Senin, 12 Desember 2022
Buta Bisa Melihat karena Ramuan Banyu Urip
Cerpen: Debar
Sangat ingin Luna melampiaskan cintanya pada Debur.
Debar jantungnya acapkali meledak ketika matanya bersirobok. Selebihnya Luna
hanya tersenyum seolah tak terjadi apa-apa. Lalu terdengar sapa seperti biasanya.
Sekadar basa-basi. Menetralisir suasana hati kian tak menentu.
“Sudah tadi?”
“Baru saja,” pintas Debur sembari menyibukkan diri
dengan tugasnya sebagai karyawan apotek.
Sikap Debur yang kaku tak menyurutkan rasa kasmaran
Luna. Gadis berkulit putih itu masih belum menemukan ide; bagaimana bisa
melumpuhkan cinta pria idamannya. Tipe Luna sendiri agak tertutup. Bukan
apa-apa, karena ia pernah trauma ketika sikap terbukanya dimanfaatkan orang
lain. Dulu, kekasihnya direbut teman sekolahnya. Kecewa berat. Sakit hati
jadinya. Ia tak ingin mengulanginya lagi. Biarlah rahasia hati itu menggantung
di langit biru.
Luna gadis bermata sipit. Peranakan Cina muslim. Ia
adalah owner apotek tempat dimana Debur bekerja.
“Aku ingin mengundangmu nanti malam!” pinta Luna
ketika Debur hendak pulang.
“Nanti malam?”
“Ya.”
“Dimana?”
“Di rumah.”
Debur menatap wajah Luna. Ada perasaan tak percaya
berbaur resah menggunung.
“Kau punya acara ya?”
“Ti… tidak.”
“Lalu?”
“Hanya kaget saja,” jawab Debur sekenanya.
Luna tersenyum penuh makna. Debur langsung berlalu.
Segudang tanya mengiring langkahnya.
Gerangan apakah kemauan atasannya. Sebab baru kali ini Debur mendapat
undangan makan malam.
Senja berganti malam.
Debur mengenakan busana terbaik menuju rumah Luna. Ia
disambut baik dengan kedua orang tua Luna. Sehabis makan malam bersama keluarga
besar Luna, mereka berdua menuju taman yang ada di samping rumahnya.
Perbincangan dua sejoli awalnya berlangsung hambar.
Sengaja Debur memosisikan dirinya sebagai bawahan Luna. Namun ketika Gadis
berambut lurus itu mulai menanyakan tentang masalah cinta, Debur bergeming.
Dan ketika tangan Luna mendarat di jemari Debur. Pria
perkasa tersebut agak ragu sikapnya. Pandangan mata Luna menanti reaksinya.
“Aku menyukaimu! Aku butuh jawabanmu. Aku tak mau
terbakar api asmara sendirian. Kalaupun kau…”
Debur menatapnya dalam. Ia tak bisa berkata apa-apa.
Hatinya bergemuruh, antara mimpi dan kenyataan. Debur hanya bisa menganggukkan
kepala. Tanpa ragu lagi Luna menyandarkan kepalanya di dada Debur.[]
Minggu, 11 Desember 2022
Ajaib, Tuli Bisa Mendengar Berkat Ramuan Banyu Urip
Sabtu, 10 Desember 2022
Kesenian Gantiran Macopat Sambung Tresno Pasongsongan
Selasa, 06 Desember 2022
Kistan Sitorus, Korban Mafia Tanah
Minggu, 04 Desember 2022
Baksos Akhir 2022 Therapy Banyu Urip di Sumenep
Jumat, 02 Desember 2022
Cara Therapy Banyu Urip Berbagi Sehat pada Sesama
Pejabat Tak Tahu Diri
Kamis, 01 Desember 2022
Safari Baksos Therapy Banyu Urip Penghujung 2022
Rabu, 30 November 2022
Herbal Banyu Urip Basmi Nikotin Rokok
Selasa, 29 November 2022
Baksos Therapy Banyu Urip 2022 di Pamekasan
# Featured
Buka Puasa Hari ini dalam Ironi
Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...
-
Catatan: Yant Kaiy Membantu seorang teman membuatkan soal-soal Bahasa Madura. Dia seorang guru yang mengajar di salah sebuah SDN di Ke...
-
Catatan: Yant Kaiy Pada Sabtu (24/4/2021) salah seorang teman guru honorer datang ke rumah. Ia meminta dibuatkan soal-soal Bahasa Madura...


