Kamis, 30 Juli 2020

Therapy Banyu Urip Madura Berqurban

MS. Arifin (Foto: Yant Kaiy)

Apoymadura, Sumenep – Seperti tahun-tahun sebelumnya, CEO Therapy Banyu Urip International, MS. Arifin di Hari Raya Idul Adha melakukan pemotongan hewan qurban, baik di Yogyakarta dan Sumenep.

Untuk lebaran qurban kali ini ada yang special, MS. Arifin datang ke rumah baru dibelinya yang berada di kawasan Jalan Kiai Abubakar Sidik Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Menurut informasi dari kerabat pemilik rumah sebelumnya, bahwa rumah tersebut diperkirakan dibangun pada abad XVIIl.

“Sengaja saya agak lama berada di Pasongsongan karena sedang rehab rumah dan tempat praktek Therapy Banyu Urip. Juga, insya Allah besok pemotongan sapi akan dilakukan di sini,” terang MS. Arifin kepada apoymadura.com di rumah berasitektur tempo dulu. Kamis (30/7/2020).

Selama berada di rumah tersebut, MS. Arifin telah menerima beberapa kunjungan pasien kendati grand opening tempat prakteknya belum diresmikan. Ia melayani mereka dengan ramah-tamah.


“Animo masyarakat di Madura sangat luar biasa terhadap pengobatan alternatif Therapy Banyu Urip. Respons dari mereka yang telah melakukan therapy juga cukup baik. Banyak diantara mereka yang sakit terangkat dari penyakitnya dan mengalami kesembuhan,” tandas MS. Arifin. (Yant Kaiy)

Rabu, 29 Juli 2020

Kisah King dan Pelabuhan Pasongsongan

Amaniyah Tahir (foto: Yant Kaiy)

Apoymadura, Sumenep – Cerita tentang King yang berasal dari Tiongkok Tibet sangat kental mewarnai nuansa keragaman sosial-budaya masyarakat di Pasongsongan. Dari harmonisasi kemajemukan inilah akhirnya memunculkan kemajuan perekonomian amat pesat di wilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pamekasan.

Amaniyah Tahir, salah seorang keturunan king bertempat tinggal di Dusun Pakotan Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep punya cerita tentang nenek moyangnya.

“Menurut cerita orang tua, King adalah leluhur peranakan Cina yang ada di Pasongsongan. King dan keluarganya mendarat di Pelabuhan Pasongsongan sekira abad XVII. Kemudian ia melakukan aktivitas bisnis. King merajai perniagaan hingga akhirnya berangkat naik haji ke Tanah Suci, Mekah,” terang Amaniyah Tahir pada apoymadura.com. Rabu (29/7/2020).

Ini jelas ada korelasi yang menunjukkan kepada khalayak luas kalau Pelabuhan Pasongsongan merupakan pelabuhan termasyhur dan ramai yang ada di Pulau Madura. Sebab terbukti juga ada bangsa Arab yang melakukan kegiatan perdagangan di Pasongsongan. Jejak kaum Timur Tengah itu terkuak setelah ditemukannya kuburan massal di bawah timbunan bukit pasir di Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Sumenep. Sekarang kuburan massal itu dinamakan Astah Buju’ Panaongan.

“Pulang dari menunaikan ibadah haji, King lalu meninggal dunia dan dikebumikan di kawasan pemakaman Sunan Ampel Surabaya,” tukas Amaniyah Tahir mengakhiri perbincangan. (Yant Kaiy)

Selasa, 28 Juli 2020

Dampak Penggunaan Tikar Daun Lontar


Catatan: Yant Kaiy
Diperkirakan pertengahan Agustus 2020, panen tembakau di Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Madura sebentar lagi akan dimulai. Cuaca sepertinya agak bersahabat dengan tidak turun hujan, tentu akan menambah kualitas tembakau lebih baik.

Harapan banyak petani, harga tembakau kali ini tidak anjlok seperti tahun kemarin. Dimana petani mengalami kerugian cukup parah dengan harga tembakau rajang berkisar Rp 10.000,- per kilogram. Alih-alih mau mendapat keuntungan, modal yang dikeluarkan hanya kembali separuh.

