Kamis, 16 Maret 2023

Babinsa Inspiratif Peduli Pendidikan Hadir di SDN Panaongan 3

babinsa inspiratif peduli pendidikan, sdn panaongan 3 kecamatan pasongsongan kabupaten sumenep, koramil ambunten, koramil pasongsongan
Dari kiri: Serka Joyo, Agus Sugianto, dan Serka Adam. [Foto: Yant Kaiy]

SUMENEP – Adalah Serka Joyo (Babinsa Koramil 0827/10 Ambunten) dan Serka Adam (Batuud Koramil 0827/11 Pasongsongan) Kabupaten Sumenep hadir di SD Negeri Panaongan 3 Kecamatan Pasongsongan. Kedua personil TNI AD ini melakukan kegiatan belajar mangajar sebagai bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan. Kamis (16/3/2023).

Dalam kesempatan itu, Serka Joyo menyampaikan materi mata pelajaran Bahasa Inggris kepada para peserta didik.

“Bahasa Inggris saat ini sudah menjadi salah satu mata pelajaran di tingkat pendidikan SD kelas 1 dan kelas 4 pada Kurikulum Merdeka. Maka penting bagi kami memberikan materi pelajaran ini sebagai wujud sumbangsih terhadap para peserta didik,” ucap Serka Joyo sebelum masuk ruang kelas.

Ia menambahkan, kedepan dirinya akan lebih getol mendatangi sekolah-sekolah di wilayah Pasongsongan dan Ambunten.

Sedangkan Serka Adam dalam penyajian materi pembelajaran terhadap para murid lebih menekankan pada kedisiplinan. Ia berharap  para peserta didik untuk lebih tekun belajar.

“Tugas kalian harus terus belajar dan belajar tanpa kenal lelah. Berbakti penuh kepada kedua orang tua, juga kepada guru-guru kalian adalah modal dasar meraih sukses masa depan,” ujar Serka Adam.

Sementara itu, Agus Sugianto sebagai Kepala SDN Panaongan 3 menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran kedua personil TNI tersebut.

“Kedepan jalinan kerja sama cukup baik ini akan terus kami tingkatkan. Bahkan kami telah membicarakan program lanjutan kepada mereka berdua,” tegas Agus Sugianto. [kay]

Sabtu, 11 Maret 2023

Nasib Guru Honorer PAI di Sumenep tidak Terurus

Catatan: Yant Kaiy

Tidak adanya rekrutmen PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) bagi guru PAI (Pendidikan Agama Islam) di lingkungan Dinas Pendidikan Sumenep, menambah panjang penderitaan mereka. Karena harga dari profesi mulia mereka sebagai pendidik dibayar tidak lebih dari Rp 300.000,- per bulan. Rupanya pihak pemangku kebijakan masih belum terketuk hatinya untuk mengangkis mereka dari lembah ketidak-adilan.

Sekian lama guru PAI terjebak di lingkaran mimpi berkepanjangan. Impian para guru PAI ini untuk menjadi PPPK menyublim seiring tidak adanya jaminan kesejahteraan. Namun mereka tetap berkarya nyata walau kesejahteraan keluarganya jadi taruhan. Mereka tetap tersenyum mencurahkan keilmuannya terhadap murid-muridnya.

Animo itu terus bersemi karena ada janji Allah, bahwa siapa pun orang yang mendermakan ilmu agamanya, maka jaminannya kelak adalah surga. Barangkali inilah yang membuat mereka tidak bergolak dalam menyampaikan aspirasinya. Mereka tidak turun ke jalan memperjuangkan nasibnya kepada pemangku kebijakan Kabupaten Sumenep.

Perlu dicatat, mayoritas dari mereka sudah belasan tahun mengabdikan dirinya di lembaga pendidikan dasar (SD Negeri). Sementara guru non-PAI sudah berulangkali mendapatkan jatah PPPK. Bahkan banyak diantara murid dari guru PAI tersebut menyalipnya, jadi guru juga dengan status kesejahteraan lebih mapan.

Terciptalah sindrom nuansa tidak ‘nyaman’ di hati para guru PAI ketika mereka berada dalam satu naungan lembaga pendidikan. Gejala psikologi ini ternatal seiring tersisihnya mereka dengan kehadiran guru PPPK. Sebab rata-rata sekian lama guru PAI itu menjadi guru kelas.

Rupanya efek psikologi ini luput dari radar pemangku kebijakan Kabupaten Sumenep. Mereka seolah menutup mata, karena mungkin mereka tidak punya kepentingan politik kepada para guru PAI.

