa saling berbagi tugas dan saling melengkapi. Misalnya, ada yang bertanya tentang seberapa panas malam yang sudah bisa digunakan dengan canting, takaran panas yang harus dipertahankan. Atau bagaimana melepas malam (nglorot) setelah proses pewarnaan.
            
Aku biasanya awal memulai, bertugas menerangkan bagaimana membuat desain sendiri lalu memindahkan ke kain, sedangkan temanku ini lebih banyak mengajarkan bagaimana memegang canting yang benar, canting mana yang harus dipakai lebih dulu, sebab ada 3 ukuran canting yang fungsinya berbeda. Kapan dan canting nomer berapa yang digunakan untuk membuat garis, membuat isen-isen sampai pada membuat blok. Dalam mencantingpun harus tembus, ini berhubungan dengan persoalan panas atau suhu kompor yang harus diukur. Sebab jika dalam mencanting malamnya tidak panas, tidak tembus, hasilnya tidak rata dan tidak sempurna, untuk mengatasi persoalan itu kainnya perlu dibalik dan ditembusi ulang.
            
Istriku tidak tahu kalau aku sering berkolaborasi dan berpartner dengan pengusaha batik ini: sebut saja namanya Dewi. Iya memang namanya Dewi. Namun aku sering mengajak istriku main di butiknya. Ngobrol atau sekedar bertamu melihat-lihat hasil perkembangan terakhir hasil karyanya, barangkali ada model-model terbaru, yang istriku tertarik. Walau pada kenyataannya, istriku hanya kebanyakan diam, sekedar melihat-lihat motif, jenis kain, dan pakaian-pakaian berbagai model yang dipajang di etalasenya.. Pernah sekali istriku berminat dan  mengusulkan untuk membuat produk sendiri. Katanya, dia siap untuk mencanting. Bahkan, pernah memilih-milih dari banyaknya desain yang pernah aku buat dan sengaja aku kumpulkan. Aku sering medapat tawaran  membuat seragam batik untuk yayasan, sekolah, karang taruna, komunitas ibu-ibu pengusaha, dan lain sebagainya. Motif dan warnanya menyesuaikan dengan kepentingan dan kebutuhan mereka. Semua desain yang kubuat lebih banyak meniru alam, semacam flora fauna, yang distilasi sedemikian rupa, lalu diberi pemaknaan atau lebih kerennya nilai filosofis yang terkandung dibalik simbol-simbol yang diambil, bisa bunga, kupu-kupu, gunung, matahari. Apapun objeknya dibentuk dan dikomposisikan sedemikian rupa, agar menarik kemudian diulang-ulang.
            
Aku masih tiduran di kamar depan, badanku sedikit capek karena habis perjalanan jauh. Jari-jari tanganku masih berwarna merah, sarung tangan yang aku pakai untuk mencelupkan pada ember saat proses pewarnaan sedikit robek, jadi air pewarna masuk ke dalam sarung tangan, mengenai tanganku. Sebenarnya dari tanganku yang masih ternoda warna batik, seharusnya dari situ saja sudah cukup tahu bahwa aku baru saja menjadi tutor membatik seperti biasanya, dan tidak usah dibikin ribut. Apalagi di tambah dengan pemikiran negatif dan rasa cemburu yang berlebihan. Sebab jelas-jelas ada bukti nyata kalau aku memang pulang dari kerja. Bahkan amplop honornya pun seperti biasa, masih utuh belum kubuka, sudah kutaruh di meja.
            
Aku sudah hafal betul, kalau ada yang aneh dengan istriku. Misal, kalau aku lagi istirahat dia lalu lalang di dekatku, atau kalau jalan suara langkahnya dibuat-buat agar terdengar jelas, jika aku tetap tidak menghiraukannya, maka dia akan dengan sengaja menendang benda-benda yang ada di lantai: seperti sapu, bak sampah, botol. Apapun, yang penting bisa membuat suara gaduh. Aku tahu dia hanya butuh uang, perhatian, disapa, ingin dianggap berguna dan ada. Seharusnya dia tahu kalau aku butuh istirahat juga. Apa mungkin dia kangen karena aku tinggal tiga hari pergi? Ah tidak ah, norak!
            
