Jumat, 04 Juni 2021

Antologi Puisi “Tawa Terperosok Duka” (24)



Karya: Yant Kaiy

Syair

aku tak mungkin mengulanginya lagi

kalimat cinta telah kutanam

diantara pucuk rindu  semalam

 

aku pun tidak paham sebelumnya

kemana hasrat diri bisa berlabuh

lantaran sulit dibedakan

apakah kau pura-pura tidak tahu

atau sekadar bangga pada diri sendiri.

Pasongsongan, 21/12/95

 

Epilog

Berbagai warna problema telah berulangkali mencambuk perasaan dan hati nurani saya berulangkali, tapi saya berusaha untuk mengatasinya, salah satu diantaranya saya mengabadikan potret pengalaman pribadi  lewat puisi. Terus terang, dengan begitu saya merasa lega kendati problema dan tantangan hidup di alam fana ini akan muncul tanpa terduga dan kehadirannya seringkali tidak dikehendaki kita. Itulah bagian terpenting dari sisi kehidupan ini, kita pun harus memakluminya dengan besar hati.

 

Dengan menulis puisi kadang saya meresa puas dan lega setelah menghadapi suatu permasalahan yang menyita perhatian saya. Tak jarang puisi bagi saya menjadi obat dari beraneka kegundahan meruah. Dengan demikian saya ternyata dapat mengimla kembali apa yang telah menimpa saya. Sebagai hasil akhir dari pil luka itu saya dapat memetik hikmah agar tidak terulang lagi peristiwa pahit tersebut, minimal saya mampu mengantisipasinya sedemikian rupa supaya tidak terjadi hal-hal yang merugikan.

 

Berkali-kali saya harus bertanya pada diri sendiri; untuk apa sebenarnya saya menulis puisi dan bagi siapa sesungguhnya puisi-puisi tersebut saya buat. Saya pun menemukan kesulitan meruah melanda permukaan jiwa jika pertanyaapertanyaan semacam itu terlintas dalam benak. Acapkali pula pertanyaan-pertanyaan itu membelenggu gerak kreativitas yang ada. Saya tak mampu menjabarkannya apabila Anda masih diselimuti keragu-raguan untuk mengapresiasikan semua yang saya kemukakan ini.

 

Saya menjadi begitu tersiksa apabila mengenang semuanya.

 

Bagaimanapun alasannya, saya harus lebih banyak bercerita tentang diri saya sesungguhnya agar Anda tidak terlalu keoewa mengenal saya. Ya, tak perlu ada yang harus disembunyikan apabila itu menjadi rasa nyeri di dada inĂ­. Bukankah rasa saling mengerti satu sama lain akan menatalkan cinta kasih sesama lebih murni, tanpa adanya

polusi yang mengotori pergaulan kita. Semua orang yang memiliki wawasan luas akan mengangguk setuju dengan opini ini, tak terkecuali bagi mereka yang dulu pernah membenci kita, mereka aken mengakui keabsahan tersebut kendati tidak harus lewat lisannya, nemun nuraninya akan mengatakan sebenarnya.

 

Adakalanya dusta itu mengakibatkan suatu kebaikan bagi diri kita, kendati dusta itu merupakan bagian dari bentuk dosa, namun kadang sangat dibutuhkan untuk melindungi diri kita dari berbagai ancaman kehancuran yang dapat merugikan kita dan orang lain.

 

Anda pun boleh menganggap saya berdusta dalam antologi puisi ini. Anda pun boleh berprasangka tentang apa yang saya bikin ini tak lain adalah permainan (sandiwara) hidup gombal dan memuakkan. Sikap kurang peduli Anda akan saya hormati lantaran akan menjadi gunung kebersemangatan saya dalam mencipta puisi. Bukan berarti ini semua muara tujuan saya sesngguhnya menghimbau Anda untuk membenci saya selama-lamanya.

 

Tidak demikian arah maksud saya. Kita sadar, rasa benci dalam diri manusia takkan pernah melahirkan suatu kebajikan. Maka tidak akan perneh ada karya yang baik di mata kita kalau kebencian, kemuakan, kenunafikan dan iri hati menyelimu ti jiwa kita.

