Minggu, 19 Juli 2020

Perkumpulan Pajangan Sapi Madura

Deretan sapi di Perkumpulan Pajangan Sapi Madura
di Pasongsongan-Sumenep

Catatan: Yant Kaiy
Pada Minggu (19/7/2020), di Dusun Sempong Barat dan Sempong Timur Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Madura, ada sebuah Perkumpulan Pajangan Sapi Madura. Komunitas sapi berharga jual tinggi ini digelar sore hari setiap satu bulan dua kali secara bergilir. Didalamnya ada arisan sebagai pengikat antar anggota.

Sapi-sapi dipajang berderet memanjang yang kanan-kirinya diikat pada bambu. Di kepala dan leher sapi-sapi tersebut ada aksesoris yang menambah daya tarik tersendiri.

Menurut keterangan dari beberapa orang pemilik sapi yang saya jumpai, tujuan diadakannya perkumpulan itu supaya para pemilik sapi bisa saling tukar informasi, bagaimana cara merawat sapi yang baik. Mulai dari makanan selain rumput, memandikan dan memijat sapi agar tubuhnya terlihat elok.

Sebagian besar dari pemilik sapi itu adalah petani yang saat ini sedang menanam tembakau. Mereka merelakan waktunya untuk hadir pada perkumpulan karena di samping sebagai hobi, juga hitung-hitung sebagai ajang silaturrahim.

Suara musik saronen (musik khas pengiring pagelaran karapan sapi Madura dan kontes sapi sono’) terus terdengar dari loudspeaker ketika saya meninggalkan lokasi perkumpulan. Semoga tetap lestari warisan budaya ajang Perkumpulan Pajangan Sapi Madura seperti ini![]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Sabtu, 18 Juli 2020

Cerita Nelayan Pasongsongan Sumenep

Pelabuhan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Madura

Catatan: Yant Kaiy
Sebelum abad XV para nelayan Pasongsongan sudah dikenal banyak orang, baik dalam negeri dan mancanegara. Dikenalnya para nelayan Pasongsongan lantaran mereka sudah melanglang buana berlayar ke beberapa tempat menjajakan hasil tangkapan ikannya.

Karena nelayan pula akhirnya pelabuhan Pasongsongan menjadi ramai. Banyak perahu-perahu dari luar negeri berlabuh dalam rangka berniaga dengan masyarakat di situ.

Satu bukti yang tidak terbantahkan, yakni adanya etnis Arab dan Cina di Pasongsongan. Keberadaan kedua suku bangsa ini datang lewat pelabuhan Pasongsongan dan menetap di Kecamatan Pasongsongan. Awal mulanya mereka berdagang. Kedua etnis ini begitu kental mewarnai hinga-bingar kemajuan Pasongsongan tempo dulu.

Etnis Arab menempati Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Beberapa kuburan di Astah Buju’ Panaongan yang di batu nisannya bertuliskan ‘syekh’ sebelum nama orangnya merupakan satu bukti kuat. Sedangkan etnis Cina saat ini bertempat tinggal di kawasan sepanjang Jalan Kiai Abubakar Sidik Pasongsongan.

Saat sekarang Pelabuhan Pasongsongan merupakan pelabuhan terbesar di Pulau Madura dengan hasil tangkap ikannya begitu melimpah. Tapi sayang, di Pasongsongan tidak ada pabrik pengolahan ikan sampai detik ini. Sehingga kemakmuran tidak dinikmati seutuhnya oleh masyarakat setempat.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Jumat, 17 Juli 2020

Motivasi Literasi Sekolah

Akhmad Jasimul Ahyak (kanan)

Apoymadura, Sumenep - Gerakan literasi sekolah sejatinya terus dipupuk para guru terhadap peserta didiknya. Salah satu yang lagi populer berlaku pada sekolah-sekolah di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep saat ini, yakni menggambari dinding ruang kelas dan pagar sekolah. Tema alam sekitar menjadi pilihan terbanyak dari para pendidik.

Lewat harmonisasi warna pada gambar dan pesan edukatif akan melahirkan gairah dalam hal belajar. Pola yang demikian menjadi harapan bersama bagi semua guru.

Adalah perupa Akhmad Jasimul Ahyak yang kebanjiran job melukis dinding sekolah di masa pandemi Covid-19.