Dibalik proses hasil tembakau, biasanya tembakau rajang akan dibungkus tikar yang terbuat dari daun lontar. Kita tentu tahu kalau daun lontar diambil dari pohon siwalan yang keberadaannya saat ini sudah sedikit. Hal ini membuat harga tikar menjadi mahal. Kalau tahun lalu berkisar Rp 50.000,- per satu tikar.

Setelah sampai di gudang pabrikan rokok, tikar pembungkus itu dibuang begitu saja. Sangat disayangkan. Kalau saja pembungkus tembakau rajang itu menggunakan tikar plastik tentu populasi pohon siwalan tetap terjaga dan tumbuh dengan baik.


Pelestarian pohon siwalan yang kebal terhadap kemarau panjang sekalipun, sejatinya menjadi atensi berjamaah. Supaya bumi kita tetap hijau. (Yant Kaiy)

Minggu, 26 Juli 2020

Pembelajaran Daring dan Literasi SDN Pasongsongan IV

Haji Akh. Busri, S.Pd, M.Pd.
Kepala SDN Pasongsongan IV

Apoymadura, Sumenep – Sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diterapkan SDN Pasongsongan IV Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep ternyata tidak mengalami kendala berarti. Semua berjalan sesuai dengan regulasi yang ditetapkan Kepala Dinas Pendidikan Sumenep selama pandemi Covid-19.

“Pembelajaran daring di SDN Pasongsongan IV dilaksanakan oleh dewan guru di sekolah. Sedangkan para murid tinggal di rumah masing-masing. Lewat aplikasi WA, guru memberikan materi pelajaran kepada semua anak didiknya,” terang Kepala Sekolah SDN Pasongsongan IV Haji Akh. Busri, S.Pd, M.Pd kepada apoymadura.com. Minggu (26/7/2020).

Pernyataan ini sekaligus menepis isu kalau semua peserta didiknya masuk ke sekolah. Yang benar, semua guru yang masuk ke sekolah dan para murid tetap di rumah mengikuti pelajaran yang diberikan gurunya secara online.

Literasi Sekolah
Untuk mengisi waktu luang, dewan guru di SDN Pasongsongan IV melaksanakan kegiatan bersih-bersih dan mendekorasi dinding kelas dengan gambar-gambar edukatif dan komunikatif. Begitu pula dengan pagar sekolah dan ruang perpustakaan tak luput dari perhatian para guru untuk dilukis.


“Ini penting kami lakukan agar peserta didik merasa nyaman ketika memasuki new normal nanti. Agar terlihat baru, tak lengkap rasanya kalau meja, bangku dan lemari di sekolah juga kami perbaiki dan dicat ulang,” papar Haji Akh. Busri lebih lanjut.

Ketika ditanya tentang kerinduannya dalam hal kegiatan belajar mengajar, dia tidak menampik kalau dirinya ingin sekali kembali beraktivitas seperti sediakala, namun dirinya tidak mau melabrak aturan. (Yant Kaiy)

Jumat, 24 Juli 2020

Therapy Banyu Urip Pusat Madura Berbagi

Yant Kaiy dari apoymadura.com (kiri) dan MS.Arifin

Apoymadura, Sumenep – CEO Therapy Banyu Urip International, MS. Arifin pulang kampung halaman dalam rangka mau berkurban sapi di Hari Raya Idul Adha. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kurban sapi dilaksanakan di dua tempat, yakni di Yogyakarta dan Sumenep Madura.

“Bagi saya, menyembelih hewan kurban wajib hukumnya untuk seorang muslim yang berkecukupan. Ini saya lakukan dalam rangka berbagi terhadap sesama,” ujar MS. Arifin tidak terkesan menyombongkan diri.

Dijumpai di rumahnya yang asri, Jalan Kiai Abubakar Sidik, Depan Bank Jatim Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, MS. Arifin mengatakan kalau kedatangannya selain berkurban, dia juga akan merenovasi rumah yang baru dibelinya.

