Minggu, 05 Juli 2020

Khotmil Qur’an dan Istighasah LP Ma’arif Pasongsongan

Akhmad Jasimul Ahyak paling kanan beserta jamaah
Khotmil Qur'an dan Istighasah.

Apoymadura, Sumenep – Tradisi dari tahun ke tahun yang berlaku di Lembaga Pendidikan Ma’arif Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep sampai sekarang yakni selalu menyelenggarakan acara “Khotmil Qur’an dan Istighasah”. Acara ini tetap dipertahankan sebagai bagian tradisi para pengikut ahlussunnah wal jamaah. Seperti tadi pagi, Minggu (5/7/2020), bertempat di salah satu ruangan sekolah diselenggarakan sebuah wujud permohonan/doa bersama kepada Allah SWT.

“Acara ini merupakan agenda tahunan dari Lembaga Pendidikan Islam (LPI) kami yang berada di bawah naungan LP Ma’arif. Sekaligus menjelang kelulusan dan penerimaan siswa baru,” terang Akhmad Jasimul Ahyak, salah seorang guru kepada apoymadura.com di sela-sela acara.
 
Dewan guru di Lembaga Pendidikan Ma'arif
Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep

Lelaki berkacamata itu menambahkan, acara “Khotmil Qur’an dan Istighasah” dihadiri oleh para tokoh alim ulama yang ada di Kecamatan Pasongsongan beserta para dewan guru. Mulai dari jenjang RA, MI, MD, MTs, dan MA.

“Kami sebagai panitia juga menghadirkan Kiai Haji Jauhari dan Kiai Haji Sidel dari Tattango Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan. Dalam memanjatkan doa, kami berharap agar para anak didik bisa lebih bergairah dan semangat dalam belajar setelah sekian lama mereka libur akibat pandemi Covid-19,” terang Akhmad Jasimul Ahyak mengakhiri pembicaraan.


Dari pantauan apoymadura.com, acara tadi pagi berlangsung sederhana. Kendati begitu, para hadirin tampak hanyut dalam nuansa khidmat, cukup semarak dan khusyuk berdzikir. (Yant Kaiy)

Sabtu, 04 Juli 2020

SDN Pasongsongan IV, Menyambut Peserta Didiknya

Perupa Akhmad Jasimul Ahyak sedang
melukis dinding kelas di SDN Pasongsongan IV.

Apoymadura, Sumenep – Dalam rangka menyambut kehadiran peserta didik baru dan kembali dimulainya kegiatan belajar-mengajar di SDN Pasongsongan IV Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, maka dipandang perlu adanya perubahan suasana baru di sekolah. Salah satunya dengan menghias ruang kelas dengan gambar-gambar edukatif.

Kepala SDN Pasongsongan IV, H. Akh. Busri, S.Pd, M.Pd mengambil inisiatif mengundang perupa asli Pasongsongan Akhmad Jasimul Ahyak untuk memberikan sentuhan-sentuhan lukisan dinding sekolah sebagai upaya agar para murid merasa betah belajar.

Ketika apoymadura.com berkunjung ke sekolah yang berlokasi di sebelah selatan Lapangan Sawungggaling Pasongsongan, tampak perupa Akhmad Jasimul Ahyak sedang menuangkan kreativitasnya. Ia dibantu oleh beberapa guru honorer di situ.

“Saya tidak memberikan tarif mahal dalam berkarya.  Yang penting saya akan sangat puas bila lukisan-lukisan ini bisa menjadi inspirasi bagi peserta didik. Itu target saya,” terang Jasimul sapaan akrabnya ketika ditanya soal bayaran melukisnya. Sabtu (4/7/2020).

Menurut Jasimul, ini penting sekolah melakukan perubahan suasana kelas karena para peserta didik sudah lama libur akibat pandemi Covid-19. Dirinya yakin, lukisan dindingnya dengan nuansa warna-warni cerah bisa menambah gairah para murid dalam belajar di sekolah. (Yant Kaiy)


Ongkos Tukang Cangkul di Pasongsongan

Buruh cangkul dari Dusun Sempong Barat
Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep.

