Selasa, 31 Januari 2023

Maulid Nabi yang Haram

Maulid Nabi Muhammad SAW, menyikapi kelahiran Nabi Muhammad SAW
Sulaisi Abdurrazaq

Opini: Sulaisi Abdurrazaq
Warga Nahdiyin di Pamekasan, menggelontor ke jalanan, membongkar dusta, berjuang mengungkap kebenaran yang terhalang saput kebodohan. 

Mereka menggelar aksi unjuk rasa pada Rabu siang (25/1/23), protes keras atas khotbah Jumat di masjid Usman bin Affan Desa  Nyalabu Laok Pamekasan yang disampaikan Ustadz Yasir Hasan Al-Idris.

Kades Nyalabu Laok ambil sikap menutup masjid Usman bin Affan dan melarang digunakan untuk aktivitas apapun.

Massa tumpah lagi hari ini (30/1/23) ke Polres Pamekasan, menuntut Ustadz Yasir Hasan Al-Idris ditangkap setelah puluhan anggota PC Ansor bersama Banser melaporkan peristiwa itu ke Polres Pamekasan.

Pemkab, Kemenag, MUI, serta perwakilan sejumlah ormas Islam di Pamekasan telah menginisiasi upaya damai, Ustadz Yasir Hasan Al-Idris telah mengaku khilaf, meminta maaf dan menyatakan siap mendapat pembinaan. 

Ia juga komit tak akan mengulangi sikap dan perilaku yang menimbulkan polemik. Tapi nampaknya sebagian warga Nahdiyin belum puas. Polres didesak segera tangkap Ustadz Yasir Hasan Al-Idris.

Isi khotbah itu seperti menjerang air di siang hari, warga Nahdiyin mendidih.

Salah satu isi khotbah yang disampaikan dengan berapi-api itu melumpuhkan diri sendiri, bunyinya begini :

"...KH. Muhammad Hasyim Asy'arie, Pendiri NU, sekaligus pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, mengingkari dengan keras adanya perayaan Maulid Nabi,...kita sebagai orang Indonesia dak tahu selama ini, dibohongi, disembunyikan kebenaran ini, agar umat Islam merayakan..."

Setiap tahun saya merayakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, karenanya, saya ragu terhadap referensi yang disebut Ustadz Yasir Hasan Al-Idris.

Malam ini saya baca seluruh isi kitab Tanbihat al-Wajibat li Man Yashna' al-Maulid bi al-Munkarat karya Hadlratus Syaikh K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari.

Kitab yang saya baca itu 62 halaman berikut Profil Penerjemah bernama Dr. Rosidin, M.Pd.I., Wakil Sekretaris GP Ansor Kabupaten Malang dan Koordinator ISNU MWC Singosari tahun 2013. Kitab itu diterbitkan Bayumedia Publishing Anggota IKAPI.

Mengutip kitab itu, KH. Muhammad Hasyim Asy'ari pada bagian Peringatan Kedua halaman 11 memang memberi peringatan bahwa :

"Memperingati Maulid (Nabi SAW) sebagaimana yang saya jelaskan pertama kali (yakni pada bagian Muqaddimah) adalah haram."

Bayangkan saja, jika kutipan terjemahan itu dipenggal kalimat yang tertuang dalam buka kurung dan tutup kurung, yaitu kalimat : 

"...(yakni pada bagian muqoddimah)"

Begitu pula jika versi karya asli tidak dipahami secara komprehensif maka dapat menjadi kalimat begini :

"Memperingati Maulid 
(Nabi SAW) sebagaimana yang saya jelaskan pertama kali... adalah haram."

Jadi, jika kitab itu tidak dibaca secara utuh, sudah pasti tersesat. Karena Maulid Nabi yang haram menurut KH. Muhammad Hasyim Asy'ari telah ditegaskan pada bagian muqoddimah, bunyinya begini:

"Pada malam senin, 25 Rabi’ul Awwal 1355 H, saya melihat sekelompok santri di sebagian pesantren mengadakan peringatan Maulid Nabi SAW. Dalam acara itu, mereka menghadirkan alat-alat permainan; lalu membaca sedikit ayat alQur’an dan Hadits-hadits yang berkaitan dengan permulaan sejarah Nabi SAW ; serta ayat-ayat yang berkaitan dengan hari kelahiran Nabi SAW dan sejarah hidup beliau sesudah itu yang penuh dengan keberkahan.

