Rabu, 08 September 2021

Antologi Puisi “Kemarau Hati” (2)



Puisi: Yant Kaiy

Kampung Kemarau

terik menyengat tanah kelahiran

udara garing berhembus bawa debu

rumput liar terbakar api iri sesama

tersudut impian hijau kampungku

bergeming menyongsong hari tak bermega

sejumput hikmah teronggok di altar jiwa

 

kidung Sandur mengalun lirih

mengembara terbawa angin

merenda impian musim tak menentu

memilih bangkit ketimbang sakit

mencari setetes air di sumur kering

di sela-sela batu kapur

kambing pun dahaga di sana

meratap parau memanggil

nafasnya kembang-kempis

ini salah siapa, tentu ulah manusia

rakus, tak becus menjaga alam

 

hewan penjaga keseimbangan musim

senantiasa mengutuk kita

murka Tuhan memang tidak seketika

belum cukupkah bencana melanda

pelajaran buat manusia

 

di tengah dahaga menerkam tidur

kerontang segala lamunan

tembang Macapat menggauli langit

berharap hujan segera tercurah

diantara madah merayap

menyempurnakan nuansa hati

menyatu kembali ke mayapada

 

teringat kesombongan diri sekian lama

sikap paling berkuasa di muka bumi

melupakan baris firman-Nya

terlupa puji-syukur di atas keserakahan

mengaji diri penuh bijaksana

bahwa anak-cucu penerus cerita.

Pasongsongan, 7/9/2021



Sabtu, 04 September 2021

Dalil Ziarah Kubur

Ziarah kubur. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Ziarah kubur menjadi salah satu bagian sangat penting dalam budaya Islam disebagian besar penduduk Indonesia. Hal ini seolah tidak terpisahkan dengan tradisi masyarakat setempat yang menjunjung nilai-nilai kultur sosial mengagungkan.

 

Berikut dalil yang memperkuat ziarah kubur itu dianjurkan bagi kaum muslim untuk senantiasa mengingat kematian.

 

Hadist dari Buraidah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: Saya pernah melarang berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad telah diberi ijin ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah, karena hal itu dapat mengingatkan kamu kepada akhirat.

 

Ibnu Hajar Al-Haytami dalam kitab Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubra menulis begini:

 

Beliau ditanya tentang berziarah ke makam para wali pada waktu tertentu dengan melakukan perjalanan khusus ke makam mereka. Beliau menjawab: Berziarah ke makam para wali adalah ibadah yang disunahkan. Demikian pula perjalanan ke makam mereka.

 

Demikian dalil-dalil yang memperkuat kalau ziarah kubur itu sangat dianjurkan.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Jumat, 03 September 2021

Tembang Kemarau



Puisi: Yant Kaiy

Arah jitu kemarau semakin tidak menentu. Sesekali tercurah hujan diantara elegi kemarau. Menjerit petani tembakau dan garam. Acapkali tanpa sadar kufur pun ternatal pada hati mereka yang kerontang embun iman. Tangis, tawa… Sudah biasa menjadi milik makhluk bernyawa. Mereka terbius gemerlap dunia, lupa akan ayat-ayat Tuhan tentang syukur.

 

Pada panas menyengat terhampar impian hujan segera datang. Kerinduan itu seolah mengalahkan uang dan jabatan. Dari sudut-sudut tempat ibadah bergema lantunan doa, barharap khusyuk tetapi melupakan sejati insyaf penyembuh angkara murka. Tidak cukupkah dosa-dosa kita dalam memperkosa alam ini? Sehingga keseimbangan musim tersamarkan bahwa bencana bukanlah ulah manusia semata. Lalu siapa?

 

Ketika tetes air terakhir habis. Sumur, sungai dan laut mengering. Tatkala tumbuh-tumbuhan tak lagi hidup. Akankah uang dan jabatan menolongnya?

 

Pasongsongan, 3/9/2021




Selasa, 31 Agustus 2021

Besan



Pentigraf: Yant Kaiy

Aku menghormatinya lantaran usia dia lebih tua. Meski secara keilmuan, etika, cara bicara jauh dari anakku. Menjaga jarak bagiku solusi terbaik agar jalinan persahabatan tetap harmonis. Apalagi kami masih saling membutuhkan satu sama lain. Mungkin juga… Tidak! Jauh dari jangkauan kalau kami nanti menjadi besan.