“Saban hari saya berpacu dengan waktu menyelesaikan literasi dinding sekolah. Sebab sudah ada sekolah yang antri mulai bulan Juni kemarin,” terang Jasimul panggilan akrab perupa berkacamata tebal pada apoymadura.com. Jum’at (17/7/2020).

Ia menambahkan, bahwa dirinya punya tanggung jawab moral dalam menggambar. Disamping perpaduan warna menarik dan tema yang gampang dimengerti oleh peserta didik, Jasimul dalam karya lukisnya meletakkan pesan singkat, padat dan penuh makna tentang budi pekerti. Bahkan gambarnya seakan bercerita.


“Lewat pesan literasi peserta didik dapat mengembangkan daya nalarnya lewat visualisasi. Karena jamannya sudah serba instan,” pungkas Jasimul mengakhiri perbincangan. (Yant Kaiy)

Kamis, 16 Juli 2020

D. Zawawi Imron: Tentang Falsafah Madura

D. Zawawi Imron (tengah) dan Yant Kaiy dari apoymadura.com (kanan)

Catatan: Yant Kaiy
Masyarakat Madura sudah banyak tahu kalau D. Zawawi Imron adalah seorang budayawan kelahiran Kecamatan Batang Batang Kabupaten Sumenep nan masyhur. Namanya tak lekang oleh perkembangan jaman. Hingga kini dia tetap menduduki puncak teratas sebagai seniman berjiwa besar dan tak tergantikan. Sosoknya seolah mewakili keberadaan karakter orang Madura sebenarnya.

Diawal 2020 kemarin, saya menghadiri acara bedah buku seorang penyair di Gedung NU Kota Keris Sumenep. Dalam ceramah budaya, Zawawi bercerita panjang lebar tentang falsafah masyarakat Sumenep yang sebagian memiliki persamaan dengan falsafah suku Bugis. Dalam budaya Sumenep dalam hal etos kerja ada kalimat: “Abantal ombak asapo’ angin, alako barra’ apello koneng”. Artinya: Berbantalkan ombak berselimut angin, bekerja keras berkeringat penghabisan.

Sedangkan dalam filosofi kerja orang Bugis ada kalimat begini: “Kalau layar sudah kukembangkan. Kemudi erat kupegang. Walaupun perahu akan tenggelam. Pantang aku surut kembali.”

Saya sangat terkesan dengan ceramah budaya D. Zawawi Imron. Seorang budayawan dengan penampilan sederhana walau nama besarnya tidak hanya dikenal di dalam negeri saja. Terbukti beliau dalam usia senjanya seringkali diundang menjadi pembicara budaya di luar negeri.

Sebagai warga Sumenep, saya mengaguminya. Semoga tetap sehat dan senantiasa terus berkarya buat D. Zawawi Imron. Bravo![]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Rabu, 15 Juli 2020

Literasi Motivasi SDN Pasongsongan IV

Akhmad Jasimul Ahyak, perupa berasal dari
Pasongsongan-Sumenep

Apoymadura, Sumenep - SDN Pasongsongan IV Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep berlokasi di sebelah selatan Lapangan Sawunggaling Dusun Morasen. Sekolah ini telah banyak melahirkan generasi penerus berdedikasi tinggi dan menjadi tokoh publik yang diperhitungkan keberadaannya.

Dengan tenaga pengajar yang memiliki kompetensi cukup bagus tentu akan menjadi pilihan terbaik bagi segenap wali murid dalam menyekolahkan anak-anaknya. Ditambah kedisiplinan para tenaga pendidik akan menjadi perhitungan tersendiri bagi calon murid baru. Apalagi tidak ada catatan “dosa” masa lalu.
 
Akhmad Jasimul Ahyak sedang melukis dinding

Maksud “dosa” masa lalu yaitu para gurunya tidak baik dalam mendidik, melakukan pembiaran pada jam masuk sekolah dengan datang terlambat, sehingga yang terjadi semua muridnya terlantar dan berkeliaran bermain. Sebab wali murid akan bertanya kepada anaknya tentang aktvitas belajar mengajar di sekolah setelah ada di rumah.

Di masa pandemi virus corona saat ini, SDN Pasongsongan IV terus melakukan terobosan terbaik mengoptimalkan BOS dengan mengundang seorang perupa dari Pasongsongan Akhmad Jasimul Ahyak, membuat literasi dinding sekolah.