Selanjutnya para santri itu melakukan berbagai kemungkaran, misalnya: saling memukul dan menangkis, yang mereka sebut dengan istilah pencak [silat]; tinju; dan menabuh rebana [bahasa Jawa : terbang]. Semua itu dilakukan di hadapan wanita-wanita lain yang berada di dekat mereka untuk menonton pertunjukan tersebut.

Ada juga acara musik, saterik [sandiwara kuno], dan permainan seperti judi. Saat itu bercampur-baur antara kaum laki-laki dengan wanita ; mereka menonton bersama; saling menari [berjoget] dan tenggelam dalam permainan, canda-tawa, mengeraskan suara, serta berteriak-teriak di masjid dan sekitarnya.

Lalu saya melarang dan mengingkari [memberi peringatan keras] mereka atas perbuatan mungkar di atas; akhirnya mereka berpencar dan membubarkan diri.

Ketika terjadi suatu kegiatan seperti yang saya jelaskan di atas, maka saya khawatir perilaku terhina ini menyebar ke banyak tempat dan para pelakunya menambah jenis-jenis kemaksiatan [dalam kegiatan tersebut] : bahkan bisa jadi, perilaku terhina tersebut akan mengantar-kan mereka keluar dari agama Islam.

Oleh karena itu, saya menyusun peringatan-peringatan ini sebagai nasehat [yakni mengharapkan kebaikan] bagi agama dan sebagai petunjuk bagi kaum muslimin."

Selain Peringatan Kedua, pada bagian Peringatan Pertama KH. Muhammad Hasyim Asy'ari juga menulis:

"Berdasarkan pendapat ulama’ yang nanti akan disebutkan, bahwa kegiatan Maulid [Nabi Muhammad SAW] yang dinilai sunnah oleh para imam adalah berkumpulnya orang-orang untuk membaca al-Qur’an dan riwayat Hadits-hadits yang berkaitan dengan permulaan kehidupan Nabi [Muhammad] SAW ; keistimewaan-keistimewan pra-kenabian yang terjadi ketika beliau masih berada dalam kandungan dan pada saat kelahiran beliau; serta perjalanan hidup beliau sesudah itu, yang penuh dengan keberkahan.

Selanjutnya dihidangkan makanan untuk dimakan bersama-sama, kemudian mereka membubarkan diri.Jika mereka menambah kegiatan Maulid Nabi dengan menabuh rebana dengan tetap menjaga tata krama, maka hukumnya tidak mengapa."

Terdapat sepuluh peringatan/nasehat yang ditulis KH. Muhammad Hasyim Asy'ari dalam kitab itu. Saya baca dengan hati-hati, tapi saya tidak menemukan kalimat dan kesimpulan seperti yang dikhotbahkan Ustadz Yasir Hasan Al-Idris. 

Dari kitab itu saya justru mendapat pelajaran bahwa Hadlratus Syaikh K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari membolehkan bahkan menyunahkan Peringatan Maulid Nabi.

Yang diharamkan adalah peringatan maulid nabi yang dicampur baur dengan maksiat, yang disusupi kegiatan-kegiatan yang tidak selaras dengan syari’at Islam, seperti memainkan alat musik, berjoget laki-laki dan perempuan serta kemungkaran-kemungkaran lain yang sejenis.

Oleh karena itu, saya menilai wajar apabila warga Nahdiyin marah dan menggelar protes.

Namun, saya tidak menyarankan seorang khotib, apapun madzhabnya untuk dihukum melalui mekanisme hukum pidana hanya karena kebodohan atau kekhilafan yang tidak diniatkan untuk menyampaikan kebohongan dan tidak punya niat memfitnah melalui mimbar Jumat.

Pidana itu harus memenuhi unsur niat jahat atau mens rea dan actus reus.

Saya yakin Ustadz Yasir Hasan Al-Idris miskin literasi atau tidak membaca secara utuh kitab Tanbihat al-Wajibat   li Man Yashna' al-Maulid bi al-Munkarat, sehingga ia salah menyimpulkan bacaannya yang sepotong-sepotong. Akhirnya sesat dan menyesatkan, namun belum tentu berniat untuk melakukan kejahatan sehingga perbuatannya belum tentu suatu kejahatan.

