Sabtu, 23 Oktober 2021

Ada yang Hilang



Pentigraf: Yant Kaiy

Hatiku benar-benar merasakan, bahwa ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Takut wibawaku menguap tersapu angin, lebih baik diam. Pura-pura tidak tahu. Sikap ini terus saja menjadi kebiasaanku selama tujuh belas tahun. Mengelabui dia dengan menyibukkan diri merupakan jurus jitu menangkal kemarahannya.

 

Namun kali ini senyum dan tegur-sapanya juga mulai luntur. Dari kilat matanya tersimpan kebencian. Situasi mulai tidak nyaman. Meski tidak mengkhawatirkan. Aku tahu, seperti kebiasaannya, dia akan kembali ke pangkuan cintaku tatkala bisik rayu menghampirinya.

 

Tapi kali ini prakiraanku meleset. Saban hari ada saja sikap benci terhadapku. Dia mulai berpindah ke lain hati. Aku kira tidak bermain cinta di ranjang malam takkan mempengaruhi ikatan rumah tangga kami.[]

 

Pasongsongan, 23/10/2021 



Kamis, 21 Oktober 2021

Koruptor Wajib Digantung



Catatan: Yant Kaiy

Banyak kasus korupsi di Negara Kesatuan Republik Indonesia tumbuh subur bak jamur di musim kemarau. Mulai dari tingkat pusat hingga daerah; dari tingkat kabupaten sampai desa. Mereka bermain-main data, mark up belanja/anggaran. Ketika ulahnya terendus, mereka cepat-cepat menyediakan angpao. Menangkalnya dengan sogok sana-sini.

 

Akhirnya, hukum pun bisa dipesan dan dibeli via negosiasi terselubung. Ujung tombak dari lingkaran setan ini adalah aparatur negara berlabel penegak keadilan. Seribu satu cara licik diaplikasikan supaya tersamarkan. Endingnya bebas dari jerat hukum.

 

Korbannya masyarakat akar rumput yang notabene penyuplai pajak terbesar bagi negara. Wong cilik terus mereka peras keringatnya hingga tak tersisa. Realita yang terjadi saat ini, pejabat negara bukan melayani, melainkan minta dilayani. Terbalik.

 

Jikalau Malaysia ada undang-undang Anti Corruption Act yang menjatuhi hukuman gantung bagi para pelaku korupsi. Tapi di Indonesia bukan koruptornya yang digantung, melainkan kasusnya.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



HSN di Pasongsongan Lupakan Syekh Ali Akbar

Perayaan HSN 2021 di Kantor MWC NU Pasongsongan. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Tadi malam (Kamis, 21/10/2021), bertempat di Kantor MWC NU Pasongsongan-Sumenep berlangsung puncak Hari Santri Nasional (HSN) sekaligus Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurut informasi dari Pengurus Cabang NU Sumenep, bahwa perayaan HSN dilaksanakan secara serempak di masing-masing kecamatan.

 

Mata rantai acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Ya Lal Wathan karya Wahab Chasbullah. Dilanjutkan istighosah, lantunan shalawat, kata sambutan PC NU Sumenep oleh Kiai Kurdi Khan, dan mauidzah hasanah disampaikan Kiai Haji Abdul Gaffar.

 

Puncak acara HSN tadi malam terbilang sukses. Namun dalam hati kecil saya masih ada sesuatu yang kurang. Sesuatu yang terlupakan. Seperti pepatah bilang; tak ada gading yang tak retak.

 

Apa itu? Tak ada kiriman Al-Fatihah khusus bagi Syekh Ali Akbar Syamsul Arifin bin Syekh Kholid (Kiai Talang Takong), penyebar dan peletak dasar-dasar Islam di wilayah pantai utara Pulau Madura. Beliau wafat 14 Jumadil Akhir 1000 Hijriah yang dikebumikan di Dusun Pakotan Desa/Kecamatan Pasongsongan Sumenep.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Senin, 18 Oktober 2021

Roda Sepeda



Pentigraf: Yant Kaiy

Merenda impian hidup nyaman tergambar dalam benak sejak kecil. Semenjak aku bisa membaca hitam-putih kehidupan. Meski acapkali Ayah meredam hasrat membuncah, kalau hidup manusia seperti roda sepeda berputar. Sebuah kalimat bijak; adanya perputaran siang-malam sehingga kehidupan ada di mayapada.

