Minggu, 10 Agustus 2025

CERPEN: Bila Hujan tak Mau Turun

Cerita singkat Tona dan Debur

By: Suriyanto Hasyim

Debur duduk di teras rumah Tona, menatap perempuan itu. Dalam. 

Ada raut letih di wajahnya, tapi juga keteguhan yang sulit digoyahkan.

Sejak perceraian itu, Tona memilih hidup sendiri. 

Mantan suaminya telah meninggalkan luka di hatinya. 

Pukulan demi pukulan, makian demi makian, telah memberangus kepercayaan Tona pada kata cinta.

"Aku cuma nggak mau mengulang hidup di neraka yang sama," ujar Tona pelan ketika Debur mencoba membicarakan pernikahan.

Debur mengangguk, walau hatinya sesak. Ia paham rasa takut itu, tapi juga prihatin melihat Tona menutup rapat pintu hatinya. 

"Kalau aku carikan calon yang baik, yang bisa jaga kamu, mau?" tanyanya hati-hati.

Tona menggeleng tanpa menoleh.

Debur terdiam sejenak, lalu memberanikan diri. "Bagaimana kalau aku?"

Perempuan itu tak menatapnya, tak juga menjawab. Hanya angin sore yang menyapu hening di antara mereka.

Debur tersenyum pahit. Kadang, luka masa lalu terlalu dalam untuk dijangkau oleh tangan siapa pun.[]

CERPEN: Aku Memilihmu jadi Imamku

Cerita singkat apoy Madura

By: Suriyanto Hasyim

Debur awalnya hanya iseng membuka aplikasi media sosial di malam yang lengang. 

Ia menemukan profil seorang wanita bernama Tona. 

Foto profilnya menampilkan wajah yang tampak lebih tua dari usianya, dengan senyum seadanya. 

Dalam percakapan, Tona mengaku berusia 36 tahun, janda dua anak. 

Entah mengapa, meski fotonya biasa saja, Debur merasa nyaman ngobrol dengannya.

Hari-hari berlalu, obrolan mereka makin intens. 

Mereka saling curhat, bercanda, bahkan saling mengirim voice note. 

Hingga suatu malam, Tona mengajak jumpa darat.

Di kafe kecil pinggir kota, Debur menunggu dengan sedikit gugup. Lalu seorang wanita muda berkulit cerah, berambut panjang, dan bermata teduh melangkah masuk. 

Debur tertegun—itu Tona. Cantik, segar, dan jelas jauh lebih muda dari pengakuannya.

"Ini… kamu?" tanya Debur setengah tak percaya.

Tona tersenyum, duduk di hadapannya.

 "Foto dan usia di profil itu hanya untuk menguji. Aku ingin tahu siapa yang melihat hatiku, bukan sekadar wajahku."

Debur terdiam. Dalam hatinya berkecamuk ragu—apakah rasa yang ia miliki sungguh cinta atau hanya terpukau paras?

Tona menatapnya lekat-lekat, lalu berkata pelan tapi tegas, "Aku memilihmu." []

CERPEN: Debur dan Bayang-Bayang Korupsi

Cerpen apoyMadura

By: Suriyanto Hasyim

Debur cukup muak tiap kali menonton berita tentang para koruptor di Indonesia. 

Hukuman mereka seringkali ringan, bahkan beberapa tetap bisa hidup mewah di balik jeruji. 

Ironisnya, ayahnya sendiri adalah salah satu dari mereka, seorang koruptor yang kini mendekam di penjara karena kasus suap.

Ayah Debur dulu menyuap pejabat negara agar dimudahkan mendapatkan proyek. 

Katanya, kalau tidak menyuap, ia pasti kalah bersaing dengan pihak lain yang juga main uang. 

Bagi ayahnya, suap hanyalah “biaya masuk” dunia bisnis.

Debur tidak pernah membela perbuatan ayahnya, meski ia paham alasan di baliknya. 

Ia justru melihat bahwa alasan semacam itu adalah akar busuk yang membuat negeri ini sulit berubah. 

“Kalau semua orang berpikir begitu, kapan negara ini bisa bersih?” batin Debur.

Kini, tiap mendengar janji pemerintah soal pemberantasan korupsi, Debur tersenyum miris. 

Bagi dia, korupsi bukan sekadar kejahatan, tapi juga warisan mental yang harus diputus, meski itu berarti melawan bayang-bayang keluarganya sendiri. []

CERPEN: Sujud Debur tanpa Batas

Cetita pendek apoy madura

By: Suriyanto Hasyim

Debur tumbuh jadi lelaki perkasa, meski masa lalunya tak pernah luput dari bisik-bisik hinaan. 

Ia adalah anak pelacur. 

Tapi Debur tidak menundukkan kepala karena malu. 

Ia justru menengadahkan hati kepada Tuhan. Ia yakin, Tuhan Maha Pengampun. 