Meski begitu, seandainya KH. Muhammad Hasyim Asy'ari masih hidup dan kita meminta nasehat beliau, saya yakin beliau tidak akan memilih untuk menghukum Ustadz Yasir Hasan Al-Idris melalui mekanisme hukum pidana.

Tapi, itu sekadar pendapat, pelapor yang lebih mengerti nuansa kebatinan mereka. Kita hanya perlu sama-sama menghormati keputusan yang diambil.

Salam literasi...

©Penulis adalah Ketua DPW APSI Jatim dan Direktur LKBH IAIN Madura


Jumat, 27 Januari 2023

Pasukan Pengumpul Amal Masjid Pinggir Jalan Raya Marak di Madura


Catatan: Yant Kaiy
Sepanjang jalan raya provinsi, sisi utara Pulau Madura, bertebaran kelompok pengumpul amal untuk masjid. Kelompok tersebut ikhlas meluangkan waktu bertugas agar masjidnya lebih representatif. Lebih terlihat bagus dan indah. Diharapkan nantinya para jamaah merasa nyaman dan betah berlama-lama ada di masjid. Paling tidak demikian salah satu impian mereka.

Rata-rata pasukan amal masjid itu memakai pengeras suara. Ucapan terima kasih, ajakan gemar memberi sebagai tabungan akhirat terus meluncur dari sang penyiar. Ini dimaksudkan agar para pengendara yang berlalu-lalang terketuk hatinya untuk melempar uang receh.

Maraknya pengumpul dana masjid ini menuai beraneka komentar. Sebagian besar masyarakat tidak mempersoalkannya. Warga masyarakat menilai kalau hal itu sudah biasa. Mereka sudah tidak asing  dengan pemandangan semacam itu.

Tips bagi pengumpul amal

Saya sempat berbincang santai dengan salah seorang ketua tim penarik amal pinggir jalan di Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Tips ini jitu menarik minat pengendara mobil dan sepeda motor untuk beramal.
1. Pasukan amal itu harus banyak personilnya. Ini bertujuan supaya orang yang melintas di jalan tersebut bertambah yakin kalau masjidnya benar-benar sangat membutuhkan uluran tangan para dermawan.
2. Tidak boleh terlalu mengganggu jalur lalu lintas. Biasanya hal ini mendatangkan simpati para pengendara. Paling tidak setelah mereka kembali melintas di tempat amal tersebut akan rela melemparkan duitnya.
3. Ucapan terima kasih dan untaian doa dari si penyiar bagi pengendara, baik yang memberi atau tidak, akan mengetuk hati mereka.
Ketiga cara ini cukup ampuh setelah diterapkan. Ada perasaan tidak nyaman bagi siapa saja yang tidak menyumbangnya.[]

- Yant Kaiy, Pimred apoymadura.com




Sabtu, 21 Januari 2023

Penjual Belos dan Pengemis

belos merupakan penganan khas desa/kecamatan pasongsongan kabupaten sumenep madura
Belos merupakan penganan khas Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. [Foto: Yant Kaiy]

Catatan: Yant Kaiy
Belos adalah penganan tradisional tempo dulu berasal dari parutan ketela pohon, parutan kelapa dan gula siwalan yang dibungkus daun pisang. Biasanya, gula siwalan diletakkan di tengah-tengah adonan parutan ketela pohon dan kelapa. Kudapan khas Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep ini akan matang apabila direbus satu jam.

Istri saya membuat belos tiap Ahad dan Kamis, dijual ke Pasar Waru Kecamatan Waru Kabupaten Pamekasan. Hasil penjualan belos ini tidak lebih Rp 100 ribu dan cukup untuk belanja kebutuhan hidup sehari-hari dalam keluarga kecil kami.

Januari 2023, pekan pertama, seperti biasa saya mengantarkan istri berjualan ke Pasar Waru. Tepat pukul 09.00 WIB ada pembeli belos membayar pakai uang pecahan Rp 50.000,- Uang istri saya tidak lebih Rp 30 ribu karena belos belum terjual habis.
Beruntung ada seorang pengemis, kami tukar uang kepadanya. Saya perhatikan uangnya lebih Rp 200 ribu. Tubuh pengemis lelaki itu tidak cacat. Normal. Kami sudah hafal dengan wajahnya, lantaran saya selalu bertemu.

