Sabtu, 02 Agustus 2025

Lomba Melukis, Mewarnai, dan Kolase Meriahkan HUT RI ke-80 di LP Ma’arif Pasongsongan

Hut ri ke-80
Dari kiri: Syamsi dan Akhmad Jasimul Ahyak. [Foto: sh]

SUMENEP — Suasana semarak tampak mewarnai pelaksanaan lomba seni dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-80 yang digelar di lingkungan LP Ma’arif Kecamatan Pasongsongan. 

Kegiatan lomba yang meliputi melukis, mewarnai, dan kolase ini diikuti oleh peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari RA/TK, SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA. Ahad (3/8/2025). 

MI Annajah menjadi tuan rumah kegiatan lomba tahun ini. 

Kepala MI Annajah, Syamsi, S.Pd.I, menyampaikan rasa bangganya atas kepercayaan yang diberikan. 

“MI Annajah merupakan lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif yang senantiasa memberikan ruang bagi semua kegiatan dalam rangka peringatan HUT RI,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Lomba Seni, Akhmad Jasimul Ahyak,S.Pd.I, mengucapkan terima kasih atas izin dan fasilitas yang diberikan. 

“Kami sangat mengapresiasi dukungan dari MI Annajah. Semoga kegiatan ini menjadi sarana untuk menggali potensi seni anak-anak didik kita,” tuturnya.

Lomba ini tidak hanya menjadi ajang kreativitas, tapi juga memperkuat rasa nasionalisme generasi muda dalam bingkai seni dan budaya. [sh]

Jumat, 01 Agustus 2025

Cerpen: Garis yang Dilanggar

Cerita pendek

Oleh: Suriyanto Hasyim

Debur, seorang guru honorer di sebuah sekolah dasar negeri di pesisir. 

Usianya 51 tahun, tubuhnya kurus dan rambutnya mulai memutih. 

Meski hidup sederhana, Debur dikenal ramah dan sabar. Ia kerap membantu siapa pun yang ingin belajar, termasuk Tona, seorang mahasiswi dari perguruan tinggi swasta yang sedang kesulitan dalam pelajaran bahasa Inggris.

Pertemuan mereka bermula di sebuah perpustakaan kecil milik desa. 

Tona, masih berusia dua puluhan, datang meminta bantuan Debur untuk mengasah kemampuan bahasa asingnya. 

Debur, yang melihat semangat belajar Tona, dengan senang hati mengajarinya. 

Hari demi hari, mereka makin sering bertemu. Debur menganggap Tona seperti anaknya sendiri.

Tapi, suatu sore, ketika pelajaran hampir usai, Tona tiba-tiba memeluk Debur erat dan mengecup pipinya. 

Debur terkejut, tubuhnya menegang, dan seketika ia menjauh.

"Aku ini sudah seperti ayahmu, Ton," kata Debur. 

Tona menatapnya tajam, menolak mundur. "Aku tidak peduli. Aku ingin ini. Aku ingin Bapak."

Debur terdiam lama. Di benaknya berkecamuk rasa iba, tanggung jawab, dan sebuah garis tipis antara kasih sayang dan nafsu. 

Tapi ia tahu, sekali garis itu dilanggar, tak akan ada jalan kembali.

Dengan napas berat, Debur berdiri, mengambil jarak. 

"Kau masih muda, dan ini salah. Jangan biarkan perasaan sesaat menghancurkan masa depanmu!."

Bahwa kasih sayang, seberapa pun tulusnya, harus tahu batas. Dan ia bersyukur, kali ini, ia memilih jadi dewasa. ©

Cerpen: Memilih Jalan Lain

Cerita pendek

Oleh: Suriyanto Hasyim

Setelah dua tahun memeras keringat sebagai kuli bangunan di Malaysia, Debur akhirnya pulang ke kampung halaman dengan harapan sederhana: memeluk istri dan anak yang ia rindukan tiap waktu. 

Tapi, begitu ia menginjakkan kaki di depan rumah, suasana hening yang menyambut membuat dadanya terasa kosong. 

Rumah itu tak lagi hangat. Tak ada istrinya, Tona. Tak ada suara tawa anaknya.

Bagai tersambar petir, ketika Debur mendengar kabar dari tetangga, Tona pergi bersama lelaki lain.

Dan lebih menyakitkan lagi, kini tengah mengandung anak dari pria itu. 

Sedangkan anak mereka yang masih kecil pun dibawa serta.

Saudara-saudaranya murka. Mereka mendesak agar Debur membalas. 

"Biar kami yang urus! Atau kau sendiri, Bur! Harga dirimu diinjak!" kata salah satu dari mereka. Tapi Debur hanya diam.

Di sudut kamarnya, Debur duduk sendirian. Ia bukan tak marah, tapi hidup telah mengajarinya banyak hal. 