 

Kuacuhkan kata-katanya. Semangat juangku tetap berkobar-kobar. Apalagi setelah aku lulus SMA. Masa menganggur mengapuri dinding hati berwarna-warni. Mencari peluang kerja sesuai panggilan jiwa. Tapi semua tidak semudah mengedipkan.

 

Ayah meninggalkan aku di tengah jalan. Sebelum aku bisa merengkuh cita-cita.[]

 

Pasongsongan, 19/10/2021



Rindu Malam



Pentigraf: Yant Kaiy

Tidak kutemukan lagi wajah malam masa lampau; ketika aku dininabobokan tembang-tembang Macapat; dikeloni Ibu lewat cerita raja-raja di Pulau Garam Madura. Atau suara jangkrik, lenguh sapi, bunyi burung hantu. Sekarang, semua berganti suara-suara mesin, menyelusup ke bawah bantal.

 

“Selera kampung!” Kurang-lebih selalu begitu kalimat terucap dari bibir anak-anakku. Mafhum. Mereka menapaki dewasa di kota besar. Terpapar polusi, terkontaminasi sikap kepalsuan, terseret arus hedonisme dan konsumerisme. Semua butuh proses untuk mengembalikan kesehatan jiwanya.

 

Rindu malam kian menindih habis kebebasanku. Uang tergenggam di tangan tak habis tujuh turunan. Kesuksesan karierku tak mampu mengobati luka rindu.[]

 

Pasongsongan, 18/10/2021



Minggu, 17 Oktober 2021

Tak Salah Pilih



Pentigraf: Yant Kaiy

Kebenciannya terus mengejarku. Seperti api menyambar minyak bumi. Melenyapkan hasrat orang lain. Meski kau terjebak, tetap saja kau tidak mau mengakui kelemahan diri. Atau sengaja agar orang lain bisa meninggikan nama baikmu.

 

Maka kutinggalkan saja jejakmu. Tiada guna berlama-lama bercerita tentang musim. Tak bisa aku menampakkan gerak wajah, bahwa aku sosok yang mudah kau pengaruhi setiap saat.

 

Sebelum kau jadi orang hebat kata banyak orang, hampir saja aku jatuh hati kepadamu. Beruntung rekam jejakmu terbaca diantara tumpukan berjuta nama.[]

 

Pasongsongan, 18/10/2021



Kiai M Faizi di HSN 2021 Pasongsongan

Kiai M Faizi (kiri) dan saya


Catatan: Yant Kaiy

Tadi malam (Sabtu, 16/10/2021) saya menjadi pembawa acara di Hari Santri Nasional (HSN). Seumur-umur baru pertama kalinya saya berdiri di depan kalangan seniman, kaum intelektual dan para kiai serta beberapa awak media online. Karena penyelenggara HSN yang bertempat di Dusun Benteng Selatan Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep adalah Lesbumi MWC NU Pasongsongan.

 

Jujur, saya lebih senang berada di belakang layar setiap ada acara penting apa pun. Kendati acara tadi malam yang menjadi motor adalah saya. Mulai dari pengumpulan dana, mengundang tokoh NU, merancang beberapa pementasan, hingga mengundang Kiai M Faizi sebagai pembicara dalam sarasehan budaya.

 

Saya bersyukur acara HSN 2021 tadi malam bisa berlangsung sesuai keinginan banyak pihak. Walaupun acara digelar lesehan, tapi tetap semarak.

 

Acara diawali kumandang lagu Indonesia Raya, Ya Lal Wathan, penyajian tembang Macapat Madura oleh perkumpulan Macapat Madura Lesbumi MWC NU, dan pertunjukan musik tradisional Tongtong Angin Ribut.

 

Sedangkan acara inti adalah ceramah budaya disampaikan oleh budayawan Kiai M Faizi dengan mengambil tema: Sastra dan Santri di Era Digital.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Sabtu, 16 Oktober 2021

Aku Bukan Nabi



Pentigraf: Yant Kaiy

Aku bukan manusia super yang bisa memenuhi segala dahagamu. Kamu harus sadar itu. Aku memiliki banyak sisi kelemahan. Tuhan telah menutupinya oleh kelebihan yang kadang orang lain tidak memilikinya.