 

Kiranya rasa saling menghormati diantara kita akan mendatangkan kedamaian nan hakiki. Saya yakin sekaligus percaya jikalau Anda senantiasa berpikir tentang kebaikan besama sesama umat, maka Anda akan menjadi orang bijak yang bakal menjadi pelita pada kehidupan fa na ini. Kalau Anda sudah berpikir ke arah itu, hendaklah Anda jangan berpaling pada lainnya, terspesial pada situasi berbau fatamorgana yang seringkali mengecoh kita. Berhati-hatilah agar Ande tidak jadi golongan manusia merugi selamanya.

 

Kendati begitu, semua akan terasa hambar kalau konsep tersebut hanya di bibir saja jikalau tidak diaplikasikan pada kehidupan nyata. Bukankah teori dari orang-orang pintar (cendekiawan) saat sekarang bertebaran dimana-mana.

 

Tuhan jelas membenci kita apabila umat-Nya berjalan pada keharaman, kemaksiatan, ketakaburan dan lain sebagai

nya. Mari kita instropeksi, sampai dimanakah jalan telah kita tempuh.

 

Dal am konteks ini, sebenarnya saya telah mengambil sebuah aksi kreativitas lewat mencipta puisi,. Sebab dengan mencipta puisi  bagi saya akan mendatangkan kepuasan tersendiri sekaligus bisa mengaji, menganalisa, merenungkan dan menyikapi apa yang pernah saya lalui. Saya yakin sepenuhnya, saya akan mampu berbuat sesuatu setelah tahu sebelumnya dengan jalan perjuangan dan pengorbanan. Dengan mencipta puisi kadang saya terbawa pada masa depan tak menentu.

 

Kadang saya berangan-angan, apa sebenarnya yang mesti saya harus lakukan demi terwujudnya sebuah impian. Sebab yang saya perbuat bukan sekadar menimpa terhadap diri sendiri, melainkan juga yang terjadi di sekitar kami. Saya dituntut mampu menerjemahkan segala sesuatunya. Sebaiknya langkah apa yang wajib diambil sebagai titik tengah diantara dua hal yang bertolak-belakang. Saya kemukakan semua ini tidak untuk menyanjung diri sendiri.

 

Tentu tidak begitu maksud saya. Melainkan semua bertujuan ingin berbagĂ­ pengalaman kepada siapa saja, termasuk juga kepada Anda yang mencintai kebaikan hidup ini. Bukankah sesuatu berupa sebuah kemenangan tak  jarang mendatangkan petaka bagi diri sendiri kalau tidak cermat pengelolaannya.[]

Pasongsongan-Sumenep, 1995



Kamis, 03 Juni 2021

Antologi Puisi “Tawa Terperosok Duka” (23)



Karya: Yant Kaiy

Selimut Kabut

jalan kutempuh naik-turun

tak jauh berbeda dengan kampungku

hati pun teduh pada belai lembut mereka

dedaunan menghijau  pelukan

pegunungan melingkariku di sunyi lamunan

leburkan bimbang tersisa kemarin

tapi tak banyak teriakan mungil menghias

seperti harapanku sebelum melangkah

apalagi dia sudah jadi milik orang

hanya pajangan potret mengejekku

dan manpu melunglaikan gairah yang ada

terlebih dalam kamar seorang diri.

Pasongsongan, 27/08/95

 

Pertemuan

teruntuk watie

 

sejak dalam bis aku telah membidikmu

ada hasrat terbelenggu mengusik

hingga pada pagi merekah tercurah

kita pun berjabat tangan

saling memperkenalkan dalam tatapan

aku terbawa pada gerakan lincahmu

sebelum meninggalkan dirimu pergi

 

kini kusulit melupakanmu

aku diburu rasa bersalah selalu

mungkinkah kita bersua dalam remang itu?

Pasongsongan, 27/08/95



Antologi Puisi “Tawa Terperosok Duka” (22)



Karya: Yant Kaiy

Tanya

haruskah aku bertanya pada malam

sampai kapan kuterkurung di kamar diam

 

haruskah aku bertanya pada batu

sampai kapan kumampu berjalan di atas duri

yang tak pernah sepi dari tikaman nyeri

 

haruskah aku bertanya pada semut

sampai kapan kuhanyut di riak rindu

tersangkut perasaan begini-begitu

lantaran hal itu bukan sesuatu yang lucu

 

haruskah aku bertanya pada musim

sampai kapan aku tak terasing

diriku tidak lagi terombang-ambing

 

haruskah aku bertanya pada rumput bergoyang

sampai kapan hatimu membuang sayang

 

haruskah aku bertanya pada diri sendirij

jika dirimu tak pernah peduli

jika dirimu terlalu tuli

tak pernah mendengar kebenaran hakiki

yang telah difirmankan Illahi.

