Kamis, 11 Juni 2020

Dibalik Masker Tercium Bau Busuk



 Cerpen: Akhmad Jasimul Ahyak

Selembar cinta perempuan tua kini kian mengusang, dia adalah nenek Sumenten yang hidup kesendirian hanya bersama setumpuk sampah di sudut ruang jalanan yang mengabu.

Pagi ini rembulan tinggal separuh. Wajah si nenek tua mulai terlihat kusam dengan kotoran debu yang menyapu keriput kulit tuannya. Ia duduk di bawah ranting pepohonan yang jadikan ia rumah untuk berteduh, hanya dari sampah dan barang bekas yang terbuang di pinggiran kota ia mengatur hidupnya.

Sekejap ia melihat hasil barang bekas yang dikumpulkan dan masih belum banyak untuk dijual, kembali si nenek menghirup aroma pagi dalam-dalam sambil mempersiapkan karung tempat barang bekas yang sudah ia dapat nantinya. Mereka masih termangu, berdiri sambil melihat matahari yang mulai agak meninggi. Nenek pun siap-siap mau pergi ingin mencari nafkah demi sesuap nasi.

Ia berjalan dengan kantong yang ia gantungkan di pundaknya, lalu kembali menyusuri jalanan tanpa beralaskan kaki. Desa demi desa, rumah demi rumah sampai ke gang-gang kecil pun ia singgahi, mereka tidak mengingat tentang adanya virus corona yang akhir-akhir ini menggoncang seluruh dunia. Bahkan ia tidak tau di setiap pintu masuk desa sudah berdiri posko-posko covid-19. Pada setiap pintu masuk desa, orang diwajibkan memakai masker. Hal ini mengherankan karena nenek Sumenten tidak memakai masker malah di setop oleh petugas di suruh membeli masker padahal mereka si petugas sudah tau bahwa nenek Sumenten adalah seorang pemulung. Untuk makan ia sudah kekurangan apalagi mau beli masker. Lantas kenapa pas waktu itu tidak dikasih masker gratis.

Dengan semangat serta rasa lelahnya tidak boleh sia-sia, maka dengan terpaksa si nenek pun membeli masker dengan sisa uang pas-pasan yang ada di kantong sakunya hanya untuk bisa masuk ke desa-desa ataupun ke gang-gang demi mencari barang bekas pengganti makan setiap harinya. Ia harus pulang membawa hasil, hanya itu yang ada dalam benak Sumenten. Tapi sayang, raga rentanya justru tak sepaham dengan keinginannya. Kakinya mulai lelah melangkah maka ia mulai berhenti dan istirahat di depan warung kecil di pinggir jalan.

Ia menyeka keringat yang mengalir di wajahnya, kini nenek Sumenten wajahnya berubah menjadi pucat, ia merasakan bahwa perutnya sedang lapar karena mulai pagi hingga terik matahari ia masih belum makan. Untuk beli nasi di warung uangnya sudah tiada hanya demi masker yang sudah ia beli.

Di balik masker nenek Sumenten tercium bau busuk karena seharian mulutnya tidak makan dan tidak minum sampai ia terjatuh hingga nyawanya melayang. Hanya demi harga masker mereka sudah meninggal, sebab ia di buat busuk oleh ucapan petugas yang membusuk hingga kematiannya di vonis bahwa terkena virus covid-19.

Inilah yang disebut kebijakan setengah ngantuk!

Pasongsongan, 2020



Akhmad Jasimul Ahyak, guru di MA Itmamunnajah
Pasongsongan-Sumenep.

PAN: Mobil tak Berpenumpang

Hairul Anwar,ST,MT.


Opini: Yant Kaiy


Sangat disayangkan SK DPP Partai Amanat Nasional (PAN) No.PAN/A/Kpts/KU-SJ/030/IV/2020 tertanggal 17 April 2020 jatuh ke salah satu pasangan Pilkada Sumenep, Achmad Fauzi dan Dewi Khalifah (Fauzi-Eva). Padahal pasangan yang sudah mengantongi rekomendasi dari DPP PDIP ini bukan merupakan kader PAN. Dan keduanya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kantor partai berlambang matahari.