“Lebih dua pekan saya melukis dinding dan pagar sekolah. Sudah barang tentu dengan gambar-gambar yang edukatif sebagai sarana memotivasi peserta didik agar lebih bergairah menimba ilmu,” terang Jasimul panggilan akrabnya kepada apoymadura.com tadi pagi. Rabu (15/7/2020).
 
Para guru SDN Pasongsongan IV

Jasimul juga adalah seorang pendidik Madrasah Aliyah Itmamunnajah Desa/Kecamatan Pasongsongan Sumenep. Ia sudah malang melintang membuat literasi dinding sekolah. Sudah tidak terbilang karya-karyanya menghiasi berbagai sekolah di Kecamatan Pasongsongan.

“Dalam literasi sekolah, lukisan atau gambar bergantung permintaan dari pihak sekolah. Kadang juga ada sekolah yang menyerahkannnya pada saya,” terang Jasimul mengakhiri perbincangan. (Yant Kaiy)


Selasa, 14 Juli 2020

Antara Pelabuhan Pasongsongan dan Buju’ Panaongan

Pelabuhan Pasongsongan Sumenep

Catatan: Yant Kaiy
Pelabuhan Pasongsongan terletak di wilayah Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep disinyalir merupakan pelabuhan tertua dan termasyhur sampai ke penjuru dunia. Memang tidak ada catatan valid yang bisa menguak sejarah keberadaan pelabuhan pantai ini.

Namun ada jejak sejarah yang dapat ditelisik dengan keberadaan komunitas Bangsa Arab yang menetap di lokasi pesisir Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan dan adanya kampung Cina di sepanjang Jalan Kiai Abubakar Sidik Pasongsongan. Dua bukti kuat kalau Pelabuhan Pasongsongan adalah pelabuhan terbesar di Pulau Garam Madura.
 
Astah Buju' Panaongan Kecamatan Pasongsongan
Kabupaten Sumenep Madura

Aktivitas perdagangan menjadi ajang munculnya dua bangsa pendatang di Desa Pasongsongan. Apalagi masyarakat lokal tidak alergi terhadap mereka yang berlainan suku, agama, ras, dan adat istiadat. Ini menunjukkan kepada seluruh bangsa-bangsa di dunia kalau warga Pasongsongan mau menerima mereka untuk bisa hidup rukun, damai dan sejahtera.

Bahkan sampai detik ini tidak ada catatan dari para tokoh adat di Pasongsongan yang menerangkan, kalau kedua bangsa pendatang ini pernah bersinggungan paham atau berselisih dengan warga pribumi. Justru yang ada harmonisasi keanekaragaman dan menatalkan keindahan pada kebersamaan.


Catatan tahun pada komunitas Bangsa Arab di kuburan Syekh Abu Suhri (wafat 1281) dan Syekh Al-Arif Abu Suid (wafat 1292) di Astah Buju’ Panaongan Desa Panaongan. Sedangkan leluhur Bangsa Cina yang ada di Pasongsongan bernama King. King berasal dari Tiongkok Tibet. Kuburan King ada di areal pemakaman Sunan Ampel Surabaya. Ceritanya, King yang pulang dari menunaikan ibadah haji menetap di Surabaya dan meninggal di situ.

Menurut para tokoh sejarah, kedua suku bangsa ini datang ke Pelabuhan Pasongsongan dalam rangka berniaga.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Senin, 13 Juli 2020

Mengenal KH. Ismail Tembang Pamungkas

KH. Ismail Tembang Pamungkas (kiri)
bersama Yant Kaiy dari apoymadura.com.

Catatan: Yant Kaiy
Warga Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep seringkali mengundang Kiai Haji Ismail Tembang Pamungkas dalam mengisi acara pengajian. Terutama pada hari-hari besar Islam. Seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Isra’ Mi’raj.

Menurut masyarakat di pesisir utara Pulau Madura, kandungan siraman rohani Kiai Ismail begitu dalam. Pemaparannya lugas, mudah dicerna dan masuk akal serta jarang melawak. Tapi hadirin biasanya larut dalam isi ceramah yang disajikannya. Itulah kelebihan beliau yang jarang para da’i miliki.


Pada Senin (5/7/2020), saya dan seorang teman berkunjung ke tempat tinggalnya di Desa Paberasan Kecamatan Kota Sumenep, tujuannya mau mengundang Kiai Ismail untuk sebuah acara Selamatan Pernikahan, ternyata beliau baru datang dari Situbondo mengisi pengajian di sana. Di Pulau Jawa beliau lebih akrab dipanggil Kiai Haji Ismail Macan Madura.

