Ziarah
kubur menjadi salah satu bagian sangat penting dalam budaya Islam disebagian
besar penduduk Indonesia. Hal ini seolah tidak terpisahkan dengan tradisi
masyarakat setempat yang menjunjung nilai-nilai kultur sosial mengagungkan.
Berikut
dalil yang memperkuat ziarah kubur itu dianjurkan bagi kaum muslim untuk
senantiasa mengingat kematian.
Hadist dari Buraidah, ia
berkata bahwa Rasulullah bersabda: Saya pernah melarang berziarah kubur. Tapi
sekarang Muhammad telah diberi ijin ke makam ibunya. Maka sekarang
berziarahlah, karena hal itu dapat mengingatkan kamu kepada akhirat.
Ibnu
Hajar Al-Haytami dalam kitab Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubra menulis begini:
Beliau ditanya tentang
berziarah ke makam para wali pada waktu tertentu dengan melakukan perjalanan
khusus ke makam mereka. Beliau menjawab: Berziarah ke makam para wali adalah
ibadah yang disunahkan. Demikian pula perjalanan ke makam mereka.
Demikian
dalil-dalil yang memperkuat kalau ziarah kubur itu sangat dianjurkan.[]
Arah
jitu kemarau semakin tidak menentu. Sesekali tercurah hujan diantara elegi
kemarau. Menjerit petani tembakau dan garam. Acapkali tanpa sadar kufur pun
ternatal pada hati mereka yang kerontang embun iman. Tangis, tawa… Sudah biasa
menjadi milik makhluk bernyawa. Mereka terbius gemerlap dunia, lupa akan
ayat-ayat Tuhan tentang syukur.
Pada
panas menyengat terhampar impian hujan segera datang. Kerinduan itu seolah
mengalahkan uang dan jabatan. Dari sudut-sudut tempat ibadah bergema lantunan
doa, barharap khusyuk tetapi melupakan sejati insyaf penyembuh angkara murka.
Tidak cukupkah dosa-dosa kita dalam memperkosa alam ini? Sehingga keseimbangan
musim tersamarkan bahwa bencana bukanlah ulah manusia semata. Lalu siapa?
Ketika
tetes air terakhir habis. Sumur, sungai dan laut mengering. Tatkala
tumbuh-tumbuhan tak lagi hidup. Akankah uang dan jabatan menolongnya?
Aku
menghormatinya lantaran usia dia lebih tua. Meski secara keilmuan, etika, cara
bicara jauh dari anakku. Menjaga jarak bagiku solusi terbaik agar jalinan
persahabatan tetap harmonis. Apalagi kami masih saling membutuhkan satu sama
lain. Mungkin juga… Tidak! Jauh dari jangkauan kalau kami nanti menjadi besan.
Sejarah
kelam bersamanya cukup menyakitkan. Bagaimana dia meninggalkan aku pada
kehampaan. Janji-janji manisnya behamburan. Menentramkan jiwa penuh harapan.
Kala itu kami masih belum lulus SMA. Tapi aku tak dendam padanya. Justru aku
bersyukur mendapat suami lebih baik darinya.
Diusiaku
menginjak 54 tahun, suami tercinta menghembuskan nafas terakhir. Belum satu
tahun kepergian suamiku, dia datang berbelasungkawa. Secara kebetulan anak kami
kerja satu perusahaan. Duka mendalam belum pupus, dia hadir. Senyum pun
terhampar diantara perih menyayat.[]
K Sunni (kiri) dan Agus Sugianto. (Foto: Yant Kaiy)
Sumenep - Ketua Ranting NU Pasongsongan II, K Sunni
mengatakan, ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan MWCNU Pasongsongan saat ini. Salah satu garapan
terbesar ialah penguatan ranting sebagai amanah konferensi.
