Sabtu, 04 Oktober 2025

Pertandingan Persahabatan Futsal Wanita Warnai Lapangan Sabar Sejati

Lapangan futsal sabar sejati padangdangan kecamatan Pasongsongan
Tim futsal Tombak Sakti Padangdangan. [Foto: sh]

SUMENEP  -  Pertandingan persahabatan futsal wanita mempertemukan tim Tombak Sakti Padangdangan melawan tim gabungan dari Pasongsongan berlangsung meriah di lapangan futsal Sabar Sejati, di Dusun Teppoh, Desa Padangdangan, Kecamatan Pasongsongan. Sabtu malam (4/10/2025). 

Pertandingan ini jadi ajang silaturahmi dan kebersamaan antarpecinta futsal wanita di wilayah Pasongsongan. 

Kedua tim tampil penuh semangat dan menjunjung tinggi sportivitas sepanjang laga berlangsung.

Maria, salah satu pemain dari tim Tombak Sakti Padangdangan, menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah langkah awal untuk mempererat solidaritas tim.

“Kami tim yang baru terbentuk. Kami ingin membangun kebersamaan lewat permainan futsal,” ujarnya.

Kegiatan semacam ini diharapkan bisa terus berlanjut sebagai wadah positif bagi perempuan untuk berolahraga sekaligus mempererat persahabatan antarwarga. [sh]

Jumat, 03 Oktober 2025

Program Pusaka Rutin Digelar di SDN Soddara 2 Pasongsongan

Sdn soddara 2 kecamatan pasongsongan
Para murid SDN Soddara 2 yang ikut Pramuka. [Foto: sh]

SUMENEP – Program Pusaka (Pasukan Sabtu Pramuka) di SDN Soddara 2 Kecamatan Pasongsongan rutin terselenggara berkat kesungguhan seluruh guru dan siswa di sekolah tersebut. Sabtu (4/10/2025). 

Kepala SDN Soddara 2, Bambang Sutrisno, menjelaskan bahwa kegiatan kepramukaan memiliki banyak manfaat bagi peserta didik. 

Sdn soddara 2 pasongsongan

“Pramuka bertujuan membentuk karakter dan akhlak mulia, pengembangan keterampilan hidup dan penanaman nilai-nilai patriotisme, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama dan alam,” tegasnya.

Ia juga menambahkan, jadi anggota Pramuka bida meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, serta kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat. 

Dengan demikian, program Pusaka bukan hanya sekadar rutinitas, melainkan wadah pembinaan karakter generasi muda. [sh]

Sekolah Hebat, SDN Padangdangan 2 Gelar Program Bersase Setiap Sabtu

Sdn Padangdangan 2 kecamatan Pasongsongan
Para murid membakar sampah. [Foto: sh]

SUMENEP – SDN Padangdangan 2 Kecamatan Pasongsongan melaksanakan program rutin sejak dulu, yakni Bersih Sampah Sekolah (Bersase) setiap hari Sabtu. 

Kegiatan ini melibatkan seluruh peserta didik, guru, serta tenaga kependidikan untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan sekolah.

“Pembiasaan baik ini bertujuan supaya peserta didik terbiasa menjaga kebersihan lingkungan,” terang Sundari, S.Pd, salah seorang guru di sekolah tersebut. Sabtu (4/10/2025).

Program Bersase diharapkan bisa menanamkan kesadaran sejak dini kepada siswa bahwa kebersihan merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari. 

Selain itu, sekolah juga menargetkan terciptanya lingkungan belajar yang sehat, nyaman, dan mendukung peningkatan kualitas pendidikan. [sh]

Tradisi Menguburkan Tembuni ala Masyarakat Sempong Barat: Antara Simbol, Harapan, dan Identitas Budaya

Tradisi masyarakat Pasongsongan dalam menguburkan tembuni

Masyarakat Dusun Sempong Barat, Desa/Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, masih memelihara sebuah tradisi yang sarat makna: menguburkan tembuni atau ari-ari bayi dengan tata cara tertentu. 

