Rabu, 22 September 2021

Terjaga



Pentigraf: Yant Kaiy

Kebencian itu menumpuk sekian lama. Aku tak bisa mengalihkannya. Sukar untuk berpaling. Setiap mendengar suaranya atau melihat kelebat sosoknya, hati rasanya seperti terbakar. Tentu ini merugikan diri sendiri. Ini tak boleh berlarut-larut. Bisa jadi kelak aku mati berdiri karenanya.

 

Setahun lalu istriku cekcok dengannya. Dia yang memulai lebih dulu membuat cerita busuk tentang kami kepada para tetangga. Istriku membela diri, terjadilah perang mulut.

 

Sejak saat itulah, dia terus mengompori kami lewat sikap dan kata-kata secara tidak langsung.[]

 

Pasongsongan, 23/9/2021



Antologi Puisi “Kemarau Hati” (5)



Puisi: Yant Kaiy

Haruskah Kutinggalkan

ibarat akar sudah menjalar ke perut bumi

sahabatku banyak tak rela jika kubenar pulang kampung

hanya sejenak mengembara, menimba pengalaman

bukan ketaksesuaian kota ini, atau

gaji kerjaku sedikit

jalinan batin antara keluargaku

begitu kuat memaksa raga pulang segera

tak kuasa menolaknya, ketimbang kami tersiksa

 

kutinggalkan persepsi: di kota banyak peluang

biarlah kukembali lagi pada dunia semula

tak mungkin ada lagi kata indah berbau surga

 

sastra bagiku ibarat nyawa sendiri

membalut kuat hingga tulang sumsum

walau berulangkali kudapat tamparan cemooh

tak pernah bergeser kiblat jiwa ini

entah…

mungkin matiku akan tidur disini.

          Pasongsongan, 14/9/2021



Terbuka



Pentigraf: Yant Kaiy

Aku tak bisa lagi menyembunyikan perasaan suka padanya. Tapi seolah tak ada kesempatan menjumpainya. Dia terlihat sibuk di warung satenya, tempat berjualan di pinggir jalan di kota kecil kami. Jalan satu-satunya aku sering makan di situ.

 

Pemuda sederhana itu telah menyita banyak waktuku. Meski antara aku dan dia jauh berbeda. Aku dari keluarga jetset. Jelas kedua orang tuaku takkan merestui pernikahan kami nanti, seandainya jodohku dengannya. Acapkali khayal itu kubuang jauh, namun bayang wajah teduhnya menggoda batin ini.

 

Sebagai orang terpelajar, kucoba terus bertahan. Tapi tetap saja aku mau mati rasanya jika sehari tak melihat.[]

 

Pasongsongan, 22/9/2021



Selasa, 21 September 2021

Menjanda



Pentigraf: Yant Kaiy

Tak ada niat sejumput pun menjatuhkan wibawanya. Tiada arti lagi mendongkrak diri demi popularitas. Biarlah mengalir, membanjir seiring usia. Tak terbiasa bersaing menebas kemenangan orang lain. Bukan sok suci. Apalah artinya kemenangan kalau orang lain terkhianati.

 

Jiwa Tonah yang suka mengalah tersebut akhirnya lebur. Kala suaminya menikah lagi. Tonah berontak. Ia hengkang dari rumah tanpa pamit.

 

Kedua anaknya ikut bersamanya. Impian hidup hingga ajal kandas sudah. Tantangan baru menjanda menanti di hadapannya.[]

 

Pasongsongan, 21/9/2021



Senin, 20 September 2021

Hari Santri Nasional 2021 di Pasongsongan

Kades Pasongsongan (kiri) bersama Akhmad Jasimul Ahyak. (Foto: Yant Kaiy)


Sumenep – Ketua Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia) MWC NU Pasongsongan-Sumenep, Akhmad Jasimul Ahyak tadi malam bertandang ke rumah Kades Pasongsongan Ahmad Saleh Harianto. Senin (20/9/2021).

 

“Pak Ian (panggilan akrab Kades Pasongsongan) memberikan ruang kepada rekan-rekan Lesbumi Pasongsongan dalam memeriahkan Hari Santri Nasional (HSN) tahun ini,” ucap Jasimul kepada apoymadura.com.

 

Sesuai rencana, pada HSN pagelaran seni-budaya tidak hanya diadakan di Desa Pasongsongan saja. Tapi beberapa desa di wilayah Kecamatan Pasongsongan juga akan mengadakan kegiatan tahunan tersebut.

 

“Kami menyambut baik niat Ketua Lesbumi. Aula di Kantor Desa Pasongsongan akan menjadi salah satu tempat kegiatan HSN. Yakni pertemuan budayawan dan pementasan seni Macapat Madura,” terang Kades Pasongsongan. (Yant Kaiy)



Derita Guru Honorer Sumenep



Catatan: Yant Kaiy

Bersabar merupakan kata kunci mengobati kecewa. Walau terasa sesak di dada. Lebih-lebih bagi guru honorer alumnus sarjana pendidikan agama Islam. Dimana mereka termarjinalkan lantaran tidak mendapat jatah berkompetisi di ajang tes PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja).

 

Angin segar rekrutmen juga mengandaskan impian manis guru honorer yang telah ikut tes PPPK tahap I. Diantara mereka banyak gagal mencapai passing grade: Sebuah ketetapan tak ada nilai tawar.