“Karena itulah,
membiarkan pengurus harian dan lembaga bahkan banom berjalan tanpa satu visi-misi sama, tentu hal itu idem dengan membiarkan NU di Pasongsongan hancur secara
perlahan-lahan. Karena itu, saya sangat mendukung penonaktifan salah satu
pengurus; baik yang di harian, lembaga atau bahkan
banom yang bergerak ke arah berlainan,” ungkapnya kepada apoymadura.com saat ditemui dikediamannya, Dusun Morasen. Senin
(30/08/2021).
Penegasan K Suni
tersebut merupakan respon atas pernyataan viral Ketua MWCNU Pasongsongan, K Ahmad Riyadi, saat menyambut
Konferensi Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Pasongsongan yang digelar Ahad
(29/08/21).
Sebagaimana dikutip dari bintangsembilannew.com,
pria yang akrab disapa Kiai Riyadi dalam salah satu pernyataannya dijelaskan, bahwa NU akan “mengistirahatkan” salah satu
pengurus, baik itu dari harian, lembaga, atau bahkan banom yang tidak satu visi
dengan NU.
Pernyataan mantan
aktivis PMII itu juga mendapat respon positif dari Sekretaris Lembaga Takmir
Masjid (LTM NU)Pasongsongan, Ahmad
Kusyairi. Alumni Pondok Pesantren Lirboyo itu menekankan agar semua pengurus NU
dan Banomnya harus berkonsentrasi pada penguatan
ranting.
“Penguatan ranting
bukanlah garapan sepele. Butuh kerja keras dan keseriusan dengan melibatkan
semua unsur kekuatan NU yang ada di Pasongsongan, baik itu kekuatan struktural
ataupun kultural. Di kultral ada kiai langgar dan pesantren. Di struktural ada
banom. Misalnya GP Ansor, Fatayat, dan lain-Lain. Karena penguatan ranting ini
merupakan amanah konferensi, maka semuanya harus bergerak dalam satu gerakan
yang sama, yakni gerakan yang berorientasi pada penguatan ranting,” paparnya.
Hal senada juga
diungkapkan Ketua Lakpesdam MWCNU Pasongsongan, Agus Sugianto. Bahkan dengan
tegas dirinya berkata, bahwa duri dalam
kepengurusan NU saat ini yaitu pengurus yang
mengambil arah berlawanan dari visi NU.
“Untuk itu,
menon-aktifkan pengurus NU yang berseberangan dengan visi-misi NU adalah
langkah yang sangat tepat,” tegasnya.(Yant Kaiy/RF)
Dulu
aku tergila-gila padanya. Kerinduan tiap malam menikam jantung. Aku tak bisa
berontak. Tersungkur pada siksa batin saban malam. Nuansa animo belajarku terus
memburuk. Terkurung diantara norma agama dan sosial budaya.
Nafsu
makan tak ada. Tidur pun tak nyenyak. Berat badanku berkurang. Aura wajahku
pucat. Ini cintaku yang bertepuk sebelah tangan atau sihirnya? Bagiku dia
lelaki seperti kebanyakan. Tak ada nilai lebih setelah ditelisik. Heran. Aku
pun tak terlalu dekat padanya. Sekadar kenal. Maklum satu desa.
Via
sosial media aku chatting. Dia lama tak membalasnya. Menggunung penasaranku.
Sepekan berlalu, kudengar dia masuk rumah sakit akibat kecelakaan. Ketika
mengendarai sepeda motor, dia ditabrak dari belakang. Dia menghembuskan nafas
terakhirnya kala rinduku tak terbalas.[]
Kami pernah ke
"sarang" Badui tahun 2014.
Tujuan kami mencari ramuan tradisional yang (konon) sangat manjur untuk
kanker payudara. Ya, istri saya (waktu itu) mengidap penyakit mematikan dan
amat ditakuti kaum hawa itu. Atas informasi seorang keponakan yang kerja PT
Krakatau Stell Cilegon, akhirnya dengan segala cara kami meluncur ke Desa
Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, 12 Februari 2014.