 

Sejarah kelam bersamanya cukup menyakitkan. Bagaimana dia meninggalkan aku pada kehampaan. Janji-janji manisnya behamburan. Menentramkan jiwa penuh harapan. Kala itu kami masih belum lulus SMA. Tapi aku tak dendam padanya. Justru aku bersyukur mendapat suami lebih baik darinya.

 

Diusiaku menginjak 54 tahun, suami tercinta menghembuskan nafas terakhir. Belum satu tahun kepergian suamiku, dia datang berbelasungkawa. Secara kebetulan anak kami kerja satu perusahaan. Duka mendalam belum pupus, dia hadir. Senyum pun terhampar diantara perih menyayat.[]

 

Pasongsongan, 31/8/2021



Senin, 30 Agustus 2021

Respon Para Tokoh Muda Terkait Manuver Ketua NU Pasongsongan

K Sunni (kiri) dan Agus Sugianto. (Foto: Yant Kaiy)


Sumenep Ketua Ranting NU Pasongsongan II, K Sunni mengatakan, ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan MWC NU Pasongsongan saat ini. Salah satu garapan terbesar ialah penguatan ranting sebagai amanah konferensi.

 

“Karena itulah, membiarkan pengurus harian dan lembaga bahkan banom berjalan tanpa satu visi-misi sama, tentu hal itu idem dengan membiarkan NU di Pasongsongan hancur secara perlahan-lahan. Karena itu, saya sangat mendukung penonaktifan salah satu pengurus; baik yang di harian, lembaga atau bahkan banom yang bergerak ke arah berlainan,” ungkapnya kepada apoymadura.com saat ditemui di kediamannya, Dusun Morasen. Senin (30/08/2021).

 

Penegasan K Suni tersebut merupakan respon atas pernyataan viral Ketua MWC NU Pasongsongan, K Ahmad Riyadi, saat menyambut Konferensi Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Pasongsongan yang digelar Ahad (29/08/21).

 

Sebagaimana dikutip dari bintangsembilannew.com, pria yang akrab disapa Kiai Riyadi dalam salah satu pernyataannya dijelaskan, bahwa NU akan “mengistirahatkan” salah satu pengurus, baik itu dari harian, lembaga, atau bahkan banom yang tidak satu visi dengan NU.

 

Pernyataan mantan aktivis PMII itu juga mendapat respon positif dari Sekretaris Lembaga Takmir Masjid (LTM NU)  Pasongsongan, Ahmad Kusyairi. Alumni Pondok Pesantren Lirboyo itu menekankan agar semua pengurus NU dan Banomnya harus berkonsentrasi pada penguatan ranting. 

 

“Penguatan ranting bukanlah garapan sepele. Butuh kerja keras dan keseriusan dengan melibatkan semua unsur kekuatan NU yang ada di Pasongsongan, baik itu kekuatan struktural ataupun kultural. Di kultral ada kiai langgar dan pesantren. Di struktural ada banom. Misalnya GP Ansor, Fatayat, dan lain-Lain. Karena penguatan ranting ini merupakan amanah konferensi, maka semuanya harus bergerak dalam satu gerakan yang sama, yakni gerakan yang berorientasi pada penguatan ranting,” paparnya.

 

Hal senada juga diungkapkan Ketua Lakpesdam MWCNU Pasongsongan, Agus Sugianto. Bahkan dengan tegas dirinya berkata, bahwa duri dalam kepengurusan NU saat ini yaitu pengurus yang mengambil arah berlawanan dari visi NU.  

“Untuk itu, menon-aktifkan pengurus NU yang berseberangan dengan visi-misi NU adalah langkah yang sangat tepat,” tegasnya. (Yant Kaiy/RF)



Sihir Rindu



Pentigraf: Yant Kaiy

Dulu aku tergila-gila padanya. Kerinduan tiap malam menikam jantung. Aku tak bisa berontak. Tersungkur pada siksa batin saban malam. Nuansa animo belajarku terus memburuk. Terkurung diantara norma agama dan sosial budaya.