Kejanggalan ini menurut para pengamat politik justru akan sangat merugikan DPD PAN Sumenep. Sebab orang yang semestinya mendapatkan rekomendasi dan sudah banyak berkarya nyata buat PAN justru dia digulingkan. Dia adalah Hairul Anwar, kader terbaik perintis DPC PAN Kecamatan Pasongsongan (1998) dan Ketua DPD Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM-PAN) Sumenep.

Sikap kecewa pendukung Hairul Anwar akhirnya menyatukan tekad dan berjamaah menggalang kekuatan untuk berpaling dari Surat Keputusan DPP PAN. Mereka dengan kesadaran penuh berkiblat para arah politik Hairul Anwar.

Ini wajar karena sebelumnya hasil rapat pleno di DPD PAN Sumenep disepakati bakal mengusung Hairul Anwar. Kini, sebagian besar DPC PAN tidak akan tunduk-patuh pada SK DPP PAN tersebut. Hal ini berdasar dari wujud kekecewaan.

Para pengamat politik menggambarkan keberadaan DPD PAN Sumenep sekarang ibarat mobil yang (mungkin) tidak ada penumpangnya.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Rabu, 10 Juni 2020

Koruptor Adalah Maling



Opini: Yant Kaiy

Mari mengingat kembali tentang apa itu “maling”.

Dalam berbagai kamus di terangkan, makna maling adalah orang yang mengambil milik orang lain (bukan haknya) secara sembunyi-sembunyi.

Sekadar menyegarkan kembali ingatan kita tentang maling. Perilaku maling merupakan perbuatan zalim dan digolongkan sebagai dosa besar. Pelaku maling ganjarannya neraka. Anak-anak kita tentu sudah diajarkan akhlak terbaik, tidak boleh mengambil barang milik orang lain.

Dalam Islam diterangkan hukuman bagi seorang maling. Allah SWT berfirman: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Maidah:38).

Andai saja hukum ini berlaku di Indonesia, barangkali banyak sekali orang kehilangan tangannya. Termasuk para pejabat negara, pencuri uang milik rakyat. Negara menjadi miskin dan semakin banyak hutangnya akibat duit yang sejatinya untuk kesejahteraan dan pembangunan serta kemakmuran bangsanya justru dicuri. Kasihan sekali. Apalagi hukum di negeri ini tajam ke bawah, tumpul ke atas.

Sudah mendapat gaji cukup masih jadi maling. Mereka bukan orang tidak beragama. Mereka merupakan orang berlabel terpelajar, berpendidikan tinggi. Tapi mereka tergoda kesenangan dunia. Para maling itu tidak takut Tuhan, tapi takut lapar. Takut tidak kebagian.

Lebih menjijikkan lagi, para pegawai di daerah yang mengemis uang tips. Bila ada masyarakat kecil mengurus sesuatu, biasanya akan begitu lama kalau lewat prosedural. Tapi kalau ada uang pelicinnya langsung selesai saat itu juga. Inilah realita di bawah.

Lebih menyedihkan, kalau ada dana bantuan bagi kaum duafa, pemangku kebijakan masih mau menyunat uang bukan haknya. Subhanallah. Bahkan dana bantuan bencana mereka makan bersama istri dan anaknya. Dasar mental maling.

Semoga kita yang berpikiran waras tidak ikut-ikutan jadi maling agar surga akhirat rindu kita.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Nyai Agung Madiya, Panglima Perang Wanita Sumenep



 Opini: Yant Kaiy

Barangkali sebagian besar masyarakat Kabupaten Sumenep tidak tahu tentang siapa Nyai Agung Madiya. Wajar karena tidak ada literatur yang mengupas tentang panglima perang wanita pemberani satu-satunya yang dimiliki Kerajaan Sumenep.