Senja belum
begitu menua ketika kami sampai di Kota Rangkasbitung (ibu kota Kabupaten
Lebak, Provinsi Banten). Kota mungil yang cantik. Di bawah siraman hujan
Februari, taman bunga di depan 'Rahaya Hotel' itu tampak kuyup. Sungguhpun cuma
level 'bintang 3' hotel itu cukup repersentatif. Kamar eksekutif nomor 214 di
lantai dua yang kami tempati menginap cukup mewakili manajemen hotel yang
sehat.
Suhu udara 28
derajad celsius di luar sana cukup hangat dan ramah seramah layanan di hotel
itu. Aku segera rebah. Siraman air hangat di kamar mandi pelan namun pasti
mengenyahkan rasa penat sekaluligus menghadirkankantuk setelah perjalanan nyaris sehari
semalam dari kota Blitar dengan bus. Belum terpikirkan, apa yang akan terjadi
esok saat mencari lokasi Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak,
Banten tempat Suku 'Badui Dalam' bermukim.
Kultur Badui Diakui
Unesco
BUS 'Geulis Trans'
keluar terminal Rangkas sekitar pukul 9 pagi. Menembus kesibukan yang mulai
menggeliat. Jalan mulus beraspal hotmix mengarah luruske selatan. Di sepanjang
perjalanan tampak hamparan sawah yang mulai menguning diselingi perkampungan penduduk yang tampak
tenang dan damai. Bus medium bermesin Hino itu berhenti di beberapa kota kecil,
dan sesampainya di Kecamatan Bedengpasirkopo penumpang sudah penuh, bahkan di
antaranya berdiri. Kini jalanan mulai menanjak dan berkelok-kelok. Suasana
Badui mulai terasa. Di sepanjang jalan yang kami lalui, banyak orang berjalan
kaki dengan tertib laiknya orang berbaris di sisi kanan kiri jalan.
"Kita
memasuki kawasan Badui Luar, Boss !" ujar kondektur bus di sela-sela
menarik ongkos ke penumpang. Jauh di selatan sana tampak deretan Gunung
Belebeg, Gunung Mangurang, dan Gunung Bongkok. Barangkali di balik gemunung
itulah perkampungan Badui berada.
Jalanan
berkelok-kelok dan naik turun dan melalui banyak jembatan. Tampak di bawah
jembatan itu mengalir air sungai yang jernih. Suasana alam begitu sejuk di
bawah suhu 21 derajad celsius. Bus merangkak di sela-sela lembah meninggalkan
raungan. Di sebelah saya ada sepasang bule yang tengah berbicang dengan bahasa
Inggris logat Amerika. Ia menyebut kata Badui, dan Kanekes berkali-kali.
Setelah sekitar dua jam perjalanan kami sampai di Terminal Sareweh.
" Ini
terminal terakhir, Bapak-Ibu, " kata sang kondektur memberi tahu.
Ya, Desa Kenekes di
pedalaman kawasan sekatan Rangkasbitung ini memang "go internasional"
lantaran tradisi, adat, dan budaya etnik Badui yang mengagungkan lingkungan
hidup dan sejak dahulu kala "back to natural". Bagi orang Badui,
habitat alam dan ekosistem adalahbernyawa. Ia sekaligus punya "ruh" seperti makhluk hidup
lainnya. Untuk itu kita harus bijak dalam menggunakan dan mengeksploitasi
lingkungan hidup untuk kehidupan sehari-hari. Betapa menakjubkan, jika
kedapatan seseorang menebang pohon tanpa izin tetua adat maka ia harus diberi
sanksi adat yang setimpal, misalnya ketahuan nenebang pohon besar harus
menggantinya 100 bibit tumbuhan baru yang sejenis dan ditanam. Semua itu demi
keseimbangan ekosistem daerah Badui.
Suku Badui adalah
sisa-sisa etnik 'Sunda Kawitan' yang terkenal itu. Menurut kepercayaan yang
mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari
tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula
dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan
mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes, mempunyai tugas bertapa
atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.