“Nantinya rumah ini selain menjadi tempat tinggal bagi kami, juga akan dijadikan rumah sehat. Tempat therapy bagi pasien. Tidak harus menunggu grand opening, mulai saat ini bila ada orang sakit, langsung saja datang ke sini. Atau bisa juga menghubungi kami terlebih dulu di nomer WA 087755074249,” terang MS. Arifin pada apoymadura.com. Jum’at (24/7/2020).


MS. Arifin akan ada di Pasongsongan hingga sampai 3 Agustus 2020. Ini kesempatan terbaik bagi siapa saja yang mau berobat, khususnya bagi warga Pasongsongan dan sekitarnya. Karena langsung ditangani ahlinya. (Yant Kaiy)

Kekuatan Paslon Fattah Jasin-Kiai Fikri

Hairul Anwar (kiri) dan Nyai Mila (kanan)

Catatan: Yant Kaiy
Dari banyak media online diberitakan, kalau Nyai Mila akan menjadi daya gedor anyar aliansi Relawan Hairul Anwar. Beliau dipercaya  sebagai Ketua Tim Relawan Hairul Anwar For Fattah Jasin. Kabar ini semakin membuat pasangan calon (Paslon) Fattah Jasin-Kiai Fikri mendapat keyakinan bisa merebut suara terbesar dari Pilkada Sumenep 2020 kali ini.

Ini tentu surprise. Nyai Mila atau nama lengkapnya Wafiqoh Jamila adalah mantan istri Kiai Haji A. Busyro Karim (Bupati Sumenep). Jelas dia dipercaya menjadi poros terdepan membawa perempuan Sumenep memilih Fattah Jasin-Kiai Fikri. Sedangkan kepastian deklarasi perempuan da’i ini tinggal menunggu saat yang tepat.


Menurut para pengamat politik, Nyai Mila akan menjadi motor vital dalam kampanye nanti. Karena beliau ahli dalam berceramah. Semua orang tahu, jikalau tokoh agamawan bagi sebagian besar warga masyarakat Sumenep merupakan corong terbaik mempengaruhi mindset pemilih. 

Dipercaya pula, Nyai Mila memiliki rekam jejak bersih dan punya magnet merebut hati pemilih di kalangan kaum Hawa. Sebagai eks istri pengasuh Pondok Pesantren Al-Karimiyah di Desa Braji Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep jelas masih bisa memberi pengaruh dan warna terhadap para alumninya. Jelas tanpa harus disuruh, para wali santri dan alumni akan mengikuti arahan gurunya. Kemana guru berlabuh, maka di situ pengikut akan bersandar.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Kamis, 23 Juli 2020

Menyikapi Maraknya Pesta Pernikahan di Pasongsongan


Catatan: Yant Kaiy
Sepuluh hari terakhir di Juli 2020 mulai marak pesta pernikahan di wilayah Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Madura. Itu bisa terdengar dari suara sound system dari beberapa penjuru desa. Padahal dari beberapa kantor pemerintah dan swasta masih tetap menerapkan protokol kesehatan. Sekolah-sekolah juga ditutup. Lantaran pemerintah pusat masih belum memberi aba-aba kalau situasi sudah masuk ke zona new normal.

Realita ini terkesan ada rasa tidak percaya dari masyarakat terhadap pernyataan gugus tugas penanganan Covid-19, kalau virus corona masih ada dan mengancam jiwa warga masyarakat. Beberapa alasan mengalir lantaran disinyalir ada kebohongan dari sekian episode pasien Covid-19. Ada pula kejanggalan-kejanggalan yang mereka temukan berdasarkan cerita dari mulut ke mulut.

Entah kenapa masyarakat lebih percaya kabar tidak jelas (abu-abu) dari pada pernyataan resmi dari pemerintah. Dinamika ini sejatinya menjadi kajian bersama dan bisa menarik benang merah dari carut-marut berita dari media elektronik, media massa cetak dan sosial media lainnya.

Beberapa elemen pemerintah, yakni kepolisian dan petugas kesehatan serta aparatur desa menjadi garda terdepan dalam melokalisir temuan di lapangan. Merekalah yang paling bisa mengimplementasikan aturan kesehatan ke segenap warga masyarakat.