Dimasa kekuasaan Raja Bindara Saod (Raja Sumenep ke-29), memberi titah kepada Nyai Agung Madiya untuk menumpas tentara kolonial Belanda yang menyerang Kerajaan Aceh. Hal itu atas permintaan Kerajaan Aceh kepada Raja Sumenep karena pasukan Belanda sudah mengepung dan hampir menguasai bumi Aceh.
 
Surat tanah yang diberikan Raja Sumenep
kepada Nyai Agung Madiya.
Singkat cerita, Panglima Perang Kerajaan Sumenep Nyai Agung Madiya dan pasukannya berhasil membawa pulang kemenangan cemerlang. Maka sebagai bentuk penghargaan dari Raja Bindara Saod kepada Nyai Agung Madiya, Sang Raja menghadiahi tanah sangat luas lengkap dengan surat tanahnya. Tanah hadiah raja itu terletak di Dusun Pakotan Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Jawa Timur.

Siapa sebenarnya Nyai Agung Madiya itu? Beliau adalah putri Tercinta Syekh Ali Akbar Syamsul Arifin.

Syekh Ali Akbar merupakan tokoh penyebar Islam di pesisir utara Pulau Madura. Jasanya luar biasa besar bagi perkembangan Islam di Kabupaten Sumenep. Beliau wafat pada tanggal 14 Jumadil Akhir 1000 H dan mempunyai 7 keturunan, diantaranya:

1. Kiai Huda/Ju’ Sarep Seppo
2. Kiai Kendal/Ju’ Hasan
3. Kiai Aulia/Ju’ Amrun
4. Kiai Lembung/Ju’ Baroya
5. Kiai Kosir/Ju’ Jangguk
6. Nyai Agung Madiya
7. Nyai Agung Singrum/Nyai Ahmad.

Catatan silsilah Syekh Ali Akbar ini terdapat pada para keturunannya yang ada di sebagian besar wilayah Desa Pasongsongan. Sedangkan makam Nyai Agung Madiya dan Syekh Ali Akbar ada di areal pekuburan Dusun Pakotan Desa/Kecamatan Pasongsongan Sumenep.

Semoga Pemkab Sumenep bisa memberikan atensi besar terhadap keberadaan kedua tokoh bersejarah tersebut di masa yang akan datang. Kalau bukan kita siapa lagi.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com


Selasa, 09 Juni 2020

Juniku Memerah




Cerpen: Akhmad Jasimul Ahyak


Esok pagi, salam menitip senyum pada dedaunan yang basah, kucoba mencuri ingatan di keheningan jelaga yang tumpah di ujung lelah. Terlintas bayang senyum si Junita seperti menyapa dikala aku merebah di pembaringan yang resah. Aku pun bergegas membuka jendela kamar dan terlihat tentang pagi yang indah, fajar pun menyinari di pangkuan semesta yang tak pernah salah. 

Kutengok sejenak ke luar jendela sebelum bertatap dengan layar ponsel, di mana tanah gersang sedang tertutupi peluh yang sedang kedinginan. Kini aku teringat pada kekasih yang dulu pernah menitip senyum pada kecupan matahari hingga menyentuh bibir kaca jendelaku.

Kini aku teringat kembali pada lembaran yang telah usang, di mana kekasih “Junita” saban pagi, sebelum berangkat kerja dia selalu mengajak ke sawah mengantar suatu hidangan buat makan ayahnya yang lagi sibuk bekerja di kebunnya sendiri, kadang aku membantu pekerjaan ayahnya.

Kala malam begitu gelap, kadang pikiranku menguatkan luapan rasa kerinduan pada Junita, dengan harapan kelak aku bersanding bersamanya bernaung dalam satu atap. Aku hanya bisa berdo'a karena takdir dan jodoh Sang Maha Kuasa yang mengatur semuanya, sebab dalam putaran detik dan waktu pikiran manusia pasti berubah melawan arah. Semoga cinta kita tumbuhkan harap yang terbentang, buahkan jiwa penuh kedamaian.