Wajar jika dalam
ilmu pengobatan tradisional Suku Badui sangat ampuh. Pendapat mengenai asal usul
orang Kanekes (Badui Dalam) sendiri cukup unik. Pendapat para ahli
sejarah,masyarakat Kanekes dikaitkan
dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di
Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan
Banten, wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari
Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai
Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk
pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa
wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umun menganggap bahwa
kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan
tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan
berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan
pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal
Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai
Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat
tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan
kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi
komunitas Kanekes sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.
Van Tricht,
seorang dokter yang pernah melakukan riset kesehatan pada tahun 1928,
menyangkal teori tersebut. Menurut dia, orang Kanekes adalah penduduk asli
daerah tersebut yang mempunyai daya tolak kuat terhadap pengaruh luar (Garna,
1993b: 146). Orang Kanekes sendiri pun menolak jika dikatakan bahwa mereka
berasal dari orang-orang pelarian dari Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda.
Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Badui merupakan penduduk
setempat yang dijadikan mandala' (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena
penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau
nenek moyang), bukan agama Hindu atau Budha. Kebuyutan di daerah ini dikenal
dengan kabuyutan Jati Sunda atau 'Sunda Asli' atau Sunda Wiwitan (wiwitan=asli,
asal, pokok, jati). Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama Sunda
Wiwitan.
Bukan cuma dalam
menjaga lkosistem sekaligus dalam laku hidup sehari-hari dikendalikan oleh
aturan adat dan keampuhan "japa nantra" warisan leluhurnya. Ia hidup
tak tersentuh teknologi kekinian sama sekali dari piranti elektronik maupun
perangkat lunak komputasi ataupun digital. Apabila seseorang asli Kanekes
kedapatan nembawa ponsel misalnya, maka ia dianggap melaknati adat dan
"haram" hukumnya.
Dari yang disebut
terakhir, Suku Badui bukan saja menjadi suku yang eksistensinya diakui Unesco
sebagai suku "penyelamat ekosistem" dunia, sekaligus sebagai
destinasi spesial kuktural kuno yang masih bertahan di zaman kekinian.
Nah, untuk ke
kampung Kanekes Dalam kita harus memenuhi persyaratan. Harus mendaftar ke pos
penerimaan dengan nenuliskan tujuan ke kampung adat dan meninggalkan KTP.
Syarat-syarat lain sebagai pantangan tidak boleh membawa barang-barang modern
semisal ponsel, atau bendaekektronik
lainnya.Satu di antara syarat itu yang
agak nenggelikan mengenakan tanda adat seperti tudung kepala (udheng) bagi
laki-laki dan selendang bagi tamu perempuan dan semua itu membeli di tempat.
Bukankah ini sebagai praktik eksploitasi adat terselubung ?Hehe...
Setelah mendapat
perlengkapan tadi kami diberi tanda pengenal sebagai "tamu" yang
dipasang di dada dan berangkat secara berkelompok. Bagi kami yang mengejutkan
harus berjalan kaki sejauh 5 km !
Karena (waktu itu)
tujuan kami berobat ke seorang tetua ( peramu jampi-jampi) maka sesusah payah
apa pun tetap kami lakoni. Ya, seperti sepasang bule dari Hoston, Amerika
Serikat yang satu bus tadi ternyata juga mencoba pengobatan tradisional ala
Badui. Entahlah penyakit apa yang diidapnya.
Akhirnya hari itu
juga kami berjalan menyusuri lembah dan bantaran sungai. Dalam keadaan penat
ingin rasanya kami mencebur je sungai berair jernih berkilauan itu. Saking
jernulihnya, sampai ikan-ikan dan bebatuan tampak jelas di dasarnya. Bahkan
beberapa orang sengaja nengambilair itu
dan langsung neminumnya tanpa ragu-ragu termasuk pasangan bule tadi. Mentari
sudah tergelincir di kaki langit ketija sampai di gerbang Kampung Kenekes
Dalam. Udara mulai atis dan berkabut tipis. Kami berhenti di gerbang desa dan
ada persyaratan lagi : tidak boleh beralas kaki. Tas dan bawaan lainnya
termasuk perhiasan yang nencolok dab dompet (baca : uang) harus dilepas dan
dititipkan ke petugas adat.