Endingnya, saat ini masyarakat tidak takut pada teror Covid-19, tapi mereka lebih segan (khawatir) terhadap komponen pemerintah tingkat kecamatan. Khawatir kalau petugas mendatanginya dan membubarkan perayaan pernikahan putra-putrinya.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Rabu, 22 Juli 2020

Lagu Lama Pabrikan Rokok di Madura

Seorang petani tembakau di Dusun Sempong Barat
Desa/Kecamatan Pasongsongan-Sumenep.

Catatan: Yant Kaiy
Seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu saja gudang pembelian tembakau di Sumenep dan Pamekasan melakukan manuver politik dagang tidak adil. Tidak berpihak pada kaum petani tembakau. Senantiasa mau enaknya sendiri. Bahkan, petani selalu menjadi objek permainan mereka. Sungguh ironis. Tapi itulah yang terjadi dan tetap berlaku dari dulu hingga kini.

Ketika panen tembakau hanya satu dua orang biasanya harga mengikuti anjuran pemerintah daerah setempat, sesuai kesepakatan sebelumnya. Namun ketika panen tembakau sudah banyak, harga kemudian turun. Petani pun pasrah karena tidak mungkin tembakau rajangan itu dibuat rokok sendiri.

Parahnya lagi gudang pabrikan rokok tutup dengan alasan kebutuhan tembakau sudah terpenuhi. Permainan ini tentu akan sangat mengiris hati nurani sang petani. Sebab tidak sedikit biaya seorang petani yang digelontorkan sejak mulai menanam hingga panen.

Tak ada wujud power proteksi yang bisa mengangkis keterpurukan nasib petani. Pada awalnya saja tersiar kabar kalau kuasa pembelian tembakau dari pabrikan telah menjalin pertemuan dengan orang-orang pemangku kebijakan di daerah. Namun implementasinya bagai buih di atas lautan.

Jangan biarkan air mata petani tembakau terus membasahi pipinya. Mereka juga manusia seperti kita. Manusiakanlah mereka. Karena mereka juga punya hati nurani.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Pelangi Covid-19 di Pasongsongan


Catatan: Yant Kaiy
Kerinduan peserta didik dan dewan guru pada kegiatan belajar mengajar di sekolah tidak dapat terbendung lagi. Diantara mereka tidak bisa lagi menyembunyikan keinginannya masuk kembali ke lembaga pendidikannya. Setelah sekian lama terkurung dalam protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah dengan alasan demi keselamatan bersama.

Pro-kontra di masyarakat akar rumput tentang gonjang-ganjing virus corona memantik keresahan amat serius. Hampir empat bulan masyarakat berada di bawah bayang-bayang hitam Covid-19. Fenomena itu ternyata pada awalnya saja, tapi pada episode terakhir (medio Juli 2020) sebagian besar masyarakat jemu membicarakannya. Seolah ketakutan mereka sudah luntur tergerus informasi simpang-siur.

Akan tetapi lembaga pendidikan swasta dan negeri, baik tingkat TK sampai SMA di Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep tetap tidak mengadakan pembelajaran tatap muka, melainkan pembelajaran daring dari rumah masing-masing dengan model interaktif berbasis internet.

Kalau di kota-kota barangkali sarana internet dan SDM dari orang tua peserta didik tentang gadget cukup mampu sehingga sistem pembelajaran online tidak akan mengalami kendala apa pun. Namun akan lain ceritanya ketika di pelosok. Dimana kedua orang tua peserta didik tidak pernah bersentuhan dengan barang-barang elektronik semacam itu. Apalagi mereka baru mengalami perihal pembelajaran daring seperti saat sekarang.