Ia tahu, membalas dendam bisa berarti menukar luka dengan kehancuran. 

"Kalau aku duel, bisa kalah bisa menang," gumamnya. "Kalau kalah, aku masuk kuburan. Kalau menang, aku masuk penjara."

Akhirnya, Debur mengambil keputusan mengejutkan semua orang, ia memilih menikah lagi. 

Bukan karena ingin melupakan luka begitu saja, tapi karena ia ingin memulai hidup baru tanpa kebencian, tanpa dendam membara.©

Kamis, 31 Juli 2025

Perselingkuhan di Dunia Pendidikan, Pukulan Moral yang Tak Bisa Dibiarkan

Dinas Pendidikan Sumenep
Dugaan kasus perselingkuhan yang melibatkan Kepala SDN Sakala II Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, dengan seorang guru honorer bukan hanya mencoreng nama baik dunia pendidikan, tapi juga mempermalukan integritas moral di tengah masyarakat. 

Apalagi informasi yang beredar menyebutkan bahwa keduanya masih memiliki hubungan keluarga dengan Kepala Desa Sakala. Ini menambah rumit dan sensitifnya persoalan.

Puncak dari kemarahan warga terlihat pada Senin, 28 Juli 2025, pukul 15.00 WIB, saat keduanya diarak dari Balai Desa keliling kampung sebagai bentuk sanksi sosial. 

Tindakan ini mencerminkan betapa seriusnya pelanggaran mora dalam kehidupan sosial pedesaan yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai kesusilaan.

Apakah cukup dengan sanksi sosial? 

Banyak pihak berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep tidak tinggal diam. 

Lembaga pendidikan harus jadi tempat yang bersih dari skandal semacam ini. 

Jika tidak ada tindakan tegas, maka akan muncul preseden buruk bahwa pelanggaran etika bisa ditoleransi asalkan dilakukan oleh pihak yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan.

Sanksi administratif, bahkan pemecatan, patut dipertimbangkan sebagai bentuk ketegasan dan perlindungan terhadap martabat institusi pendidikan. [sh]

Rabu, 30 Juli 2025

Lomba Baca Puisi HUT RI ke-80 di Pasongsongan Dapat Atensi Tinggi, Usulan Datangkan Juri dari Luar Muncul

Viral, Lomba Baca Puisi HUT RI ke-80 di Pasongsongan Dapat Atensi Tinggi, Usulan Datangkan Juri dari Luar Muncul
Akhmad Jasimul Ahyak (kanan) bersama para juri lomba seni di Kecamatan Pasongsongan beberapa tahun lalu. [Foto: sh]

SUMENEP — Pelaksanaan lomba-lomba dalam rangka memperingati HUT RI ke-80 di Kecamatan Pasongsongan, khususnya bidang kesenian seperti lomba baca puisi antar pelajar, mendapat perhatian besar dari berbagai kalangan. Kamis (31/7/2025). 

Antusiasme peserta dan dukungan dari para guru serta masyarakat mencerminkan semangat kemerdekaan yang masih membara.

Dalam kegiatan tersebut, muncul satu usulan menarik dari seorang guru yang menginginkan agar juri lomba baca puisi didatangkan dari luar Kecamatan Pasongsongan. 

Tujuannya agar penilaian berlangsung secara objektif dan profesional, tanpa dipengaruhi kedekatan personal antar peserta dan juri.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Panitia Seksi Lomba Kesenian, Akhmad Jasimul Ahyak, menyambut positif usulan tersebut. 

"Saya akan segera sampaikan aspirasi ini kepada panitia induk HUT RI Kecamatan Pasongsongan," tegas Jasimul, sapaan akrabnya.

Dengan adanya usulan tersebut, diharapkan kualitas lomba kian meningkat dan menjadi ajang pembelajaran serta motivasi bagi para pelajar untuk terus berkarya dan mencintai sastra. [sh]

Indonesia dalam Cengkeraman Koruptor, Sampai Kapan?

Kasus korupsi Indonesia

Menyedihkan! Maraknya kasus korupsi di Indonesia kian hari kian mengkhawatirkan. 

Dari pejabat pusat hingga daerah, dari sektor pendidikan hingga bantuan sosial, hampir tak ada celah yang benar-benar bersih dari praktik culas ini. 

Seolah hukum hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. 

Para koruptor tampaknya sudah tidak takut lagi pada jerat hukum, apalagi pada Tuhan yang seharusnya jadi penuntun moral mereka.

Yang lebih menyakitkan, rakyat hanya bisa jadi penonton. Saban hari berita penangkapan koruptor muncul, tapi esoknya muncul lagi kasus serupa. 

Publik dibuat jengah, marah, dan lelah menyaksikan itu semua. 