Tampaknya mereka salah tafsir, justru para guru PAI inilah yang bisa memberikan sumbangsih cukup besar jika aspirasi mereka mau didengarkan. Lantaran banyak guru PAI berbasis pondok pesantren. Dimana mereka masih punya ikatan batin dengan para pengasuh Lembaga Pendidikan Islam, tempat dimana ia menimba ilmu agama.[]

- Yant Kaiy, Pimred apoymadura.com

Cerpen Menikahi Janda Muda

Karya: Yant Kaiy

Ani adalah seorang gadis kampung. Sudah menjanda karena ditinggal mati oleh suaminya. Banyak laki-laki di desa mengincarnya. Hal itu membuat dirinya terganggu karena merasa tidak nyaman dengan hal itu.

Semakin ia menghindar, makin banyak pula perjaka mendekat. Tak terpikirkan sebelumnya jika bakal mendapat kenyataan tak mengenakkan itu. Walau dalam hukum Islam sudah dihalalkan bersuami lagi. Tapi bayang-bayang suaminya selalu menghampiri mimpinya.

Tidak mudah baginya melepaskan diri dari belenggu kenangan manis bersamanya. Lantaran usia perkawinan Ani masih belum genap delapan bulan, suami tercinta meninggal akibat kecelakaan naik sepeda motor.

Lewat pesan teks dan suara pada aplikasi bergambar telepon dalam lingkaran hijau, banyak nomor telepon baru masuk. Ada yang merayu, mengajak kenalan, bahkan ada yang terang-terangan melamarnya. Tapi tidak satupun yang ia balas.

Suatu ketika Ani dikejutkan kehadiran Debur ke rumahnya. Perjaka ini baru datang dari luar negeri, jadi Tenaga Kerja Indonesia.

“Kapan datang, Bur?” sambut Ani dengan senyum mengembang dan tak berlebihan.

“Kemarin. Apa aku mengganggumu, An?” balas Debur seraya memberikan oleh-oleh.

Ani mempersilakan Debur duduk. Mereka saling tanya kabar masing-masing. Keduanya memang teman masa SMA dulu. Suasana perbincangan mengalir tanpa tedeng aling-aling.

“Sengaja aku pulang karena aku ingin melamarmu, An. Walau aku tahu, aku bukanlah pria idamanmu. Tapi aku sangat ingin memiliki cintamu,” tembak Debur tegas.

Sontak Ani tercengang. Dadanya terasa mau meledak mendengar pernyataan cowok berkulit sawo matang tersebut.

“Aku tak butuh jawabanmu sekarang, An,” ucap Debur lepas. Tanpa sepotong keraguan.

Sikap Ani mulai berubah. Ia tak berani menatap wajah perjaka dihadapannya. Dadanya terus bergemuruh. Ani mengalihkan pandangannya ke halaman rumahnya.

Keduanya terkurung dalam diam. Hanya suara kendaraan yang lalu-lalang, melintas di samping rumahnya.

Kemudian Debur berpamitan. Ketika mereka berjabat tangan, Ani melontarkan kata-kata yang membuat jantung Debur serasa mau berhenti berdetak.

“Aku percaya kamu lelaki yang penuh tanggung jawab, Bur. Aku terima lamaranmu…”

Pasongsongan, Maret 2023


Jumat, 10 Maret 2023

Guru PAI Sumenep Bermimpi Panjang

Catatan: Yant Kaiy

Tidak adanya rekrutmen guru PAI (Pendidikan Agama Islam) di kabupaten ujung timur Pulau Garam Madura, khususnya di lingkungan Dinas Pendidikan Sumenep, menambah panjang mimpi mereka untuk jadi PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja). Hingga medio Maret 2023 masih belum ada sinyal, kapan kans itu menghampirinya.

Sekian lama para guru PAI menggantungkan nasibnya pada kebijakan Pemerintah Kabupaten Sumenep, agar mereka juga diberi kesempatan mencicipi mimpinya. Tidak adil rasanya kalau guru non-PAI saja yang diberi jatah.

Cukup lama guru PAI mengabdikan diri memajukan dunia pendidikan di tanah air, mencerdaskan peserta didik supaya memiliki akhlakul karimah dan berkepribadian mandiri. Para guru PAI tidak pernah bosan mencurahkan semua ilmuannya agar anak didiknya bisa mengarungi dunia penuh iman dan takwa terhadap Sang Pencipta.