Catatan: Yant Kaiy

Tahun ini saya menanam tembakau di ladang terbuka dengan jenis tanah berwarna merah. Berlokasi di Dusun Sempong Barat Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Ada sebanyak 5000 bibit tembakau yang saya tanam.

Proses menanam tembakau cukup panjang juga. Mulai tanah digemburkan pakai hand tracktor, kemudian tanah dicangkul. Di bekas cangkulan itu diberi pupuk kotoran sapi, barulah ditanami bibit tembakau. Setelah tumbuh segar lalu dicangkul lagi di kanan-kiri tanaman tembakau tadi agar air tidak mengalir kemana-mana ketika disiram. Sedangkan pemupukan harus seimbang supaya tanaman tembakau kualitasnya cukup baik.

Ongkos tukang cangkul di daerah kami berkisar Rp 40.000,-. Bekerja mulai terbit matahari sampai adzan dhuhur. Lumayan murah. Saya terjun juga mencangkul, sekadar menemani buruh cangkul di bawah sengatan matahari kemarau terasa membakar tubuh. Saya tidak sanggup dan acapkali berteduh di bawang rindang pohon asam.

Sungguh, dalam hati kecil saya sangat prihatin memperhatikan nasib buruh cangkul. Mereka tetap bekerja walau raga bermandi keringat dan napasnya terengah-engah. Sebuah perjuangan cukup panjang menyambung hidup. Dari sini dapat dipetik hikmah, kebersamaan dengan mereka begitu indah. Sesekali kami bercerita dan bercanda sehabis kiriman makanan dari istri. Setelah menghabiskan sebatang rokok, kami kembali bekerja.

Saya dan beberapa petani tembakau berharap, semoga di 2020 harga tembakau rajang lebih baik dari tahun kemarin.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Kamis, 02 Juli 2020

Harga Tembakau dan Nasib Petani

Seorang petani tembakau di Desa/Kecamatan Pasongsongan
Kabupaten Sumenep Madura.

Opini: Yant Kaiy

Nasib petani tembakau dari tahun ke tahun menjadi objek tidak diuntungkan. Meski begitu, mereka tetap setia menanam tembakau. Tidak ada kamus jera melingkupi kehidupannya. Mereka seolah tidak punya alternatif lain yang menjanjikan bisa menyulap hidupnya lebih sejahtera dari pada sebelumnya.

Perlu diketahui, risiko kerugian petani tembakau sangat besar. Utamanya jika tanaman tembakau hampir mau panen tiba-tiba hujan. Otomatis tanaman tembakau akan mati. Begitu pula setelah tembakau dirajang tidak ada sinar matahari, umumnya kualitas tembakau menjadi kurang baik. Ini persoalan cuaca yang tidak bersahabat, barangkali petani bisa maklum.

Tapi akan sangat menyakitkan hati para petani kalau hasil panen tembakau dihargai tidak manusiawi. Permainan harga dari beberapa pabrikan rokok menjadi salah satu pemicu kuat terjadinya ketidak adilan, karena di satu sisi petani tembakau yang mengeluarkan biaya tinggi, terkulai tak berdaya dalam kerugian materi. Walau kita tidak tahu kenapa para pengusaha berbuat “kejam” kepada para petani. Seakan tidak punya ‘iba’ sama sekali.

Sementara proteksi dari orang-orang yang baju, sepatu dan gajinya diambil dari tetesan keringat rakyat justru hanya duduk manis. Padahal mereka punya wewenang membuat aturan yang sama-sama diuntungkan. Kalaupun dinas terkait itu telah berbuat sesuatu dengan melakukan mediasi kepada semua pabrikan dan menyebarkan surat edaran, tapi realisasinya bagaikan buih di tengah lautan.

Walau demikian, tentu para petani tembakau di Madura tahun ini tetap optimis, cuaca dan harga tembakau akan bersahabat.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Rabu, 01 Juli 2020

Kata “Gratis”, Jurus Pengusaha Indonesia



Opini: Yant Kaiy

Kata “gratis” seringkali kita jumpai di beberapa perusahaan. Baik perusahaan skala kecil atau besar. Bahkan merek ternama pun tidak tinggal diam.