Pasongsongan, 28/12/95

 

Masih Belum Terlambat

kau bercerita banyak

berbeda dengan hari kemarin

walau sudah hampir terlambat

kau sempatkan menghibur diriku

disela-sela sarapan pagi

 

kicau burung bersahutan

dari dahan satu ke dahan lainnya

aku tak dapat membaca isyaratnya

yang mustahil diterjemahkan pada riak penyeaalan

tapi aku sudah membaca satu pengorbanan ikhlas

sebagai penawar kegundahan diri

biar pun tidak langsung lenyap

namun cukup membuat lekukan semangat

yang bisa kubingkiskan pada perjalanan.

Pasongsongan, 28/08/95



Rabu, 02 Juni 2021

Antologi Puisi “Tawa Terperosok Duka” (21)



Karya: Yant Kaiy

Bangun Malam

bila penat menggeliat

kubaringkan kacau di selimut gelap

terpejam dalam kurungan angin

kurasakan nikmat mengalir

mengikis sejenak kebimbangan

menguap tanpa batas, lepas

 

bila kuterbangun di mandala malam

kuteriak pada sunyi nan hening

kutumpahkan semuanya

kulemparkan bersama kidung nurani

selalu kubegitu sebelum membeku

diterkam kilas-balik kekecewaan

masih membekas di ingatan

yang masih belum tuntas.

Pasongsongan, 27/12/95

 

Mana Kubisa Tahan…

sering kumembayangkan impian

hidup bersama dengan seorang dara

pada satu atap berbunga-bunga

dalam satu ikatan resmi

 

lalu punya anak cukup banyak

penuh kasihm, tulus dan pengertian

penuh canda seta tawa

selalu setia mengarungi suka-duka

o, betapa bahagianya keharmonisan itu

apalagi tidak sampai minta macam-macam

mau mensyukuri apa adanya

 

namun perempuan masa kini sulit

unumnya kemewahan jadi impiannya

lantas dirinya tinggal bersenang-senang

merias diri semolek mungkin

untuk mendapetkan pujian,

sanjungan dan kemasyhuran

 

sang suani bekerja mati-matian

tak jarang kepala jadi kaki

hanya demi anak-istri tercinta

O, begitu menakutkan.

Pasongsongan, 28/12/95



Antologi Puisi “Tawa Terperosok Duka” (20)



Karya: Yant Kaiy

Apa yang Kau Banggakan?

jujur saja, sahabat

buanglah jauh kebanggaanmu

biar kutak tersiksa

aku bukan gila hormat, atau

sanjungan pembinasaku nanti

 

tak usah pedulikan diriku

kumohon sangat padamu

liukan prestasiku tak seberapa

jika dibandingkan pendahuluku

toh wajar jalan kejutan kita tempuh

sebelum ajal menjelang

berbuat sesuatu

 

tidak berbuat sama sekali

atau kepura-puraan

adalah hal lumrah terjadi

semuanya bernilai baik

sesuai kondisi dan situasi.

Pasongsongan, 27/12/95

 

Malam dalam Pelukan Hening

hening senantiasa menghiasiku

kubalut luka bersama jerit menua

sisa-sisa kekecewaan seharian

terasa amat melelahkan jiwa

 

malam demi malam kugandrungi

dalam sebuah gubuk reot

hening tanpa cerita; canda, gelak-tawa

cuma halimun melindungiku di balik impian

lantas terkapar di tengah gelap

tak jarang aku menangis

mengimla perjalanan nasib

 

terombang-ambing ucapan sang dara

telah berikrar setia menemani sepiku

lalu berakhir terlalu menyakitkan

 

ada saja yang jadi permasalahan

yaitu dari sekian banyak perbedaan

sengaja ia runcingkan

aku tak mau menyalahkan

lebih baik abadi di pelukan hening.

Pasongsongan, 27/12/95



Antologi Puisi “Tawa Terperosok Duka” (19)



Karya: Yant Kaiy

Wajah-wajah

kau ketuk juga pintu hati ini

dari sekian kebisuan

dari sekian kegamangan

dari sekian ketidakpastian

karena aku sudah tahu banyak

meski hanya sebatas cerita

 

entah mengapa aku begitu sulit

memberi nilai percaya

cukup beralasan memang

sebab aku tak ingin terjebak duka

ya, lukaku masih belum pulih

 

salahkah bila itu jadi keberatanku?

kurasa tidak, kekasih

mungkin hanya waktu

tempat dimana kita menghormatinya

 

kumasih mau bercermin buatmu

akan kuhormati penantianmu.