Sementara itu, uang rakyat terus digerogoti, kemiskinan tetap menjamur, dan keadilan seperti barang mewah yang sulit dijangkau.

Apakah negeri ini memang ditakdirkan untuk terus dijajah, bukan oleh bangsa asing, tapi oleh koruptor dari dalam negeri sendiri? Sampai kapan bangsa ini bisa terbebas dari cengkeraman para pencuri berseragam resmi?

Jika hukum tidak ditegakkan secara adil dan tegas, jika rakyat terus diam dan pasrah, maka negeri ini akan terus dirampok oleh tangan-tangan tak bermoral. 

Sudah saatnya Indonesia bangkit dan menyatakan perang terhadap korupsi, dengan suara, aksi, dan keberanian rakyatnya. [sh]

Mengapa Pemerintah Lebih Suka Bagi-Bagi Bansos daripada Buka Lapangan Kerja?

Bansos pemerintah

Bukan rahasia lagi, bahwa rakyat Indonesia saat ini kesulitan mencari pekerjaan.

Lapangan kerja makin sempit, sementara jumlah pencari kerja terus melonjak. 

Lebih menyedihkan, alih-alih fokus menciptakan kesempatan kerja yang layak, pemerintah justru terlihat lebih aktif membagikan bantuan sosial (bansos). Mengapa begitu? 

Pertama, bansos adalah solusi instan. Dibandingkan membangun industri, menciptakan wirausaha, atau memperluas sektor ekonomi produktif yang butuh waktu, dana, dan perencanaan matang.

Menyalurkan bansos bisa dilakukan cepat dan langsung menyentuh rakyat. 

Apalagi saat momentum politik seperti menjelang pemilu, bansos sering dijadikan "alat pencitraan" untuk meraih simpati.

Kedua, ada semacam pendekatan populis dalam kebijakan. Pemerintah ingin terlihat hadir dan peduli di tengah kesulitan rakyat. 

Tapi bantuan seperti ini ibarat obat penenang, bukan penyembuh.

Sementara itu, banyak warga terpaksa merantau ke luar negeri demi mencari penghidupan. 

Mereka meninggalkan keluarga, anak, dan tanah kelahiran hanya untuk bekerja sebagai buruh migran. 

Ironisnya, devisa dari keringat mereka justru jadi salah satu penyokong ekonomi negara. 

Pemerintah tahu ini, tapi tetap saja tidak menyiapkan ekosistem kerja di dalam negeri dengan serius. [sh]

Kenapa Korupsi di Indonesia Merajalela?

Korupsi di Indonesia Merajalela?

Sejak lengsernya Presiden Soeharto pada 1998, Indonesia memang telah menjalani transisi demokrasi. 

Tapi ironi besar menyertainya: Kasus korupsi justru kian merajalela. 

Alih-alih menurun, praktik rasuah seolah menemukan panggung baru dalam sistem yang katanya lebih terbuka dan partisipatif. 

Lebih miris, wacana tentang hukuman mati bagi koruptor hanya jadi komoditas politik sesaat—nyaring saat pemilu, lalu hilang ditelan kepentingan.

Salah satu faktor utama kenapa korupsi tak pernah bisa diberantas adalah lemahnya komitmen politik dari lembaga legislatif. 

DPR sejatinya memiliki kewenangan untuk membuat undang-undang pemberantasan korupsi, justru terlihat tak berdaya. 

Bahkan, sebagian masyarakat menaruh curiga: Jangan-jangan DPR itu sendiri adalah tempat nyaman bagi bersarangnya para koruptor. 

Bagaimana mungkin bisa mereka serius menghukum dirinya sendiri?

Program untuk memiskinkan keluarga koruptor juga hanya jadi wacana kosong. 

Tak pernah ada regulasi tegas yang benar-benar menjerat aset para koruptor hingga ke akar-akarnya. 

Padahal, pemiskinan koruptor bisa jadi efek jera yang jauh lebih menyakitkan ketimbang sekadar penjara.

Korupsi di Indonesia bukan hanya soal individu yang tamak, tapi sudah menjelma jadi budaya sistemik. 

Selama hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, serta penegakan keadilan hanya jadi sandiwara belaka, maka korupsi akan tetap hidup subur, menjalar seperti benalu di batang pohon demokrasi kita. [sh] 

Kenapa Korupsi di Indonesia Merajalela?

Contoh pemberantasan korupsi

Sejak lengsernya Presiden Soeharto pada 1998, Indonesia telah menjalani transisi demokrasi. 

Tapi ironi besar menyertainya: Korupsi justru makin merajalela. 

