Sabtu, 06 Juni 2020

Menciptakan Lapangan Kerja



Opini: Yant Kaiy

Ada artikel yang dipublikasikan di media massa menarik hati saya belakangan ini. Bahwa anak muda jaman now jangan punya wawasan kuno dan kampungan, terutama para lulusan sarjana. Para remaja itu sejatinya bisa menciptakan lapangan kerja, bukan mencari kerja. Atau lebih sedihnya, jangan mengemis kerja kepada pemerintah.

Lantas apakah keliru rakyat mengharap kerja kepada pemerintah?

Lalu saya mencoba berpikir bijak tentang konsep ini. Saya teringat akan salah seorang warga Indonesia yang memiliki otak briliant, Ricky Elson yang diterima kerja di perusahaan pengembangan otomotiv listrik di Jepang.

Ricky Elson berhasil mematenkan 14 penemuan di lembaga paten Jepang. Gajinya lebih dari cukup dan kariernya cemerlang. Anak tamatan SMA di Padang ini langsung sekolah di Jepang. Ia mendapat penghargaan luar biasa di Negeri Sakura.

Namun karena diajak pulang ke Indonesia oleh seorang menteri BUMN, Dahlan Iskan, untuk mengembangkan kendaraan listrik di Indonesia. Adalah sifat nasionalisme tinggi yang dimilikinya, ia pun balik ke bumi nusantara.

Hidup berkecukupan di Jepang, tapi kemudian sengsara di negeri sendiri karena lapangan kerja tidak ada. Seiring sang menteri negara itu lengser dan berhenti dari jabatannya. Sayang sungguh sayang. Keahliannya tidak terakomodir dengan baik oleh pemerintah Indonesia.

Pertanyaannya, kalau modal uang tidak ada, tempat usaha tidak punya, pemenuhan kebutuhan hidup keluarga sehari-hari begitu sulit dan terjepit, berkutikkah pemiliki kecerdasan ini menciptakan lapangan kerja. Boro-boro, cari makan saja susah di negara sendiri.


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com 

Jumat, 05 Juni 2020

Melamar Kerja di Malaysia



Opini: Yant Kaiy

Saya menikah dengan gadis berasal dari Dusun Sempong Barat Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Madura. Orang-orang di dusun yang berbatasan langsung dengan Desa Bindang Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan umumnya banyak yang merantau kerja ke Malaysia.

Wajar kalau ada kata-kata dari negara tetangga itu sering terlontar dari bibir mereka yang pernah bekerja di sana. Seperti kata “teruk”, “awak”, “kereta”, “hospital”, “tauke”, “polis”. Saya pun jadi mengerti makna dari kata-kata itu lantaran sudah akrab berlaku di tengah masyarakat di lingkungan saya.

Lalu saya meningkatkan pertanyaan tentang cara melamar kerja di perusahaan kepada eks-TKI itu. Menurut mereka, kerja di Negeri Jiran itu sangat mudah. Kalau ada kemauan pasti ada ada jalan. Paling tidak semboyan itulah bagi orang yang mau bekerja. Lapangan kerja luas terhampar di negeri persemakmuran Inggris ini.

Masih menurut mereka, kalau mau melamar kerja tidak ada interview, tidak pakai surat lamaran kerja, dan tidak ditanyakan ijasah. Yang ada hanya disuruh mencoba atau mempraktekkan kerja yang bakal dihadapi. Cukup simpel dan masuk akal.

Jika dalam praktek lebih efisien waktu dan hasilnya bagus, langsung diterima kerja dengan gaji lebih dari cukup. Walau tidak memenuhi syarat standar yang ditetapkan perusahaan, mereka tidak perlu khawatir, pelamar tetap diterima asalkan mau tekun bekerja penuh kedisiplinan.