Kami berdua cukup beruntung karena beliau lagi tidak ada undangan. Sebab biasanya sering berbenturan dengan undangan lainnya.

Sebenarnya kami ingin berlama-lama bercengkerama dengan beliau. Tapi kami harus tahu diri, da’i kondang ini tentu cukup lelah setelah menempuh perjalanan cukup panjang. Kami pun undur diri.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura

Minggu, 12 Juli 2020

Menyibak Kekuatan Pasangan Fattah-Fikri


Opini: Yant Kaiy
Ada beberapa poin penting dalam peta kekuatan Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Sumenep 2020, Dr. Ir. H. RB. Fattah Jasin, M.S dan KH. Muhammad Ali  Fikri Warist. Menurut para pengamat politik yang ada di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, menggaris bawahi bahwa pasangan Fattah-Fikri mempunyai peluang besar mendulang suara terbanyak di Pilkada Sumenep 2020 nanti.

Berikut beberapa unsur vital yang dimiliki Paslon Fattah-Fikri dalam Pilkada Sumenep dan berpotensi dapat menjungkalkan lawan:

1. Unsur Birokrat
Semua warga masyarakat Sumenep sudah tahu betul kalau Fattah Jasin memiliki kapabilitas mumpuni sebagai pejabat di Jawa Timur. Suka atau tidak suka, terbukti Fattah Jasin sudah berhasil menjalankan amanah dari negara yang dibebankan kepadanya. Latar belakang inilah akan menjadi pertimbangan kaum intelektual dalam menjatuhkan pilihannya.

2. Unsur Pesantren
Tradisi pengabdian dari para alumni dan keluarganya pada pengasuh pondok pesantren akan menjadi power yang tak bisa dianggap sepele. Mereka akan menjatuhkan pilihannya kepada Kiai Ali Fikri sebagai balas budi.

Para alumni pondok pesantren, dimana  beliau mendedikasikan ilmunya untuk para santri, mereka akan patuh mendukung Kiai Ali Fikri, lebih-lebih para wali santri yang tersebar luas di Madura, baik daratan dan kepulauan. Mereka ini tidak mudah terbeli suaranya dengan uang karena jalinan guru dan murid begitu kuat.

3. Unsur Partai
Partai PKB dan PPP merupakan partai wadah bagi orang-orang Nahdlatul Ulama berkarier di politik. Sebuah ormas terbesar yang ada di Kota Keris Sumenep dan punya banyak pengikut taat. Sentimen ke-NU-an akan memegang kunci pengaruh yang tak bisa dianggap remeh.

4. Relawan Hairul Anwar
Aliansi ini terdiri dari pendukung setia Hairul Anwar yang tersebar luas di seluruh kecamatan di Sumenep. Figur publik ini dikenal sebagai pengusaha sukses dan sumbangsihnya luar biasa dalam berbagi terhadap kaum lemah.

Hairul Anwar figur yang didukung oleh seluruh DPC PAN untuk mendapatkan rekomendasi dari DPP PAN, namun ternyata Surat Keputusan tidak jatuh kepadanya. Banyak diantara mereka yang kecewa berat. Lalu pembela setianya membuat komunitas bernama Relawan Hairul Anwar. Sementara itu Hairul Anwar merapat kepada paslon Fattah-Fikri. Ini akan menjadi nilai tambah bagi kemenangan Fattah-Fikri nantinya.

Demikian sekelumit basis kekuatan Paslon Fattah-Fikri dalam Pilkada Sumenep 2020. Sebenarnya masih ada banyak unsur kekuatan lain yang melingkupi pada pasangan ini.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Segera Dibuka Therapy Banyu Urip Madura

Apoymadura.com, Sumenep – Berlokasi di Jalan Kiai Abubakar Sidik, Depan Bank Jatim, Desa/Kecamatan Pasongsongan Sumenep, akan segera dibuka Therapy Banyu Urip International Pusat Madura.

Siaran pers yang diterima apoymadura.com langsung dari CEO pengobatan alternatif ini, MS. Arifin tadi sore, Minggu (12/7/2020), menerangkan, bahwa Pasongsongan menjadi pusat kedua setelah Yogyakarta.