Apalah artinya pintar kalau tidak beriman dan bertakwa kepada Tuhannya. Bisa jadi, kelak setelah dewasa ia akan menjadi manusia tidak bermanfaat bagi kedua orang tuanya, atau membuat celaka bagi umat lain di belahan muka bumi ini.

Penting sekali bagi Pemerintah Kabupaten dan Dewan Pendidikan Sumenep memperhatikan nasib buruk guru PAI di Sekolah Dasar. Karena keberadaan guru PAI di lapangan sangat minus, jauh panggang dari api. Mayoritas SD Negeri diisi oleh guru tenaga honorer.[]

- Yant Kaiy, Pimred apoymadura.com

Rabu, 08 Maret 2023

Makna Senoman dalam Tradisi Pesta Pernikahan di Pasongsongan

Catatan: Yant Kaiy

Makna luas dari kata senoman adalah sekelompok orang yang mendapat tugas mengerjakan dan membuat konsep atau cara agar suatu kegiatan terselesaikan dengan baik, sesuai apa yang diharapkan.

Kata senoman sama dengan panitia. Tapi istilah senoman hanya ada di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Kemungkinan daerah lain ada, akan tetapi implementasinya jelas berbeda.

Kata Senoman di Pasongsongan mengacu pada panitia khusus perayaan pesta pernikahan. Disini, orang yang jadi senoman memberikan sumbangan berupa uang kepada tuan rumah yang sedang melangsungkan pesta perkawinan. Biasanya seseorang yang jadi senoman adalah pasangan suami-istri.

Penyerahan uang sumbangan itu diberikan sehari sebelum pesta pernikahan dilaksanakan. Sedangkan tamu undangan penyerahan sumbangan dilakukan saat berlangsungnya pesta perkawinan.[]

- Yant Kaiy, Pimred apoymadura.com

KH Abdul Latif Nakhodai Samman Pasongsongan

zikir samman pasongsongan kabupaten sumenep merupakan seni budaya islami yang dibawa nyai agung masiya dari aceh pada abad 17 masehi
KH Abdul Latif (kiri) bersama KH Imam Arifin. [Foto: Yant Kaiy]

Catatan: Yant Kaiy

Bertempat di langgar Al-Juhri Dusun Morasen Desa/Kecamatan Pasongsongan Sumenep, perkumpulan Zikir Samman Pasongsongan melakukan perombakan susunan pengurusnya. KH Abdul Latif mendapat perolehan suara terbanyak untuk menempati posisi ketua perkumpulan seni budaya Islami tersebut. Senin malam (6/3/2023).

Sebelumnya, KH Abdul Latif bersama KH Imam Arifin jadi pembina perkumpulan Zikir Samman Pasongsongan. Berdasar pada catatan perjalanan perkumpulan, mereka berdua sukses memberikan sentuhan berarti dalam memajukan kesenian itu. Maka tak berlebihan kalau salah satu diantara mereka terpilih menjadi pimpinan.

Menurut keterangan KH Abdul Latif, Zikir Samman dibawa Nyai Agung Madiya dari Aceh pada abad XVII Masehi. Nyai Agung Madiya sendiri putri dari Syekh Ali Akbar Syamsul Arifin, tokoh penyebar agama Islam pertama di wilayah pantai utara Pulau Madura. Syekh Ali Akbar wafat 14 Jumadil Akhir 1000 Hijriah.

Kecil kemungkinan seni budaya Zikir Samman punah dari muka bumi Pasongsongan. Karena Zikir Samman sendiri adalah salah satu toriqoh, yakni sebuah jalan peribadatan Islam menuju Sang Khalik dengan lebih menekankan zikir hati dan lisan. Apalagi Zikir Samman memiliki daya tarik tersendiri dan semua orang bisa melakukannya.

Para tokoh masyarakat, utamanya para keturunan Syekh Ali Akbar, banyak yang menghendaki seni budaya Zikir Samman bisa terus dilestarikan. Mengingat hal itu erat kaitannya dengan sejarah yang melekat pada masyarakat yang mendiami tanah warisan Syekh Ali Akbar tersebut.[]

- Yant Kaiy, Pimred apoymadura.com

Sabtu, 04 Maret 2023

Pak Mahfud: Jangan Hina Pengadilan


Oleh: Sulaisi Abdurrazaq
(Ketua DPW APSI Jatim dan Direktur LKBH IAIN Madura)

Prinsip independensi hakim itu prinsip universal, berlaku di seluruh dunia.

