Sabtu, 07 Maret 2026

Iran Balas Serang Israel dan AS: Benarkah Hanya Membela Diri?

Pangkalan Amerika Serikat dan negara israel diserang Iran

Serangan balasan yang dilancarkan Iran terhadap wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara tetangga merupakan konsekuensi logis dari eskalasi yang dipicu pihak Barat.

Dalam kacamata kedaulatan, tindakan Teheran bukanlah sebuah agresi tanpa sebab, melainkan sebuah bentuk pertahanan diri tak terhindarkan.

Ketika Amerika Serikat dan Israel memutuskan untuk memulai serangan udara pada akhir Februari 2026—yang menyasar infrastruktur strategis hingga kepemimpinan nasional Iran—mereka secara sadar telah merobek batas-batas diplomasi dan memaksa Iran untuk menunjukkan taring militernya demi menjaga harga diri bangsa.

Keputusan Iran untuk membidik pangkalan perang Amerika di negara-negara sekitar juga didasari realitas geopolitik bahwa wilayah tersebut telah dijadikan batu loncatan bagi serangan terhadap wilayah kedaulatan Iran.

Dengan memberikan lampu hijau bagi operasional militer AS di tanah mereka, negara-negara tetangga secara tidak langsung terlibat dalam ancaman terhadap keamanan nasional Teheran.

Oleh karena itu, serangan rudal dan drone ke fasilitas militer tersebut dikirimkan sebagai pesan tegas bahwa setiap jengkal tanah yang digunakan untuk memfasilitasi serangan ke Iran akan jadi target yang sah dalam upaya mematikan mesin perang lawan.

Pada akhirnya, dunia tidak bisa menutup mata bahwa api konflik ini tidak disulut oleh Iran.

Sejarah mencatat bahwa upaya destabilisasi melalui sanksi ekonomi hingga serangan militer langsung adalah tindakan provokatif yang dipelopori aliansi Washington dan Tel Aviv.

Selama prinsip kedaulatan terus diinjak-injak dengan dalih perubahan rezim atau kepentingan keamanan sepihak, maka tindakan balasan seperti yang dilakukan Iran akan terus dipandang sebagai instrumen pertahanan.

Perdamaian di kawasan hanya akan tercapai jika semua pihak bersedia menghentikan agresi dan menghormati integritas teritorial tanpa ada yang merasa berhak memukul lebih dulu. [kay]

Jumat, 06 Maret 2026

Menteri Agama Sebut Zakat Enggak Populer? Inovasi Iman atau Sekadar Cari Sensasi?

menag ri piawai dalam membuat pernyataan

​Sungguh brilian. Menag kita sepertinya sedang mencoba teknik marketing terbaru untuk akhirat. 

Zakat dianggap tidak populer? Mari kita hapus saja dari kurikulum surga. Mungkin malaikat pencatat amal sedang butuh konten yang lebih kekinian dan viral. 

Lupakan rukun Islam yang sudah bertahan ribuan tahun itu. Kita butuh sesuatu yang lebih "masuk akal" bagi dompet yang sedang kempis.

​Logika Terbalik Sang Panutan

​Beliau pasti sangat paham agama. Saking pahamnya, beliau melampaui teks aslinya. Mungkin beliau punya "jalur khusus" atau terjemahan versi terbaru yang belum rilis di toko buku. 

Menuruti keinginan "majikan" tentu lebih mendesak daripada menjaga perasaan umat. 

Jika Quran tidak mempopulerkan zakat, mungkin kita selama ini salah baca buku. Atau, mungkin kita saja yang kurang jauh mainnya ke kementerian.

Guru Lapar, Guru Mulia

​Sebelumnya, awal September 2025, Menag juga membuat pernyataan kontroversial dengan menyatakan: "Guru tidak sepantasnya bertujuan mencari uang seperti layaknya pedagang.

Pernyaan menyakitkan bagi seorang pendidik terus menggelinding di tengah perjuangan guru untuk mencerdaskan anak bangsa.

Jangan lupa soal guru. Guru dilarang mencari uang karena mereka adalah seniman penderitaan. Mengajar harus pakai kasih sayang, bukan pakai nasi Padang. 

Menag sepertinya sangat mencintai sensasi melebihi kesejahteraan rakyatnya sendiri. 

Mari kita tunggu pernyataan kontroversial berikutnya. Siapa tahu, besok makan siang juga dianggap tidak populer olehnya. [kay]

Kisruh Zakat Menag Nasaruddin Umar: Salah Ucap, Salah Tafsir, atau Salah Terjemahkan Minat “Majikan”?


Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya mengenai zakat yang sempat menimbulkan kekisruhan luar biasa di kalangan umat.

Belakangan ini, potongan video ceramah yang menampilkan pernyataan Nasaruddin Umar beredar luas di media sosial. 

Dalam video tersebut, ia mengatakan, "Kalau kita ingin maju sebagai umat, kita harus meninggalkan zakat! 

Zakat itu nggak populer, Qur'an juga tidak terlalu mempopulerkan zakat...." yang mencederai sosoknya sebagai panutan umat beragama di Indonesia.

Mungkinkah dia tidak paham agama Islam? Atau dia tidak bisa menerjemahkan bahasa dan keinginan "majikan"? 

Kisruh zakat tiba-tiba meledak. Sumbernya bukan dari warung kopi. Bukan dari kolom komentar netizen. Tapi dari seorang pejabat negara: Nasaruddin Umar. 

Dalam sebuah potongan ceramah yang beredar di media sosial, kalimatnya terdengar unik. “Kalau ingin maju sebagai umat, kita harus meninggalkan zakat.” 

Kalimat pendek. Tapi efeknya panjang. Sangat panjang. Sampai bikin umat mengernyitkan dahi.

Setelah gaduh, datanglah klarifikasi. Disusul permintaan maaf. Katanya terjadi kesalahpahaman. Katanya potongan video. Katanya konteks ceramah. Begitulah nasib kalimat di era digital. 

Dipotong sedikit, bisa berubah jadi badai. Tapi tetap saja orang bertanya. Ini salah potong? Atau salah ucap? Atau jangan-jangan zakat memang sedang dianggap tidak “marketable”?

Pertanyaan lain ikut muncul. Lebih pedas. Lebih nakal. 

Apakah seorang Menteri Agama bisa keliru membaca semangat ajaran sendiri? 

Atau sebenarnya beliau paham, hanya saja sedang berusaha menerjemahkan bahasa “majikan”? Entahlah. 

Yang jelas umat hanya rakyat kecil. Mereka tidak pandai bermain tafsir kekuasaan. 

Mereka hanya tahu satu hal sederhana: zakat itu perintah. Bukan tren. Bukan juga program yang bisa direvisi setiap musim politik. [kay]

Kamis, 05 Maret 2026

Viral Ceramah Nasaruddin Umar Soal “Tinggalkan Zakat”, Salah Paham atau Humor Zaman Digital?


Pernyataan Nasaruddin Umar, Menteri Agama (Menag) tentang zakat tiba-tiba berkeliling dunia maya. 

Potongan video pendek. Kalimat lebih pendek lagi. “Kalau ingin maju, tinggalkan zakat.” Begitu kira-kira bunyinya. 

Publik pun kaget. Umat yang sejak kecil diajari zakat sebagai rukun malah diajak “pensiun”. 

Ironi kecil muncul. Ternyata kemajuan sekarang punya syarat baru: kurangi kewajiban.

Media sosial langsung ramai. Ada yang marah. Ada yang bingung. Ada yang sekadar mengulang video sambil menambahkan emotikon. 

Lalu klarifikasi datang. Katanya salah paham. Katanya hanya potongan ceramah. Potongan kalimat. Potongan makna. 

Di era digital, memang semua bisa dipotong. Video dipotong. Konteks dipotong. Bahkan kesabaran publik juga ikut terpotong.

Akhirnya permintaan maaf disampaikan. Seperti biasa. Sopan. Tenang. Dan tentu saja terlambat sedikit dari viralnya video. 

Publik pun belajar satu hal lagi. Di zaman sekarang, ceramah bukan hanya didengar. Tapi juga dipotong, diunggah, lalu diadili bersama-sama. 

Dan zakat? Tetap saja tidak ikut pensiun. Yang pensiun justru ketenangan setelah ceramah. [kay]

Kabar Gembira! TPG PPPK Paruh Waktu Maret 2026 Cair, Cek Faktanya!


Di Kabupaten Sumenep, pada awal Maret 2026, jadi momentum yang emosional bagi ribuan guru berstatus PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) Paruh Waktu. 

Cairnya Tunjangan Profesi Guru (TPG) bukan sekadar urusan administratif atau masuknya angka ke rekening.

Melainkan sebuah pengakuan konkret atas dedikasi mereka yang selama ini sering kali berada di zona "abu-abu" kesejahteraan.