Alih-alih menurun, praktik rasuah seolah menemukan panggung baru dalam sistem pemerintahan. Anehnya, wacana tentang hukuman mati bagi koruptor hanya jadi komoditas politik musiman—nyaring saat pemilu, lalu lenyap ditelan kepentingan.

Salah satu faktor l kenapa korupsi tak pernah bisa diberantas tuntas adalah lemahnya komitmen politik dari lembaga legislatif. 

DPR yang sejatinya memiliki kewenangan untuk membuat undang-undang pemberantasan korupsi yang tegas, justru terlihat tak berdaya. 

Bahkan, sebagian masyarakat menaruh curiga: Jangan-jangan DPR itu sendiri adalah tempat nyaman bersarangnya para koruptor. 

Bagaimana mungkin mereka serius menghukum dirinya sendiri?

Program untuk memiskinkan keluarga koruptor juga hanya jadi wacana kosong. 

Tak pernah ada regulasi tegas yang benar-benar menjerat aset para koruptor hingga ke akar-akarnya. 

Padahal, pemiskinan koruptor bisa jadi efek jera yang jauh lebih menyakitkan ketimbang sekadar penjara.

Lihatlah Cina! Negara ini memiliki ketegasan luar biasa dalam menindak para pelaku korupsi. 

Pemerintah Cina tegas menjatuhkan hukuman mati bagi pejabat yang terbukti merugikan negara. 

Bukan hanya slogan, hukuman itu benar-benar dieksekusi. Hasilnya? Korupsi di Cina tidak serta-merta hilang, tapi jauh lebih terkendali. [sh]

Hutang Luar Negeri: Warisan yang Tak Pernah Selesai

Hutang Luar negeri

Entah kenapa, setiap rezim kepemimpinan di negeri ini seolah punya satu kebiasaan yang tak pernah berubah: Menggantungkan pembangunan pada hutang luar negeri. 

Dari presiden ke presiden, dari era Orde Lama, Orde Baru, hingga era reformasi, hutang selalu jadi "solusi cepat" menuju kemajuan. 

Kenyataannya justru menciptakan lingkaran setan yang menyandera masa depan bangsa.

Lebih tragis, hutang lama belum tuntas dibayar, tapi hutang baru sudah ditandatangani. 

Ironisnya, sebagian besar rakyat bahkan tidak tahu uang itu kemana perginya. 

Proyek-proyek mercusuar dibanggakan, tapi manfaatnya hanya dinikmati segelintir elite, sementara beban cicilannya diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sebagai imbal balik, sumber daya alam—yang seharusnya jadi milik rakyat dan dijaga kedaulatannya—dijual murah ke pihak asing. 

Tambang-tambang dikeruk, hutan-hutan digunduli, dan laut dijarah. 

Investor asing diberi karpet merah, sedangkan rakyat lokal hanya jadi penonton dari tepi jurang kemiskinan. 

Lebih menyakitkan, pejabat yang mengurus semua ini justru hidup bergelimang harta, memamerkan kemewahan dari hasil "legalkan" eksploitasi negeri.

Hutang luar negeri pada akhirnya bukan lagi soal ekonomi, tapi soal kedaulatan. 

Ketika negara terlalu bergantung pada dana asing, maka keputusan strategis pun bisa digadaikan. 

Apakah ini pembangunan? Atau sebenarnya kita sedang menjual kedaulatan secara perlahan? [sh]

Technical Meeting Seksi Lomba Kesenian Kecamatan Pasongsongan Digelar di SDN Pasongsongan 1

Lomba 17 agustus hit ri ke80
Akhmad Jasimul Ahyak (tengah) bersama dua juri lomba. [Foto: sh]

SUMENEP — Technical meeting untuk seksi lomba kesenian dalam rangka peringatan HUT RI ke-80 digelar di SDN Pasongsongan 1, Kecamatan Pasongsongan. Rabu (30/7/2025). 

Kegiatan ini dihadiri para delegasi dari berbagai lembaga pendidikan, mulai dari tingkat TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA.

Akhmad Jasimul Ahyak, selaku ketua panitia seksi lomba kesenian, menyampaikan apresiasinya atas partisipasi aktif para peserta. 

"Tujuannya untuk menyelaraskan pandangan dari berbagai para delegasi lembaga pendidikan," tegas Jasimul dalam sambutannya.

Hut ri ke-80

Dalam lomba kesenian kali ini, kategori yang dilombakan meliputi pidato berbahasa Madura, baca puisi, mewarnai, melukis, kaligrafi, dan lagu solo. 

Panitia juga memastikan bahwa seluruh dewan juri berasal dari kalangan profesional yang memiliki kapasitas dan pengalaman di bidangnya masing-masing.

Acara technical meeting ini diharapkan menjadi langkah awal yang baik untuk pelaksanaan lomba yang jujur, adil, dan penuh semangat kebudayaan. [sh]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...