Sempat terlintas di benak ini, pendapatan kami berjualan belos ternyata lebih besar dari seorang pengemis. Tapi saya tidak punya animo jadi pengemis. Saya tidak ingin menggadaikan martabat, harga diri, serta apalagi namanya dalam mendapatkan duit.

Memang hidup jadi peminta-minta itu tidak dilarang, dari pada menjadi maling. Itu bahasa klise orang-orang tak bermoral.

Rasulullah shalallahu alaihi wassallam telah memberi teladan mulia, bahwa tangan di atas lebih terhormat dari pada tangan di bawah. Walau Beliau hidup bergelimang derita dan serba kekurangan (miskin), namun nabi terakhir ini tetap berbagi kepada siapa pun yang membutuhkan apa saja yang dimilikinya.

Rumah Pengemis Mirip Istana

Pekan lalu, istri mengajak saya beranjangsana ke rumah temannya semasa kuliah di daerah Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep. Belum sampai tempat tujuan, hujan lebat tiba-tiba mengguyur bumi. Saya tepikan sepeda motor di pintu gerbang mirip rumah sultan.

 
Kami berteduh sejenak. Hujan kian deras saja. Terdengar suara lelaki menyuruh masuk. Ketika kami menoleh ke arah datangnya suara, subhanallah… Ternyata rumah bak istana tersebut milik pengemis yang seringkali kami jumpai di Pasar Waru Pamekasan.[]

Rabu, 18 Januari 2023

Berita dan Informasi Jalan Rusak Terkini dan Terbaru Hari ini – apoymadura.com

Jalan Rusak di Desa Dempo Timur Pasean Pamekasan
Jalan rusak di sebelah timur Kantor Desa Dempo Timur Kecamatan Pasean Pamekasan. [Foto: Yant Kaiy]

PAMEKASAN – Akibat curah hujan sangat tinggi dan berlangsung lama, membuat sebagian ruas jalan yang menghubungkan Desa Dempo Timur dan Desa Dempo Barat Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan mengalami rusak parah. Menurut informasi salah seorang warga masyarakat setempat, hujan turun mulai pukul 17.00 WIB hingga pukul 22.15 WIB. Kamis (19/1/2023).

Jurnalis apoymadura.com mengamati dari dekat rusaknya sarana jalan tersebut cukup parah. Jalan yang rusak tersebut karena tergerus aliran air begitu deras. Irigasi tidak bisa menampung air hujan dari dataran tinggi. Akibatnya pelengsengan jebol sehingga jalan diatasnya ikut terbawa aliran air.

Jalan rusak di Desa Dempo Barat Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan
Jalan rusak di sebelah barat Wamira Mart Desa Dempo Barat Kecamatan Pasean Pamekasan. [Foto: Yant Kaiy]

Jalan rusak parah pertama di sebelah timur Kantor Desa Dempo Timur. Tumpukan material dan tanah memenuhi ruas jalan. Adanya air yang terus mengalir menyebabkan jalan jadi licin.

Yang kedua di sebelah barat toko modern, Wamira Mart, Dempo Barat. Di jalan ini tersisa separuh, hanya satu jalur.

Disarankan bagi pengendara roda dua dan roda empat untuk berhati-hati apabila melintas di jalan tersebut. Banyaknya kerikil dan tanah di sepanjang jalan rawan akan terjadinya kecelakaan lalu lintas. [kay]

Orang Madura Perlu Tahu, Ini Kaidah Ejaan Kata Bahasa Madura yang Benar


Catatan: Yant Kaiy

Salah seorang teman guru SDN Panaongan 1 Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep mengirimkan daftar kata bahasa Madura yang sesuai kaidah. Ini penting, sebagai orang Madura semestinya dalam menuliskan kata-kata sesuai dengan ejaan yang benar.

Semoga kedepan kita bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam bersosial media yang acapkali salah menuliskan ejaan sesuai kaidah. Berikut daftar kata bahasa Madura yang dimaksud.