Pengakuan Atas Profesionalisme

TPG secara filosofis adalah instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme. 

Selama ini, ada kekhawatiran bahwa status "Paruh Waktu" akan menomorduakan hak-hak finansial guru. 

Tapi, dengan cairnya tunjangan ini bagi mereka yang telah memiliki Sertifikat Pendidik (Serdik), pemerintah menunjukkan komitmen bahwa kualitas pengajaran tidak dinilai dari jam kerja semata, melainkan dari kompetensi yang teruji.

Dampak Nyata di Ruang Kelas

Mengapa ini penting bagi dunia pendidikan kita?

1. Motivasi Kerja: Guru yang tenang secara finansial memiliki ruang mental yang lebih luas untuk berinovasi di kelas.

2. Keadilan Sosial: Menghapus sekat kecemburuan sosial antara guru tetap (ASN/PNS) dengan PPPK Paruh Waktu.

3. Peningkatan Kualitas: TPG adalah insentif agar guru terus memperbarui metodenya sesuai standar sertifikasi yang mereka sandang.

Catatan untuk Masa Depan

Meski patut dirayakan, distribusi TPG harus tetap dipantau agar tepat sasaran dan tepat waktu di seluruh daerah. 

Kita berharap momentum Maret 2026 ini bukan sekadar "kado sesaat", melainkan awal dari sistem penggajian yang lebih manusiawi bagi seluruh garda depan pendidikan Indonesia.

Selamat untuk para guru. Kesejahteraan Anda adalah investasi terbaik bagi masa depan bangsa. [kay]

Rabu, 04 Maret 2026

Gaji Guru PPPK Paruh Waktu di Sumenep Cuma Rp 400 Ribu, Kok Bisa Lebih Kecil dari Honorer?

Persoalan gaji pppk paruh waktu di Sumenep tidak manusiawi


Di tengah gegap gempita jargon peningkatan kualitas pendidikan, ada ironi yang sunyi di Kabupaten Sumenep. 

Guru berstatus PPPK Paruh Waktu hanya menerima gaji sekitar Rp 400 ribu per bulan. 

Itu pun tidak utuh. Masih ada potongan pajak. 

Angka yang bahkan mungkin habis sebelum tanggal tua benar-benar tiba. 

Pertanyaannya sederhana: bagaimana mungkin kita menuntut profesionalisme tinggi dari mereka yang digaji jauh dari kata layak?

Lebih miris lagi, sebagian dari mereka justru pernah menerima gaji lebih dari Rp 500 ribu saat masih berstatus guru honorer. 

Artinya, setelah “naik status”, kesejahteraan justru turun. 

Ini bukan sekadar soal angka. Ini soal rasa keadilan. 

Ketika status berubah jadi lebih formal, harapan pun ikut membumbung. 

Tapi yang datang justru kenyataan pahit: tanggung jawab tetap, beban kerja tetap, tapi penghasilan menyusut.

Jika guru adalah pilar masa depan bangsa, maka memperlakukan mereka dengan upah minim adalah bentuk pengingkaran terhadap masa depan itu sendiri. 

Pendidikan tidak bisa dibangun hanya dengan seremoni dan kebijakan administratif. 

Ia membutuhkan keberpihakan nyata. Sebab di ruang-ruang kelas itulah masa depan anak-anak dibentuk. 

Dan disana pula, para guru berjuang—meski dengan gaji yang bahkan mungkin tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka sendiri. [kay]

Anggaran Pendidikan Dipangkas Demi MBG? Pro Kontra Kebijakan Prabowo yang Menguras Triliunan Rupiah


Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang Presiden Prabowo Subianto telah memicu gelombang kritik tak terelakkan. 

Di tengah sorak-sorai klaim kebaikan, program ini justru menyingkap tabir prioritas pemerintah yang patut dipertanyakan, dimana sektor-sektor krusial seperti kesehatan dan pendidikan jadi korban utama. 

Triliunan rupiah uang negara yang seharusnya dialokasikan untuk pemulihan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup rakyat, kini mengalir deras ke kantong-kantong pengusaha makanan, sementara infrastruktur dasar dan pelayanan publik kian terbengkalai.

Pemotongan anggaran kesehatan dan pendidikan demi menopang program MBG adalah sebuah keputusan yang tidak nalar dan menunjukkan ketidakpedulian pemerintah terhadap kesejahteraan rakyat yang sesungguhnya. 

Kesehatan dan pendidikan adalah fondasi utama pembangunan sebuah bangsa. 