Saya jadi berpikir, andai ada perusahaan atau pabrik di Indonesia yang memberlakukan pelamar kerja begitu, tentu akan sangat lebih bijak.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com


PKI dan Satrio Piningit Weteng Buwono



Opini: Yant Kaiy

Organisasi mempunyai pengertian, yaitu sebuah wadah atau tempat berkumpulnya sekelompok orang untuk bekerjasama secara rasional dan sistematis, terkendali, terarah dan terpimpin untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan memanfaatkan sumber daya yang ada.

Misalnya organisasi yang bergerak dalam dunia bisnis. Yakni sekelompok orang atau group yang berkolaborasi bersama-sama demi mencapai tujuan komersil. Seperti oraganisasi lainnya, dalam dunia bisnis kelompok ini juga memiliki struktur yang nyata dan telah memiliki budaya kerja. Di sini sudah jelas, beda organinasi maka akan beda pula struktur dan tujuannya.


Organinasi terlarang di Indonesia
Ada beberapa organisasi yang keberadaannya dilarang berdasarkan Pasal 59 UU Nomor 17/2013 tentang organinasi masyarakat. Contoh organisasi itu adalah Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Satrio Piningit Weteng Buwono.

Ada lima alasan kenapa PKI tidak boleh ada di Indonesia. Dari aspek teologi, ideologi, sosial, politik, dan sejarah yang diajarkan paham ini sangat bertentangan dengan ajaran Indonesia sebagai negara demokrasi dan berideologi Pancasila. (Abdul Mun’in, Sekjen PBNU)

PKI didirikan pada 1923 oleh Musso dan kawan-kawan dan berkembang pesat di wilayah Jawa, menyasar kaum miskin sebagai calon pengikut mereka. PKI kemudian melakukan pemberontakan pada 1949 dan 1965, namun berhasil ditumpas TNI, dan akhirnya dilarang oleh pemerintah Indonesia.

Sedangkan Satrio Piningit Weteng Buwono dilarang karena menghalalkan seks bebas saat pengajian berlangsung, bahkan boleh ditonton oleh para anggotanya. Organinasi kecil ini dipimpin Agus Imam Solikhin yang bermarkas di Jakarta Selatan.

Sekarang kita bisa menakar timbangan “dosa” terhadap negara dan bangsa Indonesia antara PKI dan Satrio Piningit Weteng Buwono.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com


Kamis, 04 Juni 2020

Takut Tes Kesehatan



Opini: Yant Kaiy

Kita sudah banyak tahu kalau viru corona menyerang gejalanya adalah demam, batuk kering dan kelelahan. Sedangkan gejala serius yakni kesulitan bernapas atau sesak napas, nyeri dada atau rasa tertekan pada dada, dan hilangnya kemampuan berbicara atau bergerak.

Belakangan ini ada kecenderungan di tengah-tengah masyarakat kalau mengalami gejala demikian biasanya mereka takut mengecek kesehatannya di Puskesmas atau rumah sakit. Mereka takut divonis sebagai pasien Covid-19 oleh tim medis.

Terbayang di pikiran mereka: Penderita virus corona wajib menjalani karantina di rumah sakit, di kamar isolasi tak boleh ada pihak keluarga menjaganya atau mendampinginya kecuali tim medis. Kalau pun ia meninggal dunia penguburannya lewat protokol kesehatan.

Ketakutan-ketakutan inilah yang menyebabkan masyarakat enggan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Mereka seolah-olah tidak ikhlas kalau dikatakan dirinya meninggal dunia disebabkan Covid-19.

Betapa ironis memang apabila kematiannya tanpa mendapat upacara penghormatan terakhir dari pihak keluarga dan orang-orang yang mencintainya. Tak jarang pula mayatnya mendapat penolakan dari warga sekitar untuk dikuburkan di tanah kelahirannya. Ini tentu amatlah tragis.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Kisah Sepotong Roti



 Opini: Yant Kaiy

Dua hari yang lalu saya dapat cerita menarik via sosial media yang dikirim seorang teman. Ada seorang pengusaha Indonesia berkunjung ke Australia. Ia mampir ke sebuah toko roti. Ia membeli sepotong roti dan membayarnya. Tapi ditolak oleh penjual roti. Gadis remaja itu menjelaskan dengan ramah, kalau toko sudah tutup roti tidak boleh dijual. Roti itu akan diberikan kepada orang yang membutuhkan.

