Postingan

Guru Honorer, Ijazah PAI, dan Jalan Buntu di SIAGA

Gambar
Ironis rasanya, ketika seorang guru honorer yang telah mendedikasikan diri lebih 20 tahun sebagai guru kelas di sebuah SD Negeri justru terjebak dalam kebijakan yang tidak berpihak.  Ijazahnya S1 Pendidikan Agama Islam (PAI), tapi karena mengajar sebagai guru kelas, ia tidak memiliki jam mengajar PAI minimal 6 jam per minggu.  Akibatnya, ia tidak bisa mendaftar di akun SIAGA - sistem yang menjadi gerbang segala peluang bagi guru agama. Masalahnya, ketika namanya tak tercatat di SIAGA, semua kesempatan untuk mendapatkan pelatihan, tunjangan, atau jalur sertifikasi otomatis tertutup.  Padahal, kompetensi dan pengabdian tidak semestinya diukur hanya dari kotak-kotak administrasi. Kondisi ini menjadi potret nyata betapa kebijakan pendidikan seringkali kaku dan tidak melihat realitas di lapangan.  Guru honorer seperti ini terjebak di ruang abu-abu: mengajar penuh hati, nmun tidak diakui secara sistem.  Kalau dibiarkan, bukan hanya semangat guru yang padam, tapi juga ...

Tayub Madura, Penambah Semarak dalam Pesta Pernikahan Desa

Gambar
Hairus Samad (foto atas kiri). (Foto: sh)  SUMENEP - Di sejumlah pelosok desa wilayah Kota Keris Sumenep, seni tayub Madura masih jadi pelengkap utama dalam hajatan pernikahan.  Bagi masyarakat desa, tayub bukan sekadar hiburan, melainkan simbol semaraknya sebuah pesta dan wujud kebersamaan warga. Menurut Hairus Samad, S.Sos., tokoh masyarakat Sempong Barat, Desa/Kecamatan Pasongsongan, kehadiran tayub memberi warna tersendiri bagi acara pernikahan. "Bagi sebagian besar masyarakat di pelosok desa, acara hajatan pernikahan yang tidak ada pagelaran seni tayubnya, kurang semarak," ujar Hairus, yang dikenal peduli pada pelestarian budaya Madura. Sebagai tokoh muda Pasongsongan, Hairus melihat tayub bukan hanya tradisi seni, tapi juga perekat sosial.  Musik yang mengalun, gerakan tari yang anggun, dan interaksi penari dengan para tamu menjadi ruang silaturahmi yang mempererat ikatan antarwarga. Di tengah derasnya arus modernisasi, seni tayub menghadapi tantangan.  Tapi b...

Tayub Madura, Jiwa yang Menghidupkan Pesta Pernikahan Desa

Gambar
Sunayan, pakar Macopat Madura. [Foto: sh] SUMENEP - Di pelosok-pelosok desa wilayah Kota Keris Sumenep, seni tayub Madura masih menjadi magnet budaya yang sulit tergantikan.  Dalam banyak hajatan, terutama pernikahan, kehadiran tayub bukan sekadar hiburan; ia adalah simbol kebersamaan, kegembiraan, dan penghormatan bagi para tamu. Menurut Sunayan, tokoh masyarakat Sempong Barat, Kecamatan Pasongsongan, pagelaran tayub ibarat nyawa dalam pesta pernikahan. Senin (11/8/2025)  "Bagi sebagian besar masyarakat di pelosok desa, acara hajat pernikahan yang tidak ada pagelaran seni tayubnya, ibarat nasi tanpa sayur," ujarnya.  Sunayan, yang juga pakar Macopat Madura dan tergabung dalam perkumpulan Macopat Lesbumi Pasongsongan, memahami betul makna tayub dalam struktur sosial budaya Madura. Sayangnya, di tengah arus modernisasi, tayub kerap disalahpahami atau bahkan dihindari.  Padahal, jika dilihat dari kacamata budaya, tayub adalah wujud ekspresi seni rakyat yang memadukan m...