Selasa, 17 Januari 2023

SKJ SDN Panaongan 3 Pasongsongan Sumenep

Sdn panaongan 3
Agus Salim,S.Pd melatih SKJ siswa kelas 4 SDN Panaongan 3 Pasongsongan Sumenep. [ Foto: Yant Kaiy]


SUMENEP - Senam Kebugaran Jasmani (SKJ) rutin tiap hari dilaksanakan pada masing-masing kelas di SDN Panaongan 3 Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Mulai dari kelas 1 sampai kelas 6 secara bergilir. Rabu (18/1/2023). 

"SKJ siswa dimulai pada pukul 06.30 WIB. Semua orang tahu, kalau olah raga itu sangat baik dilakukan supaya tubuh kita sehat. Tapi sebagian masyarakat ada yang masih meremehkannya," ucap Agus Salim selesai melatih siswa-siswinya.

Menjaga tubuh agar tetap sehat merupakan suatu keharusan. Salah satunya dengan melakukan SKJ tiap pagi. [kay]

Haji Rusdi Nilai Positif Kinerja Kepala SDN Panaongan 3

sdn panaongan 3 kecamatan pasongsongan kabupaten sumenep
Haji Rusdi (2 dari kiri), Agus Sugianto (3 dari kiri) dalam acara Sosialisasi Dampak Narkoba di SDN Panaongan 3 Pasongsongan. [Foto: Yant Kaiy]

SUMENEP - Pengawas TK/SD UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, Haji Rusdi mengapresiasi kinerja Kepala SDN Panaongan 3 dalam menggelar acara Sosialisasi Dampak Bahaya Narkoba di sekolah tersebut. Selasa (17/1/2023).


Hadir dalam acara tersebut tim BNN Kabupaten Sumenep sebagai narasumber. Tim inilah yang membeberkan tentang bahaya narkoba bagi generasi bangsa, utamanya bagi anak usia SD.


"Kegiatan sosialisasi anti narkoba semacam ini patut mendapat dukungan semua pihak. Terutama wali murid. Kita tidak menghendaki anak-anak kita menjadi pengguna narkoba. Karena kita tahu narkoba bisa merusak jasmani dan jiwa anak bangsa," terang Haji Rusdi di hadapan para guru dan wali murid SDN Panaongan 3.


Sedikit Haji Rusdi memaparkan, bahwa Agus Sugianto menjabat sebagai Kepala SDN Panaongan 3 masih belum genap satu tahun. Tapi ia telah membuat beraneka gebrakan berupa kegiatan sosial dan keagamaan di sekolahnya.


Terakhir Agus Sugianto menghadirkan Wakil Bupati Sumenep Hj Dewi Khalifah dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW. Tak berlebihan kalau akhirnya Agus Sugianto mendapat banyak pujian dari berbagai pihak. Terutama dari para wali murid. [kay]

Senin, 16 Januari 2023

SDN Panaongan 3 Gandeng BNN Sumenep Gelar Sosialisasi Pencegahan dan Pemberantasan Narkoba

sdn panaongan 3 + BNN Sumenep + Sosialisasi dampak Narkoba
Agus Sugianto, Kepala SDN Panaongan 3 Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. [Foto: Yant Kaiy]

SUMENEP - Gong gerakan mencegah sedini mungkin penggunaan narkoba di lingkungan pendidikan Sekolah Dasar merupakan tanggung jawab seluruh komponen masyarakat, utamanya tenaga pengajar dan wali murid. Kali ini SDN Panaongan 3 Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep menggelar sosialisasi Pencegahan dan Pemberantasan Narkoba bersama BNN Kabupaten Sumenep. Selasa pagi (17/1/2023). 

Dalam wawancara dengan para awak media, Kepala SDN Panaongan 3, Agus Sugianto menyampaikan banyak terima kasih atas kehadiran tim BNN Sumenep telah memenuhi undangannya. 

"Gerakan bersama pencegahan penggunaan narkoba pada anak usia SD penting digalakkan tanpa kenal waktu. Bahaya laten narkoba selalu mengintai kita. Anak didik perlu dikenalkan akan bahaya  narkoba supaya mereka tidak coba-coba memakainya," tegas Agus Sugianto. 