Tembuni yang telah dibersihkan dimasukkan ke dalam wadah dari tembikar, kemudian dilengkapi dengan garam, asam, daun nangka, bumbu dapur lengkap (dalam bahasa Madura disebut palappa genna’), serta selembar kertas bertuliskan aksara carakan Madura. 

Tradisi ini bukan semata-mata rutinitas turun-temurun, melainkan sarat simbol dan doa orang tua bagi kehidupan sang bayi di masa depan.

Setiap bahan yang menyertai penguburan tembuni mengandung pesan mendalam, yakni:

1. Garam dan asam

Kedua barang ini berfungsi praktis membersihkan sisa darah, menghilangkan bau, mencegah pembusukan, dan melindungi tembuni dari gangguan binatang. 

Tapi lebih dari itu, ia juga melambangkan upaya menjaga kesucian, kebersihan, dan perlindungan terhadap bayi yang baru lahir. 

2. Daun nangka

Daun nangka berjumlah tujuh lembar dipercaya membawa harapan agar si bayi kelak disenangi banyak orang, tumbuh dengan akhlak yang menyenangkan, serta diterima oleh lingkungannya.

3. Sementara itu, bumbu dapur lengkap jadi simbol kesiapan hidup. 

Kehidupan manusia ibarat dapur yang penuh bumbu: ada manis, asin, pedas, dan pahit. 

Dengan menyertakan palappa genna’, orang tua menyimpan doa agar anaknya kelak tangguh menghadapi dinamika kehidupan, mampu menyelesaikan masalah, serta tidak mudah menyerah pada kesulitan. 

4. Carakan Madura

Adapun kertas bertuliskan carakan Madura mencerminkan cita-cita luhur agar bayi tumbuh jadi pribadi bijak, berilmu, sekaligus mencintai warisan budaya lokalnya.

Simbol lokal

Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Sempong Barat tidak sekadar melakukan ritual simbolis, tapi juga memadukan aspek praktis, spiritual, dan kultural dalam kehidupan sehari-hari. 

Di satu sisi, penguburan tembuni merupakan sunnah dalam Islam untuk memuliakan bagian tubuh manusia. 

Di sisi lain, adanya simbol-simbol lokal menunjukkan kuatnya ikatan budaya masyarakat Madura dalam menanamkan nilai moral, sosial, dan religius kepada generasi baru sejak dini.

Sayangnya, di tengah arus modernisasi, tradisi semacam ini kerap dianggap usang atau sekadar mitos tanpa makna. 

Padahal, jika ditelaah lebih jauh, setiap rangkaian memiliki pesan edukatif yang relevan dengan kehidupan modern: menjaga kebersihan, menumbuhkan rasa cinta kepada sesama, melatih ketahanan mental, serta menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.

Penutup

Dengan demikian, tradisi menguburkan tembuni ala masyarakat Sempong Barat tidak semestinya dipandang sebagai praktik mistis belaka, tapi sebagai warisan budaya yang layak dihargai. 

Tradisi tersebut jadi bukti bahwa masyarakat Madura memiliki kearifan lokal yang mampu menghubungkan kebutuhan jasmani, spiritual, dan sosial. 

Tradisi ini adalah cermin doa dan kasih sayang orang tua yang ingin anaknya tumbuh sehat, cerdas, bermoral, dan berguna bagi sesama. 


Catatan:

Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman saya ketika istri melahirkan untuk kedua kalinya. 

Saya juga mewawancarai para tokoh masyarakat Dusun Sempong Barat, kenapa bahan-bahan tersebut disertakan dan apa makna serta tujuannya. [Sh]

Membaca Yasin Bersama, Wajah Pendidikan Religius di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Pasongsongan

Sdn kecamatan Pasongsongan
Kegiatan pembacaan Surah Yasin bersama di SDN Panaongan 3 Kecamatan Pasongsongan. [Foto: sh]

Masing-nasing sekolah memiliki cara tersendiri dalam membentuk karakter peserta didiknya. 