Sungguh luar biasa dan amat mulia. Kalau di Indonesia, gerai itu akan gulung tikar karena orang-orang akan menunggunya sampai tutup untuk mendapatkan roti gratis.

Teringat Mei 2020 kemarin, di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep saat digelontorkannya BLT Covid-19. Orang-orang kisruh karena sebagian penerima BLT ternyata orang yang tidak layak menerimanya.

Andai saja orang kaya penerima BLT itu memberikan pada yang lebih membutuhkan, sudah barang tentu ia akan menjadi mulia dan terhormat. Harga dirinya tidak akan tercemar. Namanya akan harum di mata masyarakat luas.

Mari mengaji kembali tentang kalimat bijak: “Tangan di atas lebih baik ketimbang tangan di bawah”. Budayakan rasa malu terhadap diri sendiri.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Rabu, 03 Juni 2020

Sudut Pandang Takabbur



Opini: Yant Kaiy

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tanpa disadari sering berperilaku takabbur. Karena tidak ingin ada di bawah angin dari pesaing kita, maka ada sifat takabbur dari perkataan dan sikap bahwa kita masih jauh lebih baik dari dia.

Saya mempunyai teman seorang pengusaha. Ketika menanyakan kabar teman kami yang sukses juga di bidang usaha yang sama dengannya, seketika teman saya itu bilang, bahwa hasil produknya lebih baik dari dia. Teman saya langsung membeberkan kualitas barangnya lebih tokcer ketimbang milik dia. Pokoknya barang punya teman saya itu paling top.

Saat itu saya baru mengerti kalau tujuan takabbur teman saya itu untuk meyakinkan orang lain agar barang dagangannya laku di pasaran. Tapi dalam batin saya, semestinya ia tidak menjelekkan barang orang lain.

Arti takabbur (sombong) ialah sikap membanggakan dan membesar-besarkan diri di hadapan orang lain, tak pernah merasa bahwa dirinya punya kekurangan dari orang lain.

Allah SWT. berfirman: “Dan janganlah kamu berjalan di atas muka bumi ini dengan sombong…” (Q.S. Al-Isra’[17]: 37).

Semoga kita terhindar dari sifat takabbur yang saat ini hampir kabur antara promosi diri dan tinggi hati. Tapi batin manusia tetap bisa membaca situasi dalam kepribadian seseorang.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Selasa, 02 Juni 2020

Rawat Inap Therapy Banyu Urip International Yogyakarta

CEO Therapy Banyu Urip International, MS.Arifin sedang
memberi pengarahan kepada para rekan kerjanya.


Apoy Madura, Yogyakarta – CEO Therapy Banyu Urip International, M.S. Arifin kemarin menayangkan video pendek lewat sosial media, bahwa bagi pasien dari luar negeri dan luar kota tidak perlu khawatir lagi mencari penginapan.

“Kami sudah menyiapkan tempat rawat inap cukup nyaman di Yogyakarta. Keuntungannya bermalam di tempat kami, biasanya pasien akan mendapat pelayanan plus. Kami senantiasa mengontrol perkembangan kesehatan pasien lebih maksimal,” terang M.S. Arifin kepada apoymadura.com. Rabu (3/6/2020).

MS.Arifin bersama beberapa pimpinan
cabang Therapy Banyu Urip International.

Ia juga menjelaskan, bahwa lokasi rawat inap itu berada di pinggir kota yang udaranya masih bersih dengan lingkungan begitu hijau dan asri. Jadi sangat cocok bagi pasien selama dalam masa penyembuhan (recovery).