Ia menambahkan, tim BNN Sumenep nantinya akan menjelaskan tentang bahaya narkoba dan tindakan apa yang mesti diterapkan di lingkungan keluarga. [Kay]

Cerpen JANDA DI UJUNG RINDU MENUA

Karya: Yant Kaiy

Muak pada kenyataan hidup acapkali menghias alam pikirnya. Mita tak mampu menghalau prasangka buruk tentang Debur. Gadis sintal itu tak mau gagal untuk ketiga kalinya.

Terlalu kental pengorbanan Mita untuknya. Korban harga diri, materi, waktu dan rindu karena jarak telah memisahkan keduanya. Debur meninggalkan Mita karena satu pekerjaan. Itu demi masa depan rumah tangganya.

Mita menjanda dua kali tanpa anak. Lalu ia dinikahi Debur. Paras cantiknya, bentuk tubuhnya dan kulit mulusnya memikat kaum Adam untuk memilikinya. Tapi Mita punya kekurangan. Yakni Mudah cemburu buta.

Sedangkan Debur adalah pemain sepak bola. Walau bukan sebagai pemain bintang, namun ketampanannya memikat hati Mita. Keduanya saling jatuh cinta. Lalu mereka mengikat ikrar suci di depan penghulu.

Belum genap lima bulan pernikahannya, Debur ikut kerja temannya di luar kota. Awalnya biasa-biasa saja. Akan tetapi Mita tidak kuasa menahan gejolak asmara. Mita cukup tersiksa karena kebutuhan biologisnya tak terpenuhi.

Ketika rindu belai kasih sayang membuncah, lalu Mita mencari mangsa. Kebetulan Roni keponakan Debur ada disitu. Ia baru tamat SMP.

“Ron, tante minta tolong,” tukas Mita tanpa sungkan.

“Ya, Tante,” sahut Roni yang lagi bersosial media dengan hapenya. Ia bangkit mendekat, berdiri di samping Mita yang lagi tiduran sembari nonton televisi.

“Tolong pijitin tante, dong. Tubuh tante lagi pegal-pegal nih,” pinta Mita sambil membuka bajunya. Lalu ia tengkurap.

Roni agak gelagapan. Mita memberikan minyak urut. Roni menjalankan tugasnya dengan baik. Sejurus kemudian, Mita terlentang. Roni jadi kikuk demi melihat payudara Mita. Belum habis kaget Roni, Mita langsung menariknya.

“Jangan, Tante!... Tante tidak ubahnya ibu aku sendiri,” tolak Roni tanpa ragu.

“Justru itulah kamu harus menurut, Ron!” sahut Mita yang lagi dirasuki iblis.

Akhirnya Roni hanyut juga. Kemudian Roni membaui Mita berkali-kali dalam satu malam.[]

Medio Januari 2023

Nyai Agung Madiya Pasongsongan, Panglima Perang Wanita Raja Sumenep ke 29

Nyai Agung Madiya Pasongsongan, Syekh Ali Akbar Pasongsongan, Raja Sumenep ke 29 Bindara Saod
Senjata tombak kecil Nyai Agung Madiya ketika berperang melawan tentara kolonial Belanda. [Foto: Yant Kaiy]

Catatan: Yant Kaiy

Tidak ada catatan spesifik yang mengangkat sosok panglima perang perempuan berasal dari Dusun Pakotan Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep ini. Kisahnya hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut. Dia adalah Nyai Agung Madiya.

Bukti peninggalannya berupa senjata berbentuk tombak dan kayu berbentuk tangan manusia. Senjata itulah yang digunakan Nyai Agung Madiya saat melawan penjajah Belanda di tanah Aceh.

Orang di luar Pasongsongan tentu banyak yang tidak tahu, siapa sesungguhnya Nyai Agung Madiya. Dialah panglima perang Kerajaan Sumenep semasa kepemimpinan Raja Bindara Saod. Jasa-jasanya yang prestisius perlu kiranya dikenang bagi masyarakat Sumenep.

Perempuan berpostur tegap ini adalah puteri kesayangan Syekh Ali Akbar Syamsul Arifin. Masyarakat Pasongsongan mengenal betul ayahanda Nyai Agung Madiya adalah seorang ulama kharismatik yang cukup disegani. Syekh Ali Akbar merupakan tokoh utama penyebar agama Islam pada abad XV Masehi di pesisir utara Pulau Garam Madura.