Di Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, beberapa sekolah dasar negeri bersepakat menghadirkan nuansa religius melalui kegiatan rutin setiap hari Jumat: membaca Surah Yasin bersama. 

Tradisi ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah pembiasaan baik yang sarat makna bagi perkembangan spiritual, moral, dan sosial anak-anak.

Manfaat

Membaca Surah Yasin bersama memiliki banyak manfaat. Pertama, kegiatan ini menumbuhkan karakter religius yang kuat pada diri siswa. 

Sejak usia sekolah dasar, anak-anak dikenalkan pada nilai keimanan melalui pembiasaan membaca Al-Qur’an. 

Kedua, kegiatan ini membantu menanamkan ketenangan batin. Anak-anak belajar bahwa sebelum memasuki aktivitas belajar, mereka perlu menenangkan hati dan jiwa agar ilmu yang diterima lebih bermanfaat. 

Ketiga, membaca Yasin bersama menumbuhkan solidaritas. Duduk dalam satu majelis, mengumandangkan ayat suci bersama, menghadirkan rasa kebersamaan yang mempererat hubungan antarsiswa maupun antara guru dan murid.

Lebih jauh lagi, membaca Yasin bukan hanya menambah pahala, tapi juga diyakini jadi wasilah ampunan dosa. 

Dengan demikian, kegiatan ini bukan sekadar ritual, melainkan bentuk pendidikan karakter yang mengintegrasikan kecerdasan akademik dengan kekuatan spiritual. 

Siswa tidak hanya diarahkan jadi individu cerdas secara intelektual, tapi juga berakhlak mulia sesuai ajaran agama.

Ragam rutinitas

Menariknya, setiap sekolah dasar negeri di Pasongsongan memiliki variasi kegiatan keagamaan untuk memperkaya rutinitas Jumat. 

Di SDN Panaongan 3, misalnya, ada Bayama (Baca Yasin Bersama) dan Jumpayasin (Jumat Sapa Yatim dan Fakir Miskin). Kegiatan ini mengajarkan siswa untuk peduli dan berbagi sejak dini. 

Di SDN Soddara 2, terdapat Yasma (Sholat Dhuha dan Membaca Yasin Bersama) yang menanamkan kedisiplinan waktu sekaligus menambah kekhusyukan ibadah. 

Di SDN Padangdangan 2, ada Shoyama (Sholawat dan Yasin Bersama) yang memadukan dzikir, doa, serta bacaan Qur’an untuk memperkuat cinta kepada Rasulullah. 

Sedangkan di SDN Soddara 1, kegiatan rutin Jumat pagi dikemas lebih hangat melalui Panarema (Sarapan Nase’ Rebba Bersama), di mana pelajar membaca Yasin lalu menikmati sarapan tradisional bersama, sehingga nilai religius berpadu dengan nilai kebersamaan.

Pendidikan akhlak

Keseluruhan kegiatan tersebut menunjukkan bahwa sekolah-sekolah dasar negeri di Pasongsongan tidak hanya mengajarkan pelajaran formal, namun juga berkomitmen menanamkan nilai-nilai moral dan religius. 

Pembiasaan ini jadi modal penting untuk mencetak generasi yang berkarakter, yang tidak hanya cakap secara intelektual, tapi juga memiliki jiwa spiritual yang matang.

Dengan demikian, wajah pendidikan di Pasongsongan sesungguhnya sedang menunjukkan arah baru: pendidikan yang holistik, menyeluruh, dan seimbang antara otak, hati, dan akhlak. 