CERPEN: Bila Hujan tak Mau Turun

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur duduk di teras rumah Tona, menatap perempuan itu. Dalam.  Ada raut letih di wajahnya, tapi juga keteguhan yang sulit digoyahkan. Sejak perceraian itu, Tona memilih hidup sendiri.  Mantan suaminya telah meninggalkan luka di hatinya.  Pukulan demi pukulan, makian demi makian, telah memberangus kepercayaan Tona pada kata cinta. "Aku cuma nggak mau mengulang hidup di neraka yang sama," ujar Tona pelan ketika Debur mencoba membicarakan pernikahan. Debur mengangguk, walau hatinya sesak. Ia paham rasa takut itu, tapi juga prihatin melihat Tona menutup rapat pintu hatinya.  "Kalau aku carikan calon yang baik, yang bisa jaga kamu, mau?" tanyanya hati-hati. Tona menggeleng tanpa menoleh. Debur terdiam sejenak, lalu memberanikan diri. "Bagaimana kalau aku?" Perempuan itu tak menatapnya, tak juga menjawab. Hanya angin sore yang menyapu hening di antara mereka. Debur tersenyum pahit. Kadang, luka masa lalu terlalu dalam untuk dijangkau oleh t...

CERPEN: Aku Memilihmu jadi Imamku

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur awalnya hanya iseng membuka aplikasi media sosial di malam yang lengang.  Ia menemukan profil seorang wanita bernama Tona.  Foto profilnya menampilkan wajah yang tampak lebih tua dari usianya, dengan senyum seadanya.  Dalam percakapan, Tona mengaku berusia 36 tahun, janda dua anak.  Entah mengapa, meski fotonya biasa saja, Debur merasa nyaman ngobrol dengannya. Hari-hari berlalu, obrolan mereka makin intens.  Mereka saling curhat, bercanda, bahkan saling mengirim voice note.  Hingga suatu malam, Tona mengajak jumpa darat. Di kafe kecil pinggir kota, Debur menunggu dengan sedikit gugup. Lalu seorang wanita muda berkulit cerah, berambut panjang, dan bermata teduh melangkah masuk.  Debur tertegun—itu Tona. Cantik, segar, dan jelas jauh lebih muda dari pengakuannya. "Ini… kamu?" tanya Debur setengah tak percaya. Tona tersenyum, duduk di hadapannya.  "Foto dan usia di profil itu hanya untuk menguji. Aku ingin tahu siapa yang ...

CERPEN: Debur dan Bayang-Bayang Korupsi

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur cukup muak tiap kali menonton berita tentang para koruptor di Indonesia.  Hukuman mereka seringkali ringan, bahkan beberapa tetap bisa hidup mewah di balik jeruji.  Ironisnya, ayahnya sendiri adalah salah satu dari mereka, seorang koruptor yang kini mendekam di penjara karena kasus suap. Ayah Debur dulu menyuap pejabat negara agar dimudahkan mendapatkan proyek.  Katanya, kalau tidak menyuap, ia pasti kalah bersaing dengan pihak lain yang juga main uang.  Bagi ayahnya, suap hanyalah “biaya masuk” dunia bisnis. Debur tidak pernah membela perbuatan ayahnya, meski ia paham alasan di baliknya.  Ia justru melihat bahwa alasan semacam itu adalah akar busuk yang membuat negeri ini sulit berubah.  “Kalau semua orang berpikir begitu, kapan negara ini bisa bersih?” batin Debur. Kini, tiap mendengar janji pemerintah soal pemberantasan korupsi, Debur tersenyum miris.  Bagi dia, korupsi bukan sekadar kejahatan, tapi juga warisan mental yan...

CERPEN: Sujud Debur tanpa Batas

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur tumbuh jadi lelaki perkasa, meski masa lalunya tak pernah luput dari bisik-bisik hinaan.  Ia adalah anak pelacur.  Tapi Debur tidak menundukkan kepala karena malu.  Ia justru menengadahkan hati kepada Tuhan. Ia yakin, Tuhan Maha Pengampun.  Tiap malam, Debur sujud lama di atas sajadah, merintih dalam doa.  Ia memohon ampun bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk ibunya.  Debur tidak pernah membenci ibunya.  Justru, ia menyimpan rasa sayang yang dalam, meski tak diungkapkan dengan kata-kata.  Dalam tiap tetes air matanya, terselip doa agar ibunya selamat di akhirat kelak. Baginya, masa lalu hanyalah ujian. Dan sujud yang panjang adalah jalan pulangnya. []

