Rabu, 25 Februari 2026

Skandal Oknum Habib Madura: Prof Menachem Ali Ajak Kiai Berani Bersuara

oknum habib perdaya suami untuk serahkan istrinya

Sebuah pengakuan mengguncang nalar publik dalam podcast di kanal YouTube HERRI PRAS. 

Prof. Menachem Ali mengungkap sebuah realita biadab di Madura: seorang suami tega menyerahkan istrinya kepada seorang oknum habib. 

Alasannya sungguh menyesatkan—sang suami diiming-imingi syafaat Nabi Muhammad SAW dan dijanjikan bahwa istrinya bakal melahirkan keturunan yang darahnya tersambung pada Rasulullah.

Ini bukan sekadar skandal moral, melainkan bentuk penistaan agama dan kemanusiaan yang paling hina.

Menjual Nama Nabi untuk Syahwat

Syafaat Nabi Muhammad SAW adalah harapan setiap Muslim, tapi ia diraih melalui ketakwaan, bukan melalui transaksi perzinaan. 

Menjanjikan "keturunan Rasul" melalui jalan asusila adalah pelecehan terhadap kesucian nasab itu sendiri.

Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak dan memuliakan perempuan. 

Maka, menggunakan nama beliau untuk melegalkan perilaku predator adalah perbuatan yang bertentangan 180 derajat dengan ajaran Islam.

Seruan untuk Masyarakat dan Kiai Madura

Prof. Menachem Ali tidak sekadar bicara; beliau menyatakan siap bertanggung jawab dan menunjuk langsung oknum yang bersangkutan. 

Beliau menitipkan pesan mendalam bagi masyarakat di Pulau Garam:

1. Jangan Alergi pada Kebenaran: Masyarakat Madura dikenal dengan ketaatannya pada ulama, tapi ketaatan tidak boleh jadi buta. Jangan takut untuk bersuara jika melihat kebobrokan moral, meski pelakunya berlindung di balik jubah kesucian.

2. Pesan untuk Para Kiai: Para kiai dan tokoh agama tidak boleh menutup mata. Diamnya otoritas agama terhadap kasus hina ini hanya akan memberi ruang bagi predator lain untuk memangsa umat yang kurang literasi.

Kesimpulan: Agama Bukan Alat Penindasan

Gelar nasab sepantasnya jadi beban moral untuk berakhlak mulia, bukan "kartu bebas dosa" guna berbuat biadab. 

Saatnya masyarakat Madura bersuara lantang. Kesucian agama harus dijaga dari tangan-tangan oknum yang menjadikannya alat pemuas nafsu. [kay]

Viral! Suami Madura Serahkan Istri ke Oknum Habib Demi Syafaat

Oknum habis hancurkan norma agama dalam jubah islam

Sebuah pengakuan mengejutkan meluncur dari bibir Prof. Menachem Ali dalam kanal YouTube HERRI PRAS

Ia mengungkap sebuah tragedi kemanusiaan di Madura: seorang suami tega menyerahkan istrinya kepada seorang oknum habib.

Alasannya klise tapi mematikan—iming-iming syafaat Nabi Muhammad SAW dan janji lahirnya keturunan berdarah rasul.

Ini bukan sekadar kekhilafan, ini adalah penistaan terhadap akal dan iman.

Manipulasi Dogma yang Biadab

Sangat tidak masuk akal jika syafaat—yang merupakan hak prerogatif Allah melalui kasih sayang Nabi-Nya—dijadikan komoditas transaksi seksual. 

Janji "keturunan yang tersambung ke Rasulullah" lewat jalan asusila adalah pembodohan publik yang luar biasa.

Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak (li-utammima makarimal akhlaq). 

Beliau adalah sosok yang paling memuliakan perempuan. 

Maka, mencatut nama beliau untuk melegalkan tindakan biadab adalah bentuk penghinaan tertinggi kepada sosok Rasulullah itu sendiri.

Madura Harus Berani Bersuara

Prof. Menachem Ali tidak main-main. Ia menyatakan siap bertanggung jawab dan menunjuk langsung siapa oknumnya. 

Ajakan dia agar masyarakat Madura berani bersuara adalah sebuah seruan untuk revolusi moral.

Jangan Takut pada Gelar: Nasab adalah kemuliaan jika dibarengi akhlak. 