"Jangan
khawatir semua barang berharga Anda tidak akan hilang! " kata petugas yang
sekaligus sebagai penerjemah bahasa Inggris. Kami pun masuk ke perkampungan
tradisional yang menakjubkan. Rumah-rumah sederhana berdinding gedheg (anyaman
bambu) dan beratap rumbia (ilalang) berderet rapi dengan lingkungan yang bersih.
Kedamaian benar-benar menyembul dari penghuninya yang ramah dan berpakaian adat
Sunda Kawitan semua : serba hitam.
Luar biasa. Kami
(khusus yang punya tujuan berobat) diantar masuk ke sebuah rumah besar (semacam
pendapa). Mengisi formulir yang disodorkan petugas untuk menuliskan jenis
penyakit yang diidapnya. Sembari nenunggu racikan obat kami dibawa ke ruang
makan. Kesekian kalinya kami terkesima. Betapa tidak, aroma nasi hangat yang
harum dan punel tersedia di bakul bambu sekaligus sayur urap, sambal, dan ikan
wader goreng (ikan kecil-kecil mungkin hasil tangkapan dari sungai). Luar biasa
kenikmatan yang kami rasakan di saat makan bersama dengan menu serba murni dari
alam itu.
Hari mulai petang.
Senja jatuh di Kanekes Dalam. Musik alam (nyanyian margasatwa) mulai
bersenandung. Rembulan bundar menyembul dari celah bukit. Lebih-lebih ketika
melongok keluar, di semua rumah adat itu tampak cahaya lampu pijar (dian)
berpendaran. Sungguh paduan pesona alam dan tradisi yang aduhai. Sulit dibayangkan.
Kami menginap semalam di Kanekes Dalam dengan seribu mutiara adat yang masih
mengikat. Paginya kami meninggalkan "kampung khayangan" setelah
menerima sebungkus besar ramuan jampi-jampi untuk 3 bulan buat istri saya. Kami
tercengang lagi ternyata semua akomudasi tersebut hanya nembayar seiklasnya,
kecuali ramuan jampi dan sebotol madu asli...[]
Rokat Tase' di Pelabuhan Pasongsongan-Sumenep. (Foto: Yant Kaiy)
Catatan: Yant Kaiy
Era
1970, ketika saya masih belum duduk di bangku SD, di pelabuhan pesisir pantai
Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, kesenian Sandurselalu dipentaskan diacara Petik Laut.
Sandur
ibarat garam, tidak sedap rasanya kalau makanan tanpa garam. Sandur seolah tak
terpisahkan dengan acara sakral seperti selamatan. Hingga kini setiap pagelaran
Petik Laut atau Rokat Tase’ di Pelabuhan Pasongsongan senantiasa menyertakan kesenian
Sandur.
Sandur
merupakan sebuah seni tradisi mengutamakan kidung berbahasa Madura yang
didalamnya ada unsur religi. Kidung Sandur cukup khas terdengar, ada nuansa
puji-pujian terhadap Tuhan Yang Maha Pengasih. Lantunan kidung Sandur pada
umumnya bernada permohonan dan harapan hidup sejahtera dunia-akhirat.
Selain
Sandur ditampilkan dalam acara selamatan atau syukuran; seperti acara Rokat
Tase’, Rokat Bumi, Rokat Pekarangan, dan lain sebagainya. Kesenian ini juga seringkali
dihelat pada acara-acara penting di perkantoran.[]
Perahu tradisional nelayan Pasongsongan-Sumenep. (Foto: Yant Kaiy)
Catatan: Yant Kaiy
Setelah
perahu bersandar di dermaga dan menurunkan hasil tangkap ikannya, para nelayan
tersebut tidak langsung pulang. Mereka biasanya membersihkan purse seine (alat
tangkap ikan) dulu. Ini penting dilakukan agar purse seine terbebas dari
sisa-sisa ikan.