Tanpa pelayanan kesehatan yang memadai dan pendidikan yang berkualitas, rakyat akan sulit untuk meningkatkan taraf hidupnya dan berkontribusi secara maksimal bagi kemajuan negara. 

Pemotongan anggaran di sektor-sektor ini akan berdampak buruk pada kualitas pelayanan kesehatan, ketersediaan fasilitas pendidikan, dan kesejahteraan para tenaga medis dan pendidik.

Kritik yang membanjiri media massa adalah bukti nyata bahwa program MBG tidak mendapatkan dukungan luas dari masyarakat. 

Rakyat mulai sadar bahwa program ini bukan solusi dari permasalahan gizi buruk yang sebenarnya, melainkan hanya sebuah proyek ambisius pemerintah yang menguras uang negara dan merugikan rakyat. 

Keputusan Presiden Prabowo untuk tetap melanjutkan program ini tanpa mendengarkan aspirasi rakyat menunjukkan sikap otoriter dan ketidakpedulian terhadap penderitaan rakyat. 

Pemerintah seharusnya mengutamakan kepentingan rakyat dan memprioritaskan alokasi anggaran untuk sektor yang benar-benar mendesak, bukan justru menghambur-hamburkan uang negara untuk program yang tidak jelas manfaatnya. [kay]

Banyak Orang Madura tidak Tahu, Apa itu Seni Gantiran Madura

Haji Abdurrahman (2 dari kiri) dalam pertunjukan seni Gantiran Macopat Madura. [Foto: Yant Kaiy]

SUMENEP - Pertunjukan seni Gantiran Madura Karya Taruna tadi malam berlangsung di rumah Haji Hanirun, Dusun Sempong Timur Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Seni Gantiran Madura merupakan seni pertunjukan campuran antara Macopat Madura yang diiringi irama gamelan. Senin (9/1/2023).

“Perkumpulan seni Gantiran ini digelar dua kali dalam sebulan dan bergilir dari rumah masing-masing anggota perkumpulan,” terang Haji Abdurrahman, Ketua seni Gantiran Karya Taruna Pasongsongan.

Anggota komunitas ini berasal dari beberapa desa diluar Kecamatan Pasongsongan. Bahkan ada yang dari Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan.

Banyak pihak berharap agar seni Gantiran ini terus berdiri dan tetap eksis di bumi Madura. Harapan ini timbul lantaran ada kekhawatiran dari para seniman sepuh tersebut, seiring menurunnya minat generasi muda terhadap kesenian Gantiran. (Kay)

MBG vs Pendidikan dan Kesehatan Gratis: Rakyat Kecil Bertanya, Prioritas Pemerintah Kemana?

Rakyat menggugat MBG yang dinilai kuran cocok menunya


Di sudut-sudut warung kopi, pasar tradisional, dan lorong kampung, pertanyaan itu terus bergaung: kenapa harus MBG? 

Bagi masyarakat kecil, kebutuhan paling mendesak terasa sederhana—sekolah gratis yang benar-benar gratis, dan layanan kesehatan yang tak lagi bikin dompet sesak. 

Ketika tersiar kabar bahwa dana MBG bersumber dari anggaran pendidikan dan kesehatan, kegelisahan pun makin nyata. 

Orang tua bertanya, apakah gizi anak dijadikan alasan untuk menggeser prioritas yang lebih mendasar?

Di atas kertas, program Makan Bergizi Gratis terdengar mulia. Tapi kebijakan publik tak cukup dinilai dari niatnya saja, melainkan dari sensitivitasnya terhadap kebutuhan rakyat. 

Jika benar anggarannya menyentuh pos pendidikan dan kesehatan, maka wajar publik merasa ada ironi. 

Pendidikan dan kesehatan adalah fondasi. Mengutak-atik fondasi demi program baru berisiko memunculkan kesan bahwa negara lebih sibuk membangun etalase daripada memperkuat rumahnya sendiri.

Kekecewaan pun mudah berubah jadi prasangka. Ketika aspirasi tak terdengar jelas, ruang kosong akan diisi oleh dugaan—termasuk anggapan bahwa program ini sarat kepentingan politik kelompok tertentu. 

Di sinilah tantangan kepemimpinan diuji. Pemerintahan Prabowo Subianto perlu membuktikan bahwa setiap kebijakan lahir dari keberpihakan pada rakyat. Bukan sekadar strategi kekuasaan. 