Jika digunakan untuk menindas dan melecehkan, itu adalah manipulasi.

Agama adalah Cahaya: Agama hadir untuk membebaskan manusia dari kegelapan, bukan untuk menjerat mereka dalam pembodohan yang menghancurkan martabat keluarga.

Kesimpulan

Kita tidak boleh diam melihat agama dijadikan tameng untuk perilaku predator. 

Hormat kepada ulama dan habib adalah sebuah ketaatan, tapi ketaatan buta yang melanggar syariat dan akal sehat adalah sebuah kesesatan. 

Saatnya kita memisahkan antara kesucian ajaran dan kebobrokan oknum. [kay]

Istri Ditukar Syafaat? Bongkar Skandal Oknum Habib di Madura!

Dkandal menggemparkan terjadi di depan mata

Publik dikejutkan oleh pernyataan Prof. Menachem Ali dalam podcast di kanal YouTube HERRI PRAS

Beliau mengungkap sebuah realita kelam di Madura: seorang suami tega menyerahkan istrinya kepada oknum habib. 

Motifnya? Iming-iming syafaat Nabi Muhammad SAW dan janji bahwa sang istri bakal melahirkan keturunan yang darahnya tersambung langsung kepada Rasulullah.

Kasus ini bukan sekadar skandal moral, melainkan alarm keras mengenai bagaimana manipulasi agama bisa melumpuhkan logika dan martabat manusia.

Penyesatan Makna Syafaat

Syafaat dalam Islam adalah syafaat yang didapat lewat ketakwaan dan kasih sayang Allah, bukan melalui "transaksi" biologis atau penyerahan kehormatan keluarga.

Menggunakan nama Rasulullah untuk melegalkan tindakan asusila adalah bentuk penistaan agama paling nyata. 

Seorang suami seharusnya jadi pelindung (qawwam), justru jadi pelaku penyerahan martabat istrinya demi janji surgawi palsu.

Kultus Individu Kebablasan

Fenomena ini berakar pada kultus individu berlebihan terhadap gelar nasab. 

Ketika seseorang dianggap suci secara mutlak hanya karena garis keturunan, kontrol sosial dan nalar kritis masyarakat seringkali mati.

Agama sejatinya memanusiakan manusia, bukan menjadikannya komoditas.

Nasab seharusnya jadi beban moral untuk berakhlak mulia, bukan alat untuk memuaskan nafsu bejat.

Keberanian Mengungkap Kebenaran

Kita perlu mengapresiasi keberanian Prof. Menachem Ali yang menyatakan siap bertanggung jawab dan siap menunjuk langsung oknum yang dimaksud. 

Ini adalah langkah penting untuk memutus rantai "predator berbaju agama". 

Tanpa keberanian untuk bersuara, praktik-praktik seperti ini akan terus bersembunyi di balik jubah kesucian, memangsa mereka yang kurang literasi agamanya.

Menurut Prof. Menachem Ali, keimanan tidak boleh membuat kita kehilangan akal sehat. 

Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak, bukan untuk menjadi alasan bagi tindakan yang merusak kehormatan perempuan dan institusi pernikahan. [kay]

 



Menilik Narasi Nasab Habib dalam Dakwah KH Kholil Yasin Bangkalan

kh kholil yasin terburu buru menentukan kemuliaan

Pernyataan KH Kholil Yasin di kanal YouTube MADURA TV NET mengenai kemuliaan imigran Yaman bergelar 'Habib' memicu diskursus menarik mengenai hubungan antara nasab (garis keturunan) dan derajat kemanusiaan dalam Islam.

Pandangannya yang menyatakan bahwa keturunan Rasulullah SAW tetap memiliki kemuliaan mutlak, bahkan terlepas dari kondisi keilmuan atau kondisi mental mereka.

Ini mencerminkan penghormatan tradisional yang sangat dalam (takzim) terhadap keluarga Nabi.

Narasi ini berakar pada keyakinan, bahwa mencintai keturunan Nabi adalah bagian dari mencintai Nabi itu sendiri.

Ini sebuah sentimen yang sangat kuat di kalangan masyarakat santri dan pengikut paham tradisional.

Tapi, pernyataan tersebut juga mengundang tantangan kritis di tengah dinamika sosial yang mengedepankan nilai-nilai keadilan universal.