CERPEN: Cinta di Ujung Senja

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Bagi Debur, usia bukanlah penghalang untuk menemukan cinta.  Menjelang kepala lima, ia masih perjaka.  Hidupnya dihabiskan untuk bekerja keras, membangun usaha kecil di kota.  Ia tak pernah berpikir akan menikah, hingga Tona hadir. Tona, janda beranak dua, membawa warna baru dalam hidupnya. Senyumnya mencaikan kesepian yang telah lama membeku di hati Debur.  Banyak tetangga mencibir, menuduh Debur buta mata. Tapi Debur hanya tersenyum.  Baginya, kebahagiaan tak perlu persetujuan siapa pun. Selesai akad nikah, Debur merasa seperti lelaki paling beruntung di dunia.  Bukan karena Tona sempurna, tapi karena Tona menerima dirinya. Bagi Debur, cinta bukan soal usia atau masa lalu, melainkan keberanian untuk memilih satu hati dan menjaganya. []

Cerpen: Nasi Sudah Jadi Bubur

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur pulang dari Jakarta dengan hati penuh rindu.  Seminggu terakhir, ia bekerja keras menjaga toko kelontong yang sedang berkembang.  Wajah Tona dan tawa dua buah hati mereka selalu membayang di kepalanya.  Ia membayangkan pelukan hangat keluarga saat pintu rumah dibuka. Tapi, yang menyambutnya hanyalah sunyi.  Pintu terkunci, tirai rumah tergerai kusam.  Debur mengintip ke dalam, kosong. Tak ada suara, tak ada jejak. Dari bisik tetangga, ia mendengar kabar pahit: Tona telah pergi.  Ia tergoda oleh seorang lelaki berharta, yang bahkan sudah memiliki istri.  Lelaki itu membawanya pergi jauh, meninggalkan segala yang pernah mereka bangun bersama. Yang lebih menusuk hati, kedua anaknya ikut dibawa kabur Tona.  Amarah Debur sempat mendidih, mengguncang dadanya.  Tapi ia hanya bisa terdiam, menatap langit sore yang meredup.  Semua sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur. Bagi Debur, tak mungkin lagi merangkai cinta yang te...

Kenapa Hukuman Mati untuk Koruptor di Indonesia tidak Bisa Dibuat?

Gambar
Di negeri ini, hukuman mati bagi koruptor seolah cuma bahan obrolan di warung kopi.  Dibicarakan dengan penuh semangat, tapi begitu masuk meja parlemen atau ruang sidang, langsung mengecil seperti lilin kehabisan oksigen. Padahal, orang awam pun tahu: koruptor adalah biang kemiskinan.  Mereka mencuri uang yang seharusnya membangun jalan, sekolah, rumah sakit, dan lapangan kerja.  Akibatnya, rakyat harus hidup dengan gaji pas-pasan, harga melambung, dan layanan publik setengah hati. Sayangnya, rakyat Indonesia sudah terlalu sering di-PHP (Pemberi Harapan Palsu). — dijanjikan pemberantasan korupsi, tapi yang muncul hanya drama tangkap-menangkap.  Para koruptor bisa tersenyum di penjara, bahkan kadang keluar dengan remisi bak pahlawan. Kalau negara memang serius, kenapa tidak berani menegakkan hukuman mati bagi para perampok uang rakyat?  Atau mungkin, yang duduk di kursi kekuasaan takut karena mereka sendiri atau koleganya bisa masuk daftar eksekusi? Rakyat sudah ...

Hukuman Mati: Harapan yang Selalu Mandek di Indonesia

Gambar
Di Indonesia, hukuman mati ibarat tong kosong nyaring bunyinya —menggelegar dalam wacana, tapi tak berisi kenyataan.  Kendati presiden Prabowo pernah bilang akan menegakkan hukuman mati bagi para koruptor, namun penerapannya kerap tersendat oleh tarik-menarik kepentingan politik, hukum, dan moral. Ironisnya, masyarakat awam sudah paham betul bahwa korupsi adalah akar dari banyak penderitaan—mulai dari infrastruktur terbengkalai, layanan publik setengah hati, hingga kemiskinan yang diwariskan lintas generasi.  Koruptor bukan sekadar pencuri uang negara, mereka adalah perampas hak hidup layak jutaan rakyat. Tapi, ketika berbicara soal hukuman mati bagi koruptor, kita terjebak dalam retorika tanpa aksi.  Ada yang berdalih soal hak asasi, ada pula yang sibuk menimbang “kepastian hukum” yang entah kapan datang.  Akibatnya, korupsi tetap tumbuh subur, sementara rakyat hanya bisa menggigit bibir menatap ketidakadilan yang terus berulang. Kalau negara tak berani menegakkan h...