“Saya sering menerima permintaan dari beberapa warga Pasongsongan khususnya, agar kami juga membuka Therapy Banyu Urip di daerah ini. Karena mereka sebagian besar telah mengenal ramuan tradisional produk kami. Bahkan ada banyak dari mereka yang sudah merasakan manfaat dan kesembuhan dari penyakit yang dideritanya,” tegas MS. Arifin lebih jauh.

Sedangkan bangunan gedung Therapy Banyu Urip Pusat Madura sudah ada, tinggal menatanya agar para pasien merasa nyaman berobat.

“Terspesial di Pasongsongan akan diadakan pengobatan gratis setiap Jum’at, Sabtu dan Minggu. Senin sampai Kamis pengobatan berbayar. Setiap hari buka jam 8.00 sampai dengan 15.30 WIB,” pungkas MS. Arifin. (Yant Kaiy)

Sabtu, 11 Juli 2020

Warna Baru SDN Pasongsongan IV

Amirul Fatoni (kanan) bersama perupa asal
Desa/Kecamatan Pasongsongan Akhmad Jasimul Ahyak

Apoymadura, Sumenep – Dalam kurun waktu cukup lama murid-murid SDN di seluruh pelosok negeri nusantara memanfaatkan pembelajaran jarak jauh (daring) selama pademi Covid-19. Tak terkecuali di SDN Pasongsongan IV Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, para peserta didiknya memanfaatkan sarana internet dalam belajar di rumah.

Dampaknya sekolah menjadi kurang terjaga kebersihannya dengan banyaknya sampah dedaunan. Ditambah rumput tumbuh liar di halaman sekolah.

Menyikapi dengan kurang terawatnya sekolah, Kepala SDN Pasongsongan IV, H. Akh. Busri, S.Pd, M.Pd memberi tugas kepada salah seorang guru sukwannya,  Amirul Fatoni melakukan kegiatan bersih-bersih sekolah.

“Dalam kegiatan bersih-bersih sekolah sudah dilakukan sekian lama. Saya dengan beberapa rekan guru selalu datang ke sekolah, meski tidak setiap hari. Tapi dalam minggu ini saya setiap hari ke sekolah karena ada perupa, Akhmad Jasimul Ahyak yang diundang Pak Kepsek melukis dinding sekolah dengan gambar-gambar edukatif,” papar Amirul Fatoni kepada apoymadura.com. Sabtu (11/7/2020).


Ketika ditanya soal kerinduan terhadap para anak didiknya karena setiap hari biasa mengajar. Lelaki kelahiran 13 Mei 1991 mengatakan, kerinduan untuk kembali mengajar sangat besar. Akan tetapi virus corona masih belum lenyap dari muka bumi Indonesia. (Yant Kaiy)

Jumat, 10 Juli 2020

Goa Soekarno Pasongsongan (Habis)

Ceng Rasidi (kanan) bersama penulis

Catatan: Yant Kaiy
Para ahli arkeologi (ilmu yang mempelajari kebudayaan/manusia masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan)  mengelompokkan fungsi gua berdasarkan pemanfaatannya sebagai berikut:

1. Pada jaman pra sejarah (primitif), gua dijadikan sebagai tempat berlindung satu-satunya oleh manusia dari serangan binatang buas. Juga sebagai tempat berlindung dari suaca panas dan hujan.

2. Sebagai tempat penambangan  mineral (kalsit/gamping, guano). Juga sebagai tempat perburuan  (wallet, sriti, kelelawar).

3. Sebagai tempat obyek wisata alam (rekreasi) bebas atau hobi yang pada ujungnya manusia akan lebih dekat dengan Yang Maha Pencipta.

4. Sebagai obyek sosial budaya (legenda, mistik). Orang-orang jaman dahulu salah satunya memanfaatkan gua sebagai tempat menyatukan diri dengan Sang Khalik.

5. Sebagai lokasi  air tanah potensial sepanjang tahun. Gua pada dataran rendah bisa menampung/menyerap air hujan lebih banyak ketimbang gua yang ada pada dataran tinggi.

6. Sebagai penyangga mikro ekosistem yang sangat peka dan vital bagi kehidupan makro ekosistem di luar gua.

Sekarang Goa Soekarno sudah disulap menjadi tempat alternatif bagi kunjungan wisatawan dalam berlibur. Sebagai tempat obyek wisata, Goa Soekarno memberikan sensasi tersendiri bagi siapa saja yang memasukinya.  Pengunjung akan diajak untuk menikmati peninggalan masa lampau yang sungguh menakjubkan karena keindahan dinding dan langit-langit gua.