Para pengusaha di tanah air begitu pintar menjerat konsumennya. Mereka paham akan karakter masyarakat Indonesia yang amat mudah terbujuk oleh kata “gratis” sehingga para konsumen tanpa pikir panjang-lebar langsung membelinya. Iming-iming itu berupa cinderamata, pelayanan, discount, cash back, dan lain semacamnya.

Misalnya kita bisa jumpai kata “gratis” di banyak iklan operator seluler. Padahal  konsumen harus bayar dulu dengan membeli pulsa. Kemudian membeli paket yang tersedia. Barulah pelanggan menggunakan layanan yang ada. Kalau tidak begitu, pulsa pelanggan akan dipotong tanpa ampun dengan harga dua kali lipat lebih mahal.

Atau kita dapat temui di dealer kendaraan bermotor. Di sana tertulis “gratis ganti oli dan service 3 kali”. Padahal pembeli kendaraan bermotor sudah membayar semuanya. Buktinya setelah tidak mau ganti oli dan service, dealer mengembalikan keuangan tersebut.

Tahun lalu saya membeli sepatu di toko resmi seharga Rp 150.000,-. Kemarin saya ke toko sepatu itu kembali karena ada tulisan “Beli sepatu gratis sandal cantik, plus discount 50%”. Saya pikir kalau beli sepatu seperti model tahun lalu pasti harganya Rp 75.000,- masih dapat sandal lagi. Saya buru-buru mengambil sepatu itu. Ketika di kasir ternyata saya harus membayar Rp 135.000,-. Buset. Sedangkan sandal jepitnya di pasaran seharga Rp 6.000,-.

Kecewa itu pasti. Tapi saya hanya bisa tersenyum. Inilah warna-warni jerat pengusaha kepada konsumennya.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura

Selasa, 30 Juni 2020

Covid-19: Ancaman Maut dan Kebohongan

Grafis: Akhmad Jasimul Ahyak

Opini: Yant Kaiy

Ditetapkannya Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Madura sebagai daerah yang berada di lingkaran zona merah, memunculkan banyak argumen dari para tokoh publik. Pro-kontra dari komentar mereka menatalkan kisruh yang berimbas pada metamorfosa tatanan sosial budaya kehidupan masyarakat di sekitar tempat tinggal pasien Covid-19.

Pada Minggu (28/6) Humas Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumenep, Ferdiansyah Tetrajaya dalam konferensi pers menyatakan, ada seorang remaja perempuan berasal dari Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Sumenep berusia 15 tahun dinyatakan positif terpapar virus corona.

Otomatis masyarakat luas percaya dengan pernyataan Ferdiansyah Tetrajaya lantaran sebagai corong pemerintah. Sontak kabar tersebut mendapat perhatian publik, utamanya para tetangga pasien Covid-19. Kegemparan itu tiba-tiba drastis senyap seiring adanya “kebohongan” dan kejanggalan dalam perlakuan terhadap pasien.

Kronologi “kebohongan” dan kejanggalan yang ditangkap tetangga pasien antara lain:
1. Ada pemberitahuan kepada Kepala Desa Panaongan pada Sabtu (27/6) bahwa ada salah satu warganya positif Covid-19. Hasil swabnya pada Jum’at (26/6).
2. Keterangan pers dari Humas Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumenep, bahwa pasien sudah dirapid tes pada Kamis (18/6). Padahal dirapid tes Kamis (25/6) sekaligus swabnya di Pondok Pesantren Al-Karimiyah Braji Kecamatan Gapura Sumenep.
3. Di rumah pasien dilaporkan oleh Humas Satgas Sumenep telah dilakukan penyemprotan disinfektan, namun kenyataannya tidak ada penyemprotan.
4. Yang menjemput pasien ternyata hanya satu orang, yakni sopir kendaraan yang mengenakan APD. Bukan sebuah tim, sedangkan personil dari Puskesmas Pasongsongan tidak ada yang ikut.
5. Pasien duduk di dalam mobil berkumpul dengan kedua orang tuanya.
6. Swab sejatinya dilakukan 2 kali (2 hari berturut-turut), akan tetapi pasien hanya satu kali diswab dan satu hari tatkala di pondok pesantrennya.