Pasongsongan, 27/12/95

 

Akulah Rumput

masih belum puaskah?

kau menyakitiku

kau menginjak harga diriku

 

masih belum puaskah?

terlalu sering aku mengalah

terlalu sering aku tersiksa

sebab bagimu aku rumput

makanan binatang

 

masih belum puaskah?

kau menamparku

kau menfitnahku

kau koyak semua yang ada padaku

 

masih belum puaskah?

sampai kapan aku begini

sampai kapan?

Pasongsongan, 27/12/95



Antologi Puisi “Tawa Terperosok Duka” (18)



Karya: Yant Kaiy

Di Bawah Rindang Bambu

teruntuk, endang

 

sengaja kuhadir tanpa memberi kabar

sengaja pula kutak berdandan rapi

sebab tak punya baju dan celana baru

namun bukan alasan jitu kau menolakku

atau kau telah menyumpahi dirimu?

haram lantaimu terinjak kakiku

 

sungguh terlalu

kau ciptakan api permusuhan

hanya demĂ­ gengsi barangkali

 

sebelumnya tak terbayangkan olehku

kebaikanmu ternyata racun mematikan

kau jebak diriku

 

kuharap kita berjumpa lagi

dalam waktu yang tak kau kehendaki.

Pasongsongan, 26/12/95

 

Penyiar Idola

rasa penasaranku terobati kini

kala kau menjawab simpatiku

begitu transparan

 

aku pun membatasi diri

kau punya banyak pengagum

 

suaramu terdengar dimana-mana

dalam sebuah rumah

di kamar mandi

di ruang wc

di lautan luas

di kampung-kampung kumuh

tak sadarkah dirimu

jika ada yang tergila-gila

diantara sekian juta pendengarmu.

Pasongsongan, 26/12/95



Antologi Puisi “Tawa Terperosok Duka” (17)



Karya: Yant Kaiy

Gelora tak Sampai

buat adikku, ho

 

telah kuukir kalimat manis untukmu

ungkapan suara hatiku sebenarnya

tapi kau terlalu jauh, dan

sangat kecil kau mendengarkannya

dari sikapmu sudah bisa kutangkap

kusketsakan pada nada bicara mereka

mana mungkin semuanya berjalan

sesuai arah mata angin

 

pernah terlintas dalam benak

barangkali kita takkan sanggup berdampingan

memadu kasih tulus sesuai harapan mereka

betapa kecewanya nanti

bukan hanya kita, tapi mereka jua

 

kita renungkan kembali

jangan terlalu menuruti kehendak hati

agar tidak menjadi golongan orang merugi.

Pasongsongan, 25/12/95

 

Impian Semalam

terlalu banyak ingin kuungkapkan

dari sakian ribu perjalanan usia

tak jarang hanya isapan jempol belaka

untuk mengimbangi arah bicara mereka

sementara kau kian tak peduli

 

pada kesempatan ketiga kali

tatapmu lebih banyak memprotesku

selanjutnya diam, tak kau selesaikan

apa yang telah jadi kebencianmu

haruskah aku berharap banyak

sedangkan kau dingin.

Pasongsongan, 26/12/95



Antologi Puisi “Tawa Terperosok Duka” (16)



Karya: Yant Kaiy

Bukit

putaran roda becak pelan

telah membawaku diantara bukit

jalan berlubang tidak bersahabat

tak membuat lelah berkepanjangan

kerena sebenarnya disini tempat damai

bisik hatiku paling dalam

sembari menikmati udara sejuk.

Pasongsongan, 25/12/95

 

Selepas Tidur

kadang aku harus bertanya kembali

akan makna sebuah perjalanan diri

cukup banyak uang kuhamburkan

demi nilai persahabatan

hati kecilku berontak pada kenyataan

 

kepergianku memang spontanitas

tak terkonsep jauh sebelumnya

tapi mengapa harus ada penyesalan

menggambari pagiku nan indah

dihiasi kabut dan kokok ayam

 

sering kudituntut untuk bicara masa depan

perkawinan dan pekerjaan

namun aku masih belum sanggup

masih banyak harus kuselesaikan

bukan aku munafik

aku justru iri pada sahabatku

yang telah mampu mandiri.

Pasongsongan, 25/12/95



# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...