Membaca Surah Yasin bersama setiap Jumat adalah simbol bahwa sekolah dasar negeri di Pasongsongan berupaya sungguh-sungguh melahirkan generasi beriman, berilmu, dan berakhlak. [sh]

Kamis, 02 Oktober 2025

SDN Soddara 1 Pasongsongan Gelar Dua Kegiatan Rutin di Hari Jumat

Sdn soddara 1 kecamatan Pasongsongan
Sarkawi,S.Pd (kiri) bersama para guru dan murid SDN Soddara 1. [Foto: sh]

SUMENEP — Kepala SDN Soddara 1 Kecamatan Pasongsongan, Sarkawi, S.Pd, menjelaskan bahwa sekolahnya memiliki dua agenda khusus setiap Jumat yang jadi sarana pembiasaan baik bagi siswa. Jumat (3/10/2025). 

Pertama, kegiatan mingguan Jumat pagi dengan sebutan Sarapan Nase’ Rebba Bersama (Panarema). 

Dalam kegiatan ini, siswa diajak untuk membaca surat Yasin bersama, kemudian melanjutkan dengan sarapan nasi tradisional bersama teman-teman sekolah.

“Di dalamnya ada baca Yasin bersama, dan sarapan nasi tradisional bersama teman di sekolah,” ujar Sarkawi.

Sdn soddara 1

Selain itu, SDN Soddara 1 juga memiliki agenda rutin bulanan tiap Jumat manis yang diberi label Libas Jaman (Religi dan Bakti Sosial Jumat Manis). 

Menurut Sarkawi, kegiatan tersebut meliputi tawasul, pembacaan surat Yasin, doa bersama, hingga bakti sosial.

"Kegiatan Libas Jaman meliputi tawasul, pembacaan surat Yasin, doa, dan bakti sosial seperti membantu siswa tak mampu, sedekah ke masjid, membersihkan lingkungan sekolah, hingga membersihkan tempat umum seperti masjid,” jelasnya.

Melalui dua agenda tersebut, SDN Soddara 1 berharap siswa bisa terbiasa menumbuhkan nilai religius, kebersamaan, sekaligus kepedulian sosial sejak dini. [sh]

SDN Soddara 2 Pasongsongan Biasakan Siswa dengan Kegiatan Yasma

Sdn soddara 2 kecamatan pasongsongan
Kepala SDN Soddara 2, semua guru dan siswa baca sudah Yasin bersama. [Foto: sh]

SUMENEP — SDN Soddara 2 Kecamatan Pasongsongan membiasakan siswanya dengan kegiatan Yasma, yakni sholat dhuha dan membaca surah Yasin bersama tiap Jumat. 

Kegiatan ini jadi salah satu langkah sekolah dalam menanamkan kebiasaan positif sejak dini. Jumat (3/10/2025).

Kepala SDN Soddara 2, Bambang Sutrisno, menjelaskan manfaat dari sholat dhuha yang rutin dilaksanakan di sekolah. 

Sdn soddara 2
Sholat dhuha bersama SDN Soddara 2. [Foto: sh]

“Manfaat sholat dhuha, paling tidak pelajar terbiasa mengatur waktu dengan baik. Meningkatkan konsentrasi. Ketika pelajar meluangkan waktu untuk beribadah, hati jadi lebih tenang, sehingga konsentrasi dalam belajar meningkat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kebiasaan baik itu makin lengkap dengan kegiatan membaca surah Yasin bersama. “Ditambah lagi membaca surah Yasin bersama,”  jelas Bambang Sutrisno.

Dengan pembiasaan Yasma ini, pihak sekolah berharap karakter religius dan disiplin siswa bisa terus terbentuk, sekaligus memberi ketenangan batin yang menunjang proses belajar di kelas. [sh]

Rabu, 01 Oktober 2025

Menguburkan Tembuni: Antara Sunnah Islam dan Tradisi Sumenep

Suriyanto hasyim dan apoy madura

Dalam setiap kelahiran, tembuni atau ari-ari bayi selalu jadi bagian tak terpisahkan antara sunnah Islam dan tradisi Sumenep. 