Banyak pihak berpendapat bahwa kemuliaan dalam Islam tidak bersifat deterministik berdasarkan darah semata, melainkan melalui ketakwaan sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an.

Memberikan hak istimewa atau pemakluman berlebih terhadap perilaku individu hanya berdasarkan silsilah keluarga, tanpa mempertimbangkan aspek akhlak dan tanggung jawab sosial, dikhawatirkan bisa menciptakan stratifikasi sosial yang kaku dan berpotensi disalahgunakan untuk kepentingan tertentu.

Secara keseluruhan, ceramah KH Kholil Yasin ini mempertegas adanya tarikan antara pemuliaan terhadap simbol-simbol sejarah Islam dan tuntutan akan integritas pribadi di masa modern.

Meskipun penghormatan terhadap keturunan Rasulullah adalah bagian dari tradisi yang luhur, diskursus ini jadi pengingat penting bagi umat untuk tetap menyeimbangkan antara penghormatan nasab dengan prinsip bahwa setiap individu—siapa pun latar belakangnya—bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri.

Ruang dakwah KH Kholil Yasin seharusnya jadi tempat untuk mendalami perspektif ini secara lebih inklusif agar tidak jadi pembodohan terhadap nalar agama.

Salam settong dhara. [kay]

Antara Karisma dan Kritis: Menelaah Dakwah KH Kholil Yasin Soal Nasab

ceramah kh kholil yasin membela habaib yang diduga bukan keturunan nabi

KH Kholil Yasin, penceramah kondang asal Bangkalan, Madura, telah jadi fenomena tersendiri di jagat media sosial. 

Kemampuannya meramu materi agama dengan cerita viral dan isu kekinian membuatnya memiliki basis pengikut (followers) yang sangat besar di berbagai platform. 

Di atas panggung, gaya ceramahnya yang lugas dan membumi seringkali berhasil meruntuhkan sekat antara ulama dan jamaah, menjadikan pesan-pesan agama terasa lebih ringan dan relevan bagi masyarakat awam.

Tapi, popularitas ini juga membawa tanggung jawab narasi yang besar, terutama terkait ceramahnya di kanal YouTube MADURA TV NET. 

Dalam salah satu kontennya, ia melontarkan pandangan yang cukup kontroversial mengenai kemuliaan imigran Yaman bergelar 'Habib'. 

Ia menyatakan bahwa keturunan Rasulullah SAW tetap memiliki kemuliaan mutlak, bahkan jika individu tersebut tidak berilmu atau dalam kondisi mental yang tidak sehat sekalipun. 

Narasi ini mencerminkan bentuk takzim (penghormatan) tradisional yang amat berlebihan. 

Hal ini memicu diskursus tajam mengenai batas antara penghormatan silsilah dan logika keadilan universal dalam Islam.

Pernyataan tersebut mengundang kekhawatiran akan munculnya "cinta buta" berlebihan tanpa melalui filter sosial, budaya, dan agama. 

Mengagungkan seseorang semata-mata berdasarkan garis darah tanpa menoleh pada rekam jejak perilaku atau kontribusi nyata bisa menjebak umat pada feodalisme religius. 

Dalam Islam, kemuliaan seharusnya tidak bersifat otomatis berdasarkan genetika. Al-Qur'an secara eksplisit menegaskan bahwa standar kemuliaan di sisi Allah hanyalah ketakwaan, dibuktikan melalui kualitas akhlak dan ilmu.

Pada akhirnya, menghormati keturunan Nabi adalah tradisi luhur, tapi tidak boleh menegasikan prinsip bahwa setiap individu bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. 

Menyeimbangkan antara penghormatan nasab dan penilaian kritis terhadap integritas pribadi adalah kunci agar dakwah tidak hanya berhenti pada romantisme sejarah. 

Tanpa landasan akhlak nyata, sebuah gelar keturunan akan kehilangan ruh fungsionalnya di tengah masyarakat yang kian mendambakan teladan moral yang substantif. [kay]

Meluruskan Akidah: Belajar dari Keberanian Gus Aziz Jasuli

Guz aziz bongkar kedok khurafat yang yang tidak beradab

Keberanian Gus Aziz Jasuli membongkar narasi khurafat di sebagian kalangan imigran Yaman merupakan langkah krusial dalam menjaga kemurnian tauhid. 