Tiap malam, Debur sujud lama di atas sajadah, merintih dalam doa. 

Ia memohon ampun bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk ibunya. 

Debur tidak pernah membenci ibunya. 

Justru, ia menyimpan rasa sayang yang dalam, meski tak diungkapkan dengan kata-kata. 

Dalam tiap tetes air matanya, terselip doa agar ibunya selamat di akhirat kelak.

Baginya, masa lalu hanyalah ujian. Dan sujud yang panjang adalah jalan pulangnya. []

CERPEN: Cinta di Ujung Senja

Cerita pendek Cinta di Ujung Senja

By: Suriyanto Hasyim

Bagi Debur, usia bukanlah penghalang untuk menemukan cinta. 

Menjelang kepala lima, ia masih perjaka. 

Hidupnya dihabiskan untuk bekerja keras, membangun usaha kecil di kota. 

Ia tak pernah berpikir akan menikah, hingga Tona hadir.

Tona, janda beranak dua, membawa warna baru dalam hidupnya. Senyumnya mencaikan kesepian yang telah lama membeku di hati Debur. 

Banyak tetangga mencibir, menuduh Debur buta mata. Tapi Debur hanya tersenyum. 

Baginya, kebahagiaan tak perlu persetujuan siapa pun.

Selesai akad nikah, Debur merasa seperti lelaki paling beruntung di dunia. 

Bukan karena Tona sempurna, tapi karena Tona menerima dirinya.

Bagi Debur, cinta bukan soal usia atau masa lalu, melainkan keberanian untuk memilih satu hati dan menjaganya. []

Sabtu, 09 Agustus 2025

Cerpen: Nasi Sudah Jadi Bubur

Cerpen terbaik 2025

By: Suriyanto Hasyim

Debur pulang dari Jakarta dengan hati penuh rindu. 

Seminggu terakhir, ia bekerja keras menjaga toko kelontong yang sedang berkembang. 

Wajah Tona dan tawa dua buah hati mereka selalu membayang di kepalanya. 

Ia membayangkan pelukan hangat keluarga saat pintu rumah dibuka.

Tapi, yang menyambutnya hanyalah sunyi. 

Pintu terkunci, tirai rumah tergerai kusam. 

Debur mengintip ke dalam, kosong. Tak ada suara, tak ada jejak.

Dari bisik tetangga, ia mendengar kabar pahit: Tona telah pergi. 

Ia tergoda oleh seorang lelaki berharta, yang bahkan sudah memiliki istri. 

Lelaki itu membawanya pergi jauh, meninggalkan segala yang pernah mereka bangun bersama.

Yang lebih menusuk hati, kedua anaknya ikut dibawa kabur Tona. 

Amarah Debur sempat mendidih, mengguncang dadanya. 

Tapi ia hanya bisa terdiam, menatap langit sore yang meredup. 

Semua sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur.

Bagi Debur, tak mungkin lagi merangkai cinta yang telah hancur.[]

Kenapa Hukuman Mati untuk Koruptor di Indonesia tidak Bisa Dibuat?

Koruptor indonesia

Di negeri ini, hukuman mati bagi koruptor seolah cuma bahan obrolan di warung kopi. 

Dibicarakan dengan penuh semangat, tapi begitu masuk meja parlemen atau ruang sidang, langsung mengecil seperti lilin kehabisan oksigen.

Padahal, orang awam pun tahu: koruptor adalah biang kemiskinan. 

Mereka mencuri uang yang seharusnya membangun jalan, sekolah, rumah sakit, dan lapangan kerja. 

Akibatnya, rakyat harus hidup dengan gaji pas-pasan, harga melambung, dan layanan publik setengah hati.

Sayangnya, rakyat Indonesia sudah terlalu sering di-PHP (Pemberi Harapan Palsu). — dijanjikan pemberantasan korupsi, tapi yang muncul hanya drama tangkap-menangkap. 

Para koruptor bisa tersenyum di penjara, bahkan kadang keluar dengan remisi bak pahlawan.

Kalau negara memang serius, kenapa tidak berani menegakkan hukuman mati bagi para perampok uang rakyat? 

Atau mungkin, yang duduk di kursi kekuasaan takut karena mereka sendiri atau koleganya bisa masuk daftar eksekusi?

Rakyat sudah muak. Keadilan harus ditegakkan, meski berarti memutus nyawa para pengkhianat bangsa. [sh]

Hukuman Mati: Harapan yang Selalu Mandek di Indonesia

Di Indonesia, hukuman mati ibarat tong kosong nyaring bunyinya —menggelegar dalam wacana, tapi tak berisi kenyataan. 

Kendati presiden Prabowo pernah bilang akan menegakkan hukuman mati bagi para koruptor, namun penerapannya kerap tersendat oleh tarik-menarik kepentingan politik, hukum, dan moral.