“Kamu tidur di hotel ya? Ayo ngaku dengan siapa?” dia berkacak pinggang di pintu. “Lihat nih, Hotel Helios!” katanya sambil menunjuk tulisan di bungkus sabun yang masih utuh. “Jawab! Kau tidur dengan siapa?”
            
Sabun itu dilemparkannya ke tempat tidurku lalu pergi. Sambil tetap tiduran aku meraihnya, aku baca; Hotel Helios, Jalan Proklamasi No. 42 A. Aku tersenyum. Aduh! Gumamku dalam hati. Kenapa aku lupa kalau istriku itu pencemburu, ini hanya masalah sabun yang sengaja aku bawa dari hotel, (emang biasanya aku tidak pernah membawa apapun dari rumah. semua sudah disediakan hotel: peralatan mandi, seperti sabun, shampoo, sikat gigi, dan lain-lain, toh ini juga masih utuh, masih baru). Aku jadi ingat bahwa yang memasukkan sabun ke tas pakaianku itu Dewi. Dia ke kamarku, dan aku masih tidur, dia bilang: “Sabunnya dibawa ya? Saya lipatin di handuk”. Aku hanya bilang: “Ya”., dan melanjutkan tidur lagi. Entah apa yang dia maksud dan kenapa dia memasukan sabun itu dalam tasku, aku tidak tahu. Biasanya aku tidak pernah membawa barang apapun dari hotel. Aku takut banyak pertanyaan yang mengalir dari hati istriku yang selalu panas, apalagi kalau sampai menyebut nama perempuan. Ah semoga Dewi tidak ada maksud apapun dengan sabun itu, bathinku,  aku saja yang lupa, seharusnya aku bilang: tidak usah!
            
Sudahlah. aku tidak perlu risau, karena kepergianku adalah kerja, dan aku melakukan pekerjaanku dengan sungguh-sungguh. Itulah sebabnya aku sering dipercaya untuk mengisi berbagai acara. Biarlah, amarah dan rasa kecemburuan itu memanas di benaknya, sebab dengan kata apapun aku tak mampu meyakinkannya. Membiarkannya adalah jalan terbaik, sebagaimana air yang keruh, cukup didiiamkan saja. Nanti juga akan jernih kembali.
            
Aku membalik posisi tidurku dan mendekap bantal. Sabun yang masih tergeletak di sampingku tidak kuhiraukan. Pelan-pelan aku mengatupkan mataku, melipat kaki dan menelusupkan tanganku di sela-sela paha, udara masih dingin. Telingaku masih mendengar suara-suara, serta pikiranku seolah mengikuti langkah kaki istriku. Anak-anakku tidak pernah ada yang ikut campur, mereka asyik dengan kesibukan dan kegiatannya sendiri. Aku mendengar bunyi hp-ku, ada yang sengaja memutar unggahan video, kemudian dengan cepat dimatikan, seolah tak ingin tahu kelanjutannya atau takut aku mendengar apa yang dia putar. Sekali lagi aku sudah hafal, kalau habis pergi yang dibongkar pertama kali adalah tas, lalu hp diotak-atik, hanya untuk mencari informasi tentang apa yang sudah aku lakukan. Dulu pernah dia menemukan sesobek kertas berisi puisi. Hampir dua hari marah-marah, bertanya terus tentang isi puisi itu, tanyanya, untuk siapa? Kalau tidak ada kedekatan tentu tidak bisa membuat puisi sebagus ini, katanya, aku saja tidak pernah dibikinkan puisi. Lalu merobek-robek kata-kata itu dan dilemparkannya ke udara. Ah banyak sekali peristiwa-peristiwa unik dalam hidupku yang hanya di dasari oleh rasa cemburu. Seperti puisi tadi misalnya, bahwa aku menulis puisi sebagai hayalanku belaka. Sudah kuterangkanpun tetap tidak percaya. Diapun tetap melarangnya, dia  bilang dari hayalan nanti jadi kenyataan,
            
