Minggu, 19 September 2021

Waswas



Pentigraf: Yant Kaiy

Selalu waswas menyerbuku tiap ada impian datang. Jiwa jadi gelisah berlebihan, takut berkepanjangan sebelum masanya. Aku terkulai pasrah. Trauma itu mengikuti tiap detak jantung, menyatu tanpa mau kompromi.

 

Hingga punya anak dua, aku tak bisa berpijak pada hasrat diri. Meski banyak sahabat bilang kalau aku sudah dewasa. Namun nyatanya, siksa itu tak gampang ditebang oleh motivasi.

 

Kendati hidup menuju kematian, tak sudi diri ini kalah oleh siksa dunia. Saat ternatal keping kesadaran seperti itu, esoknya berubah tanpa bisa terkendali. Bagai embun pagi, mudah lenyap ditelan mentari.[]

 

Pasongsongan, 17/9/2021



Noktah Rindu



Pentigraf: Yant Kaiy

Dia dan aku sudah berambut dua. Kami sama-sama telah memiliki anak. Suamiku berkantong tebal lantaran bekerja disalah sebuah bank swasta. Semua kebutuhan hidup terpenuhi. Anak-anak kami tumbuh sejahtera seiring waktu. Namun cinta tak kenal usia. Benih-benih asmara tiba-tiba bergema diantara kemesraan terjalin indah.

 

Saat suamiku tugas diluar kota, bayang-bayang dia menghampiri malam kesepianku. Hasrat liar itu mengoyak perih. Tak terkendali.

 

Aku memintanya untuk datang. Dia tidak menolak. Rupanya rindu tidak bertepuk sebelah tangan. Dia memegang tanganku di sudut ruang tertutup. Mata kami bersirobok. Tak ada kalimat puitis mengiringi pelukan, hangat.[]

 

Pasongsongan, 19/9/2021



Kamis, 16 September 2021

Ceng Sukiman dan Macapat Madura

Ceng Sunayan (kiri) bersama Ceng Sukiman di pagelaran Macapat Madura. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Di Dusun Sempong Barat Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, sebagian besar para lelaki usia 50 tahun keatas bisa melagukan tembang Macapat. Itu baru saya ketahui ketika ada pagelaran Rokat Pandhaba dipesta pernikahan salah satu rumah warga di dusun tersebut.

 

Ceng Sukiman, Ceng Sunayan dan Ceng Juma’i bercerita kepada saya, dimasa kecil setelah habis mengaji pada malam hari, mereka belajar Macapat kepada ahlinya. Begitu tekun mereka belajar saban malam sampai bisa. Seolah ada filosofi budaya: Siapa bisa mengaji Al-Quran dan dapat menembangkan kidung Macapat, maka pemuda tersebut akan mudah diambil calon menantu.

 

Menurut Ceng Sukiman (57 tahun), jaman dulu jarang hiburan. Listrik tidak ada. Seni Macapat merupakan salah satu hiburan yang banyak digemari masyarakat luas.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Rabu, 15 September 2021

Impian Terbang



Pentigraf: Yant Kaiy

Banyak sisi kusuka dari Fitri. Otaknya brilian. Di sekolah tidak sombong. Mudah bergaul dengan siapa saja. Parasnya cantik. Berkulit kuning. Tubuhnya padat berisi. Dia suka berolahraga. Dari keluarga terpandang. Kedua orang tuanya abdi negara. Tak ada catatan kelam melekat pada mereka. Suka membantu lingkungan di sekitarnya.

 

Tapi jodohku bukan jatuh padanya. Cintaku berlabuh di pantai hati Fatim. Gadis bukan impianku. Walau begitu, tak ada penyesalan bersarang di kalbu. Lantaran ada sisi lebih tak terlihat sebelumnya.

 

Kegagalan memiliki Fitri karena satu hal. Ternyata aku bukan impiannya, meski kami sangat dekat.[]

 

Pasongsongan, 15/9/2021



Mencermati Minat Tanam Petani Tembakau Madura



Catatan: Yant Kaiy

Rabu, 15 September 2021, saya membeli tembakau rajang kering di  sebelah selatan Masjid Jamik Sumenep. Saya beli paling murah seharga Rp 12.000,- per ons. Jadi kalau 1 kilogram Rp 120.000,- Sedangkan harga tembakau rajang saat ini di petani rata-rata Rp 30.000,- per kilogram.

