Kisruh Zakat Menag Nasaruddin Umar: Salah Ucap, Salah Tafsir, atau Salah Terjemahkan Minat “Majikan”?
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya mengenai zakat yang sempat menimbulkan kekisruhan luar biasa di kalangan umat.
Belakangan ini, potongan video ceramah yang menampilkan pernyataan Nasaruddin Umar beredar luas di media sosial.
Dalam video tersebut, ia mengatakan, "Kalau kita ingin maju sebagai umat, kita harus meninggalkan zakat!
Zakat itu nggak populer, Qur'an juga tidak terlalu mempopulerkan zakat...." yang mencederai sosoknya sebagai panutan umat beragama di Indonesia.
Mungkinkah dia tidak paham agama Islam? Atau dia tidak bisa menerjemahkan bahasa dan keinginan "majikan"?
Kisruh zakat tiba-tiba meledak. Sumbernya bukan dari warung kopi. Bukan dari kolom komentar netizen. Tapi dari seorang pejabat negara: Nasaruddin Umar.
Dalam sebuah potongan ceramah yang beredar di media sosial, kalimatnya terdengar unik. “Kalau ingin maju sebagai umat, kita harus meninggalkan zakat.”
Kalimat pendek. Tapi efeknya panjang. Sangat panjang. Sampai bikin umat mengernyitkan dahi.
Setelah gaduh, datanglah klarifikasi. Disusul permintaan maaf. Katanya terjadi kesalahpahaman. Katanya potongan video. Katanya konteks ceramah. Begitulah nasib kalimat di era digital.
Dipotong sedikit, bisa berubah jadi badai. Tapi tetap saja orang bertanya. Ini salah potong? Atau salah ucap? Atau jangan-jangan zakat memang sedang dianggap tidak “marketable”?
Pertanyaan lain ikut muncul. Lebih pedas. Lebih nakal.
Apakah seorang Menteri Agama bisa keliru membaca semangat ajaran sendiri?
Atau sebenarnya beliau paham, hanya saja sedang berusaha menerjemahkan bahasa “majikan”? Entahlah.
Yang jelas umat hanya rakyat kecil. Mereka tidak pandai bermain tafsir kekuasaan.
Mereka hanya tahu satu hal sederhana: zakat itu perintah. Bukan tren. Bukan juga program yang bisa direvisi setiap musim politik. [kay]