 

Nafsu makan tak ada. Tidur pun tak nyenyak. Berat badanku berkurang. Aura wajahku pucat. Ini cintaku yang bertepuk sebelah tangan atau sihirnya? Bagiku dia lelaki seperti kebanyakan. Tak ada nilai lebih setelah ditelisik. Heran. Aku pun tak terlalu dekat padanya. Sekadar kenal. Maklum satu desa.

 

Via sosial media aku chatting. Dia lama tak membalasnya. Menggunung penasaranku. Sepekan berlalu, kudengar dia masuk rumah sakit akibat kecelakaan. Ketika mengendarai sepeda motor, dia ditabrak dari belakang. Dia menghembuskan nafas terakhirnya kala rinduku tak terbalas.[]

 

Pasongsongan, 30/8/2021



Melongok Sakralitas Adat dan Cantiknya Kampung Badui Dalam



Catatan: Herry Santoso

Kami pernah ke "sarang" Badui tahun 2014.  Tujuan kami mencari ramuan tradisional yang (konon) sangat manjur untuk kanker payudara. Ya, istri saya (waktu itu) mengidap penyakit mematikan dan amat ditakuti kaum hawa itu. Atas informasi seorang keponakan yang kerja PT Krakatau Stell Cilegon, akhirnya dengan segala cara kami meluncur ke Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, 12 Februari 2014.

Senja belum begitu menua ketika kami sampai di Kota Rangkasbitung (ibu kota Kabupaten Lebak, Provinsi Banten). Kota mungil yang cantik. Di bawah siraman hujan Februari, taman bunga di depan 'Rahaya Hotel' itu tampak kuyup. Sungguhpun cuma level 'bintang 3' hotel itu cukup repersentatif. Kamar eksekutif nomor 214 di lantai dua yang kami tempati menginap cukup mewakili manajemen hotel yang sehat.

Suhu udara 28 derajad celsius di luar sana cukup hangat dan ramah seramah layanan di hotel itu. Aku segera rebah. Siraman air hangat di kamar mandi pelan namun pasti mengenyahkan rasa penat sekaluligus menghadirkan  kantuk setelah perjalanan nyaris sehari semalam dari kota Blitar dengan bus. Belum terpikirkan, apa yang akan terjadi esok saat mencari lokasi Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten tempat Suku 'Badui Dalam' bermukim.

 

Kultur Badui Diakui Unesco

BUS 'Geulis Trans' keluar terminal Rangkas sekitar pukul 9 pagi. Menembus kesibukan yang mulai menggeliat. Jalan mulus beraspal hotmix mengarah luruske selatan. Di sepanjang perjalanan tampak hamparan sawah yang mulai menguning  diselingi perkampungan penduduk yang tampak tenang dan damai. Bus medium bermesin Hino itu berhenti di beberapa kota kecil, dan sesampainya di Kecamatan Bedengpasirkopo penumpang sudah penuh, bahkan di antaranya berdiri. Kini jalanan mulai menanjak dan berkelok-kelok. Suasana Badui mulai terasa. Di sepanjang jalan yang kami lalui, banyak orang berjalan kaki dengan tertib laiknya orang berbaris di sisi kanan kiri jalan.

"Kita memasuki kawasan Badui Luar, Boss !" ujar kondektur bus di sela-sela menarik ongkos ke penumpang. Jauh di selatan sana tampak deretan Gunung Belebeg, Gunung Mangurang, dan Gunung Bongkok. Barangkali di balik gemunung itulah perkampungan Badui berada.

Jalanan berkelok-kelok dan naik turun dan melalui banyak jembatan. Tampak di bawah jembatan itu mengalir air sungai yang jernih. Suasana alam begitu sejuk di bawah suhu 21 derajad celsius. Bus merangkak di sela-sela lembah meninggalkan raungan. Di sebelah saya ada sepasang bule yang tengah berbicang dengan bahasa Inggris logat Amerika. Ia menyebut kata Badui, dan Kanekes berkali-kali. Setelah sekitar dua jam perjalanan kami sampai di Terminal Sareweh.

" Ini terminal terakhir, Bapak-Ibu, " kata sang kondektur memberi tahu.

