Makan Gratis vs Sekolah Gratis: Mana yang Lebih Penting Buat Rakyat?
Di warung kopi hingga sudut-sudut pasar, sebuah pertanyaan retoris sering bergema: "Kenapa harus Makan Bergizi Gratis (MBG)?"
Pertanyaan ini bukan bermaksud menolak nutrisi, melainkan sebuah refleksi atas skala prioritas hidup masyarakat kecil.
Bagi banyak orang tua, urusan "paham gizi" bukanlah ilmu roket.
Mereka tahu telur itu baik dan sayur itu perlu. Masalahnya bukan pada ketidaktahuan, melainkan pada daya beli.
Tapi, ada hal yang jauh lebih menghantui pikiran mereka setiap malam: biaya menebus ijazah yang tertahan atau ketakutan akan tagihan rumah sakit.
Skala Prioritas: Piring vs Masa Depan
Ada tiga alasan mengapa masyarakat merasa pendidikan dan kesehatan gratis jauh lebih mendesak:
1. Pendidikan adalah Eskalator Sosial: Makan gratis hanya mengenyangkan untuk hari ini. Pendidikan berkualitas yang benar-benar tanpa pungutan adalah tiket emas bagi anak-anak kelas bawah untuk memutus rantai kemiskinan secara permanen.
2. Kesehatan adalah Jaring Pengaman: Penyakit mendadak adalah "pintu darurat" menuju kemiskinan ekstrem. Jika kesehatan belum sepenuhnya gratis dan mudah diakses, satu anggota keluarga yang sakit bisa melenyapkan tabungan bertahun-tahun dalam semalam.
3. Kemandirian vs Ketergantungan: Memberi makan secara langsung memang membantu, tetapi memperkuat daya beli orang tua melalui lapangan kerja dan biaya hidup murah jauh lebih memanusiakan. Orang tua lebih bangga menyuapi anak dari hasil keringat sendiri daripada dari jatah birokrasi.
Kesimpulan
Program MBG mungkin memiliki niat mulia untuk mengatasi stunting dan menyiapkan SDM masa depan.
Tapi, pemerintah tidak boleh lupa bahwa masyarakat tidak hidup di dalam ruang hampa yang hanya butuh makan.
Tanpa jaminan pendidikan tinggi yang terjangkau dan layanan kesehatan yang tuntas, MBG hanya akan jadi perban kecil di atas luka yang menganga.