 

Kau mengharapkan lebih dari apa yang kau persembahkan padaku selama beratus-ratus hari. Berjuta impian telah kita renda menapaki langit mendung. Ikrar pun lenyap seiring hasrat membuncah untuk menumbangkan persaingan di lingkungan kita. Kau tiba-tiba kagum oleh gemerlap dunia. Tidak seperti saat kita mengawali alunan tembang cinta dan kerinduan.

 

Aku manusia biasa penikmat kopi penuh kedamaian bersama sebatang rokok. Kau sebenarnya bisa menghidangkan secangkir senyum. Aku tak ingin memaksa yang kau tak bisa.[]

 

Pasongsongan, 17/10/2021

Jumat, 15 Oktober 2021

Fatamorgana



Pentigraf: Yant Kaiy

Semua orang pasti akan menyalahkan keputusanku. Sebab aku memilih jalan berbeda dengannya. Tidak satu atap lagi. Terlebih kedua orang tua kami. Aku tersudut diantara caci-maki mereka. Bergeming adalah sikap bijak agar nama dia tidak terperosok di lembah nista. Suatu saat nanti akan tercium puing-puing kebusukan sebenarnya. Tinggal menunggu waktu saja.

 

Dulu sebelum menikah, banyak pria menghampiriku. Karier baikku di pemerintahan menjadi bahan pertimbangan. Aku pun tidak boleh gegabah menentukan pilihan.

 

Aku pun memilih dia sebagai imam melalui proses panjang. Agama merupakan tolak ukur. Tapi dia berkhianat setelah aku melahirkan anak pertama. Dia tidur dengan adikku. Tak mungkin aku menceritakan sebenarnya pada semua orang. Termasuk pada kedua orang tuaku.[]

 

Pasongsongan, 16/10/2021



Sang Pecundang

 


Pentigraf: Yant Kaiy

Dimasa kecil: Berangkat-pulang sekolah, belajar, makan, mandi di sungai, mengaji di surau dan kami selalu main bersama. Bahkan dia sering tidur di rumah kami. Dia banyak dibantu oleh warga di kampung kami dalam banyak hal. Karena ibunya sudah meninggal dunia. Ayahnya menikah lagi di kota lain. Ia tinggal bersama neneknya di gubuk reot.

 

Mujur tak dapat ditolak. Meski ia tak terlalu pintar di sekolah, ia berhasil menjadi pegawai pemerintah. Sedangkan istrinya anak seorang pejabat politik. Tak ayal karier dia pun meroket berkat relasi yang dimiliki mertuanya. Tapi semua tidak gratis. Ia terpaksa jadi penjilat untuk bisa naik tangga jabatan.

 

Banyak orang di kampung kami kecewa. Bukan karena mengharap bantuan darinya. Melainkan ia telah hanyut oleh budaya korupsi, kolusi dan nepotisme yang tumbuh subur di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Masyarakat berharap, ia menjadi orang jujur. Itu saja.[]

 

Pasongsongan, 15/10/2021



Elegi Bergeming



Pentigraf: Yant Kaiy

Tiba-tiba aku sulit memejamkan mata di pembaringan. Tatkala jiwa terguncang oleh kebencian terhadapnya. Bukan aku yang menyulut perseteruan kami. Tapi dia sengaja mau bertahta pada warisan leluhur kami. Segala upaya ia buat untuk menggertak kami. Mulai teror dan sebar benih kebencian terhadap para tetangga agar kami tersudut.

 

Sengaja aku terus bertahan. Sebab tiada guna menanggapinya. Biarlah warga yang menilai semuanya. Aku tak mau mengotori hati terus-terusan. Banyak hikmah kutimba dari berjuta keinginan, bergelayut pada ranting harapan masa depan.

 

Rupanya dia semakin kebakaran jenggot lantaran aku bergeming terhadap serangan kebenciannya.[]

 

Pasongsongan, 15/10/2021



# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...