Ironisnya, masyarakat awam sudah paham betul bahwa korupsi adalah akar dari banyak penderitaan—mulai dari infrastruktur terbengkalai, layanan publik setengah hati, hingga kemiskinan yang diwariskan lintas generasi. 

Koruptor bukan sekadar pencuri uang negara, mereka adalah perampas hak hidup layak jutaan rakyat.

Tapi, ketika berbicara soal hukuman mati bagi koruptor, kita terjebak dalam retorika tanpa aksi. 

Ada yang berdalih soal hak asasi, ada pula yang sibuk menimbang “kepastian hukum” yang entah kapan datang. 

Akibatnya, korupsi tetap tumbuh subur, sementara rakyat hanya bisa menggigit bibir menatap ketidakadilan yang terus berulang.

Kalau negara tak berani menegakkan hukuman maksimal bagi perampok uang rakyat, jangan heran bila kepercayaan publik kian terkikis. 

Sebab, di mata masyarakat, keadilan bukanlah sekadar pasal dan janji, tapi tindakan nyata. [sh]

Jumat, 08 Agustus 2025

Ijazah Jokowi, Misteri Negara Rasa Dagelan

Ijazah jokowidodo

Kasus ijazah mantan Presiden Joko Widodo ini sudah kayak drama Korea tanpa ending—bedanya, nggak ada adegan romantis, yang ada cuma rakyat kebingungan. 

Dari dulu ribut, ribut, ribut… tapi ijazah aslinya tidak nongol juga.

Lucunya, Pak Jokowi ini kayak pemain sinetron yang tahu bikin semua orang penasaran, tapi justru diam saja sambil senyum. 

Ya, mungkin strateginya begini: “Kalau rakyat bingung soal ijazah, mereka nggak sempat ngomongin harga beras.” Cerdas? Mungkin. Licin? Jelas.

Padahal, kalau mau, tinggal buka map, tunjukin ijazah, selesai. 

Tapi tidak. 

Misteri ini dibiarkan menggantung, bikin masyarakat debat sampai urat leher keluar, sementara elite politik duduk manis sambil makan popcorn.

Kalau terus begini, jangan heran jika nanti kasus ijazah ini diwariskan ke cucu kita sebagai “warisan budaya tak benda”—karena bendanya sendiri nggak pernah kelihatan. [sh]

Ijazah Jokowi, Misteri yang Lebih Seru dari Sinetron

Presiden RI yang ke-7

Kasus ijazah mantan Presiden RI, Joko Widodo, ini rasanya sudah kayak sinetron Ramadhan yang tayang tiap tahun: Plotnya itu-itu saja, tapi penontonnya tetap heboh. 

Bedanya, kali ini tokohnya nggak kunjung kasih “bukti asli” yang dinanti-nanti.

Yang bikin geleng-geleng kepala, Jokowi masih belum mau menunjukkan ijazahnya ke publik. 

Padahal kalau cuma buka map ijazah, foto, lalu upload ke Instagram, selesai urusannya. Hehehe... 

Tapi entah kenapa, ini malah kayak nonton magician yang mau menunjukkan trik sulap… tapi triknya tak pernah kelar.

Jadinya orang bertanya-tanya: Ini sengaja biar semua penasaran, atau cuma cara kreatif buat bikin rakyat lupa sama isu-isu lain? 

Kalau benar begitu, ya selamat—triknya sukses, bung! 

Tapi jujur, kalau terus begini, kasus ini bisa masuk rekor MURI sebagai “Misteri Nasional yang tak Pernah Tamat”. 

Jadi, Pak Jokowi, ayolah kita akhiri sinetron ini sebelum ratingnya turun gara-gara penonton bosan. [sh]

Polemik Ijazah Jokowi, Misteri yang Tak Kunjung Usai

Presiden Republik indonesia

Kasus dugaan ijazah mantan Presiden RI, Joko Widodo, kembali mencuat dan menimbulkan kegaduhan di ruang publik. 

Kisruh ini seolah tak pernah usai, memantik pro-kontra tajam di tengah masyarakat.

Yang membuat publik heran, Jokowi hingga kini belum mau menunjukkan ijazahnya. 

Padahal, langkah sederhana itu bisa jadi cara paling mudah untuk menghentikan spekulasi. 

Sikap diam ini justru memunculkan berbagai pertanyaan: Apakah ini strategi untuk membuat orang terus penasaran? 

Atau malah sebagai upaya mengalihkan perhatian dari isu-isu lain yang lebih penting?

Apapun alasannya, kasus ini menunjukkan betapa lemahnya transparansi pejabat publik di negeri ini. 

Mengulur jawaban hanya akan memperpanjang kegaduhan dan membuat rasa percaya masyarakat semakin terkikis. [sh]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...