Kendati secara medis tembuni hanyalah jaringan yang sudah selesai menjalankan fungsinya.

Sedangkan dalam perspektif Islam dan budaya Sumenep, ia tetap dimuliakan. 

Pertanyaannya, bagaimana kita memandang tata cara menguburkan tembuni ini: Sebagai kewajiban syariat, atau sebagai warisan budaya?

Sunnah Islam

Dalam Islam, hukum menguburkan tembuni adalah sunnah. 

Artinya, dianjurkan untuk dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada tubuh manusia, meski hanya bagian kecil darinya. 

Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya menjaga kehormatan jasad manusia, baik ketika hidup maupun setelah terpisah darinya. 

Maka, menguburkan tembuni bukanlah urusan takhayul, melainkan sikap memuliakan ciptaan Allah.

Tradisi Sumenep

Akan tetapi di Kota Keris Sumenep, praktik menguburkan tembuni tidak berhenti pada sekadar menjalankan sunnah. 

Ia berkembang jadi tradisi yang sarat makna. 

Menurut pandangan Sundari,S.Pd, salah seorang guru perempuan sekolah dasar negeri di Kecamatan Pasongsongan, ritual penguburan tembuni merupakan bagian dari doa yang terbungkus dalam tindakan simbolik. 

Ada keyakinan bahwa saat tembuni dikubur dengan tata cara tertentu, itu jadi semacam permohonan diam-diam kepada Sang Pencipta agar bayi tumbuh berakhlak mulia.

Misalnya, ada tradisi menanam tembuni dengan menyertakan daun tertentu, yang menguburkan dalam keadaan suci dari hadas besar dan kecil, dan yang mengerjakan adalah orang tua laki-laki agar kelak si bayi mendapat keselamatan. 

Tentu, jika dilihat dengan kacamata syariat, tradisi ini hanyalah budaya yang tidak boleh sampai menyalahi akidah.

Tapi jika dimaknai sebagai doa dalam bentuk simbol, maka tradisi tersebut sebagai pengejawantahan kebersamaan masyarakat dalam menyambut lahirnya seorang manusia baru.

Penutup

Saya berpendapat, praktik ini adalah contoh harmonisasi antara ajaran Islam dan kearifan lokal. 

Islam menuntun umatnya agar memuliakan tubuh, sedangkan budaya Sumenep memberi ruang ekspresi melalui simbol-simbol doa. 

Selama keyakinan tidak berubah ke arah syirik atau takhayul, tradisi ini justru memperkaya spiritualitas masyarakat.

Menguburkan tembuni dengan penuh hormat bukan hanya tentang menjaga sunnah, tapi juga menjaga kearifan. 

Ia adalah doa tak terucap dari orang tua dan keluarga, yang berharap anaknya tumbuh jadi insan yang diridhai Tuhan. 

Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah bagaimana tembuni itu dikubur, melainkan bagaimana doa-doa yang menyertainya membentuk akhlak si anak di kemudian hari. [sh]

Selasa, 30 September 2025

Suhartono, Maestro Perahu Nelayan dari Pasongsongan

Apoy madura dalam bingkai opini

Di tengah arus modernisasi alat tangkap laut yang kian pesat, masih ada sosok yang menjaga marwah tradisi bahari Madura. 

Suhartono, seorang pembuat perahu nelayan khas Desa Pasongsongan, adalah salah satunya. 

Kediamannya berada di Dusun Benteng Utara, Desa Panaongan, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, ia mengabdikan hidupnya untuk melestarikan seni sekaligus keterampilan yang diwariskan para leluhur: Membangun perahu tradisional.

Ketika saya berbincang dengannya, Suhartono mengisahkan bahwa keterampilan itu bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. 

Ia memulainya dari nol, bekerja sebagai buruh pembuat perahu bersama para senior. 

Dari situlah ia belajar mengukur, memahat, merakit, hingga memahami detail estetika dan fungsi sebuah perahu. 