Saya kecewa terhadap sikap Pak Mahfud MD, yang akhir-akhir ini mengomentari perkara belum inkrah terkait gugatan PMH Partai Prima melawan KPU di PN Jakpus. 

Kecewanya itu karena wajah Pak Mahfud kan sekaligus sebagai Menkopolhukam, ia pembantu Presiden, jadi di wajah Pak Mahfud itu ada wajah Presiden. Sebagai pembantu Presiden, komentarnya pasti mempengaruhi batin publik. Seolah-olah keadilan dan kebenaran tentang hukum itu hanya apa yang diucapkan Pak Mahfud. Kalau saya menjadi Pengacaranya Partai Prima, tentu saya tidak senang dengan sikap Pak Mahfud yang sekaligus Menkopolhukam. 

Pak Mahfud MD itu menunjukkan sikap tidak hormat terhadap putusan pengadilan. Inilah semestinya yang diatur negara ini, agar sikap-sikap seperti ini dapat dikualifikasi sebagai contempt of court atau penghinaan terhadap Pengadilan.

Kita tahu lah, Pak Mahfud ini guru kita bersama, teladan kita, seorang negarawan yang terampil dan pandai membaca arah angin dalam setiap momentum politik. Kita tidak dapat membaca kemana arah sikap Pak Mahfud MD itu, apakah berkaitan dengan politik jelang 2024 atau tidak.

Tetapi yang jelas, karena komentar Pak Mahfud memberi bobot pada Tergugat sehingga  integritas Pengadilan runtuh. Padahal tema Mahkamah Agung di tahun 2023 ini adalah "integritas tangguh, kepercayaan publik tumbuh". Tapi gara-gara Pembantu Presiden memberi sikap tidak hormat pada putusan perkara yang belum inkrah akhirnya kita semua ini seolah-olah harus menghakimi lembaga peradilan. Yang salah seolah-olah pengadilan, dalam hal ini Majelis Hakim Pemeriksa perkara. Ini kan gawat kalau begini. Powerful bener Pak Mahfud ini.

UU memberi kewenangan, tugas dan amanah pada pengadilan untuk memeriksa dan mengadili perkara. Yang tahu proses sidang ya hakim, Penggugat dan Tergugat. Tapi, gara2 Pak Mahfud komentar seolah-olah proses sidang yang panjang itu hanya teatrikal. Hakimnya tersudut, dihakimi publik pula. Kasian sekali hakim-hakim pemeriksa perkara itu.

Kalau publik atau elit-elit  peserta Pemilu seperti Pak Yusril, Pak SBY, aktifis-aktifis Prodem yang komen sih ga masalah.

Tapi, kalau Menkopolhukam, meski ia akan bilang bertindak sebagai dirinya sendiri dan bukan jabatannya, bagi saya, sikap itu sama saja meruntuhkan integritas dan wibawa lembaga peradilan. Kita diminta untuk tidak mempercayai lembaga peradilan. Ini sangat berbahaya kalau tidak kita kritisi.

Apa yang dikatakan Pak Mahfud itu bukan kebenaran tunggal. Gara-gara beliau penguasa aja sehingga memberi bobot pada KPU. Tapi itu kan tidak fair, bukan sikap negarawan yang bijak. Itu sikap reaktif. Bagi saya, itu sikap yang tidak patut untuk kita contoh. 

Celaka jadinya jika kebenaran dan keadilan bergantung pada komentarnya Menkopolhukam. Kl gayanya begitu, saya ingin Pak Mahfud komentari kasus-kasus yang saya tangani, supaya saya bisa menang terus dalam menangani perkara.

Akibat lainnya, publik menjadi beralih perhatian dari mengkritik kelalaian KPU sebagai penyelenggara Pemilu, menjadi menghakimi Partai Prima, seolah-olah Partai Prima tidak punah hak untuk menguji integritas KPU. 

Publik beralih menghakimi pengadilan, menghakimi Majelis Hakim Pemeriksa perkara dan merendahkan putusan. Tak lagi fokus meluruskan kelalaian KPU. 

Kalau KPU kalah, yang jelas ada yang tidak beres dari kinerjanya.[]

Zikir Samman Pasongsongan dan KH Imam Arifin

Zikir Samman Khas Pasongsongan yang Tetap Lestari
KH Imam Arifin, keturunan Syekh Ali Akbar Syamsul Arifin. [Foto: Yant Kaiy]

Catatan: Yant Kaiy

Kesenian Zikir Samman masuk ke Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Madura pada abad XVll Masehi. Kesenian Islami ini dibawa Nyai Agung Madiya, putri Syekh Ali Akbar Syamsul Arifin. Kala itu Nyai Agung Madiya mendapat tugas dari Kerajaan Sumenep membantu Kerajaan Aceh mengusir penjajah Belanda. Kedua pemerintahan kerajaan itu sama-sama bernafas Islam.