Para guru juga kerepotan untuk membuat laporan tentang hasil pembelajaran jarak jauh. Bisa jadi data yang dimasukkan fiktif atau hasil rekayasa semata. Mau tidak mau para guru melakukan kebohongan itu demi tercapainya target yang telah ditetapkan.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Selasa, 21 Juli 2020

Dilema Petani Tembakau Pasongsongan Sumenep

Tanaman tembakau milik seorang warga Desa Pasongsongan

Catatan: Yant Kaiy
Diperkirakan akhir Agustus 2020 panen tembakau di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep akan segera dimulai. Gonjang-ganjing tentang adanya beberapa pabrik rokok yang takkan membeli tembakau Madura, ternyata tak membuat kendor semangat para petani. Mereka tetap bergairah dalam menanam tembakau seperti tahun-tahun sebelumnya.

Warga masyarakat Desa Pasongsongan yang melakukan penanaman tembakau meliputi Dusun Sempong Barat dan Dusun Sempong Timur. Kendati demikian, sebagian dari mereka ada yang membeli tembakau dari luar Pasongsongan. Kemudian mereka merajangnya.

Sebenarnya lahan penanaman tembakau di dua dusun ini masih banyak yang tidak ditanami. Alasan dari mereka karena faktor air. Umumnya mereka mengambil air dari sumur yang kedalamannya berkisar 20 meter. Tapi airnya tidak cukup. Beruntunglah kemarin hujan turun dua kali sehingga tanaman tembakau mereka tampak lebih baik ketimbang tahun lalu.

Menurut beberapa tokoh masyarakat di Dusun Sempong Barat, andai saja ada sumber air yang bisa diandalkan tentu para petani tidak hanya menanam tembakau saja, mereka akan juga menanam tanaman holtikultura. Hal ini tentu bisa menopang penghasilan masyarakat dari sisi ekonomi.

Semoga pemangku kebijakan desa bisa mencurahkan perhatiannya terhadap persoalan yang melilit para petani di Desa Pasongsongan. Amin![]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Inovasi Kades Pasongsongan AS Harianto

Kades Pasongsongan, Ahmad Saleh Harianto

Catatan: Yant Kaiy
Terobosan mengesankan Kepala Desa (Kades) Pasongsongan Kabupaten Sumenep, Ahmad Saleh Harianto, S.Pt sangat mendapat apresiasi luar biasa dari segenap warganya. Walau masih belum genap satu tahun menjabat, Kades AS Harianto sudah melakukan beberapa renovasi dan pembangunan sarana dan prasarana.

Mulai dari pembangunan jalan ke beberapa pelosok dusun, pembenahan Balai Desa, kedisiplinan dan instruksi peningkatan pelayanan aparatur desa terhadap semua warga masyarakatnya yang tidak tebang pilih, efisiensi anggaran sesuai peruntukannya yang diambil dari Dana Desa. Semua bergerak menciptakan nuansa baru demi satu tujuan, kemajuan desa untuk kesejahteraan bersama.

Atensi dari Kades AS Harianto melahirkan harapan baru menjanjikan. Bahkan tidak lama lagi akan segera dibangun swalayan BUMDes yang letaknya begitu strategis, simpang tiga menuju Pelabuhan Pasongsongan. Diharapkan dengan dibukannya swalayan ini dapat memberikan dampak signifikan sebagai simbol bahwa daerah yang terkenal dengan penganan khas petis pancetan telah bersolek, melangkah menuju gerbang kemajuan menjanjikan.

Diharapkan swalayan BUMDes bisa menjadi imperium bisnis yang menatalkan kesejahteraan bagi lebih separuh warganya yang bekerja sebagai nelayan.

Kita mafhum bersama, seorang nelayan penghasilannya tidak menentu. Kalau lagi tidak mujur, dia pulang tidak membawa hasil apa-apa. Malah dia rugi. Kalau beberapakali melaut tidak dapat hasil ikan, otomatis hidupnya akan sengsara. Tidak menutup kemungkinan juragan perahu dililit hutang. Ini sudah lama menjadi kajian Kades AS Harianto.

Maka dia mengambil satu langkah kebijakan yang bisa menciptakan proteksi kebangkrutan dari para juragan perahu. Sistemnya dengan berinvestasi di swalayan BUMDes. Dari sinilah mereka akan memperoleh pundi-pundi keuntungan.

Bravo buat Kades Pasongsongan AS Harianto.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...