Proses panjang itu kemudian membentuknya menjadi seorang perancang bangun perahu yang kini diakui kemahirannya.

Pelestari budaya

Tak berlebihan jika hasil karya Suhartono kini dianggap sebagai kiblat oleh para juragan perahu nelayan. 

Perahu buatannya bukan hanya berfungsi sebagai alat mencari nafkah di laut, tapi juga simbol prestise bagi pemiliknya. 

Pemesanan perahu darinya datang tidak hanya dari nelayan Pasongsongan, melainkan juga dari Ambunten, Slopeng, Legung, Dungkek, Gapura, bahkan hingga ke luar Kabupaten Sumenep—Pamekasan dan Sampang. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa sentuhan tangan Suhartono telah melampaui sekat geografis.

Tapi, di balik keindahan karya dan keterampilannya, ada fakta menarik sekaligus menantang: Harga pembuatan sebuah perahu tradisional Pasongsongan mencapai lebih dari satu miliar rupiah. 

Angka ini tentu tidak kecil. Akan tetapi, jika dipahami secara mendalam, biaya tersebut sepadan dengan nilai seni, kualitas material, keahlian, serta keawetan perahu yang mampu diandalkan para nelayan bertahun-tahun lamanya.

Penjaga peradaban

Dalam pandangan saya, Suhartono bukan sekadar pengrajin. Ia adalah penjaga peradaban maritim Madura. 

Di tengah keterdesakan perahu fiberglass atau kapal pabrikan modern, kehadirannya jadi penegas bahwa perahu tradisional Pasongsongan bukan hanya soal fungsi, tapi juga soal identitas. 

Ia menjaga warisan budaya sekaligus menghidupkan roda ekonomi lokal melalui pesanan yang terus berdatangan.

Melihat kiprahnya, kita perlu memberi perhatian lebih kepada sosok seperti Suhartono. 

Pemerintah daerah maupun lembaga kebudayaan seyogianya tidak hanya memandang hasil kerjanya sebagai aktivitas ekonomi, tapi juga sebagai warisan budaya takbenda yang harus dilestarikan. 

Pasalnya, jika generasi seperti Suhartono tidak ada lagi penerusnya, bisa jadi keterampilan membangun perahu khas Pasongsongan perlahan hilang ditelan zaman.

Penutup

Sosok Suhartono adalah bukti nyata bahwa warisan budaya sanggup bertahan bukan semata karena romantisme sejarah, melainkan karena ada tangan-tangan terampil yang terus menjaganya. 

Dalam setiap papan kayu yang ia pasang, terkandung semangat leluhur Madura yang selalu berpaut dengan laut. []

Ainur Ridwan, Pensiunan Guru yang Setia Mengabdi pada Kerawitan

Apoy Madura opini

Dalam setiap perjalanan budaya, selalu ada sosok yang memilih jalan sunyi: Menjaga, merawat, sekaligus menyalakan api tradisi di tengah derasnya arus modernitas. 

Salah satunya adalah Ainur Ridwan, M.Pd, pensiunan kepala sekolah negeri yang kini lebih dikenal sebagai pimpinan seni kerawitan Sumenep, melalui group Sopo Nyono dan Putri Nurindah. 

Bertempat tinggal di Dusun Benteng Utara, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Ainur Ridwan bukan sekadar pelaku budaya. 

Ia adalah pengemban tanggung jawab moral untuk memastikan kerawitan—yang bagi sebagian orang mulai dianggap "kesenian usang"—tetap hidup dan berdentang di telinga generasi muda.

Perekat sosial

Dalam percakapan santai dengan saya, Ainur Ridwan banyak bercerita tentang perjalanan panjangnya berkesenian. 

Baginya, kerawitan bukan hanya hiburan, melainkan jalan hidup, ruang pembelajaran, sekaligus sarana perekat sosial. 

