MBG vs Pendidikan dan Kesehatan Gratis: Rakyat Kecil Bertanya, Prioritas Pemerintah Kemana?

Kenapa MBG dibiayai dari anggaran pendidikan dan kesehatan? Rakyat kecil mulai bertanya soal prioritas dan keberpihakan pemerintah.
Rakyat menggugat MBG yang dinilai kuran cocok menunya


Di sudut-sudut warung kopi, pasar tradisional, dan lorong kampung, pertanyaan itu terus bergaung: kenapa harus MBG? 

Bagi masyarakat kecil, kebutuhan paling mendesak terasa sederhana—sekolah gratis yang benar-benar gratis, dan layanan kesehatan yang tak lagi bikin dompet sesak. 

Ketika tersiar kabar bahwa dana MBG bersumber dari anggaran pendidikan dan kesehatan, kegelisahan pun makin nyata. 

Orang tua bertanya, apakah gizi anak dijadikan alasan untuk menggeser prioritas yang lebih mendasar?

Di atas kertas, program Makan Bergizi Gratis terdengar mulia. Tapi kebijakan publik tak cukup dinilai dari niatnya saja, melainkan dari sensitivitasnya terhadap kebutuhan rakyat. 

Jika benar anggarannya menyentuh pos pendidikan dan kesehatan, maka wajar publik merasa ada ironi. 

Pendidikan dan kesehatan adalah fondasi. Mengutak-atik fondasi demi program baru berisiko memunculkan kesan bahwa negara lebih sibuk membangun etalase daripada memperkuat rumahnya sendiri.

Kekecewaan pun mudah berubah jadi prasangka. Ketika aspirasi tak terdengar jelas, ruang kosong akan diisi oleh dugaan—termasuk anggapan bahwa program ini sarat kepentingan politik kelompok tertentu. 

Di sinilah tantangan kepemimpinan diuji. Pemerintahan Prabowo Subianto perlu membuktikan bahwa setiap kebijakan lahir dari keberpihakan pada rakyat. Bukan sekadar strategi kekuasaan. 

Transparansi anggaran dan keberanian mendengar kritik jadi kunci agar MBG tidak dikenang sebagai kebijakan yang memecah, melainkan sebagai langkah yang benar-benar menyejahterakan. [kay]

LihatTutupKomentar
ApoyMadura_20260225_085139617
ApoyMadura_20260225_085139617
ApoyMadura_20260225_085139617
ApoyMadura_20260225_085139617