Ayat-ayat Al-Qur’an
Allah SWT  telah memberikan keindahan alam ini untuk menjadi edukasi bagi manusia. Mengaji dan menjaga alam hasil ciptaan-Nya dalam Islam sangat dianjurkan karena semua itu untuk kepentingan manusia itu sendiri. Perenungan tentang alam semesta beserta isinya akan menggiring manusia kepada kehebatan Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.

Diantara ayat-ayat  Al-Qur’an yang menyuruh atau memerintahkan untuk melestarikan lingkungan hidup adalah firman Allah SWT :

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Al-Qur’an Surat Ar-Rum ayat 41-42)

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam  buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.  Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan ijin Tuhan, dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya tumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”  (Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 56-58)

Perintah Allah dalam ayat-ayat Al-Qur’an di atas sangatlah jelas, bahwa manusia sewajibnya dan sebisa mungkin untuk melestarikan alam dan lingkungannya dari kerusakan oleh tangan-tangan jahil manusia.

Juga Allah memerintahkan kepada manusia untuk mempelajari kisah umat-umat terdahulu (sejarah) yang dilaknat dengan bencana karena mereka tidak menghiraukan perintah Allah untuk senantiasa bersyukur  terhadap  pemberian Allah, bukan malah seenak perutnya berbuat kerusakan di muka bumi.

Seperti kita menjaga dan memelihara Goa Soekarno untuk kita nikmati keindahannya. Kita kaji ilmu dari Goa Soekarno sebagai peninggalan sejarah yang amat menawan.

Temuan Terbaru
Belakangan ini ada opini terbaru dari para ahli spiritual yang menerangkan, bahwa seseorang yang tinggal di dalam gua dalam beberapa menit saja, maka orang tersebut kesehatannya akan mengalami peningkatan yang cukup baik. Seperti tinggal di dalam Goa Soekarno. Hal itu disebabkan oleh pancaran unsur fosfat ke tubuh manusia yang ada di seluruh dinding Goa Soekarno. Dan menurut beberapa kalangan, hal tersebut sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia.

Juga dari langit-langit Gua Sukarno menetes air sejuk yang dipercaya oleh banyak orang sebagai air yang bisa membuat seseorang awet muda. Sugiman (orang yang terlibat dalam pembangunan Goa Soekarno) memberikan tips: Caranya tetesan air itu diusapkan ke wajah, maka akan terpancar aura awet mudanya.

Masih menurut Sugiman, di dalam Goa Soekarno  terdapat sumur. Air dalam sumur itu berkhasiat untuk kesehatan karena airnya masih alami dan mengandung mineral sangat tinggi. Alasannya, karena air tidak tercemar serta dinding sumur dari atas sampai ke bawah adalah batu fosfat.

Memang sampai saat ini belum ada riset medis yang komprehensif tentang pengaruh kesehatan bagi seseorang yang berada di dalam gua.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Bibliografi
-Kaiy, Yant, (2019), Syekh Ali Akbar Syamsul Arifin, Menelisik Sejarah Pasongsongan yang Terputus, Sumenep: Rumah Literasi.
-Susanto, Arif, (2015), Pasongsongan Tanah Mardikan, Perspektif Sejarah dan Pengembangan Potensi Wisata di Kecamatan Pasongsongan, Sumenep: Kantor Kecamatan Pasongsongan.

Data Wawancara
1. K.H. Ismail Tembang Pamungkas, (da’i, sejarawan, pengasuh thoriqoh Desa Paberasan-Sumenep).
2. Drs. K.H. Mas Ula Ahmad (pengasuh pondok pesantren Assyafi’iyah Desa Panaongan-Sumenep).
3. Sri Sundari (pengamat sejarah Islam tinggal di Desa Panaongan-Sumenep).
4. Ustadz Abdul Karim Mastura (keturunan Syekh Ali Akbar tinggal di Desa Pasongsongan-Sumenep).
5. Madun, S.Pd. (Kepala SDN Padangdangan II Kecamatan Pasongsongan-Sumenep).
6. Kiai Syamsuri (tokoh adat Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep).
7. Agus Sugianto, S.Pd. (pengamat sejarah, guru di SDN Pasongsongan I Kecamatan Pasongsongan-Sumenep).
8. Hairul Anwar (pengusaha muda asal Panaongan-Pasongsongan, owner Madura Energy).


# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...