Ya, Desa Kenekes di pedalaman kawasan sekatan Rangkasbitung ini memang "go internasional" lantaran tradisi, adat, dan budaya etnik Badui yang mengagungkan lingkungan hidup dan sejak dahulu kala "back to natural". Bagi orang Badui, habitat alam dan ekosistem adalah  bernyawa. Ia sekaligus punya "ruh" seperti makhluk hidup lainnya. Untuk itu kita harus bijak dalam menggunakan dan mengeksploitasi lingkungan hidup untuk kehidupan sehari-hari. Betapa menakjubkan, jika kedapatan seseorang menebang pohon tanpa izin tetua adat maka ia harus diberi sanksi adat yang setimpal, misalnya ketahuan nenebang pohon besar harus menggantinya 100 bibit tumbuhan baru yang sejenis dan ditanam. Semua itu demi keseimbangan ekosistem daerah Badui.

Suku Badui adalah sisa-sisa etnik 'Sunda Kawitan' yang terkenal itu. Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes, mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.

Wajar jika dalam ilmu pengobatan tradisional Suku Badui sangat ampuh. Pendapat mengenai asal usul orang Kanekes (Badui Dalam) sendiri cukup unik. Pendapat para ahli sejarah,  masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umun menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Kanekes sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.

Van Tricht, seorang dokter yang pernah melakukan riset kesehatan pada tahun 1928, menyangkal teori tersebut. Menurut dia, orang Kanekes adalah penduduk asli daerah tersebut yang mempunyai daya tolak kuat terhadap pengaruh luar (Garna, 1993b: 146). Orang Kanekes sendiri pun menolak jika dikatakan bahwa mereka berasal dari orang-orang pelarian dari Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda. Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Badui merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala' (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang), bukan agama Hindu atau Budha. Kebuyutan di daerah ini dikenal dengan kabuyutan Jati Sunda atau 'Sunda Asli' atau Sunda Wiwitan (wiwitan=asli, asal, pokok, jati). Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama Sunda Wiwitan.

Bukan cuma dalam menjaga lkosistem sekaligus dalam laku hidup sehari-hari dikendalikan oleh aturan adat dan keampuhan "japa nantra" warisan leluhurnya. Ia hidup tak tersentuh teknologi kekinian sama sekali dari piranti elektronik maupun perangkat lunak komputasi ataupun digital. Apabila seseorang asli Kanekes kedapatan nembawa ponsel misalnya, maka ia dianggap melaknati adat dan "haram" hukumnya.

Dari yang disebut terakhir, Suku Badui bukan saja menjadi suku yang eksistensinya diakui Unesco sebagai suku "penyelamat ekosistem" dunia, sekaligus sebagai destinasi spesial kuktural kuno yang masih bertahan di zaman kekinian.

Nah, untuk ke kampung Kanekes Dalam kita harus memenuhi persyaratan. Harus mendaftar ke pos penerimaan dengan nenuliskan tujuan ke kampung adat dan meninggalkan KTP. Syarat-syarat lain sebagai pantangan tidak boleh membawa barang-barang modern semisal ponsel, atau benda  ekektronik lainnya.  Satu di antara syarat itu yang agak nenggelikan mengenakan tanda adat seperti tudung kepala (udheng) bagi laki-laki dan selendang bagi tamu perempuan dan semua itu membeli di tempat. Bukankah ini sebagai praktik eksploitasi adat terselubung ?  Hehe...

Setelah mendapat perlengkapan tadi kami diberi tanda pengenal sebagai "tamu" yang dipasang di dada dan berangkat secara berkelompok. Bagi kami yang mengejutkan harus berjalan kaki sejauh 5 km !

Karena (waktu itu) tujuan kami berobat ke seorang tetua ( peramu jampi-jampi) maka sesusah payah apa pun tetap kami lakoni. Ya, seperti sepasang bule dari Hoston, Amerika Serikat yang satu bus tadi ternyata juga mencoba pengobatan tradisional ala Badui. Entahlah penyakit apa yang diidapnya.