“Tempat rawat inap itu sengaja didesain seperti rumah biasa. Beberapa pasien dari luar negeri, seperti dari Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, Hongkong sudah ada yang merasakannya. Mereka bilang sangat puas berada di lingkungan yang tenang,” tambah M.S. Arifin mengakhiri pembicaraan. (Yant Kaiy)




Perspektif Namimah


Opini: Yant Kaiy

Namimah memiliki pengertian menyebarkan isi pembicaraan seseorang kepada orang lain dengan maksud menyulut emosi mereka terhadap seseorang tadi.

Dengan tujuan ini ia selalu menambah bumbu penyedap isi pembicaraan orang, atau mengurangi dengan tidak membeberkan pembicaraan yang baik. Kemudian apa yang dilontarkannya menarik untuk didengar apalagi disampaikan dalam bahasa puitis, mimik serius dan retorika yang indah.

Umumnya dalam pesta demokrasi, seperti pemilihan kepala daerah, para juru kampanye sering berperilaku namimah agar bisa mengambil hati para pemilih. Ini bukan rahasia lagi pada era kini.

Padahal Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah. (Al-Qalam[68]: 10-11).

Namimah tergolong akhlak tercela. Semoga kita bisa menghindarinya.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Corona Tersenyum, Bulan pun Melambai




Opini: Akhmad Jasimul Ahyak

Di sela subuh yang lembab fajar pun menyambar di sudut  bulan Mei yang masih tersemat sisa-sisa covid-19. Apakah berakhir; ataukah sudah tamat?,” tentang borok Corona yang membusuk di meja hidangan protokol kesehatan”

Masyarakat kini rindu akan ketenangan, rindu akan kebahagiaan. Ternyata “Hidup sesingkat petir”, disambar subuh jadi siang, disambar siang jadi senja, disambar senja masyarakat akan sibuk memburu cahaya kehidupan demi sesuap nasi untuk keluarga yang ia tanggung.

Sudah genap tiga puluh satu hari, bulan Mei kini melambai Corona pun ikut tersenyum dalam rasa ucapan selamat atas kemenangan yang telah memporak-porandakan mata angin segar kehidupan manusia, hingga membutakan mata waktu hingga tak terlihat antara noda kebaikan dan noda kejahatan. Yang terlintas hanya keheningan bertamu pada kesedihan.

Di awal bulan Juni ini semoga mata angin berubah menjadi airmata berwarna pelangi yang akan menyinari kehidupan masyarakat yang lebih baik hingga Corona tersenyum mengucapkan salam perpisahan untuk menyisiri jejak hendak berpulang pada tempat yang ia tinggal.[]





Senin, 01 Juni 2020

Epilog Virus Corona


Opini: Yant Kaiy

Episode pandemi Virus Corona (Vina) di tanah air akan segera berlalu. Beraneka suka-duka mengiringi kekhawatiran (boleh dibilang ketakutan) di tengah-tengah publik dua bulan terakhir ini. Bayang-bayang kematian, juga penguburan mayat akibat Vina wajib tidak dihadiri banyak orang, yang terpapar Vina harus mentaati protokol kesehatan dan menjalani karantina di rumah sakit. Semua itu menghantui benak seluruh lapisan masyarakat.

Dan apabila pemerintah memutuskan, kalau bangsa ini sudah bebas dari ancaman Vina, sungguh merupakan harapan baru penuh suka cita setelah nanti memasuki babak new normal.

Bermacam program aktivitas telah teragendakan dengan apik. Terutama para pelaku usaha (bisnis) yang selama ini terdegradasi atas pemberlakuan kebijakan pemerintah di seluruh pelosok negeri supaya stay at home. Bekerja dan berbelanja dari rumah. Menghentikan segala kegiatan bisnis dalam memutus mata rantai penularan Vina.