Masyarakat luas di tempat tinggal pasien mulai bertanya-tanya dengan kejanggalan-kejanggalan tersebut. Ada apa gerangan maksud dan tujuan dibalik itu semua.

Sebenarnya mereka paham dengan itu semua. Tapi mereka enggan untuk mengatakannya karena bukan ahlinya. Siapa yang berani menantang pernyataan resmi dari pemerintah yang berkekuatan hukum tetap. Sebab mereka tahu akan risiko yang bakal ditanggung dari apa yang diucapkannya.

Mereka hanya bisa berharap suasana ‘new normal’ cepat terealisasi.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Senin, 29 Juni 2020

Bongkar Pasongsongan di Zona Merah Covid-19


 Opini: Yant Kaiy

Dengan beredarnya kabar yang menghentakkan perhatian publik kalau ada salah satu warga Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep yang terpapar virus corona. Kabar ini membuat banyak orang di lingkungan pasien menjadi khawatir. Bahkan ada diantara mereka sempat panik. Terbayang di benak para warga tetangganya tentang dekatnya ajal seseorang bila divonis positif Covid-19.

Memang kewaspadaan itu sangat penting agar kita berperilaku sesuai dengan anjuran ahli medis dan pemerintah yang tertuang dalam protokol kesehatan. Supaya penyebaran virus terkutuk itu tidak semakin merajalela keberadaannya di bumi pertiwi.

Namun ketika saya mencoba menghubungi beberapa tetangga pasien Covid-19 di Desa Panaongan Pasongsongan, menurut mereka ada beberapa poin kejanggalan terjadi. Tidak sesuai dengan pemberitaan yang beredar selama ini. Pihak nara sumber keberatan namanya dipublikasikan. Ia menulis via sosial media kepada saya. Begini:

1. Ada pemberitahuan pada Kepala Desa Panaongan, bahwa tanggal 27/6 ada seorang anak remaja positif corona. Hasil swabnya tanggal 26/6.
2. Keterangan pers dari Humas Satgas Kabupaten Sumenep, bahwa pasien sudah dirapid tes tanggal 18/6, padahal dirapid tes dan swabnya tanggal 25/6 di Pondok Pesantren Al-Karimiyah Desa Beraji Kecamatan Gapura-Sumenep.
3. Dalam laporannya menerangkan bahwa rumah pasien telah disemprot disinfektan, padahal tidak sama sekali.
4. Yang menjemput pasien hanya satu orang sopir dengan mengenakan APD, bukan tim.
5. Dari pihak Puskesmas tidak ada yang ikut.
6. Pasien duduk di mobil berkumpul dengan ayah dan ibunya.
7. Swab seharusnynya diadakan 2 kali (2 hari berturut-turut). Tapi pasien hanya 1 kali dan 1 hari tatkala di pondok pesantrennya.

Kalau memang demikian faktanya, tidak menutup kemungkinan rakyat tidak percaya lagi terhadap informasi Humas Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sumenep. Mereka melakukan kesewenang-wenangan penyebaran informasi keliru sehingga melahirkan keresahan begitu berarti di tengah-tengah masyarakat.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

“Relawan Hairul Anwar” Mengepakkan Sayapnya


 Opini: Yant Kaiy 

Sudah ada sinyalemen kalau “Relawan Hairul Anwar” akan berlabuh ke Fattah Jasin. Sebab jauh hari sebelumnya, aliansi ini telah melakukan komunikasi dengan Bakal Calon Bupati (Bacabup) Sumenep tersebut. Dan saat sekarang aliansi yang dikomandani Hairul Anwar sendiri sudah menyatakan sikapnya secara terbuka mendukung Fattah Jasin secara penuh dalam pesta demokrasi Pilkada Sumenep 2020.

Menurut banyak pengamat politik di Kota Keris Sumenep, aliansi “Relawan Hairul Anwar” akan menjadi magnet penghisap suara kalangan millenial lantaran figur Hairul Anwar lagi digandrungi oleh para tokoh pemuda. Tak pelak, dari beberapa kelompok organisasi kepemudaan ditiap-tiap kecamatan bergandengan tangan untuk bisa memenangkan Fattah Jasin. Bahkan ada diantara mereka yang siap mengawal agar penghitungan suara berlangsung jujur dan adil (jurdil) disetiap TPS (Tempat Pemungutan Suara).