Dari denting gamelan, ia melihat kehidupan: Ada harmoni, ada kesabaran, ada keindahan yang menuntut ketekunan.

Nama Ainur Ridwan cukup dikenal di blantika seni gamelan Madura. 

Kelompok kerawitan yang dipimpinnya kerap mendapat undangan tampil dalam berbagai acara, terutama pernikahan. 

Ia percaya bahwa kesenian tradisional bukan sekadar pelengkap pesta, tapi juga sarana mempertebal identitas budaya masyarakat.

Yang menarik, perjalanan ini ditempuhnya setelah menuntaskan karier panjang sebagai pendidik. 

Langka

Tidak banyak pensiunan guru yang memilih jalur kebudayaan sebagai medan pengabdian berikutnya. 

Tapi, Ainur Ridwan justru melihat ada kesinambungan: Jika dulu ia mendidik murid di ruang kelas, kini ia mendidik masyarakat lewat kesenian.

Pendapat saya, sosok seperti Ainur Ridwan adalah teladan yang patut diapresiasi. 

Di saat banyak orang berlomba pada budaya populer instan, ia teguh menghidupi kerawitan dengan kesadaran penuh bahwa setiap tabuhan gamelan adalah bagian dari sejarah, identitas, dan kebanggaan masyarakat Madura.

Kita membutuhkan lebih banyak tokoh yang berjiwa seperti Ainur Ridwan. 

Sebab tanpa mereka, tradisi mudah sekali dilupakan, tergilas arus globalisasi. 

Penutup

Kerawitan, dengan segala keluhuran nilai yang terkandung di dalamnya, tidak akan bertahan hanya dengan nostalgia. 

Ia butuh pelaku yang sabar, tekun, dan bersetia. Dan Ainur Ridwan telah membuktikan dirinya sebagai salah satu penjaga itu.[]

Gending Madura Iringi Pernikahan Anak Imam Munandar di Pasongsongan

Sopo Nyono pasongsogan
Ainur Ridwan,M.Pd, pimpinan seni kerawitan Sopo Nyono dan Putri Nurindah. [Foto: sh]

SUMENEP – Suasana hangat dan penuh kearifan lokal terasa kental di kediaman Imam Munandar, Dusun Morasen, Desa/Kecamatan Pasongsongan, saat keluarga besar ini menggelar hajatan pernikahan anaknya. Sabtu (27/9/2025). 

Tidak hanya jadi peristiwa sakral keluarga, acara tersebut juga jadi ruang bagi masyarakat untuk menikmati pagelaran seni tradisi Madura.

Alunan gending-gending Madura mengiringi jalannya acara, menghadirkan nuansa khas yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat pesisir utara Sumenep. 

Seni kerawitan Sopo Nyono dan Putri Nurindah, di bawah pimpinan Ainur Ridwan, M.Pd, tampil dengan penuh penghayatan. 

Tabuhan gamelan berpadu harmonis dengan lantunan tembang, mengajak hadirin larut dalam suasana syahdu.

Penembang masyhur, Rustini  menambah sentuhan yang begitu mendalam. 

Suara merdunya yang melantunkan tembang-tembang Madura sarat makna, seakan membawa para tamu undangan menyusuri kembali akar tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi keluarga besar Imam Munandar, pagelaran ini bukan sekadar hiburan dalam pesta pernikahan, tapi juga bentuk penghormatan terhadap seni dan budaya lokal. 

Sementara itu, Ainur Ridwan saat diwawancarai memberikan ulasan logis. 

“Kami ingin momen berbahagia ini menghadirkan kesempatan untuk kembali mendekatkan diri pada tradisi kita sendiri,” ungkap Ainur Ridwan.

Kehadiran gending Madura di tengah hajatan ini menunjukkan betapa seni tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. 

Lebih dari sekadar suguhan budaya, pagelaran ini jadi pengingat pentingnya menjaga dan merawat warisan leluhur agar tetap hidup di tengah arus modernisasi. [sh]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...