Akhirnya hari itu juga kami berjalan menyusuri lembah dan bantaran sungai. Dalam keadaan penat ingin rasanya kami mencebur je sungai berair jernih berkilauan itu. Saking jernulihnya, sampai ikan-ikan dan bebatuan tampak jelas di dasarnya. Bahkan beberapa orang sengaja nengambil  air itu dan langsung neminumnya tanpa ragu-ragu termasuk pasangan bule tadi. Mentari sudah tergelincir di kaki langit ketija sampai di gerbang Kampung Kenekes Dalam. Udara mulai atis dan berkabut tipis. Kami berhenti di gerbang desa dan ada persyaratan lagi : tidak boleh beralas kaki. Tas dan bawaan lainnya termasuk perhiasan yang nencolok dab dompet (baca : uang) harus dilepas dan dititipkan ke petugas adat.

 "Jangan khawatir semua barang berharga Anda tidak akan hilang! " kata petugas yang sekaligus sebagai penerjemah bahasa Inggris. Kami pun masuk ke perkampungan tradisional yang menakjubkan. Rumah-rumah sederhana berdinding gedheg (anyaman bambu) dan beratap rumbia (ilalang) berderet rapi dengan lingkungan yang bersih. Kedamaian benar-benar menyembul dari penghuninya yang ramah dan berpakaian adat Sunda Kawitan semua : serba hitam.

Luar biasa. Kami (khusus yang punya tujuan berobat) diantar masuk ke sebuah rumah besar (semacam pendapa). Mengisi formulir yang disodorkan petugas untuk menuliskan jenis penyakit yang diidapnya. Sembari nenunggu racikan obat kami dibawa ke ruang makan. Kesekian kalinya kami terkesima. Betapa tidak, aroma nasi hangat yang harum dan punel tersedia di bakul bambu sekaligus sayur urap, sambal, dan ikan wader goreng (ikan kecil-kecil mungkin hasil tangkapan dari sungai). Luar biasa kenikmatan yang kami rasakan di saat makan bersama dengan menu serba murni dari alam itu.

Hari mulai petang. Senja jatuh di Kanekes Dalam. Musik alam (nyanyian margasatwa) mulai bersenandung. Rembulan bundar menyembul dari celah bukit. Lebih-lebih ketika melongok keluar, di semua rumah adat itu tampak cahaya lampu pijar (dian) berpendaran. Sungguh paduan pesona alam dan tradisi yang aduhai. Sulit dibayangkan. Kami menginap semalam di Kanekes Dalam dengan seribu mutiara adat yang masih mengikat. Paginya kami meninggalkan "kampung khayangan" setelah menerima sebungkus besar ramuan jampi-jampi untuk 3 bulan buat istri saya. Kami tercengang lagi ternyata semua akomudasi tersebut hanya nembayar seiklasnya, kecuali ramuan jampi dan sebotol madu asli...[]

Dituturkan dari pengalaman : Herry Santoso

Editor : Yant Kaiy



Sabtu, 28 Agustus 2021

Mengenal Sandur Sumenep

Rokat Tase' di Pelabuhan Pasongsongan-Sumenep. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Era 1970, ketika saya masih belum duduk di bangku SD, di pelabuhan pesisir pantai Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, kesenian Sandur  selalu dipentaskan diacara Petik Laut.

 

Sandur ibarat garam, tidak sedap rasanya kalau makanan tanpa garam. Sandur seolah tak terpisahkan dengan acara sakral seperti selamatan. Hingga kini setiap pagelaran Petik Laut atau Rokat Tase’ di Pelabuhan Pasongsongan senantiasa menyertakan kesenian Sandur.

 

Sandur merupakan sebuah seni tradisi mengutamakan kidung berbahasa Madura yang didalamnya ada unsur religi. Kidung Sandur cukup khas terdengar, ada nuansa puji-pujian terhadap Tuhan Yang Maha Pengasih. Lantunan kidung Sandur pada umumnya bernada permohonan dan harapan hidup sejahtera dunia-akhirat.