Kesadaran pribadi dari mereka mendapat atensi luar biasa dari Hairul Anwar. Bahwa diantara mereka sangat mendambakan lahirnya seorang pemimpin amanah yang mampu membawa Sumenep kepada gerbang kemakmuran bagi seluruh rakyatnya. Mereka teramat merindukan perubahan terjadi pada tatanan hidup lebih baik lagi di Sumenep.

Hairul Anwar mengamini cita-cita mereka yang sudah barang tentu keluar dari hati sanubarinya. Hal ini pula yang membuatnya merasa terketuk hatinya, sehingga Hairul Anwar mewadahi aspirasi mereka lewat “Relawan Hairul Anwar” untuk bersama-sama memenangkan Fattah Jasin.

Kini hati Hairul Anwar semakin yakin kalau aliansinya bersama Fattah Jasin akan merengkuh kemenangan di Pilkada Sumenep 2020 nanti.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Minggu, 28 Juni 2020

Relawan Hairul Anwar: Menyibak Asa


Opini: Yant Kaiy

Komunitas ini semakin meniscaya dalam memantapkan langkah menuju kemenangan bersama figur terbaik Fattah Jasin. Bahwa masyarakat Kota Keris Sumenep saat ini membutuhkan perubahan fundamental, tentu dengan tatanan pemerintahan yang akuntabel, bersih, dan amanah. Itu akan mereka dapatkan pada sosok Fattah Jasin yang sarat pengalaman memimpin anak buahnya di lingkungan pemerintahan.

“Relawan Hairul Anwar” semakin yakin kalau mereka akan membawa kelompok lain yang sepaham bahwa Sumenep harus berubah dan berbenah menyongsong masa depan penuh gemilang. Optimisme ini mulai menjalar kepada mereka yang mengerti tentang makna kualitas seorang pemimpin masa depan. Bukan calon pemimpin yang sekadar memiliki kuantitas.

Sumenep tidak boleh stagnan pada arah kebijkan yang pro-rakyat, pro-kesejahteraan bagi semua kalangan. Tujuan itu bakal tercapai jika pemimpinnya punya kapabilitas mumpuni untuk menciptakan masyarakat adil dan makmur.

Hairul Anwar sebagai pencetus dan penggagas serta memberi wadah kepada mereka yang tetap setia pada dirinya. Bahwa gerakan perubahan harus dimulai saat ini dengan menyokong calon pemimpin terbaik. Alternatif yang tepat bagi Hairul Anwar hanya ada pada Fattah Jasin.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Sabtu, 27 Juni 2020

Kesejahteraan dan Ancaman Maut (Tanggapan Tulisan MH.Said Abdullah)


Opini: Yant Kaiy

MH. Said Abdullah dalam tulisannya, “Efektivitas Kepemimpinan Daerah” yang dipublikasikan Koran Madura, edisi 25 Juni 2020, sangat menarik bagi saya. Karena kita tahu beliau adalah Ketua Badan Anggaran DPR RI saat ini.

Terus terang, saya orang tidak pintar dan bukan seorang ahli di bidang ekonomi karena pendidikan saya hanya sampai di bangku SMA. Saya hanya sebagai pemerhati sosial yang berdomisili di Dusun Sempong Barat Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, ingin juga menuliskan potret “pilu” masyarakat akar rumput di lingkungan kami di tengah pandemi Covid-19.

Perlu diketahui, mayoritas warga di daerah kami mengais rejeki di laut sebagai nelayan. Mereka mempertaruhkan nyawanya demi menghidupi anak-istrinya. Mereka tidak mempedulikan maut yang senantiasa mengancam jiwanya selama berada di tengah laut.

Bahkan terdengar falsafah ekstrim dari mereka: Seorang nelayan lebih takut lapar ketimbang maut. Bukannya para nelayan itu berani terhadap maut, tapi mereka takut kalau anak-istrinya tidak sejahtera. Mereka mengimpikan kebutuhan hidup keluarganya tercukupi. Parameter sejahtera di sini bukan mempunyai mobil.