Sedangkan Nyai Agung Madiya adalah seorang perempuan yang lemah-lembut tingkah laku kesehariannya. Selalu hormat kepada siapa saja, tanpa pandang bulu. Tetapi ia sangat garang kalau sudah maju ke medan pertempuran.

Nyai Agung Madiya tujuh bersaudara, diantaranya Kiai Sarep, Kiai Kendel, Kiai Amrun, Kiai Lembung, Kiai Jengguk, dan Nyai Agung Singrum. Diantara tujuh bersaudara itu hanya Nyai Agung Madiya yang mempunyai kemampuan untuk maju ke medan perang. Beliau memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi.

Menurut para keturunan dari Syekh Ali Akbar, kebanyakan dari mereka saat ini tinggal di Dusun Pakotan Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, ilmu kanuragan itu yakni ilmu yang berguna untuk membentengi diri pribadi secara supranatural. Ilmu ini meliputi kemampuan bertahan terhadap serangan dan kemampuan untuk menyerang dengan kekuatan yang amat dahsyat/diluar daya nalar manusia dan tidak masuk akal.

Nyai Agung Madiya Pasongsongan, Syekh Ali Akbar Pasongsongan, Raja Sumenep ke 29 Bindara Saod
Senjata Nyai Agung Madiya Pasongsongan berbahan kayu berbentuk tangan manusia. [Foto: Yant Kaiy]

Perang Melawan Penjajah Belanda

Suatu ketika  Kerajaan Aceh minta bantuan kepada Raja Bindara Saod untuk mengusir penjajah Belanda. Akan tetapi malang tak dapat ditolak, pasukan Kerajaan Sumenep kalah dalam peperangan dengan tentara kolonial Belanda di bumi Aceh. Tak ada satu pun pasukan perang Kerajaan Sumenep yang kembali. Semuanya gugur. Raja Bindara Saod dirundung duka cukup mendalam.

Dalam keadaan risau, lalu Bindara Saod berkunjung ke Pasongsongan untuk meminta bantuan kepada Syekh Ali Akbar. Karena saking iba demi mendengar cerita Sang Raja, maka Syekh Ali Akbar merelakan putri tercintanya untuk dikirim ke Aceh. Menumpas tentara kolonial Belanda.

Sebelum Nyai Agung Madiya berangkat ke Aceh, ia didoakan oleh Syekh Ali Akbar agar selamat dalam peperangan. Sang Ayahanda juga memberikan siasat perang yang harus dijalankan nantinya di medan laga.

Singkat cerita, pasukan perang Kerajaan Sumenep pulang membawa kemenangan. Nyai Agung Madiya dan Syekh Ali Akbar mendapat penghargaan dari raja berupa tanah luas di Dusun Pakotan Pasongsongan-Sumenep. Orang-orang Pasongsongan menyebut tanah pemberian raja itu dengan sebutan ‘tanah mardikan’.

Menurut para keturunan Syekh Ali Akbar, tanah pemberian Raja Sumenep tersebut dulunya bebas pajak, tapi setelah Presiden Suharto tanah itu dikenakan pajak.[]

©Yant Kaiy, Pimred apoymadura.com 

Minggu, 15 Januari 2023

Haji Rusdi Rutin Melakukan Inspeksi pada Tiap Sekolah Binaan

sdn padangdangan ll kecamatan pasongsongan kabupaten sumenep
Haji Rusdi memberikan beberapa masukan kepada para guru di SDN Padangdangan ll. [Foto: Yant Kaiy]

SUMENEP - Pengawas TK/SD UPT Dinas Pendidikan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, Haji Rusdi secara rutin melakukan inspeksi pada masing-masing sekolah. Kali ini yang mendapat giliran kunjungan adalah SD Negeri Padangdangan ll Kecamatan Pasongsongan. Senin (16/1/2023). 

"Saya sekadar mengingatkan kepada tiap guru untuk tetap disiplin. Saya menilai pelaksanaan upacara barusan cukup baik," ujar Haji Rusdi setelah melihat pelaksanaan upacara bendera. 

Dirinya menyarankan agar kegiatan upacara harus dilaksanakan tiap hari senin. Ini hukumnya bersifat wajib. Memang ada beberapa kekurangan sedikit. Tapi hal itu tidak mengurangi nilai khidmat dalam pelaksanaannya. [Kay]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...