 

Selain Sandur ditampilkan dalam acara selamatan atau syukuran; seperti acara Rokat Tase’, Rokat Bumi, Rokat Pekarangan, dan lain sebagainya. Kesenian ini juga seringkali dihelat pada acara-acara penting di perkantoran.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Kamis, 26 Agustus 2021

Nelayan Pasongsongan: Ngandang, Macok, Bonsai hingga Petis

Perahu tradisional nelayan Pasongsongan-Sumenep. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Setelah perahu bersandar di dermaga dan menurunkan hasil tangkap ikannya, para nelayan tersebut tidak langsung pulang. Mereka biasanya membersihkan purse seine (alat tangkap ikan) dulu. Ini penting dilakukan agar purse seine terbebas dari sisa-sisa ikan.

 

Proses membersihkan sisa ikan itu oleh masyarakat Desa Pasongsongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep dinamakan ngandang. Ini wajib hukumnya bagi perahu agar tidak terganggu bau busuk.

 

Sedangkan ikan yang sudah rusak bentuknya itu dinamakan macok. Para nelayan memanfaatkan macok untuk menghasilkan uang. Caranya, macok ini direbus hingga matang.

 

Sebagian masyarakat memanfaatkan hasil air rebusan macok untuk dibikin petis. Dengan syarat sebelum direbus macok dibersihkan dari kotoran. Petis merupakan kudapan khas Desa Pasongsongan. Petis kadang dijadikan sebagai lauk-pauk. Tak jarang pula petis oleh masyarakat luas dijadikan kuah rujak.

 

Seterusnya macok dijemur sampai benar-benar kering. Kegiatan ini oleh warga Desa Pasongsongan dinamakan bonsai. Banyak pedagang setempat yang membeli bonsai dan menjualnya kembali pada perusahaan. Tentu saja bonsai terlebih dulu digiling menjadi tepung ikan.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Selasa, 24 Agustus 2021

Akses Jalan dan Listrik di Masalembu Memprihatinkan

Watik dan jalan-jalan yang ada di Pulau Masalembu. (Foto: Yant Kaiy)


Sumenep – Sebagian besar akses jalan utama di Pulau Masalembu rusak parah. Berlubang. Pengendara kendaraan bermotor wajib ekstra hat-hati jika melintas. Terutama kalau musim penghujan.

 

Jika musim kemarau seperti saat ini, apabila ada kendaraan melewati jalan rusak tersebut, maka debu berterbangan karena dihembus angin.

 

Derita masyarakat Pulau Tampomas II ini tidak hanya dari sarana jalan saja, tapi juga listrik. Seperti penuturan Watik via sosial media kepada apoymadura.com. (Selasa, 24/8/2021).

 

“Bukannya lebay atau butuh perhatian lebih. Kami sangat menderita berada di Masalembu. Jalan rusak. Sarana pembangunan kantor pemerintah tidak digubris. Listrik berasal dari diesel pribadi, menyala hingga pukul 23.30 WIB. Di rumah saya hanya ada satu lampu, numpang sama tetangga karena tidak punya genset. Anda bisa bayangkan itu semua. Ini riil. Bukan omong kosong,” cetus wanita dari Desa Masalima penuh semangat.

 

Malah Watik berharap penuh bagi pemangku kebijakan supaya datang ke Masalembu untuk melihat keadaan sesungguhnya. (Yant Kaiy)



Minggu, 22 Agustus 2021

Atensi Lesbumi MWC NU Pasongsongan terhadap Macapat Madura

Pagelaran kesenian Macapat Madura secara virtual di Kantor MWC NU Pasongsongan. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Bertempat di Kantor MWC NU Pasongsongan Kabupaten Sumenep (Sabtu, 21/8/2021), pukul 20.00 WIB digelar kesenian tembang Macapat Madura secara virtual. Kegiatan ini dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-76.

 

Jajaran pengurus NU Pasongsongan rupanya tidak main-main dalam upaya melestarikan budaya warisan nenek moyang yang satu ini. Karena masyarakat luas tahu, kalau kesenian Macapat Madura saat sekarang peminatnya sedikit. Padahal di seni budaya bertutur tersebut didalamnya terkandung petuah luhur sesuai falsafah Islam.

 

Perlu digarisbawahi pula, semua tembang di Macapat Madura adalah hasil karya Wali Songo. Dimana tembang-tembang tersebut pada jaman dulu dijadikan sebagai sarana dakwah (syiar) Islam. Ternyata outputnya luar biasa.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...