 

Dari sini dapat dicermati kalau pedagang untung, sedangkan petani buntung. Berbeda cerita dengan petani tembakau yang menjual ke gudang pabrikan rokok. Menurut beberapa petani di kawasan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, bahwa mereka jera menjualnya ke sana. Alasannya terlalu banyak pungli (pungutan liar).

 

Berkaca dari fakta inilah, petani tembakau terus merugi setiap tahunnya. Rugi biaya, tenaga dan waktu. Saat ini tembakau Madura tidak lagi mendapat julukan ‘Si Daun Emas’.

 

Pada akhirnya banyak lahan kosong. Tidak ditanami tembakau. Realita ini bisa dilihat dibeberapa kecamatan di Sumenep dan Pamekasan.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com





Senin, 13 September 2021

Macapat Madura dan Rokat Pandhaba

Pertunjukan Macapat Madura. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Dalam Macapat Madura ada pagelaran bernama Rokat Pandhaba. Biasanya pementasan Rokat Pandhaba di Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep dilaksanakan setelah acara pesta pernikahan.

 

Berbeda dengan pertunjukan Macapat pada umumnya, di Rokat Pandhaba ada makanan/hidangan khusus disajikan kepada para undangan. Di akhir acara dilanjutkan pembacaan Doa Rokat. Tradisi turun-menurun dari para pendahulu ini tetap lestari hingga kini, tak lekang digerus waktu.

 

Dibalik pertunjukan Rokat Pandhaba ini, sesungguhnya terkandung nilai-nilai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Suci. Wajib hukumnya bagi setiap insan untuk senantiasa bersyukur, baik dalam suka ataupun duka.

 

Sedangkan pemanjatan Doa Rokat dimaksudkan agar kedua mempelai selamat dunia-akhirat dalam mengarungi mahligai rumah tangga.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Minggu, 12 September 2021

Sebutir Dendam



Pentigraf: Yant Kaiy

Dulu dedam di hatiku tumbuh liar. Sungguh, aku tak mampu mengendalikannya. Meski banyak masukan, saran dari orang-orang tercinta. Tapi mereka tidak merasakan. Betapa ancaman jiwa itu nyata adanya, terang-terangan, bahkan secara terbuka. Pada akhirnya kami terusir dari tanah kelahiran. Tanah tempat aku, adikku dan kedua orang tuaku menjalani hidup di kampung berpenganut agama kuat.

 

Kini kami memiliki harta berlimpah, jabatan publik, perusahaan berkaryawan ribuan. Orang yang dulu menghinaku banyak berbalik arah. Bermanis-manis muka di hadapan kami. Kami penuhi keinginan mereka. Kulampiaskan dendam di hati. Kalau aku jadi mereka, tak sudi hati mengemis seperti itu.

 

Ketika mereka yang menyebabkan kami terbuang dari kampung halaman berjumpa dan menyapa, kutebarkan senyum. Kendati di hati butir dendam itu tetap bersemayam. Biarlah semua abadi dalam kenangan.[]

 

Pasongsongan, 12/9/2021 



Hasrat



Pentigraf: Yant Kaiy

Tonah tak mampu menahan kepedihan. Dadanya sesak, serasa mau pecah saja. Sebelumnya, berjibun permasalahan hidup mampu ia lewati. Tapi tidak kali ini. Air matanya terus mengalir bak anak sungai. Perjuangannya seolah sia-sia. Pengorbanannya berbuah neraka seiring penyesalan tak bertepi.

 

Ingin rasanya ia meninggalkan rumah besar itu. Namun… Tiga buah hatinya yang beranjak dewasa mengikatnya. Walau ia tahu, mereka akan tetap memanggilnya “Ibu” sampai kapan pun. Tiap kali ada hasrat mau pergi, sontak berkelebat bayang nasib buruk bakal menimpa mereka. Gusti… Lenguhnya panjang mengiris jiwa.

