Menguburkan Tembuni: Antara Sunnah Islam dan Tradisi Sumenep

Suriyanto hasyim dan apoy madura

Dalam setiap kelahiran, tembuni atau ari-ari bayi selalu jadi bagian tak terpisahkan antara sunnah Islam dan tradisi Sumenep. 

Kendati secara medis tembuni hanyalah jaringan yang sudah selesai menjalankan fungsinya.

Sedangkan dalam perspektif Islam dan budaya Sumenep, ia tetap dimuliakan. 

Pertanyaannya, bagaimana kita memandang tata cara menguburkan tembuni ini: Sebagai kewajiban syariat, atau sebagai warisan budaya?

Sunnah Islam

Dalam Islam, hukum menguburkan tembuni adalah sunnah. 

Artinya, dianjurkan untuk dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada tubuh manusia, meski hanya bagian kecil darinya. 

Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya menjaga kehormatan jasad manusia, baik ketika hidup maupun setelah terpisah darinya. 

Maka, menguburkan tembuni bukanlah urusan takhayul, melainkan sikap memuliakan ciptaan Allah.

Tradisi Sumenep

Akan tetapi di Kota Keris Sumenep, praktik menguburkan tembuni tidak berhenti pada sekadar menjalankan sunnah. 

Ia berkembang jadi tradisi yang sarat makna. 

Menurut pandangan Sundari,S.Pd, salah seorang guru perempuan sekolah dasar negeri di Kecamatan Pasongsongan, ritual penguburan tembuni merupakan bagian dari doa yang terbungkus dalam tindakan simbolik. 

Ada keyakinan bahwa saat tembuni dikubur dengan tata cara tertentu, itu jadi semacam permohonan diam-diam kepada Sang Pencipta agar bayi tumbuh berakhlak mulia.

Misalnya, ada tradisi menanam tembuni dengan menyertakan daun tertentu, yang menguburkan dalam keadaan suci dari hadas besar dan kecil, dan yang mengerjakan adalah orang tua laki-laki agar kelak si bayi mendapat keselamatan. 

Tentu, jika dilihat dengan kacamata syariat, tradisi ini hanyalah budaya yang tidak boleh sampai menyalahi akidah.

Tapi jika dimaknai sebagai doa dalam bentuk simbol, maka tradisi tersebut sebagai pengejawantahan kebersamaan masyarakat dalam menyambut lahirnya seorang manusia baru.

Penutup

Saya berpendapat, praktik ini adalah contoh harmonisasi antara ajaran Islam dan kearifan lokal. 

Islam menuntun umatnya agar memuliakan tubuh, sedangkan budaya Sumenep memberi ruang ekspresi melalui simbol-simbol doa. 

Selama keyakinan tidak berubah ke arah syirik atau takhayul, tradisi ini justru memperkaya spiritualitas masyarakat.

Menguburkan tembuni dengan penuh hormat bukan hanya tentang menjaga sunnah, tapi juga menjaga kearifan. 

Ia adalah doa tak terucap dari orang tua dan keluarga, yang berharap anaknya tumbuh jadi insan yang diridhai Tuhan. 

Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah bagaimana tembuni itu dikubur, melainkan bagaimana doa-doa yang menyertainya membentuk akhlak si anak di kemudian hari. [sh]

Komentar

  1. Ada banyak versi tambahan dalam penguburan tembuni namun semua sama tujuannya bahwa tembuni adalah bagian dari bayi/jazad sebelum lahir dalam proses penciptaannya ..yg terdiri dari simbol tanah,air, udara dan api..4 unsur sibolik ini yg akan mengawal bayi hingga Ahir hayat dalam fitrahnya manusia dalam bertemu sang kholik

    BalasHapus

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan sopan agar kita bisa memberikan pengalaman yang baik untuk pengunjung. Terima kasih.

Postingan populer dari blog ini

Lawan Perundungan, Mahasiswa KKN Unija Gelar Sosialisasi Kesehatan Mental di SDN Padangdangan 2

Tantangan Pasca-Revitalisasi: Sampah Musim Hujan Masuk ke Sumber Agung, Kades Pasongsongan Siap Beri Dukungan Lanjutan

Rahasia Sehat Alami: Pulihkan Penyakit Menahun dengan Keajaiban Air Usada Pamungkas

Usai Libur Panjang, SDN Padangdangan 2 Giatkan Kembali Program ‘Bersase’

Penuh Haru, SDN Padangdangan 1 Gelar Acara Lepas Pisah untuk Tiga Guru Terbaiknya

Dua Darah Madura di Panggung Tiga Besar DA7 Indosiar: Hiburan, Prestasi, dan Oase di Tengah Hiruk-Pikuk Politik

Dedikasi 21 Tahun Berbuah Manis, Sundari Resmi Bertugas di SDN Padangdangan 1

Contoh Pidato Singkat untuk Santri: Melukis Hakikat Rindu di Balik Ilmu🎤

Cabang Therapy Banyu Urip Pasuruan Layani Pasien Setiap Hari, Sediakan Pengobatan Gratis di Hari Ahad

Perjalanan Cinta Akhmad Faruk Mirip Sinetron, Berujung di Pelaminan untuk Kedua Kalinya