Luapan kasih, masih terombang-ambing dalam peluh asih, biduk asa yang ku pijak bukan lagi sebuah rasa. Dikala raut wajahmu memudar, kalang kabutku menjadi sebuah tanya bisakah cintaku tertanam dalam hatimu selamanya?.

Di bawah langit malam di ponselku kau melepas Senyum, sapa dan candamu menguatkan asa yang sempat terkubur. Lalu kita sama-sama saling ucap “Mendayung malam sekilas terlihat engkau, menguntum ranum seperti bulan, sunyi terpecah-pecah dari pantulan cahaya mataku yang gelisah”. Kini aku masih terkapar di pembaringan, menatap langit-langit kamar kesendirian mendekap tabah seraya menanti mimpi yang meneduhkan tidurku.

Kali ini bulan Juni menyapaku, sudah genap satu tahun Junita terbenam dalam cinta asmara yang sudah lama menjadi kekasih dalam hidupku. Pagiku kini mengejar siang. Petang, menanti sore tenggelam senjapun membalut rindu, junita saat ini tak ada kabar untukku, yang ada hanya rasa kangen begitu merindu. 

“Coba aku telpon” kataku dalam hati, tatkala aku hubungi kenapa dia tidak mengangkat telponnya. Kini aku bagaikan orang asing di matanya, dengan rasa penasaran aku coba lewat sms, selang beberapa menit dia membalas dengan singkat “Mas aku lagi sibuk” jawabnya.

Junita kini berduri rindu, tajam menusuk hati meluluhlantakkan cinta suci di garis waktu hingga tak berbentuk. Aku selembar daun yang menunggu jatuh kering dan menguning, akan tiba saatnya ranting melepasku terbang dan tebuang bagaikan sampah. Tenyata di belakangku dia menjalin hubungan dengan seorang pengusaha duda, kaya raya dan punya anak dua.

Pas di bulan Juni cintaku memerah, mingguku layu, lusaku usang berantakan bak renyahnya pecahan kaca, kau tinggalkan serpihan kisahku hingga berakhir tanpa bekas. Lama sudah aku jahitkan rasa sabar dalam penantian hanyalah untuk sekedar menantikan sebuah simpulan. 

Tapi engkau “Junitaku” lebih memilih harta daripada cinta suci yang telah tertanam satu tahun lamanya.[]


Corona: Dugaan Mega Skandal Korupsi



Opini: Yant Kaiy

“Astaghfirullah hal adzim…” Itulah kalimat yang terlontar dari bibir masyarakat Dusun Sempong Barat Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Madura demi mengetahui dugaan mega skandal korupsi Covid-19. Beberapakali mereka mengelus dada. Ya, mereka selama tiga bulan ini bertahan dalam kemiskinan akibat hasil panen pertaniannya tidak ada yang membeli. Begitu pula hasil tangkap ikan para nelayan banyak dihargai murah akibat perusahaan pengolahan ikan menghentikan aktivitasnya.

Kegiatan keagamaan orang-orang di kampung banyak yang dibatalkan. Rakyat dipasung dengan ancaman bahaya Covid-19. Polsek, Koramil, Puskesmas, Kantor Kecamatan dan Kades bahu-membahu menurunkan personilnya melakukan himbauan tentang bahaya virus corona ke berbagai pelosok dusun. Kalau acara tetap ngotot digelar, risikonya sound-system, terop, dan dekorasi diturunkan secara paksa oleh mereka yang berbaju dan bergaji uang rakyat.