Siapa Syekh Ali Akbar? Beliau adalah sosok penyebar agama Islam pertama wilayah pantai utara Pulau Madura. Ia merupakan paman Bindara Saod, Raja Sumenep. Beliau wafat 14 Jumadil Akhir 1000 Hijriah.

Tiap tahun pada perayaan haul Syekh Ali Akbar selalu ada pagelaran Zikir Samman di lokasi pekuburannya. Ini sebagai bentuk sikap penghargaan warga masyarakat Pasongsongan terhadap beliau. Karena Syekh Ali Akbar mempunyai jasa besar membangun peradaban Islami di sisi utara Pulau Madura.

Maka dipandang perlu bagi para keturunan Syekh Ali Akbar untuk tetap melestarikan kesenian Zikir Samman ini. Salah seorang yang gigih tetap mempertahankan kesenian tersebut ada di bumi Pasongsongan ialah KH Imam Arifin.

Ada dua komunitas Zikir Samman di daerah Pasongsongan. Keduanya dibina KH Imam Arifin. Dan keduanya berbentuk perkumpulan. Pelaksanaan Zikir Samman ada yang bergilir dari rumah ke rumah jamaahnya.

Sesungguhnya Zikir Samman merupakan salah satu toriqoh. Suatu bentuk peribadatan khusus menuju Sang Khalik. Biasanya orang-orang yang masuk ke aliran ini mempunyai kadar keimanan amat kuat.[]

- Yant Kaiy, Pimred apoymadura.com

Jumat, 03 Maret 2023

Macopat Gantiran Karya Taruna Pasongsongan

Catatan: Yant Kaiy

Kolaborasi antara seni budaya Macopat Madura dengan tabuhan klenengan melahirkan nuansa seni estetik. Menarik untuk dinikmati. Serasa kita dibawa ke suasana tempo dulu. Diakui, belakangan ini sudah agak jarang kita mendengarkan seni tradisional seperti Macopat. Apalagi gempuran seni budaya kontemporer tidak bisa terelakkan di era digital saat ini.

Perpaduan dua kesenian tersebut oleh masyarakat Sumenep disebut dengan istilah Macopat Gantiran. Yang saya ketahui, di Kecamatan Pasongsongan hanya ada dua komunitas Macopat Gantiran.

Ahad pagi, 25/2/2023, saya mendapat undangan pimpinan Perkumpulan Macopat Gantiran Karya Taruna Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Pagelaran Macopat Gantiran bertempat dikediaman salah seorang warga di Desa Padangdangan Kecamatan Pasongsongan.

Saya percaya bahwa kolaborasi Macopat dan irama gamelan ini nantinya bisa jadi proteksi bagi kepunahan seni budaya warisan nenek moyang.

Memang tidak mudah membangun komunitas Macopat Gantiran ini. Karena kita tahu, pementasan kesenian ini melibatkan banyak personil. Tidak sedikit anggaran dikeluarkan untuk sekali pentas. Maka dipandang perlu bagi pihak-pihak yang berkompeten untuk mensupportnya agar kesenian ini tidak punah dilibas zaman.

Semoga kedepan akan ada kaum muda peduli terhadap Macopat Gantiran ini dan bisa melestarikannya.

- Yant Kaiy, Pimred apoymadura.com

Rabu, 01 Maret 2023

Mewarnai Pasongsongan dengan Karya Tulis


Catatan: Yant Kaiy

Saya lahir 51 tahun lalu di daerah yang warga masyarakatnya agamis, Dusun Pakotan Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Bangga dilahirkan di bumi warisan Syekh Ali Akbar Syamul Arifin. Karena di daerah ini menjadi tempat penyebaran Islam pertama di wilayah pantai utara Pulau Garam Madura, sekitar abad XIV Masehi.

Mulai menulis sejak duduk di bangku SMPN I Pasongsongan. Ada beberapa karya tulis saya dimuat di Majalah Kuncup Surabaya, edisi 1987

Setelah lulus SMAN Ambunten Sumenep, saya mulai fokus menulis di berbagai media massa cetak dan penerbit buku. Sempat vakum menulis 2001 sampai 2010 karena konflik fitnah santet yang dihembuskan tetangga sendiri. Sehingga kami sekeluarga harus hengkang dari tanah kelahiran.

