Kenapa Harus MBG? Saat Rakyat Lebih Butuh Pendidikan dan Kesehatan Gratis
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kerap dipromosikan sebagai jawaban atas persoalan gizi anak bangsa.
Tapi di ruang-ruang sunyi, masyarakat kecil justru bertanya lirih: kenapa harus MBG?
Mengapa bukan pendidikan gratis yang benar-benar gratis, atau layanan kesehatan yang benar-benar tanpa biaya?
Bagi mereka yang tiap hari bergulat dengan biaya sekolah dan ongkos berobat, prioritas terasa seperti sedang ditukar arah.
Tak ada yang menolak pentingnya gizi. Orang tua di kampung-kampung pun paham bagaimana mengatur lauk sederhana agar tetap bergizi.
Telur, tempe, sayur daun—itu bukan barang asing.
Yang terasa janggal adalah ketika program sebesar MBG disebut-sebut menyentuh anggaran pendidikan dan kesehatan.
Di titik itulah kecurigaan tumbuh. Sebab pendidikan dan kesehatan bukan sekadar program; keduanya adalah fondasi masa depan.
Andaikan MBG berdiri dengan anggaran tersendiri, transparan dan tidak menggerus sektor vital, mungkin suara-suara sumbang tak akan seramai ini.
Rakyat kecil bukan anti-program. Mereka hanya ingin keadilan dalam skala prioritas.
Ketika sekolah masih mahal dan rumah sakit masih terasa jauh, wajar jika pertanyaan itu terus menggema: kenapa harus MBG, dan untuk siapa sebenarnya kebijakan ini diprioritaskan? [kay]

