Antologi Puisi “Tawa Terperosok Duka” (22)
Karya: Yant Kaiy
Tanya
haruskah aku
bertanya pada malam
sampai kapan kuterkurung di kamar diam
haruskah aku
bertanya pada batu
sampai kapan kumampu
berjalan di atas duri
yang tak pernah sepi dari tikaman
nyeri
haruskah aku
bertanya pada semut
sampai kapan kuhanyut
di riak rindu
tersangkut perasaan begini-begitu
lantaran hal itu
bukan sesuatu yang lucu
haruskah aku bertanya pada musim
sampai kapan aku tak terasing
diriku tidak lagi terombang-ambing
haruskah aku bertanya pada rumput
bergoyang
sampai kapan hatimu membuang sayang
haruskah aku bertanya pada diri sendirij
jika
dirimu tak pernah peduli
jika dirimu terlalu tuli
tak pernah mendengar kebenaran hakiki
yang telah difirmankan
Illahi.
Pasongsongan, 28/12/95
Masih Belum Terlambat
kau
bercerita banyak
berbeda
dengan hari kemarin
walau
sudah hampir terlambat
kau
sempatkan menghibur diriku
disela-sela
sarapan pagi
kicau
burung bersahutan
dari
dahan satu ke dahan lainnya
aku
tak dapat membaca isyaratnya
yang
mustahil diterjemahkan pada riak penyeaalan
tapi
aku sudah membaca satu pengorbanan ikhlas
sebagai
penawar kegundahan diri
biar
pun tidak langsung lenyap
namun
cukup membuat lekukan semangat
yang
bisa kubingkiskan pada perjalanan.
Pasongsongan,
28/08/95