Pada bulan suci Ramadhan kemarin pemerintah menggelontorkan beragam bantuan. Mulai bantuan sembako dan uang tunai dalam meringankan himpitan hidup. Banyak juga para tokoh publik, tokoh politik, pengusaha yang memiliki perusahaan yang ikut andil menyalurkan bantuan kepada rakyat di tanah air. Ini sebuah kepedulian luar biasa yang patut mendapat apresiasi.

Di balik itu semua, ada cerita lucu yang menggelitik hati. Di kampung saya, Dusun Sempong Barat Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, ada seorang nenek yang daya pendengarannya kurang baik mendapat bantuan sembako dari seorang tokoh politik.

“Mator sakalangkong bentoan epon. Deri pasera paneka? (Terima kasih bantuannya. Dari siapa ini?)” tanya nenek yang menempati rumah hampir reot.

“Bentoan Virus Corona, Mbah! (Bantuan Virus Corona, Mbah!)” ujar pemuda pengantar bantuan. Di plastik pembungkus sembako ada gambar tokoh politik.

“O… Baddiyana Virus seaberri’. (O… Ternyata Virus yang memberi),” ujarnya polos. Serta merta keluarga yang menyaksikan tersenyum kaget. Sang nenek bingung menatap mereka.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Dusta Membuat Celaka



Opini: Yant Kaiy

Sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga. Hanya tinggal menunngu waktu saja. Begitu pula, serapi-rapinya sikap dan tutur kata menutupi dusta, pun pada masanya akan terbongkar pula. Begitulah hukum alam yang berlaku pada makhluk bernyawa. Hukum alam yang tak punya nilai tawar lagi.

 Kalau pelaku dusta itu anak kecil dibawah umur, barangkali hanya akan memperoleh sangsi dari beberapa orang keluarganya. Meski demikian, risikonya tetap luar biasa dan itu bergantung pada apa ia berdusta. Mungkin uang jajannya akan dikurangi oleh kedua orang tuanya. Atau bisa jadi dapat hukuman tertentu yang sifatnya mendidik.

Akan tetapi bila seorang pemimpin berdusta pada berjuta-juta manusia, jelas skenario ceritanya berbeda dan dampaknya sangat dahsyat ke masyarakat luas.

Bisa jadi pemimpin itu akan didepak dari kursi jabatannya. Dan sejarah akan mencatatnya sebagai pemimpin keji yang pantas mendapat karangan tahi di kuburannya kelak.

Dengan dalih, argumen, opini sebagus apa pun takkan mungkin melunturkan kecewa di hati rakyatnya. Umpama tubuh tergores luka, banyak obat penyembuh dijual di apotek. Namun bila hati tercabik luka, barangkali selama nafas di kandung badan kecewa itu takkan hilang.

Bagaimana mungkin seseorang akan dihormati orang lain sedangkan dirinya berperilaku dusta. Dusta pula yang menjatuhkan harga dirinya ke jurang kehinaan sehingga orang lain menganggap ia tak ubahnya binatang paling buruk di alam fana ini.

“Dan mereka menetapkan bagi Allah apa yang mereka sendiri membencinya, dan lidah mereka mengucapkan kedustaan, yaitu bahwa sesungguhnya merekalah yang akan mendapat kebaikan. Tiadalah diragukan bahwa nerakalah bagi mereka, dan sesungguhnya mereka segera dimasukkan (ke dalamnya)” (QS An-Nahl:62).

Dari Ibnu Mas’ud r.a., Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya jujur itu menunjukkan kepada kebaikan, sedangkan kebaikan menuntun menuju surga. Sungguh seseorang yang membiasakan jujur niscaya dicatat di sisi Allah sebagai orang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada kemungkaran, sedangkan kemungkaran  menjerumuskan ke neraka. Sungguh orang yang selalu berdusta akan dicatat sebagai pendusta.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dusta adalah dosa besar yang pada akhir jaman dianggap sudah biasa karena dicampur-aduk dengan jurus politik. Tapi hati takkan mungkin bisa dikelabui.  Nurani mampu mencium bau dusta pada setiap gerak dan ucap makhluk bernyawa.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...