Para nelayan juga memiliki daya nalar seperti lazimnya manusia di seluruh penjuru dunia. Maka ketika pandemi Covid-19 menjadi ancaman serius bagi kehidupan manusia, namun mereka tetap melakukan aktivitasnya, menangkap ikan di laut lepas dengan harapan membawa hasil.

Lalu berdosakah mereka karena tidak menaati himbauan/anjuran pemimpinnya?

Kita tentu ingat akan cerita para sahabat Nabi Muhammad SAW. yang maju ke medan perang membela Islam. Mereka berjuang tanpa takut akan kematian. Kalaupun ia mati, ia percaya akan masuk surga. Sedangkan anak-istrinya yang ditinggalkan, ia yakin kalau Baginda Rasulullah akan menjamin kesejahteraan hidup keluarganya.

Sepantasnya kita mengaji romatika kehidupan para nelayan yang tetap bekerja di tengah ancaman maut mengintai dari virus corona, plus ancaman tenggelamnya perahu mereka akibat terjangan ombak sewaktu-waktu terjadi. Barangkali kita mesti lebih arif, terutama para pemimpin yang baju dan sepatu mengkilatnya diambil dari tetesan keringat rakyat.

Apakah ‘jaminan’ pemerintah terhadap rakyatnya kalau para nelayan tunduk-patuh pada propaganda stay at home. Sementara perut mereka sama dengan aparatur negara, sama-sama butuh makan.

Kalau yang punya gaji memang enak bekerja di rumah. Tapi seorang nelayan? Kalaupun mereka melaut, belum tentu pulang membawa ikan. Apalagi kalau tidak melaut.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com.

Jumat, 26 Juni 2020

Cabang Baru Therapy Banyu Urip Pasongsongan

Dari kiri: Akhmad Jasimul Ahyak dari apoymadura.com dan CEO
Therapy Banyu Urip International MS.Arifin.

Apoymadura, Sumenep – Desa/Kecamatan Pasongsongan masuk dalam wilayah Kabupaten Sumenep. Desa yang berbatasan langsung dengan Desa Bindang Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan ini terletak di barat utara dari Kota Keris Sumenep.

CEO Therapy Banyu Urip Internatinonal, MS. Arifin merasa perlu mendirikan cabang di Desa/Kecamatan Pasongsongan karena di daerah ini masyarakatnya sudah lama mengenal produk pengobatan herbal Ramuan Banyu Urip.
Pembongkaran salah satu bangunan yang akan
disulap jadi halaman kantor Therapy Banyu Urip.

“Lagi pula Desa Pasongsongan tempat saya lahir dan besar serta mengenyam pendidikan di sini. Maka saya dengan niat ikhlas ingin berbagi kepada saudara-saudara  kita. Lebih khusus untuk Cabang Therapy Banyu Urip International Pasongsongan pada Jum’at, Sabtu dan Minggu diselenggarakan pengobatan gratis,” terang MS. Arifin kepada apoymadura.com disela-sela mengawasi para tukang bangunan yang sedang bekerja. Jum’at (26/6/2020).

Tempat pengobatan herbal ini berada di kawasan Jalan  Kiai Abubakar Sidik Desa/Kecamatan Pasongsongan. Lokasinya sangat strategis karena berada di jalur utama yang menghubungkan kedua kabupaten, yakni Sumenep-Pamekasan.
 
Penebangan pohon besar untuk halaman kantor
Cabang Therapy Banyu Urip Pasongsongan.
Menurut pengamatan apoymadura.com, pengobatan alternatif  semacam Therapy Banyu Urip di daerah ini masih belum ada. Jadi peluangnya sangat terbuka lebar dan prospeknya begitu cerah.


“Akhir 2020, insya Allah Therapy Banyu Urip akan kami resmikan, sekaligus sebagai tanda dimulainya kegiatan pengobatan.  Sebab animo masyarakat di sini luar biasa besar,” pungkas MS. Arifin. (Yant Kaiy)

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...