Wajar kalau rakyat kecewa terhadap pemerintah lantaran beberapa informasi sahih dari media massa terpercaya di bumi nusantara menerangkan, bahwa dana Rp 405,1 triliun yang sejatinya diperuntukkan penanganan Covid-19, ternyata dijadikan bancakan berjamaah para pejabat di rezim Joko Widodo. Sedangkan dana dianggarkan sebesar Rp 105 juta dan Rp 215 juta per pasien Covid-19 terkesan dipaksakan. Skandal ini menguak pasca RUU menjadi UU No.2 Tahun 2020. (Sumber: Dedy Umasugi, Wakil Direktur LBH).

Sebagai rakyat, kita akan menantikan klarifikasi, kejelasan dan terang-benderang dari pemerintah tentang dugaan mega skandal korupsi ini. Kita tetap percaya akan peribahasa: “Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga”.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Telikung Hairul Anwar di Pilkada Sumenep

Hairul Anwar (paling kanan) bersama para jurnalis.


Opini: Yant Kaiy

Tokoh muda yang peduli dan perhatian terhadap wong cilik kini sedang jadi perbincangan di jagad maya. Bahkan beberapa media online juga tak kalah seru memberitakan tentang sepak-terjangnya di dunia politik. Gaungnya sudah sejak lama terdengar kalau Hairul Anwar akan maju ke putaran sirkuit Pilkada Sumenep 2020.

Sosoknya familiar di setiap strata sosial kehidupan masyarakat luas, menyita perhatian lebih ketimbang tokoh publik lainnya di Sumenep. Karena selama ini ia tidak setengah hati berkiprah dan berkarya untuk kemajuan Sumenep. Mafhum kalau para rival politiknya kemudian dibikin keder. Meski basic Hairul Anwar sebagai seorang pengusaha, tapi soal hingar-bingar nuansa politik di tanah air ia tak mau kalah dengan para seniornya.

Namun sayang, terasa sekali adanya keanehan kalau SK DPP PAN tidak jatuh ke tangannya. Karena masyarakat luas sudah tahu, kalau Hairul Anwar adalah kader terbaik yang dimiliki PAN selama ini. Maka wajar bila ada sebagian besar pengamat politik ‘curiga’ jika langkah Hairul Anwar sesungguhnya ada yang menelikung. Kompetitor sangat tidak menghendaki ia masuk bursa kandidat di Pilkada Sumenep.

Pada Hairul Anwar ada poin lebih ketimbang bakal calon yang resmi akan maju ke Pilkada Sumenep. Popularitas, visi misi terarah dan jelas, dermawan, bersih dan amanah, berpolitik santun, punya atensi besar untuk bisa membawa Kota Keris Sumenep pada peradaban sejahtera, sangat dekat dengan para alim ulama dan tokoh penting di Madura. Itulah akumulasi poin tak terbantahkan dimiliki Hairul Anwar.

Dari sisi silsilah, dalam tubuh Hairul Anwar mengalir darah Syekh Ali Akbar Syamsul Arifin (penyebar Islam abad XV, wafat 14 Jumadil Akhir 1000 H). Syek Ali Akbar merupakan paman Raja Sumenep ke-29, Bindara Saod. Wajar kalau kemudian Hairul Anwar sangat dekat dengan para alim ulama yang ada di Madura.

Maklum pula kalau kemudian para pengagum (pendukung maniak) Hairul Anwar di berbagai pelosok daerah banyak yang kecewa terhadap Surat Keputusan DPP PAN ini.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Senin, 08 Juni 2020

Nasib PAN di Pilkada Sumenep 2020

 
Hairul Anwar, owner Goa Soekarno Pasongsongan-Sumenep.

Apoy Madura, Sumenep - DPP Partai Amanat Nasional (PAN) telah menetapkan keputusannya mendukung  pasangan  Achmad Fauzi-Dewi Khalifah (Fauzi-Eva) dalam kompetisi Pilkada Sumenep 2020 nanti. SK DPP PAN diterbitkan pada tanggal, 17 April 2020. Rekomendasi itu dirilis Sekretaris DPD PAN Sumenep, Hosaini Adhim.