Proses
membersihkan sisa ikan itu oleh masyarakat Desa Pasongsongan Kecamatan Pasongsongan
Kabupaten Sumenep dinamakan ngandang.
Ini wajib hukumnya bagi perahu agar tidak terganggu bau busuk.
Sedangkan
ikan yang sudah rusak bentuknya itudinamakan
macok. Para nelayan memanfaatkan macok untuk menghasilkan uang. Caranya, macok ini direbus hingga matang.
Sebagian
masyarakat memanfaatkan hasil air rebusan macok untuk dibikin petis. Dengan syarat sebelum direbus macok dibersihkan dari kotoran. Petis merupakan kudapan khas Desa
Pasongsongan. Petis kadang dijadikan sebagai lauk-pauk. Tak jarang pula petis
oleh masyarakat luas dijadikan kuah rujak.
Seterusnya
macok dijemur sampai benar-benar
kering. Kegiatan ini oleh warga Desa Pasongsongan dinamakan bonsai. Banyak pedagang setempat yang
membeli bonsai dan menjualnya kembali
pada perusahaan. Tentu saja bonsai
terlebih dulu digiling menjadi tepung ikan.[]
Watik dan jalan-jalan yang ada di Pulau Masalembu. (Foto: Yant Kaiy)
Sumenep – Sebagian besar akses jalan utama di Pulau Masalembu
rusak parah. Berlubang. Pengendara kendaraan bermotor wajib ekstra hat-hati
jika melintas. Terutama kalau musim penghujan.
Jika
musim kemarau seperti saat ini, apabila ada kendaraan melewati jalan rusak
tersebut, maka debu berterbangan karena dihembus angin.
Derita
masyarakat Pulau Tampomas II ini tidak hanya dari sarana jalan saja, tapi juga
listrik. Seperti penuturan Watik via sosial media kepada apoymadura.com. (Selasa, 24/8/2021).
“Bukannya
lebay atau butuh perhatian lebih. Kami sangat menderita berada di Masalembu.
Jalan rusak. Sarana pembangunan kantor pemerintah tidak digubris. Listrik
berasal dari diesel pribadi, menyala hingga pukul 23.30 WIB. Di rumah saya
hanya ada satu lampu, numpang sama tetangga karena tidak punya genset. Anda
bisa bayangkan itu semua. Ini riil. Bukan omong kosong,” cetus wanita dari Desa
Masalima penuh semangat.
Malah
Watik berharap penuh bagi pemangku kebijakan supaya datang ke Masalembu untuk
melihat keadaan sesungguhnya. (Yant Kaiy)
Pagelaran kesenian Macapat Madura secara virtual di Kantor MWC NU Pasongsongan. (Foto: Yant Kaiy)
Catatan: Yant Kaiy
Bertempat
di Kantor MWC NU Pasongsongan Kabupaten Sumenep (Sabtu, 21/8/2021), pukul 20.00
WIB digelar kesenian tembang Macapat Madura secara virtual. Kegiatan ini dalam
rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-76.
Jajaran
pengurus NU Pasongsongan rupanya tidak main-main dalam upaya melestarikan
budaya warisan nenek moyang yang satu ini. Karena masyarakat luas tahu, kalau
kesenian Macapat Madura saat sekarang peminatnya sedikit. Padahal di seni
budaya bertutur tersebut didalamnya terkandung petuah luhur sesuai falsafah
Islam.
Perlu
digarisbawahi pula, semua tembang di Macapat Madura adalah hasil karya Wali
Songo. Dimana tembang-tembang tersebut pada jaman dulu dijadikan sebagai sarana
dakwah (syiar) Islam. Ternyata outputnya luar biasa.[]