Beberapa kali aku mendengar suara hp diputar, bunyi digit-digit yang ditekanpun terdengar. Pikiranku menerawang menyusuri lorong ingatan dari peristiwa-peristiwa saat tiba di lokasi pelatihan, memasuki ruangan hotel, mengisi acara, sampai jalan-jalan berwisata setempat. Aku mengingatnya dengan detail, serta foto-foto yang dikirim selama acara via WA. Sepertinya sudah ku delete semua yang ada foto perempuannya. Kalau sampai melihat foto berdua, apalagi lebih cantik darinya, habislah hpku, pasti dibanting. Namun jikalau itu foto bersama, dia hanya sekedar bertanya, ini siapa? Orang mana? Sambil membayangkan jauh atau dekat jarak rumahnya.

Setelah yakin betul dengan ingatanku tentang hp yang lagi ditangan istriku bahwa semuanya aman, ketika dilihat foto-foto saat dihotel, mengisi acara hingga jalan-jalan tak ada yang mencurigakan, aku mau melanjutkan tidurku. Aku sudah banyak belajar bersabar, belajar memahami pikiran dan perasaan orang lain. Meski kadang juga terasa berat jika kusampaikan tetap disanggahnya.

Ada sebuah peristiwa yang masih kuingat lima tahun lalu, waktu awal-awal pernikahan. Dia bermimpi katanya aku pergi dengan seorang perempuan, teman kuliahku. Dalam mimpinya, dia melihat semua yang aku lakukan, bahkan mampu menceritakan dengan detail. Mulai dari pakaian yang kami pakai, lokasi pantai yang kami kunjungi bahkan sempat menyebut salah satu hotel. Gilanya, aku harus mengamini dan mengakui mimpinya. Hmmmm….
***
            
Aku terbangun sekitar pukul 13.00 siang. Badanku sedikit enak, meski ada terasa pegal-pegal di kaki. Mungkin efek jalan-jalan ke pantai kemarin bersama Dewi dan ditemani oleh panitia. Kami menghabiskan waktu dengan melihat-lihat pemandangan, suasana kota, hingga ke beberapa tokoh adat, sekedar untuk mendengarkan petuah dan cerita. Setidaknya banyak bertemu orang yang berbeda banyak pula pengalaman yang didapat.
            
Aku masih duduk di bibir tempat tidur, menenangkan pikiran sesaat sambil mengoyang-goyangkan kaki agar siap dan kuat berdiri. Aku menoleh ke dekat bantal, sabun dari hotel itu masih tetap di situ, tidak berubah. Aku bisa memastikan selama aku tidur, istriku tidak masuk kamar. Tidak ada suara gaduh lagi dari istriku, mungkin semua sudah kembali seperti semula, baik-baik adanya.
            
Aku melangkah ke kamar mandi untuk cuci muka dan buang air kecil. Aku melihat pakaianku masih utuh, berserakan di ember belum dicuci. Aku melihat hp sudah dicharge. Mungkin istriku terlalu lama memeriksa isi hpku, mulai dari chat hingga folder-folder yang berisi foto-foto, itu biasanya. Amplop masih di meja namun sudah terbuka. Aku hitung jumlahnya masih utuh, belum ada yang diambil uangnya, selembarpun. Aku berjalan menuju ruang depan, dua anakku sudah berdandan rapi bersama istriku, mereka semua seperti sedang menunggu aku.

“Pak, aku mau ke mall!” kata anakku yang kecil.
“Saya juga Pak!” sahut kakaknya. 

Istriku hanya tersenyum, daftar belanja itu diberikannya padaku. Aku tidak banyak berpikir, amplop di meja itu kuberikan semuanya. Anak-anak gembira, mereka berpamitan pergi ke mall. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang mau mereka beli, yang penting mereka bisa bahagia. Aku masih berdiri di pintu hingga mereka semua hilang dari pandangan.
            