Sedangkan Hairul Anwar yang digadang-gadang bakal mendampingi Fattah Jasin di Pilkada Sumenep selama ini luput dari atensi DPP PAN. Padahal Hairul Anwar memiliki potensi mumpuni bisa mendulang suara terbanyak. Rupanya DPP PAN memilih pasangan Fauzi-Eva yang jelas-jelas bukan kader PAN. Lucu memang. Tapi itulah wajah dunia politik di tanah air.

“Saya hanya terkejut mendengar keputusan itu. Padahal banyak orang tahu kalau Fauzi-Eva bukan kader PAN. Ini kan aneh. Ada apa dengan ini semua. Saya pun tak habis pikir,” terang Hairul Anwar di kantornya kawasan Jalan Basuki Rahmad Sumenep pada apoymadura.com. Senin (8/6/2020).

Lelaki yang lahir di Pasongsongan-Sumenep ini menambahkan, kalau dirinya tidak kecewa dengan SK tersebut. Karena dalam pencalonan ini Hairul Anwar tidak terlalu ambisius. Ia mengalir begitu saja, mengikuti proses seperti biasanya.

“Jujur, saya tidak punya prasangka buruk terhadap siapa saja, baik partai atau personal, bahwa langkah saya telah dijegal maju ke putaran Pilkada Sumenep kali ini. Biarlah waktu yang akan berbicara sebenarnya pada publik,” pintas owner obyek wisata Goa Soekarno Pasongsongan-Sumenep ringan dan ceria.

Saat ditanya kans dirinya maju di Pilkada Sumenep 2020.

“Kalaupun saya nanti tidak mendampingi Fattah Jasin, saya akan tetap konsisten mendukungnya. Batin saya mengatakan, jikalau Fattah Jasin adalah calon pemimpin Sumenep terbaik. Inya Allah Sumenep akan mencapai kemajuan luar biasa bila berada di bawah kepemimpinannya. Saya hakkul yakin itu,” tandas Ketua BM PAN Sumenep.


Hairul Anwar sebagai perintis DPC PAN Kecamatan Pasongsongan (1998) juga melontarkan terang-terangan kepada awak media massa, kalau dirinya percaya Fattah Jasin bakal memenangkan pertarungan Pilkada Sumenep 2020. (Yant Kaiy)

Minggu, 07 Juni 2020

Virus Eksklusif



Opini: Yant Kaiy

Saya mempunyai teman masa kecil di Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Madura yang sekarang jadi orang sukses. Dulu dia hampir sejajar taraf hidup keluarganya dengan kami. Sama-sama berada di bawah garis kemiskinan. Karena punya jabatan penting, sekarang orang-orang mengultuskan dia sebagai manusia terhebat, terbaik, dan terpuji.

Dia menjadi inspirasi bagi banyak warga di wilayah kami, bahwa kemiskinan tidak menutup jalan sukses bagi siapa saja yang hendak berikhtiar. Ada aura menyinari alam pikiran mereka kalau kelemahan menjadi daya pemicu menggapai impian selama hayat di kandung badan.

Ketika saya bersilaturrahmi di Idul Fitri 1441 H kemarin, ternyata para tamu di rumahnya sudah banyak. Dari sudut mata batin saya, ada perbedaan mencolok dalam sikap dan nada bicaranya. Dia seperti orang bijak bercampur sok pintar. Performanya berwibawa, berbeda jauh tatkala kami masih satu sekolah dulu. Bagi saya fenomena seseorang yang sukses lumrah mengalami metamorfosa demikian.

Ada sesuatu yang tidak wajar saya temukan darinya. Dia pun mulai terpapar virus eksklusif. Sungguh sangat disayangkan, sehingga diantara kami kurang intim dalam menuangkan kebersamaan seperti masa silam.