Sebagai seorang santri yang pernah menimba ilmu langsung di Tarim, Yaman, kesaksiannya memiliki bobot intelektual dan moral yang kuat. 

Tindakan ini menunjukkan bahwa integritas terhadap dalil agama harus berada di atas fanatisme golongan atau romantisasi silsilah, terutama ketika muncul klaim-klaim yang tidak berdasar pada Al-Qur'an dan Sunnah.

Klaim-klaim berlebihan, seperti adanya nenek moyang yang mampu memadamkan api neraka, bukan sekadar cerita rakyat biasa, melainkan penyimpangan akidah yang serius. 

Secara logika keimanan, narasi ini sangat kontradiktif dengan teladan Nabi Muhammad SAW. 

Jika sosok semulia Rasulullah saja senantiasa memohon perlindungan Allah SWT dari siksa api neraka lewat doa-doanya, maka mengklaim ada manusia lain yang memiliki kontrol atas neraka.

Ini adalah dongeng. Ini adalah bentuk pengkultusan yang melampaui batas dan mencederai konsep kemuliaan Allah itu sendiri.

Pada akhirnya, fenomena ini jadi pengingat bagi umat Islam agar lebih kritis dalam menyerap ceramah atau kisah-kisah mistis yang dibalut jubah agama. 

Menghormati keturunan ulama atau habib adalah bagian dari adab, namun adab tidak boleh membutakan kita dari kebenaran syariat. 

Apa yang dilakukan Gus Aziz Jasuli adalah bentuk edukasi bahwa kecintaan pada guru atau garis keturunan harus tetap tegak lurus pada fondasi akidah yang benar, agar kita tidak terperosok dalam kesesatan yang dibungkus narasi-narasi khurafat. [kay]

Gus Aziz Jasuli Bongkar Khurafat Imigran Yaman, Santri Bicara dari Dalam

Khurafat dari imigran yaman memang sangat keterlaluan
Gus Aziz Jasuli

Berangkat dari pengakuannya sendiri, Gus Aziz Jasuli menyusun narasi yang justru terasa berlawanan arah. 

Ia menyebut pernah nyantri pada seorang habib di Pasuruan. Lalu menimba ilmu hingga ke Tarim, Yaman. 

Sebuah jalur yang kerap dianggap “paket lengkap” legitimasi keilmuan. Tapi justru dari jalur itu, Gus Aziz memilih berhenti sejenak. Menengok ulang. Dan mulai bertanya: mana ajaran, mana kultus.

Dalam ceramah yang dipublikasikan kanal YouTube Gedang Mas, Gus Aziz tidak sedang menyerang individu. Ia membongkar pola. 

Tentang khurafat yang dibungkus silsilah. Tentang ajaran yang mengaku bersumber dari tanah suci, tapi menjauh dari aqidah Islam. 

Ia bicara sebagai orang dalam. Sebagai santri. Sebagai alumni Tarim. Maka kritiknya terasa janggal bagi sebagian orang, tapi justru itulah yang membuatnya relevan.

Opini ini penting karena datang dari ruang yang jarang berani bersuara. Gus Aziz menunjukkan bahwa kritik pada imigran Yaman yang menyimpang bukan berarti anti-ilmu, apalagi anti-Islam. Justru sebaliknya.

Ini ajakan untuk memisahkan iman dari mitos. Aqidah dari cerita-cerita magis yang kebal uji. Di titik ini, ceramah bukan lagi soal keberanian bicara, tapi kejujuran untuk meluruskan. [kay]

Selasa, 24 Februari 2026

Negeri Aman Banget? Saat Polisi Sibuk Urus Catering dan Gizi Rakyat

Polri tak lagi ngurus kriminal, tapi ngurus MBG

Ada sebuah pertanyaan dari masyarakat: Apakah tidak ada kejahatan di Indonesia sekarang, kok Polri ikut mengurus MBG? 

Pertanyaan itu wajar, bahkan sangat masuk akal. 

Di saat laporan kejahatan masih datang silih berganti—dari pencurian kecil sampai kasus besar—publik justru melihat Polri sibuk mengurus dapur dan catering. 

Seolah-olah negeri ini sudah terlalu aman, sampai urusan perut warga harus ikut ditangani aparat penegak hukum. 

Ironisnya, rasa aman di jalan belum tentu sebanding dengan kerapian sanitasi di dapur SPPG.