Aku sudah tidur 3 jam, kataku dalam hati, sambil berkehendak untuk mandi dan minum kopi, serta memikirkan beberapa pesanan desain batik yang belum kuselesaikan. Aku harus kerja, kerja, dan kerja, gumamku. Aku mengambil handuk, meraih sabun dari hotel yang tergeletak di tempat tidur, lalu pergi ke kamar mandi. Kunyalakan kran, kuatur pemanasnya, dan kutaruh air sebanyak-banyaknya di bathtup. Aku ingin berendam, bermain air sendiri, 25 menit kemudian kuraih sabun yang kutaruh di samping kran. Ku lepas bungkusnya. Ketika aku menggosokkan sabun itu ke punggungku, tiba-tiba aku ingat Dewi. Dengan singap kuambil bungkus sabun itu, kuamati dan kubaca lagi: Hotel Helios.


Kulon Progo: 4 Agustus 2019

Biodata:
L Surajiya, lahir di Kulon Progo, 5 Juli 1974, alumnus ISI Yogyakarta ini aktif melukis dan menulis, pamerannya sejak 1993 sampai sekarang di dalam dan luar negeri, menulis beberapa buku kumpulan cerpen dan puisi, serta pernah mendirikan MAKNA media para perupa, kini bergiat di satra rupa Api Kata Bukit Menoreh, menjadi redaktur Republik Seni Jogja, dan selain menjadi pendidik seni rupa, kini menggelola Studio Gunung, serta menjaga perpustakaan "Sinar Ilmu" di SD Negeri Jetis, Pendoworejo Girimulyo Kulon Progo DIY.

Senin, 06 Juli 2020

Mengenal Seniman Akhmad Jasimul Ahyak

Akhmad Jasimul Ahyak (Foto: apoymadura.com)

Catatan: Yant Kaiy
Warga Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Madura sudah mengenal Akhmad Jasimul Ahyak sebagai seniman kontemporer. Ia mengawali karier seninya sebagai perupa.

Kami saling mengenal sejak di bangku SMAN 1 Ambunten Kabupaten Sumenep. Setelah lulus SMA, saya menggeluti dunia sastra, sedangkan Akhmad Jasimul Akhyak menggeluti seni lukis. Kami berbeda arah tapi satu jurusan.

Saat ini, disamping kesibukannya mengajar di Madrasah Aliyah Itmamunnajah Pasongsongan dan menulis di apoymadura.com, beliau juga disibukkan undangan melukis dinding sekolah dan taman baca di beberapa kantor pemerintah dan swasta. Beliau juga kerapkali diminta membuat taman pada rumah-rumah pribadi dengan tidak meletakkan tarif terlalu tinggi.

Baginya jadi perupa adalah bagian melatih mental sabar dan bersyukur terhadap Ilahi atas bakat yang diberikan kepada dirinya. Kalaupun dia mau bayaran mahal tentu itu amat mudah. Tapi batinnya selalu berontak. Maka dia lebih memilih tarif bersahabat tapi costumer merasa puas dengan hasil kreativitasnya.

Di masa liburan sekolah saat ini, Jasimul (panggilan akrabnya) ramai dengan job melukis dinding ruang kelas. Setelah selesai SDN Pasongsongan I, kini giliran SDN Pasongsongan IV yang ia garap.  Barangkali dengan lukisan dinding penuh edukatif karyanya, peserta didik menjadi bergairah lagi dalam menimba ilmu.

Koleksi Puisi
Disamping mengoleksi lukisan karyanya yang terpajang rapi di kediamannya Dusun Lebak Desa/Kecamatan Pasongsongan-Sumenep, Akmad Jasimul Ahyak acapkali menuangkan koleksi puisinya yang dipublikasikan oleh apoymadura.com. Totalitasnya dalam berkarya sangat menakjubkan. Tak terbersit dalam hatinya untuk mencari popularitas atau materi.

Maka tidak heran kalau ia sering dipercaya menjadi ketua panitia di beberapa event kesenian di Sumenep. Jasimul juga mempunyai jaringan (komunitas) sangat luas dalam kegiatan seni.

Potret kehidupan menjadi tema yang sangat disukainya dalam menuangkan karya-karyanya. Terlihat jelas kreativitas Jasimul dalam karya-karya puisinya.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...