Ternyata komentar saya dan teman-teman senada tentang dia.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Pengaruh Media Massa



Opini: Yant Kaiy

Serbuan arus informasi dari berbagai media massa telah mempengaruhi suasana kehidupan masyarakat saat ini. Terutama informasi instan dari media sosial lewat teks singkat dan gambar menarik. Gempuran kabar itu terus mendobrak sisi sosial budaya tanpa henti. Apalagi kanal tersebut terbuka lebar sehingga tanpa kenal waktu menyeruak hebat ke sudut-sudut ruang hidup manusia. Apalagi hampir setiap orang sudah punya smart-phone.

Maka wajar kalau info telur rebus penangkal virus corona dan meteor jatuh sempat menghentak dan membelalakkan mata kita di bulan kemarin. Orang tanpa dihimbau sontak berjamaah, terutama di sebagian wilayah Jawa Timur. Mereka mengikuti anjuran hoaks dan tak masuk akal dengan ikhlas hati.

Adalah kebimbangan yang membuat masyarakat berperilaku demikian. Ada ketidakpercayaan terhadap ucapan para tokoh yang membuat mereka mencari informasi pasti. Sebab mereka seolah jenuh dengan serbuan informasi simpang siur, memberondong setiap menit pada setiap desah napasnya.

Masyarakat menjadi rentan terjangkit info hoaks, lantaran mereka sebelumnya telah terkontaminasi berita yang disangkanya benar, namun ternyata kabar bohong menyakitkan hati.

Ada pula info dari para pejabat kita, kalau mengurus surat-surat penting itu mudah diperoleh. Tetapi, realitanya sulitnya setengah mati mendapatkannya. Akan cepat selesai jikalau ada uang pelicinnya. Padahal pejabat itu sudah dapat gaji, masih minta uang tips.

Kebohongan-kebohongan ini pula yang mempengaruhi pikiran masyarakat, sehingga tak ada keniscayaan di benak mereka dalam menangkap informasi.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Sabtu, 06 Juni 2020

Jurus Politik Pemimpin Indonesia


Opini: Yant Kaiy

Tidak di pemerintahan pusat saja yang mengaplikasikan jurus “tebar pesona bantuan”, di pemerintahan daerah juga ikut-ikutan jurus cerdas ini. Jurus yang mampu menghipnotis warga masyarakat menjadi adem ayem. Tidak ada gejolak meledak dahsyat karena berjuta tuduhan akan menghadangnya. Undang-undang telah dipersiapkan menelikung gerakan politik berseberangan tersebut.

Padahal kalau dipikir, bangsa kita terdiri dari orang-orang bertitel pakar. Tapi barangkali mereka telah terkontaminasi lingkungan buruk sehingga jalan pikirannya jadi picik, sempit. Wawasannya tidak normal lagi. Apalagi kalau kecerdasan itu tidak diimbangi akhlak mahmudah.

Bisa jadi sisi kemiskinan membuat mereka terbawa arus, lantaran mereka butuh tambang untuk naik ke sisi jurang. Jelas balas budi merupakan perbuatan terpuji jika kelak punya jabatan. Sehingga kebijakan menjadi alternatif menolong mereka yang pernah mengangkisnya.

Maka dipoleslah kebijakan itu menjadi langkah politik apik. Agar tidak kentara permainan “kotor” mereka, jurus bantuan tumpang-tindih dipersembahkan kapada rakyat. Anehnya, rakyat menyambut kebijakan bantuan berkostum peduli sebagai penyelamat instan.

Mereka tak sadar, bantuan itu diambil dari APBN yang diolah sedemikian cantik. Bukan duit pribadinya. Hebat. Testimoni bantuan tanggap bencana itu sukses mencuci kelicikannya. Diboronglah berbagai media massa untuk mempublikasikan topeng moral berwibawa.

Mungkin suudzan ini bisa ditangkis dengan seribu satu argumen. Tapi baunya akan tercium juga. Hanya tinggal menunggu waktu saja.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...