Tentu niatnya bisa disebut mulia. Gizi penting, generasi emas perlu disiapkan. 

Tapi ketika polisi lebih sering muncul sebagai pengelola makanan ketimbang penegak keadilan, wajar jika muncul tanda tanya. 

Apakah ini bentuk sinergi luar biasa, atau justru sinyal bahwa fungsi-fungsi negara mulai tumpang tindih karena ada yang tak berjalan semestinya?

Negara idealnya bekerja dengan pembagian peran yang jelas. Polisi fokus pada keamanan.L embaga lain fokus pada pangan dan gizi. 

Kalau semua dikerjakan Polri, pertanyaannya sederhana: siapa yang mengurus kejahatan? 

Atau jangan-jangan, di negeri ini yang dianggap darurat bukan lagi kriminalitas, tapi isi piring. 

Hmm, ayo mikir, bro. Salam waras! [kay]

Polri Urus Gizi, Negara Hadir atau Peran Bergeser? Catatan dari Peresmian SPPG Prabowo

Polri urus MBG, padahal indonesia darurat korupsi dan narkoba

Hampir seluruh televisi menyiarkan peresmian 1.179 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan 18 Gudang Ketahanan Pangan Polri oleh Presiden Prabowo Subianto. 

Acara ini diposisikan sebagai bukti nyata kehadiran negara dalam menjawab persoalan dasar masyarakat: gizi dan pangan. 

Di layar kaca, negara tampak bekerja rapi, terkoordinasi, dan sigap. 

Duh, Polri hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tapi juga sebagai penggerak pelayanan sosial.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo mengapresiasi langkah Polri yang melampaui tugas pokoknya. Luar biasa. 

SPPG dibangun dengan standar nasional, bahan baku terjaga, sanitasi diperhatikan. 

Pesannya jelas: persoalan gizi adalah urusan bersama, bahkan jika harus melibatkan institusi yang selama ini identik dengan seragam dan kewenangan. 

Tapi di titik ini, publik juga patut bertanya, apakah langkah lintas fungsi ini lahir dari kebutuhan darurat atau dari lemahnya lembaga yang berkompeten.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan, komitmen Polri mendukung program Makan Bergizi Gratis demi generasi emas. 

Pernyataan ini terdengar optimistis dan penuh harapan. 

Meski demikian, sinergi ideal semestinya tidak berhenti pada seremoni dan angka-angka peresmian. 

Tantangan sesungguhnya ada pada keberlanjutan, pengawasan, dan kejelasan batas peran antar lembaga. 

Negara yang kuat bukan hanya mampu bergerak cepat, tetapi juga tahu kapan harus menata ulang peran agar semua berjalan pada relnya. [kay]

SDN di Sumenep: Inovasi "Sekolah Mandiri" atau Kursus Singkat Menjadi Ninja?

penjaga sekolah di sebagian besar SDN di kabupaten Sumenep tidak ada

Selamat kepada Kabupaten Sumenep! Di tengah hiruk-pikuk digitalisasi dan wacana pendidikan 4.0, sekolah-sekolah dasar negeri kita tampaknya sedang melakukan eksperimen sosial yang sangat progresif: 

Sekolah tanpa penjaga. Siapa butuh tenaga kependidikan (tendik) atau penjaga sekolah jika kita bisa melatih murid dan guru menjadi manusia super yang serba bisa?

Kebersihan adalah Sebagian dari... Beban Kerja Guru

​Mengapa kita harus menggaji penjaga sekolah untuk menyapu halaman jika kita punya guru kelas yang tangannya sudah gatal ingin memegang sapu lidi setelah lelah mengajar matematika? 

Ini adalah efisiensi tingkat dewa. Guru-guru di Sumenep kini memiliki portofolio baru: Pendidik di jam 7 pagi, dan Cleaning Service Specialist di jam 2 siang. 

Bukankah ini yang dinamakan "Merdeka Belajar"? Merdeka dari kebersihan yang terjamin, maksudnya.

​Keamanan: Menguji Kejujuran Hantu dan Maling

​Tidak adanya penjaga sekolah di malam hari sebenarnya adalah strategi keamanan tingkat tinggi yang menggunakan jurus sakti. 

Dengan membiarkan sekolah kosong melompong tanpa penjaga, kita sedang menantang nyali para pencuri.

​"Ah, tidak mungkin tidak ada penjaga," pikir si maling. 