Kami memulai hidup baru di wilayah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kami tertatih-tatih menapaki kenyataan pahit itu. Ditambah keberadaan keuangan serba kekurangan, karena hidup hanya dari hasil menjahit baju.

Selama 9 tahun kami menempati rumah orang gratis, jauh dari kata layak, tapi kami menikmatinya sepenuh hati.

Allah kemudian mengembalikan saya ke pelukan bumi Pasongsongan pada 2008, karena saya mendapat istri di Dusun Sempong Barat Desa Pasongsongan. Dua tahun kemudian saya aktif lagi menulis. Tapi bukan memakai mesin ketik manual lagi, melainkan menggunakan note-book.

Akhir-akhir ini banyak orang bertanya pada saya, berapa pendapatan dari kerja menulis. Saya jawab tidak ada. Karena saya ingin mewarnai Pasongsongan dengan karya tulis. Mungkin ini akan menjadi sumbangsih sebagai panggilan jiwa.

Lalu ada kalimat ironi mengalun ke telinga saya: “Untuk apa menulis kalau tidak menghasilkan uang, mending tidur…”

Saya pikir benar juga. Tapi Allah Maha Adil, ada juga beberapa tokoh merasa iba (mungkin) pada saya. Mereka memberikan uang untuk beli rokok atau pulsa. Tapi sikap saya tetap tegar, tak mau mengiba di depan mereka.[]

- Yant Kaiy, Pimred apoymadura.com

Cerpen PENANTIAN TAK BERUJUNG


Oleh: Yant Kaiy

Ketar-ketir menanti keputusan juragan tempatnya bekerja, Debur mulai merenda jurus supaya tidak tenggelam di lembah kecewa. Ia tidak ingin asanya hangus oleh kegagalan demi kegagalan yang terus menghias hidupnya. Baginya, bulan ini merupakan catatan kelam, mungkin sukar terlupakan.

“Masih belum ada keputusan, Bur?” tanya Santi dari arah belakang, mengagetkan Debur.

“Belum,nih,” jawab Debur sekenanya.

Lewat aplikasi sosial media, Debur kembali berselancar di dunia maya. Tak menghiraukan Santi yang sedang sarapan pagi. Santi sesungguhnya punya perhatian sama Debur, tapi cowok berkulit kuning langsat itu belum pernah berpikir kesana.

“Udah, kerja di tempatku saja. Lagi pula kita bisa naik sepeda motor bersama,” tukas Santi tanpa mempedulikan perubahan sikap Debur. “Aku yakin kau bisa diterima kerja.”

Sepekan kemudian Debur mulai bekerja di tempat Santi. Seiring waktu bergulir, Debur mulai jatuh cinta pada sosok dara teman kerjanya, Luna. Santi mulai mencium sesuatu, perhatian Debur terhadap Luna, keduanya tampak mesra.

Sementara penantian Santi tak segera membuahkan hasil. Debur masih belum juga menembaknya dengan kalimat cinta. Padahal keduanya sering jalan bersama.

Ketika habis pulang kerja, Debur dan Luna mampir di taman kota sambil makan malam. Ketika hendak pulang, tiba-tiba hujan turun. Mereka berteduh di emperan toko.

“Tadi Luna bercerita tentang kita, San,” ucap Debur mengagetkan perhatian Santi.

“Oya?” sela gadis bertubuh sintal sembari mengalihkan pandangannya ke wajah Debur. Ia sangat penasaran.

“Luna menanyakan tentang hubungan kita. Aku katakan, bahwa kau dan aku hanya sebatas teman…”

“Kau menyukai Luna, Bur?” potong Santi bernada kecewa karena cintanya berlabuh di dermaga hati lain.

“Aku bingung,” selanya dengan tatapan mata ke jalan raya yang mulai sepi kendaraan.

“Apanya yang membuatmu bingung, Bur?”

Debur memegang tangan Santi. Kedua mata makhluk berlainan jenis itu saling menatap.

“Aku masih memikirkanmu. Aku tak mau melukaimu, San. Apalagi aku…”

Belum selesai kalimat Debur, Santi langsung memeluk cowok di sampingnya. Hujan terus membasahi bumi. Keduanya hanyut irama kasmaran, hangat menjalari sekujur raga.[]

Pasongsongan, awal Maret 2023

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...