Transparansi anggaran dan keberanian mendengar kritik jadi kunci agar MBG tidak dikenang sebagai kebijakan yang memecah, melainkan sebagai langkah yang benar-benar menyejahterakan. [kay]

Selasa, 03 Maret 2026

Kenapa Harus MBG? Saat Rakyat Lebih Butuh Pendidikan dan Kesehatan Gratis

Mbg adalah program pemerintah Prabowo yang tidak sesuai aspirasi masyarakat


Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kerap dipromosikan sebagai jawaban atas persoalan gizi anak bangsa. 

Tapi di ruang-ruang sunyi, masyarakat kecil justru bertanya lirih: kenapa harus MBG? 

Mengapa bukan pendidikan gratis yang benar-benar gratis, atau layanan kesehatan yang benar-benar tanpa biaya? 

Bagi mereka yang tiap hari bergulat dengan biaya sekolah dan ongkos berobat, prioritas terasa seperti sedang ditukar arah.

Tak ada yang menolak pentingnya gizi. Orang tua di kampung-kampung pun paham bagaimana mengatur lauk sederhana agar tetap bergizi. 

Telur, tempe, sayur daun—itu bukan barang asing. 

Yang terasa janggal adalah ketika program sebesar MBG disebut-sebut menyentuh anggaran pendidikan dan kesehatan. 

Di titik itulah kecurigaan tumbuh. Sebab pendidikan dan kesehatan bukan sekadar program; keduanya adalah fondasi masa depan.

Andaikan MBG berdiri dengan anggaran tersendiri, transparan dan tidak menggerus sektor vital, mungkin suara-suara sumbang tak akan seramai ini. 

Rakyat kecil bukan anti-program. Mereka hanya ingin keadilan dalam skala prioritas. 

Ketika sekolah masih mahal dan rumah sakit masih terasa jauh, wajar jika pertanyaan itu terus menggema: kenapa harus MBG, dan untuk siapa sebenarnya kebijakan ini diprioritaskan? [kay]

Makan Gratis vs Sekolah Gratis: Mana yang Lebih Penting Buat Rakyat?

Mbg tidak begitu penting, lalu apa yang penting


Di warung kopi hingga sudut-sudut pasar, sebuah pertanyaan retoris sering bergema: "Kenapa harus Makan Bergizi Gratis (MBG)?" 

Pertanyaan ini bukan bermaksud menolak nutrisi, melainkan sebuah refleksi atas skala prioritas hidup masyarakat kecil. 

Bagi banyak orang tua, urusan "paham gizi" bukanlah ilmu roket. 

Mereka tahu telur itu baik dan sayur itu perlu. Masalahnya bukan pada ketidaktahuan, melainkan pada daya beli. 

Tapi, ada hal yang jauh lebih menghantui pikiran mereka setiap malam: biaya menebus ijazah yang tertahan atau ketakutan akan tagihan rumah sakit.

Skala Prioritas: Piring vs Masa Depan

Ada tiga alasan mengapa masyarakat merasa pendidikan dan kesehatan gratis jauh lebih mendesak:

1. Pendidikan adalah Eskalator Sosial: Makan gratis hanya mengenyangkan untuk hari ini. Pendidikan berkualitas yang benar-benar tanpa pungutan adalah tiket emas bagi anak-anak kelas bawah untuk memutus rantai kemiskinan secara permanen.

2. Kesehatan adalah Jaring Pengaman: Penyakit mendadak adalah "pintu darurat" menuju kemiskinan ekstrem. Jika kesehatan belum sepenuhnya gratis dan mudah diakses, satu anggota keluarga yang sakit bisa melenyapkan tabungan bertahun-tahun dalam semalam.

3. Kemandirian vs Ketergantungan: Memberi makan secara langsung memang membantu, tetapi memperkuat daya beli orang tua melalui lapangan kerja dan biaya hidup murah jauh lebih memanusiakan. Orang tua lebih bangga menyuapi anak dari hasil keringat sendiri daripada dari jatah birokrasi.

Kesimpulan

Program MBG mungkin memiliki niat mulia untuk mengatasi stunting dan menyiapkan SDM masa depan. 

Tapi, pemerintah tidak boleh lupa bahwa masyarakat tidak hidup di dalam ruang hampa yang hanya butuh makan.

Tanpa jaminan pendidikan tinggi yang terjangkau dan layanan kesehatan yang tuntas, MBG hanya akan jadi perban kecil di atas luka yang menganga. 

Rakyat butuh kepastian sistem, bukan sekadar pembagian porsi. [kay]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...