Mereka akan curiga ini adalah jebakan Batman, padahal ya memang karena tidak ada anggarannya saja. 

Lagi pula, kalau komputer sekolah hilang, itu bukan musibah, melainkan kesempatan bagi siswa untuk belajar berimajinasi tentang teknologi tanpa perlu melihat fisiknya. Sangat visioner!

​Kurikulum "Survive atau Tersapu"

​Kita harus melihat sisi positifnya bagi para siswa. Tanpa penjaga sekolah, siswa diajak untuk mempraktikkan teori evolusi Darwin secara langsung. 

Siapa yang paling tahan menghirup debu di pojok kelas, dialah yang terkuat. Siapa yang paling lihai melompati pagar sekolah yang tak terkunci tanpa ketahuan, dialah yang paling berbakat jadi atlet lompat jauh masa depan.

​Sebuah Solusi yang (Terlalu) Jenius

​Mungkin pemerintah daerah sedang menyiapkan kejutan besar. Mungkin mereka ingin mengubah SDN jadi sekolah militer. 

Datang sendiri, nyalakan lampu sendiri, sapu sendiri, dan kalau ada berkas administrasi yang berantakan karena tidak ada tenaga kependidikan, anggap saja itu sebagai dekorasi.

​Kita tidak perlu prihatin. Prihatin itu melelahkan. Lebih baik kita apresiasi ketangguhan para kepala sekolah yang merangkap jadi satpam, tukang kebun, sekaligus bagian administrasi. 

Bukankah jadi pesulap adalah cita-cita semua orang di era efisiensi ini?

​Mari kita tunggu sampai rumput di halaman sekolah setinggi harapan orang tua murid. 

Mungkin saat itulah kita baru tersadar bahwa sekolah butuh manusia untuk menjaganya, bukan sekadar doa dan keberuntungan. [kay]

PINTAR BI: Solusi Cerdas Tukar Uang Baru Tanpa Antre Mengular

melek digital, BI luncurkan PINTAR BI

Menjelang Ramadan dan Lebaran, pemandangan antrean panjang masyarakat yang ingin menukarkan uang baru sudah jadi tradisi tahunan. 

Tapi, tahukah Anda bahwa Bank Indonesia (BI) telah menyediakan jalur "tol" digital agar proses ini jauh lebih tertib dan praktis? Namanya adalah PINTAR BI.

Apa Itu PINTAR BI?

​PINTAR merupakan singkatan dari Penukaran dan Tarik Uang Rupiah. Ini adalah portal daring resmi milik Bank Indonesia yang dirancang khusus untuk mendigitalisasi layanan kas. 

Lewat portal ini, masyarakat bisa memesan paket penukaran uang secara mandiri sebelum datang ke lokasi.

Mengapa Ini Penting bagi Masyarakat?

​Tiap tahun, kita melihat masyarakat terjebak dalam kerumunan atau bahkan nekat menukarkan uang di pinggir jalan. Ini amat berisiko. 

Demi mau mendapatkan uang baru, masyarakat rela dipotong dengan biaya tinggi. 

Lalu PINTAR BI hadir untuk memitigasi risiko tersebut dengan beberapa keunggulan:

​1. Kepastian Kuota: Anda tidak perlu khawatir kehabisan stok uang baru saat tiba di lokasi karena jumlahnya sudah dipesan melalui sistem.

​2. Ketertiban Waktu: Dengan mendaftar online, Anda mendapatkan slot waktu khusus. Ucapkan selamat tinggal pada antrean berjam-jam di bawah terik matahari.

3. ​Resmi & Aman: Penukaran dilakukan langsung melalui kas keliling BI atau mitra perbankan resmi, menjamin keaslian uang 100% tanpa biaya tambahan.

Kesimpulan

​Tradisi berbagi kebahagiaan melalui uang baru di hari raya harusnya berjalan menyenangkan, bukan melelahkan. 

Dengan memanfaatkan PINTAR BI, kita tidak hanya mempermudah diri sendiri, tapi juga membantu Bank Indonesia menciptakan tata kelola peredaran uang yang lebih modern dan teratur.

​Sudah saatnya masyarakat Indonesia melek digital dalam hal layanan perbankan. Mari beralih ke cara lebih cerdas, aman, dan tentunya "PINTAR". [kay]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...