 

Segera Tonah meninggalkan tempat dimana suaminya sedang bermesraan dengan gadis belia. Dia tak lain keponakannya.[]

 

Pasongsongan, 11/9/2021

Sabtu, 11 September 2021

Hasil Panen Tembakau Madura Berkurang



Catatan: Yant Kaiy

Pada 2021 kali ini hasil panen tembakau di  Kabupaten Sumenep dan Pamekasan mulai berkurang. Dari tahun ke tahun lahan tanam petani terus mengerucut.

 

Faktor penyebabnya karena musim yang tidak menentu. Tidak tepat waktu. Biasanya sudah masuk musim kemarau, tapi hujan sering turun. Kualitas tembakau pun turun drastis. Bahkan tak jarang ada yang gagal panen. Kalaupun bisa panen, petani tetap merugi lantaran harga tembakau rajang murah.

 

Kita tahu proses panjang tanaman tembakau membutuhkan dana tidak sedikit. Mulai proses tanam hingga perajangan. Karena melibatkan banyak orang. Saban tahun tetap saja mereka tidak untung. Otomatis ada sikap jera dari para petani tembakau karena selalu berulang.

 

Para petani mulai melirik tanaman lain yang lebih menjanjikan. Seperti menanam bawang merah dan cabai rawit. Kalaupun hujan turun, tanaman tidak mati. Tidak seperti tembakau.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com 



Jumat, 10 September 2021

Antologi Puisi “Kemarau Hati” (3)



Puisi: Yant Kaiy

Terbalut Gundah

sering kuberjalan tanpa tujuan

menghitung langkah sedih

tubuh kerdilku tak berdaya

memendam balutan resah

lantas banyak kuingin paparkan

dalam rangkuman doa malam

lahir dari persaingan iri

jika hanya untuk hidup

binatang bisa pakai hukum rimba

tapi kita berakal dan berbudi

 

tak ingin kepedihan terus mendera

acapkali jatuh-bangun

entah sampai kapan kumandiri

atau dosa-dosaku tempo dulu?

bukankah Tuhan menyatu di jiwa

ampunan-Nya seluas semesta

 

tiba-tiba aku lebih suka

menderita seperti ini

kupikir jutawan sakit juga

lebih menakutkan

 

kubersyukur selalu

Dia menakdirkan liku hidup begini

tiada guna berontak

batin terguncang, tersiksa…

memang hidup tak sempurna

berikhtiar tak mengapa

karena butir dosa tetap ada

menyatu kuat pada desah nafas.

 

kadang terlintas di alam pikiran

gunung pengorbanan seolah sia-sia

demi melihat sukses sesama.

          Pasongsongan, 9/9/2021



Kiat Sukses Sang Kepala Desa



Catatan: Yant Kaiy

Dari sekian banyak kiat sukses menjadi seorang Kepala Desa (Kades), ada salah satu trick yang membikin warga masyarakatnya klepek-klepek, manut dan tak pernah protes atau “berontak”. Ini penting bagi seorang Kades kalau mau berkompetisi lagi di putaran Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) selanjutnya.

 

Berkaca pada beberapa Kades incumbent yang terpilih lagi. Ternyata sangat sederhana animo rakyat itu. Mereka menghendaki akses jalan bagus. Titik. Penduduk di desa tersebut akan menempatkan Sang Kades pada tataran megah mengagumkan, menumbangkan segala kekurangan yang terdapat pada dirinya.

 

Memang pembangunan di desa tidak hanya proyek jalan. Namun permintaan sederhana bagi sebagian besar warga desa umumnya jalan baik, tidak rusak. Kita tahu, mobilitas manusia saat ini amat tinggi. Setiap rumah memiliki kendaraan roda dua. Maka sarana jalanlah yang patut jadi target awal pembangunan bagi Sang Kades.

 

Kalau akses jalan sudah baik, tentu warga desa tetangga akan mengacungkan jempol. Mereka akan membanding-bandingkan dengan semua jalan yang ada di desanya. Mereka tidak usah disuruh, akan terlontar kalimat positif untuk memilihnya lagi.

 

Survei tidak resmi, sarana jalan ternyata menempati posisi puncak apabila ada Musyawarah Dusun (Musdus) dari serap aspirasi warga desa.

 

Kiranya ini pantas dipikirkan bagi seorang Kades supaya singgasananya tidak jatuh ke tangan orang lain.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...