 

Di Kota Keris Sumenep passing grade PPPK guru itu  sebanyak 320 divisi teknis. Menurut para guru honorer, hal itu tidak masuk akal dan sulit untuk dijangkau. Sejatinya masa dedikasi terlama sebagai guru honorer jadi skala prioritas. Itu baru adil.

 

Penyelenggaraan tes PPPK 2021 kali ini boleh dibilang telah mengesampingkan nilai-nilai kultur sosial. Menumbangkan amanat penderitaan guru honorer. Tidak mengakomodir aspirasi kesejahteraan hidupnya. Dimana mereka sudah berjuang dan berkorban mencerdaskan kehidupan putra-putri generasi bangsa ini.

 

Bravo bagi guru honorer. Tetap semangat kendati usia kian senja. Yakinlah, takkan sia-sia semua amal kebajikan itu.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Antologi Puisi “Kemarau Hati” (4)



Puisi: Yant Kaiy

Bocah Malang

termenung dalam kesendirian pagi

asap knalpot menempel erat di pundaknya

ada sisa nista diantara bocah terlantar di jalan

ia ternatal ke alam fana dari seorang ibu

menangis di trotoar tanpa harapan

pakaian lusuh bermandi keringat derita

merayap menembus kesibukan kota

ini salah siapa?

 

pemandangan ganjil saban hari

tersaji  lewat kidung luka

meski tak terdengar, tapi terasa

 

lalu ada oknum memanfaatkannya

memalsukan wajah iba

mengeruk keuntungan darinya

sungguh biadab…

hingga orang lain tak percaya

ini nyata atau sekadar sandiwara

semua jadi abu-abu

 

akhirnya,

yang nyata tidak kecipratan

kalah oleh persekongkolan

kian jauh saja iba terengkuh

meski ada di depan mata.

          Pasongsongan,12/9/2021



Minggu, 19 September 2021

Gegara Masker



Pentigraf: Yant Kaiy

Aku memarahi ala kadarnya. Sudah mencarinya dibawah terik matahari menyengat. Orang berjubel keluar dari lokasi pesta pernikahan menuju tempat parkir. Debu berterbangan. Angin berhembus agak kencang. Sesekali suara sound system menelan suara gaduh.

 

Wanita di depanku bersikap masa bodoh. Marahku mulai naik. Ucapanku tak digubrisnya. Justru pandangannya sibuk kesana-kemari.

 

Ketika tanganku hendak meraih pundaknya. Tiba-tiba ada suara membentak di belakangku. Aku menoleh. Eit, ternyata dia istriku. Bukan wanita bermasker di depanku. Berabe jadinya. Beruntung tidak ada suaminya.[]

 

Pasongsongan, 20/9/2021



Buat Sang Politikus



Catatan: Yant Kaiy

Arah politik dari siapa pun pasti bisa dibaca oleh sesama. Tidak terkecuali gerakan kebijakan politik pemerintah selama pandemi Covid-19 saat ini. Sebab manusia diciptakan Tuhan memiliki power akal.

 

Bagi seorang politikus tentu segudang argumen berbuih telah dicadangkan sebagai penangkal jika dirinya terjebak di lumpur dosa. Siapa pun sah-sah saja berkilah sebagai jurus pembungkus aibnya kelak apabila semua menjadi terang benderang. Nurani tidak bisa dibohongi. Titik.

 

Kita masih ingat pepatah lama: Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga pada masanya.

 

Protokol Kesehatan (Prokes), vaksinasi Covid-19 dan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) merupakan produk kebijakan pemerintah saat ini. Mungkinkah ada udang dibalik batu dari semua kebijakan tersebut? Wallahu a’lam bishawab.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Waswas



Pentigraf: Yant Kaiy

Selalu waswas menyerbuku tiap ada impian datang. Jiwa jadi gelisah berlebihan, takut berkepanjangan sebelum masanya. Aku terkulai pasrah. Trauma itu mengikuti tiap detak jantung, menyatu tanpa mau kompromi.

 

Hingga punya anak dua, aku tak bisa berpijak pada hasrat diri. Meski banyak sahabat bilang kalau aku sudah dewasa. Namun nyatanya, siksa itu tak gampang ditebang oleh motivasi.

 

Kendati hidup menuju kematian, tak sudi diri ini kalah oleh siksa dunia. Saat ternatal keping kesadaran seperti itu, esoknya berubah tanpa bisa terkendali. Bagai embun pagi, mudah lenyap ditelan mentari.[]

 

Pasongsongan, 17/9/2021



Noktah Rindu



Pentigraf: Yant Kaiy

Dia dan aku sudah berambut dua. Kami sama-sama telah memiliki anak. Suamiku berkantong tebal lantaran bekerja disalah sebuah bank swasta. Semua kebutuhan hidup terpenuhi. Anak-anak kami tumbuh sejahtera seiring waktu. Namun cinta tak kenal usia. Benih-benih asmara tiba-tiba bergema diantara kemesraan terjalin indah.

 

Saat suamiku tugas diluar kota, bayang-bayang dia menghampiri malam kesepianku. Hasrat liar itu mengoyak perih. Tak terkendali.

 

Aku memintanya untuk datang. Dia tidak menolak. Rupanya rindu tidak bertepuk sebelah tangan. Dia memegang tanganku di sudut ruang tertutup. Mata kami bersirobok. Tak ada kalimat puitis mengiringi pelukan, hangat.[]

 

Pasongsongan, 19/9/2021



# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...